Kategori
research

Arsitektur Berkelanjutan

Wacana arsitektur berkelanjutan menjadi penting mengingat semakin tingginya degradasi lingkungan yang terjadi sebagai akibat dari manusia. Upaya-upaya meminimalkan dampak lingkungan ini disadari oleh banyak arsitek, yang dirumuskan sebagai kesadaran bersama-sama yang menjadi sebuah kesepakatan global. Arsitektur berkelanjutan disini dibahas dari lima titik kesadaran, yaitu pertama : kesadaran akan diri sendiri, kedua : kesadaran akan lingkungan sekitar, ketiga : kesadaran akan material, keempat : kesadaran akan strategi desain, dan ditutup di titik awal kelima yaitu : refleksi. Setiap titik awal tersebut diturunkan ke dalam 14 strategi arsitektur berkelanjutan dan akan dibahas satu demi satu.

Dalam Brundtland Commission (1980), pengembangan keberlanjutan didefinisikan sebagai “sebuah pengembangan untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.“ Tindak dan laku kita akan memiliki pengaruh di masa depan, dan tentu arsitektur memiliki peran yang signifikan. Untuk itu, perlu memupuk kesadaran akan diri sendiri, lingkungan, bahan material, strategi desain, dan tidak lupa dengan refleksi yang merajut semua hal itu dalam sebuah kesadaran yang kolektif.
Marie-Helene Contal dalam pengantarnya di buku Sustainable Design 7 mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi semakin kompleks, seperti krisis ekologis, pengembangan yang tidak berkesadaran, ekonomi, dan ketimpangan sosial. Contal menggarisbawahi tentang pemberdayaan, yaitu sebuah proses di mana masyarakat sosial yang menghadapi persoalan yang sama akan memiliki kesadaraan dan sarana untuk dapat ikut berpartisipasi sehingga keberlanjutan menjadi persoalan kolektif yang memerlukan kontribusi dari segala pihak.
Terdapat 5 titik awal arsitektur berkelanjutan yaitu (1) kesadaran diri, (2) kesadaran lingkungan, (3) kesadaran material, (4) strategi desain, dan (5) refleksi.

I hope that in the 21st century the largest accomplishment of art will be to restore the earth.

Ian Mcharg, Design with Nature (1969)

Sebelum kita bahas bersama-sama, mari kita pertanyakan pada diri kita sendiri, “siapa aku?”

Arsitektur Berkelanjutan | Gelombang Kesadaran Lingkungan

Kesadaran Lingkungan dan Sebab Akibatnya terhadap Arsitektur Berkelanjutan

Cara hidup manusia berkaitan erat dengan lingkungannya dan berpotensi besar mempengaruhi/merubah ekosistem bumi. Dengan memahami isu sosial – ekonomi – lingkungan masa lampau dan kaitannya dengan apa yang terjadi di masa kini kita bisa mempelajari hubungan sebab-akibat dalam mengonstruksikan arsitektur berkelanjutan. Keberlanjutannya tidak hanya tentang bangunan secara individual melainkan juga hubungan sebab akibat dengan lingkungan, kondisi sosial dan ekonomi.

Kehidupan manusia telah menyaksikan berbagai perubahan iklim dan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai hal. Menurut Alison Knight, terdapat tiga gelombang kesadaran yang mengantarkan kita menuju ke era berkelanjutan, yakni:
(1) 1960-1967, munculnya buku Silent Spring tentang bahaya racun pestisida.
(2) 1987, tentang “Our Common Future” dan Brundtland Report, puncak penelitian tentang keberlanjutan dan identifikasi jangka panjang kehidupan Bumi.
(3) 1980-1990, tentang kesadaran konsumerisme dengan kebocoran gas di Bhopal dan tragedi di Chernobyl, terminologi eco-design muncul disini.

Era keberlanjutan sendiri mulai popular sejak tahun 1960, ketika banyak bangunan mulai terputus dengan konteks lingkungan dan menimbulkan masalah sosial. Gerakan environmentalism pun muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (Rachel Carson, 1962), menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, buku Design with Nature (McHarg, 1969) lantas menawarkan konsep integrasi desain dan perencanaan dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lansekap.

Revolusi Industri dan Gothic Revival
Masa ini ditandai dengan sebuah revolusi Romantik dan ketertarikan pada literatur Abad Pertengahan. Selain itu penulis seperti John Ruskin dalam buku Seven Lamps of Architecture (1849) dan Stones of Venice (1853) sangat menjunjung tinggi kualitas craftsmanship dari bangunan Gotik, menyebabkan munculnya sebuah style arsitektur yang disebut Gothic Revival (1750-1900).

Kota Barok & Gerakan City Beautiful Batasan antara seni, arsitektur, dan lansekap makin pudar. Gerakan Barok menyebar dari Italia ke negara lain di Eropa dan Amerika Latin, menciptakan penataan negara baru dengan prinsip geometris dan berpusat pada monarki. Perancangan tata kota yang terpengaruh oleh hal ini disebut City Beautiful. Gerakannya mulai terbentuk di Amerika Serikat, dari Municipal Arts movement dan World’s Columbian Exposition di Chicago di tahun 1893 dan berkembang di 1900-an.
Valley Section
Gambar potongan oleh Patrick Geddes pada tahun 1909 menjadi titik balik cara berpikir desain/intervensi manusia pada alam. Geddes menunjukkan adanya keanekaragaman lingkungan yang berkorelasi dengan perbedaan cara hidup manusia. Poinnya adalah ekosistem manusia adalah bagian dari ekosistem lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini membongkar dikotomi antara peradaban dengan alam.

Modern Empiris
Terdapat 2 pemikiran: (1) konsep urban seperti pembentukan ruang terbuka dan pengalaman ruang publik (Jane Jacobs, Christopher Alexander, dll.); (2) teori pembentuk kota baru dengan gerakan Garden City, mengatasi masalah kota industri melalui desentralisasi. Contoh konsep perancangan Garden City yaitu Broadacre City oleh Frank Lloyd Wright (1958), kawasan kota berkelanjutan dengan pembangunan horizontal berkepadatan penduduk rendah, mudah akses layanan/komoditas apapun dalam radius 150 mil melalui jalan darat/udara.
Modern Rasional / International Style
Memiliki cara pandang yang memperhatikan sistem sosial futuristik di dalam bentuk ideal geometris. Tokoh-tokoh dengan pemikiran ini kemudian berkumpul dan membentuk CIAM (1944), melahirkan kota-kota baru di akhir abad ke-20. Salah satunya adalah The Radiant City oleh Le Corbusier, pembangunan vertikal dikelilingi ruangan hijau, perumahan harus sesuai dengan ukuran keluarga, bukan posisi ekonomi. Proyek-proyek gerakan ini meliputi renovasi kota masal dan pembangunan sosial housing dalam waktu cepat.

Postmodernism
Terputusnya bangunan dengan konteks lingkungan menimbulkan masalah sosial. Jane Jacobs mengkritik dalam buku The Death and Life of Great American Cities (1961). Gerakan environmentalism mulai muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (1962) yang ditulis Rachel Carson, menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, Ian L. McHarg melalui buku Design with Nature (1969), menawarkan konsep integrasi desain dan planning dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lanskap.

Gerakan pembangunan berkelanjutan kemudian berkembang dengan kemunculan: (1) New Urbanism, diprakarsai oleh Andres Duany, menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan, yang kemudian melahirkan gerakan sustainable architecture & sustainable urbanism; (2) Landscape Urbanism dimana kota dipandang sebagai sebuah lansekap dan segala intervensi harus mempertimbangkan aspek pembangunan termasuk un-building, removal, dan erasure. Contohnya pada restorasi Cheonggyecheon, Korea Selatan; Central Park, Manhattan; dan Water Square, Netherland.

New Urbanism muncul tahun 1993, mendukung kota yang didesain dengan mementingkan kehidupan sosial manusia; menolak sistem yang mempertajam kesenjangan ras & pendapatan, urban sprawl, kerusakan lingkungan & ekosistemnya; dan menjaga integrasi kultur sosial dengan lingkungan binaan. Pola mixed-use, kota-kota yang ramah pejalan kaki, transit oriented development, pemukiman terjangkau, dan area publik semakin populer. Hal ini melahirkan gerakan sustainable architecture dan sustainable urbanism. Andres Duany adalah adalah seorang arsitek Amerika, perencana kota dan pendiri Kongres untuk New Urbanism. Bersama partnernya mendirikan Duany Plater-Zyberk & Company (DPZ). Mereka menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan. Beberapa proyeknya terkenalnya adalah Seaside, Florida dan Kentlands, Maryland.
Landscape Urbanism Dipengaruhi oleh keadaan kota-kota post-industrialisasi di tahun 1990-an, yang menyebabkan pengaruh signifikan pada lanskap yang diciptakan, yang memiliki pola produksi dan konsumsi yang khas dengan terjadinya sprawl. Pola ini menciptakan sebuah ekologi industri dan agrikultur yang berskala nasional dengan menggunakan gambar-gambar lanskap buatan. Landscape Urbanism melihat kota sebagai sebuah lanskap, dan intervensi yang dilakukan pun mempertimbangkan aspek-aspek yang tidak hanya membangun tetapi juga un-building, removal, dan erasure. Beberapa contoh praktik landscape urbanism adalah (1) Cheonggyecheon, Korea Selatan, restorasi saluran pembuangan (sewer) yang dijadikan taman ekologi kota Seoul; (2) Central Park, Manhattan yang memusatkan area terbuka hijau dan konservasi air di tengah kota; dan (3) Water square, Netherland yang membuat strategi water retention di lokasi urban.

Dengan mengupas masa lampau dan merelasikannya dengan masa kini, kita bisa memahami dampak apa yang sudah dan kemungkinannya dihasilkan oleh arsitektur kita terhadap keberlangsungan lingkungan masa kini dan mendatang.

Kesadaran Material dan Bahan

Diskursus tentang material dimulai dari pola pikir “working detail” yang dibahas oleh Michael Cadwell mengenai seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif namun ternyata justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang mampu merangsang kepekaan manusia. Juhani Palasma juga menyatakan bahwa arsitektur mengartikulasi pengalaman manusia dengan meningkatkan sensibilitas indera. Sedangkan Kenneth Frampton mengartikulasikan terminologi tektonika dengan menjelaskan bagaimana perancang mengembangkan berbagai percobaan untuk menemukan sistem konstruksi yang lebih optimal, estetika, dengan teknologi bangunan yang transformatif.

Michael Cadwell menggali seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif dimana terdapat detail-detail ‘aneh’ namun justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang merangsang kepekaan manusia. Hal ini diyakinkan kembali oleh kepekaan taktilitas yang dirasakan oleh kulit. Menurut Juhani Palasmaa, kulit disebut sebagai organ tertua manusia. Sedangkan arsitektur juga mengartikulasi pengalaman kita dengan meningkatkan sensibilitas indera yang kita tangkap terhadap kenyataan dengan diri sendiri. Melalui kulit, kita dapat melihat dan merasakan seperti meraba bata yang kasar hingga merasakan gerah dan sejuknya suatu ruangan.
Kenneth Frampton membawa terminologi tektonika dari akarnya dan menjelaskan bagaimana para craftsman mengembangkannya sepanjang berbagai percobaan untuk menemukan suatu sistem konstruksi yang optimal, guna menyelesaikan tantangan-tantangan perjalanan dari peran perancang di lingkungan binaannya, serta mendorong pekerjaan lintas disiplin yang lebih beragam.
YB Mangunwijaya menulis buku “Pasal-pasal Penghantar Fisika Bangunan” di tahun 1980. Mangunwijaya memberikan diskursus terkait fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. Kemudian, tiga puluh dua tahun berikutnya, diskursus tentang kesadaran material kembali diperbincangkan dengan keikutsertaan Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 dengan tema “Ketukangan: Kesadaran Material” dimana para kurator yaitu Avianti Armand, Achmad D Tardiyana, Setiadi Sopandi, David Hutama dan Robin Hartanto mencoba menarik bentang 100 tahun arsitektur di Indonesia dengan benang merah berupa material bangunan. Wacana ini menggarisbawahi keterkaitan yang konstruktif antara arsitek, tukang, dan material yang digunakannya; membahas enam eksposisi material yang banyak digunakan di Indonesia seperti kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu.

Sedangkan di Indonesia, diskursus material digagas Y. B Mangunwijaya yang mengkaitkan fungsi detail dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. 32 tahun setelahnya, diskursus material kembali diperbincangkan melalui Paviliun Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 yang mengangkat tema “Ketukangan: Kesadaran Material”.

Plowright telah merumuskan bahwa terdapat tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) dalam arsitektur adalah sebagai penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga ini bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal, forces (context) dimana kerangka ini terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks, dan concept (conceptualization) dimana kerangka konseptual bekerja melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, pertanyaan, dan ide intuitif.
Terdapat 2 cabang dalam kerangka pattern (form), yaitu:

Bentuk platonik mewujud dalam objek geometri dasar lingkaran, segitiga, dan kotak. Penggunaan bentuk ini adalah mencapai kualitas formal yang diserap dari bentuk platonik agar dapat dibentuk dengan cepat. Dari segi efisiensi, bentuk platonik menghindari pemborosan ruang, lebih ekonomis, dan mengurangi material waste.

Lengkungan (parabolik/ catenary) Bentuk lengkung parabolik adalah konsekuensi matematis dari pertemuan dua buah titik menjadi kurva, begitu pula dengan lengkung catenary yang diperoleh dengan membiarkan gravitasi membentuk kurva dari sebuah tali. Lengkungan digunakan dalam desain karena tiga alasan, yakni kualitas natural, ekspresif, serta karakter informal ketika bentuk platonik tidak dapat menyelesaikan suatu desain.
Terdapat pula 3 metode dalam kerangka forces (context), yaitu:

Daya tradisional digunakan ketika situasi proyek bersinggungan dengan masyarakat (lokal) dengan cara-cara bekerja yang asli (tradisional) masih dilakukan dan padat karya adalah solusi yang paling relevan dalam menanggapi konteks.

Daya industrial dilakukan ketika tersedia akses manufaktur di suatu proyek. Metode ini ditempuh ketika proyeksi jangka panjang menghasilkan perhitungan biaya tenaga kerja padat karya lebih tinggi dari biaya sistem manufaktur yang tersedia di suatu proyek.

Daya adaptasi dilakukan ketika kedua aspek tersedia dimana keduanya dapat dilakukan secara paralel di suatu proyek. Apabila didukung oleh manajemen yang baik untuk menangani kedua jenis aset konstruksi.
Kerangka concept (conceptualization) memiliki 2 cabang, yaitu:

Cave (gua) merujuk pada bentuk alami yang berasal dari hasil reduksi masa. Pendekatan cave berfokus pada diskusi mendalam antara klien dengan arsitek. Melalui analisa diskusi, arsitek dapat menemukan potensi solusi yang muncul dari benak seorang klien dan dirinya sendiri. Hasil dari konsep ini memperoleh form utama desain sebagai konsekuensi kepribadian, yang diikuti oleh fungsi arsitektural (Function follows form).

Nest (sarang) merupakan pendekatan untuk mengeksekusi desain dimana konstruksi ditangani melalui hal yang paling dasar, yakni program dan struktur, kemudian material hingga detail. Sehingga hasilnya adalah bentuk yang merupakan konsekuensi langsung dari fungsi arsitektural (Form follows function).

Plowright merumuskan tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) yang merupakan penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga kerangka bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal. Forces (context) dimana kerangka terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks. Concept (conceptualization) melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, hingga ide intuitif.

Tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain

Melalui kesadaran material akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi diskursus keberlanjutan manusia dan lingkungan di dalam tataran detail, konstruksi dan teknologi bangunan yang transformatif dari jaman ke jaman.

Dengan kata lain, melalui pemahaman terhadap prinsip material dengan menumbuhkan kesadaran akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi keberlanjutan manusia dan lingkungan. Jadi, mari kita bersama – sama menumbuhkan kesadaran akan potensi material yang ada di sekitar kita

Material | Memahami Karakter Material

Memahami material, dimulai dengan menggali prinsip – prinsipnya melalui kajian sejarah, jenis – jenis atau turunannya, nilai konduktivitas termal, hingga emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.

Beton adalah material batu buatan dari campuran semen, air, dan agregat (krikil, pasir). Berikut kronologi sejarahnya:
12.000 SM – mortar (adonan perekat) dari kapur.
200 SM – opus caementitium (beton roma): mortar pozzolana (abu vulkanik) dan agregrat batuan, keramik, dan puing-puing bata.
1824 – semen Portland dari kapur hidraulik (Inggris) yang hingga kini paling umum digunakan dalam pembuatan beton.
1910 – pabrik semen pertama di Indonesia: NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschapp (PT. Semen Padang).

Produk turunannya dibedakan menjadi 2: Beton Murni (Beton berat: >2600 kg/m3; Beton normal: >2000-2600 kg/m3; Beton ringan: 800-2000 kg/m3)
Beton dengan Perkuatan (Beton fiber: logam, plastik, kaca, kayu; Beton fabrik: plastik, kaca; Beton bertulang (baja))

Berdasarkan Konduktivitas Termal (W/mK), beton memiliki kategori (Standar) 0.8 (2). Beton ringan memiliki nilai yang lebih rendah, sering digunakan sebagai material insulasi.

Berdasarkan Embodied CO2 (kgCO2 eq./m3), beton masuk kategori (Standar) 0.8 (2)

Tahap awal adalah kajian sejarah yang dimulai dari penggalian asal muasal dan bagaimana perkembangan satu material hingga akhirnya dapat menjadi konteks yang menjangkau site. Setelah mendapatkan opsi material, langkah selanjutnya adalah mengkaji lebih dalam jenis dan turunannya hingga mendapatkan keputusan berdasarkan konsep dan pembentukan pattern (form), yang telah disesuaikan dengan konteks lokasi.

Untuk melihat seberapa signifikan dampaknya terhadap kenyamanan user dan kelestarian lingkungan, dilakukan kajian konduktivitas termal. Apabila material yang dipilih memiliki angka konduktivitas yang tinggi misalnya beton, maka perlu ada perlakuan khusus seperti penambahan fasad misalnya bambu atau kayu sebagai pereduksi panas. Tahap terakhir adalah analisa embodied CO2 atau emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh material. Tahap ini lebih banyak merujuk pada signifikansi dampak bangunan terhadap lingkungan terkait carbon footprint. Kita dapat menekan angka ini, salah satunya dengan cara menggunakan material lokal sehingga mengurangi kegiatan transportasi material oleh kendaraan bermesin.

Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal dan memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya.

Bambu adalah tumbuhan keluarga rerumputan yang tumbuh tinggi dengan batang berongga yang kuat, lazim ditemukan di wilayah asia-pasifik. Kuat gaya tarik dan tekan, mudah dipotong, dibentuk, dan diolah. Dipandang dari sisi sejarahnya, bambu kerap diasosiasikan dengan budaya tradisional Asia, telah lama digunakan sebagai jembatan, scaffolding, dan hunian.

Jenis-jenis bambu yang lazim digunakan di Indonesia: petung(d: 20cm), wulung (d: 14cm), apus (d: 40-10 cm). Produk olahan bambu:
Bambu gelondong: kolom, balok, rangka, dinding.
Bilah bambu: usuk, reng, rangka bidang, pagar, pengisi bidang.
Sayatan bambu: lembar anyaman untuk dinding, plafon, dll.
Bambu lapis, panel bambu, bambu komposit.

Bambu memiliki Konduktivitas Termal 0.55–0.59 W/mK. Material bambu memiliki embodied CO2 rendah, contohnya adalah lantai scrimber −14.89 kgCO2 eq./m3

Jadi, Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan?

Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal sekaligus memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya. Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan ?

Penggunaan Material untuk Detail Arsitektur yang Berkelanjutan | Telaah Jejak Karbon dan Permainan Detail Arsitektural.

Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan , termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas 11% emisi GRK (gas rumah kaca) global dan 28% emisi sektor bangunan global. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah bangunan.Kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural.

Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan mentah hingga manufaktur, termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir masa pakai. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas

emisi GRK (gas rumah kaca) global dan emisi sektor bangunan global.

Namun, kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah material, sebuah detail arsitektural, dan pada akhirnya sebuah bangunan, begitu bangunan tersebut dibangun, emisi tersebut dan tidak dapat ditarik kembali.
Tipe pertama adalah jejak karbon yang dihasilkan melalui terbentuknya material. Tipe ini diproyeksikan memiliki nilai stabil dari 2020-2050.

Tipe kedua yang semakin tinggi dari tahun ketahun adalah emisi karbon yang dihasilkan melalui perhitungan terhadap proses sebuah material diangkut, dikonstruksi, dan dipakai kembali/disimpan.

Di sini lah pemilihan material lokal dan rekayasa detail arsitektural yang mudah dikonstruksi berguna untuk mengurangi jejak karbon di dalam sebuah bangunan. Hal ini dinamakan kesadaran material dan detail arsitektural yang berkelanjutan.
Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Hal ini distudi oleh Cadwell dimana detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.

Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam setiap karya arsitek sebenarnya memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu. Detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.

Cadwell menggali detail-detail berkelanjutan sampai ke proses apresiasi ruang melalui dialog antar detail yang berbasis pada lokalitas. Empat karya arsitektur yang dibahas memiliki “detail yang berkelanjutan”. Karya ini adalah Querini Stampalia yang didesain oleh Carlo Scarpa, Jacob House yang di desain oleh Frank Lloyd Wright.

Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam karya yang dihasilkan oleh keempat arsitek ini memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu

Kuncinya adalah, merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat.

Proyek pertama ini adalah proyek renovasi Querini Stampalia oleh Scarpa yang didasarkan pada pemilihan material lokal dan apresiasi arsitek terhadap ketukangan setempat. Carlo Scarpa memainkan tata bahasa tektonika dan transisi antara ruang dalam dengan luar (taman) dengan kreatif, seperti penggunaan kaca yang transparan.

Permainan detail-detail berkelanjutan terlihat di dalam elemen-elemen pertemuan besi, kayu, batu, dan beton yang disesuaikan dengan jarak pandang, ergonomi, elemen pintu, jendela, dinding, lantai, langit-langit, engsel, sampai ke ornamen.
Optimalisasi detail arsitektur berkelanjutan menggunakan material panel kayu dalam rumah ini merupakan gagasan yang konstekstual dengan lingkungannya seperti topografi kota Wisconsin yang didominasi oleh hutan kayu, daerah ini memiliki suhu tertinggi mencapai 45 derajat celcius dan terendah mencapai -48 derajat celcius. Kayu dipilih karena mampu menyeimbangkan temperatur ruang dengan sifatnya yang adaptif dengan ditambah insulasi termal. Dari segi efisiensi, detail ini dimainkan melalui penggunaan panel kayu (plywood sandwich wall) hanya memakan biaya sebesar 5000 USD dengan durasi konstruksi selama 1 tahun.
Farnsworth House – Mies Van Der Rohe, Plano, Illinois 1945 – 1951. Farnsworth House dibangun di awal kemunculan era industri baja. Melalui karya ini, Mies Van der Rohe mencoba mengungkapkan detail berkelanjutan dalam ekspresi tektonika material baja dengan memberikan sensibilitas tentang bagaimana struktur dapat berdiri menopang beban. Diekspresikan melalui kolom tipis yang mampu menopang baja, yang digantung dan mewujudkan bidang lantai yang luas hingga menciptakan kesan melayang. Hal ini menyiratkan bahwa pemahaman tentang logika struktur yang berbeda – beda pada setiap material dapat dimainkan untuk mencapai tujuan berkelanjutan.
Yale Center for British Art-Louis Kahn, New Haven, USA : 1969 – 1974. Detail berkelanjutan pada proyek restorasi ini mencoba memaksimalkan pengalaman ruang melalui kombinasi berbagai macam material yaitu beton, logam, kayu, batuan, dan kaca. Kombinasi detail yang dimainkan antara logam jenis stainless steel dan kaca dengan beton diekspresikan paling lantang sehingga terlihat seperti sebuah cladding box yang sempurna. Beton sebagai kekuatan, logam sebagai gasad berperan mereduksi cahaya, sedangkan kaca berperan memasukkan cahaya. Skylight dengan bentuk piramida selain menstabilkan masuknya cahaya didukin oleh gridded skylights menciptakan permainan warna kebiru – biruan di dalam bangunan.

Sejauh mana arsitek dapat mendesain detail sehingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?

Kuncinya adalah merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa, pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat. Kemudian, sejauh mana arsitek dapat mendesain detail hingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?

Metode Desain Menuju Arsitektur Berkelanjutan

Sebelumnya kita telah memahami korelasi antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Selain konstruksi bangunan, arsitektur terkait erat dengan aspek perencanaan dimana prosesnya memiliki banyak pertimbangan, Hal ini dinamakan metode desain.

Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana bangunan dikonstruksi dan dirancang. Proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.

Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana sebuah bangunan itu dikonstruksi dan dirancang. Kita telah membahas bagaimana kaitan antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Terlepas dari itu, proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.
Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan tepat. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya cukup berbelit karena masing-masing pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah bingkai cara kerja atau metodologi.
Untuk menyusun bingkai cara kerja atau metodologi desain, arsitek perlu untuk mensintesiskan Tame and Wicked Problem kedalam empat buah substansi yang meliputi:

1. Proses Arsitektur
Berkelanjutan (Process)

2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)

3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)

4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)

Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan pasti. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya berbelit karena pihak – pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah metodologi desain. Arsitek bisa untuk mensintesiskan Tame and Wicked.

Bahasa pola dimulai dari konteks, cara, dan proyeksi hasil perencanaan. Hal ini digagas oleh Alexander kedalam apa yang disebut Pattern Language. A Pattern Language adalah sebuah buku yang berbasis pada perencanaan kota dan lingkungan. Alexander memvisualisasikan bagaimana membentuk tahapan sebuah kota dan lingkungan di dalamnya.
Fisika bangunan dalam hal ini yang dimaksud adalah sintesisme antara fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan kedalam desain berkelanjutan. Faktor – faktornya meliputi pengaruh alam terhadap bangunan seperti hujan dan kelembaban hingga angin, kenyamanan termal yaitu pengaruh bangunan terhadap user melalui sensibilitas indera seperti intensitas cahaya hingga temperatur suhu dalam ruang, dan relevansi detail terhadap pemenuhan fungsi user hingga signifikansi dampaknya terhadap lingkungan baik ekonomi, sosial maupun ekologis.
Relasi sosial dalam arsitektur berkelanjutan menyangkut signifikansi dampak gagasan desain dari seorang arsitek terhadap keberlanjutan manusia. Dalam hal ini erat kaitannya dengan lokalitas yang salah satunya terwujud dalam pemakaian material lokal yang dikerjakan oleh masyarakat sekitar dan berdampak bagi perekonomian lokal namun tidak mengesampingkan dampak bangunan terhadap lingkungan seperti jejak karbon dan lain sebagainya.
Ekosistem dalam arsitektur berkelanjutan dalam hal ini maksudnya adalah tentang bagaimana membuat satu rancangan arsitektural perlu merajut berbagai disiplin ilmu hingga profesi. Misalnya saja ketika pekerjaan arsitektur memiliki gagasan utama untuk berbeperan dalam kelestarian lingkungan dengan cara pemakaian material lokal seperti bambu, maka perlu untuk menggandeng pengrajin bambu sebagai upaya menuju desain yang berkelanjutan.

