Kategori
Team - Studio Culture

Yang Tidak di Balik Meja

Tidak semua orang di studio kami bekerja di balik meja. Sebagian pekerjaan justru menuntut orang terus bergerak. Tim yang mengurus pengecekan lapangan, misalnya, lebih banyak berada di tapak daripada di ruang kerja. Tim yang memikirkan strategi berpindah dari satu pertemuan ke pertemuan lain. Mereka bekerja dengan laptop di tangan, dari mana saja mereka berada, dan bagi mereka, meja tetap bukan pusat, melainkan sekadar salah satu tempat singgah.

Kami tidak selalu bekerja begini. Cara ini kami pelajari, dan sejujurnya, kami dipaksa mempelajarinya. Ketika pandemi datang dan semua orang harus bekerja dari rumah, teknologi yang tadinya asing tiba-tiba menjadi satu-satunya jalan. Kami belajar rapat lewat layar, berbagi gambar dari jarak jauh, mengambil keputusan tanpa berada di ruangan yang sama. Pada awalnya terasa janggal, karena kami terbiasa dengan cara lama. Tetapi dari situ kami belajar sesuatu tentang diri kami sendiri.

Kami sadar bahwa kelekatan pada cara lama kadang menghalangi kami melihat kemungkinan baru. Kami begitu terbiasa berpikir bahwa bekerja berarti hadir di satu tempat, di meja, di ruangan itu, sampai kami hampir tidak sempat bertanya apakah itu memang satu-satunya cara. Pandemi, dengan segala beratnya, memaksa pertanyaan itu terbuka. Dan jawabannya ternyata melegakan: tempat, sebetulnya, bukan yang paling menentukan. Orang bisa bekerja dari mana saja.

Yang benar-benar menentukan bukan di mana seseorang duduk, melainkan bagaimana ia berpikir dan bagaimana ia berkomunikasi.

Ini pembebasan yang tidak kami duga. Ketika tempat tidak lagi menjadi syarat, yang tersisa sebagai inti pekerjaan adalah hal-hal yang memang seharusnya jadi inti: kejernihan berpikir dan kejelasan menyampaikan. Seorang yang berada di lapangan berdebu, seorang yang di rumah, seorang yang di studio, bisa duduk dalam satu rapat yang sama dan bekerja sama dengan baik, asalkan cara mereka berpikir nyambung dan cara mereka berbicara jelas. 

Tempat menjadi urusan kedua. Perspektif dan komunikasi menjadi urusan pertama.

Dan ada satu hal yang menarik, yang justru berlawanan dengan dugaan banyak orang bahwa rapat lewat layar itu dingin dan kaku. Kami menemukan bahwa dalam rapat online, orang-orang di lapisan paling bawah struktur justru kadang lebih berani bersuara. Di ruang rapat fisik, hierarki terasa lewat tempat duduk, lewat siapa di dekat siapa, lewat siapa yang paling gampang menyela. 

Di layar, semua wajah muncul dalam kotak yang berukuran sama, dan giliran bicara menjadi lebih tertata. Anggota tim yang paling muda, yang mungkin sungkan angkat suara di ruangan yang penuh senior, bisa lebih mudah menyampaikan pendapatnya. Bentuk yang tampak dingin itu, ternyata, bisa lebih adil.

Tentu, tidak semua rapat sama. Kami membedakan dua jenis, dan keduanya butuh perlakuan berbeda. Ada rapat pengarahan, yang sifatnya menyampaikan keputusan dan arah, di mana yang penting adalah kejelasan dan tidak ada yang salah tangkap. Dan ada rapat diskusi, yang sifatnya menggali, di mana yang penting justru sebaliknya: bahwa semua orang merasa cukup aman untuk bicara, membantah, dan menyumbang gagasan. 

Rapat pengarahan bisa berlangsung efisien lewat layar tanpa banyak kehilangan. Rapat diskusi menuntut lebih banyak kesabaran, lebih banyak ruang untuk jeda, supaya yang di ujung sana tidak tertinggal. Mengerti bedanya adalah setengah dari membuat rapat, di layar maupun di ruangan, benar-benar berguna.

Pada akhirnya, kerja jarak jauh mengajari kami hal yang sama yang diajarkan meja-meja yang berbeda di studio kami: bahwa bentuk hanyalah wadah, dan yang mengisi wadah itu, cara berpikir dan cara berbicara, jauh lebih penting daripada wadahnya. Sebuah tim yang perspektifnya jernih dan komunikasinya jujur akan tetap bekerja dengan baik, entah mereka duduk di satu ruangan, entah tersebar di lima tempat berbeda. 

Dan barangkali itulah pelajaran paling berharga dari masa yang sulit itu: bahwa yang menyatukan orang bukan tempatnya, melainkan cara mereka saling mengerti.

(rs, ty, hs, ir)

Kategori
Team - Studio Culture

Arsitektur di Sekitar Kita

Ada anggapan yang ingin kami bantah pelan-pelan: bahwa arsitektur hanya untuk anak arsitektur dan hanya bisa dipahami oleh yang bersekolah di dalamnya. Kami tidak percaya itu. Bagi kami, arsitektur ada di keseharian, di hadapan siapa saja, dan siapa pun yang mau memperhatikan bisa mulai memahaminya.

Cobalah perhatikan hal-hal yang tampak sepele. Bagaimana sebuah dinding diselesaikan, rapi atau kasar, halus atau bertekstur, itu arsitektur. Bagaimana tinggi sebuah meja terasa pas atau tidak untuk tubuh yang memakainya, itu arsitektur. Bagaimana sebuah pintu terasa berat atau ringan, bagaimana cahaya masuk ke sebuah ruangan di pagi hari, bagaimana orang mengalir di sebuah keramaian tanpa berbenturan, semua itu arsitektur. Banyak hal yang kita kira bukan arsitektur ternyata, kalau diperhatikan, adalah arsitektur juga.

Justru dari yang paling sehari-hari inilah pintu masuknya paling mudah. Kita tidak perlu memulai dari teori besar atau nama-nama arsitek terkenal. Kita bisa memulai dari skala, dari seberapa besar sesuatu terasa dibanding tubuh kita. Dari ergonomi, dari bagaimana sebuah benda melayani atau justru menyusahkan tubuh yang memakainya. Ini hal-hal yang bisa dirasakan siapa saja, tanpa gelar, hanya dengan memperhatikan. Dan begitu seseorang mulai memperhatikan, ia tidak bisa berhenti; dunia di sekitarnya berubah menjadi penuh keputusan desain yang tadinya tak terlihat.

Yang menarik, arsitektur sebagai cara berpikir ternyata bisa bermuara ke banyak hal, ke banyak produk yang tampaknya jauh dari bangunan. Cara memperhatikan komposisi, proporsi, dan bagaimana sesuatu bekerja untuk manusia, adalah cara pandang yang berguna di desain grafis, di penataan barang, di branding, di banyak bidang lain. Arsitektur, pada tingkat ini, bukan lagi tentang gedung; ia tentang cara melihat.

Kami menyaksikan ini terjadi pada orang-orang di sekitar kami sendiri, dan itu selalu membahagiakan. Ada seorang kawan yang mulai bergabung dengan kami di bagian administrasi, jauh dari dunia perancangan. Tetapi karena setiap hari berada di tengah percakapan tentang desain, cara pandangnya pelan-pelan tumbuh, sampai akhirnya ia kini justru mengerjakan branding dan grafis. Ia tidak pernah bersekolah arsitektur, tetapi ekosistem ini menularkan cara berpikirnya, dan ia menemukan jalannya sendiri di dalamnya.

Ada pula seorang anak yang bahkan belum menyelesaikan sekolah menengahnya, tetapi sudah datang magang, belajar bersama kami, dan ketika waktunya usai, ia justru meminta memperpanjang. Usianya masih sangat muda, dan justru karena itu keingintahuannya murni, belum dibebani anggapan tentang apa yang seharusnya ia pelajari atau tidak. Baginya, tidak ada tembok antara arsitektur dan bukan arsitektur; ada hanya hal-hal menarik yang ingin ia mengerti. Kami belajar banyak dari keterbukaan seperti itu.

Dan di sinilah lingkaran itu menutup dengan caranya sendiri. Orang-orang yang datang dari luar disiplin ini, yang tadinya kita kira tidak nyambung dengan arsitektur, justru sering membawa ide-ide segar yang tidak akan muncul dari dalam. Dari obrolan santai dengan seseorang yang latar belakangnya berbeda, kadang lahir gagasan yang tidak pernah terpikirkan oleh yang terlalu lama di dalam. Keberagaman latar bukan gangguan; ia sumber. Semakin banyak jenis mata yang memandang, semakin kaya yang bisa dilihat.

Maka ketika kami bilang arsitektur tidak terbatas pada anak arsitektur, kami tidak sedang berbaik hati membuka pintu. Kami sedang mengatakan sesuatu yang kami yakini benar: bahwa cara pandang ini memang milik siapa saja, dan bahwa ia justru menjadi lebih hidup ketika dipegang oleh tangan-tangan yang datang dari berbagai arah. Arsitektur ada di sekitar kita, setiap hari, menunggu diperhatikan. Dan yang memperhatikannya tidak harus menyandang namanya untuk berhak memahaminya.

Kategori
Team - Studio Culture

Surat di Hari Terakhir

Setiap kali masa magang berakhir di studio kami, ada satu tugas terakhir yang tidak ada hubungannya dengan gambar, maket, atau presentasi. Kami meminta mereka menulis surat.

Kami menyebutnya reflection letter. Isinya bukan laporan kegiatan, bukan daftar proyek yang pernah disentuh. Isinya satu pertanyaan yang jauh lebih sulit: apa yang berubah dalam dirimu selama berada di sini?

Kenapa harus menulis? Karena pengalaman yang tidak dituliskan cepat sekali menguap. Berbulan-bulan belajar bisa larut begitu saja menjadi kesan samar kalau tidak pernah dipaksa mengambil bentuk. Menulis memaksa seseorang menamai apa yang terjadi pada dirinya, dan sesuatu yang sudah bisa kau namai akan menjadi milikmu selamanya. Banyak yang datang ke studio ini dengan ragu, merasa belum tahu apa-apa. Lalu di surat itu, dengan kata-kata mereka sendiri, mereka menuliskan bahwa mereka pulang dengan keberanian yang tidak mereka bawa saat datang. Kami tidak pernah menuliskan kalimat itu untuk mereka. Mereka menemukannya sendiri, di ujung pena, dan justru karena itu ia menjadi benar.

Dan kami harus jujur tentang sisi satunya: surat-surat itu juga rapor bagi kami. Kami membacanya bukan untuk mencari pujian, melainkan untuk memeriksa diri. Dari surat-surat itu kami tahu apa yang sungguh-sungguh mereka pelajari, yang kadang berbeda dari apa yang kami kira sedang kami ajarkan. Kami juga tahu di bagian mana kami belum cukup baik menemani. Anak-anak muda ini bercermin lewat suratnya, dan diam-diam, kami ikut bercermin di sana.

Barangkali ini memang sudah watak tempat ini. Studio yang tumbuh bersama perpustakaan dan menerbitkan buku-bukunya sendiri rasanya tidak adil kalau membiarkan orang-orangnya pulang tanpa menulis. Di sini kami percaya satu hal sederhana: belajar belum benar-benar selesai sebelum dituliskan.

Maka surat itu menjadi halaman terakhir dari sebuah masa magang. Tetapi bagi banyak dari mereka, kami menduga ia justru halaman pertama dari sesuatu yang lain: kebiasaan berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan menamai pertumbuhannya sendiri. Gambar-gambar menunjukkan apa yang pernah mereka buat. Surat itu menunjukkan siapa mereka telah menjadi.

Di sini kami meletakkan reflection letters itu, bersama dengan cerita kultur studio, mengapresiasi, berjenaka, ataupun sesimpel perayaan kebersamaan.
https://real-rich.org/2026/06/24/team-updates/: https://real-rich.org/2026/06/24/team-updates/

(rs, ty, hs, ir)

Kategori
Team - Studio Culture

Rizka Birthday

Kata teman satu timnya, mengenal Rizka itu seperti menemukan tempat yang tenang di tengah hari yang ramai. Orangnya super rajin, disiplin, dan konsisten sekali dengan apa yang dikerjakannya. Ketenangannya terasa betul, dan katanya mungkin itu efek rajin yoga, ditambah bahagia jadi penggemar Minghao Seventeen.

Sebagian orang mungkin menganggap dua hal terakhir itu urusan di luar pekerjaan. Kami tidak. Sebab kalau ditelusuri, kecintaan pada musik justru punya riwayat panjang di profesi ini.

Iannis Xenakis bekerja dua belas tahun di studio Le Corbusier sebagai insinyur dan arsitek, sambil diam-diam mengejar cita-citanya menjadi komponis. Pada 1958, ketika Philips meminta sebuah paviliun untuk Pameran Dunia di Brussel, Le Corbusier menyerahkan rancangannya kepada Xenakis. Yang lahir kemudian adalah bangunan pertama di dunia yang berdiri dari permukaan paraboloid hiperbolik, dan bentuk itu ia ambil dari partitur gubahannya sendiri, Metastaseis, tempat garis-garis nada yang naik turun membentuk permukaan melengkung. Musiknya berubah menjadi bangunan.

Daniel Libeskind lain lagi. Ia dulu pemain akordeon cilik yang dianggap ajaib, tampil di siaran televisi Polandia pada 1953 ketika usianya baru enam tahun, lalu memenangi beasiswa musik bergengsi dan naik panggung bersama Itzhak Perlman muda. Ia kemudian pindah ke arsitektur, tetapi ia menolak menyebutnya berhenti bermusik. Katanya, ia cuma berganti alat musik menjadi arsitektur.

Rizka ada di tim Techne, tim yang kami ibaratkan seperti kerja pandai besi, tempat sebatang baja harus melewati proses yang sama berulang-ulang sebelum menjadi sesuatu yang layak dipakai. Dan orang yang tekun melatih napasnya di matras, atau yang mengagumi penampil yang berlatih ribuan jam sebelum naik panggung, biasanya paham betul soal itu. Ketekunan tidak mengenal bidang. Ia cuma berganti alat.

Selamat ulang tahun, Rizka. Semoga di usia yang baru ini selalu dikelilingi hal-hal baik, semua cita-citanya tercapai, dan semoga perang tiket konser Seventeen makin dimudahkan.

