Ada dua anggapan yang setiap hari dibantah oleh padepokan kami, pelan-pelan, tanpa niat berdebat. Pertama, bahwa belajar arsitektur harus di sekolah formal. Kedua, bahwa belajar arsitektur harus berujung menjadi arsitek. Orang-orang datang ke sini dari berbagai arah, dan banyak yang pulang bukan sebagai arsitek. Dan itu tidak apa-apa. Itu justru intinya.
Pendidikan formal sering berdiri seperti benteng, kaku, bergerbang ijazah, dengan kurikulum yang menentukan siapa boleh masuk dan kapan seseorang dianggap selesai. Benteng itu ada gunanya. Tetapi di balik temboknya, cara belajar ternyata jauh lebih banyak daripada yang diakui rapor mana pun, belajar dari menyapa seseorang melalui arsitektur, dari sekadar membicarakannya di meja makan, dari menonton tukang menyambung bambu, dari bertanya kenapa ruangan ini terasa sejuk.
Arsitektur bisa dipelajari oleh siapa saja yang mau memperhatikan, dan pintu masuknya bisa sesederhana sebuah percakapan.
Kami menyebut tempat ini padepokan arsitektur karena memang ada kata arsitekturnya. Tetapi yang dipelajari di sini lebih lebar dari gambar. Orang-orangnya datang dengan multi perspektif, multi latar budaya, multi disiplin seperti perancang, penulis, perajin, pustakawan, anak-anak dari kota besar dan kota kecil, yang beriman dengan cara masing-masing dan berbahasa dengan logat masing-masing. Arsitektur hanyalah meja tempat semua itu duduk bersama.
Dari pergaulan selebar itu, kenangan pelan-pelan mewujud menjadi energi. Bukan energi yang selalu rukun, kadang ia berkonflik, karena perbedaan sungguhan memang menghasilkan gesekan sungguhan. Tetapi konflik di sini tidak dibiarkan menjadi racun, karena semua orang tahu apa yang menggerakkan tempat ini, sincerity, kejujuran, dan kepercayaan. Selama tiga hal itu ada, gesekan justru mengasah.
Dan dari tahun-tahun menjalaninya, kami sampai pada satu kalimat yang kami pegang erat, bahwa selama masih ada sedikit api kepercayaan, sisanya adalah nasib sebuah konsep. Konsep boleh gagal, arah boleh berubah, rencana boleh meleset, semua itu nasib yang bisa ditanggung. Yang tidak boleh padam hanya satu, api kecil kepercayaan antara orang-orangnya. Padepokan mati bukan ketika konsepnya keliru, melainkan ketika apinya habis.
Ada spiritualitas dalam kecilnya hal-hal ini, dan kami tidak malu menyebutnya. Benih sesawi adalah yang terkecil di antara benih, namun ia tumbuh menjadi pohon tempat burung-burung bersarang. Biji kurma pun kecil, namun ia sanggup berbuah di gurun. Padepokan bekerja dengan hukum yang sama, ia tidak perlu megah untuk berbuah. Ia hanya perlu ditanam dengan sungguh-sungguh, di tanah yang jujur, dan dijaga apinya.
Kami pun tahu kami tidak sendirian dalam keyakinan ini. Di Bengala, Rabindranath Tagore membangun Santiniketan, tempat murid belajar di bawah pohon dan seni tidak dipisahkan dari hidup. Di Alabama, Samuel Mockbee dengan Rural Studio mengajak mahasiswanya membangun langsung untuk warga yang paling tidak mampu, arsitektur yang benar-benar inklusif.
Di Wisconsin, Frank Lloyd Wright menjadikan Taliesin rumah sekaligus sekolah, tempat murid-murid tinggal, bertani, dan menggambar di bawah satu atap. Di seluruh dunia, bentuk ini terus lahir kembali dengan nama yang berbeda-beda.
Tetapi kami tidak sedang meniru Taliesin atau Santiniketan. Kami justru menemukan bahwa nenek moyang kami sudah lama punya katanya sendiri, padepokan. Tempat tinggal, tempat belajar, tempat ditempa, yang tidak bertanya ijazahmu apa, melainkan maumu belajar atau tidak. Kami hanya meneruskan bentuk tua itu, dengan arsitektur sebagai mejanya.
Jadi inilah kami, apa adanya, tidak mengada-ada. Sebuah tempat kecil dengan api yang dijaga, tempat spirit pelan-pelan menjadi energi yang terus memuncak, bukan karena besarnya, melainkan karena tidak pernah dibiarkan padam. Tidak semua yang belajar di sini akan menjadi arsitek. Tetapi semua yang pernah tinggal, kami harap, pulang dengan membawa sedikit apinya.
(rs, ty, ir)















































































































































































































































































































