Problem kedalam empat buah substansi atau 4 P:
1. Proses Arsitektur Berkelanjutan (Process)
2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)
3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)
4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)

Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing- masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan tame and wicked problem ke dalam substansi : Proses, Produk, Relasi sosial, dan Ekosistem, maka metode untuk menuju desain arsitektur bekelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya. Jadi, siapkah tiap – tiap arsitek bertransformasi untuk mencari dan memahami metode desain berkelanjutannya sendiri ?

Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing – masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan 4 substansi diatas, maka metode untuk menuju desain arsitektur berkelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya.

Arsitek Mengimplementasikan Arsitektur Berkelanjutan

Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan.

Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan. Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site di mana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan.
Dalam ekosistem global, relasi arsitek dengan arsitektur berkelanjutan terlihat di dalam Sustainable Development Goals butir ke-11, yaitu Sustainable Cities and Communities menuju 2030. Butir ini bertujuan untuk menjadikan kota & pemukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. SDG 11 memiliki 7 target hasilnya yaitu: (1) Perumahan yang terjangkau; (2) sistem transportasi yang terjangkau & berkelanjutan; (3) urbanisasi yang inklusi & berkelanjutan; (4) melindungi warisan budaya & alam dunia; (5) mengurangi dampak buruk bencana alam; (6) mengurangi dampak lingkungan kota; dan (7) menyediakan akses ke ruang hijau & publik yang aman dan inklusif.

Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat.
Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif yang merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.

Hal ini terlihat di dalam karya Boonserm Premthada; Frederic Druot, Lacaton and Vassal; Marta Maccaglia; Raumlabor; dan Nina Maritz yang dikurasi oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène. Meski berbeda konteks projek, desain mereka pun memiliki keserasian dengan target hasil SDG poin ke-11. Di Indonesia, karya mendiang Y.B. Mangun Wijaya mencerminkan semangat lokalitas yang satu nafas dengan beberapa arsitek yang dibahas di atas. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan seperti ini tidak hanya terimplementasi di dalam lingkup global, namun juga di Indonesia.

Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan. Peran arsitek bisa menjembatani eksplorasi tata bahasa tektonik tersebut untuk mewujudkan pengalaman ruang utuh dari sambungan antar material ke ruang yang menggugah perasaan/indrawi melalui detail-detail berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama pengrajin/tukang.

Di Kantana Institute terdapat dinding bata tebal setinggi 8 m yang ditopang oleh struktur baja di dalamnya. Dinding tersebut membutuhkan 600.000 bata yang diambil dari produsen lokal, menciptakan skala manusia yang taktil. Ruang-ruang di dalamnya terkoneksi dengan lorong yang diapit oleh dinding bata yang terinspirasi dari bangunan religius. Rongga di dalam dinding memberikan insulasi termal di mana diselingi bukaan yang tidak menghalangi pandangan manusia. Komposisi ini memberikan pengalaman ruang untuk memahami kolaborasi pihak-pihak yang terlibat membentuk integrasi ruang – ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.
The Wine Ayutthaya memiliki eksplorasi material plastik dan kayu. Bangunan ini memanfaatkan struktur plywood yang diperkuat oleh baja, mengadaptasi rumah kayu tradisional setempat. Pengalaman ruang di interior terbentuk oleh 5 varian tangga spiral sebagai penghubung antara tingkatan lantai yang disesuaikan dengan arah view sungai dan landscape sekitar. Lima tangga tadi juga berfungsi sebagai penyangga struktur. Eksplorasi desain ini menunjukkan refleksi masa lampau (tradisi) dan masa depan dengan mengintegrasikan proses desain dan membangun dimana terdapat optimalisasi sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
The Bois Le-Pretre Housing Block merupakan bangunan eksisting 16 lantai yang berisi 96 unit apartemen. Renovasi dilakukan dengan menambah perimeter fasade. Penambahan ini dilakukan dengan memanfaatkan struktur baja dan elemen pre-fabrikasi yang berdiri sendiri sehingga memungkinkan penghuni tetap tinggal selama proses pembangunan.

Perpanjangan ini untuk memperluas ruang keluarga dan menghadirkan teras/balkon. Tiap unit apartemen terbebas dari ruang tak berguna, digantikan dengan volume ruang yang bebas dan transparan. Pemilihan glass sliding door pada fasad memberikan akses pencahayaan alami dan view sementara teras/balkon memberikan strategi penghawaan 2 lapis yang bisa mendinginkan ketika musim panas dan mengurangi dingin ketika musim dingin.
Mazaronkiari Multipurpose Classroom adalah bangunan untuk komunitas asli Peru yang ditujukan untuk menjangkau akses pendidikan untuk anak-anak dengan konstruksi ruang serbaguna yang fleksibel. Struktur kayu dipilih dengan eksplorasi louvered panel yang memberikan penghawaan dan pencahayaan alami. Panel-panel non permanen berwarna-warni didesain agar mudah ditekuk 90° menjadi meja untuk mengakomodasi aktifitas rapat/pembelajaran. Penggunaan material lokal ini dan kontribusi aktif komunitas menciptakan ruang kelas berkapasitas 120 orang dan tempat bersosialisasi selepas sekolah, dan itu semua membentuk harmoni sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
Sauna Tower merupakan pemandian publik yang dilengkapi dengan kolam renang untuk merubah persepsi masyarakat terhadap lokasi pelabuhan yang mulai tergerus aktivitas industrinya. Bangunan ini dirancang untuk menjadi bagian baru dari aktivitas pusat kota yang berkaitan dengan budaya kota-kota Nordic di mana pemandian adalah ruang sosial masyarakat. Perancangan dan pembangunan prototipenya bersifat partisipatif bersama publik. Hal ini memberikan warga kesempatan untuk mewujudkan ruang mereka sendiri. Material logam pada fasad mempererat konteks pelabuhan industri sementara interior sauna menggunakan material hangat seperti kayu veneer dan sirap.

Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.

Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur, setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur, yaitu sisi ekonomi; sisi sosial; dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon, meningkatkan ekonomi, membangun keahlian di dalam kebersamaan. Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?

Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?

Memahami Parameter Karya Berkelanjutan Melalui Studi Kasus

Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.

Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.

Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman yang multi disiplin yang menantang seberapa jauh seorang arsitek di dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat sebuah karya arsitektur yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup.

Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman multidisiplin yg menantang seberapa jauh seorang arsitek dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat karya yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup melalui 3 buah tahapan analisa kasus studi:

1. Massa Bangunan: studi bentuk dasar sebagai landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental)

2. Denah Ruang: studi programming, kumpulan data tentang definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakannya, berapa jumlah penggunanya, serta keperluan integrasi dengan sistem utilitas bangunan

3. Pengalaman ruang: berkaitan dengan intuisi yang terakumulasi dalam gubahan bentuk 3D (didukung dengan materialitas, membentuk pengalaman ruang.

Ketika seorang arsitek memulai mendesain, ia memerlukan imajinasi akan sebuah sosok gubahan bentuk, disadari ataupun tidak disadari. Hal ini dinamakan massa bangunan. Studi massa bangunan merupakan studi mengenai studi bentuk dasar yang menjadi landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental).
Kebutuhan dasar di dalam perancangan diterjemahkan ke dalam sebuah basis data yang disebut programming. Programming merupakan kumpulan data tentang hal-hal seperti: definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakan ruang, berapa orang yang menggunakan ruang, perlunya integrasi dengan sistem utilitas bangunan termasuk hal–hal seperti ergonomi, lebar ruangan, lebar pintu, lebar bukaan, bagaimana keterhubungan lantai atas dan bawah yang berhubungan, ataupun sesederhananya bagaimana tata letak perabot.
Arsitek menghubungkan rasa ke dalam akal, seringkali hal ini disebut sebagai sebuah intuisi. Di dalam alam intuisi seorang arsitek, hasil intuisi ini terakumulasi di dalam gubahan bentuk 3 dimensi. Sedangkan pengalaman ruang adalah ‘suasana’ yang terbentuk dari bentuk 3 dimensi dan materialitas yang menunjukkan kepekaan dari seorang arsitek. Materialitas tersebut ditimbulkan oleh suasana yang dibentuk dari kualitas arsi-tektonika (detail yang berkelanjutan) sehingga di dalam pengalaman ruang yang berperan adalah waktu sebagai komposisi 4 dimensi yang komprehensif.

Salah satu sumber terlengkap sebagai barometer awal mengenal arsitektur berkelanjutan bisa menggunakan karya Pritzker Prize sebagai kasus studi. Kasus studi ini adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari dan membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri.

Mengenal Strategi Arsitektur Berkelanjutan di dalam karya arsitektur. Salah satu sumber yang terlengkap sebagai barometer awal adalah Pritzker Prize yang bisa digunakan untuk menganalisa kasus studi di dalam strategi arsitektur berkelanjutan.

Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?

Kasus studi di atas adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri. Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?

Siapa Aku | Membawa Diri Berselancar dalam Gerakan Arsitektur Berkelanjutan

Pertanyaan “Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.

“Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.

Pemahaman terhadap kekurangan dan kelebihan diri, apa yang disukai dan tidak disukai, cara-cara yang berhasil dan yang gagal, juga bagaimana respons terhadap berbagai hal akan membantu menjelaskan secara logis apa yang dirasakan. Arsitek akan menjadi lebih percaya diri dan terampil dalam pengambilan keputusan. Memahami diri sendiri secara tidak langsung juga berarti memahami orang lain dan bagaimana setiap individu memiliki sifat dan caranya masing-masing.