Dari kami semua di RAW dan OMAH.

(Rs, ty, fm)

Kategori
Team - Studio Culture

Meja Mengikuti Kerja

Kalau seseorang berkeliling di Guha dan memperhatikan meja-meja tempat orang bekerja, ia akan menemukan sesuatu yang aneh: tidak ada satu susunan yang seragam. Tiap tim menata mejanya dengan cara yang berbeda. Yang satu memanjang, orang-orang duduk saling berhadapan. Yang lain justru saling membelakangi, dengan ruang rapat di tengah. Ada yang bekerja seperti di ruang tamu, berkumpul di sekitar sofa. Ada pula yang punya ruang rapat dengan layar untuk memantau perkembangan pekerjaan. Semua di tempat yang sama, tetapi ditata dengan logika yang berlainan.

Ini bukan kekacauan. Ini justru prinsip. Kami percaya susunan meja tidak seharusnya ditentukan dari atas dengan satu aturan seragam, melainkan tumbuh dari cara tiap tim bekerja, dan itu sangat dipengaruhi oleh siapa pemimpinnya dan apa yang sedang dikerjakan. Setiap team lead punya ritmenya sendiri, dan meja pun menyesuaikan diri pada ritme itu, bukan sebaliknya. Kami membiarkan setiap tim bereksperimen dengan susunan apa pun yang paling cocok dengan konteksnya.

Kalau ditelusuri, ada logika di balik perbedaan ini, dan menariknya, orang yang mempelajari tata ruang kerja menemukan hal yang serupa. Susunan saling berhadapan mendorong percakapan yang sering dan cepat, cocok untuk pekerjaan yang menuntut koordinasi terus-menerus. Tetapi susunan yang sama itu justru mengganggu ketika seseorang butuh menyendiri dengan pikirannya, karena setiap tatapan menjadi interupsi. Sebaliknya, susunan saling membelakangi menciptakan semacam bayangan yang melindungi, mengurangi gangguan, memberi ruang untuk fokus yang dalam. Tidak ada yang lebih unggul secara mutlak; masing-masing menjawab kebutuhan yang berbeda.

Dari sini kami punya dugaan yang terus kami uji. Pekerjaan yang sifatnya produksi, yang menuntut banyak pertukaran cepat dan pengecekan terus-menerus, tampaknya lebih cocok dengan susunan saling berhadapan, di mana informasi bisa mengalir tanpa hambatan. Sementara pekerjaan yang sifatnya kreatif, yang butuh saling mendengarkan dan menimbang bersama, cenderung menuntut susunan yang mengumpul ke tengah, melingkar, tempat seorang pemimpin tim tidak duduk di ujung memberi perintah, melainkan di antara timnya, mendengarkan. Bentuk ruang, dengan kata lain, ikut menentukan jenis percakapan yang mungkin terjadi di dalamnya.

Ada satu detail kecil yang kami tambahkan di beberapa meja, dan gunanya lebih dalam daripada tampaknya. Di depan meja, kami pasang partisi rendah, sekitar tiga puluh sentimeter di atas permukaan meja, sering kali dengan beberapa stop kontak menempel di sana. Sekilas ia hanya sekat kecil. Tetapi bagi kami, ia mengerjakan sesuatu yang penting secara psikologis: ia memberi perasaan batas.

Partisi serendah itu tidak menutup pandangan dan tidak memutus seseorang dari timnya, ruangan tetap terasa terbuka. Yang ia lakukan hanya menandai, dengan halus, di mana ruang seseorang berakhir dan ruang orang lain dimulai. Sekat kecil itu memberi rasa privasi dan rasa memiliki tempat, tanpa harus membangun dinding. Orang yang mempelajari ruang kerja menemukan hal yang sama: sekat rendah yang menegaskan ruang pribadi memberi orang rasa kendali atas lingkungannya, sambil tetap menjaga keterbukaan visual. Dan rasa kendali sekecil itu, ternyata, mengurangi kelelahan dan membantu orang fokus.

Stop kontak yang menempel di partisi itu pun bukan sekadar kepraktisan, meski memang praktis. Dengan colokan yang berada tepat di depan, setinggi meja, orang bisa menyambungkan laptopnya tanpa harus membungkuk ke bawah kolong mencari sumber listrik. Semuanya bisa dikerjakan dari posisi duduk yang wajar. Ini hal kecil, tetapi hal-hal kecil seperti inilah yang, dijumlahkan sepanjang hari dan sepanjang tahun, menentukan apakah sebuah meja melelahkan atau melegakan bagi tubuh yang menghuninya.

Yang ingin kami tekankan bukan susunan mana yang benar, melainkan sesuatu yang lebih mendasar. Sebelum kita bisa mendesain sebuah meja, atau sebuah ruang kerja, kita harus lebih dulu mengerti bagaimana orang akan bekerja di sana. Meja bukan titik awal; ia jawaban atas pertanyaan yang lebih dulu: pekerjaan seperti apa yang akan berlangsung di sini, dan percakapan seperti apa yang perlu didukung? Merancang meja tanpa memahami kerjanya sama seperti merancang rumah tanpa mengenal keluarganya. Bentuknya mungkin rapi, tetapi ia tidak akan pas.

Inilah lensa yang kami anggap fundamental, dan yang sering dilewati. Banyak orang memulai dari perabot: meja apa yang bagus, kursi apa yang nyaman, tata letak apa yang terlihat rapi. Kami memilih memulai dari yang sebaliknya, dari cara kerja, dari relasi, dari ritme sebuah tim, lalu membiarkan meja mengikuti. Karena sebuah meja yang disusun mengikuti cara orang bekerja akan mendukung pekerjaan itu diam-diam, tanpa disadari. Sementara meja yang dipaksakan justru akan melawan orang-orang yang duduk di sekelilingnya, setiap hari, dengan cara yang sulit mereka tunjuk tapi terus mereka rasakan.

Maka meja-meja yang berbeda-beda di Guha itu bukan tanda ketiadaan sistem. Ia justru sistem yang paling menghormati kenyataan: bahwa tidak ada satu cara bekerja yang berlaku untuk semua orang, dan karena itu, tidak ada satu susunan meja yang benar untuk semua tim. Yang benar hanyalah meja yang jujur mengikuti kerja yang sesungguhnya, dan orang-orang yang mengerjakannya.

Kategori
Team - Studio Culture

Yusrul Birthday

Di studio, Yusrul ada di tim Episteme, dan sifatnya memang cocok sekali di sana. Episteme adalah dunia ilmu pengetahuan, dan kerjanya dimulai dari hal yang jarang terlihat orang, memeriksa standardisasi, membandingkan satu acuan dengan acuan lain, memastikan yang dipakai memang yang benar. Dunia ini paling terasa di proyek bangunan publik, tempat perannya banyak dan orangnya lebih banyak lagi, sehingga setiap keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.

Kata teman-teman satu tim, Yusrul orangnya kalem dan tenang. Ramah, tutur katanya baik, dan yang paling sering disebut, sangat mengayomi dalam pekerjaan. Bertanggung jawab pula. Di studio yang tenggatnya sering menegangkan, orang seperti ini adalah alasan kenapa hari-hari tetap bisa dijalani dengan kepala dingin.

Kuncinya kooperatif, senjatanya kesopanan, dan pengabdiannya serius. Di lapangan, sambil melakukan supervisi, ia menjaga anak-anak muda yang ikut bersamanya, supaya pengetahuan tentang standardisasi material dan bahan tidak berhenti di satu kepala saja, melainkan terus diolah dan diteruskan.

Dan mungkin itu sebabnya, bagi banyak anak magang di studio ini, Yusrul sudah seperti paman ataupun kakak sendiri yang sangat perhatian.

Terima kasih sudah menjaga suasana, dan menjaga anak-anak magang kami, Yus. Semoga tahun ini sehat selalu, dan semoga setiap yang Yusrul kerjakan dan pelajari berbuah baik.

Selamat ulang tahun dari kami semua di RAW dan OMAH.

Kategori
Team - Studio Culture

Waktu Melingkar

Di antara banyak cara kami bekerja, ada satu yang paling sederhana dan paling kami andalkan: duduk melingkar dan mendengarkan. Kami menyebutnya circle time, waktu melingkar. Bukan rapat dengan meja panjang dan kepala di ujung. Melainkan lingkaran, tempat tidak ada yang duduk di depan atau di belakang, dan setiap orang, kalau dilihat dari atas, berjarak sama ke pusatnya.

Bentuk itu bukan kebetulan. Sebuah lingkaran mengatakan sesuatu yang tidak bisa dikatakan oleh susunan lain: bahwa di sini, suara semua orang bernilai sama. Kami memulainya dari yang paling akar, dari anggota tim yang paling muda, yang baru belajar, lalu meluas ke perancang senior, ke engineer, sampai ke klien. Semua duduk di lingkaran yang sama, dan semua didengar. Bukan karena semua pendapat sama benarnya, melainkan karena semua orang berhak didengar sebelum sebuah keputusan diambil.

Ini berbeda dari pendampingan personal, yang satu lawan satu, yang menyesuaikan diri pada kebutuhan tiap orang. Circle time adalah pendampingan komunal: menyamakan nilai bersama, membangun pemahaman yang dipegang beramai-ramai. Yang satu merawat individu; yang satu merawat rasa kebersamaan. Keduanya dibutuhkan, dan keduanya berbeda pekerjaannya.

Ada alasan kenapa lingkaran seperti ini harus dijaga tetap kecil. Orang yang mempelajari kelompok manusia menemukan bahwa ada batas alami: sekitar lima orang untuk lingkaran terdekat yang paling erat, sekitar lima belas untuk kelompok yang cukup dekat sehingga orang berani jujur di dalamnya. Lewat dari itu, sesuatu berubah. Dalam kelompok yang terlalu besar, tanpa seseorang yang memandu dengan cermat, yang pendiam kehilangan kesempatan bicara, dan percakapan pecah menjadi bisik-bisik di pinggir. Kedekatan, ternyata, punya ukuran. Ia tidak bisa dipaksakan pada kerumunan.

Karena itu kami memperlakukan circle time bukan sebagai forum besar, melainkan sebagai sel-sel kecil yang saling terhubung. Seperti sebuah tubuh yang tersusun dari banyak sel, sebuah studio yang sehat tersusun dari banyak lingkaran kecil, masing-masing cukup rapat untuk saling kenal, saling dukung, saling tahu kabar. Dalam lingkaran sekecil itu, orang tidak hanya berbagi pekerjaan; mereka menjadi semacam sistem pendukung satu sama lain. Dan ketika seseorang diajak masuk ke lingkaran itu, sesungguhnya ia sedang diberi tahu sesuatu tanpa kata: bahwa ia kini bagian dari keluarga.

Fokus kami dalam lingkaran ini, pada akhirnya, adalah keterampilan, tetapi keterampilan yang jenisnya sering dilupakan: keterampilan berkomunikasi. Bagaimana menyampaikan tanpa menyakiti. Bagaimana mendengar tanpa buru-buru membantah. Bagaimana bertanya supaya orang lain merasa aman menjawab. Ini keterampilan yang tidak diajarkan di sekolah desain, tetapi justru inilah yang menentukan apakah semua ilmu teknis di ruangan itu bisa dirakit menjadi sesuatu yang utuh, atau berserakan karena orang-orangnya tidak bisa saling bicara.

Dan ada satu hal yang membuat semua ini terasa lebih dari sekadar metode. Di Kampoong Guha ada jendela-jendela berbentuk lingkar. Setiap kali kami melihatnya, kami diingatkan bahwa bentuk lingkaran itu bukan sekadar hiasan; ia menyimpan niat. Niat untuk membuat irisan, untuk mempertemukan orang-orang yang tadinya asing menjadi keluarga baru. Ada kenangan-kenangan yang muncul di lingkaran-lingkaran itu, percakapan yang menjadi persahabatan, orang yang datang sebagai tamu lalu tinggal sebagai saudara, yang setiap kali mengingatnya membuat kami terenyuh.

Barangkali itulah yang paling ingin kami jaga dari circle time: bahwa ia membuat pekerjaan kami lebih profesional dan lebih personal pada saat yang sama. Profesional, karena semua suara didengar dan keputusan menjadi lebih matang. Personal, karena di dalam lingkaran itu orang tidak diperlakukan sebagai fungsi, melainkan sebagai manusia. Sebuah meja bisa membuat orang bekerja bersama. Tetapi sebuah lingkaran, kalau dijaga dengan tulus, bisa membuat mereka menjadi keluarga.

(rs,hs,ty,ir)

Kategori
Team - Studio Culture

Studio yang Tidak Menetap

Studio kami beberapa kali berpindah tempat. Bukan karena terpaksa semata, melainkan karena kami memang tidak ingin terlalu terikat pada satu ruang. Setiap kali pindah, kami mulai lagi dari awal: menata ulang, membaca ulang bagaimana orang duduk, bekerja, dan berbicara di ruang yang baru. Perpindahan itu melelahkan, tetapi kami memilihnya, karena kami percaya sebuah studio tidak seharusnya membeku dalam satu bentuk ruang.

Kami berpindah karena mengamati. Tim ini tidak pernah berukuran tetap; ia mengembang saat proyek banyak, mengecil saat sepi, dan berubah komposisinya seiring orang datang dan pergi. Ruang yang cocok untuk sepuluh orang belum tentu cocok untuk dua puluh, dan ruang yang pas hari ini bisa terasa salah setahun kemudian. Maka pindah, bagi kami, adalah cara ruang mengikuti orang, bukan orang yang dipaksa tunduk pada ruang.

Kalau dipikir-pikir, ini seperti anak sekolah dasar yang tempat duduknya dipindah-pindah. Ada gunanya ia kadang duduk di depan, kadang di belakang, kadang di samping teman yang berbeda. Dengan berpindah, ia belajar bersosialisasi dengan banyak orang, belajar memposisikan diri, dan merasakan bagaimana dunia terlihat dari baris paling depan sekaligus dari baris paling belakang. Ia tidak terkurung dalam satu sudut pandang. Studio yang berpindah bekerja dengan cara yang sama: ia menolak satu sudut pandang tetap.

Karena itu, yang paling dilatih oleh perpindahan sebenarnya bukan ruangnya, melainkan kesiapan mental orang-orangnya. Bekerja sama dengan banyak orang, dalam susunan yang terus berubah, adalah pelajaran tentang relasi sosial sebelum ia menjadi pelajaran tentang desain. Orang belajar menyesuaikan diri, membaca situasi baru, dan menemukan tempatnya berulang kali. Kelenturan itu tidak tumbuh pada orang yang terlalu lama nyaman di satu kursi.

Glenn Murcutt, arsitek Australia itu, memberi kami contoh tentang bagaimana pribadi berkembang lewat adaptasi. Ia bekerja sendiri, sangat selektif, dan sepanjang kariernya merancang dari rumah-rumah kecil sampai akhirnya sebuah masjid di pinggiran Melbourne. Rentang yang jauh itu tidak ia lompati dengan tetap menjadi orang yang sama; ia menempuhnya dengan terus menyesuaikan diri, membiarkan dirinya berubah oleh setiap skala dan setiap persoalan baru. Kematangan seorang perancang, tampaknya, tidak datang dari menetap, melainkan dari kesediaan berpindah, termasuk berpindah cara berpikir.

Guru yang lebih dekat bagi kami adalah almarhum Eko Prawoto. Di rumahnya di Kulonprogo, dan di karya-karya seperti Rumah Kedondong, ia bekerja dengan cara yang membuat kami, orang kota, harus belajar ulang. Ia memakai struktur rumah Jawa, limasan, sebagai kerangka yang sederhana dan mudah dipahami tukang, lalu membiarkan program ruang tumbuh organik di bawah naungannya. Ruangnya tidak baku. Sebuah limasan bisa menjadi ruang tamu, ruang pertemuan, tempat kuliah, bahkan tempat tidur, tergantung kebutuhan hari itu. Ruang yang “ngowong”, yang dibiarkan longgar, justru bisa menampung apa saja.

Bagi kami yang terbiasa dengan cara kota, ini menampar dengan lembut. Kami terbiasa dengan pola pikir yang serba pasti: satu ruang untuk satu fungsi, semuanya ditentukan sejak awal dan dikunci. Desa mengajarkan yang sebaliknya. Sebuah ruang tidak harus tahu akan menjadi apa; ia cukup disiapkan cukup baik, lalu dibiarkan hidup menemukan gunanya. Fleksibilitas itu bukan kekurangan perencanaan; ia bentuk kearifan yang lain, yang tidak takut pada ketidakpastian.

Dan ada cara lain lagi yang kami pelajari, yang juga jauh dari kebiasaan kota: membangun dari yang sudah jadi. Eko Prawoto mengumpulkan struktur kayu bekas dari berbagai daerah, rumah Jawa Timuran, lumbung dari Bawean, dan memadukannya menjadi sesuatu yang baru. Ini dunia lawasan, dunia jual beli bangunan lama, tempat yang diperdagangkan bukan sekadar material mentah, melainkan bangunan yang sudah pernah hidup, lengkap dengan sejarahnya. Ada tradisi tawar-menawar di dalamnya, ada penghormatan pada apa yang sudah ada. Merakit dari yang sudah jadi menuntut kerendahan hati yang berbeda dari membangun serba baru: ia menuntut kita mendengarkan apa yang bisa dan tidak bisa diminta dari sebuah benda tua.

Semua ini, pada akhirnya, adalah satu pelajaran yang sama: jangan terlalu menetap. Jangan terikat pada satu ruang, satu susunan, satu fungsi, satu cara. Studio yang berpindah, tim yang berubah ukuran, ruang yang dibiarkan longgar, bangunan lama yang dirakit ulang, semuanya mengajarkan hal yang serupa, bahwa hidup yang sehat, seperti ruang yang sehat, adalah yang siap menerima perubahan tanpa kehilangan dirinya. Kami masih terus belajar itu, kepindahan demi kepindahan.

Kategori
Team - Studio Culture

Berpindah Dunia di Satu Studio

Tim-tim di studio kami punya nama yang terdengar seperti mata kuliah filsafat: Sophia, Episteme, Phronesis, Techne, Analytic, Strategic, dan masih ada beberapa lagi. Orang sering tersenyum ketika pertama kali mendengarnya. Tetapi di balik nama-nama yang terdengar berat itu, yang sebenarnya kami bangun sederhana sekali: dunia-dunia kecil, masing-masing dengan bahasanya sendiri.

Ada dunia yang hidup di meja gambar, menyusun metode dan tata bahasa desain. Ada dunia yang hidup di antara buku, meneliti dan menuliskan apa yang orang lain belum sempat pikirkan. Ada dunia pengetahuan praktis, dunia para tukang, tempat sebuah gagasan diuji oleh tangan dan material sungguhan. Ada dunia yang menimbang arah dan strategi, dan ada dunia angka serta arsip yang diam-diam menjaga semua dunia lain tetap berdiri.

Dan inilah bagian yang paling kami jaga: di studio ini, orang tidak dipaku pada satu dunia. Mereka berpindah-pindah. Yang biasa menggambar sesekali menemani tukang di lapangan. Yang biasa meneliti ikut duduk di rapat proyek. Anak magang bisa merasakan beberapa dunia sekaligus dalam satu masa magangnya, mencicipi bahasa yang berbeda-beda sebelum menemukan bahasa yang paling terasa seperti miliknya.

Kenapa kami melakukannya? Karena kami percaya kreativitas jarang lahir di tengah-tengah satu dunia. Ia hampir selalu lahir di perbatasan. Orang yang pernah tinggal di dunia tukang akan menggambar dengan cara yang berbeda. Orang yang pernah tenggelam di dunia buku akan membangun dengan pertanyaan yang lebih dalam. Setiap perpindahan membuka saluran baru, dan semakin banyak saluran yang terbuka, semakin deras gagasan bisa mengalir dari satu dunia ke dunia lain. Studio ini hidup justru dari lalu lintas itu.

Berpindah-pindah bukan berarti tidak ada tempat untuk masing-masing orang. Justru sebaliknya: dengan mencoba banyak dunia, seseorang menemukan porsinya sendiri, tempat ia paling bisa memberi. Dan setelah menemukannya pun, pintu ke dunia-dunia lain tidak pernah kami tutup, supaya porsi itu tetap hidup dan tidak berubah menjadi tempurung.

Nama-nama Yunani itu boleh terdengar rumit. Tetapi yang kami rawat di baliknya sederhana: dinding antar tim sengaja kami buat rendah, supaya mudah dilompati. Karena studio yang sehat bukanlah kumpulan kotak yang rapi, melainkan rumah dengan banyak pintu yang saling terbuka, dan orang-orang yang tidak pernah berhenti saling mengunjungi.

Kategori
Team - Studio Culture

Naik dan Berputar

Ada kuil-kuil yang menuntut kita mendaki. Di Fushimi Inari, di Kyoto, ribuan gerbang merah menuntun orang naik melewati lereng gunung, satu gerbang demi satu gerbang, tangga demi tangga, sampai ke puncak. Yang menarik, ketika akhirnya sampai di atas, sering tidak ada apa-apa di sana yang megah. Hanya pepohonan, keheningan, dan langit. Orang-orang yang pernah ke sana banyak yang berkata hal yang sama: yang berharga ternyata bukan puncaknya, melainkan perjalanan menuju ke sana. Pendakian itu sendirilah tujuannya.

Kami sering merasa Guha punya sesuatu seperti itu. Bukan karena kami merancangnya menyerupai kuil, melainkan karena ia, dengan caranya sendiri, menjadi tempat yang harus dijelajahi, bukan sekadar dimasuki. Sirkulasinya berputar-putar. Tangganya banyak. Pintunya banyak. Untuk sampai dari satu titik ke titik lain, kadang seseorang harus naik, berbelok, turun, memutar, melewati jalan yang tidak langsung. Jaraknya sebenarnya tidak jauh. Tetapi pengalamannya tidak biasa.

Sebagian dari ini, harus kami akui dengan jujur, lahir dari keterbatasan. Instalasi bangunan, saluran air, dan berbagai kebutuhan teknis tidak selalu bisa diletakkan di tempat yang paling nyaman, apalagi dengan kebutuhan ruang yang terus bertumbuh. Maka jalur pun menyesuaikan diri, berkelok mengikuti apa yang mungkin, bukan apa yang ideal. Tetapi keterbatasan itu, seperti sering terjadi, ternyata membawa hadiahnya sendiri: ia menantang daya adaptasi orang-orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya.

Ini paling terasa, dan paling lucu, pada urusan yang paling mendasar: buang air. Anak-anak muda yang tinggal di Guha harus berputar, turun dengan hati-hati, melewati jalan yang berkelok hanya untuk sampai ke kamar mandi. Ada satu tamu kami yang, saking bingungnya dengan perjalanan berliku ini, sampai bercanda bahwa impian terbesarnya adalah bisa buang air langsung tanpa harus berputar sejauh itu, kalau perlu di kandang ayam sekalian, biar dekat. Kami menertawakannya bersama-sama, karena memang begitulah rasanya: sebuah perjalanan kecil yang, di saat genting, terasa jauh sekali.

Tetapi di balik lelucon itu ada sesuatu yang kami hargai. Berjalan berputar setiap hari, bahkan untuk hal sesederhana itu, diam-diam melatih orang untuk terbiasa dengan yang tidak langsung, yang tidak serba instan, yang menuntut sedikit kesabaran dan kesadaran akan ruang di sekitarnya. Di dunia yang serba ingin cepat dan langsung, ada nilai kecil yang terselip dalam keharusan berputar: ia membuat orang hadir pada perjalanannya, bukan hanya pada tujuannya.

Soal banyaknya pintu, ada cerita lain lagi. Kami membuat banyak akses supaya tempat ini mudah dimasuki dari berbagai arah, terbuka, tidak berkesan tertutup. Tetapi ada konsekuensi yang tidak kami rencanakan dan sering dijadikan banyolan: banyaknya pintu ternyata membuat seorang pencuri, seandainya ia berhasil masuk, justru kebingungan mencari jalan keluar. Gampang masuk, susah keluar. Sebuah labirin yang ramah bagi yang berkawan, tetapi membingungkan bagi yang berniat buruk. Kami tidak merancangnya untuk itu, tetapi ruang memang sering punya akibat yang melampaui niat perancangnya.

Dan kalau boleh menyeberang lebih jauh, ke tanah kita sendiri, kami teringat Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Kami pernah ke sana, menaiki undakannya, dan membaca apa yang terpahat di sana. Yang tinggal di kepala kami adalah sebuah ajaran sederhana tentang kebaikan: bahwa kebaikan agama dan kebaikan budi pekerti pada dasarnya satu, bahwa iman yang sejati bukan diukur dari ritualnya semata, melainkan dari tingkah dan laku sehari-hari. Agama dan budi, di situ, bukan dua hal yang terpisah; keduanya saling menjelaskan.

Kami tidak berani mengaku paham sepenuhnya, tetapi ada sesuatu di sana yang terasa bersambung dengan pendakian di kuil mana pun: bahwa naik ke atas, entah ke puncak gunung entah ke puncak laku, pada akhirnya bermuara pada semacam ketiadaan. Padamnya hiruk-pikuk. Barangkali itulah yang dimaksud dengan nirwana, bukan tempat yang megah di puncak, melainkan keheningan yang tersisa setelah semua keramaian mereda. Dan barangkali sebuah bangunan, seperti sebuah laku, tugasnya bukan membawa kita pada kemegahan, melainkan menuntun kita, pelan-pelan lewat putaran dan tangganya, menuju ketenangan itu.

Pada akhirnya, Guha memang bukan bangunan yang dirancang untuk efisiensi lalu lintas. Ia bukan tempat yang membawa orang dari titik A ke titik B secepat mungkin. Ia lebih mirip sebuah perjalanan kecil yang berputar, dengan tangga, pintu, dan kelokannya sendiri, tempat yang paling berharga sering kali bukan tujuan yang dituju, melainkan jalan berliku menuju ke sana. Seperti kuil di lereng gunung itu, yang mengajarkan bahwa mendaki, dengan segala putaran dan tangganya, kadang lebih bermakna daripada apa yang menunggu di puncak.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell – Ridwan Kamil Pakerrangi

Yang Membawa Kami ke Tempat yang Belum Terbayangkan

Alya termasuk orang yang ikut membangun studio ini, dari awal sampai titik terakhir masa magangnya. Ada divisi yang, setelah ia lewat, tidak lagi sama seperti sebelumnya. Itu bukan pujian yang kami obral; itu kenyataan yang kami saksikan sendiri.

Kami percaya pengetahuan itu berputar. Setiap hari kami membukanya sedikit, lalu mengangkatnya sedikit lebih tinggi, lalu menyerahkannya untuk diteruskan. Alya datang sudah membawa sesuatu, ukuran tersendiri yang tidak banyak dimiliki orang seusianya. Perjuangannya di sini bukan lagi membangun ukuran itu, melainkan menyerap semua yang bisa diserap, dan membiarkan dirinya dikenal oleh kawan-kawan seperjuangannya. Itu salah satu hal yang kami syukuri.

Rasa ingin tahunya agak mencengangkan. Ia tertarik pada hal yang, pada masa itu, belum banyak dipikirkan orang di studio: bagaimana teknologi bertemu arsitektur, bagaimana sebuah persoalan bisa dibaca dengan cara yang lebih analitik. Bersama seorang kawan seangkatannya, ia menjadi cikal bakal cara berpikir yang kelak tumbuh menjadi divisi tersendiri. Bayangkan dua orang muda, di antara para senior yang sudah sangat matang, justru membuka sebuah ranah yang belum ada yang menggarapnya. Yang mereka bicarakan bukan sekadar pekerjaan sehari-hari, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam tentang pengetahuan itu sendiri.

Dari benih itulah sebuah divisi baru akhirnya lahir, dan cara berpikir yang mereka rintis pelan-pelan mendukung kerja-kerja lain, saling menopang, saling menghidupi. Kami menjadi saksi bahwa seorang anak muda bisa menyumbangkan perubahan yang bertahan jauh setelah ia pergi. Tetapi memang tidak ada yang benar-benar tidak selesai; setiap orang perlu melangkah maju, dengan pengetahuan yang baru dan tempat yang baru.

Ada sisi lain dari Alya yang membuat kami menyayanginya. Ia cair, mudah berbaur, senang berbagi rujukan buku dengan siapa saja. Ia rajin. Di sela-sela istirahat, ia bermain piano, dan suaranya menemani kami semua. Dan ia fotografer yang berbakat: ia suka memotret kawan-kawannya di Guha, dan hasilnya selalu berhasil menangkap sesuatu yang sulit ditangkap, karakter seseorang, suasana sebuah ruang, jiwa sebuah material. Kami menyukai foto-foto itu, karena di dalamnya terlihat bahwa ia tidak sekadar merekam, ia memperhatikan.

Momen seperti ini selalu membuat kami senang sekaligus, sejujurnya, sedih. Tidak bisa kami pura-pura bahwa perpisahan harus selalu ceria. Yang paling akan kami rindukan adalah saat-saat kami berbincang dalam tentang arsitektur, karena di saat-saat itulah kami melihat wajahnya yang sesungguhnya, dan ukuran yang ia bawa. Tidak banyak orang yang bisa berada di kedalaman itu.

Dan di sinilah kami belajar sesuatu tentang persahabatan, yang kadang memang dilematis. Kalau kita menyayangi seseorang, kita harus siap kehilangannya. Justru karena sayang, kita merelakannya pergi menempuh jalannya sendiri. Itu berat, dan kami tidak berpura-pura ringan.

Maka pesan kami sederhana. Pergilah, dorong batasmu sejauh mungkin. Ukuran yang kau bawa itu jangan pernah kau hilangkan, dan jangan pernah percaya bahwa kau akan disamakan begitu saja dengan orang lain. Ke mana pun persahabatan membawamu, ingatlah momen-momen ini. Persahabatan akan tetap tumbuh, bahkan makin besar; tetapi pengetahuan akan tinggal, dan itu yang perlu kau jaga. Fokuslah pada pengetahuanmu, dan sisanya akan mengikuti.

Di mana pun kita nanti berada, kita akan terbang ke tempat masing-masing. Tetapi kembalilah sesekali, apa pun yang terjadi. Kami mensyukuri setiap momen yang kita punya, dari saat kita bertemu sampai saat kita berpisah. Kami mendoakanmu dengan tulus, Alya, dan kami akan mengingat semua ini, untukmu.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell – Alya Hasna Rizky Riandita

Yang Membawa Kami ke Tempat yang Belum Terbayangkan

Alya termasuk orang yang ikut membangun studio ini, dari awal sampai titik terakhir masa magangnya. Ada divisi yang, setelah ia lewat, tidak lagi sama seperti sebelumnya. Itu bukan pujian yang kami obral; itu kenyataan yang kami saksikan sendiri.

Kami percaya pengetahuan itu berputar. Setiap hari kami membukanya sedikit, lalu mengangkatnya sedikit lebih tinggi, lalu menyerahkannya untuk diteruskan. Alya datang sudah membawa sesuatu, ukuran tersendiri yang tidak banyak dimiliki orang seusianya. Perjuangannya di sini bukan lagi membangun ukuran itu, melainkan menyerap semua yang bisa diserap, dan membiarkan dirinya dikenal oleh kawan-kawan seperjuangannya. Itu salah satu hal yang kami syukuri.

Rasa ingin tahunya agak mencengangkan. Ia tertarik pada hal yang, pada masa itu, belum banyak dipikirkan orang di studio: bagaimana teknologi bertemu arsitektur, bagaimana sebuah persoalan bisa dibaca dengan cara yang lebih analitik. Bersama seorang kawan seangkatannya, ia menjadi cikal bakal cara berpikir yang kelak tumbuh menjadi divisi tersendiri. Bayangkan dua orang muda, di antara para senior yang sudah sangat matang, justru membuka sebuah ranah yang belum ada yang menggarapnya. Yang mereka bicarakan bukan sekadar pekerjaan sehari-hari, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam tentang pengetahuan itu sendiri.

Dari benih itulah sebuah divisi baru akhirnya lahir, dan cara berpikir yang mereka rintis pelan-pelan mendukung kerja-kerja lain, saling menopang, saling menghidupi. Kami menjadi saksi bahwa seorang anak muda bisa menyumbangkan perubahan yang bertahan jauh setelah ia pergi. Tetapi memang tidak ada yang benar-benar tidak selesai; setiap orang perlu melangkah maju, dengan pengetahuan yang baru dan tempat yang baru.

Ada sisi lain dari Alya yang membuat kami menyayanginya. Ia cair, mudah berbaur, senang berbagi rujukan buku dengan siapa saja. Ia rajin. Di sela-sela istirahat, ia bermain piano, dan suaranya menemani kami semua. Dan ia fotografer yang berbakat: ia suka memotret kawan-kawannya di Guha, dan hasilnya selalu berhasil menangkap sesuatu yang sulit ditangkap, karakter seseorang, suasana sebuah ruang, jiwa sebuah material. Kami menyukai foto-foto itu, karena di dalamnya terlihat bahwa ia tidak sekadar merekam, ia memperhatikan.

Momen seperti ini selalu membuat kami senang sekaligus, sejujurnya, sedih. Tidak bisa kami pura-pura bahwa perpisahan harus selalu ceria. Yang paling akan kami rindukan adalah saat-saat kami berbincang dalam tentang arsitektur, karena di saat-saat itulah kami melihat wajahnya yang sesungguhnya, dan ukuran yang ia bawa. Tidak banyak orang yang bisa berada di kedalaman itu.

Dan di sinilah kami belajar sesuatu tentang persahabatan, yang kadang memang dilematis. Kalau kita menyayangi seseorang, kita harus siap kehilangannya. Justru karena sayang, kita merelakannya pergi menempuh jalannya sendiri. Itu berat, dan kami tidak berpura-pura ringan.

Maka pesan kami sederhana. Pergilah, dorong batasmu sejauh mungkin. Ukuran yang kau bawa itu jangan pernah kau hilangkan, dan jangan pernah percaya bahwa kau akan disamakan begitu saja dengan orang lain. Ke mana pun persahabatan membawamu, ingatlah momen-momen ini. Persahabatan akan tetap tumbuh, bahkan makin besar; tetapi pengetahuan akan tinggal, dan itu yang perlu kau jaga. Fokuslah pada pengetahuanmu, dan sisanya akan mengikuti.

Di mana pun kita nanti berada, kita akan terbang ke tempat masing-masing. Tetapi kembalilah sesekali, apa pun yang terjadi. Kami mensyukuri setiap momen yang kita punya, dari saat kita bertemu sampai saat kita berpisah. Kami mendoakanmu dengan tulus, Alya, dan kami akan mengingat semua ini, untukmu.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell – Farhan Andika Pratama & Yusuf Akbar Satriatama

Sahabat Ketiga

Setiap orang yang datang ke studio ini membawa sesuatu yang berbeda. Ada yang meninggalkan jejak lewat ide-idenya, ada yang dikenang lewat cara bekerjanya, dan ada yang membuat keseharian terasa lebih hangat hanya karena kehadirannya. Beberapa bulan terakhir, kami mendapat dua sekaligus: Farhan dan Yusuf, dua mahasiswa dari Semarang yang datang bersama, dan pulang meninggalkan lebih banyak dari yang mereka duga.

Farhan adalah pencari damai. Ia jenis orang yang ingin sekitarnya bahagia, dan caranya sederhana: membantu. Di studio, kegembiraannya menular, dan ketertarikannya jatuh pada eksplorasi visual, menyusun komposisi, memperhatikan bagaimana gagasan berubah menjadi rupa. Sebelum pulang, ia meninggalkan sebuah lukisan untuk Guha. Jejaknya kini tinggal di dinding kami, dalam arti yang sebenarnya.

