Dulu saya kira ketakutan saya sebagai arsitek akan hilang kalau sudah lebih dikenal, punya jam terbang. Saya percaya pada angka yang sering kita dengar, sepuluh ribu jam untuk menguasai sesuatu.
Puluhan tahun, ribuan jam, sudah saya lewati. Ternyata keahlian tidak menghapus ketakutan. Ia cuma berganti rupa.
Ketakutannya hanya berubah bentuk. Yang muda takut tidak dapat kerja. Mereka lembur sampai lupa pulang 🥹. Yang sudah lama takut karyanya tidak sebaik dulu 😢, takut nama yang dibangun puluhan tahun runtuh dalam satu proyek. 😭 Tidak ada garis finis di mana ketakutan berhenti. 🤮
Saya akan jujur, meski tidak nyaman. Sudah lebih dari 20 tahun saya praktik arsitektur, 15 tahun mengajar, menulis beberapa buku. Tapi rasa insecure itu tetap ada. Setiap kali saya pikir sudah mengatasinya, ia kembali dalam bentuk baru.
Datang lagi, hilang lagi, lebih besar, lagi tidak berkurang.
Dan saya masih scroll malam-malam, melihat arsitek lain, yang dalam maupun luar negeri, yang lebih mapan maupun yang baru muncul, dan kadang saya merasa kurang. Padahal yang saya lihat di layar itu hanya sebuah highlight, cuplikan sekian detik dari proses yang panjang. Hal ini berlangsung tanpa henti 1 minggu penuh, saat2 terjaga.
Atas nama riset, kadang antisipasi dilakukan dan hal ini berputar dengan ekspektasi diri yang meningkat.
Sosial media seperti etalase yang menyala dua puluh empat jam. Saya cari2 ternyata ada nama untuk apa yang saya rasakan ini.
Psikolog Leon Festinger menyebutnya social comparison, dorongan kita menilai diri dengan membandingkannya pada orang lain. Masalahnya, di layar kita membandingkan hidup utuh kita dengan etalase terbaik orang lain. Sebuah perlombaan imajiner yang tak pernah berhenti.
Dan ini bukan hanya perasaan saya. Bagi saya, tahun 2010 Facebook terasa seperti komunitas. (Bahkan friendster 2005 an dengan saling memberikan testimonial untuk kawan dekat) saya melihatnya menarik karena seperti memiliki album/bahkan rumah kedua.
Dulu juga anak studio di garasi 2011 an sering main plurk, path, dan mungkin banyak lagi yang akan datang silih berganti.
Lalu di dan setelah pandemi di 2020, semua bergeser jadi panggung. Bukan saya yang melemah, ekosistemnya yang berubah. Instagram, TikTok.
Saya pun ikut berubah, merangkai etalase bukan merangkai hubungan nyata. Dan perjuangan untuk menyadari ini sungguh tidak mudah dan masih berjalan, dengan memposisikan diri, membuat penjelasan, juga proses “overthinking”
Saya tidak punya jalan keluar yang mulus. Kadang saya frustrasi dulu. Perlu mundur, menutup layar, berhenti membandingkan dengan orang lain. Baru setelah itu saya bisa kembali melihat yang nyata.
Nyata itu sederhana. Klien saya sendiri. Proyek saya sendiri. Tim yang saya bangun bersama. Yang menyelamatkan saya bukan karena saya lebih kuat, tapi karena saya berhenti menghadapinya sendirian. Mereka mendukung, sistem dibuat dengan kerja tim, fokus ke produk, service, dan feedback. “Sistem Loop”
Ada seorang klien yang sudah seperti keluarga. Ia mengingatkan: “konsep desain butuh waktumu, dan waktu itu terbatas. Sebagus apapun manajemen/ teknis selalu ada limit maksimal. Tahu kapan cukup itu bukan kelemahan, itu kedewasaan. “ Ia bilang begitu karena ia peduli.
Akar dari semua overthinking ini sebenarnya satu: “perasaan tidak pernah cukup. Dan obatnya bukan bekerja lebih keras, tapi belajar mengenali kapan cukup adalah cukup.”
kawan ini juga mengingatkan saya, lewat pemikiran Peter Attia, soal sesuatu yang sederhana tapi menampar: “Mas, umur kita terbatas. Health span kita, waktu kita benar-benar hidup dan berdaya, lebih pendek dari yang kita kira. Maka menjaga batas, memilih apa yang layak mendapat waktu kita, bukan kelemahan. Itu cara menghormati waktu yang tidak banyak.”
Jadi untuk siapa pun yang pagi/malam ini scroll dan diam-diam merasa tertinggal. Saya mengerti, Saya juga pernah, dan kadang masih, di sana.
Kalau overthinking datang, sekarang saya tidak melawannya sendirian di kepala. Saya mulai telepon kawan saya, kakak saya, istri saya, dan kadang malah anak saya dan bercerita.
Jadi ingat arsitek Alvar Aalto berkawan dengan dengan Aalto-Schildt sebenarnya bukti bahwa kawan yang penting bagi seorang arsitek belum tentu sesama arsitek.
Schildt justru penting karena ia dari dunia lain, dunia sastra dan pemikiran, yang bisa memahami dan mengartikulasikan Aalto dengan cara yang mungkin tidak bisa dilakukan sesama arsitek. (1984-1991, ia menulis dan diskusi sampai terbit 3 volume buku)
Atau cara lain saya tulis pikiran jadi mindmap supaya jernih, mau menghadapi daripada menghindari “journaling”. Saya hitung, apakah ketakutan ini nyata atau cuma “bayangan”. Lalu saya tutup laptop dan duduk dengan keluarga. Kadang mendiskusikannya.
Menariknya semakin banyak kita menuliskannya semakin jelas juga masalahnya ada di sudut pandang saya yang belum cukup adaptif, dan membutukan “skill” untuk menaklukkan ketakutan itu
Karena hidup bukan cuma untuk kerja, dan waktu kita terbatas. Kamu tidak tertinggal. Kamu hanya membandingkan malam beratmu sendiri dengan kesuksesan orang lain. Yang nyata selalu lebih dari yang terlihat di layar.
Dan apa pun yang sedang kamu hadapi, kamu tidak harus menghadapinya sendirian, dan tidak harus terbatas di layar gadget, dengan proaktif mulai berlatih menghadapi ketakutan dengan bersyukur, dan fokus ke apa yang bisa saya pribadi lakukan, fokus membangun tim yang terdekat, membangun biro dengan infrastruktur yang baik, melibatkan tim, juga prioritas fokus ke keluarga terdekat yang harus diperhatikan.
Sesederhana mengisi aktivitas fisik, alam, membangun sesuatu dengan tangan (hobi, olahraga, atau bahkan mengorganise barang, kataloging lemari dan isinya. Ini seperti memperkuat struktur arsitektur jiwa daripada hanya menghias fasad virtual.
Saya merasa overthinking saya berkurang saat kita punya tujuan hidup yang lebih dalam daripada likes dan followers. Kerjakan tugas hidup (kerja bermakna, relasi, kreativitas) ->ini memindahkan energi dari kaku “menjadi raksasa yang kaku” ke adaptasi.
Jujur saya jadi belajar untuk menerima bahwa semua orang punya “ruang gelap” di arsitektur jiwanya. Individuasi berarti membangun rumah yang unik, bukan meniru desain orang lain.
“Proses ini bukan tentang menjadi -> lebih baik dari orang lain, melainkan menjadi lebih utuh sebagai diri sendiri. “ ini pandangan pribadi ya 🙏
Membangun hubungan nyata offline itu perlu skill sosial, juga membangun hubungan di social media, komunikasi yang efisien itu berbasis pada niatan, dan habit. Tapi satu hal yang saya sungguh belajar bahwa kejujuran, apa adanya menjadi satu akar pondasi yang kuat- kata terima kasih, kata maaf apabila tidak sempurna, juga kata “tolong bantu” jadi hal sederhana untuk mengekspresikan ketulusan hati wujud dari rasa sayang.
Menulis di acc @realrichsjarief lebih dekat, lepas, dan personal. Dan akhirnya melihat bayang2 arsitektur justru dari sisi sehari – hari. Kecintaan saya pada arsitektur-refleksi-karya-diskursus-dialog-juga pendalaman memang bagusnya tetap ada di @rawarchitecture_best dan akhirnya bisa membantu saya juga memposisikan arsitektur dan pribadi / keluarga.