Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Gregory Marvell NIcholas Wityo dan Reinhardt Ezekiel Kurniawan

Jiwa yang Berkelana dalam Waktu

Anak magang kadang datang seperti pengelana: berjalan sendiri, mencari sesuatu yang belum tentu ia bisa namai. Lalu di suatu titik, lingkaran-lingkaran kecil itu bertemu, dan orang-orang yang sebenarnya sudah lama berdekatan baru benar-benar saling menemukan. Kami sering menyaksikannya di rumah ini.

Rein pernah datang ke perpustakaan ini dua tahun sebelum ia melamar magang. Waktu itu ia mahasiswa semester dua yang tersesat di antara rak-rak, sampai harus dipandu petugas kami. Yang menempel di kepalanya justru bukan bukunya, melainkan bangunannya sendiri: bagaimana mungkin ada kantor berisi banyak orang di dalam sebuah rumah, dan bagaimana semua itu dirawat.

Dua tahun kemudian, ketika ia harus mencari tempat magang dan bingung ke mana, pertanyaan lama itu yang memanggilnya kembali. Ada tempat-tempat yang kita temukan jauh sebelum kita mencarinya, dan ternyata ia menunggu dengan sabar, lengkap dengan perspektif dan ingatannya sendiri.

Bersama Gregory, Rein menghabiskan hari-hari terakhir masa magangnya di sini. Dan inilah yang kami syukuri: keduanya justru menjadi dekat di Guha, padahal di kampus mereka sendiri mereka jarang berinteraksi. Rupanya kedekatan tidak selalu lahir dari seringnya berpapasan; ia lahir dari mengerjakan sesuatu yang sulit bersama-sama.

Rein orang yang ceplas-ceplos. Kalimatnya keluar lebih dulu daripada pertimbangannya, dan yang membuat kami sayang adalah apa yang terjadi sesudahnya: ia bingung sendiri, memikirkan apakah ia sudah membuat kesalahan, lalu ingin minta maaf terus-menerus. Ia takut melukai orang tanpa sengaja. Kejujuran seperti itu, kegelisahan yang muncul justru karena peduli, tidak bisa diajarkan kepada siapa pun. Ia juga pandai bermain piano, dan di sela-sela istirahat, suara piano itu menemani istirahat kami semua. Ada anak magang yang meninggalkan gambar. Rein meninggalkan kenangan manis tentang jari-jarinya yang menekan tuts. Ia anak seni yang berbakat, yang mengamati dengan daya hidup seorang seniman.

Gregory kebalikannya: seorang pengamat. Ia memperhatikan lebih dulu, bicara belakangan, dan karena itu ia mudah sekali bekerja sama dengan para lead. Ia menangkap ritme sebuah tim tanpa perlu diberi tahu, lalu menempatkan dirinya di tempat yang pas. Tidak heran ia menjadi salah satu anak yang paling disayang di studio ini.

Di suratnya, Gregory menulis sesuatu yang membuat kami berhenti sejenak. Katanya, selama lima semester ia terbiasa diarahkan menatap ke luar: mempelajari karya dari mana saja, kecuali dari negerinya sendiri. Rasa ingin tahunya pada yang lokal tidak pernah mendapat kesempatan tumbuh, karena begitulah pedagogi yang lazim mengarahkannya. Justru karena itulah padepokan ini menonjol baginya. Kalimat itu, bagi kami, bukan pujian. Ia peringatan tentang cara arsitektur diajarkan di negeri ini.

Ia juga jujur mengakui bahwa perpindahan dari hidup kota yang ia hirup sehari-hari ke suasana kampung di Guha terasa mengagetkan. Kami menghargai kejujuran itu. Tempat ini memang tidak dirancang untuk terasa nyaman sejak hari pertama; ia dirancang untuk terasa nyata. Dan yang nyata biasanya butuh waktu sebelum menjadi rumah.

Meskipun Gregory belum tahu apakah kelak ia akan berkarier di arsitektur, di padepokan ini seseorang tidak harus menjadi arsitek untuk pantas belajar arsitektur. Dan tidak semua yang mencintai arsitektur datang dari sekolah arsitektur. Yang terpenting adalah perspektifnya, ilmunya, dan kejujurannya. Yang ia bawa pulang, cara membaca ruang, cara bekerja bersama orang, cara memperhatikan sebelum menilai, akan terpakai di jalan apa pun yang ia pilih.

Dan barangkali itu sebabnya keduanya cocok: yang satu bicara lebih dulu lalu mengoreksi diri, yang satu mengamati lebih dulu lalu bertindak tepat. Dua cara yang berbeda untuk sampai pada hal yang sama, yaitu keinginan untuk tidak menyakiti dan tidak asal-asalan. Studio ini butuh dua-duanya, dan hidup pun begitu.

Semoga kegelisahan yang baik itu ikut pulang bersama kalian berdua: gelisah untuk terus belajar, gelisah untuk tidak menyakiti, dan gelisah untuk memperhatikan dengan lebih sungguh-sungguh. Sampai jumpa di jalan masing-masing, Rein, Gregory. Pintu ini tidak pernah benar-benar tertutup, seperti yang sudah dibuktikan Rein dua tahun lalu, dan Gregory di masa magang ini: sebuah lingkaran yang menerus, dan pelan-pelan menyatu.

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar