Kategori
blog tulisan-wacana

Batas itu dimana ?

Saya seringkali berpikir, di dalam segala hal yang di sekitar kita yang penuh batasan. Bagaimana caranya mengetahui titik kelemahan diri kita sendiri ? Segala sesuatu yang jadi kekuatan biasanya adalah kelemahannya sendiri. Segala sesuatu yang jadi kekuatan bisa jadi kekuatannya. Lalu bagaimana caranya mengetahui kekuatan dan kelemahan, supaya keduanya bisa saling berdialog.

Saya akan mulai dengan preposisi :

If you care about only your name, the limit is in the name itself.

If you care only about other people’s name the limit is in the other’s people name in your mind.

If you care about only your workshop, the limit is in the workshop itself

If you care about only your progress in Guha, the limit is in the Guha itself

If you care about introversion of yourself, the limit is in the introversion of yourself.

Saya sering bilang,

“saya tidak peduli, kalau…”

lalu kemudian saya menimpali kalimat selanjutnya dengan,

“Kak Rich minta maaf kalau tidak peduli. Kita perlu sadar bahwa…”

Yang membuat saya tersenyum adalah seringkali asisten saya, tidak mendengarkan sampai selesai, jadi dia mengambil kesimpulan kalau saya benar – benar tidak peduli, padahal saya menunjukkan kepedulian saya dengan mengatakan saya tidak peduli supaya munculnya kesadaran kolektif. Barulah mereka kasak – kusuk, berdesas – desus, dan apalagi sampai berdiskusi akan kejadian tersebut. Ditambah lagi seringkali, saya menimpalinya lagi dengan kenapa saya menjelaskan saya tidak peduli adalah sisi emosional manusia yang sedang keluar untuk mengharapkan adanya perubahan dengan lebih cepat.

Dan kenapa kita perlu berubah dengan cepat, dan perlu tidak perlunya merubah dengan cepat. Kemudian saya menjelaskan bahwa saya perlu meminta maaf karena kecepatan itu saya anggap begitu karena hidup ini hanya satu kali, namun hal itu juga menjadi batasan yang baru, pertanyaannya, kalau memang hidup hanya sekali, lalu kenapa harus cepat – cepat atau terbirit – birit ?

Pada akhirnya saya belajar bahwa melambatkan ritme itu penting, mempercepat ritme juga penting. Terkadang sisi lontaran emosi unutk tidak peduli itu penting bukan menunjukkan ketidak pedulian, namun justru sebaliknya, dan juga lontaran emosi menjadi peduli itu penting. Keduanya adalah cerminan emosional sesaat yang terkadang menjadi tidak emosional juga tidak kalah pentingnya.

Yang menjadi menarik adalah bagaimana caranya mengintegrasikan berbagai macam hal ? yang juga menarik adalah juga bagaimana menjalani kedua kutub kiri dan kanan, positif dan negatif, bisnis dan berbagi, diri sendiri dan orang lain, personal juga komunal secara bersamaan. Dan pergulatan sisi – sisi kontradiktif tersebut menghasilkan rekonsiliasi pemikiran yang mencengangkan, dan maha dahsyat, ledakan kreatifitas dengan mengetahui batas diri.

Namun sebelum kita masuk kesitu, saya ingin berbagi satu cerita mengenai latar belakang kontradiksi tersebut.

Saya punya cerita, dulu waktu di Surabaya saya sering pulang sekolah bersama ibu saya naik becak. Hal yang saya damba – dambakan adalah perjalanan naik becak itu, karena saya bisa melihat lebih lambat bagaimana orang berinteraksi. Kami melewati pasar, jalan – jalan tanah, dan rumah – rumah petak. Biasanya kami naik becak berdua, adik saya kalau tidak salah masih kecil dan saya masih TK pada saat itu.

Perjalanan itu memiliki beberapa kemungkinan. Saya tidak pernah bilang apapun ke ibu saya bahwa yang saya inginkan dan saya suka adalah perjalanan melalui kuburan Kembang Kuning.

Kami melintas area kuburan itu untuk mendapatkan jalan pintas. Saya ingat, melintasi kuburan itu adalah perjalanan sekitar 5 menit. Dari kejauhan, saya merasakan udara menjadi dingin, wewangian bunga mulai semerbak, dan warna – warni tanaman mulai muncul. Saya melihat pedestal kuburan yang kokoh, repetitif, beraneka rupa, dan indah – indah. Ada yang terbuat dari granit, ataupun marmer, ada juga yang dari kayu. Lebar jalan kuburan itu hanya sekitar 2.5 m, dan ada saja yang tidak rata. Kadang – kadang kepala saya terantuk kepala ibu saya ataupun besi becak, tapi selalu saya berdiri kembali untuk melihat suasana kuburan, menghirup udara yang wangi, dan merasakan dinginnya kuburan tersebut. Saya melihat bunga – bunga bougenville , dan wanginya harum, saya suka sekali dengan bunga kenanga. Padahal banyak orang bilang itu bunga orang mati.

Kelewat senangnya kalau lewat kuburan, saya selalu ada di depan becak sedepan – depannya untuk menghirup udara wangi kuburan. Ibu saya suka bilang “Kamu ngapain sih ? kaya anak kampung aja.” Belum lagi beliau kadang – kadang geli sendiri, kalau melihat saya suka makan pakai tangan, ataupun jalan tidak memakai sandal. Saya suka dengan hal – hal yang langsung, karena dari situ saya merasakan sentuhan, kehangatan, wewangian meskipun lucunya hal itu dianggap aneh oleh ibu saya.

Perjalanan saya praktik juga sama, ada hal yang saya suka, selalu saya ulang – ulang. Hal tersebut muncul karena saya merasakan keterhubungan langsung, emosional, dan personal. Saya mencoba membayangkan apa jadinya ya kalau bentuk ini begini dan begitu. Lebih lanjut lagi saya membayangkan apa jadinya ya, kalau orang ini merasakan ini dan itu. Ini dan itu, begini dan begitu, menjadi reka ruka, olah bentuk, berdasarkan pertimbangan – pertimbangan yang menerus. Inti dasarnya adalah kejujuran dalam berproses, membuka telinga tanpa harus terbawa arus juga. Begitu banyak kata – kata positif yang membangun kita, dan juga banyak juga kata – kata negatif yang bisa juga membangun kita asalkan pikiran kita bisa merubah yang negatif tersebut menjadi positif. Dan hal tersebut adalah sebuah proses untuk memahami diri kita sendiri. Dan satu hal yang terpenting yang saya pelajari adalah bagaimana menjadi satu kata

“Jujur akan diri sendiri.” kata – kata ibu saya adalah doa, ia tertawa melihat saya yang sungguh aneh, dan hal tersebut adalah pemaknaan tersendiri. Namun perasaan jujur tersebut adalah titik tengah sebelum pikiran kita bisa bermain dengan kutub – kutub ekstrim selanjutnya.

Di dalam arsitektur hal ini disebut juxtaposition, memperbandingkan dan mengintegrasikan kedua hal dengan ekstrim. Hal ini menghasilkan hasil yang hibrida. Pemikiran hal – hal seperti tidak ada yang baru di dunia ini, juga tidaklah benar seluruhnya, dan pemikiran bahwa ide dasar itu selalu orisinal juga tidaklah benar seluruhnya. Dan pertanyaan lebih mendasar, apa sih yang benar itu ? ataukah bukan masalah kebenaran ? tapi bagaimana saya paham mengenai batasan diri saya sendiri.

Dan kemudian, barulah kita bisa mengambil kesimpulan,

“saya cukup”

Di tengah – tengah Plato dan Aristoteles ada anak – anak dengan wujud kecil, berbaju putih yang menengahi mereka berdua ketika berdialog. Wujudnya lebih kecil dari lubang telinga, lubang hidung, dan lubang- lubang yang lain. Ia menyapa,

“hallo, namaku Kronos, sang penjaga semesta aku penjaga waktu, jembatan alfa dan omega ! cukup atau tidak cukup waktumu, kita cukupkan.”

Kategori
blog tulisan-wacana

Cangkirku, Kehidupan yang Kedua

Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega. Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.

Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega.
Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.

Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.

Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.

Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat. Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.

Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat.
Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.

Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.

Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.

Saya kenal 2 orang pengrajin, pengrajin pertama pintar berbicara, mulutnya manis-kerjanya hanya di permukaan, terlihat manis – hanya estetika tempelan, apabila diminta memasang bata ia akan memasang bata dengan apik, namun terkadang lupa bahwa di balik bata tersebut ada pipa, perhitungannya hanya sebatas manis dilihat. Sedangkan pengrajin kedua tidak pandai berbicara namun pekerjaannya halus dan langkah – langkahnya bisa membuat proyek aman karena perhitungan yang mendalam tentang prosedur kerja dan detail tahapan kerja, kekuatan, tahan terhadap air, cuaca. Seiring dengan perjalanan saya berkembang di dalam praktik, detail – detail yang saya pikirkan bertransformasi di dalam pertemuan dengan banyak pengrajin. Termasuk pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.

… pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.

Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.

Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.

Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.

Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.

Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.

“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”

“Terima kasih pak untuk cangkir, kopi, dan perjalanannya bersama – sama.” ini Cangkir kedua saya, puji Tuhan.

Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.

Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.
Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.
“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”

Translation :

Title : Second Cup of My Life

The building with a twisting roof is a building with a stilt structure made of bamboo construction, with a grid of 5.0 m and 4.0 m to accommodate the functions of the library room, bedroom and meeting room. The structure is like the shape of a butterfly or the flapping of a bird’s wing which is elaborated from the Alfa Omega project. Bamboo blocks are stiffened with chin – chin (stiffeners), while the column sits on a river stone pedestal connected by a bamboo construction as a platform on the ground floor. I actually elaborated these curved shapes in the previous Kampono (Dancer) House in concrete construction by calculating the hot side, the wind that flows in the mass design – the skin of the building to other details. And, behind the game of curvy shapes that appear, there is a logic of strength and aesthetics inspired by the language of nature. Apart from the traditional side that is highlighted, the industrial side also appears with the composition of the curved roof shape covered with Nipah leaves combined with a waterproof membrane for the roof. Forming the Julang Ngapak as a traditional West Javanese vernacular building. The curved bamboo balustrade is played as a hyperboloid form that is more complex, stronger and more flexible and creates silhouettes of natural bird movements or kujang movements which are traditional weapons in Sundanese Tradition.

Pak Jatmiko is the person who helps me supervise the main building in Piyandeling, where he provides a limit on how high a building with bamboo construction can be built safely. Pak Jatmiko used to accompany my grandfather, and my father to projects. He was also the building supervisor of the late Han Awal, and Teddy Boen (Indonesian seismologist). From Pak Jatmiko I learned that every student needs a teacher and a trainer, a trainer will be able to see it from a different point of view. In fact, we need time to practice every day. In my case this practice is closely related to how many design problems we can learn and solve every day and the relationship with him where he can answer with the word “no” then I start to learn to assess the situation with further discussion.

I know 2 craftsmen, the first craftsman is good at talking, his mouth is sweet – he works only on the surface, looks cute – just a sticky aesthetic, when asked to install a brick he will put the brick neatly, but sometimes forgets that there is a pipe behind the brick, the calculation is as sweet as seen. Meanwhile, the second craftsman is not very good at talking, but the work is smooth and the steps can make the project safe because of in-depth calculations of work procedures and details of work stages, strength, resistance to water, weather. As I progressed in practice, the details I had in mind were transformed in the meetings with many craftsmen. Including meeting the first craftsman, I studied for a cute looking array, a literal quality. And, with the second craftsman I learned to get into the essential qualities. Both mindsets are needed to be able to play in the integration of disciplines (MEP, Structure, Architecture). I call this transformative detail into continuous detail

Sometimes every 2 weeks I repeatedly go to Piyandeling to rethink the next details including a mix of traditional and industrial details. In this place, I took a break from my routine and entered the fantasy world of Piyandeling. Architecture has the immense power to make people remember the experience of space that has become a lasting memory. In the end I realized, like a human who seems to have two lives. The first life started by the three humans trying to achieve many things, struggling in the midst of limitations until they feel enough. I feel that the journey of joy and sorrow is closely related to the struggle at this stage. And in fact, the second life begins when, he realizes that he only has one life. From there I learned about true focus and happiness so that I didn’t feel anything anymore.

Suddenly there was a warm greeting from behind. “Want to drink, sir? One craftsman offers coffee with a cup made of bamboo.”

“Thank you sir for the cup, coffee and the trip together.” this is my second cup, thank God.

Kategori
blog tulisan-wacana

Autumn Strong

Dulu kira – kira 13 tahun yang lalu, bulan – bulan Agustus menuju Desember adalah bulan dimana autumn tiba, di saat itu saya ingat satu waktu saya menghabiskan waktu ke Cambridge, menyusuri sungai disana, naik sepeda bersama Laurensia. Kami mengambil gambar untuk mengabadikan bahwa kami pernah di situ. Perjalanan kami berdua di kota – kota di Inggris seperti St. Ives, Cambridge, London dan kota – kota kecil lainnya membekas di dalam musim autumn. Musim autumn memberikan suasanya jatuhnya daun – daun dan masuknya musim dingin, terbitnya bunga, dan datangnya musim panas. Hal ini adalah siklus berulang di dalam waktu yang linear.

Kali ini, kira – kira mulai bulan Agustus sampai bulan Desember lalu, saya menghabiskan waktu – waktu malam dengan membaca jurnal, buku, membuat mind map, menyusun presentasi. Hal ini paralel di siang hari dan kadang subuh untuk berpraktik, mendesain, survei lapangan, supervisi proyek. Setiap senin diwarnai dengan meeting pagi tim proyek yang dilanjutan dengan webinar jam 10 bersama Iwan Sudrajat, belajar mengenai metodologi penelitian melalui buku dan diskusi. Hari selasa, saya mendapatkan waktu untuk berdiskusi dengan Himasari Hanan sebagai pembimbing, dan hari kamis, saya bertemu dengan Bambang Sugiharto di kelas filsafat.

Apa yang mau saya bagikan di dalam tulisan ini adalah soal merasa cukup, sebuah proses dari menuju sesuatu, waktu adalah linear.

Pertama, soal disertasi, topik yang saya minati adalah soal kreatifitas di dalam desain. Saya tertarik untuk mengikuti kelas di 3 bulan pertama sampai satu titik dimana saya bertemu dengan Anna Herringer di dalam acara Design United dimana kami mengisi acara bersama – sama. Di dalam diskusi bersama dan sharing, ia menjelaskan bagaimana arsitek perlu peka di dalam praktik, dan melihat karya – karyanya saya merefleksikan bahwa tataran yang saya jalani di dalam disertasi adalah tataran yang teoritis. Saya membutuhkan tataran praktis sebagai pelengkap teori, lokalitas dalam praktik, membumi, mengakar, fundamental.

Selain urusan disertasi, waktu saya habiskan juga untuk mengatur studio dan perpustakaan juga menulis buku sebagai bahan refleksi. Covid ini merubah banyak sekali hal, mulai dari hilangnya tatap muka, dan munculnya peluang – peluang digitalisasi, seperti media webinar, dan rapat di atas awan (rapat digital menggunakan zoom). Sebenarnya kami hidup lebih sehat, lebih tenang, dan lebih damai. Karya – karya yang saya hasilkan jauh lebih mengakar, dan terpikirkan matang.

Saya teringat kira – kira setahun yang lalu, saya memutuskan untuk keluar dari banyak grup digital karena terus terang merasa tidak nyaman apabila tidak memiliki jarak akan segala hal sehingga hal – hal yang prinsipal menjadi dogma yang ikut – ikutan. Mungkin hal ini yang menyebabkan Pak Gunawan Tjahjono tidak memiliki WA. Saya mengamati ada teman saya yang sukanya mengumbar dirinya sendiri, ada juga teman saya yang juga problematis dengan masalah waktu, ada juga teman yang sukanya pansos. Setiap orang punya masalah, masalah pribadi biarlah menjadi masalah pribadi, masalah bawaan. Masalah bersama itulah yang lebih penting untuk dibicarakan. Masalah pribadi itu urusan refleksi masing – masing. Saya sungguh merasa kesepian, mungkin yang bisa mengobati adalah adik – adik saya di perpustakaan, ataupun murid – murid atau teman – teman yang bisa bersenda gurau tanpa pretensi ataupun sekedar mengupdate berita mengenai bagaimana hidup mereka akhir – akhir ini dengan cerita yang konyol, gagal, bodoh, hidup memang tidak sempurna kawan.

Minggu ini saya bertemu dua orang anak muda, satu sedang mencari jalan hidup. Ia adalah calon arsitek yang potensial, ia memiliki kegelisahan mengenai sejauh mana jalan itu aman baginya, untungnya ia memiliki begitu banyak kesempatan yang diberikan keluarganya dan teman – teman sekitarnya. Orang yang kedua justru tidak memiliki kesempatan tersebut, ia harus berjuang sendirian di dalam menembus keterbatasannya sebagai anak di dalam ekosistem yang broken home. Ia sendiri sekarang sukses di dalam dunia retail yang memegang salah satu banyak brand tas yang ternama. Mereka berdua berjuang menembus keterbatasannya sendiri, memiliki kesamaan akan sebuah proses yang understated. Proses ini adalah proses yang sederhana, fokus kepada kemauan belajar, yang tidak kompetitif, tanpa perlu menonjolkan diri, ada rasa cukup yang terlihat di dalam prosesnya. Saya bangga akan proses mereka berdua dan menyaksikan keduanya tumbuh mandiri.

Saya melihat tantangan ke depan tidak mudah, dengan menghitung jumlah proyek, dan proyeksi keuangan, beberapa langkah – langkah perlu di lakukan dengan taktis dan hal tersebut membutuhkan waktu. Disinilah tegangan akan waktu ini muncul. Waktu sekali lagi linear, pertimbangan – pertimbangan yang dipilih akan menghadapkan pilihan – pilihan seberapa layak satu pilihan itu dipilih, apa yang didapatkan, perkiraan – perkiraan apa yang menunggu di ujung jalan. Proses ini seperti proses menyiapkan bahan masakan dengan menimbang satu dan yang lain supaya hasilnya memuaskan.

Sebelumnya, sebenarnya di dalam proses saya mengerjakan disertasi tidak berfokus ke tujuan mendapatkan gelar S3 namun lebih ke proses pembelajaran, menemukan teman untuk berdiskusi, ekosistem untuk membicarakan penelitian – penelitian lebih lanjut dengan masuk ke substansi bukan normatif.

Satu minggu setelah saya mengirimkan surat untuk mundur ke prodi , saya bertemu dengan Lisa Sanusi. Kita berdua berdiskusi mengenai mimpi – mimpi akan dunia pendidikan. kira – kira baru 2 minggu lalu ia mengirim pesan “pak Rich apa ada waktu saya mau bicara.”, ia kemudian melanjutkan :

“Pak Rich, saya sudah dari Bandung, kita dalam pengurusan sekolah arsitektur.”

Saya terdiam, dan jantung ini berdegup keras. Dan sekonyong – konyong ada suara dari belakang telinga mengingatkan,

“jangan lupa doa ya.”

The feeling of autumn, leaving someone feels like the sadness of autumn
a glass of wine thousands of different emotions, so many farewells when the leaves fall, there are so many farewells, holding your hand tight
remembering this, i want you to remember
this silent promise I’m not afraid of being lovesick
I’m just afraid of hurting you all resentments vanish with the wind
meeting or parting ways, it’s not up to me
I’m not afraid of being lonely
I’m just afraid you’ll be disappointed
that you won’t have a shoulder to cry on

Saya terbangun, mari jalan kembali. Sampai jumpa kawan.

Kategori
blog tulisan-wacana

Forming the Gift Society

“Apa yang menjadi dasar kriteria untuk membuat buku ini untuk mahasiswa ?” Ini satu pertanyaan yang muncul dari peserta diskusi ketika ada acara Omah Library di Bandung, kira – kira dua tahun yang lalu ketika terdapat paparan mengenai bagaimana kerangka pemikiran buku Filsafat, Teori, dan Keprofesian di dalam 3 buku yang sudah diterbitkan. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang luar biasa bagus, yang biasa ditanyakan ketika ada pengujian. Di dalam assesment mengenai kualitas, ada penentuan parameter, kunci – kunci penentuan parameter ini sangatlah penting dan kritikal sebagai dasar apa yang menjadi pertimbangan, dan bagaimana menimbangnya. Pertanyaan ini menjadi dasar bahwa ada pembaca yang ingin mengerti kualitas seperti apa yang menjadi konsep dasar buku tersebut.

“Terima kasih ya pak, sudah mau membuatkan buku untuk kami.” Eubisius, murid saya berbicara pada saat saya menanyakan di malam saya mempresentasikan buku ini ke mereka, “apa ada yang mau kalian sampaikan atau tambahkan ?”.

Malam itu adalah saat dimana saya mempresentasikan apa yang sudah kami lakukan di Omah Library, untuk mengkurasi, dan menyusun materi ajar di dalam buku Strategi Arsitektur Berkelanjutan. Isu – isu arsitektur berkelanjutan kerap digunakan untuk menggali tema di dalam proses perencanaan.

Saya masih ingat, dulu Eubisius atau Ubi panggilannya, berkata pada saya, “mungkin ini terdengar konyol pak, cuma saya bercita -cita ingin menjadi pemenang Pritzker Prize.” Pritzker Prize adalah satu penghargaan di arsitektur yang identik dengan nobel, penghargaan itu ditujukan untuk seseorang yang sudah berjasa untuk menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan di dalam menjalani profesinya sebagai arsitek. Saya bisa membayangkan bahwa mungkin saja pengajar – pengajar yang menertawakan keinginan muridnya seperti ini. Namun di mata saya, keinginan seperti ini adalah sungguh amat berharga.

Perkataan – perkataan “saya ingin seperti ini, seperti itu…” itu sebenarnya yang sering dilontarkan oleh para mahasiswa, sebuah keinginan untuk menggapai mimpi menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan. Dari perjumpaan dengan banyak mahasiswa yang menginginkan hal tersebut, ada benang merah, bahwa para mahasiswa ini ingin dihargai sebagai perancang, dan mereka juga ingin belajar mempertanggung-jawabkan metodologi desainnya sebagai arsitek, dan terakhir mereka semua juga menyadari pentingnya sikap untuk selalu belajar.

Seringkali benang merah tersebut disalah-artikan sebagai keinginan untuk menonjolkan diri, padahal sesederhananya keinginan itu berawal dari kebutuhan untuk diapresiasi oleh orang lain termasuk pengajarnya.

Buku ini tidak boleh mahal, tapi boleh tebal, setebal 600 halaman juga oke. Berikan yang terbaik untuk anak – anak, karya ini dari anak – anak untuk anak – anak, kita akan menjadi jembatan yang baik untuk mereka.” saya menekankan di dalam rapat di Omah Library

Apresiasi ini begitu penting di dalam pembentukan Gift Society dimana Gift Society tidaklah sama Consumerism Society, hal ini dibicarakan oleh Lewis Hyde di dalam bukunya The Gift: How the Creative Spirit Transforms the World. Hyde membagi dua buah kelompok, pertama yaitu : Consumerism Society , kelompok mengandalkan asas untung rugi, ibaratnya keinginan untuk mengetahui apa yang aku dapat di dalam proses kreasi sebagai motif dasar. Di dalam kelompok ini, terdapat keterbatasan waktu yang mengikat untuk berproduksi, informasi yang dibatasi, dan patronisasi yang kuat. Sedangkan di dalam kelompok yang kedua Gift Society, menghasilkan karya yang inovatif dari sikap saling percaya , hubungan yang saling memberi, dan aspek pembagian ekonomi yang bijaksana, memiliki motif untuk membangun.

Buku “Untuk Mahasiswa” ini ditulis untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa, bahwa mahasiswa bisa dan boleh berinterpretasi untuk kasus – kasus yang mungkin mereka sendiri belum terbayang seutuhnya bagaimana cara arsitek berproses. Disinilah proses (pedagogi) pengajaran itu perlu dipaparkan dengan apa adanya yang terkait ke 4 titik permenungan, pertama : sistem pengajaran, kedua : anatomi pemaparan dari quiz sampai tugas, ketiga : buku yang direferensikan, dan keempat : evaluasi dari tugas mahasiswa yang patut diapresiasi. Disinilah proses pedagogi “untuk mahasiswa” patut untuk dibagikan untuk sebagai titik awal bagi pengajar – pengajar lain berbagi hal yang menjadi rahasia kecil yang terkadang terselubung di dalam hubungan pengajar dan diajar.

Lebih lanjutnya buku ini sebenarnya adalah tempat merefleksikan kegiatan mencatat, mengarsip, dan mengevaluasi proses pengajaran arsitektur berkelanjutan untuk kepentingan menyambung tongkat evaluasi yang dibutuhkan. Hal ini perlu supaya pengajar dan murid bisa memahami kompleksitas praktik- teori di dalam bentuk kontekstualisasi kasus studi ke dalam kasus – kasus yang kita alami di dalam keseharian kita semua sebagai murid – murid kehidupan.

Beberapa komentar dari adik – adik saya di Omah Library dimana pada dasarnya buku yang baru terbit ini adalah strategi untuk menemukan diri sendiri menggunakan tema arsitektur berkelanjutan setidaknya membuat saya menghela nafas.

“Selama proses penyuntingan, saya belajar banyak hal dari tulisan-tulisan yang terkumpul. Sepertinya, kesadaran kolektif memang muncul disini, di mana benang merah ini saling merajut antar tulisan dengan tujuan yang sama; sebuah kesadaran arsitektur berkelanjutan. Buku ini buku paling tebal, dan buku yang membawa saya menemukan apa makna arsitektur berkelanjutan, yang jarang sekali diperbincangkan. Ini memang buku strategi. Strategi yang menghantarkan kita mencari strategi sesuai konteks kita sendiri, dengan melibatkan kesepahaman arsitektur yang berkelanjutan.” – Satria A. Permana

Mungkin kalau Ian Mcharg masih hidup, ia bisa tersenyum sembari berjaga – jaga kembali.

bit.ly/OrderOMAH

.
Terima kasih untuk para kontributor murid – murid kami : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan,Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra Arya Eka Putrim Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia, Manihuruk, Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani, Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious, Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin JuanMarcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine, Para Restless Spirit Librarian : Penyunting (Amelia Widjaja, Satria A. Permana), Kirana Adrya, Hanifah Sausan, dan Dimas Dwimukti. Juga tim administrasi, Laurensia, Vivi, dan Putri. Kawan – kawan yang menulis pengantar bersama – Johannes Adiyanto dan penutup Anas Hidayat.

Kategori
blog tulisan-wacana

Filosofi Donat di tahun 39

“Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya, 

Saya tidak punya ekspektasi apa – apa untuk ulang tahun kali ini. Saya menyadari sudah diberikan begitu banyak berkat dari Tuhan di masa krisis karena pandemi ini dan saya selalu berdoa supaya kawan – kawan dilindungi selalu kesehatannya dan jangan lupa memakai masker. Berkat – berkat di masa pandemi ini mewujud pada kenangan – kenangan yang membekas berupa kedekatan kami sekeluarga. Seperti ketika Laurensia mempersiapkan donat pada hari ini. Kemarin ia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat bersama, hal yang sederhana.