Perjalanan mengenali diri sendiri membuthkan waktu. Ibaratnya, setiap orang membentuk orang lain, dan orang lain membetuk “siapa aku”.

Secara umum, manusia memiliki berbagai unsur kepribadian di dalam dirinya yang perlu untuk dipahami, diterima, dan dirangkul agar mampu mengambil langkah ke depan dengan lebih pasti.

Semangat manusia masih memiliki semangat untuk menjadi lebih baik dan kontributif terhadap masyarakat dalam konteks studi kreativitas terwujud dalam berbagai sisi, mulai dari belajar meniru dan mengejar kuantitas, menjadi mulai berpikir mengenai tujuan dan kualitas, hingga akhirnya mencapai fase “bermain-main” dan mengeksplorasi ide.

Studi mengenai “siapa aku?” tertuang dalam bagaimana kita bisa mengenali kepribadian kita. Dalam kepribadian, ada unsur-unsur yang disebut sebagai archetypes. Carl Jung membagi archetypes ke dalam wujud persona (topeng), shadow (ketakutan), anima (feminin), dan animus (maskulin), dan banyak archetypes lainnya.

Sebuah jiwa akan mengalami keutuhan (self), dan merasa berkecukupan ketika terdapat integrasi atau penerimaan terhadap seluruh archetype, termasuk hal-hal di bawah alam sadarnya, juga penerimaan terhadap masa lalu dan impian akan meningkatnya potensi diri.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Animal Laboran, Homo Faber, Homo Ludens

Semua orang pada dasarnya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik juga semangat untuk memperbaiki diri, dalam studi kreativitas disebut kerajinan (craftsmanship).

Sennet menjelaskan prinsip ini menjadi tiga sisi: Animal Laboran (teknis), Homo Faber (manusia membuat/ kreatif), dan Homo Ludens (manusia bermain-main). Sisi terakhir ini mewakili manusia yang tak hanya memahami apa yang ia buat, tetapi juga mengupayakan proses yang menyenangkan.

Dalam konteks sebuah proyek, ada berbagai pihak yang berkepentingan, seperti arsitek, klien, kontraktor, dan engineer. Kunci ketuntasan kerajian di sini adalah bagaimana desain seorang arsitek memenuhi sisi teknis, kreatif, dan eksploratif di dalam proses perancangan dan pembangunan. Hal ini sederhananya adalah proses perkembangan diri yang berkelanjutan-multidisiplin.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Apprentice, Journeyman, Master

Buku Craftgram (Adiyanto & Sjarief, 2020) memaparkan tahap-tahap yang menjadi titik mulai hingga adaptasi seseorang yang mendalami suatu keahlian.

Perjalanan dimulai dari menjadi apprentice, di mana seseorang menjadi murid yang dituntut memiliki semangat untuk belajar dengan berkreasi sesuai instruksi (mengutamakan kuantitas). Tahap selanjutnya adalah tahap journeyman di mana seseorang mulai mempertanyakan tujuan hidup, mengamati, dan bereksperimen sesuai tujuan yang ia temukan. Tahap ketiga adalah tahap master (mumpuni) di mana seseorang bisa bermain dengan keahliannya yang ditandai dengan wawasan yang luas dan jam terbang tinggi. Fokus keluaran dalam tahap ini adalah produksi ide-ide yang inovatif.

Selama berproses, diperlukan evaluasi terhadap diri melalui literasi dengan teknik yang tepat dan pendekatan yang disesuaikan dengan konteks. Wawasan yang terkumpul dalam proses panjang ini kemudian dirumuskan dalam teori-teori yang berasal dari dalam diri arsitek dan yang berdasar pada keadaan di lingkungan.

Performa menuju arsitek mumpuni dalam kultur studio menggunakan pendekatan craftsmanship (Craftsgram, 2020)

Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan.

Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

[Writing Architecture by Carter Wiseman (2014)]

Setelah mengetahui kepribadian diri dan mampu bekerja dengan orang lain, seseorang membutuhkan ruang untuk evaluasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan literasi yang baik, yaitu kemampuan untuk memahami sebuah persoalan dengan komprehensif. Ada dua hal yang diperlukan, yakni teknik literasi dan pendekatan literasi.

Wiseman membagi teknik-teknik literasi menjadi: (1) structure, rangka literasi, (2) standard, penilaian objektif, (3) persuasion, meyakinkan bagi pembaca, (4) criticism, mencakup pemahaman soal konteks, (5) scholarship, opini yang didukung data objektif, (6) literature, unsur naratif/emosional, (7) presentation, penyampaian gagasan yang mudah dipahami, (8) professional communication, penjelasan singkat mengenai hal-hal penting dalam rangkaian gagasan.
Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

[Writing About Architecture by Alexandra Lange (2012)]

Sedangkan, pendekatan literasi dibahas oleh Lange (Writing About Architecture) yang membaginya menjadi empat kategori, yaitu:

(1) pendekatan formal, berupa penjelasan deskriptif tentang organisasi ruang, material, dan hal faktual lainnya dalam sebuah rancangan,
(2) pendekatan eksperimental, yang memasukkan unsur perasaan atau pengalaman subyektif penulis terhadap sebuah karya/proses,
(3) pendekatan historikal, misal memasukkan unsur latar belakang arsitek yang mempengaruhi sebuah rancangan,
(4) pendekatan aktivis, yang membahas pihak yang diuntungkan/dirugikan dari adanya suatu karya, melihat segi ekonomi/sosial antara karya dengan lingkungan.
Aktualisasi Kepribadian dalam Perancangan: Teori Normatif dan Teori Positif

[Creating Architectural Theory by Jon Lang (1987)]

Setelah mengetahui kepribadian diri, mampu bekerja dengan orang lain, dan mampu mengevaluasi diri, seseorang perlu merumuskan apa yang sudah dipahaminya menjadi sebuah teori kehidupan. Lang (1987) membaginya menjadi beberapa jenis teori:

Teori normatif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang menjadi kebiasaan dalam diri arsitek, persepsinya terhadap dunia, ukuran baik dan buruk. Bentuknya dapat berupa prinsip desain yang dikembangkan oleh masing-masing arsitek.

Teori positif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang dirumuskan berdasarkan konteks dari isu yang dihadapi. Teori ini terbagi menjadi teori substantif yang fokus pada isu yang dihadapi, dan teori prosedural yang fokus pada metode desain yang tepat untuk membedah isu. Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?

Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri sendiri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan. Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?

Kontributor Kelas Strategi Arsitektur Berkelanjutan untuk Mahasiswa – University of Pelita Harapan

Para kontributor yang terdiri dari mahasiswa, untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan, Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra, Arya Eka Putri, Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia Manihuruk, Eubisius Vercelli, Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin Juan, Marcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael, Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine

Kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan ini adalah sebuah mata kuliah yang diampu oleh Realrich Sjarief di dalam penelitian yang dilakukan di Omah Library dan pedagogi kelasnya di lakukan di dalam sesi mata kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan di Universitas Pelita Harapan. Harapan dari kelas ini adalah berbagi mengenai pedagogi, riset mata kuliah, maupun pustaka supaya bisa dikembangkan di perkuliahan lain ataupun bermanfaat untuk praktik arsitektur di banyak tempat. Perkuliahan ini dirangkum ke dalam bentuk buku dan interpretasi terhadap keseluruhan materi ditulis oleh Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto sebagai sudut pandang pelengkap dari luar.

Pengampu Perkuliahan

The Research Study is in Strategi Arsitektur Berkelanjutan Untuk Mahasiswa’s Book

Buku setebal 600-an halaman ini adalah salah satu refleksi untuk menyusun kerangka strategi arsitektur berkelanjutan yang dimulai dari kesadaran diri untuk membentuk sudut pandang multidimensi, multi disiplin dan konteks lingkungan makro-mikro sebelum menguasai aspek teknikal seperti pengetahuan detail material bangunan serta metode desain.

Buku terbaru yang berjudul “Strategi arsitektur untuk Mahasiswa” ini adalah sebagai buku kedua yang diterbitkan di awal tahun 2021. Buku ini merupakan antologi atas materi strategi arsitektur berkelanjutan yang didiskusikan dan dirangkum dalam bentuk esai beserta artwork untuk bersama-sama mencari seberapa luas dan seberapa dalam terminologi arsitektur berkelanjutan?

Disiplin arsitektur selalu berhubungan dengan dimensi lingkungan dan humaniora, terutama mengenai identitas, ilmu bangunan, evaluasi metode desain, sensitivitas tentang materialitas, sampai pengetahuan mengenai kasus studi. 5 Hal tersebut diturunkan ke dalam 5 bab yang berisi 14 bentuk strategi desain berisi bagaimana proses memahami diri, mengetahui budaya membangun ‘ketukangan’, dan aktualisasi diri melalui menulis, sejarah arsitektur berkelanjutan, materialitas, metodologi desain, dan pembedahan 60 kasus desain dari pritzker prize winner dan orang – orang lain yang mewarnai praktik dengan semangat lokalitas.

