Suatu hari kami rapat di Bogor, membicarakan salah satu pasar di sana. Rapatnya berjalan seperti rapat biasa. Yang tidak biasa adalah oleh-olehnya: pulang dari sana, kami diberi seekor kambing Nigerian dwarf.


Kambing itu kami beri nama Bogor, sesuai kota tempat ia datang. Dan karena di lahan sesempit ini halaman adalah barang mewah, kandangnya kami buatkan di tempat yang masih tersisa: di atap. Jadilah seekor kambing tinggal di atas kepala kami semua, dan tidak ada satu pun yang merasa itu aneh.
Dari Bogor kami mulai belajar hal-hal yang tidak diajarkan di studio arsitektur. Ia butuh susu, dan butuh rumput — maka rumput disabit dari sekitar sini. Lalu pelajaran tentang tanah yang berputar: kotorannya menjadi pupuk. Supaya kandang tidak bau, alasnya diberi sekam kuning. Dan sekam yang sudah kering itu ternyata bisa dijual, atau kembali dipakai menjadi alas lantai lagi. Di kandang kecil itu tidak ada yang berhenti menjadi sampah; semuanya sedang dalam perjalanan menjadi hal yang lain.
Lalu Bogor bertemu Bantul, kambing betina yang dinamai dari kota tempat ia ditangkarkan. Dua nama kota bertemu di satu atap.




Dan dari pertemuan itu lahirlah dua anak: Tamsir dan Jambon. Kelahiran itu tidak mudah. Bidannya bukan dokter hewan, melainkan mandor kami di lapangan. Dan kelahiran pertama, seperti sering terjadi, tidak berjalan mulus: satu anaknya tidak selamat. Tetapi tangan mandor berhasil mengeluarkannya — dan justru itulah yang menyelamatkan nyawa induknya.



Ia tenang saja sesudahnya. Maklum, katanya, biasa, anak pertama. Dalam dunia kambing, ia menjelaskan, kasus yang paling rawan justru ketika anak tidak bisa keluar; di situlah induk paling sering ikut pergi. Pengetahuan itu tidak ia dapat dari buku mana pun. Dan kami berdiri di situ menyadari sesuatu: tangan yang sehari-hari mengurus besi dan beton ternyata juga tahu cara menyelamatkan seekor induk. Ilmu lapangan, rupanya, jauh lebih luas dari lapangan itu sendiri.
Keluarga Bogor pun tidak sendirian di rumah ini. Ada keluarga kucing Mickey yang terus beranak-pinak sampai silsilahnya perlu dihafalkan. Ada ayam-ayam Polandia berjambul yang punya kebiasaan berkokok justru ketika semua orang sedang bekerja. Ada seekor kura-kura yang bibirnya memerah seperti berlipstik, karena terlalu sering makan siang buah naga.
Dan diam-diam, mereka semua masuk ke surat-surat perpisahan anak-anak magang. Di antara ucapan terima kasih untuk ilmu gambar kerja dan detail arsitektur, tertulis juga: berkenalan dengan kambing Bogor sekeluarga. Ada yang menulis akan selalu merindukan mereka.
Barangkali memang begitulah rumah yang hidup. Ia tidak hanya menampung orang-orangnya; ia melahirkan penghuninya sendiri — di atap, di sela pekerjaan, di tangan seorang mandor yang tenang. Dan yang dikenang orang dari sebuah rumah, ternyata, bukan hanya arsitekturnya.