Titik kali ini adalah titik ulang tahun yang ke tiga puluh sembilan, dan Laurensia sudah mempersiapkan bahan – bahan tepung, telur, dan topping, seperti mendesain proses persiapan ini yang paling penting yaitu mempersiapkan adonan, dan menikmati momen proses pembuatannya. [1]

Kemarin Laurensia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat. Donat memiliki bentuk seperti lingkaran, garis yang memutar saling menjaga dan menerus.

“Papa, jangan lihat kesini, we are making surprise for you, close your eyes.”

kata Acle sambil membawa bantal sambil menutupi mata saya. Saat – saat sederhana seperti ini membuat saya bersyukur, dengan bagaimana Acle dan Laurensia ingin membuat sesuatu untuk saya, perhatian – perhatian kecil seperti ini adalah hadiah yang tidak ternilai untuk apa yang saya dapatkan di hari ulang tahun ini. Salah satu hal yang tidak ternilai adalah keluarga termasuk Acle, Heaven, dan Laurensia di dalamnya. Kami sibuk mengisi hari – hari dengan rutinitas pagi dimulai dengan doa, makan pagi bersama, bekerja, makan siang bersama, kerja/istirahat siang, makan malam dan istirahat. Hal yang kami tanamkan ke keluarga adalah respek untuk orang – orang di sekitar kami. Respek menjadi penting, dimulai respek kepada diri sendiri, sebuah bentuk self criticism.

Dulu ayah saya di waktu memimpin konstruksi, memperkenalkan proses slametan, sebuah proses syukur yang ada di dalam akhir sebuah proses yang kritikal, kalau di dalam pembangunan rumah hal ini dilakukan sebelum bangunan dibangun, dan sesudah proses tutup atap. Hal ini adalah sebuah proses yang wajar dan manusiawi. [2]

Prinsip slamet ini menjadi relevan di masa Covid dimana, sebagai manusia kita harus menahan diri. Ada beberapa cerita lucu tetapi juga sedih, juga mengenai mandor – mandor di sekitar saya yang kehilangan orang – orang terbaiknya karena flow proyek terputus karena COVID. Mereka setengah menggerutu, orang saya diambil orang pak, ada proyek baru disana. Sudah capai – capai melatih lalu mereka pergi. Kira – kira ada dua kelompok di tim kami yang kehilangan anak didik mereka. Terkadang mereka menggerutu, saya terus berpikir kenapa orang – orang terbaik mereka pergi ya ? apakah ada faktor kepemimpinan, ataukah tantangan, selain faktor ekonomi? Saya memiliki hipotesa – hipotesa soal ini. Hal ini wajar terjadi dimana – mana, dan wajar setiap orang ingin tumbuh dan berkembang [3]

Besoknya saya mengajak bicara mereka soal ketiga hal ini, dan hal ini juga saya alami di studio bahwa untuk maju setiap lingkungan membutuhkan evaluasi dan regenerasi. Seperti pohon besar yang tumbuh yang membutuhkan regenerasi, memang perlu dipotong ataupun terpotong karena keadaan supaya pohon – pohon kecil di sekitarnya bisa tumbuh. Dengan memaklumi hal ini, melihat apa yang terjadi di sekitar pengrajin memang ada dua tipe pembelajar bangunan, tipe yang pertama adalah tipe pengrajin, disini sifat patronisasinya dominan yang diperlihatkan, dengan keahlian – keahlian yang melibatkan teknik bereksperimen dan memiliki struktur seperti pohon besar. Tipe kedua adalah tipe pekerja yang melibatkan teknik yang sudah ada / repetitif mengikuti apa yang menjadi standar baku, di kelompok ini patronisasinya bisa jadi berubah menjadi sebuah platform terbuka berbentuk rhizoma dimana ada transparansi, dengan syarat yang masuk di dalam lingkungan kerja mereka adalah orang – orang yang memang sudah ahli. Keduanya memiliki perbedaan cara bekerja, berkordinasi, transfer ilmu, dan membagi ekonomi. Meskipun demikian ada banyak hal yang menjadi rahasia masing – masing, biarlah itu menjadi urusan kantong sendiri – sendiri.

Seperti satu saat Abidin Kusno yang menulis buku Melawan Waktu memulai dengan tulisan yang merupakan suatu bentuk melawan waktu itu sendiri, Perlawanan itu bisa diibaratkan melalukan negosiasi waktu, dan bagaimana beliau mengisi kehidupan yang sementara ini dengan mencoba merubah keadaan dengan diskursus arsitektural. Bahwa perubahan itu wajar, hal ini adalah sebuah proses dari titik, menuju garis.

Perlawanan waktu ini bisa diibaratkan juga seperti orang yang melalui perjalanan menghitung mundur, dan identik juga dengan proses kelahiran – kematian, kejadian ulang tahun, setiap tahun berulang – ulang, dengan rambut yang semakin memutih, teman – teman yang datang, tinggal, pergi silih berganti, keluarga besar dan anak yang semakin besar. Ulang berulang adalah sebuah rutinitas yang menjadi kebiasaan dan karakter, sederhananya proses hidup, apa yang kamu ulangi itulah karaktermu. Proses pembentukan karakter ini akan membentuk Gift Society. Sebuah lingkaran yang saling memberi yang dimulai dari diri sendiri, self criticism, respek kepada orang lain, dan mengulang – ngulangnya sehingga menjadi karakter yang dimulai dari lingkaran keluarga dan diri sendiri.

Hal – hal inilah yang membuat kadang saya membanting setir, kanan – kiri, gas dan rem, keluar-masuk di dalam menulis buku, keluar-masuk ke penelitian, keluar-masuk dari proses disertasi, keluar-masuk ke kelompok praktik, keluar-masuk dari kelompok belajar, ataupun apapun yang terkait hubungan antar-personal, bahwa pada dasarnya mempertanyakan apa sih yang layak untuk dilakukan untuk waktu yang sedemikian terbatasnya.

“Papa I want to be like you”… Miracle menghampiri saya satu saat ketika saya sedang bekerja di ruang kerja yang berbatasan dengan kamar tidur kami. Untuk masuk ke ruang kerja itu harus melewati pintu putar berupa lemari yang bisa berputar dimana ia mengintip dibalik sela – sela pintu putar tersebut.

“Hei, kamu ngapain ?” kata saya, “come here” saya membiasakan berbicara dua bahasa dengan Miracle. Saya memangku dia untuk memperlihatkan apa yang sedang saya kerjakan, dan berbagi bagaimana memencet tombol keyboard ataupun berinteraksi dengan layar sentuh. Saya melanjutkan “You will be better than papa, we are proud of you.” Dari lingkaran terkecil kami berupa donut, saya menarik nafas semoga semesta memberkati kita semua, dan memberikan rasa slamet, sehingga kehidupan kita, saya doakan menjadi lebih bersahaja, menenangkan, damai dan tenteram.

Di usia ke 39 ini, saya belajar untuk lebih memberi kepada orang lain, tidak untuk dibalas kebaikannya namun karena memang sudah sepantasnya kita memberi. Berbuat tidak untuk dilihat, bernyanyi tidak untuk didengar, berdansa tanpa mengharap tepuk tangan, bertindak tanpa mengharap hadiah.

“Papa please don’t work today, where are you going ?” Miracle mengintip dibalik pintu, karena melihat saya turun tangga.

“Sebentar I will come back in a few minutes.” (ada beberapa tukang sudah menunggu, pak ini detailnya bagaimana.) “Is there someone below ?” Miracle bertanya, saya menjawab, “sebentar ya, sabar few minutes.” Miracle berteriak, “Semangat pa”

Hadiah dari Tuhan untuk saya di umur 39 ini, Laurensia, Miracle, Heaven yang memberikan filosofi donat. Seperti Filosofi Donat bahwa setiap orang memiliki keteduhan di lingkaran terkecilnya. Tidak ada yang manusia yang ditakdirkan menjadi titik yang sendiri. Ada lingkaran membentuk donat yang saling merajut, dari titik, kemudian menjadi garis untuk menjadi lingkaran yang saling menjaga.

Kembali ke pertanyaan pertama,”Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya.

Saya menjawab “Donat ^^”

Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan untuk memberikan Laurensia, Miracle, dan Heaven yang sudah membentuk donat keluarga kecil kami juga beserta kawan – kawan tempat kami berkarya bersama. Tuhan memberkati.

[1] Proses persiapan adalah proses pertama di dalam studi mengenai kreativitas, hal ini digagas oleh Wallace di dalam buku Art of Thought dengan tahapan preparation, incubation, illumination, verification.

[2] Inspirasi : Satu kawan saya mengingatkan ketika kita berdiskusi soal arsitektur untuk menghargai soal kekuatan berproses dan jalan masih panjang, “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada.” Saya teringat juga suatu waktu, Wastumiruda (saya menyebutnya Kungkang pemabuk yang bijaksana) atau mas Anas yang bercerita tentang hakikat respek terhadap diri sendiri ini. “KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).

[3] lihat cuplikan youtube untuk melihat relasi craftmen dimana hal ini sedang distudi oleh Yasmin Aryani, nanti akan saya bagikan cerita proses kami bertemu Yasmin lebih lanjut. Link youtube : https://www.youtube.com/watch?v=cySldJBIlqA&t=52s, hal ini dibahas di dalam postingan https://real-rich.org/2020/08/22/hidup-bersama-sama-arsitektur-yang-rahayu/

[4] foto – foto diambil oleh Jeffri Hardianto (Pepen) dari House of Photographers.

lingkaran contoh lingkaran donat di bidang musik yang dibentuk oleh Gita Gutawa dan Erwin Gutawa yang menaruh cita di tangan anak – anak muda Indonesia.
Kategori
blog tulisan-wacana

70 Tahun Pendidikan Arsitektur Indonesia – Suara dari Jiwa – Jiwa yang Tidak Kenal Lelah

Saya mengawali judul materi kali ini dengan sebuah judul “Melihat 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia Suara dari jiwa – jiwa yang tidak kenal lelah.”Saya lulus di tahun 2005, mulai masuk ITB di tahun 2000. Pada waktu saya belajar arsitektur di tingkat dua, saya ingat oleh pak Eko Purwono diajak untuk mensketsa bangunan yang didesain oleh Henri Maclaine Pont, ada perasaan berbeda, yaitu penggunaan materialnya lokal, konstruksinya yang jujur, dan ada rekayasa teknik untuk mengaktualisasikan bentuk bentang lebar. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan arsitektur dan tidak pernah berpikir berhenti memikirkan arsitektur satu hari pun. Pertemuan dengan pak Eko Purwono dan Henri Maclaine Pont menjadi penting.

.
Pertemuan saya dengan Pak Baskoro Tedjo, Pak Ridwan Kamil dan dosen – dosen lain di tingkat setelahnya menjanjikan sebuah lompatan selanjutnya, saya ingat, beliau berkata

“kamu bisa, buat lebih baik lagi”

dan saya ingat itulah sebuah kekuatan yang mendorong membuat saya terpacu untuk ikut menyemangati teman – teman yang lebih muda. Saya ingat untuk tidak pernah lelah untuk lebih baik lagi. dan hal itulah yang mendasari judul kali ini, yang membuat saya membagikan kuesioner ke anak – anak muda dan semua orang lain testimonial mengenai pendidikan kita, hanya karena saya ingin tahu apa sih yang dipikirkan orang lain soal kondisi pendidikan kita sekarang. Teman saya yang berasal dari Serawak bernama Wendy Teo, memberikan masukan kepada saya untuk terus semangat pantang menyerah mewujudkan suatu hal yang kita anggap ideal. Ia berkata,

“If you want to stand for something and you’re someone, if you don’t stand for anything then you’re no one.”


Dari sudut pandang sebagai praktisi di praktik kami RAW Architecture, proses untuk maju bisa dilihat dari 3 buah posisi, yang pertama adalah pentingnya wacana untuk mengkonstruksi hal yang lebih positif .

Materi dari 4 pemateri menyajikan 3 hal yang yaitu mengenai isu setting, ritual, dan memory. Pemaparan ini sebenarnya adalah sebuah reaksi utnuk melihat tegangan yang ada antara ITB sebagai pihak yang merayakan ulangtahun dan melihat bahwa desain berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan ini menjadi penting dan kritis untuk masa kini. Sebelum pak Adhi Moersid meninggal kami menginterview pak Adhi, dan melihat bagaimana dahulu ketiadaan pengajar, bagamana pada saat itu mengejar ketertinggalan yang menjadikan pengajaran masuk ke ranah teknis. Hal tersebut menyisakan gap atau celah yang dibahas juga oleh Aswin Indraprastha bagaimana menutup gap tersebut. ada dua hal untuk melihat gap tersebut, gap sebagai sebuah hal yang mengkhawatirkan ataukah gap tersebut adalah sebuah berkat. Di dalam presentasi kedua, presentasi Donny Koerniawan memaparkan bagaimana aktor – aktor yang terlibat di keilmuan perlu untuk merendahkan hatinya untuk merajut antar bidang keilmuan, bahasa beliau adalah menyerahkan axioma keilmuannya untuk bersatu membentuk ilmu baru.
.
Presentasi ketiga dari Sonny Sutanto mungkin justru menampar lagi posisi mendesain, titik inovasi dari sudut pandang ekonomi, yakni ketika produksi sudah begitu murah dimana posisi ide, saya ingat di sesi omah library, Rizal Muslimin membahas hal ini dimana manusia perlu terus berinovasi untuk bisa mereposisi dirinya dari replikasi dan representasi komputasi dari bahasa mesin. Di presentasi ketiga Gusti Ngurah Antaryana menyajikan sebuah potensi akan sebuah hal yang sudah pernah ada, dan sekarang ekosistem yang merdeka ada di depan mata, lalu apa reaksi kita ? pertanyaan ini terus berkelindan di kepala saya ketika mendengarkan 4 pemaparan material ini. Saya pikir mungkin jalan keluarnya ada di ritual yang dijalankan, atau mudahnya eksekusi apa yang akan menjembatani tataran teoritis dan eksekusi atau metode yang dilakukan di dunia nyata yang tidak abstrak. Sebagai contoh di dalam pandemi ini justru kami di studio menjalankan praktik melalui gambar tangan, karena tatarannya adalah konsepsi, perspektif juga dilakukan dengan gambar tangan lalu sampai ada komitmen baru ditransfer ke tools, jadi ada strategi yang perlu dilakukan.
.

Wacana ketelanjangan akibat ekosistem ditunjukkan oleh provokasi yang digagas oleh Marina Abramovic. Selama pertunjukan Abramovic dengan sengaja menjadi pasif, mengubah dirinya menjadi benda hidup demi seni. Dia memutuskan bahwa dia akan berdiri dengan tenang di galeri selama enam jam, di mana penonton diundang untuk menggunakan salah satu dari 72 objek di atas meja di ruangan itu untuk berinteraksi dengannya. Benda-benda itu berkisar dari bulu, kue coklat, minyak zaitun dan mawar, hingga pisau, gunting, pistol, beberapa peluru dan rantai. Instruksi di atas tabel berbunyi: Kinerja. Akulah objeknya. Selama periode ini saya bertanggung jawab penuh. Durasi: 6 jam. Selama enam jam, dia menyerahkan hidup dan tubuhnya sepenuhnya ke tangan orang asing, mengubah dirinya menjadi objek untuk digunakan, seperti yang diinginkan. Selama waktu ini dia setuju untuk tetap pasif, dan tidak responsif sampai eksperimen selesai. Abramovic memutuskan bahwa dia akan mengamati dengan tenang dan lemas. Untuk penonton, tidak ada konsekuensi langsung. Menurutmu, apa yang terjadi ?

Ia berakhir di dalam kondisi setengah telanjang, terluka.

Hal ini sebenarnya memunculkan tingkatan interpretasi selanjutnya dari sebuah pemikiran yang tidak hanya cantik, saya berintepretasi bahwa pemikiran yang menutup gab tersebut membutuhkan sebuah pemikiran yang tidak hanya ekspresif dan perlu untuk menggelontorkan wacana yang diskursif, dari sini saya pikir wacana untuk bertindak aktif dan tidak pasif akan penting, bagaimana yang pasif akan ditelanjangi, tidak berdaya, dan menunjukkan derasnya informasi dan kemajuan memungkinkan terjadinya ketelanjangan tubuh kita.

Di dalam bertindak aktif ada 3 hal yang bisa dipikirkan seperti, yang pertama adalah Setting yang bisa didefinisikan sebagai Kondisi sebelum wacana tersebut digulirkan yang melibatkan proses pembacaan relevansi terhadap problematika yang terjadi (Konteks)
Ritual yang bisa didefinisikan sebagai tindakan – tindakan untuk mengaktualisasikan wacana tersebut yang melibatkan proses aksi – reaksi (praksis). Di dalam proses ini sebenarnya terlibat lebih jauh ranah – ranah keilmuan. Memory yang bisa didefinisikan sebagai Hasil dari Wacana yang sudah menjadi milik publik yang ditandai akan pergeseran/pendalaman/penolakan akibat proses dari aksi reaksi yang muncul dengan repetitif. IAI sebagai asosiasi profesi pun dibentuk dengan sebuah setting, dengan melihat konteks apa yang terjadi disaat itu , dimana di tahun 1960 an ada instruksi dari pemerintah untuk membentuk gabungan perusahaan untuk menunaikan tugas membangun. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan konferensi seperti mungkin yang sedang kita lakukan sekarang, dan disitulah ada sebuah wacana ketidakpuasan, bahwa kedudukan perencanaan dan perancangan tidaklah sama dan tidak juga setara dengan pelaksanaan, ada harga diri yang dipertaruhkan yang berbeda dengan bisnis komersial yan gkeberhasilannya diukur dengan besarnya laba. Lalu pada waktu itu Ir. Soehartono susilo dan Friederich Silaban meneruskan pemikiran yang radikal (ketidakpuasan) tersebut dengan menggalang para arsitek muda dan mengadakan pertemuan – pertemuan lanjutan, di tahun 1959 dihadiri oleh 21 orang, dan selanjutnya di jalan wastukancana di rumah Lim Bwan Tjie, dan akhirnya di tahun 1959 tersebut muncullah Ikatan Arsitek Indonesia.
.
Hal ini adalah hasil dari sebuah kegelisahan, muncul dari yang muda, ada integrasi dari sistem dan di luar sistem, dan mereka memiliki energi / sumberdaya untuk berpikir lebih dari kebutuhan sehari – hari.
.
Salah satu konteks ekonomi yang bisa langsung terasa dalam praktik adalah bagaimana akses terhadap industri software berlisensi misal, kalau menggunakan gambar tangan itu masih gratis, namun apabila melihat dokumen autocad harga 1521 USD, sketchup 649 USD, 3dsmax 1620 USD, REvit 2425USD, Rhino 995 USD ) total satu tahun pertama dibutuhkan kira – kira 110 juta. sedangkan untuk standarisasi gaji di Indonesia, dengan 4,5 -6 jt misal untuk anak – anak yang baru lulus kira – kira sisa gaji hanya 34 juta, setelah dipotong dengan kebutuhan sehari hari. Apabila misal gaji sekitar 10 juta, baru bisa mengakses setelah 2 tahun menabung, dan setelah beli software tidak ada uang tabungan lagi. Lalu pertanyaannya bagaimana kita menjembatani hal ini. Saya ingat china memiliki software cadnya sendiri, dan pertanyaannya bagaimana hal ini bisa dibantu utuk dijembatani ? inilah konteks kita yang menjadi setting, lalu apa wacana yang perlu digelontorkan ? mungkin share resources menjadi penting, pembuatan platform yang menembus batas.

.
Jadi apabila kita semuan ada di sebuah setting dan wacana, lalu apa ritualnya ? mungkin yang penting adalah kecepatan yang menjadi kuncinya, untk merangkul elemen yang tidak hanya ceklist, berbicara antar relasi, antar wilayah, merangkum ulang relasi – relasi yang bhineka. Acara ini adalah permulaan. titik yang penting adalah merangkul yang muda, integrasi sistem, gelisah, dan memiliki energi lebih.

.
Kami di omah library berusaha sekeras mungkin untuk membentuk iklim ekosistem literasi yang baik dengan membantu penulis – penulis, mempermudah jalan, menyambung rasa antar generasi, antar librarian, pemateri, antar peserta, dari situ diharapkan bisa ada sebuah ekosistem yang mengayomi, kolaborasi, keguyuban, kerendahan hati untuk berbagi dimana yang penting adalah bagaimana teori, wacana, kritisme yang terjadi di dalam diskusi kita kali ini bisa berbuah inspirasi yang akan mewarnai lingkup praktik ataupun akademik yang mempengaruhi suasana belajar – mengajar untuk membentuk pribadi yang rendah hati dan mau selalu belajar membentuk budaya ajar mengajar yang diskursif, sebuah proses yang membuka jalan.

Perjalanan Ki Ageng Suryomentaram bisa diibaratkan sebagai analogi perjalanan Pendidikan arsitektur di Indonesia. Kondisi perkuliahan arsitektur yang hanya fokus pada kemampuan teknis seperti penanaman tugas dan tanggung jawab, etika berprofesi, estetika, budaya, dan sosial, membuat arsitek akan mengalami titik dimana ia akan mengalami kegelisahan mendalam terhadap jiwanya. Keprofesian ini akan menjadi membosankan karena berjarak dengan realitas sendiri dan menjadi pengetahuan normatif saja karena hilangnya kerendah-hatian oleh karena itu mari bersama – sama merajut dengan bergotong – royong, Ohana means family, family means nobody gets left behind or forgotten.

Saya berbicara mengenai refleksi di acara diskusi pendidikan arsitektur.
menit 2.58 – 3.08
Kategori
blog book writing tulisan-wacana

Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung

“…the man who regards his life as meaningless is not merely unhappy but hardly fit for life.” (Albert Einstein)

Victor Frankl menghabiskan waktu 3 tahun di dalam kamp konsentrasi. Ia menyaksikan bagaimana anak dan istrinya dibunuh di dalam kamp konsentrasi tersebut. Ia sendiri menghabiskan waktunya dengan bercakap – cakap membuat simulasi mengenai ruang kelas, tempat ia sedang memaparkan sebuah materi ke murid – muridnya. Materi tersebut adalah sebuah terapi terhadap dirinya sendiri, namanya logotherapy. Logotherapy adalah Konsep yang didasarkan pada premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian yang menjadi dasar pemikiran) bahwa kekuatan motivasi utama seorang individu adalah untuk menemukan makna dalam hidup.Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia.

Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia. Lagu terima kasih Ayla adalah lagu yang digubah Jaya Suprana untuk istrinya Ayla sebagai ungkapan terima kasih dan puji syukur.

Di dalam perenungan mengenai Nusantara setidaknya ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara adalah negara besar, ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara sebenarnya bagian dari sebuah tatanan yang lebih besar lagi, dan ada ide juga bahwa Indonesia tidaklah besar – besar amat. Saya percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan sebuah ide adalah sebuah awalan, yang membantu untuk menggulirkan ritual – ritual yang lebih besar yang akhirnya bergulir menjadi kenyataan – kenyataan baru. Tanpa adanya ide kita tidak bisa maju jalan dan Frankl pun tidak akan bisa merekonsiliasi trauma yang dialaminya.

Ada kontradiksi di lukisan School of Athens yang dilukis oleh Raphael juga perjalanan hidup Suryomentaram. Di lukisan Raphael Terlihat figur Plato yang menaikkan tangannya dan Aristoteles yang menurunkan tangannya menunjukkan pentingnya bagaimana berpikir fundamental, atau mengakar, berbasis pada pengamatan lapangan. Berpikir fundamental ini di dalam definisinya adalah bagaimana menemukan akar dari sebuah hal yang sedang dibahas. Hal ini terkait dengan radix atau berpikir radikal. Untuk konteks Indonesia yang terajut dengan berbagai silang budaya, hal ini terlihat dari perjalanan Suryomentaram untuk melepas gelar kebangsawanannya dan berteman dengan rakyat jelata, menikmati realitas sosial yang tidak berjarak. Proses meniadakan ini mewarnai dinamika aksi reaksi yang menelurkan sikap filsafati yang berkelindan terhadap aksi reaksi diri pribadi dan kosmologi yang lebih luas sampai ke tataran negara dan dunia, disinilah muncul kekuatan sikap untuk mendapatkan fundasi yang kokoh dan dahsyat.

Berpikir radikal adalah sebuah fundasi, sebelum bisa menerapkan bagaimana berpikir kritis. Pembahasan pengetahuan yang ilmiah, ini dimulai dari Yunani dengan berusaha untuk menjelaskan dasar teori sebagai sebuah takaran intelektualitas, dimana kebudayaan pra sejarah Mesir – Mesopotamia, Sumeria, Babilon, dan India masih di ranah Mistis – Praktis. Di dalam kebudayaan di Yunani, sifat ilmiah dari sebuah pengetahuan muncul karena mengandung hal – hal yang pasti. Dimana terbagi ke dalam dua kutub yang dibahas di atas, Plato dengan pengetahuan yang universal dan Aristoteles dengan menjelaskan mengapa “the why”.

Di dalam buku Nusantara yang ditulis oleh Abidin Kusno (bisa dipesan disini) penelisikan “the why” dituliskan oleh Suwardana Winata di prolog dan Mohammad Nanda Widyarta di epilog. Suwardana melihat bahwa keterkaitan pembentukan brand di dalam dunia digital berpotensi memundurkan perkembangan keilmuannya.

Suwardana menulis “Arsitektur Nusantara dalam perdebatannya, secara terus menerus dicari dan diungkap dengan berbagai konteks pemikiran maupun filosofi serta perancangannya. Berbagai pendekatan dan metodologi digunakan untuk mencari atau mengungkap Arsitektur Nusantara itu. Dalam era digital, pencarian arti Arsitektur Nusantara dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, akibat pembentukkan opini (tafsir opini). Pembentukkan opini ini  dapat “nyasar”, dengan hanya menjadi brand atau label bahkan hanya sebuah tag. Dalam era yang didominasi visual ini,  peran label ini memiliki pengaruh besar dalam membangun opini publik bahkan pembentukkan pengetahuan Arsitektur Nusantara. Perjalanan Arsitektur Nusantara, perlu terus “dikembangkan” dari berbagai arah, sehingga Arsitektur Nusantara tidaklah dapat didefinisikan sebagai “single” Selain itu perlu juga diperhatikan dengan opini “Arsitektur Nusantara” …oleh para star atau publicist digital yang akan menjadikan Arsitektur Nusantara hanya sebagai trend yang sifatnya sangat temporer dan meaningless.”