Sebagai penyimpul benang merah, bab terakhir meliputi refleksi diri dari para penulis tentang hasil dari pembelajaran mereka. Strategi (praktik) arsitektur berkelanjutan tidaklah statis dan berdiri sendiri, justru membutuhkan kedinamisan konstruksi pemikiran dari berbagai sudut pandang.

Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Penyunting Buku

Satria Agung Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Tim Omah Library : Redaksi

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life. Kenal lebih dekat dengan Kirana melalui Instagram @kiranaardya atau LinkedIn Kirana Ardya Garini.

Dimas Dwi Mukti Purwanto

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.

Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.

Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Hanifah Saussan

Hanifah Sausan Nurfinaputri lahir dan tumbuh besar di Magelang, kemudian pindah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan arsitektur di Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya pada tahun 2019 dengan tugas akhir perancangan sekolah alam.

Sebelumnya, Hanifah pernah mengikuti exchange program Japan in Today’s World oleh Universitas Kyushu pada tahun 2018-2019 di mana ia banyak belajar mengenai budaya, masyarakat, dan keberagaman. Pengalaman tersebut memberinya sudut pandang berbeda dalam melihat dunia di mana arsitektur ternyata hanya salah satu “kacamata” saja. Meski begitu, ia tetap ingin berkontribusi pada bidang arsitektur sehingga belum lama ini ia bergabung dengan OMAH Library sebagai salah satu periset dan pustakawan. Di waktu luangnya, ia lebih suka belajar mengenai dunia melalui film, drama, buku, atau media seni lainnya. Hanifah bisa dihubungi melalui upak.upik@gmail.com atau Instagram @hanifahsausann.

Refleksi

Terima kasih saya haturkan untuk Alvar Mensana selaku kepala jurusan UPH pada saat mata kuliah ini diajarkan, rekan – rekan pengajar yang tersebar di Indonesia, untuk sebuah semangat berbagi. Keseluruhan pedagogi ini terbuka untuk dielaborasi terkait dengan pengembangannya yang berkelanjutan. Juga terkahir untuk Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto untuk tulisan refleksinya di akhir buku.

Kategori
research

Pandemi dan Pengaruhnya ke Arsitektur

Sepanjang sejarah, perkembangan peradaban dan persebaran manusia diiringi dengan perkembangan penyakit menular mematikan—yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur maupun parasit. Arus globalisasi dan urbanisasi yang menyebabkan perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan, juga pertumbuhan populasi menyebabkan imbas lingkungan yang juga tinggi. Ditambah dengan perjalanan antar wilayah melalui udara yang makin sering, penyebaran penyakit menular menjadi semakin cepat. Beberapa dari kasus-kasus ini memakan korban jiwa yang jumlahnya signifikan dibandingkan dengan total populasi, sehingga disebut pandemik. Hal ini tak jarang mempengaruhi jalannya sejarah, yang mengakibatkan perkembangan ilmu kesehatan (epidemiologi) dan sanitasi, termasuk juga teknologi bangunan dan perkotaan.

Omah Library akan membahas linimasa pandemik yang pernah terjadi di dunia dan implikasi arsitekturalnya, yang dapat dilihat dari perkembangan sejarah ruang mandi dan inovasi toilet, hingga ke desain institusi kesehatan, ruang publik, bahkan pemukiman. Karena penanganan krisis yang disebabkan pandemik sepanjang sejarah bergantung dari sentralisasi oleh negara atau institusi, sering kali tercipta diktum-diktum arsitektural — prinsip yang dilahirkan tanpa adanya atau diperlukannya pembuktian. Diktum-diktum ini menjadi penting untuk ditelusuri kembali melalui penjabaran case study. Diktum sendiri adalah sebuah deklarasi yang bersifat otoriter (atau dari figur yang dapat dipercaya/resmi) tentang sebuah prinsip, proposisi, atau opini.

Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Inovasi Toilet

Pada kondisi pandemi seperti sekarang, masyarakat dihimbau untuk menerapkan hidup sehat, diantaranya dengan rajin mencuci tangan dan mandi dengan sabun. Mayoritas masyarakat modern memang rutin mandi sebagai pembersih diri namun belum menyadari bahwa mandi sangat erat kaitannya dengan ritual peradaban terdahulu yang mensakralkan elemen kehidupan – air. Diawali tahun 3.000 SM, air digunakan sebagai media pemurnian diri sebelum memasuki tempat suci, mandi menjadi simbol manusia memantaskan diri untuk bertemu Tuhan/Dewa, bertobat, bahkan memulai fase kehidupan baru. Selanjutnya pada tahun 2.800 SM, dimana manusia mulai membawa air kedalam hunian, peradaban bangsa Indus melahirkan prototipe sistem sanitasi perkotaan dengan jalur got terakota. Air bersih dimasukkan kedalam kamar mandi, diolah dan dikondisikan sebagai penghargaan atas peranannya meningkatkan kualitas hidup manusia. Lalu disusul kemunculan bathtub dan flush toilet pertama dengan sistem transportasi air pipa berbentuk kerucut pada tahun 1.700 SM oleh bangsa Minoa di Crete, Yunani.

Keyakinan peradaban kuno akan makna spiritual air memicu transformasi perilaku hidup sehat. Mandi sebagai simbol kemurnian, dan keabadian jiwa, pemberi kesembuhan, dan menjaga kebersihan sebagai kualitas spiritual, tercermin pada perkembangan kamar mandi di tiap peradaban dalam mengolah material lokal, inovasi desain dan teknologi bangunan, serta manajemen sanitasi perkotaan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup yang lebih sehat.

Belajar dari sejarah, masyarakat modern perlu memahami bahwa hidup sehat dimulai dari bagaimana kita menjaga kebersihan air dan sanitasi di rumah. Dengan begitu kita bisa melawan dan menangkal virus/bakteri sumber penyakit, memulai fase hidup baru yang lebih sehat.

Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet

Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, peradaban kuno percaya bahwa wabah penyakit adalah hukuman dari Tuhan, karma dari roh pemusnah. Persepsi tersebut seringkali justru memperburuk penyebaran dan angka kematian, atau menunjuk kambing hitam penyebab krisis. Setelah diketahui bahwa geografi dan perdagangan mempunyai peranan penting dalam penyebaran virus, karantina pun dilakukan. Selain itu, penelitian oleh John Snow menyatakan bahwa wabah kolera tersebar melalui air yang tercemar karena didapati kasus hanya terjadi dari pompa-pompa tertentu. Dari sini kita bisa belajar dari sejarah, (1) ketika pandemik terjadi, cara memutus penyebarannya adalah dengan karantina dan (2) kesehatan diraih dengan menjaga kebersiihan sanitasi khususnya di rumah masing-masing.

Omah Library melakukan penelusuran sejarah perkembangan sanitasi dunia dan menemukan bahwa peradaban terdahulu juga memegang pedoman hidup bersih dan sehat. Air yang diyakini sebagai pemurni jiwa dan raga menjadi tonggak perkembangan ruang mandi dan hal tersebut mempengaruhi jalannya sejarah dan memicu perkembangan ilmu kesehatan dan sanitasi yang memberi peluang munculnya teknologi bangunan dalam konteks kamar mandi dan sistem sanitasi pada ilmu arsitektur.

Kali ini OMAH Library menyuguhkan 3 kasus studi yang menunjukkan kebermanfaatan atas perkembangan teknologi bangunan ruang mandi peradaban terdahalu. Bagaimana ritual pemandian mereka juga memberikan manfaat kepada masyarakat luas mampu menjadi bahan refleksi, apa yang bisa kita lakukan sekarang dan masa datang untuk mengurangi dan mengantisipasi dampak pandemi? Akankah kondisi pandemic akan memicu inovasi kamar mandi dan sanitasi dalam konteks teknologi bangunan pada arsitektur keberlanjutan? Atau kita cukup merubah cara pandang untuk memulai kebiasaan hidup bersih dan sehat

Communal Bath House | Sejarah Pemandian Umum

Perjalanan sejarah communal bath House mulai dari dibukanya pemandian untuk umum hingga transformasi ruang mandi yang dipengaruhi oleh tuntutan untuk menerapkan pola hidup sehat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi mandi bersama telah terjadi sejak peradaban Yunani dan berlanjut ke Romawi yang mulai melestarikan tradisi mandi bersama dengan membuat pemandian umum. Tetapi, tidak lama setelah Romawi membuka pemandian umum, banyak terjadi skandal hingga akhirnya pihak berwenang memutuskan untuk memisahkan ruang mandi menurut jenis kelamin. Dari kebijakan tersebut orang kaya mulai memilih untuk membuat kamar mandi pribadi yang dapat digunakan bersama oleh seluruh anggota keluarga dan tamu. Namun, pemandian umum masih populer dengan adanya layanan pijat dari para ahli. Perkembangan kamar mandi umum mulai meluas hingga ke Komunitas Yahudi, Muslim dan Kristen. Mereka mulai membuat pemandian umum hingga akhirnya masing-masing komunitas memiliki pemandian sendiri yang memodifikasi model pemandian Romawi. Salah satunya tradisi pemandian komunitas Muslim yang disebut dengan Hammam. Begitupun dengan Temazcal yang juga meluas menjadi budaya hingga menjadi fitur utama mayoritas kota-kota di Mesoamerika.

Melihat perkembangan tersebut, Romawi mulai membangun spa dimana inisiasi tersebut disertai dengan promosi pola hidup bersih. Hal ini disebabkan karena selama abad pertengahan, mandi seluruh tubuh adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh kalangan atas. Sehingga secara bertahap kelas atas mulai mempromosikan perlunya kebersihan untuk kalangan kelas bawah. Namun selama abad ke-16, 17 dan 18, konsep pemandian umum dari Yunani dan Romawi mulai menghilang di Eropa karena kebersihan mulai tergantikan dengan wc portabel.

Jika melihat kondisi saat ini, dimana kita dituntut menerapkan pola hidup yang lebih bersih untuk menghindari penyebaran virus. Akankah arsitektur kembali mengeluarkan inovasi yang mengubah teknologi sanitasi dan air bersih untuk menanggapi pandemik kali ini?

Communal Bath House | Sejarah Permandian Umum

Jika berbicara tentang sejarah permandian, kita perlu melihat peradaban kuno yang telah melakukan upacara pemurnian dan ritual dengan air. Salah satunya adalah The Bath of Caracalla yang merupakan contoh permandian komunal yang telah menjadi tradisi penting bagi peradaban Romawi. Kemegahan bangunannya menunjukkan bahwa pada masa kejayaan Romawi, tradisi ini sangat dihormati. Bahkan The Bath of Caracalla diperkirakan mampu melayani hingga 8000 orang mandi setiap harinya. Hal ini membuktikan besarnya dedikasi kekaisaran Romawi terhadap permandian untuk menerapkan pola hidup sehat.

Begitupun juga dengan Temazcal yang merupakan tradisi permandian uap bersifat komunal di Mesoamerika. Ukuranya yang cukup besar untuk menampung setengah populasi kampung menunjukkan bahwa Temazcal memang didedikasikan sebagai ruang bersosial. Bagi masyarakat suku Maya kuno, Temazcal merupakan ritual yang memiliki tujuan kesehatan. Berbeda dengan permandian Romawi, Temascal tidak memiliki larangan secara formal tentang tidak diperpbolehkanya laki-laki dan perempuan mandi bersama dalam satu ruangan. Hal ini sempat mendapat pertentangan dari penjajah Spanyol karena dianggap tempat yang berdosa. Namun dengan kegigihan masyarakat Mesoamerika, tradisi Temazcal masih terjaga hingga saat ini.

Onsen dan Sento Jepang merupakan pemandian yang pada awalnya memiliki akses yang terbatas secara ekonomi dan sosial. Permandian ini pada awalnya bersifat religius. Namun, ketika memasuki abad ke-15, pemandian ini telah menjadi kultur penting bagi masyarakat Jepang hingga mayoritas orang Jepang dapat mengaksesnya.

Dari ketiga case study tentang sejarah perkembangan permandian komunal dapat disimpulkan bahwa konsepnya selalu mengarah kepada pola hidup yang lebih sehat dengan cara menjaga kebersihan. Tentu pandemik kali ini cepat atau lambat akan menjadi pemicu munculnya inovasi perubahan teknologi sanitasi hingga air bersih. Karena memang benar bahwa mulai saat ini kita telah dituntut untuk menjaga kebersihan demi mengurangi penyebaran virus.

Dari Publik ke Privat | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet

Setiap periode sejarah menyuguhkan berbagai cerita tentang sanitasi dan kebersihan. Pada abad ke 18 M, berbagai negara di Eropa mulai berlomba menciptakan teknologi toilet dan sistem sanitasi terbaik, seperti Inggris yang bangga akan WC/water closet-nya (istilah untuk ruang berisi toilet yang muncul sekitar tahun 1870), Skotlandia dengan bucket-nya (toilet dengan penampung limbah berupa ember), Perancis dengan latrine (istilah untuk jamban yang muncul di Inggris pada pertengahan abad 17), dan Belanda yang masih menggunakan danau alami sebagai toilet. Namun masalah yang timbul selanjutnya adalah bau tidak sedap. Dari titik ini, kita akan melihat bagaimana teknologi hadir untuk meningkatkan kualitas kebersihan dan kesehatan manusia yang juga menyetir perkembangan dikotomi kamar mandi dari ‘publik/privat’ menuju ‘kaya/miskin’. Namun sisi baiknya, teknologi sanitasi dan layout kamar mandi jadi berkembang dan seiring waktu, tiap hunian dapat merasakan kualitas sanitasi yang baik, meningkatkan kebersihan publik dan kesehatan masyarakat.

Masalah yang muncul dalam dunia sanitasi bukan tentang penemuan hal yang benar-benar baru, melainkan upaya penyelesaian dari masalah yang berkelanjutan. Perkembangan ilmu kesehatan juga menjadi katalis perkembangan industri sanitasi. Tidak hanya produk dalam interior kamar mandi saja yang dipikirkan, infrastruktur saluran air juga berperan penting untuk kesehatan dan sanitasi masyarakat. Ketika pondasi flush toilet telah ditemukan oleh Alexander Cummings dan Thomas Twyford hingga memasuki era industrialisasi, yang gencar dikembangkan selanjutnya adalah menemukan teknologi material khususnya produk pipa guna menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.

Perkembangan Toilet dan Kamar Mandi Privat

Perkembangan toilet dan kamar mandi privat erat kaitannya dengan syarat akan kebutuhan kesehatan masyarakat. Rumah -rumah “Victorian” yang sebelumnya tidak membutuhkan kamar mandi khusus karena memang pada saat itu orang Inggris hanya memiliki 1 toilet yang digunakan hingga 100 orang. Oleh sebab itu limbah banyak yang tumpah ke jalan hingga ke sungai yang mengakibatkan puluhan orang meninggal karena penyakit yang ditularkan melalui air, terutama selama wabah kolera tahun 1830-an dan 1850-an. Hingga akhirnya keluar peraturan tentang penyediaan ruang khusus untuk water closet pada tahun 1859 yang menegaskan bahwa bahwa setiap rumah baru wajib memiliki water closet/WC. Sehingga Ilmu dan teknologi yang berkembang pada masanya mampu memfasilitasi hidup bersih dan sehat melalui peraturan yang menjadi standar yang sebelumnya dipicu oleh wabah penyakit kolera.
.
Selain itu, Perang Dunia juga secara tidak langsung berperan dalam pendistribusian teknologi toilet dan perkembangan kamar mandi ke penjuru dunia. Hal ini diesebabkan karena toilet yang dikembangkan oleh Thomas Crapper pada akhir abad ke-19 telah dibawa pulang oleh tentara Amerika yang ditempatkan di luar negeri selama perang dunia 1. Namun sebenarnya teknologi toilet flush sudah digunakan oleh Amerika jauh sebelum terjadinya perang dunia. Namun teknologi itu hanya bisa ditemukan pada rumah-rumah orang kaya dan hotel mewah di Amerika yang dibuktikan oleh adanya 8 flush toilet di Tremont Hotel, Boston yang kemudian berdampak sampai ke perumahan. Pada akhirnya di akhir abad ke-19, gagasan memiliki kamar mandi lengkap dengan wastafel dan fasilitas mandi (bathtub/shower) menjadi populer. Kemudian pada awal abad ke-20, dan kamar mandi menjadi kebutuhan standar di rumah-rumah yang baru dibangun.

Pertanyaan reflektif untuk peradaban kini adalah, apa yang bisa kita lakukan dalam bidang arsitektur sebagai tanggapan pandemi pada tahun 2020 ini?

Diktum Dalam Desain : Pengaruh Ilmu Epidemologi Terhadap Desain

Walaupun perkembangan pipa dan toilet dengan flush yang sudah lama ditemukan, kamar mandi dalam rumah baru menjadi umum di akhir abad ke-19, setelah saluran dan sistem drainase kota yang memadai mulai ada. Perkembangan kamar mandi pun cukup memakan waktu, di awal abad ke-20, hanya ada 1 kamar mandi kecil untuk rumah dengan 4 kamar tidur sekalipun. Desainnya pun masih mengutamakan efisiensi dan privasi.

Baru di tahun 1960-an, dengan meningkatnya kemakmuran pasca-perang dan kultur pop, perkembangan beragam desain perabot kamar mandi mulai ada. Seperti bathtub, karpet berbulu, wallpaper tahan air, hingga jacuzzi yang menjadikan kamar mandi sebagai ajang pertunjukkan kemewahan.
.
Sebelum itu, gaya hidup modern merupakan perkembangan dari kepedulian kepada kesehatan. Salah satunya untuk penanggulangan kasus kolera dan pandemi tuberkulosis yang saat itu membunuh 1 dari 7 orang di AS dan Eropa, yang diperburuk akibat kepadatan di perkotaan pada awal Revolusi Industri.

Arsitektur modern yang identik dengan bangunan warna putih muncul di awal 1900-an, melambangkan kebersihan dan juga simbol antitesis dari kegelapan kota-kota industri. Jendela diperbesar dan jarak antar bangunan diperlebar, untuk menciptakan ruang dengan udara dan sinar matahari yang cukup. Layout perimeter blok dan tipologi courtyard kembali diimplementasikan di perkotaan. Gerakan pendorong perubahan seperti Garden City di Inggris atau Life Reform di Jerman, dan The Ottawa Charter oleh WHO mulai digagas walaupun belum berhasil membawa perubahan yang konkret.

Namun perlu disadari diktum dengan elemen-elemen arsitektural yang ‘menyembuhkan’ ini merupakan reaksi dari zamannya yang kemudian dipatahkan validasi ilmiahnya setelah ditemukan pengobatan medis pada tahun 1950-an. Diktum mulai memiliki sifat dogmatis ketika konteksnya mulai sirna, namun banyak menghasilkan prinsip yang patut dipelajari.

Diktum Arsitektural dan Bangunan “Sehat”

Pernanggulangan pandemi beriringan dengan gaya artistik yang baru melahirkan diktum-diktum arsitektur Modern di abad ke-20, yang menjadi penanda era tersebut. Pengulangan diktum sepertu elemen jendela, balkon, kursi sandar didesain berdasarkan studi antopometri dan penggunaannya. .
Ekspresi progresif ini dapat dilihat di desain Lovell Health House, di mana Neutra mengakomodir semua saran kliennya, seorang dokter yang menulis artikel mengenai hubungan antara ruang domestik dan kesehatan fisik. Desain atap datar dan balkon menjadi umum sebagai tempat berjemur. Desain Paimio Sanatorium merupakan kulminasi pencapaian arsitektur medis dengan prinsip modern ini, yang detilnya bisa terlihat di skala lengkungan lantai ke dinding sekalipun. Geometri dan garis lurus juga menjadi hal yang penting, agar ruang-ruang mudah dibersihkan. Hal inilah yang coba kembali dicetuskan oleh Maggie’s Centres sebagai standar yang harus dimiliki seluruh fasilitas kesehatan. 17 wisma yang dirancang oleh arsitek-arsitek besar diharapkan dapat menjadi contoh yang dipelajari dan ditiru.

Perubahan yang dibawa oleh ilmu sains, terutap epidemiologi ini juga mempengaruhi cara kita berkumpul, membangun pemukiman, bahkan melakukan transaksi. Rantai panjang globalisasi akan terancam digantikan dengan pertukaran barang yang terlokalisasi. Hal ini juga akan menyadarkan bahwa pemukiman, kota, desa, bahkan negara bukanlah entitas-entitas yang bersifat sentral, melainkan merupakan bagian dari sebuah sistem raksasa yang saling terhubungkan. Dalam skala rumah, akan tercipta ruang-ruang pribadi yang memenuhi kebutuhan secara fisik dan psikologis, serta keseimbangan biogenik.

Di masa yang didominasi oleh isolasi, kita diajak untuk berefleksi. Salah satunya dengan melihat kembali apa yang dilakukan para arsitek dalam menghadapi pandemi pada jamannya. Walaupun tidak ada korelasi langsung secara medis, kejadian sebesar pandemi membangkitkan sisi humanis arsitek seperti Aalto untuk menciptakan bangunan yang empatik terhadap penghuninya. Lalu, reaksi seperti apa yang akan diambil arsitek dalam menghadapi pandemik saat ini?

Reaksi Arsitektur Terhadap Pandemi : Studi dari Pandemi yang Pernah Terjadi

Reaksi Arsitektur terhadap pandemik mungkin tidak terjadi secara langsung namun kejadiannya merupakan antiseden yang pasti. Pandemik berhubungan langsung dengan ilmu kesehatan yang ruang lingkupnya global namun dibutuhkan sistem penanganan regional yang lebih detail, menyesuaikan dengan kondisi lokal tiap daerah. Perjalanan reaksi arsitektur terhadap pandemik dimulai dari ruang lingkup publik dan sistem makro, berupa regulasi oleh pemerintah.
.
Regulasi yang lahir atas pertimbangan saran berbagai ahli khususnya bidang kesehatan, merupakan upaya pembentukan behavior/perilaku masyarakat sebagai antisipasi dan mengurangi dampak penyebaran pandemik. Munculnya perilaku baru akan berdampak pada sektor lain yang meliputi ekonomi dan sosio-politik yang akan berimbas pada Urban Design, pada titik ini lah arsitektur akan bereaksi, bahkan hingga detail produk kecil seperti gagang pintu sekalipun.

OMAH Library menelusuri rekam jejak pandemik terdahulu:
.
Kolera, Tifus, Demam Kuning (abad ke-19), Pes/Third Plague (1855-1959), Influenza (1918, 1957, 1968), dan Tuberkulosis (1820-sekarang)
.
Dari ketiganya, muncul reaksi arsitektur secara komprehensif yang meliputi
.
1.infrastruktur kota,
2. teknologi bahan bangunan,
3. layout dan bentuk inovatif pada interior, bahkan memunculkan tipologi bangunan baru.


Pada akhirnya seluruh produk tersebut memiliki konsep dan detail yang berakar pada prinsip kesehatan manusia dan lingkungan. Kesehatan tidak melulu tentang fisik tapi juga psikis yg bisa diwujudkan melalui arsitektur. Melihat kejadian pandemik terdahulu, Biogenic Architecture & Psychological Health dinilai menjadi kunci penting untuk menyetir reaksi arsitektur terhadap pandemik covid-19 kali ini. Ditambah lagi perlunya pembatasan jarak antar manusia di pandemi ini, sistem desentralisasi perlu dikuatkan dan hubungan ketetanggaan butuh dirajut menuju solidaritas bersama.

.

Pada akhirnya, manusia butuh menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.

Teori Praktis Pola Reaksi dari Pandemi

Kemunculan pandemik akan membentuk behavior/perilaku baru sebagai upaya memutus rantai penyebaran dan dampak buruk lainnya. Arsitektur hadir untuk menanggapi dan mencoba mempercepat sekaligus menstabilkan keadaan. Arsitektur sebagai science dan art memiliki peluang untuk maju menghadirkan solusi berupa inovasi desain berbasis ilmu kesehatan dan seni terapan yang mampu meningkatkan kestabilan psikis dan memberi pengalaman ruang spiritual. OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik.
.
Berikut teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik :
.
1.Pandemik: fenomena penyebaran penyakit berskala global, bisa disebabkan oleh virus dan bakteri.
.
2.Behavior: analisa perilaku sebagai konteks perubahan budaya baru.
.
3.Function: pembaharuan kebutuhan ruang/fasilitas berdasarkan pola perilaku user dan standar kesehatan. Kriteria fungsi didasarkan oleh permintaan (behavior). Function sendiri terbagi menjadi 5 kategori utama, yaitu: kantor, rumah tinggal, rumah sakit, fasilitas entertainment, dan kota.
.
4.Creative Thinking: eksplorasi olah bentuk yang tidak lepas dari standar ergonomic.
.
5.Artistic/beauty: elemen keindahan diciptakan ketika standar kebutuhan mendasar telah masiv dipenuhi. .
Creative thinking + beauty adalah solusi yang diberikan oleh arsitek/desainer sebagai tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mental melalui ruang binaannya. Mereka berperan merajut standar bentuk dan ergonomi dengan seni dan estetika. .
Memang jejak sejarah menunjukkan tetap akan ada pandemik baru di kemudian hari namun bukan berarti kita pasif dan menerima apa adanya. Arsitek dan desainer justru mampu terlibat dalam keberlanjutan kesehatan masyarakat, menciptakan lingkungan buatan yang bersih, sehat, dan humanis. Dengan mengacu pada pola tersebut, arsitektur mampu bereaksi untuk menciptakan inovasi yang holistik, selalu meningkatkan taraf hidup manusia dan alam pada tiap peradaban dengan mewujudkan self sustain community.

Solusi Bentuk dan Ergonomi dalam Desain

Sebuah desain selalu berawal dari konteks dan berupa solusi yang ditawarkan sesuai dengan tuntutan konteksnya. Pandemi yang selalu membawa perubahan gaya hidup manusia menjadi salah satu pendorong pergerakan dan evolusi desain atau zeitgeist pada masanya. Dengan menggabungkan creative thinking dari segi bentuk dan ergonomi dengan aesthetics/beauty, tercipta desain berupa arsitektur, interior, dan desain produk. Masing-masing tipe desain tersebut memiliki kualitas berbeda yang mempengaruhi pengalaman spasial yang diharapkan berkontribusi dalam pemenuhan kesehatan fisik juga prikologis penggunanya.
.
OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik. Creative thinking yang dilakukan arsitek dan desainer terdahulu dilakukan dengan menganalisa dengan lebih detil elemen-elemen pada bangunan Lovell’s Health House dan Sanatorium Paimio dalam menyikapi tingginya kasus Tuberkulosis pada abad ke-20. Perumusan desain-desain ini bertepatan dengan berkembangnya desan Modern, yang juga merupakan pengharapan dari permulaan gaya hidup baru bagi masyarakat.


Dalam menghadapi pandemi COVID-19 kali ini, OMAH Library mencoba mengajak para desainer muda untuk tidak pasif, melainkan mencoba memproyeksikan perkembangan desain yang mungkin terjadi dengan mempertimbangkan teknologi dan situasi sosial yang terjadi saat ini. Pada akhirnya, ini merupakan sebuah ajakan untuk berefleksi dan ebagai manusia sosial selalu mencoba membuat lingkungan hidup kita menjadi lebih baik —menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.


Credit to the Omah Library’s Research Team

The Research Study is in Alvar Aalto’s Book

Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :

  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa
  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
  2. Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
  3. Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.

Principal : Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Dimas Dwi Mukti P

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
 
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
 
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.

Satria A. Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.