Di satu saat pada waktu saya memberikan kuliah di Universitas Udayana Bali, saya bertemu dengan Pak Josef Prijotomo, ia menitipkan satu manuskrip yang ketika saya buka, tulisannya seperti tulisan seorang penutur. Isinya tidak terstruktur, dan saya jujur saja kesulitan untuk menatanya. Akhirnya saya putuskan bahwa kami perlu menghabiskan waktu untuk berbincang- bincang dan membahas kuliah tersebut, sehingga saya masih belum bisa melanjutkan untuk menyunting manuskrip tersebut. Pada dasarnya, manuskrip itu perlu diolah kembali terutama dengan referensi apa ia akan dipadu padankan, banyak referensi yang belum jelas apakah itu hasil dari ekspedisi ataukah dari tutur – tuturan Pak Josef sendiri, dari situlah muncul sebuah dialog tentang, premis, pembuktian lapangan dan dasar teori yang digunakan. Disinilah masalahnya namun juga disinilah potensinya. Manukrip tersebut masih membutuhkan orang – orang yang perlu turun tangan untuk meneruskannya, wacana yang digagas beliau sebenarnya adalah wacana kritisisme yang dimulai dari refleksi hidupnya, dan semangat tersebut diperlukan untuk diteruskan, ditransformasikan ke dalam energi yang baru kembali.

Potensi seperti gambaran daya juang yang menjadi hulu ledak, neuron – neuron perjuangan di dalam kepala, hati dan kaki-tangan orang – orang yang sedang memperjuangkan pemikirannya untuk apa yang dicintai. Semangat daya juang ini menular, membuat rasa gairah yang tinggi, sebuah proses cinta. Proses tersebut pastilah melibatkan rasa benci, rasa suka, jarak dan tanpa jarak. Potensi ini muncul di dalam sebuah bentuk paguyuban.

Lain lagi potensi, lain lagi masalahnya, masalahnya muncul di dalam komunitas ilmiah dimana di dalam proses pembuktian proses berteori, yang dihindari adalah bagaimana proses penyusunan teori menjadi dasar dari proses berideologi. Dimana proses berideologi tersebut perlu untuk diungkapkan apa posisinya, apa urgensinya dan keputusan sejauh mana sang pemikir bisa menjaga jarak dari teorinya sendiri untuk bisa diuji oleh komunitas ilmiah.

Victor Frankl menulis Man’s Search for Meaning di dalam rekonsiliasinya terhadap penindasan yang dialaminya. Rekonsiliasi pemikiran ini terpancar di dalam proses kuliah Nusantara yang ada di Omah Library. Frankl menulis mengenai 3 tahap bagaimana seseorang bisa menemukan makna di dalam hidup. Pertama, dengan membuat karya atau melakukan perbuatan. Hal pertama yang dilakukan Jerman untuk bisa merekonsiliasi setelah perang dunia kedua adalah mengakui kesalahan dan membuat kenangan – kenangan tersebut menjadi kenyataan dengan banyaknya situs museum yang dibangun sebagai sarana refleksi bahwa Holocoust nyata – nyata terjadi dan memberikan pelajaran mahal mengenai korban yang muncul. Hal ini juga muncul tersirat di dalam diskusi yang muncul justru setelah pemaparan Abidin Kusno yang bisa dilihat di lembar lampiran.

Kedua, dengan mengalami sesuatu pengalaman baru atau bertemu orang lain. Pentingnya untuk bisa terhubung dengan orang lain, atau fakta – fakta baru bisa membuat kenyataan yang baru. Kenyataan tersebut misal sifatnya tidak tunggal atau ganda juga tidak sederhana dan kompleks. Fumihiko Maki perlu membuat teori Investigations in Collective Form, untuk mengantarkan kedahsyatan Jepang di dalam pembentukan teori yang akhirnya menyemangati munculnya gerakan kontemporer selanjutnya di Jepang yang mempengaruhi dunia barat . Hal ini juga ditunjukkan Bernard Rudofsky dengan penyingkapan arsitektur tanpa arsitek di tahun 1960 an dimana ia melakukan investigasi dan menelurkan pemikiran arsitektur tanpa turunan.

Ketiga, sikap yang kita ambil sebagai respon terhadap penderitaan yang tak terhindarkan. “Keadaan ini dipicu oleh trauma yang dihadapi setiap harinya di dalam kamp konsentrasi. Pentingnya keterbukaan di dalam melihat sebuah permasalahan. Perbedaan sudut pandang filsafati adalah, bagaimana medekonstruksi cara berpikir yang kaku dan merelasikan kedalam kebenaran yang situasional. Relasinya seperti, kekayaan situasional budaya, ekonomi, sosial di Indonesia misal, begitu kaya. Pemikiran filsafati berguna untuk menemukan akar keilmuan, proses perjalanannya seperti masuk ke hutan rimba yang pekat dan gelap diantara paradoks pandangan yang ideal dan pandangan yang fundamental. Perjalanan tersebut dimulai dari mempertanyakan hutan tersebut, dengan melihat gambaran besar hutan – hutan yang ada, dan apa sih hutan yang mau kita jalani ? terlebih lagi hal ini mempertanyakan apa yang kamu mau cari, passion apa yang kamu mau cari ? ataukah ada yang ingin dibuktikan ataupun sebenarnya tidak perlu membuktikan apa – apa. Pemikiran filsafati sebenarnya menjanjikan sebuah proses kedewasaan berpikir untuk menguraikan kekusutan terminologi, sebuah pemikiran yang terbuka (open ended) seperti kutipan diatas. sebuah progresi yang regresif, di satu sisi ia menjanjikan progress akan kedewasaan, disatu sisi mendefinisikan arti sebuah progresi dan regresi. Bahwa pada akhirnya, memahami maju mundurnya cara berpikir membuat tidak ada yang tidak mungkin di dalam alam pikir. Pertanyaannya apakah Nusantara patut untuk diperbincangkan ?

Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.

Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.

Abidin Kusno membuka kuliah pertama dengan sebuah tema reposisi, hal ini diperlukan untuk melihat Nusantara dari sudut pandang yang lebih luas. Diawali dengan Abidin Kusno, seseorang yang bisa melihat dari dalam dengan relasinya dengan Nusantara dan juga dari luar. Dalam kuliah wacana Nusantara: Reposisi, Abidin Kusno menampilkan 5 posisi/konsepsi nusantara, mencoba menunjukkan “nusantara” dalam sebuah konstruksi yang tidak lepas dari konteks suatu ruang dan waktu, politik negara, dan imaginasi intelektual & arsitek. Ia menjelaskan bahwa kelima posisi ini bisa saling berkelindan meskipun ada kontradiksi di antara mereka. Misalnya yang 1 & 2 itu tipis garis pemisahnya dan 3, 4, 5 erat hubungannya meskipun tekanannya berbeda.
1. Melalui Gajah Mada The Periferi: tanah di sebrang lautan (dari subjektivitas sebuah pusat). Dalam kehidupan zaman Majapahit, arsitektur nusantara mengandung 2 pengertian: arsitektur tanah sebrang/luar negeri, dan arsitektur pan-Majapahit style, atau mungkin sebuah empire style?
2. The Geo-body Melalui perspektif nation-state. Integrasi: penyatuan konsentris. Merupakan sebuah posisi yang berakhir dengan meng-nasionalisasikan nusantara. Menjadi ekspresi anti-kolonialisme dan legitimasi bagi formasi negara.
3. Melalui pengaruh austronesia Maerupakan konsep Aquatic space: yang berdasarkan aliran/arus/air. Posisi ketiga ini menjadi simbol tradisi bahari yang telah lama mengalami marginalisasi.
4. Melalui Denys Lombard Beyond the Nation-State. Yang dimaksud adalah posisi nusantara sebagai Persilangan: Hibrida budaya. Misal pada akhirnya ada yang klaim nusantara itu milik Indonesia atau Malaysia, tidak masalah, tapi tetap saja formasi budaya dari kedua negara ini adalah nusantara. Nusantara menjadi ungkapan kosmopolitanisme.
5. Melalui Josef Prijotomo Resistensi: Perlawanan dalam Kesetaran. Gerakan nusantara terjadi pada saat ada tekanan dari budaya hegemoni global yang cenderung memarginalisasikan sumber lokal. Sebagai perlawanan, nusantara diletakkan dalam posisi yang setara dengan kekuatan lain.

Pada akhirnya, Abidin Kusno merasa bahwa nusantara itu adalah istilah dimana keadaan ‘struggle over culture’ terjadi. Dan diharapkan lahir berbagai positioning lain sehingga membentuk sebuah himpunan yang beragam. Setelah itu kuliah disambut oleh 10 orang lain yang membicarakan arsitektur nusantara di dalam 10 buah perjuangan yang berbeda, dengan definisinya sendiri tentang Nusantara.

Di dalam Omah Library kami mengambil Nusantara untuk melihat apa yang penting dari kata tersebut, sejauh mana dampaknya untuk diperbincangkan, lalu pertanyaannya sejauh mana hal ini relevan di dalam komunitas – komunitas atau pribadi – pribadi yang saling berkelindan di dalam diskusi di Omah Library. Abidin Kusno mengambil 5 buah reposisi yang berbeda di dalam melihat Nusantara. Reposisi yang terakhir adalah latar belakang mengapa kuliah wacana Nusantara ini digulirkan.

Terkadang setelah acara saya menelpon Pak Josef untuk menanyakan pendapatnya, untuk melihat situasi yang mengukung beliau, apa perasaan beliau dengan pertanyaan, pernyataan yang satu dua hal terdengar mengadili dengan pretensi dari pihak yang berdiskusi. Hal ini saya lakukan karena beliau adalah orang yang patut diapresiasi dengan pencurahan seluruh energi hidupnya di dalam penyebaran dan kelahiran Arsitektur Nusantara. Ada beberapa kemungkinan – kemungkinan muncul di dalam diskusi yang dilakukan di Omah Library, mengenai bagaimana forum diskusi dan pemateri memaknai kekayaan dinamika budaya yang mewarnai wacana Nusantara di arsitektur Indonesia ke depannya.

  1. Munculnya diskusi yang kritis hasil dari pertemuan antargenerasi atau antarpengalaman orang – orang yang gelisah. Ada benang merah bahwa ketakutan yang muncul adalah wacana komersialisasi ataupun kompetisi yang mendegradasi perjuangan akan mencintai arsitektur tersebut. Dengan melihat akar permasalahan yang muncul, setidaknya bisa dipisahkan kompetisi dan komersialisasi dari perbincangan Nusantara yang lebih serius. Ataukah memang perlu ada dewan pengawas Nusantara untuk meregulasi bagaimana komersialisasi dan kompetisi Nusantara ini diturunkan ke ranah praktis. Saya harap tidak karena dasar filsafati yang terbaik adalah bagaimana membawakan diri dengan tepat, ketepatan ini ditunjukkan dengan suri Tauladan, memberikan ruang gerak pada penerus yang masih muda dan gelisah.
  2. Hubungan guru murid yang kental antara beberapa pembicara dengan Pak Josef Prijotomo. Keambiguannya terlihat dan terus muncul, meskipun diklarifikasi oleh beberapa orang yang membuat definisi – definisinya masing – masing dan berkelit dari hubungan yang memang nyata terjadi. Di dalam perdebatan Arsitektur Nusantara, saya masih melihat bahwa ada potensi luar biasa, hanya saja mungkin tongkat estafet itu sendiri perlu disibakkan oleh generasi penerusnya. Di antara hubungan guru murid tersebut, terlihat bahwa Pak Josef sendiri seakan – akan menantang murid – muridnya sekaligus memberi restu antara rasa euwuh pekewuh sekaligus kecintaan terhadap murid – muridnya. Hal ini perlu digawangi mungkin dengan kekuatan literasi.
  3. Adanya kesepahaman bahwa proses berpikir kritis diperlukan dengan saya tambahkan sebuah kebijaksanaan untuk merangkul orang yang tua dan yang muda dengan menjaga jarak dari hegemoni politik yang tidak diperlukan. Untuk itu pihak yang sadar (atau mudahnya bisa diinisiasi dengan Omah Library dan Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia yang diinisiasi Mohammad Cahyo Novianto) perlu membantu menggawangi pendekatan akar rumput dari muda dan tua, antargenerasi hal ini dilakukan dengan bingkai acara perjalanan mengenal Indonesia dimana ini adalah usaha untuk merangkul orang – orang yang sudah mendokumentasikan arsitektur vernakular Indonesia untuk disebarkan dan memperkaya literasi arsitektur vernakular di Indonesia. Kita semua perlu bersatu bukan tercerai berai, untuk bersatu tersebut ditunjukkan dengan tauladan yang baik dengan menghindari pretensi yang muncul dalam menuangkan pemikiran.

Mari melangkah, banyak isu – isu lain yang layak dibahas seperti isu lingkungan, gender, ras, ekonomi kerakyatan, studio desain, dan banyak lagi. Mungkin kita akan bisa mendefinisikan Nusantara kembali setelah kita berjalan dan mengalami sebuah perjalanan ke empat penjuru dunia Barat-Timur, Utara-Selatan untuk mendapatkan kompas di dalam menjalani reposisi yang muncul di kemudian hari. Untuk menunggu hari itu tiba, mari kita mulai dengan Abidin Kusno, sebuah reposisi akan wacana Nusantara. Saya pikir jarak diperlukan untuk melihat bagaimana kedahsyatan Arsitektur Nusantara, energi yang mewakili salah satu dinamika arsitektur Indonesia.

Untuk menutup keseluruhan sesi ini, ijinkan saya meminjam pernyataan Mohammad Nanda Widyarta yang dituliskan ke dalam epilog buku,

Nanda menulis, “Menurut hemat saya, bila Arsitektur Nusantara kehilangan aspek perlawanan ini, maka ia akan menjadi kajian yang “itu-itu saja.” Maksudnya, ia masih juga terjebak dalam pengetahuan sebagaimana didefinisikan berdasarkan sudut pandang si pemilik hegemoni. Penggunaan istilah seperti “kearifan lokal” misalnya, masih menyiratkan adanya hegemoni dalam pemikiran si pemikir/periset. Arsitektur Nusantara sepatutnya bertindak sebagai pengingat bahwa ada banyak arsitektur-arsitektur lain di dunia yang juga patut diangkat.”

Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :


Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !

Dan pada akhirnya, saya perlu mengucapkan terima kasih terutama kepada Abidin Kusno yang mau berjibaku untuk mereposisi sebuah terminologi Nusantara dan memberikan tongkat estafetnya kepada kami – kami melalui Omah Library. Terima kasih juga kepada 10 pembicara yang sudah meluangkan waktunya untuk menyumbangkan 10 jembatan pemikiran reposisi lanjutan dari kuliah Abidin Kusno. Kesepuluh orang tersebut adalah Indah Widiastuti, Eka Swadiansa, Robin Hartanto, Mohammad Cahyo Novianto, Anas Hidayat, Revianto Budi Santosa, Mitu M. Prie, Defry Ardianta, Altrerosje Asri Ngawi, dan Johannes Adiyanto. dari kesepuluh orang tersebut kita memulai konstruksi pemikiran yang terbuka, rajutan pembangunan konstruksi yang sehat.

Terima kasih terbesar ada di Kirana Ardya Garini yang sudah membantu menyimpulkan kuliah demi kuliah, menemani di dalam sesi – sesi yang ada di dalam Nusantara, mengkordinasikan dan menjadi jembatan untuk banyak pihak. Juga kepada Satria Agung Permana, Amelia Mega Djaja, Dimas Dwi Mukti Purwanto untuk teman berdiskusi tanpa henti di dalam Omah Library, jembatan yang terakhir ini adalah doa untuk mereka berempat menjadi mata air baru untuk arsitektur Indonesia.

Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :

Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !
Publikasi buku yang dibuat oleh tim Omah Library, Tulisan ini berjudul Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung, atas dasar usulan Jolanda Atmadjaja untuk menanti – nanti kekuatan semesta terkait dinamika budaya yang melingkupi kebaikan setiap orang untuk selalu berproses dalam perjuangannya masing – masing.

Omah library dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Nusantara: Reposisi
.
Masa mendekati perayaan 75 tahun merdekanya Republik Indonesia ini adalah saat yang tepat untuk menelusuri kembali imajinasi kita tentang negara, tak terkecuali juga hubungannya dengan ruang, makna, dan sejarah. Penelusuran tersebut kerap kali berujung dengan pertanyaan seputar “bagaimana kita memaknai Nusantara?”

Pemesanan buku @omahlibrary dapat melalui link di bio bit.ly/OrderOMAH atau hubungi Vivi (WA) 08998898239

Kategori
blog tulisan-wacana

Cermin Aku

Baru saja kemarin saya bertemu dengan teman saya Eric Dinardi, dan klien saya yang sudah seperti keluarga saya, Djonny Taslim. Pertemuan itu berlangsung karena rumah Djonny Taslim yang saya panggil om di Danau Biru, akan difoto oleh Eric Dinardi. Pagi itu Eric sudah melakukan sesi foto di pagi hari, dan saya baru datang.
.
Saya menyapa Eric dan Om Djonny, dan membuka jalan untuk masuk ke kamar beliau yang privat, Joan (istri Eric) menyemprotkan disinfektan, dan membantu menata, merapihkan perabot dibantu oleh asistennya. begitulah proses yang berlangsung ketika pemotretan, terlihat mudah tetapi membutuhkan persiapan.
.

Setelah pemotretan di kamar Om Djonny selesai, kami semua dipersilahkan untuk makan pagi bersama, sementara Om Djonny bersiap – siap untuk mandi karena akan berangkat kerja. Di meja makan disediakan bakmi 1 porsi, dan bihun 2 porsi. Om Djonny bertanya “kamu mau yang mana Rich ?” saya bilang, saya bihun saja om, supaya Eric dan Joan bisa saling mencicipi masakan yang berbeda. Setelah itu kami makan dan Om Djonny mempersiapkan dirinya, setelah menyetel lagu dengan speaker yang disiapkan dari dalam rumah.
.
Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi sampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,

Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri.
foto bersama Eric dan Joan bertemu dengan Djonny Taslim. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi dampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,

“Jadi terkenal salah, ngga terkenal pun salah.”

Ia menjelaskan bahwa sebenarnya kami perlu mempertanyakan apa yang kami mau raih, di antara menjadi terkenal ataupun tidak terkenal, ada maksud masing – masing yang kontekstual dengan kebutuhan dan keinginan, juga persiapan. Ia berkata bahwa, penting untuk memiliki kawan untuk bertukar pikiran, jangan maju gegabah ke sebuah peperangan, menjadi terkenal ataupun tidak terkenal tidak masalah asalkan ada kebersamaan. Segala hal perlu disiapkan, sistematika pemikiran, ekonomi, hubungan relasi, dan hal – hal yang mendasar supaya begitu kamu terjun, kamu akan berprestasi. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.

Batu Andesit yang disusun dengan pengaturan yang natural, kesan tidak teratur namun teratur, pola dalam kebersahajaan sesuai dengan karakter kesederhanaan. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.
Foto bersama Djonny Taslim di rumah yang didesain di Danau Biru, sebuah konsep rumah kommunal yang dilanjutkan di dalam konsep rumah di Bukit Golf, mengenai hidup bersama – sama, sebuah konsep harmoni. Pertemuan kali ini berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.

Pikiran saya kembali ke masa 2011, rumah Om Djonny dibangun dalam jangka waktu hampir 5 tahun, dan 9 tahun kemudian, baru kami berkumpul bersama, dan Eric ada disitu untuk memotret bagaimana rumah ini selesai dari tahun 2017. Waktu menjawab soal kualitas relasi, keutuhan, dan rasa kesabaran dari hanya hubungan klien dan arsitek. Pertemuan itu berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan jawaban dan pertanyaan yang muncul, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.
.
Sore ini Laurensia mengirimkan cerita ini ke saya :
.
Seorang Anak Muda sedang membersihkan aquarium Paman nya, ia memandang ikan arwana agak kebiruan dengan takjub..
Tak sadar Pamannya sudah berada di belakangnya .. “Kamu tahu berapa harga ikan itu?”. Tanya sang Paman..
.
“Tidak tahu”. Jawab si Anak Muda..
.
“Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!”. Perintah sang Paman.
.
la memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga .. Kemudian kembali menghadap sang Paman.. “Ditawar berapa ?” tanya sang Paman. .
“50.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan mantap.
.
“Coba kau tawarkan ke toko ikan hias!!”. Perintah sang Paman lagi.
.
“Baiklah Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias..
.
“Berapa ia tawar ikan itu?”. Tanya sang Paman.
.
“800.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan gembira, ia mengira sang Paman akan melepas ikan itu.
.
“Sekarang coba kau tawarkan ke Juragan Joni Rahman (nama – penamaan cerita ini tidak ada kaitan dengan Djonny Taslim ataupun siapapun, saya hanya menampilkan mentah – mentah cerita yang dikirimkan Laurensia)

, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan ini sudah pernah ikut lomba”. Perintah sang Paman lagi. “Baik Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia pergi menemui Pak Joni yang dikatakan Pamannya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang Paman.
.
“Berapa ia menawar ikannya?”. “50 juta Rupiah Paman”.
la terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbeda-beda.
.
“Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat”. “Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita”. “Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita”. “Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita”. “Kita ada lah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita”. “Kita adalah orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita”. Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing terhadap kita, maka tak usahlah bersusah payah supaya kelihatan baik dimata orang.

Tapi berusahalah terus melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan.

Refleksi ini muncul secara paralel di dalam wacana perbincangan arsitektur soal Nusantara dari Altrerosje Asri dan Johannes Adiyanto soal pentingnya membuka diri dan pentingnya merendahkan hati untuk bercermin kepada situasi – situasi yang membuat manusia perlu untuk beradaptasi dan mempertanyakan pemikirannya sendiri, bahwa perubahan itu ada, tidak ada yang sempurna, mari belajar kembali. Dari mereka berdua ada sebuah kegelisahan untuk melangkah maju, termasuk dialog dengan Eric Dinardi dan Djonny Taslim, termasuk Joan.

Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.

Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.


Lalu ada suara yang hangat menyapa,

“makanya bangun, dan hari ini jangan lupa berdoa ya, dan membuka dirimu terhadap hal – hal yang baru”

Kategori
blog tulisan-wacana

Jalan yang Sepi

Minggu depan, kuliah S3 dimulai. Ada 3 mata kuliah yang saya ambil, pertama adalah mata kuliah wajib metodologi penelitian yang diampu oleh Professor Iwan Sudrajat, dan kolokium yang diampu oleh Professor Sugeng Triyadi, dan Dr. Ir. Himasari Hanan. Yang kedua adalah filsafat ilmu pengetahuan yang diampu Professor Bambang Sugiharto.

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil, Puisi dari Robert Frost.

Yang menarik adalah kenapa saya mengambil studi S3 ini, apakah ada waktunya ? lalu apa yang dicari ? Saya ingat satu kawan taruhlah namanya Abramovic menanyakan, atau bukan menanyakan tapi memberikan pernyataan yang cukup aneh mungkin terkesan punya presumsi tertentu,

“elo niat banget sih – semua mau – kantor mau / bikin buku mau / anak banyak mau / sekolah terus mau hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼”

mungkin pernyataan pertama “kantor mau” itu muncul dari observasi kawan saya ini bahwa saya sudah membuat studio Realrich Architecture Workshop (dikenal dengan nama RAW Architecture), dimana studio tersebut adalah tempat saya dan anak – anak saya bereksperimen. Kami berusaha untuk terus bereksplorasi, bertanya, dan mencoba mencari tahu mengenai kemungkinan – kemungkinan eksplorasi. Menurut saya yang menarik adalah membongkar kondisi kata “mau” sebagai predikat dan objectnya “kantor”.

Pernyataan kedua “bikin buku mau”, lebih kepada observasi kawan saya ini akan saya dan kawan – kawan sudah membuat beberapa buku di Omah Library, tempat dimana kami membuka wacana – wacana yang diskursif. Dimana buku – buku tersebut adalah hasil dari proses dialog – dialog yang ada, satu arah, dua arah, ataupun tiga arah, arah – arah tersebut ada di dalam perspektif orang yang lain yang dibangun dengan repetisi yang saling membangun.

Pernyataan ketiga “anak banyak mau”, berkaitan dengan kelahiran Heaven anak kami yang kedua (lihat artikel “Heavenrich Selamat Datang Surga”), setelah beberapa kali mencoba dan tidak kunjung berhasil. Disini mungkin perlu dilihat perjuangan Laurensia di dalam menahan suntikan demi suntikan, ataupun, proses – proses kehilangan buah hati kami yang membawa rasa syukur akhirnya Heaven lahir dan menjadi kesayangan kakaknya juga.

Pernyataan keempat “sekolah terus mau”, muncul dari observasi terhadap kemauan untuk bersekolah (saya coba balikkan kalimatnya). Hal ini dikaitkan dengan mungkin usaha mahasiswa untuk mendapatkan gelar S “3 (atau saya simpelnya berbicara kadang es tung tung)” dimana hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur sebagai pengajar. Proses tersebut adalah proses menemukan diri, dengan membongkar tatanan dengan sistematis, dan menyusun ulang dengan sistematis. Bu Himasari berkata pada sebuah saat tatap muka, “S3 itu bukan proses problem solving, tapi proses menemukan ilmu baru dengan pembacaan obyek yang diteliti.”

Saya merefleksikan darimana saya mendapatkan kondisi pemikiran untuk mau bersekolah kembali untuk meneguhkan kemauan diri supaya bisa berjalan sampai selesai (titik). Mungkin saya mencari sebuah oase perhentian, tempat untuk berpikir, berhenti sejenak, dan tempat untuk menilai, mendiskusikan, menambal, dan mengikis jelaga dari apa yang sudah dipikirkan, lakukan, rasakan. Mungkin manusia itu sebenarnya hanya menjadi jembatan yang berkelindan di antara dirinya dan orang lain, lalu kalau ditanya maunya apa, “kita berbagi kondisi – kondisi yang sama, dan juga berbeda, namun dari kesamaan tersebut kita bisa berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Kawan saya yang lain di satu saat Johannes Adiyanto mengirimkan pesan,

“beberapa teman yg ty sy ttg s3, selalu sy tanya, mo ngapain s3? cr pamor, ato cari apa? klo sekedar sibuk dan demi karir dosen… siap2….siap2 sakit semua badan, krn yg dikejar gak terlihat mas,perlu dari dalam sendiri, lha jenengan skrg dalamnya adalah suwung dan pasrah, ini modal, tp perlu ‘api’, ya itu tadi… pertaruhkan semuanya….” – Johannes Adiyanto

Teringat dahulu di dalam perjalanan karir di negeri Kuda Besi (kawan saya, yang lama tidak saya jumpai Marissa Aviana menyebut), dimana keputusan diambil dengan pertaruhan. Dan saya pikir, banyak orang juga mempertaruhkan banyak keputusan – keputusan dalam hidup masing – masing, dan kondisi – kondisi yang memicu pertaruhan tersebut membuat kita sedang berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Ini adalah tulisan saya sebelumnya tentang berbagi jalan, yang saya lampirkan juga puisi dari Robert Frost sebagai tempat refleksi :

SETIAP MINGGU WANITA TERBAIKKU SELALU BERANGKAT KE KLINIKNYA, TERMASUK HARI SABTU PAGI.

“Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa…”

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil.

“Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,

Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya

Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama

Dan memandang ke salah satu jalan sejauh aku bisa

Ke mana arahnya mengarah di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang jalan yang lain, sama bagusnya,

Dan mungkin malah lebih bagus,

Karena jalan itu segar dan mengundang

Meskipun tapak yang telah melewatinya

Juga telah merundukkan rerumputannya

Dan pagi itu keduanya sama – sama membentang

Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik.

Oh kusimpan jalan pertama untuk kali lain!

Meski tahu semua jalan berkaitan

Aku ragu akan pernah kembali

Aku akan menuturkannya sambil mendesah

Suatu saat berabad – abad mendatang;

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku,…

Aku menempuh jalan yang jarang dilalui,

Dan itu mengubah Segalanya.”Robert Frost [1916]

Dan seketika saya, tersadar, ternyata masih ada pernyataan terakhir dari kawan saya satu lagi itu yang mungkin memiliki presumsi, menyisakan Pernyataan kelima “hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼” yang saya anggap sikap sebagai kawan dan dukungan untuk perjalanan yang akan dimulai, dengan gestur terkekeh – kekeh.

dan memang hal itu mengubah segalanya, menjadi begitu menyenangkan :) .

lalu,

“Dang Dut Time !” mumpung sepi ngga ada yang liat, hi hi. Ayo jalan, ga usah dipikirin kaya ngga ada kerjaan aja.

Es lilin adalah makanan penyegar berupa es dengan batang kayu sebagai alat untuk dipegang.Hal ini seperti permisalan seperti es (S) 1, es (S) 2, es (S) 3. sebuah bentuk yang baku seperti lilin yang dicetak siap untuk disajikan. Ia bisa mencair, yang dinikmati bersama sesuai selera. bisa jadi semakin ditambah S nya akan semakin membeku mulut kita, atau apabila dinikmati perlahan – lahan, rasa beku tersebut akan melumer dan nikmat dimulut lengkap dengan jus jeruk, durian, nangka, stroberi, kopyor, atau yang lainnya sesuai selera) yang diberi batang kayu lalu dibekukan.
Kategori
blog tulisan-wacana

Belenggu Kultural

Di dalam acara Nusantara kemarin, saya teringat saya melemparkan anekdot ke Eka mengenai,

“Ka itu Spirit 45 sebaiknya dibubarkan saja. Karena memang berbasis kepada acara tertentu, perjalanan ke Paris.”

Saya sendiri sudah tidak memiliki kepentingan disitu. Mungkin yang tersisa adalah pengembangan ide mengenai Le Corbusier bahwa kami pernah berziarah bersama. Apabila ada ide tentang pengembangan buku dan sebagainya, saya melihatnya sebagai ajang romantisme bahwa sejujurnya saya dahulu ingin supaya kami bertiga (Eka Swadiansa dan Andy Rahman) tetap berdialog dan tidak saling meninggalkan, dimana ini adalah ranah personal, bukan bisnis dan juga bukan misi tertentu.

Mempelajari sesuatu yang baru, seperti berada menelusuri tempat – tempat yang rahasia. Seperti metafora taman, “Secret Garden” yang indah, proses menelusurinya yang berkesan, setelah proses itu dilakukan, lalu sudah saatnya kita kenang lalu kita menelusuri taman – taman rahasia yang lain.

Sebagai sebuah grup, secara personal dulu Eka mengirimkan email ke saya untuk membentuk Spirit 45. Yang menarik bagi saya adalah ajakan untuk berkunjung ke karya Le Corbusier selain menyiapkan turunan dari Arsitektur Vernakular, dimana saya percaya bahwa apa yang digagas akan mampu memberikan wacana untuk kontemplasi kami di studio.

Arsitektur Vernakular adalah arsitektur dengan pendekatan perancangan yang biasa, menggunakan bahan yang dipakai sehari – hari, bentuk massa yang sederhana, kulit bangunan menggunakan kekriyaan lokal, penggunaan layout yang platonis, dan juga sistem MEP, pemanfaatan energi dan air yang mudah didapatkan, tidak mahal. Ibaratnya lekat dengan kehidupan sehari – hari, kehidupan tanpa solek. Turunan ini sifatnya memang problematis, karena perlu menggali bagaimana sistem produk bekerja di dalam perancangan yang biasa.

Sarah Edwards menulis “Arsitektur vernakular, bentuk paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan manusia, tampaknya dilupakan dalam arsitektur modern. …merangkul tradisi regionalisme dan bangunan budaya, mengingat bahwa pemikiran ini … terbukti hemat energi dan sepenuhnya berkelanjutan. Di era urbanisasi dan kemajuan teknologi yang pesat ini, masih banyak yang dapat dipelajari dari pengetahuan tradisional tentang konstruksi vernakular. Metode berteknologi rendah untuk membuat perumahan yang secara sempurna disesuaikan dengan lokasinya adalah brilian, karena ini adalah prinsip yang lebih sering diabaikan oleh arsitek yang ada.” lihat link

Disinilah ada irisan antara kami, karena memang ada irisan terhadap apa yang dipercayai, bahwa arsitektur seharusnya bisa diturunkan dengan pendekatan – pendekatan spesifik tertentu.

Meta-Vernacular adalah teori arsitektur turunan yang dibahas di buku putih Spirit 45, sebuah terminologi yang digagas oleh Swadiansa untuk irisan kami, saya hanya berperan kecil di dalam buku itu, ia menyapa dan kami masih berkawan baik sampai sekarang. Di ranah profesionalitas bisa saja kami tidak sependapat namun tidak akan bertengkar secara personal. Ia pun masih berproses, dan saya mendukungnya secara personal. Ia melanjutkan kemudian dengan merajut Spirit 47. Teori seperti yang dibahas oleh Undi Gunawan adalah sebuah cara memandang, Meta Vernacular adalah turunan lebih lanjut daripada ranah vernakular sebagai aksi reaksi dari postmodernism. Saya sangat mendukung Eka di dalam menurunkan hal – hal ini, karena seseorang yang mengembangkan teori sangatlah jarang di Indonesia.

Setelah trip kami ke karya Corbusier di satu saat di kereta kembali ke Paris saya mengusulkan untuk membuat buku 0 dimana itu adalah buku awal mula, dan di hotel saya menelpon Anas Hidayat dari Perancis untuk memintanya menjadi penulis buku Andy Rahman karena saat itu saya sedang menulis beberapa buku dengan Anas Hidayat, dan saya pikir ia akan mudah berkerjasama dengan Andy selain ada kemungkinan kepentingan bisnis yang bisa baik untuk kedua belah pihak. Buku Nata Bata selesai, saya menantikan buku Static City dari Eka. Namun waktu dan jalan hidup berkata berbeda. Karena saya kehabisan waktu menunggu dan Eka memiliki momentum untuk mengembangkan hal yang lain.

Saya memiliki ide untuk menerbitkan beberapa hasil riset kami berupa buku – buku saya tulis beserta kawan – kawan di Omah Library, juga Anas Hidayat, dan Johannes Adiyanto hanya karena saya merasa dekat, dan ada teman seperjalanan, tidak kurang dan tidak lebih, alasannya pun cukup personal. Setahun setelahnya, saya merefleksikan kembali, banyak yang sudah dilakukan, dan didiskusikan. Bahwa ada yang tidak sejalan itu normal ataupun semuanya yang sejalan itu pun juga wajar – wajar saja, dan hubungan personal akan baik – baik saja di antara kami.

Kemudian apa yang saya takutkan bahwa Spirit 45 sebagai alat untuk agenda-agenda personal tertentu (bisnis, ketenaran, dan ambisi pribadi tertentu termasuk saya sendiri), dan saya memang pernah dan sudah jadi bagian disitu. Suka atau tidak suka disclaimer diperlukan untuk menjaga hubungan antarpersonal yang lain.

Sementara bola sudah bergulir,

jadi bagaimana ?

“Eh jangan mas, di-peti es kan saja, sampai satu saat cair kembali, atau beku selamanya.”

Satu saat kawan saya bergumam. Bisa ya ? karena sekali bergulir tidak bisa kembali itulah namanya Snowball Effect, ataupun hal tersebut sering dibahas di dalam terminologi perubahan iklim (climate change).

lalu apa. Minggir ae lah ya, ke ladang membajak sawah, berproduksi dan berhenti dan kemudian berteriak – teriak “kerja – kerja – kerja.”

Sejenak saya sadar dan bangun, bahwa belenggu kultural tercipta kembali, setiap orang punya peperangannya sendiri dan kontemplasinya sendiri, dan itu sah – sah saja. Belenggu kultural akan muncul apabila apa yang kita proyeksikan menjadi kenyataan dan hasilnya pun kita tidak akan bisa tebak arahnya kemana. Ada yang menggelinding ke ranah bisnis, ada juga ke ranah misi tertentu, ada juga ke ranah yang personal. Bola saljunya pecah ke segala arah.

Sejenak saya ingat cerita Phytagoras dimana ia harus memilih antara permainan publik, politik, permainan ketenaran dan kuasa untuk menang atau paling mudahnya, hegemoni. Seperti yang dikutip dari Simon Singh


“Kehidupan… mungkin bisa diperbandingkan dengan sebuah permainan di dalam keramaian. Beberapa orang tertarik dengan seberapa ia bisa memperoleh keuntungan, sementara yang lain tertarik oleh harapan dan ambisi akan ketenaran dan kemenangan. Tapi di antara mereka, ada beberapa yang datang hanya mengamati dan memahami semua yang terjadi di kerumunan dan lalu lalang disini.”

“Sama juga dengan kehidupan. Beberapa orang terpengaruh akan cinta akan harta dimana yang lain buta akan kekuasaan, dan keinginan untuk mendominasi. tetapi tipe manusia yang terbaik memberikan dirinya untuk menemukan arti dan tujuan kehidupan. Ia akan mencari untuk mengungkap rahasia kehidupan. Orang ini yang saya sebut, filsuf, meskipun tidak ada orang yang sepenuhnya bijaksana, ia bisa mencintai kebijaksanaan akan sebuah kunci untuk memahami rahasia alam.”

Tiba – tiba ada suara hangat kembali menyapa. Kali ini disertai dengan sentuhan halus.

“Kerja Kerja Kerja, Bangun!”

Lalu saya bangun dari mimpi, muka Miracle tepat di depan saya, Heavenpun menangis dan sepertinya semua baik – baik saja, tidak terlihat bola salju yang besar itu, mungkin saya sedang berhalusinasi.

Kategori
blog tulisan-wacana

Eh baru tahu ya, makanya Jangan asyik sendiri.

Baru beberapa minggu terakhir saya disibukkan dengan banyak pertanyaan tentang tradisi dan kekinian, kali ini tentang Arsitektur Nusantara. Ada satu mahasiswa lagi aneh – aneh saja nanya ke saya. Dari cara ia bertanya saya sudah bisa merasakan kadar kesontoloyoannya.

.
“Pak saya ngga suka sama arsitektur nusantara soalnya kok katro gitu sih pak ngga modern.”

.
Jawab saya “Lho kamu ngga boleh gitu dong masa prejudice gitu sih, memang kenapa sama arsitektur nusantara orang itu bukan bangunan desain kamu ya, silahkan saja kan kalau orang mau mendesain sebebas dia, masa kamu mau jadi polisi. “
.
Tapi kemudian saya pikir mungkin mahasiswa ini ada benarnya, lalu saya tanya lagi sama dia.
.
“Memangnya kenapa kok kamu ngga suka sama Arsitektur Nusantara ?kamu ngga suka sama arsiteknya atau karyanya. Dia menjawab ya pak, soalnya ya saya ngga melihat ada yang baru, pendekatan – pendekatannya sudah kuno kan Romo Mangun pernah membahas ini pak waktu membahas tentang AMI (maksud dia adalah Arsitek Muda Indonesia). Kan karyanya Romo juga melakukan pendekatan yang sama.”

.
Kemudian saya mengingat – ngingat, kalimat yang dituliskan almarhum Ahmad Djuhara di dalam buku AMI 2. ” Dalam salah satu acara Forum AMI…mendiang Romo Mangun menyatakan hal yang menyentak teman – teman : “Karyanya bagus, tapi kuno!” Menurutnya tidak ada temuan, terobosan, konsep baru tentang arsitektur, elemen arsitektur, program dan dalm semua skala, dari furnitur (kursi, misalnya…) sampai kota (yang menjadi mainan Le Corbusier atau Otto Wagner.” Saya mengingat satu kata yang merupakan komposisi musik yang dituliskan oleh Levi Gunardi. Dahayu dalam bahasa Sansekerta, artinya Cantik. Seperti arti nama Dahayu, ibu dan wanita memiliki peranan penting yang mengayomi. Setiap bertemu orang baru, mahasiswa didik, sisi mengayomi akan dibutuhkan untuk membantu mereka menembus batas. Untuk diayomi kita perlu mengayomi, untuk diiyakan kita perlu mengiyakan, hal ini sifatnya resiprokal.

Dahayu dalam bahasa Sansekerta, artinya Cantik. Seperti arti nama Dahayu, ibu dan wanita memiliki peranan penting yang mengayomi. Setiap bertemu orang baru, mahasiswa didik, sisi mengayomi akan dibutuhkan untuk membantu mereka menembus batas. Untuk diayomi kita perlu mengayomi, untuk diiyakan kita perlu mengiyakan, hal ini sifatnya resiprokal.

.
Kemudian, saya tersadar. “Sontoloyo” ternyata anak ini canggih juga, lalu saya tanya lagi

“jadi mau kamu apa ?”
.
Ya saya itu tertarik bukan hanya soal bentuk pak, atau nama saja, tapi bagaimana satu bangunan itu didesain secara pintar oleh arsiteknya bukan hanya mengulang – ulang jargon – jargon yang menjemukan sembari ia mengulang apa kata Romo Mangun dengan mengganti kata AMI dengan Arsitektur Nusantara.
.
Lalu gimana saya tanya ?
.
Lha iya pak kalau gitu nanti kalau saya dapat klien, saya akan buat karya saya sendiri.
.
Nah gitu dong, tunjukkan pada dunia jalan yang berbeda. Kata saya ke anak ini
.
Ia lalu berseloroh, tunggu pak saya belum selesai, dan akan saya namakan arsitektur saya Arsitektur Indonesia.
.
“Kenapa” saya tanya ke dia,
.
Iya pak Nusantara itu identik dengan kolonialisme.
.
Waduh, nak kamu baca apa aja sih.
.
Dia menjawab Wikipedia pak,

Ia lalu berseloroh, tunggu pak saya belum selesai, dan akan saya namakan arsitektur saya Arsitektur Indonesia. “Kenapa” saya tanya ke dia, Iya pak Nusantara itu identik dengan kolonialisme. Waduh, nak kamu baca apa aja sih. Dia menjawab Wikipedia pak.

Saya kemudian tersenyum, sontoloyo tenan. Pelan – pelan saya balik ke meja saya membuka referensi buku – buku untuk saya bagikan ke anak ini, salah-satunya adalah novel Romo Mangun mengenai burung – burung Manyar, kekuatan berproses bercinta di dalam arsitektur dan untuk tetap menjadi sontoloyo. Teruskan dik untuk meredefinisi Arsitekturmu ! Hal ini membuat saya tertarik untuk melihat diskursus identitas di dalam Arsitektur Nusantara … ups atau .. Indonesia.

Saya ingat di dalam acara di Omah Library, Abidin Kusno mereposisikan 5 buah posisi untuk Nusantara.

Saya ingat di dalam acara di Omah Library, Abidin Kusno mereposisikan 5 buah posisi untuk Nusantara. Abidin menempatkan posisi Josef Prijotomo di dalam kuadran ke-5 sebuah resistensi untuk kesetaraan. Kritisisme yang diperbincangkan di dalam diskusi terlihat bagaimana keresahan kawan – kawan terhadap arsitektur nusantara ini yang membuahkan posisi ke 6, yaitu penggunaan istilah Nusantara sebagai sebuah komoditas.

Abidin menempatkan posisi Josef Prijotomo di dalam kuadran ke-5 sebuah resistensi untuk kesetaraan. Kritisisme yang diperbincangkan di dalam diskusi terlihat bagaimana keresahan kawan – kawan terhadap arsitektur nusantara ini yang membuahkan posisi ke 6, yaitu penggunaan istilah Nusantara sebagai sebuah komoditas.

Eka, Roro, Alva, Cahyo dan rekan – rekan lain menggarisbawahi posisi selanjutnya ke 7 dan 8 untuk memberikan posisi bahwa nusantara bisa membuka wacana dekolonialisasi. Namun hal ini sungguhlah perlu studi yang tidak sebentar mengenai penemuan – penemuan lanjutan para intelektual, dimana ini merupakan kerja bersama.

Ada saya inget beberapa kalimat dari Roro Damar di dalam perbincangan.

” Pak Abidin, saya ada pertanyaan :

  1. Nusantara salah satunya menjadi popular karena ada doktrinasi dari pemerintah dalam dunia pendidikan, sehingga masyarakat secara blindly percaya Nusantara adalah jaman ‘keemasan’ Indonesia di masa lalu, despite the problematic history. Saat ini
    Nusantara dan Arsitektur Nusantara sudah dimaknai secara ‘dogmatic’ oleh pendukungnya, seakan jadi satu2nya ‘the most authentic’ identitas dr Indonesia. Bagaimana pak Abidin
    menanggapi ini?
  2. Nusantara sangat Javasentis, bahkan saat ini Arsitektur Nusantara ditolak oleh beberapa elemen masyarakat di perifer Indonesia karena mereka tidak pernah merasa ‘dijajah’ Majapahit. Bukankah Nusantara dan Arsitektur Nusantara ini bentuk penindasan budaya juga jika memaksa mereka ‘bersatu’ di bawah ide ini? Dan fakta bahwa Majapahit berarti adalah imperialist, apakah etis negara yang telah dijajah 3,5 abad kemudian merefer pada glorious history kerajaan imperialist?
  3. Arsitektur Nusantara yang saat ini ramai digaungkan oleh arsitek Indonesia seakan hanya representasi middle class, dengan ide idealnya menggunakan material lokal, ornament daerah, dll. Sementara masyarakat marginal terpaksa menggunakan material
    fabrikasi krn itulah yang terjangkau oleh mereka, karena himpitan ekonomi. Dengan rumah yang tidak ‘Nusantarais’ seakan membuat orang2 marjinal ini bukan termasuk orang
    Nusantara. Bagaimana harusnya menempatkan ide Arsitektur Nusantara diantara kompleksitas dan himpitan geo-politik, sosial dan ekonomi saat ini? Mungkinkah kita membuat garis mana yg merupakan identitas bangsa, dan mana yg bukan? Terima kasih pak.”

Pertanyaan ini dijawab Abidin Kusno dengan jelas bahwa intinya kita mengalami sebuah problematika dan perjalanan untuk mencari kesejatian itu sendiri juga problematis dan tidak produktif. Ia menyarankan bahwa perlu dilihat bahwa apa yang telah dihasilkan melalui klaim “arsitektur nusantara”? Abidin memprediksi kemungkinan karena genealogi kata “nusantara” itu adalah dari para political elite, maka ia cenderung “elitis” atau
“propagandais.”

Untuk menurunkan sebuah istilah menjadi sebuah dasar teori, perlu perdebatan dan perbincangan, untuk melihat apa makna dan arti sesungguhnya sebuah wacana. Dari diskusi di atas kita bisa belajar bahwa perdebatan diperlukan tanpa ad hominem (personal) dan pretensi – pretensi yang tidak diperlukan.

Di balik layar saya mencari – cari pak Josef Prijotomo, ia tidak hadir di acara tersebut. Padahal saya khusus menginginkan dialog ini terdengar oleh pak Josef, dimana apresiasi diberikan untuk sebuah perjuangan, resistensi demi kesetaraan.

Saya jadi teringat ketika saya mengirimkan tulisan Madeg Pandhito ke pak Josef Prijotomo. Ia menjawab,

“Terima kasih. Saya tidak pantas bila diberi label “madeg pandhito” sebab saya bukan pandhito, saya hanya soso(k) yg ekstrimnya boleh disebut pINandhito, yakni sosok yang mesti berperan bagaikan pandhito (=pinandhito) saat harus membawa murid saya ke ladang kebijaksanaan (wisdom, sophia)”

saya membalas, “nah terima kasih pak sudah membawa ke ladang tersebut :)…kita semua mesti memainkan peran tersebut kan pak.”

Saya jadi berpikir ulang memang sang pINandhito sudah tidak perlu hadir lagi, karena tidak ada peran untuknya, baginya ia akan muncul begitu muncul peran. Seni peran memang membutuhkan sebuah pertunjukkan. Untuk mendalami wacana dibutuhkan kacamata di luar panggung(lingkaran) itu sendiri.

Saya tertarik justru akan cerita dibelakang panggung, tulisan perspektif 4 titik.

“Alhasil disini kita bisa belajar mengenai semangat di dalam backstage ini, elemen yang terpenting namun sering dilupakan, panggung seringkali menyilaukan dengan hingar bingarnya, merah kuningnya, namun terkadang, semangat backstage ini sendiri adalah jiwa dari panggung tersebut, semua ini sama seperti dunia kerja, maupun apapun yang ada di hidup kita, back stage itu hati, jiwa dan proses, dapur dari pikiran kita …panggung itu hanya pemanis dan pupur kiasan, yang terkadang menipu. di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan ini.”

Hal ini membuat saya melihat – lihat grafik tentang sejauh mana isu – isu yang dibahas ini relevan terhadap masyarakat melalui data – data. Di hari minggu kemarin saya berdiskusi dengan Mohammad Cahyo Novianto, mengenai sejauh mana Googletrend bisa memetakan beberapa isu terkait hal yang sederhana yaitu “kata kunci”. Ini setidaknya bisa menelisik tentang sejauh isu – isu arsitektural menjadi relevan dengan masyarakat dengan grafik – grafik yang sederhana. Dimana kalau dilihat di dalam beberapa diagram yang di gambarkan dibawah ini, bahwa isu arsitektur sudah jauh berkurang dibanding tahun 2004 – semakin menurun.

Diagram 1. Dimana kalau dilihat di dalam beberapa diagram yang di gambarkan dibawah ini, bahwa kata kunci “arsitektur” sudah jauh berkurang dibanding tahun 2004 – semakin menurun
Diagram 2. Demikian juga apalagi dengan kata kunci “Arsitektur Nusantara” yang juga menurun.
Diagram 3. Namun apabila diperbandingkan terminologi arsitektur dengan lingkungan, bisnis, ekonomi, dan sebagainya. Terminologi tersebut lebih penting daripada isu – isu elit, atau eksklusif “arsitektur”, hal ini membuktikan bahwa isu arsitektur masih berjarak dengan masyarakat.
Diagram 4. Kata kunci “Arsitektur” tersebut dibandingkan dengan kata kunci “Indonesia”

Apabila dilihat sepanjang masa, apa yang paling populer. kita bisa melihat bahwa facebook memberikan juaranya, disusun oleh Instagram yang lebih besar daripada isu negara, misal China, America, ataupun Indonesia. Selamat datang jaman digital.

Diagram 5. Apabila dilihat sepanjang masa, apa yang paling populer. kita bisa melihat bahwa facebook memberikan juaranya, disusun oleh Instagram yang lebih besar daripada isu negara, misal China, America, ataupun Indonesia.

Dibalik seluruh acara webinar yang diadakan di Omah Library, saya jadi berpikir, sejauh mana wacana yang diberikan di perpustakaan menjadi relevan dengan kawan – kawan arsitek.

Tiba – tiba ada suara hangat menyapa,

“Eh baru tahu ya, makanya Jangan asyik sendiri.”

Kategori
blog tulisan-wacana

Mengenal Arsitektur Indonesia

Suatu hari di saya bertemu dengan satu kawan saya, ia senior saya yang berumur beberapa tahun diatas saya. Saya belajar menulis, dan mendesain dari dia. Satu saat ia menelpon saya, nadanya gusar seakan – akan seperti baru kejambret di pasar atau seperti rumahnya baru saja kemalingan.

“Bro lu ada waktu gue mau cerita”

Kemudian berceritalah ia mengenai kejadian – kejadian disekitar dia melihat media dan perasaannya. Ia punya perhatian bahwa etalase arsitektur Indonesia hanya milik segelintir orang tertentu, orang yang dominan, orang yang itu – itu saja. Parahnya media juga menselebrasikan hal tersebut. Ia memberikan contoh mengenai beberapa pameran sebagai referensinya bahwa hanya segelintir orang yang dominan yang dimasukkan terkait dengan hegemoni kekuasaan. Yang menariknya justru narasinya berbicara kebalikannya.

“Namun terlepas dari semua itu, kami hanya berharap ada yang dapat kita semua sama-sama pelajari dari penyelenggaraan pameran “Segar” ini. Jika tidak mengenai teknis penyelenggaraannya, dan jika tidak mengenai karya-karya yang ada di dalamnya, paling tidak kita bisa sama-sama belajar mengenai kekerabatan, kesejawatan dan kehangatan yang terjalin dalam tiga hari penyelenggaraannya.” (lihat link diatas Segelintir Wajah Arsitek Indonesia–Pameran “SEGAR” – )

Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup… Kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, …

Mungkin kawan saya ini berpikir bahwa atas nama Arsitektur Indonesia, kenapa yang ikut hanya seputar arsitek yang itu – itu saja, apa yang digunakan atas nama Indonesia. Perasaannya itu malah berkebalikan dengan narasi pamerannya, kok malah begitu sih.

Saya bertanya ke kawan saya ini untuk memancing dari mana asalnya muncul kekesalan ini.

“Bro bukannya wajar hal ini terjadi, kan sah – sah saja satu orang lebih terkenal dari orang lain, kalau memang lu mempermasalahkan ketenaran ?”
.
Ia menjawab, “Bro ini bukan urusan cari duit atau rejeki aja atau urusan cari pamor aja, atau urusan keberuntungan segelintir orang saja. Ini urusan kebanggaan kita bersama. Lu setuju ngga kalau ini urusan Arsitektur Indonesia urusan kita bersama ?” Urusan duit ini dibahas di dalam tulisan Madeg Pandhito.

Di dalam hati saya berkata ke diri saya sendiri, orang ini boleh juga, setidaknya ada dedikasi dirinya untuk orang lain, tulus juga. Lalu saya bertanya ke dia

“lalu lu maunya apa, gimana caranya ?” Saya suka kalau dia sudah menggebu – gebu seperti ini.
.
“Begini bro sejak jaman dulu Indonesia terkenal dengan politik Identitas bro, ini yang perlu kita kritisi.”

“Gue punya caranya bro yang sederhana tapi mengena”
.
“Apa bro ?”
.
“Pertama semua harus tahu bahwa arsitektur itu ngga cuma soal arsitektur bro, ilmu ini punya hubungan dengan disiplin yang lain, ngga autis, ada lingkungan, ada sosial budaya, ada ekonomi, ada juga isu ideologi. Lalu ada beberapa tahapan untuk memajukan isu ini lebih dalam dan luas, kita bisa mengambil contoh di CIAM atau, di Jepang dengan gerakan Metabolist.”

Lalu ? Saya bertanya lagi penasaran dengan isi otaknya. Saya bertanya lagi dengan beberapa lalu, dan akhirnya ia menimpali.
.
“Ya dengan mengerti hal tersebut arsitektur bukan cuma milik kalangan tertentu bro, arsitektur Indonesia itu punya semua orang. Dan kita perlu punya platform yang memiliki nilai itu. Lu tau kan senior gue itu sukanya main politik identitas?”

lha ? lalu saya bilang, lah ujungnya ini tentang personal dong, hubungan elu sama senior lu bro, mana ada urusan sama Arsitektur Indonesia ?
.
ngga usah ngurusin orang lain lah bro kita urusin diri kita sendiri aja lu tau nanti lu juga punya murid,
.
dan ada pepatah bilang kan bro

“Murid jatuh tidak jauh dari gurunya ?”
.
Kawan saya ini menjawab “Asem lu,
setidaknya gue kan mau merubah keadaan bro.”
.
Kemudian saya pun menyambung “Nah karena itu gue bersyukur lu jadi temen gue bro”

Ini adalah diskusi – diskusi sederhana mengenai politik identitas. Saya percaya bahwa hal – hal yang besar dirajut dari semangat – semangat kecil untuk menembus empati yang lebih dari sekedar mencari identitas, yaitu semangat persaudaraan. Dan perasaan bahwa diri saya atau kita bukan siapa – siapa. Apresiasi kita bisa lantunkan ke kawan saya satu ini yang sungguh gelisah akan sebuah perubahan. Perubahan itu perlu ditetapkan dulu di hati. Lalu baru kita cari jalan tengahnya.

Mari yuk..

lalu di Whatsapp grupnya, muncullah satu poster tentang pameran di Rio dan teman saya bergumam, “jancuk”.

dan saya pun membalas, “yess, jadi ada bahasan lagi, jadi saya tunggu responmu kawan. ” cerita ini akan bersambung dan akan ada skenario – skenario lanjutan mengenai Arsitektur Indonesia.

Catatan :

1. Pameran Segar dibahas di https://sugarandcream.co/segelintir-wajah-arsitek-indonesia-pameran-segar/

2. Identitas dibahas oleh Professor Kemas Ridwan Kurniawan di dalam https://www.researchgate.net/publication/322660754_DINAMIKA_ARSITEKTUR_INDONESIA_DAN_REPRESENTASI_’POLITIK_IDENTITAS’_PASCA_REFORMASI

Kategori
blog tulisan-wacana

Madeg Pandhito, Untuk Siapa, Untuk Apa ?

Beberapa hari terakhir ini saya ragu – ragu untuk menelisik satu terminologi Nusantara. Mengapa ? Sederhananya hal ini menjadi barang perebutan ketika terkait dengan masa depan arsitektur Indonesia. Nusantara sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menemukan benang merah Arsitektur Indonesia. Andrea Peresthu di dalam diskusi soal bagaimana arsitek Indonesia bisa berjalan sejajar dengan arsitek luar negeri ia berkata “work! work! buktikan arsitek indo bisa mendunia spt arsitek irak ini” banyak hal yang perlu dilakukan. Lihat postingan Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ? – Discussion

Ingsun, yang dalam bahasa Jawa berarti kawula, kula, abdi, dalem, ulun, nglulun, Ingwang, mami, kita, ingong, ngong, inyong, dan nyong. Hal ini untuk mempertanyakan keakuan saya di dalam bertata laku.

Dan hal tersebut bisa dimulai dengan memperhatikan suara anak – anak muda supaya mereka bisa didukung akan keberadaannya. Hal ini sifatnya resiprokal , kita mendukung kita akan didukung, apa yang kamu beri itu akan kamu tuai. Melalui literasi dan forum – forum yang memberikan tempat untuk mendengar yang muda, hal ini bisa dimulai. Penting untuk bisa menghargai pribadi yang gelisah, supaya mereka bisa berkembang menembus jamannya, bekerja menurut suara hatinya. Bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya.

Kedua ada cerita tentang hal ini. Saya berdiskusi dengan satu kawan arkeolog (Mbak Mitu namanya), dan membaca beberapa paper. Bahwa ada Politik Identitas yang ada di Arsitektur Indonesia.Hal ini yang kita bisa bahas selanjutnya ya. Saya berdialog dengan mbak Mitu, “Mbak secara etimologinya Nusantara identik dengan kolonialisasi dari Majapahit, lalu apa sebaiknya kita memakai kata ini apabila satu kata itu memiliki makna yang kontradiktif dimana hanya mewakili golongan tertentu, kebudayaan tertentu yang dominan ? Yang hal tersebut rawan menimbulkan konflik horisontal? ” (hal ini dibahas Yasmin Tri Aryani di dalam kerja kuratorialnya di Eindhoven, saya akan bahas ini di lain kesempatan). ini blog beliau : https://katadansketsa.wordpress.com/

Karya Yasmin Tri Aryani di dalam mempertanyakan identitas sebagai obyek komodifikasi.

Mitu kemudian menjelaskan tentang teknik komunikasi supaya tidak memancing polemik, bagaimana memilih judul, menyeleksi isi yang memiliki kedalaman dan menjelaskan dengan contoh – contoh. Kesimpulannya adalah Nusantara sendiri sudah menjadi sebuah terminologi yang awam, mengenai sebuah semangat untuk mencari identitas Indonesia. Yang kedua, ia menjelaskan pentingnya mereferensikan darimana pemahaman nusantara itu berasal, penting untuk meredefinisi istilah – istilah Arsitektur Nusantara, Vernakular, Tradisional dan menghubungkannya dengan disiplin lain seperti arkeologi, antropologi, dan kajian disiplin yang lain.

Saya mendapatkan pembelajaran bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya. Belajar, belajar, dan belajar, menjadi murid kehidupan.

Kenusantaraan sendiri adalah sebuah definisi tentang kesetempatan, sebuah semangat untuk mengolah apa yang ada di dalam lahan, sumber daya manusia dan alam dengan kritis. Sehingga Arsitektur Nusantara sendiri bisa dipandang sebagai sebuah cara pandang menuju ke masa depan, dan banyak mahasiswa bisa melihat “Kenusantaraan” apabila kata itu yang mau dipakai sebagai bingkai ke masa depan.

Salah satu kuncinya ada melebur atau inklusif, bukan dominan atau eksklusif. Dimana semua parameter diperhitungkan, ada dualisme luar diri, dalam diri, dimana hal ini dibahas oleh Antoniades di dalam Poetic of Architecture sebagai sebuah kemauan untuk bereksplorasi. Atau digagas lebih lanjut oleh Apurva Bose ke dalam sikap untuk mau berkorban, mengajar, mengantarkan ilmu ke generasi lebih muda. Hal ini juga tersirat di dalam perjalanan Ki Ageng Suryomentaram, bahwa menjauh dari keramaian memberikan jarak dari keriuh rendahan untuk mendapatkan diri sendiri , dan setelah itu pengembangannya bisa keluar. Hal tersebut dimulai dari prosedur di dalam diri sendiri dahulu, Penguasaan diri. Penguasaan diri ini penting untuk mengenal Arsitektur Indonesia, milik kita bersama dengan lebih baik. Jadi bukan tentang istilah – istilah kulitnya tapi juga tentang isinya. Keduanya sama – sama penting. Jadi mari yuk mengenal Indonesia lebih dalam.

Sebagai Arsitek professional, kita punya tugas – tugas dasar. Hal ini yang saya terus bagikan ketika mengajar, ini lah praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Hal ini disebut praksis. Cara kerja Model Praksis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Intinya tugas arsitek adalah berkarya dengan eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu ke penerus kita, dunia yang indah untuk arsitek muda. Lihat buku menjadi arsitek untuk mengenal apa itu tugas arsitek.

Di dalam alam profesi arsitek, ada dua buah kutub yang berseberangan dan saling melengkapi, keduanya berjalan beriringan tanpa meninggalkan satu sama lain. Alam pertama adalah Taksu, Taksu adalah sebuah bentuk dari keutuhan. Taksu sendiri ada karena proses repetisi terus menerus, berusaha melakukan evaluasi diri di dalam setiap tahap perancangan. Taksu ada karena proses belajar di dalam sisi seorang arsitek. (Lihat postingan mengenai Aalto)

Kutub kedua adalah Materi, atau mudahnya “Fee/Uang”. Salah satu kawan saya Anas Hidayat bicara soal ini di bagian prolog buku yang saya dan Johannes Adiyanto tulis beberapa bulan yang lalu berjudul “Fee”. Ia menulis “Jika hanya mencari uang saja, jadilah sodagar. Cari selisihnya, dan selesai! arsitek jelas bukan nabi mungkin memang pedagang tetapi yang punya harga diri dan punya nilai-nilai ya, harga diri, itu yang justru tak ternilai yang tak bisa dinominalkan sebagai fee itulah fee-lo-so-fee, phee-losophy.”

Tulisan Prolog Anas Hidayat : Anas Hidayat menjelaskan dengan mudah bagaimana cara menyusun fee sebenarnya didasarkan seberapa besar anda mau menakar diri, dan seberapa besar orang lain menghargai anda, dan terakhir adalah seberapa besar kebahagiaan yang anda dapatkan sampai misal bisa bekerja tanpa bayaran.

Tentunya pembahasan ini terkait kondisi ekonomi setiap orang. Tanpa adanya materi, percuma untuk bicara Taksu. Hal ini sama saja dengan membicarakan Taksu tanpa adanya materi, sama seperti berjalan diatas air, karya luar biasa tidak akan pernah lahir karena karya yang biasa – biasa saja tidak akan pernah lahir.

Dan pastinya semua arsitek ingin melahirkan karya yang luar biasa, tunggu ya ada caranya, nanti akan saya bagi caranya, caranya mudah, satu demi satu, ada prosedurnya. Simak terus ya, nanti dipostingan selanjutnya.

Kemudian di dalam keragu – raguan saya. Saya berdiskusi dengan Prof. Josef Prijotomo. Dan saya berbicara mengatakan “semoga rekan2 bisa makin percaya diri dan mau membentuk logika dan framenya dan kawan2 cukup excited, salam Pak Josef, saya perlu menjaga tenaga dulu jaga kesehatan jg ya. Nanti jgn lupa frame untuk Indonesia sy kontak pak Gunawan pak Yuswadi pada tertarik nanti kita isi ya, ” Pak Josef membalas , di dalam merencanakan wacana untuk arsitektur nusantara, saya sedikit banyak berdiskusi dengan pak Abidin Kusno, saya pikir ia ada dibalik kutub pemikiran Gunawan Tjahjono dan Josef Prijotomo.

Saya kemudian menjelaskan ke beliau bahwa Omah akan mempublikasikan kuliah wacana Nusantara. Ia bersemangat dan mengambarkan hal tersebut akan menggelinding dan tak terhentikan. Ia memuji Abidin Kusno, Omongnya bisa sana halus dan pelan, namun omongannya adalah guntur yang menggelegar. Ia berkata “aku sungguh bahagia punya murid yang mampu lebih dari aku.”

Ia menitipkan juga cara berkomunikasi bahwa berdialog dengan para tetua atau manula mesti pilih waktu atau situasi yg pas. Bahwa bisa saja mereka kurang berkenan dgn orang muda. Ia menceritakan bagaimana ia di coret oleh satu kampus terkenal karena kuatnya budaya penghormatan Juga, jangan posisikan sebagai sebuah pengadilan. Yang muda mungkin tidak merasa mengadili, tapi tidak begitu dengan perasaan para tetua.

Saya menulis seperti ini untuk menggambarkan setiap orang punya eksistensinya sendiri, adalah tugas kami yang muda untuk menyapa, yang tua, adalah tugas yang muda menyambut tongkat yang tua, dan terkadang meminta nasihat. Saya ingat kawan saya M. Cahyo Novianto menuliskan satu kata “Madeg Pandhito”

Karya Tisna Sanjaya “Madeg Pandhito” adalah sebuah metafora dari orang tua yang bijaksana, tinggal di sebuah “pertapaan” dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan.

Saya kemudian menulis “Iya saya akan coba jaga semampu saya, semoga menjadi jembatan yang rahayu, Benar tidak ada pengadilan, Saya akan kawal, mengerti. Ini adalah estafet bukan salah menyalahkan, Saya akan highlight ke beberapa orang, Supaya bisa menjaga perasaan, …Seluruh pemateri adalah jembatan Itu highlight saya akan saya kondisikan.”

Kembali ke awal, di balik keragu – raguan akan kelas ini, sebenarnya pertanyaan muncul dari hati saya. “Apa yang ditakutkan ?” Apa bila seorang murid ingin mencari sebuah jawaban, ada baiknya kita melangkah tanpa keragu – raguan, namun apabila yang dicari hanya sebuah ketenaran, ada baiknya urungkan niatmu. Ya saya sudah tau jawabannya.

Bersamaan dengan permenungan tersebut. Satu teman saya Johannes Adiyanto mengirim sebuah puisi yang didapatkan beliau dari satu acara di Malang dari Johannes Widodo.

Anak

oleh Khalil Gibran

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

Mereka lahir lewat engkau,

yang rindu akan dirinya sendiri.

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

namun tidak bagi jiwanya,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap. “

Puisi berjudul Anak dari Khalil Gibran ini menyentuh lubang hati Johannes Adiyanto dan kemudian menyentuh lubang hati kawan – kawan dan pada akhirnya menyentuh lubang hati saya yang sedang ada di alam mimpi.

Lalu sayup – sayup saya kemudian terbangun karena ada kehangatan yang muncul. Ada suara halus menyapa “Anakku, muridku, mari kita berjalan, … kawan – kawan akan turun tangan.”

Kita haturkan Puji Syukur, Rahayu.

Kategori
blog tulisan-wacana

Hai kawan kita ini manusia biasa… catatan di penghujung tahun 2017

Satu orang di depan saya pada waktu itu adalah seseorang yang terkenal, ia adalah fresh graduate dari universitas ternama di Amerika, namanya Diastika ia terkenal karena kepiawaiannya menyanyi. “kak tau ngga dia itu artis” kalimat itu sudah saya dengar berkali – kali dari staff -staff yang bekerja di kantor , dan kehebohan satu kantor karena kedatangan orang di depan saya ini karena citranya atau Imagenya yang memang sudah terbentuk di dunia maya dan nyata. “Apaan sih kalian.” saya biasa menjawab seperti itu, karena menurut saya hal tersebut tidaklah penting sama sekali.

Saya melihat anak ini antusias untuk belajar arsitektur melalui presentasinya mengenai portfolio yang dibawanya dan sudah dilayoutnya dengan apik di atas kertas A3. Setelah mendengar presentasinya, ada 2 hal yang saya sampaikan , pertama lokasi rumahnya yang cukup jauh dari kantor, sehingga menyebabkan waktu pulang pergi setiap harinya akan menghabiskan waktu dan energi, mengingat kondisi kemacetan di Jakarta pada jam – jam khusus. Kedua, saya kemudian mencoba untuk mereferensikan satu senior arsitek yang sangat terkenal karena lokasinya yang relatif dekat dengan tempat tinggalnya di daerah selatan. Jujur saya berpikir, setiap orang pasti ingin dihargai, namun ketika seseorang dihargai bukan karena apa yang melekat pada kulit atau citra dirinya, namun dihargai akan jati dirinya, maka itu adalah penghargaan tertinggi. Untuk saya orang didepan saya itu, dia hanyalah manusia biasa yang juga ingin berkembang maju menjadi arsitek yang dihargai karena ia arsitek yang memiliki bakat menyanyi juga, bukan hanya dihargai karena image atau citra yang terbentuk. Diastika adalah satu orang yang sudah mengetahui bahwa ia membutuhkan simbol, dan jalan untuk bisa menemukan kesuksesannya.

Sudah satu dua tahun terakhir ini, saya dikelilingi orang – orang yang berkembang bersama – sama dengan saya, mereka membantu saya dalam membesarkan studio yang sudah saya rintis. Saya melihat potensi yang besar dalam diri mereka, mereka membantu untuk memberikan yang terbaik kepada diri mereka sendiri, saya bersyukur atas seluruh kerja keras dan proses yang tidaklah mudah dalam tugas pekerjaan yang dilakukan sehari – hari. Ada yang pergi ada yang datang, setiap hari pun kita bertemu orang yang baru atau kawan lama. Tidaklah ada yang istimewa dalam kehidupan kita. Namun apa yang membuat kehidupan ini begitu istimewa adalah bagaimana kita sendiri merasakan bahwa diri kita ini berkembang setiap saatnya dan penghargaan akan satu sama lain bahwa karakter manusia itu memang unik – unik. Kemudian keseluruhan kehidupan ini akan membuat kita berkontemplasi mengenai keberadaan kita, suka atau tidak suka saat itu akan tiba, dan begitu saat itu tiba, gelap akan datang untuk menyosong matahari yang akan terbit di keesokan harinya.

Banyak hal yang sudah dialami anak – anak muda sekarang ini, banyak juga yang dipelajarinya, dalam rentang waktu yang tidak sebentar dan juga tidak lama. Lama dan sebentar hanya dirinya yang tahu. Namun anak – anak sekarang belajar lebih cepat, generasi yang lebih muda, bekerja lebih cepat, berkembang lebih cepat. Banyak yang bilang itu instan, ya saya tidak percaya, ya memang berbeda toh teknologi, apresiasi, dan semangatnya juga berbeda. Berbeda itu bukan berarti menurun, hanya saja berbeda. Malcom Gladwell mengangkat fenomena seperti ini yang dinamakan matthew effect bahwa semua rejeki itu sudah ditakar, ditentukan, diberikan sebelum kita lahir, kita semua memiliki sebuah latar belakang, keluarga kita, pertemanan ayah dan ibu kita, ataupun perjumpaan yang mungkin terlihat kecil yang mempengaruhi bagaimana kita mendapatkan klien, bersosialisasi dengan orang lain. [1]

Kalau pernah membaca tulisan Paulo Coelho didalam novel yang ditulisnya The Alchemist, ia menggaris bawahi 3 tipe seorang manusia. Tipe pertama adalah orang yang tidak tahu bagaimana untuk sukses, ia bingung dan ragu – ragu dalam menempuh jalan hidupnya. Tipe kedua adalah orang yang mencoba mencari tahu cara untuk sukses, ia juga bingung dan ragu – ragu dalam hidupnya. Tipe ketiga adalah orang yang tidak mengerti cara untuk sukses, ia tidak ragu – ragu, ia sukses. [2] Ketika keinginan kamu begitu besarnya maka semesta akan menuju ke arahmu dan membuka jalan. Namun jiwa – jiwa di dunia ini akan menantangmu, menguji kamu, seberapa siap kamu akan mimpi yang kamu inginkan. Karakter Santiago di dalam novel ini, menggambarkan pribadi yang sedang di dalam perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri di dalam pusaran ia dan orang lain, berkelana ke banyak tempat di dunia. Hidup kita ini seperti di tengah perjalanan, dan perjalanan itu adalah perjalanan milikmu, milikmu sendiri, duniamu sendiri, bersinarlah.

Untuk kawan lama, sahabat kita akan bertemu kembali, suatu waktu di suatu tempat, suka atau tidak suka dalam mimpi dan realitas, dalam ambisi dan kerendahan hati. Pada saat pertemuan nanti, akankah dirimu masih jujur dengan dirimu sendiri, ataukah hanya topeng – topeng yang terlihat seakan – akan dirimu adalah orang yang lain. Yang saya yakini, tidak ada orang lain, topeng itu hanyalah representasi dari diri kita sendiri, sahabat dan teman yang datang dalam satu waktu di satu tempat adalah cerminan dari diri kita yang terdalam, ia akan berjabat tangan, dan memeluk sebagai pertanda bahwa dirimu masih manusia biasa. Oleh karena tersenyumlah, kita ini sama – sama manusia biasa.

Di balik sendu dan cerianya hari natal kali ini di penghujung tahun 2017, diantara berbagai kado natal, dan kue natal yang diterima dan dikirimkan. Selamat Natal dan Tahun baru, semoga damai beserta kita semua. Selamat tidur untuk bangun kembali kawan !

[1] Outliers, Malcolm Gladwell. Tentang Matthew Effect. Biologist often talk about the “ecology” of an organism: the tallest oak in the forest is the tallest no just because it grew from the hardiest acorn l it is the tallest also because no other trees blocked its sunlight, the soil around it was deep an rich, no rabbit chewed through its bark as sapling, and no lumberjack cut it down befor it matured.” pp 20

[2] Ditulis oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist. There are three types of alchemist : those who are vague because the don’t know what they’re doing those who are vague because they do know that the language of alchemy is addressed to the heart and no to the mind…. (The third type is the one) who will never hear about the alchemy, but who will succeed, through the lives they lead, in discovery the philoshoper’s stone.” pp vii

[x] cover by Ryuichi Sakamoto – one of the best pianist in the world

Kategori
blog tulisan-wacana

Being Dominant ? phrasing cuala …

“you will never go wong in doing what is right,my young friend, never. if there is one thing I’ve learned about leadership siccess it’s that it lies at the intersection where excellence meets honor.” Robin Sharma

http://www.youtube.com/watch?v=LJ5aVIIf-9I
There is one phrase, “juara” meaning champion, some of my fellow staff named it as
“cuala”, one of the phrase that they often mentioned.  I’m curious because It’s weird,  it’s like jokes when people want to mock chinese language they use that alphabet C instead of J to express the accent by chinese people. I’m also curious where did they get that phrase. But anyway, this phenomena is interesting, because some of the people, tend to make it serious, as a way to get dominant, competitive, as a brotherhood, or as individual, allienate themselves, to show that being juara or cuala meaning that they are on top of others. Champion means a person who has defeated or surpassed all rivals in a competition, then what is rival, a person or thing competing with another for the same objective or for superiority in the same field of activity.

Norman Foster, a very talented and well organised architect was in the phase of phrasing cuala or being dominant as well. He did his first studio with team 4 together with Richard Rogers, Sue Rogers, and Wendy Foster. The kept arguing, in the discussion, the ideas could not be integrated, Rogers was keen to expression, the tectonics of building while Foster was more interested on building integration ,building performance, then they were separated in the early years of practice left both of them making their own architecture ideals. Foster went for foster associates, and Rogers for their own. They hired a flat in Hampstead, and the practiced in the other room, the office and living quarter was divided by wall partition. Foster almost went bankrupt while working for HSBC, he kept his office with small group of people in London. He sent Spencer, David, Moshan, Ken, and another people in total of 100 people to Hongkong, he thought that that was their best chance. [1]

“At the time we couldn’t understand why he (Norman) didn’t move to Hongkong with us, We had to keep briefing him on what had happened between visits, but in retrospect he was abolutely right. What Foster always had in mind was the long term future . When the bank was finished he did not want to find himself back where he had been before he won the hongkong competition. “ David Nelson

Then after the HSBC, he had to sacrifice people in his studio because he couldn’t afford them, one of the people even had to redraw some of the old projects, for publications that can attract more works. It was turbulent time for him.  He focussed on the ide of the projects nailed the idea one by one, one of the important milestone is HSBC tower, the firm had not worked on high rise project before, the reputation went up, and some of the next commision gave opportunities for giving more innovation, more ideas, and then perfecting mastery in building performance and integration.

Norman Foster is probably can be justified as cuala or championed for building performance and integration. He found design principle to make the building run more efficient, building system more efficient, and look more sophisticated, and cost more efficient. His chemistry with other people has been remarkable, he has been well known of his persuasive, and effort for making his projects realized. In the book by Deyan Sujic, Sujic wrote that, “Out of every eight competitions he takes part in, only one leads to completed building. And even when it ocmes to the successful projects where the fees get paid, ony one produces abuilding. yet he must not only design it, but lobby for it, help raise money for it, and do his best to sell it as well. … ” and then he continued, the most important message.

He embraced the ideas, not on his position, label, status, wealth. Civilized meaning to think about your positioning by contributing increasing other’s value. he is such open and well connected to his collegeaue, client, and friends. the cuala or champion title, comes from cuala or champion habit, that is connecting with other people, giving your self out to the world, rather than being introvert and detached from other people. Sudjic then wrote as a very beautiful conclusion ‘the process demands the self knowledge needed to stop the architect from failing into the banal trap of the fountainhead complex, losing all touch with reality in a pursuit of a megalomaniac fantasy.” [1]

Deyan Sudjic's work Norman Foster a life in Architecture https://aabookshop.net/wp-content/uploads/2013/09/foster-web-708x1024.jpg
Deyan Sudjic’s work Norman Foster a life in Architecture https://aabookshop.net/wp-content/uploads/2013/09/foster-web-708×1024.jpg

Ref :
[1] Norman Foster Works 1
[2] Sudjic Deyan, Norman Foster A life in architecture. pp 293

Kategori
blog tulisan-wacana

Dad Loves

161023 “Bagi seorang anak kecil, Ibu adalah cinta pertamanya, dan Ayah adalah pahlawannya.” Laurensia.

dscf9313
Pekerjaan Menggali tanah setinggi 5 m dibawah permukaan 0.00

“Yang, itu kata daddy basement bawah jangan dibuat, berbahaya nanti airnya bagaimana ?” pada waktu itu, Laurensia sedang bercerita ketika baru pulang dari rumah permata buana, kami biasa makan malam bersama setelah ia selesai praktek dan menjemput miracle di rumah opa, omanya. Diri ini menjawab “tenang saja, semua sudah direncanakan, soal air tinggal kita waterproofing dan pengecekan akan pengecoran.” Ayah saya sedang berusaha mengingatkan dengan caranya tersendiri, menyelidik dahulu, memberikan premise, tantangan, kemudian penyelesaian. Satu pagi ia bercerita mengenai gaya tekan air yang membuat beton kolam yang sedang dicornya di madura patah dan meledak, karena permukaan air yang dangkal. Singkatnya berat kolam renang lebih ringan daripada gaya tekan air, dirinya pun bertanya “apakah ini sudah diperhitungkan ?” Beberapa hari setelahnya, pada waktu kami berkunjung ke rumah permata, ia pun mengingatkan, “jangan lupa saluran listriknya outbow untuk di bawah tanah.”

Situasi seperti itu seringkali terjadi, dan hal – hal yang ditanyakan adalah hal yang mendasar, keamanan, kenyamanan tanpa perlu menjadi seorang avant garde. Avant-garde (pengucapan bahasa Perancis: [avɑ̃ɡaʁd]) berarti “advance guard” atau “vanguard”.[1] Bentuk kata sifat digunakan dalam bahasa Inggris untuk merujuk kepada orang atau karya yang eksperimental atau inovatif, , perlawanan terhadap batas – batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan. Bahasa Ayah saya ini adalah bahasa yang fundamental. Darinya saya belajar untuk menahan diri, memperkuat lagi pondasi, dasar pemahaman untuk menghindari akrobatik perubahan, yang hanya untuk menjadi sekedar berbeda.

dad

Ia juga yang sedemikian khawatir ketika diri ini memutuskan untuk pulang ke Indonesia, dimana hal tersebut menjadi kebanggaannya, sedih, pada waktu prinsip kita menjadi tidak sama. Senyumnya kembali timbul ketika pengakuan muncul dari karya – karya yang mulai terbangun yang berarti menandakan diri ini bisa bertahan hidup di kota Jakarta, ia terus menanyakan mengenai keuangan, apakah cukup untuk membayar gaji, cukup untuk hidup, cukup untuk menabung. Ia juga yang memberikan semangat, ketika satu exhaust fan merk Miele penyok titik karena pekerjaan kontraktor kitchen set satu vendor ternama, yang sebegitu saja luput sekejap . Ayah juga yang memberikan semangat untuk terus bertanggung jawab, bahwa tidak ada artinya apabila kamu untung tapi nama baik hilang, tidak apa – apa, nanti akan ada gantinya yang lebih baik lagi. Dari situlah diri ini belajar untuk bisa menarik garis positif di tengah turbulensi.

Ia juga yang memberikan pemahaman bahwa beton memiliki kelemahan akan retakan, dan potensi terhadap retakan waterproofing, oleh karena itu lapisan batu sangat penting untuk menjaga retakan tidak terjadi. Sebelumnya diri ini melihat lapisan batu dari aspek estetis untuk menghaluskan, dari ayah saya ia memberikan sudut pandang baru dan beberapa vendor waterproofing kemudian memberikan saran – saran mereka hanya untuk melihat satu material, yaitu beton. Tidak terhitung banyaknya dari beberapa material beton, kayu, besi, alumunium, plastik, bambu yang sedang dielobarasi, kita diskusikan, kita tarik benang merahnya, untuk kemudian dibangun di tempat.

Sedemikiannya ia tersenyum ketika diri ini menceritakan atap yang dipelintir di satu project di Telok Naga, memberikan kesan dinamis, naik dan turun, dan menunjukkan foto – foto padanya. Ia pun diam, tidak berkomentar apa – apa. Beberapa hari setelahnya diri ini kembali ngobrol dan bercerita mengenai kesulitan dalam fabrikasi atap yang tidak memeiliki sudut yang sama tersebut, memutar, terpelintir sedikit – sedikit dalam segmen yang menghubungkan titik – titik pertemuan rangka. Ayah pun bercerita mengenai bagaimana Wiratman membuat konstruksi atap bangunan istiqlal, mesjid yang didesain oleh Frederich Silaban, Atap itu didesain dengan pendekatan empiris dimulai dengan membuat maket, dan melakukan ujicoba, pra kiraan tanpa perhitungan yang solid karena konstruksi yang memiliki bentang lebar dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Ia pun menyarankan, “coba kamu buat maketnya”.

atap sekolah alfa omega di Telok Naga, model pertama menggunakan struktur bambu. Model kedua menggunakan struktur besi. Kedua model tersebut menggunakan curva parabloid untuk konstruksi bubungan atap.
atap sekolah alfa omega di Telok Naga, model pertama menggunakan struktur bambu. Model kedua menggunakan struktur besi. Kedua model tersebut menggunakan curva parabloid untuk konstruksi bubungan atap.

atap2.jpg
Prototype ke 2

Dari beberapa cerita demi cerita, dedemikiannya diri ini ingin membahagiakannya, membuatnya bangga, biasanya ia hanya diam. Dari Laurensialah diri ini bisa tau, mengenai komentarnya, ayah tidak pernah berbicara langsung, mungkin ia hanya ingin melihat kami anak – anak nya tidak sombong akan pencapaian dan terus berkarya. Dr. Aris satu dokter yang setiap minggunya datang ke rumah kami, dan rumah ayah saya untuk melakukan terapi ke keluarga kita, berbicara, “Ayah sering bertanya mengenai bagaimana Real kabarnya, apa masih sering terapi ? ” ia pun menjawab “ngga pernah, sibuk itu” kita yang membahasnya pun tertawa, dalam hati kecil saya, diri ini kembali diingatkan hal yang terpenting, kesehatan, waktu untuk beristirahat dimana kesibukan semakin padat dan Ayah sepertinya tidak pernah kehilangan itu. Sesambil berkerut Dr. Aris berujar setelah memeriksa diri ini “waduh gawat ini Real”. Dalam hati saya deg – deg an, sesambil iseng menimpali “kita perlu liburan dok.” kita kemudian tertawa.

whatsapp-image-2016-10-02-at-4-41-24-pm

Kategori
blog tulisan-wacana

My Garden of Dreams and Memory – Writings for Baccarat Indonesia

2010, Japan “Beauty surrounds us, but usually we need to be walking in a garden to know it.” – Rumi
1

The writing for Baccarat Indonesia was just published, it was written when we had trip to  Japan few years ago during summer studio, by Professor James Weirick. The trip was about travelling to 4 different cities (Kyoto, Nagoya, Tokyo, some remote area such as Shirakawa, Mt. Gifu, and new site of Imperial Hotel by Frank Lloyd Wright). The brief from Editorial team was about telling story about garden. So the story is about  the zen garden, and story about beautiful garden of versailes, the idea was about explaining garden of the east and garden of the west. Those are two different standing point, one is more about the logic, power of man, another is about the spiritual being, reflection to blend with nature.

Tinggalkan pikiran – pikiran dunia, merunduklah. Dengarlah suara teko air teh yang mendidih, dengarlah suara alam, burung – burung yang berkicau, suara air yang menetes, suara kaki orang yang berjalan, alam sesungguhnya berbicara, rasakan kesempurnaan dalam ketidak sempurnaan, mata ini menatap ke arah huruf kaligrafi jepang yang ada di depanku, kemudian wanita di depan ku berkata, prinsip ini melandasi budaya Jepang pada upacara minum teh, yaitu Simple dan Rustic.

Tak heran semua yang ada di Jepang terlihat begitu sederhana dalam kesehariannya meskipun jejak – jejak modernisasinya juga terasa dimana – mana. Konstruksi Detail – detail kuil yang terbawa dari jaman dinasti Tang China, berubah menjadi sederhana dan tampil apa adanya.dengan warna – warna alam. Berbeda dengan China yang menggunakan warna – warna cerah untuk kuil – kuilnya. Di Kyoto, kuil2 dijaga kelestariannya, di jaga kesempurnaannya setiap 30 tahun, mereka tetap berbicara dengan alamnya dengan kondisi yang terbaik untuk anak cucu mereka untuk melestarikan budaya. Hal ini juga terasa dalam retakan – retakan budaya yang ada di Ubud, Bali yang menyisakan secercah kenangannya akan kualitas spiritual yang masih tersisa.

Musim gugur, di bulan november, saat yang sangat indah dimana pepohonan mulai menunjukkan warna-warninya. Gingko dengan warna kekuning-keemasannya, Mapple degan warna merah kekuningannya, maupun Sakura yang berwarna kecoklatan. Berjalan – jalan ke 4 kota yang berbeda, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka. Tokyo, Nagoya, Osaka dengan densitas yang sangat tinggi. Karya maestro – maestro designer Jepang yang bertaburang antara kota2 ini menjadikan kota ini menarik sebagai objek arsitektural ataupun relasinya dengan tata ruang kota. Juga Kyoto, kota yang sangat indah dengan kuil2 shinto dan buddha, menunjukkan transisi dari artifisial ke alam.Dari Jepang aku belajar lebih mencintai budaya, alam dan kesungguhan untuk berkarya. Dari totalitas yang ada, belajar untuk mengembangkan rasio dan rasa, pikiran dan perbuatan untuk menghasilkan karya terbaik. Di balik rasio yang bisa didapatkan dari negeri barat, dari budaya timur kita mendapatkan pelajaran rasa dari Jepang, negara yang cantik, dan indah dalam keseharian.

Dari budaya barat dan timur, dari penataan istana Versailes dengan desain taman baroque yang simetris, dengan geometri yang teratur, sampai kepada taman Ryoanji di Kyoto, ataupun taman di desain tata lansekap Bali yang menghadirkan tanaman kamboja dengan berbagai jenisnya. Bahwa pada hakikatnya perencanaan ini untuk menyediakan bunga kamboja sehari – harinya yang dibutuhkan untuk berdoa den meminta rejeki ataupun untuk bersyukur akan rahmat yang diberikan. Bunga ini kemudian semerbak dengan wanginya yang harum. Dari sinilah kita mengetahui kegunaan kamboja di lain sifatnya yang mudah untuk dibiakan, dipotong pada pangkalnya ditanam di media tanah, ia pun akan hidup tanpa perlu air yang banyak.

Ataupun taman vertical pun muncul dalam lingkungan hidup kota yang padat, yang dipopulerkan oleh Peter Blanc, seorang desainer lansekap dari Perancis yang membuat eksplorasi yang sebenarnya sudah pernah ada sebelumnya, seperti yang ada di gua pindul, ataupun ada di lereng – lereng gunung, dengan memadukan tanaman tersebut di media yang vertikal, dimana hal tersebut dicoba untuk diterapkan dengan pengairan yang baik, dengan sistem yang bisa memadukan dengan keterbatasan tempat.

Taman, adalah sebuah anatomi yang penting dalam sebuah bangunan, layaknya sebuah badan manusia, taman adalah satu hal yang adalah tempat untuk mengembalikan 5 indra kita sebagai manusia, dengan mencium semerbak wangi bunga, atau wanginya daun pohon kayu putih yang bisa tumbuh di lahan yang tidak memiliki banyak air. Ataupun melihat hijaunya daun, merasakan hangatnya rerumputan di kaki kita, mendengar gemericik air dan suara burung – burung, ataupun mengecap manisnya buah – buah yang dihasilkan dari taman.

Di lain itu, taman tidak hanya memiliki parameter terhadap time and space, ataupun economy and ethic, untuk menunjukkan kemewahan, atau, sekedar tempat yang harus ada, atau function and aesthetic, tempat yang cantik – cantikan saja. Tamun taman bisa dikombinasikan sebagai tempat untuk pesta kebun, sebagai place and event, tempat yang merupakan kenangan bagi orang – orang yang datang.

Sederhananya di dalam sebuah rumah, dimana taman yang ini begitu indah adalah taman yang bisa membuat kita berkontemplasi secara puitis terhadap alam. Taman tidak hanya berfungsi sebagai estetika saja, atau sebagai resapan saja yang membuat bumi ini lebih hidup, namun taman ini bisa meninggalkan dan membawa sisi spiritualitas kita lebih tinggi, dengan daun – daun yang berjuta warnanya, dengan susunan batu yang ditata begitu cantiknya, dengan pemilihan tanaman yang diatur dengan kegunaan dan warna warninya. kenangan bagi keluarga mengingat hakikat kita sebagai manusia yang seutuhnya, melebur kepada alam untuk mengingat waktu kita semua yang sedang menghitung mundur, dan tidak perlu tergesa – gesa menikmati perjalanan ini.

“Jadilah pohon yang rindang”, kata om William Soeryadjaya, yang buahnya lezat bisa dinikmati siapapun. “untuk ke bintang, alami kerja keras yang luar biasa dan menjadi pohon yang memiliki tajuk yang lebar.”

This storywas inspired so much by om William, his humbleness towards life explained in his biography which make us  admires him. I remember talking to Ditri, managerial editor of Baccarat, time flies, relationship happened, it madr use started to think, and wake up in this beautiful world, beautiful landscape, how grateful we should be in this world.

3
Kategori
blog tulisan-wacana

Building Nation Legacy through Architecture Fundametal – writing for Baccarat Indonesia

“I cannot believe that the purpose of life is to be “Happy.” I think the purpose of life us to be useful, to be responsible, to be compassionate. It is, above all, to matter : to count, to stand for something, to have made some difference that you have lived at all.” Leo C. Rosten 

Oscar Niemeyer,  Lucio Costa, seorang arsitek dan  perencana kota  mendesain kota Brasilia dan bangunan pemerintahan di pusat kota yang berbentuk lambang negara Brazil, dengan lambang burung Garuda,yang memiliki langgam yang modern dengan bentuk – bentuk geometris sebagai cara untuk meniciptakan citra kota brasilia yang maju. Brasilia sukses dalam menciptakan citra kota yang indah dengan coretan –  coretan garis karya Oscar Niemeyer yang tegas dan monumental. Presiden Soekarno pernah melakukan hal yang serupa dimana ia yakin bahwa lingkungan tempat kita tinggal akan membentuk visi, sebuah konsepsi besar mengenai wajah kota dengan pengembangan – pengembangan mercusuar seperti hotel indonesia, senayan, gedung DPR-MPR yang didesain oleh Soejoedi. Disini terlihat bahwa membangun kota seringkali ditandai dengan merubah wajah kota dengan pembangunan arsitekturnya. Disini arsitektur kemudian menjadi satu cara untuk meningkatkan citra diri. Meskipun dibalik citra kota Brasilia yang indah, perencanaan jalan yang masih berorientasi pada mobil membuat kota tersebut tidak ramah terhadap pejalan kaki, sepi dari pejalan kaki, sehingga menyebabkan kualitas interaksi antar penduduk berlangsung introvert, berbeda dengan yang terjadi di San Paolo ataupun Rio Janeiro. Disinilah kita melihat apakah citra itu menjadi sedemikian penting ? semanis luarnya ? lalu apa itu kualitas yang elementer dan kualitas yang fundamental ?

3 tahun yang lalu kami mendesainkan Arum Dalu Resort untuk Pak Agus Supramono dan keluarganya. Resort berada di tengah hutan dengan jarak 2 jam di daerah membalong, selatan Belitung. Kesulitan yang tinggi mewarnai pengerjaan pembangunan seperti kesulitan akan kualitas tukang dan penyediaan tukang untuk membangun, juga kesulitan akan jenis bahan yang terbatas dalam pembangunan. Desain dimulai  dari renovasi 10 buah resort yang sudah dibuat sebelumnya. Keadaan selanjutnya tidak mudah karena kondisi infrasturktur yang terbatas,  dimana tidak ada listrik, tidak ada sinyal untuk bisa berkomunikasi, daerah yang masih hutan dengan jalan yang berupa tanah liat yang seringkali membuat kendaraan tergelincir dan perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Alhasil proyek diselesaikan dalam waktu 3 tahun dan sebagian besar waktu pembangunan dihabiskan tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Solusi terhadap krisis pada waktu pembangunan dipecahkan dengan sistem konstruksi prefabrikasi yang tinggi dengan cetakan material batuan sintetis yang dikhususkan dari batuan dan pasir setempat. Disini air ditampung untuk untuk digunakan kembali, dan efisiensi energi ditingkatkan dengan menggunakan energi dari penghawaan udara dan penggunaan energi matahari. Sistem konstruksi bangunan baru menggunakan bahan konstruksi alumunium yang ringan,  yang dibungkus anyaman rotan sintetis yang ada di setiap cabana yang ada di 10 villa. Pekerja didatangkan untuk menganyam rotan di tempat, tidak cukup disitu, pengolahan – pengolahan sampah, pembibitan tanaman melalui proses hidroponik dan aeroponik, dipadukan dengan sistem integrasi arsitektur ke dalam bangunannya menjadi cerita villa dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang modern secara fundamental dalam menangani krisis. Arsitektur kemudian muncul dalam anyaman, dan detail – detail yang terselesaikan baik dalam citra bangunan yang dialasi dengan hal yang fundamental.

Kemudian saya teringat kira – kira setengah tahun yang lalu, kami dipanggil kembali untuk mendesain galeri nasional, satu proyek yang kami menangkan dari kompetisi nasional kira – kira 2 tahun yang lalu, alasannya adalah tampak galeri nasional untuk di bagian bangunan tinggi 10 lantai kini menjadi 16 lantai dengan kotak kaca dinilai tidak merepresentasikan galeri nasional, panitia dan tim DED sudah mencoba untuk membuat kulit bangunan, berupa wayang, batik,tanam – tanaman  atau apapun itu yang berkaitan dengan kulit bangunan. Desain prinsip bangunan adalah kotak kaca yang dibungkus – bungkus dengan berbagai pendekatan.

Disinilah saya tersadar dalam pergumulan proses desain bahwa, Desain bisa didekati melalui dua buah kualitas, yang pertama desain yang bersifat gimmick atau elementer dan desain yang bersifat mendalam atau fundamental. Dimanakah paradigma desain kita sekarang ini ? apakah kita puas dengan bungkus – membungkus ? melihat satu bangunan dari kulitnya saja ?

Desain dari galeri nasional tentu saja akan merepresentasikan wajah bangsa Indonesia, sederhana namun indah, wajah yang tidak cukup puas untuk diam di kotak kaca, wajah yang tidak cukup puas untuk berhenti di satu titik, wajah desain yang penuh dengan lompatan. Oleh karena itu desain galeri nasional sebaiknya didekati dengan pendekatan yang fundamental terhadap karakter bangsa yang menghargai alam, keterbukaan, dan kesederhanaan melalui material dan sistem konstruksi yang  penuh dengan lompatan untuk menyelesaikan masalah kebutuhan ruang dan tidak hanya merancang tampak seperti wayang, atau diberikan elemen batik atau apapun itu yang berkaitan hanya di kulit yang lepas dari stigma kebarat-baratan atau ketimur-timuran.

Desain yang fundamental akan menarik elemen alam dengan lekukannya yang dinamis, untuk kemudian melangkah ke dalam satu titik yang penuh kejutan dimana secara filosofis langit akan menjadi tanah, dan tanah akan menjadi langit. Disitulah mungkin saya mendapatkan pelajaran bahwa hal – hal arsitektural bisa digunakan untuk membangun bangsa, untuk menemukan citra diri yang terhakiki dalam representasi bangunannya di bumi Indonesia tanpa dikotomi barat – timur. Identitas bangsa itu akan muncul dengan sendirinya melalui desain yang fundamental.bahkan alam pun tidak tegak lurus dalam tarikan garis – garisnya. Desain yang semoga menjadi fundamental pun mulai dicoretkan.

lalu

Ketika merefleksikan judul diatas membangun negeri melalui arsitektur, ada banyak sekali parameter untuk bisa membangun negeri melalui arsitektur dan tentunya desain yang baik akan menyelesaikan permasalahan secara fundamental, bukan elementer saja. MIchael Caldwell berkata ada 3 hal yang bisa dirasakan dari karya seorang master arsitek secara fundamental, ia membedah karya master arsitek Carlo Scarpa, Mies Van De Rohe, Frank Llyod Wright, dan Louis Kahn dimana ia menyimpulkan hal yang mendetail yang membuat bangunan yang diciptakan arsitek – arsitek tersebut menjadi master piece. Pertama bahwa arsitekturnya memiliki kepekaan terhadap lokalitas, vernakular, memakai sumber daya yang ada di lokasi secara kreatif lekat dimana bangunan itu berada seperti juga bumi Indonesia dengan berbagai potensi material dan budaya ketukangannya. Yang kedua bahwa arsitekturnya memiliki solusi untuk memuliakan sekitarnya, di kota dan di desa untuk menghubungkan fungsi secara kreatif dari hubungan manusia dengan manusia dan merayakan keindahannya melalui ruang -ruang terbentuknya dan elemen – elemen arsitekturnya , yang ketiga yang terpenting, bahwa arsiteknya berusaha dengan segala sumber daya yang dimilikinya, mendorong dengan kerja keras yang luar biasa untuk hasil yang semaksimal mungkin demi tercapainya kualitas bangunan yang dipercayainya.

Sejauh mata memandang, telinga mendengar, dan hati ini merasakan, saya pun rindu untuk langkanya fundamental arsitektur, dan mulai untuk membangunnya setidaknya dari tulisan ini.

Brrrrrrrrrrr [dingin datang]

Kategori
blog tulisan-wacana

Traditional Home in Modernity – writing for Baccarat Indonesia

Di tahun 1990 Pameran AMI [Arsitek Muda Indonesia] menandai satu titik kritis dimana desain yang rasionalis ataupun yang sering disebut – sebut sebagai gaya minimalis menjadi sejarah di dalam arsitektur Indonesia. Desain rasionalis ditandai dengan garis – garis yang geometris, penuh pertimbangan untuk menjawab kebutuhan fungsional dan estetika yang tinggi. Hal ini menandai pergeseran nilai – nilai tentang apa yang dianggap baik oleh Arsitek Muda Indonesia sebagai reaksi terhadap menjamurnya rumah bergaya mediterania, klasik, ataupun tradisional yang menjamur pada waktu itu. 14 tahun kemudian, setelah pameran AMI tersebut, rumah – rumah yang rasionalis ini menjamur dimana – mana, gaya rasionalis menjadi satu tren pasar yang sensual untuk disukai oleh masyarakat. Hal ini ditambah dengan perubahan gaya hidup orang – orang yang lebih individual juga terjadi hal ini ditandai dengan tendensi berkurangnya rumah nukleus, rumah yang terdiri dari beberapa generasi di dalamnya. Mungkin 20 tahun yang lalu kita masih biasa dengan tradisi bapak ibu, kakek nenek, cucu cucu tinggal di dalam satu rumah. Sebuah situasi dimana canda gurau, tegur sapa terjadi secara dekat di dalam satu rumah yang ditinggali bersama – sama. Untuk ini kita bisa catat adanya pergeseran gaya hidup, pergeseran budaya, pegeseran dari tradisional menjadi modern, pergeseran dari komunal menjadi individual. Tergerusnya rumah nukleus ini menjadi satu hal yang patut untuk dicatat dan tumbuhnya rumah – rumah berukuran lebih kecil menjadi pertanda akan satu perubahan yang nyata. Pertanyaannya kemudian untuk siapa ? dan untuk apa ? satu rumah itu ada.

Untuk siapa ?

Romantisme akan keluarga yang menyatukan hubungan menjadi satu dasar utama dalam membina kesuksesan. Orang yang tinggal bersama – sama, menurut penelitian di Amerika orang – orang mengalami interaksi manusia dengan manusia terbukti akan hidup lebih lama. Catatan ini ditujukan sebagai ada korelasi dari gaya hidup / budaya ke dalam satu parameter yang hakiki, seberapa lama kita hidup, ternyata semangat kebersamaan [spirit togetherness] yang menjadi satu ciri khas yang baik dalam masyarakat kita, ternyata memiliki harta yang terpenting dalam hidup setiap orang yakni, seberapa lama kita hidup atau seberapa banyak usia yang kita punya.

Tren meningkatnya nilai individualistis ini di kota – kota besar seperti Jakarta mungkin juga dipicu oleh kurangnya tempat untuk berekspresi dan berkumpul, sehingga ada dimensi seperti ini yang mempengaruhi kualitas manusia yang menghargai arsitektur yang menghargai kebersamaan. Di tengah – tengah mulai berbenahnya Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Bogor, dan kota – kota lain. Kita di hadapkan kepada pertanyaan mengenai rumah, satu kumpulan ruang tempat kita menghabiskan sebagian waktu di dalam hidup kita, nilai apakah yang akan kita pupuk didalam rumah tersebut. Tentu saja banyak rumah yang memiliki kualitas tinggi, kualitas tinggi itu menerobos kungkungan tradisional dan modern. Ia mampu tegak berdiri di tengah kungkungan permintaan jaman, sehingga lambat laun rumah tersebut dicintai oleh orang – orang yang menghuninya atau bahkan hanya sekadar mengunjunginya karena kualitas yang terdapat didalamnya.

Untuk apa ?

Buku yang ditulis oleh Bernard Rudofsky, Architecture Without Architects bisa menjadi satu rujukan dimana menjelaskan mengenai beberapa karya rumah tinggal di tungkwan Honan, Cina misal, adalah satu rumah di bawah tanah sebagai satu usaha untuk menghindari udara dingin dan terpaan badai taufan dimana temperatur bisa turun drastis, ataupun rumah – rumah petak di Hdyrabad Pakistan dengan fitur cerobong angin untuk mendinginkan udara pada ruang di dalam dimana udara panas mengalir ke atas karena kelembapan yang rendah. Terdapat satu garis yang menyatukan beberapa bangunan yang dibahas yaitu bangunan yang diciptakan adalah satu jawaban akan kebutuhan mendasar manusia. Hal ini juga terlihat dalam rumah – rumah adat di indonesia misal rumah Batak Karo, Toba dimana bangunan dibuat panggung untuk menghindari binatang buas dan menjaga kesehatan karena konstruksi yang tersedia adalah konstruksi kayu. Ataupun Keben yang ditujukan sebagai lumbung padi yang berupa rumah panggung sekaligus menunjukkan simbol kekayaan materi pemilik rumah tersebut.

Rumah – rumah tradisional Indonesia juga merupakan respon terhadap satu kebutuhan mendasar untuk hidup nyaman dengan keterbatasan material, teknik membangun yang ada pada jamannya. Di era modern ini dimana kebutuhan mendasar manusia sudah tercukupi kemudian apa lagi yang harus dijawab oleh arsitektur tropis Indonesia. Abraham Maslow dalam penjelasan mengenai teori bagaimana alam semesta mencukupi kebutuhan manusia, bahwa ternyata kebutuhan yang paling utama adalah kebutuhan untuk mengekspresikan diri. Di titik ini, esensi apa yang mau dijawab dalam desain menjadi tidak sederhana lagi, ia menjadi kompleks karena terkait dengan pemaknaan untuk apa kita hidup dimana hal ini berbeda dari satu orang dan orang yang lain. Keberagaman ini yang tercampur aduk dalam modernitas sekarang ini, dimana orang mempertanyakan batas seberapa tradisional dan seberapa modern satu desain, dua hal yang bertolak belakang. Ingin terlihat baru juga terlihat lama, ingin terlihat berat juga terlihat ringan, ingin melihat masa lalu juga melihat masa depan.

Lalu ?

Manusia memang seakan – akan bingung dengan apa yang diinginkan dengan segala keinginannya terus menerus berubah, tradisional menuju modern. Menurut saya semuanya ini dimulai dari satu usaha untuk membuat desain yang lebih baik daripada sebelumnya. Perlu kita lihat rumah Millard karya dari Frank Llyod Wright seluas 220 m2 untuk Alice Millard di tahun 1906, kira – kira hampir seratus tahun yang lalu. Rumah yang didesain untuk menonjolkan sisi ketukangan [craftmanship] dengan material beton yang dicetak menyerupai motif sehingga menjadi tema dalam perancangannya selain pengalaman ruang yang merespon sisi selatan yang terbuka terhadap matahari mengingat posisinya di daerah Amerika Utara yang ada di Lintang Utara sehingga matahari selalu datang dari arah selatan. Frank llyod Wright ingin membuktikan bahwa ia juga bisa berkreasi dengan material yang sederhana yaitu beton. Rumah ini menjadi satu penanda di Los Angeles dan menjadi satu karya yang menjadi contoh akan membuat satu hal yang belum ada di daerah tersebut sebelumnya yang memecahkan hal – hal mendasar seperti pentingnya sinar matahari, udara yang masuk di pori – pori motif beton yang ada sampai kepada hal – hal yang bersifat keindahan, dibanggakan oleh orang – orang lain, tidak hanya pemiliknya. Kalau misalnya desain Millard house sudah dibangun sejak tahun 1923, lalu kita di tahun 2014, ditanyakan dengan satu pertanyaan, bisakah kita membuat yang lebih baik lagi. Mengenai rumah tradisional di jaman modern ini, saya kemudian ingat satu kalimat dari Daniel Liebeskind, “To provide meaningful architecture is not to parody history but to articulate it.” Be Authentic, be honest with yourself dan ajakannya kemudian adalah membuat karya yang lebih baik dari masa lalu.

Screen Shot 2014-08-29 at 1.04.08 PM

Diskusi di OMAH, mengenai Architecture Without Architect.

Tulisan ini ditampilkan di Baccarat edisi akhir tahun 2014

Kategori
blog tulisan-wacana

Empati

Jakarta 16 Maret 2014

“Someone secretly bury a berry in the side road and when a small sprout grows, the secret code is the passport, to the forest a wonderful journey will begin – Joe Hisaishi”

Di awal tahun 2014 di bumi pertiwi ini, mengenai arsitektur, dunia yang semakin hiruk pikuk, responsif, dinamis dengan informasi yang begitu banyaknya membuat diri ini berpikir apakah diskursus yang terjadi dalam hati yang pribadi, tempat perenungan untuk berbuat, mendesain masih terjadi dengan dalam atau sungguh – sungguh sekarang ini, di masa yang serba cepat ini ? Loncatan – loncatan inovasi arsitektur menjadi suatu gerakan politis dimana kedalamannya dipertanyakan sehingga kejujuran pun lebih lebih lagi dicari – cari begitu gencarnya dengan provokasi yang gencar di berbagai media informasi. Lucunya ada yang menjawabnya dengan pertanyaan retoris yang menimbulkan kesan sinis, kurang berempati dengan generalisasi berlebihan, juga penuh alasan sebab akibat. Saya pikir hal tersebut tidak akan menimbulkan empati yang mendalam dari manusia lain, namun ironilah yang muncul akibat salah membaca pesan ataupun menyesatkan logika. Saya pun ingin ikut menuangkan pendapat.

Kita sebagai arsitek perlu berbuat inovasi terhadap disiplin ilmu kita yang terdiri dari berbagai macam olah ruang, olah rasa. Olah ruang ini tidaklah seseksi gerakan politis, atau ideologi berlebihan seperti yang dicari oleh orang – orang filsuf, namun akan memberikan kenyamanan pada pengguna, berfokuslah kepada klien anda, apa kebutuhannya, luangkan waktu untuk merenungkannya dan jawablah, renungkanlah lagi, dan jujurlah pada diri sendiri. Arsitek adalah profesi yang melayani dengan empati. Dari situlah ia akan dihargai dengan dasarnya yang kuat, fondasinya yang matang seperti bangunan yang kuat diterpa kemajuan jaman dengan kepiawaian yang teruji [sense of mastery].

Perumusan teori mengenai kebutuhan manusia ini sudah bertumpuk banyaknya, hanya saja solusi yang kreatif dari arsitek untuk memecahkan masalah kebutuhan ini yang ditunggu tunggu dengan berbagai kompleksitas bangunan yang dirancang dengan isu – isu pemakaian bangunan dengan performa yang sebaik – baiknya. Kultur budaya manusia ini akan berubah lebih baik ketika olah ruang memang memiliki maksud yang baik, memiliki nilai guna, memiliki inovasi yang mencerahkan dengan kebolehan desain yang lebih baik dari masa sebelumnya. Dan semoga saja bentuknya seksi dan mengundang decak kagum sesama kita, disinilah olah rasa itu mulai muncul, rasa yang disukai sesama, terkadang rasa itu bisa angkuh, sombong, ataupun rendah hati ataupun sederhana, itu adalah hasil proses panjang berpraktek, dan itu sah – sah saja ditengah anggapan miring orang lain yang terkadang merupakan gerakan politis yang berdasarkan emosi tanpa empati. Sehingga yang muncul adalah cita rasa yang otentik [Authenticity] dari pribadi arsitek itu sendiri.

Ketika kepiawaian itu sudah teruji kemudian pembuktian empati ini pada dasarnya adalah pembuktian untuk membuka diri terhadap etika yang terdalam dari pribadi arsitek. Yang kalau – kalau pembacaan arsitek ini sudah sedemikian dalam, dicaplah ia sebagai sang radikal ataupun sang konservatif secara sendirinya, pembawa angin perubahan dan ketentraman arsitektur yang lebih baik.

Lalu lambat laun mungkin profesi arsitek akan semakin dihargai dengan sendirinya sebagai salah satu penentu peradaban jaman.

Keyakinan, empati yang lebih luas

Di tengah – tengah gerakan politis diatas. Saya mempertanyakan keyakinan yang semu ? Satu saat diri ini bertemu satu kawan lama, untuk mengingat masa – masa lalu, bahwa manusia itu berubah. Ada satu orang teman yang sudah berubah keyakinannya akan jaman yang sudah berubah, ada juga teman yang sudah semakin matang dengan kehidupannya dan keyakinan hidupnya. Mengenai keyakinan, diri ini sendiri masih mencari arti kehidupan yang hakiki tanpa menghakimi, yang terbaik yang bisa diberikan untuk sesama ini. Diri ini tidak pernah sekalipun berkata diri ini seorang katolik, ataupun katolik yang pernah membantu jemaat kristen untuk melakukan perjamuan, ataupun membantu panti asuhan muslim yang membutuhkan, ataupun membantu teman – teman Budha ataupun Hindu. Keyakinan itu ada untuk memperbaiki kehidupan manusia, namun relativitas yang ada inilah yang membuat pemahaman dan persepsi setiap orang tidak sama. Banyak juga pribadi – pribadi yang memanfaatkan agama demi dirinya sendiri.

Diri ini dibesarkan di universitas yang majemuk, plural, dengan romantisme kegiatan berhimpun yang heterogen dengan keyakinan, ideologi, pemikiran yang berbeda – beda. Namun saya ingat orang – orang yang didalamnya adalah para pemimpi yang ideal, mendambakan hidup bersama yang lebih baik. Dalam canda, senda gurau, justru saya menemukan cinta kasih, Tuhan itu di dalam diri teman – teman yang muslim, Adalah Adi namanya, Xenia namanya, ataupun Yulia namanya, ketiga orang berjilbab  ditambah teman – teman lain yang musim yang teguh untuk melakukan sholat 5 waktu juga mengajarkan arti persaudaraan yang tulus dan begitu dalam membekas, dalam teman – teman kristen yang tulus melakukan perjamuan ketika jumlah mereka hanya kurang dari 7 orang saja mengajarkan semangat tulus memuji Tuhan, ataupun teman – teman Hindu yang teguh setiap pagi berangkat ke pura untuk berdoa dan mendoakan semesta yang lebih baik sebelum memulai pekerjaan mereka, ataupun cinta kasih tulus tanpa pamrih yang ditujukan oleh orang – orang budha dengan merawat viharanya dan menahan dirinya. Mereka mengajarkan perbuatan cinta kasih yang tulus untuk sesama.

Saya mendoakan selalu teman – teman masa lalu – masa depan, teman – teman terkasih untuk bisa teguh menyebarkan tindakan cinta kasih kepada sesama.

Kategori
blog tulisan-wacana

Tumbuh perlahan – lahan

Lembang 3 November 2012

“The only way to be happy is to love. Unless you love, your life will flash by.” Mrs. O’Brien

Pagi ini diriku ada dalam satu perjalanan ke Bandung, kota yang memiliki aura menyejukkan, sabtu ini diri ini bisa rileks sejenak dari kesibukan yang menerpa 5 hari kemarin. Hari ini udara sedikit berkabut dan sejuk, matahari seakan – akan menyembunyikan dirinya dibalik gugusan awan tebal yang menyelimuti perjalanan kami.’ Sambil diri ini tertawa membayangkan saat saat kecil kami.

Diri ini berpikir, sebenarnya ada satu sisi dalam diri yang menyukai hal yang sama berulang – ulang, ingin itu – itu saja, baju itu – itu saja, melakukan yang itu – itu saja. Aku dilahirkan di Surabaya, dengan 4 orang bersaudara, kami lelaki semua. Saya pikir saya yang paling jelek diantara saudara – saudara kami.

Ayah adalah seorang kontraktor bangunan, ia insinyur sipil, dan ibu sendiri adalah seorang ibu rumah tangga. Aku ingat dulu diri ini tinggal di daerah Dukuh Kupang, daerah perumahan yang sepi di gang 13, kami punya pohon mangga yang sering kuambil mangga mudanya untuk sekedar dimakan dengan kecap manis di genteng rumah keluarga kami. Merasakan panasnya talang seng ketika diinjak di terik matahari, ataupun menggergaji triplek menjadi pedang kayu menjadi satu perkenalan dengan arsitektur. Di gang ini aku belajar berbicara , menyapa, bergaul anak – anak yang lain, dengan tetangga, tegur sapa dengan tetangga sering dilakukan, pada waktu itu diri ini ingat, permainan yang populer adalah bermain sepatu roda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pada waktu itu akumasih berusia 9 tahun, saat itu adalah saat dimana diri ini ada di satu lingkungan yang baru, Jakarta, bertemu dengan teman -teman yang baru. Diri ini ingat, dengan logat bahasa masih khas suroboyo, medok, sama sekali tidak tahu dengan budaya kota yang berbeda, budaya pergaulan yang berbeda. Saya heran kenapa kalau guru bertanya, kenapa saya yang selalu tunjuk tangan, padahal di Surabaya dulu, kami berlomba – lomba untuk tunjuk tangan, sampai pak Martin satu guru IPA kami bosen melihat diri ini tunjuk tangan. Aku juga ingat ada beberapa orang yagn mengusili terus menerus sampai membuat tidak tahan. Mungkin mereka tertawa juga melihat satu makhluk aneh yang baru, aku waktu itu kelas 4.

[laurensia adalah orang yang mengusiliku ketika aku ada di kelas 4 SD, Tuhan memang punya kejutannya yang tidak pernah diduga]

Atau saat – saat dimana diri ini, sedang senang – senangnya berolahraga tennis meja, dan hampir sebagian besar waktu dihabiskan untuk berlatih sehingga nilai – nilai pelajaran menjadi turun. Ada satu kesenangan yang baru. Atau saat – saat penuh tanda tanya mengapa diri ini selalu jalan – jalan ke satu gedung untuk memotretnya terus menerus setiap pulang berkerja di hari jumat sewaktu ada di Singapore dan London dengan orang – orang yang berbeda – beda, atau saat – saat bermain bulu tangkis dengan teman satu SMA yang dilakukan terus menerus.

Semudah ke satu tempat yang sama terus menerus, melakukan hal yang sama terus menerus, seperti tukang kayu yang belajar menggergaji, tukang batu yang belajar untuk memplester satu permukaan, atau seorang pandai besi yang belajar untuk menempa satu karya. Mereka melakukannya terus menerus, tanpa henti, sampai kamu menjadi tinta, kamu menjadi kertas, semua menyatu dalam nafas, dalam jiwa. Diri ini ingat kehati – hatian wanita terbaikku ketika berkerja, satu bersatu gigi itu dibersihkannya, diobatinya, ada teori – teori yang dijalaninya, seminar – seminar yang diikutinya. Semua pelajaran , latihan itu memerlukan waktu hanya untuk menjadi lebih mampu.

Memang pengalaman – pengalaman di tempat yang baru akan selalu menjanjikan pengalaman yang tak ternilai, berhadapan dengan orang – orang baru, wajah – wajah baru, budaya – budaya baru.

Kayu kelapa terbaik ada di daerah Menado, Sulawesi, karena ia tumbuh secara perlahan – lahan, bukan hibrida, bukan dikatalisasi. Seperti juga kayu bengkirai yang habitatnya ada di Kalimantai atau sama dengan damar laut yang berasal dari Sumatra. atau kayu jati Belanda yang memang tumbuh perlahan – lahan. Seratnya keras, matang, tua, karena teksturnya yang padat, rayap pun enggan menghampiri. Memang di jaman yang kompetisinya sedemikian tingginya menuntut kita selalu untuk berpikir lebih kritis, lebih cepat, lebih dan selalu lebih baik.

Kemudian diri ini teringat pesan dari pak Tisna Sanjaya, untuk tumbuh perlahan – lahan, seperti pohon, berakar kuat, bertajuk rindang, menjanjikan kehidupan untuk makhluk yang diteduhinya melalui alam yang memberikan air, sinar matahari, dan mineral yang didapatnya. Mungkin dalam kehidupan ini kita semampu kita perlu untuk meneduhi seteduh – teduhnya dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran kita.

Hari ini diri ini tenggelam dalam romantisme kegiatan berulang – ulang yang itu – itu saja, dan memang inilah yang kunikmati, beserta Laurensia, Keluarga, dan teman – teman terbaikku yang ditemui sepanjang hari..

“Help each other. Love everyone. Every leaf. Every ray of light..”

Kategori
blog tulisan-wacana

Perjalanan Membuka Mata

Tulisan ini dipublikasikan untuk Majalah Ruang edisi ke 4

Saya tiba di NewYork dengan kapal laut sebagai seorang remaja, imigran dan seperti orang orang yang lain, saya terkesan dengan patung liberti dan horizon gedung gedung kota manhattan. Saya tidak pernah melupakan kesan tersebut. Dan proyek ini adalah mengenai kesan saya yang tidak pernah saya lupakan.

Itulah paragraph yang dibuat Daniel Liebeskind dalam narasi pembuka skema Word Trade Center yang dia menangkan dalam kompetisi Internasional yang diikuti oleh 5200 orang.

Dalam perjalanan hidupnya, seorang arsitek belajar untuk merasakan, mengatur, ataupun mencipta ruang dimana kemampuan tersebut seiring berjalannya waktu akan semakin terasah. Diskusi akan menjadi dalam apabila kita membahas latar belakang arsitek per-arsitek atau desainer per desainer. Desainer arsitektur atau architectural designer, ini padanan istilah apabila seseorang tidak mempunyai sertifikat sebagai seorang arsitek. Kita tidak akan membahas mengenai legal seorang arsitek namun latar belakang factual. Kita berhipotesa bahwa ada satu benang merah yang dialami oleh para arsitek tersebut. Benang merah yang bisa membuat kita belajar, tulisan ini pun adalah menjadi dasar untuk thesis selanjutnya, batu pondasi kalau ia bisa dianalogikan dalam satu bangunan.

Model lain yang cukup dikenal diambil dari 7 arsitek yang mempelopori deconstructivist architecture, dimulai dari sebuah pameran di museum of modern art yang dikuratori oleh Philip Johnson. Frank O Gehry peraih pritzker prize di tahun 1989. lahir di Kanada kemudian berangkat untuk bersekolah di University of Southern California school of architecture dan meneruskan di Harvard Graduate school of design. Lain dengan frank o gehry, Zaha Hadid lahir di Badhdad, belajar di bawah bimbingan Rem Koolhass di Architectural Association (AA) di London, berkerja di OMA kantor Rem Koolhas selama beberapa tahun sebelum ia menjadi partner dan membuka kantor sendiri. Salah satu figur lainnya dari 7 arsitek tersebut, Rem Koolhas lahir di Roterdam di tahun 1944, belajar di Architectural Association London sebelum mendirikan OMA bersama Elia, Zoe Zenghelis dan Madelon Vriersendrop. Kemudian arsitek lainnya Bernard Tschumi lahir di Lausanne, Switzerland, belajar di paris dan ETH Zurich dimana ia memenangkan kompetisi parc de la villete di tahun 1982. Arsitek – arsitek tersebut memiliki satu pola yang sama. pola hidup nomaden, berpindah – pindah untuk belajar kemudian terkulminasi dalam satu titik di hidupnya. Mereka lahir di suatu tempat untuk kemudian belajar atau berkerja di tempat yang memiliki budaya yang berbeda termasuk 2 arsitek lainnya Wolfgang Prix yang mendirikan coop himmeblau bersama Helmut Swiczinsky and Michael Holzer dan juga Peter Eisenman sebagai salah satu dari 7 arsitek tersebut. Meskipun ada arsitek – arsitek jenius yang memang bisa menetap di satu tempat dan kemudian benar – benar mendalami budaya, material lokal, dan pengetahuan membangun yang kemudian disintesiskan menjadi karya terbangun yang orisinal namun dari pengamatan singkat, perjalanan nomaden tersebut memberikan satu dampak signifikan dari perkembangan karir tiap – tiap arsitek. Pengembangan karir tersebut bisa dilakukan dengan berjalan – jalan, bersekolah, ataupun berkerja pada biro luar negeri, sebuah perjalanan nomaden untuk membuka mata.

Architectural association pada latar belakang dengan paviliun salah satu karya mahasiswanya, http://www.dezeen.com/2008/07/15/swoosh-pavilion-at-the-architectural-association/

Patut dicatat bahwa krisis ekonomi ada pada tahun 1987 dan 1988 yang kemudian berulang setiap 10 tahun dalam siklus krisis ekonomi. Krisis di tahun 1987 ini berkaitan dengan gerakan Dekonstruksi yang digaungkan pada akhir tahun 1980. Ada sebuah celah kesempatan setelah krisis moneter. Ketika ekonomi sudah mulai pulih, kesempatan – kesempatan bisnis datang dan peluang untuk arsitek untuk berkarya menjadi besar. Hal ini juga berlaku setelah krisis 1997 – 1998 dimana setelah perekonomian pulih, banyak biro – biro baru yang kemudian memiliki portfolio yang unik dan baru pada jamannya dilengkapi dengan brand marketing yang mampu diserap pasar, seperti kemunculan BIG, Lava, REX. Juga di Indonesia terdapat satu biro seperti Urbane Indonesia yang karyanya progresif dalam waktu kurang dari lima tahun menyabet peringkat 10 besar BCI Asia dan memenangkan beberapa kompetisi nasional. Uniknya orang – orang di belakang BIG, Lava, REX, atau Urbane Indonesia mengalami sebuah perjalanan dalam hidupnya yang kurang lebih sama dengan 7 arsitek desconstructivist. Yakni kesempatan untuk belajar , bekerja, dan berjalan – jalan di sebuah tempat yang berbeda budayanya dengan tempat kelahirannya dan mengalami hidup nomaden.

Satu Arsitek yang patut dicatat karena tidak memiliki latar belakang formal pendidikan arsitektur adalah Tadao Ando, peraih pritzker prize tahun 1995. Jauh sebelum menjadi arsitek ia adalah petinju, ia menghabiskan waktu – waktunya untuk mempelajari arsitektur barat dengan berjalan – jalan berkeliling dunia, menjadi nomaden dalam rentang umurnya 24 sampai dengan 28 tahun. Dalam kemiskinan ia bepergian ke moskow, finlandia, spaniel, italia, Marseilles, Madagascar, India, paris, vienna dimana ia melihat karya alvar alto dan michaelangelo sebagai sumber inspirasi. Ia kemudian ia memberanikan dirinya membuka prakteknya yang berkonsentrasi dalam perancangan rumah kecil dan sederhana. Di usia 35 Tadao ando kemudian mendapatkan penghargaan tahunan dari institute arsitek di jepang, sebuah penghargaan yang diberikan pertama kalinya untuk proyek rumah berskala kecil sebesar 65 m persegi. Pengalaman belajar menikmati arsitektur dari tempat – tempat di luar jepang dalam rentang waktu 4 tahun memberikan pengaruh yang besar dalam kesuksesannya tadao ando. Proyek nya berkembang dari rumah kecil menuju bangunan publik seperti museum ataupun baungan komersial tidak hanya di Jepang namun tersebar di Texas sampai Perancis dan Abu Dhabi.

Satu Arsitek yang patut dicatat karena tidak memiliki latar belakang formal pendidikan arsitektur adalah Tadao Ando, peraih pritzker prize tahun 1995. Jauh sebelum menjadi arsitek ia adalah petinju, ia menghabiskan waktu – waktunya untuk mempelajari arsitektur barat dengan berjalan – jalan berkeliling dunia, menjadi nomaden dalam rentang umurnya 24 sampai dengan 28 tahun. Dalam kemiskinan ia bepergian ke moskow, finlandia, spaniel, italia, Marseilles, Madagascar, India, paris, vienna dimana ia melihat karya alvar alto dan michaelangelo sebagai sumber inspirasi. Ia kemudian ia memberanikan dirinya membuka prakteknya yang berkonsentrasi dalam perancangan rumah kecil dan sederhana. Di usia 35 Tadao ando kemudian mendapatkan penghargaan tahunan dari institute arsitek di jepang, sebuah penghargaan yang diberikan pertama kalinya untuk proyek rumah berskala kecil sebesar 65 m persegi. Pengalaman belajar menikmati arsitektur dari tempat – tempat di luar jepang dalam rentang waktu 4 tahun memberikan pengaruh yang besar dalam kesuksesannya tadao ando. Proyek nya berkembang dari rumah kecil menuju bangunan publik seperti museum ataupun baungan komersial tidak hanya di Jepang namun tersebar di Texas sampai Perancis dan Abu Dhabi.

Salah satu karya tadao Ando, Church of light

Kalau kita lihat dari lokasinya bahwa Indonesia adalah Negara khatulistiwa dengan 2 musim yang suhu udaranya konstan sepanjang tahun. Sebuah Negara yang sangat beruntung dengan posisinya di equator dan memiliki tanah yang subur dengan kekayaan hutan tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Siapapun akan mengetahui Hal Ini sungguh berbeda dengan kota, letak architectural association, sebuah sekolah avant – garde penghasil arsitek kelas dunia yang ada di London, Inggris dimana cuaca yang ada tidak bersahabat dengan terpaan angin kencang sehingga musim dingin kita selalu merasakan wind chilled effect, dan sinar matahari hanya datang untuk menerpa suhu diatas 20 derajat hanya tidak lebih dari 4 bulan dalam satu tahun. Ada satu benang merah dari bagaimana letak geografis dan kondisi iklim satu Negara bisa memberikan sebuah masa adaptasi yang luar biasa, sense of survival saya rasa. Hidup di luar negeri menjanjikan pola hidup yang baru, lepas dari kultur bangsa kita sebagai bangsa Indonesia. Pola Hidup tersebut mengasah pola berpikir untuk bisa beradaptasi yang kemudian memberikan satu titik positif luar biasa dalam pengembangan diri pribadi. Selain itu Dalam percampuran budaya di tempat yang baru , para arsitek juga mendapatkan jaringan pertemanan yang luar biasa yang kadang kala akan saling terhubung dalam jaringan bisnis . Bjarke angels pernah berkerja di MVRDV, Zaha Hadid yang pernah berkerja di OMA, Prince Joshua Ramus yang pernah berkerja di OMA, Ole Schrehen yang juga pernah berkerja di OMA sebelum mereka membuat biro sendiri. Dalam Ikatan Arsitektur Indonesia prose’s untuk mendapatkan sertifikasi arsitek dibedakan menjadi 3 tahap, pratama dengan 3 tahun pengalaman, madya dengan lima tahun pengalaman, dan utama dengan 12 tahun pengalaman . Pengalaman tersebut menunjukkan kematangan arsitek. Seorang arsitek mengalami program sarjana, bachelor arsitektur di Indonesia 4 tahun ataupun di luar negeri selama 3 tahun, dimana rata – rata akan lulus di usia 23 sampai 25 tahun. Setelah seorang arsitek itu lulus ia membuka mata dan memulai perjalanannya.

Baik atau buruk hidup di luar negeri, menjanjikan satu fase dalam hidup yang signifikan dalam perkembangan karir seorang arsitek. Belajar untuk memulai perjalanan membuka mata.

Bibliography
1. OMA official Website, http://www.oma.eu, 2.Jodiiou Philip, New Forms, 1990 3.http://architecture.about.com/library/bl-libeskind-statement.htm
2. skema WTC dari Daniel Liebeskind, image source http://www.september11news.com/1_Libeskind_LMDC_3.jpg

Kategori
blog tulisan-wacana

The secret is … ? , catatan singkat #1

Diri ini teringat betapa sudah beberapa puluh anak – anak yang ada di studio, dari dahulu hingga sekarang menemani malam – malam pembuktian yang panjang dan jam – jam workshop yang melelahkan. Saya seringkali menanyakan apa saja yang akan membuat orang- orang terbaik untuk tinggal di studio.  Professor Danisworo membisikkan suatu waktu di acara archiworx, “Realrich, arsitek itu dasarnya adalah makhluk yang independen. “Pada saat itu pak Danis bercerita mengenai pengalamannya pada waktu membentuk Encona dan PDW dan dikelilingi oleh orang –orang terbaiknya yang datang dan pergi.

Pada waktu itu diri ini diselimuti pertanyaan kira – kira apa yang membentuk biro arsitek ini seharusnya. Budaya apa ? berpikir melalui kepala ini tidak keluar juga ? merasakan dengan hati juga tidak ada hasilnya ? menurut saya cerita ini justru muncul dengan adanya satu pencarian, refleksi mengenai apa sih rahasianya. Apa sih rahasia yang terbaik untuk meracik satu studio desain, selain tentu saja pengetahuan membuat ruang penuh filosofi, dan functionally beautiful dengan dimensi akan aktivitas dan performance yang terbaik dari aktifitas tersebut. Salah satu kunci bertanyalah pada batu bata, sensitiflah pada material, begitu catatan Kahn dalam intonasinya secara filosofis.

Pada bulan ini Maret 2012, seluruh pegawai kantor berjumlah 18 orang. Tidak termasuk dengan tukang – tukang kayu ataupun tukang listrik, tukang batu yang digaji perharian.  Sangat kontras dari dua tahun yang lalu yang kita baru berjumlah 2 orang. Pada saat ini baiknya kita merenungkan sejenak apa cerita dibalik layar dari studio kecil ini. Diri ini mencoba berhitung secara total kira – kiraada 180 pekerjaan dalam satu tahun setengah ini. Sebuah angka yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat membutuhkan beribu – ribu jam untuk bisa menyelesaikannya. Pekerjaan ada yang datang dan ada yang pergi, begitupun dengan tim yang selalu berubah. Dinamis lincah bergerak seperti awan membawa kesedihan dan kegembiraan di langit yang biru.

Aku teringat betapa diri ini harus berterima kasih sedalam – dalamnya kepada para designer yang ada di kantor ini. Dari kenakalan – kenakalan yang akhirnya membuahkan video klip singkat mengenai satu dan dua lagu yang sedang ngetrend pada saat itu, dengan orang- orang jenaka seperti wiwid, imal, Silvanus, Lia, Morian, dan Dicke dengan K – pop alirannya. Ataupun David dengan keisengannya yang fenomenal memasukkan tokoh doraemon kedalam salah satu desain bangunan yang sedang dikerjakannya ataupun masa ospek di kantor yang dijalaninya dengan hukuman membuka dan memimpin rapat dengan bahasa jawa timuran.

Herannya, Surya dan David yang asal Surabaya ini, seringkali datang pada waktu sabtu atau minggu, mungkin saja kantor sudah menjadi rumah kedua bagi mereka yang anak perantau, jauh – jauh datang dari kampung halaman hanya untuk membuka mata dengan suasana Jakarta yang membisingkan. Banyak dari anak – anak di kantor adalah perantauan yang hidup nomaden, berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Di dalam hati diri ini tersenyum apabila tempat ini bisa menjadi rumah kedua mereka.

Yang memukau juga kesediaan anak – anak kantor untuk selalu membuka diri akan pertanyaan, apakah ada yang lebih baik ?, Hal seperti ini sangat sulit untuk dilakukan bagi seorang designer. Diskusi demi diskusi dilakukan dengan jenaka, lontaran – lontaran celetukan yang menghidupkan suasana studio seakan – akan membuat design progress dan design produk yang fresh from the oven. Dari sketsa ke workshop. Adalagi tim sayap kiri dengan Adit, Randy, Hamu yang siap mengacau suasana dengan berceloteh atau berkomentar tentang teman – temannya yang pada akhirnya akan membuat riuh rendah di kantor, yang terkadang suaranya sampai ke jalan raya depan kantor, untungnya ibu saya adalah ketua RT di neighbourhood, jadi keributan ini bisa dimaklumi oleh tetangga . Memang berguna hal – hal seperti ini. He he…

Tim sayap kiri ini salah satunya adalah tipe yang disukai wanita dengan pesonanya celetuk anak – anak yang lain, yang satu adalah pemancing suasana, dan yang satu adalah arsitek melankolis dengan kemampuan lapangan yang luar biasa tajamnya. Sayang sang Jendral Workshop, Indra namanya, sudah keluar kota, keluar kantor maksudnya, kalau tidak tim sayap kiri ini akan semakin piawai dalam membuat keributan terutama kalau si jenderal baru saja memakan kambing yang membuat dirinya high.

Kita juga memiliki beberapa tipe rapat yang spontan saja dilakukan, sejak jaman wiwid, Imal, Sil, Toni, Morian, Lia, Bayu, . Dari rapat di hari valentine, rapat dengan bahasa sunda, ataupun berguling – guling di pantai Anyer. Mereka semua orang – orang terbaik yang fenomenal yang sekarang sudah terbang keluar kantor, keluar pulau, keluar kota ataupun keluar negeri.

tim sayap kanan juga tidak ketinggalan dengan passionnya yang tekun menerus, satu persatu dengan hati – hati seluruh project dikerjakannya. Andhang, Raras, Emmy, Maria, meski dengan mata merah menahan kantuk seringkali, dan stress menarik garis yang tidak kunjung selesai untuk menuruti kemauan saya yang selalu meminta hal yang lebih baik dan lebih baik lagi, dateline yang menerpa setiap minggunya dengan masih sempat – sempatnya tertawa dalam penat yang diri ini tahu terkadang sulit mengusirnya.

Dan lagi terkadang Kita terkejut – kejut Andhang bisa muncul tidak terduga di hari – hari libur dan datang di hari kerja membawa foto – foto yang luarbiasa mengenai karya – karya kantor.

Ini semua Outstanding, tim terbaik di dunia sudah mulai menampakkan batang hidungnya, saya tidak pernah melihat tim selengkap ini.

Belum lagi mas bambang yang dikenal sebagai magical man dan Mas Rudi Yanto yang dipanggil mas padahal ialah yang termuda, mewarnai keteknikan tim studio yang terlalu fluid dan melayang diatas awan. Awan itu pada akhirnya harus turun dan membumi, dari merekalah sentuhan itu tajam. Ada lagi menurut saya yang harus disebut dengan kredit yang luar biasa, tim – tim awal studio seperti Meirisa, wiwid, Reinard, Refano,  Sapta, Meilani, Bismo, Lia, Toni, dan anak – anak yang melakukan internship di Studio ini dalam gelak tawanya sendiri. Total kami sudah memenangkan dua digit kompetisi nasional sejak terbentuknya, dan dua digit project yang akan terbangun di tahun ini.

Setiap studio desain tentu saja memiliki kekuatan ide yang spesial di setiap langkah – langkahnya. Dengan pendekatan empiricism atau rationalismnya. Ide bisa dicari – cari dimana – mana, termasuk dengan menatap alam pun kita bisa mendapatkan ide yang tak terhingga banyaknya. Gabungan antara art dan teknik itulah yang membentuk arsitektur kata Ruskin.  Herannya diri ini merasakan mengenai gairah dan kekuatan penghargaan di arsitektur. Saling menghargai di dalam tim studio adalah satu harta yang priceless.

Diri ini tidak tahu apa yang ada di dalam kantor ini, kesedihan ketika satu persatu anak kantor ini pergi juga kegembiraan begitu ada yang bergabung menjadi keluarga. Namun salah satu asset yang paling berharga dalam >O+ Workshop adalah pada saat kita tertawa bersama – sama karena satu hal yang biasa – biasa saja.

Ada juga satu anak, Lisa namanya,  yang gemar untuk berceloteh untuk mengomentari teman – temannya,di siang bolong ataupun di saat – saat malam – malam lembur, ia  membantu untuk menimbulkan celoteh yang lain, yang pada akhirnya ia menjadi pusat perhatian untuk dicelotehi. Sehingga ia mendapatkan title celoteh Lisa untuk sesi celotehnya untuk menjadi satu superstar di warga perkampungan >O+

Ada juga yang tidak mau memperkenalkan kekasih hatinya kepada anak – anak kantor dan diakhiri dengan anak tersebut dikejar – kejar sampai ia lari terbirit – birit begitu kekasihnya datang membawa helm dan meminta kekasihnya menunggu 200 meter jauhnya dari kantor di satu pos satpam. Ada – ada saja kelakuan anak – anak ini.

Dan saya pun baru menyadarinya ternyata selama ini harta studio yang paling berharga adalah kebahagiaan dalam tawa. Ketika kita tertawa,

The secret is the laughter… oleh karena itu mungkin besok kita akan canangkan bagaimana motto kanto Gaul Asik Cool Professional bisa lebih melekat tentunya untuk membentuk kantor arsitek terbaik di dunia dengan passion terbaik di dunia. Mulai Besok banyak – banya tertawalah dikantor, karena itulah rahasia utamanya …

[RS]

diri ini kemudian juga teringat akan bingkisan kalimat yang diberikan IP.

Pak Realrich Sjarief and  family members
Simple dream, simple act, great impact
In here I learn
Work in family
Work with care
Work with fun
Work with laugh
Work in good mood
Work with love
It’s not office
It’s home
It’s not duty
It’s a pleasure
Then,
Attitude
Responsibility
Respect
Dicipline
Will be created by itself
It’s pleasure and honor to meet these amazing and creative family
IP

membuat diri ini bersyukur akan adanya tempat ini

Kategori
blog tulisan-wacana

Shopping Mall story – Tulisan untuk majalah ruang edisi 3

“Yuk, hari ini kita ke shopping mall kata seorang ibu kepada anak perempuannya. Kemudian dia menjinjing tas hermes, tas dari gerai toko terkenal di dunia. Sang anak pun mengiyakan, sejenak kemudian, ibu tersebut menelpon suaminya, pa kita ketemu di mall ya, sambil makan siang, setelah itu ke kidzania, anak kita mau main di mall.”

Kehidupan berkota di jakarta mau tidak mau memang diwarnai dari kehidupan satu mall ke mall yang lain. Ruang terbuka hijau yang semakin kecil dengan target yang bisa dipenuhi oleh pemerintah daerah DKI Jakarta sebesar 9,7 persen dari 13 persen yang ditargetkan (Antara 2009). Kehidupan berkota yang introvert,mandiri, serasa tidak bergantung satu sama lain, egois.  Dari segi arsitektur kota shopping mall adalah sebuah nodes. Hal yang digaris bawahi kevin lynch sebagai elemen pembentuk ruang kota. Kevin lynch “pola pola pembentuk ruang kota terdiri dari beberapa elemen pembentuk ruang kota seperti, paths, districts, nodes, edges, landmarks ” lynch. Shopping mall sendiri adalah sebuah nodes dalam elemen pembentuk ruang kota.

Menurut Yayat Supriatna, sekertaris jenderal ikatan ahli planer (IAP), Jakarta memiliki jumlah mall terbesar di dunia mencapai 130 mall, tetapi hanya mempunyai empat taman kota. Pertanyaan mengenai mengapa mall bisa sebegitu banyaknya dan himbauan para intelektual kepada pemerintah untuk bisa membatasi jumlah shopping mall juga terjadi. Di lain pihak para developer selalu jeli untuk mencium kesempatan dalam pertumbuhan properti yang tinggi di jakarta. Jakarta sedang ada dalam paradigma Bussiness as usual yang kuat.

business as usual

Namun Bagaimanapun juga tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran shopping mall memberikan suntikan ekonomi yang positif terhadap perekonomian satu kota. Shopping mall menyediakan oase bagi penduduk jakarta ditengah makin tergerusnya ruang terbuka hijau. Posisinya sebagai nodes sama seperti konsep pasar tradisional yang selalu berdekatan dengan alun – alun kota, pusat peribadatan, pusat pemerintahan di kota – kota seperti Semarang, Bandung, Cilacap, dan kota – kota indonesia lainnya.

Kita kemudian teringat pada pasar tradisional yang pada hakikatnya merupakan tempat bertransaksi, menawar harga, berinteraksi, bersenggolan, bersentuhan, berpeluh keringat, mencium wewangian rempah. Tempat yang menurut Edward T Hall adalah tempat yang intim. Seperti ruang yang terdapat di Pasar Johar semarang dimana koridor hanya sebesar 1 meter dan bahkan ada yang lebih kecil dengan lebar pundak manusia sebesar 60 cm maka otomatis saat kita berpapasan dengan orang lain, kita akan bersenggolan dengan orang lain. Alih – alih tersenggol karena emosi, dari bersenggolan itu sepanjang kita merasakan kehangatan. Ada  senyuman ibu ibu yang tersenggol Atau bapak yang cuek-cuek saja sambil meliukkan tubuhnya menghindari senggolan. Hal ini berbeda dengan shopping mall dengan korridor selebar minimum 3 meter yang memberikan jarak untuk kita tidak bersenggolan sebagai dampak untuk memenuhi kebutuhan privasi dan kenyamanan. Keragaman pola aktifitas “pattern language” yang ada ini tentunya yang menurut saya berharga.

Pola kehidupan dari jarak koridor 3 m mencerminkan gaya hidup yang cenderung individualistis. Hal ini tercermin dengan  kiasan shopping mall yang identik dengan big box, kotak yang tertutup, dan dikondisikan dengan air conditioner. Shopping mall ini sering diasosiasikan dengan kehidupan kaum sub urban di America. Dimana tercipta kehidupan pergeseran kehidupan berkota dari jalan – jalan yang bersifat tradisional menjadi interaksi di dalam shopping mall yang diakibatkan oleh  keamanan, kenyamanan, hiburan yang sudah tidak didapatkan lagi dari jalan – jalan kota.

Sama seperti yang terjadi di Amerika, hal ini terjadi di Jakarta, dari sepanjang jalan Harmoni sampai Kota tua memiliki kualitas pedestrian yang sangat buruk. Pedestrian yang sempit dengan permukaan yang sudah hancur juga minim peneduh untuk pengguna pedestrian.

Leon Krier Sketch

Dalam perencanaan sebuah shopping mall, perhitungan efisiensi luasan kotor bangunan yang tinggi mensyaratkan desain untuk dapat memberikan luasan retail semaksimal mungkin untuk bisa dijual kepada gerai gerai toko eksklusif seperti hermes, louis vuitton, channel, gucci, prada, dsb. Hal ini menimbulkan kompleksitas desain yang tinggi dengan kecenderungan menggabungkan beberapa fungsi bangunan seperti kantor, hotel, convention centre, exhibition centre, cinema, shopping mall, dan apartment menjadi tipologi mixed use sebagai akibat dari harga nilai tanah yang tinggi.

Melihat densitas yang tinggi dalam mixed use, ada potensi untuk membuat pengembangan yang kompak, teintegrasi berorientasi ke arah vertikal, seperti senayan city, rasuna epicentrum, pacific place, ataupun st.moritz. Ada pula kesempatan untuk membuat pengembangan yang berbasis transit oriented development, pola pengembangan yang berbasis dari infrastruktur transportasi. Banyak sekali kelebihan potensi dari pengembangan yang berbasis mixed use ini. Singapore sebagai salah satu preseden yang sukses dalam menempatkan shopping mall yang terintegrasi dengan sarana transportasi. Lagi – lagi kordinasi antara pemerintah kota DKI dengan pihak developer yang memiliki shopping mall menjadi penting.

Kontrol terhadap pengembangan densitas disuatu wilayah harus diskenariokan dengan cermat. Karena posisi dan densitas tersebut akan mempengaruhi arus lalu lintas, pola peruntukan lahan, dan keberlangsungan ruang terbuka hijau. Sehingga paradigma business as usual bisa memiliki kontrol. Dan yang berhak mengontrol itu adalah pemerintah kota DKI sebagai kepanjangan tangan dari penduduknya.

Dari sudut pandang arsitektur, dalam perencanaan elemen pembentuk shopping mall terdiri dari 3 bagian terpenting yaitu koridor, atrium dan retail. Koridor dalam sebuah mall pun sebenarnya adalah edge dimana terdapat tempat duduk duduk saling berhadapan untuk orang bercengkrama. Ada baiknya apabila koridor ini tidak hanya berfungsi sebagai sirkulasi saja namun juga tempat berkumpul. Koridor ini sebaiknya juga tidak gelap, akan lebih baik kalau memiliki kaca yang transparan di sisi luar di ujung ujung koridor supaya cahaya luar bisa memasuki ruangan. Sisi yang menghadap toko”retail” seharusnya bisa dibuka selebar lebarnya untuk membantu penyewa toko mendapatkan keuntungan semaksimal mungkindari kegiatan menjual, memamerkan barang dagangannya. Sebaiknya juga perancangan koridor ini tidak kalah dengan perancangan museum museum terkenal seperti museum di dunia. Karena pada hakikatnya kegiatan yang ditampilkan kurang lebih sama yaitu ruang pamer.

Sedangkan Atrium adalah tempat orang berkumpul, tempat yang mengingatkan agora sebagai tempat berkumpul warga yunani di jaman dahulu,  courtyard pada keraton jogja, rumah tradisionak jepang, rumah tradisional hanook. Terkadang ada fungsi tempat berkumpul, tempat untuk bercerita, tempat untuk menonton pertunjukkan seni, melalui media ataupun pertunjukkan langsung. saya teringat dengan aklung saung udjo. Bagaimana ia membagikan pengetahuan mengenai nilai – nilai tradisional mengenai angklung. Atrium hendaknya juga adaptif terhadap pergantian fungsi.

Retail hendaknya adaptif terhadap penyediaan fungsi gudang yang memakan ruang, ruang restaurant pun harus dirancang dengan mempertimbangkan fungsi koridor untuk servis. Ada baiknya jam tutup shopping mall diperpanjang, supaya orang – orang bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan berinteraksi dengan orang lain, meski melalui berbelanja. Ada juga penambahan fungsi tempat peribadatan di dalam shopping mall. Dimana saya kira ini hal yang baik untuk dilakukan di jakarta. Tempat anak – anak bersekolah pun bisa dilakukan di dalam shopping mall. Konsep ini sesuai dengan neighbourhood unit yang dicetuskan oleh clarence perry, dimana pada saat itu, pengembangan masih ke arah horisontal dan sekarang kita ada di era kepadatan yang tinggi dengan pengembangan ke arah vertikal.

Meskipun ekses negatif yang ditimbulkan oleh shopping mall. merupakan salah satu realitas kota Jakarta merupakan masa depan kota Jakarta.  Banyak pekerjaan rumah yang dibebankan ke pemerintah kota DKI Jakarta dan banyak Pekerjaan moral dibebankan ke pihak swasta. Ada banyak jalan untuk menyatukan realitas kota menjadi sebuah potensi positif, dan shopping mall memiliki masa depan yang cerah untuk memperbaiki juga merusak kota Jakarta. Pemerintah, swasta, dan pengguna memiliki tanggung jawab moral untuk membuat Jakarta kota yang nyaman ditinggali penggunanya dengan realitas, positif dan negatif dari ada shopping mall. Sebagai kalimat penutup, saya akan mengutip kalimat dari Ir. Robi Sularto Sastrowardojo dalam essay yang dipresentasikan dalam pertemuan ikatan arsitek se dunia di tokyo tahun 1980.

“Most of the architectural works are a local mirror of one culture as it is today. Professionaly there is nothing might be nothing wrong with these works, possibly when excellence… Architecture it seems to me should be considered as a dharma, a social obligation, instead of a commision. When architecture is considered, as a dharma, then more architects will realise that architecture is born, not made.”

Inilah yang seharusnya kita menyadari. Bagaimana kita melihat realitas kota, dan berbuat yang terbaik dari apa yang bisa kita buat sebagai salah satu penghuninya.

Bibliografi

Antara 2009, RTH Jakarta Bertambah empat hektar, http://www.antaranews.com/berita/1256793870/rth-jakarta-bertambah-empat-hektar

(Terakhir terakses 01 desember 2010 )

Sularto, robi, architecture is a dharma not made,­­­2009, Jakarta.

Kategori
blog tulisan-wacana

Leading to Green Evolution – satu Tulisan untuk Majalah Ruang Edisi ke 2

Sudah 43 tahun sejak Ian Mcharg mempublikasikan hasil risetnya design with nature pada tahun 1967 mengenai kerusakan lingkungan dan adanya degradasi lingkungan di dunia. Istilah – istilah seperti green, ecological design, sustainable design pun mulai muncul dan sebenarnya memiliki artian yang sama dan terkadang menyesatkan dengan banyaknya publikasi dan tulisan mengenai istilah – istilah tersebut.

Istilah sustainable sendiri mulai diperbincangkan sejak brundtland commision menuliskan definisi dari sustainable development di tahun 1980. Yang kemudian diikuti oleh kesepakatan bersama di rio summit di tahun 1992. Dimana sustainable didefinisikan sebagai “sebuah pengembangan untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. “ Steele (2005:6)

Definisi arsitektur pun berkembang dari definisi pertama yang ditengarai oleh John Ruskin dan William morris bahwa arsitektur adalah penggabungan antara Building dan Art. Di saat sekarang ini , Conway Roesnich(1994:8). Arsitektur sendiri tidak bisa lepas dari teknologi untuk memaksimalkan kinerja system bangunan khusnya pada bangunan bertingkat tinggi. Oleh karena itu definisi Arsitektur bisa saja berubah menjadi perpaduan antara building + art + teknologi. Debat dan argumentasi bagaimana kita mendesain untuk meminimalisasi dampak bangunan terhadap lingkungan terus bergulir dalam berbagai macam studi salah satu studi yang patut untuk diberi catatan yaitu studi yang dilakukan oleh Malcolm B. Wells di dalam thesisnya Gentle Architecture mengenai dampak suatu bangunan yang ada didalam satu lingkungan. Ia memperbandingkan antara performa bangunan kantor (suburban design lab) yang ada di dalam tanah / basement (lihat figur 2) dengan 3 tipe lahan yang lain yaitu : Hutan Belantara, lahan pertanian kosong,  dan tengah kota manhattan, Wells(1971:92-97).

Suburban design Lab adalah sebuah bangunan dengan fungsi kantor yang diletakkan di dalam tanah / basement  dengan bukaan void untuk memasukkan cahaya matahari di iklim sub tropis karena suhu udara yang didapatkan terbukti relatif konstan dan ideal, efek pemanasan yang terjadi relatif kecil di kala terik yang ekstrim, dan tidak dibutuhkan perawatan ruang luar dengan menjadi ruang atap dan ruang luar seperti di hutan belantara. Perlu dicatat bahwa suburban research lab berdiri di iklim subtropis dimana memiliki perbedaan suhu ekstrim. Salah satu kelemahan dari skema ini adalah biaya inisiasi yang mahal. Studi yang dihasilkan membuktikan bahwa meskipun suburban research lab didesain dengan memaksimalkan efisiensi energi. Meksipun efisiensi yang dihasilkan maksimal namun performa yang dihasilkan masih sangat jauh dibandingkan dengan performa hutan belantara. Studi ini dilakukan pada tahun 1969. Thesis ini membuktikan bahwa usaha terbaik untuk menjaga alam dengan tidak menyentuhnya sama sekali.

Namun harus diingat bahwa di tahun 1969 Suburban research lab tidak mampu mengolah air kotor menjadi air bersih, tidak mampu menyerap energi matahari, tidak mampu mendaur ulang sampahnya. Seperti kita lihat itu yang terjadi di tahun 1969 karena teknologi pada saat itu tidak mampu untuk melakukan hal tersebut

Pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan di masa depan ?

Penggunaan teknologi, pendefinisian fungsi ruang komunal, dan inovasi strategi perencanaan akan memegang peranan penting di masa depan, terutama pada masyakarakat metropolitan. Di negara maju terjadinya perubahan pola kerja masyarakat modern karena dampak industrialisasi disebabkan pertumbuhan teknologi informasi yang terjadi sepanjang tahun 1960 – 1970 mengakibatkan kebutuhan untuk berkerja lebih lama di kantor. Sehingga pola ini menuntut sebuah kebutuhan untuk berinteraksi dan menggunakan ruang komunal di area . Kebutuhan akan ruang – ruang komunal inilah kemudian yang diakomodasikan ke dalam tower pencakar langit. Istilah yang disebut ken yeang, Bio climatic tower. Ide ini diwujudkan pada tahun 1992 menjadi dengan bangunan menara mesin niaga yang memiliki taman gantung diatas setinggi 3 lantai yang ditanamai oleh tanaman lebat. Foster and partners memiliki inovasi sebelum adanya istilah bioclimatic tower dari Ken Yeang melalui konsep taman gantung dalam desain Hongkong and Shanghai Bank Headquarters yang dibangun pada tahun 1979 – 1986. dimana bentuk massa dari HSBC tower masih berbentuk dual aspect slab (massa dua sisi terbuka). Yang merupakan turunan dari konsep Le Corbusier dalam Radiant city , City for tomorrow ataupun L unite d habitation dengan strategi untuk membuka kedua sisi bangunan dengan bukaan untuk membiarkan cahaya matahari dan udara segar dengan kedalaman sebesar kurang lebih 24 m.

konsep dual aspect slab ini disempurnakan oleh Commerzbank Headquarter di Berlin, dimana ini diklaim sebagai world’s first ecological tower yang dibuat pada tahun 1991 sampai dengan 1997 dimana  setiap lantai kantor mendapatkan pencahayaan alami. Dengan jendela yang bisa dibuka membuat penggunanya mampu mengontrol iklim mikro. Dengan hal tersebut nyata – nyata mampu menurunkan konsumsi energi yang ekuivalen dengan setengah dari konsumsi energi desain kantor konvensional. Taman gantung di atas langit ini memainkan peranan untuk memasukkan cahaya matahari, udara segar, dan menyediakan tempat untuk relaksasi ketika jam istirahat.kantor  . Di lantai dasar terdapat restaurant dan café yang memiliki relasi dengan ruang terbuka dengan meminjam konsep borrowed landscape dari konsep arsitektur jepang.

Usaha untuk meminimalkan dampak terhadap alam terutama untuk tipologi bangunan berskala kecil dan berlantai rendah terlihat dalam desain Glenn Murcutt dimana terdapat beberapa kecenderungan dari pengambilan keputusan desain seperti : 1. meminimalkan bidang yang bersentuhan dengan tanah dengan konsep pilotis. 2. Memaksimalkan view ke arah luar. 3. memanfaatkan sirkulasi udara didalam bangunan. 4. Penggunaan kulit bangunan 3 lapis yang bisa diatur posisinya oleh pengguna.

Sistem bangunan yang ada bersifat sangat sederhana dengan prinsip – prinsip yang rasional namun mampu menampilkan kualitas melalui penemuan – penemuan Glenn yang diakuinya ada di perjalanan desain bersama klien yakni pendekatan desain yang strategi perencanaan yang rasional, efisien dan responsif terhadap terhadap iklim, kondisi eksisting lahanseperti aliran air, kondisi matahari, geomorfologi lahan.

Ada satu Quote dari Glenn Murcutt dalam pameran hasil karya beliau di Museum of Sydney di bulan Desember 2009 yang menurut saya sangat menarik untuk dipikirkan,

“Works of Architecture are discovered, not designed. The creative process is a path of discovery.  The hand makes drawings and arrives at solutions before the mind has even comprehended them. It is very important to me to make buildings that work like instruments. They respond to light, to the movements of the air, to prospect, to the needs of comfort. Like musical instrument, they produce the sounds and the tones of the composer. But I’m not the composer. Nature is the composer. The light and sounds of the land are already there. I just make instruments that allow people to perceive these natural qualities. ‘Glenn Murcutt.

Penutup

Seorang arsitek tidak bisa menyelesaikan permasalahan ekologi lingkungan keseluruhan, namun arsitek bisa mendesign bangunan yang memiliki efisiensi energi tinggi sehingga penggunaan energi dalam bangunan bisa ditekan serendah mungkin.  Selain dari desain dan hal ini bisa diterapkan dari segi peraturan yang bersifat sertifikasi. Cara – cara ini sudah dicoba oleh beberapa lembaga seperti USGBC (united States Green Building Council) adalah dengan membuat peringkat penghargaan untuk bangunan – bangunan yang mampu melakukan efisiensi energi dengan predikat Platinum, Gold, Silver. Banyak Negara – Negara di dunia yang sudah memiliki peringkat penghargaan seperti ini (Green Rating) seperti Amerika dengan LEEDS, Inggris dengan BREAAM, Australia dengan Nathers, BASIX, Green Star. Dan GBCI dikabarkan sedang menyusun sebuah green code untuk Indonesia. Ada baiknya apabila sebuah sertifikat tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menilai namun juga sebagai alat untuk mendesain yang apabila diikuti maka akan mendapatkan sertifikasi penghargaan yang tentu saja menghasilkan bangunan yang memiliki respon sangat baik terhadap alam.

sebagai penutup Mcharg  pernah menulis  dalam Design with Nature, “I hope that in the 21st centure the largest accomplishment of art will be to restore the earth.” Mungkin saja harapan Mcharg akan menjadi kenyataan setidaknya di abad ini.

Referensi :

Conway, H. Roesnich, R. 1994, Understanding Architecture, Routlege, London, pp. 8

Murcutt, G. 2008, Thinking Drawing / Working Drawing, TOTO shuppan, Japan, pp. 91 – 92

Mcharg, I. 1992, Design With Nature, John Wiley & Sons, Inc, Canada, pp 180

Steele, J. 2005, Ecological Architecture: a critical history, Thames & Hudson, London, pp. 6

Wells, M.B.1971, ‘The absolutely constant, inconstestably stable architectural value scale,’ Progressive Architecture, vol.52 no 3, pp 93