Yusuf punya cerita perkenalan yang akan lama kami ingat ibarat acara komedi. Suatu hari, salah satu lead kami mengira ia mandor. Bukan karena salah lihat, melainkan karena gelagatnya: ia bisa menjelaskan situasi lapangan dengan tenang, membantu siapa saja, dan membawa diri seperti orang yang sudah bertahun-tahun di antara besi dan beton. Ia memang bunglon dalam arti terbaiknya, luwes di mana pun diletakkan, tapi warnanya tetap satu: lucu, otentik, dan jujur. Dan cita-citanya bukan menjadi arsitek. Yusuf ingin menjadi pemangku kebijakan, karena ia senang berkontribusi untuk banyak orang. Apa pun mimpinya, kami akan doakan, karena perspektif seperti itulah yang berharga mengawali potensi anak-anak muda ini.

Keduanya saling melengkapi, dan keduanya bersahabat. Yang satu mencari damai lewat gambar, yang satu menghangatkan ruangan lewat cerita. Dan cerita-cerita yang mereka bagikan setiap hari pelan-pelan melakukan sesuatu yang tidak kami duga: kami ikut ditarik masuk, menjadi sahabat ketiga di antara mereka berdua.

Dari Farhan, sang pencari damai, lahir salah satu percakapan yang paling membekas. Kami sampai pada pemahaman bahwa damai hanya benar-benar dikenal oleh yang pernah mengenal konflik, bahwa ingin dicintai berarti siap pernah dibenci, dan ingin sembuh berarti pernah merasakan sakit. Hidup selalu punya pasangannya yang bertolak belakang, dan pasangan-pasangan itu tidak menunggu esok hari; ia terjadi setiap hari. Farhan merenungkannya dengan caranya sendiri, lewat doa, dan kami merenungkannya lewat pekerjaan kami.

Sementara Yusuf mengingatkan kami pada sesuatu yang kami percayai sejak lama: tidak harus menjadi arsitek untuk belajar arsitektur. Seorang mahasiswa yang pulang membawa cara membaca ruang, membaca lapangan, dan membaca orang, akan memakai semua itu untuk kotanya kelak, dan itu justru bentuk keberhasilan yang lain.

Ada satu pelajaran yang Yusuf bawa pulang dari lapangan, dan ia menuliskannya di surat perpisahannya. Suatu hari ia diajak seorang mentor menemui klien, dan di sana ia mendapat nasihat yang mengubah cara pandangnya: jangan menganggap semua klien akan memperlakukan kita sama. Di satu tempat kita bisa disambut terhormat sebagai tamu, di tempat lain kita mungkin hanya dianggap pekerja. Dan justru di situlah profesionalisme diuji, karena ia tidak boleh bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. Yusuf menangkapnya dengan tepat: memberi yang terbaik dalam kondisi apa pun.

Ia juga pulang membawa nasihat lama tentang merantau, tentang orang berilmu yang tidak berdiam di kampung halaman, dan tentang manisnya hidup yang baru terasa setelah lelah berjuang. Studio ini, tulisnya, adalah tempat asing yang kini terasa seperti rumah. Kalimat itu kami terima dengan haru, karena begitulah kami ingin tempat ini bekerja: asing di hari pertama, rumah di hari terakhir.

Di padepokan ini, kami memang menemukan definisi edukasi yang sederhana: saling mengerti mimpi tiap orang. Mimpi Farhan dan mimpi Yusuf tidak sama, dan tugas kami bukan menyeragamkannya. Tugas kami mengerti mimpi itu, lalu membekalinya dengan apa pun yang kami punya.

Hubungan antara lead dan anak magang memang akan berakhir; masa magang selalu punya tanggal pulangnya. Tetapi yang berakhir hanya strukturnya. Menjadi kawan dan sahabat tidak ada habisnya: ada ikatan yang menerus, ikatan perjuangan belajar bersama, ikatan guru dan murid, dan pada akhirnya, sejawat.

Di suratnya, Farhan menuliskan kalimat dari gurunya: sebaik-baik teman ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan. Ia menujukannya kepada kami, tetapi kami membacanya terbalik juga: merekalah yang bulan-bulan ini menunjukkan kebaikan itu kepada kami, lewat lukisan di dinding, lewat tawa di lapangan, lewat cara mereka bersahabat. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, Farhan, Yusuf. Sahabat ketiga tidak mengucapkan selamat tinggal; ia hanya menunggu cerita kalian berikutnya.

Kategori
Team - Studio Culture

Keluarga Bogor

Suatu hari kami rapat di Bogor, membicarakan salah satu pasar di sana. Rapatnya berjalan seperti rapat biasa. Yang tidak biasa adalah oleh-olehnya: pulang dari sana, kami diberi seekor kambing Nigerian dwarf.

Kambing itu kami beri nama Bogor, sesuai kota tempat ia datang. Dan karena di lahan sesempit ini halaman adalah barang mewah, kandangnya kami buatkan di tempat yang masih tersisa: di atap. Jadilah seekor kambing tinggal di atas kepala kami semua, dan tidak ada satu pun yang merasa itu aneh.

Dari Bogor kami mulai belajar hal-hal yang tidak diajarkan di studio arsitektur. Ia butuh susu, dan butuh rumput — maka rumput disabit dari sekitar sini. Lalu pelajaran tentang tanah yang berputar: kotorannya menjadi pupuk. Supaya kandang tidak bau, alasnya diberi sekam kuning. Dan sekam yang sudah kering itu ternyata bisa dijual, atau kembali dipakai menjadi alas lantai lagi. Di kandang kecil itu tidak ada yang berhenti menjadi sampah; semuanya sedang dalam perjalanan menjadi hal yang lain.

Lalu Bogor bertemu Bantul, kambing betina yang dinamai dari kota tempat ia ditangkarkan. Dua nama kota bertemu di satu atap.

Dan dari pertemuan itu lahirlah dua anak: Tamsir dan Jambon. Kelahiran itu tidak mudah. Bidannya bukan dokter hewan, melainkan mandor kami di lapangan. Dan kelahiran pertama, seperti sering terjadi, tidak berjalan mulus: satu anaknya tidak selamat. Tetapi tangan mandor berhasil mengeluarkannya — dan justru itulah yang menyelamatkan nyawa induknya.

Ia tenang saja sesudahnya. Maklum, katanya, biasa, anak pertama. Dalam dunia kambing, ia menjelaskan, kasus yang paling rawan justru ketika anak tidak bisa keluar; di situlah induk paling sering ikut pergi. Pengetahuan itu tidak ia dapat dari buku mana pun. Dan kami berdiri di situ menyadari sesuatu: tangan yang sehari-hari mengurus besi dan beton ternyata juga tahu cara menyelamatkan seekor induk. Ilmu lapangan, rupanya, jauh lebih luas dari lapangan itu sendiri.

Keluarga Bogor pun tidak sendirian di rumah ini. Ada keluarga kucing Mickey yang terus beranak-pinak sampai silsilahnya perlu dihafalkan. Ada ayam-ayam Polandia berjambul yang punya kebiasaan berkokok justru ketika semua orang sedang bekerja. Ada seekor kura-kura yang bibirnya memerah seperti berlipstik, karena terlalu sering makan siang buah naga.

Dan diam-diam, mereka semua masuk ke surat-surat perpisahan anak-anak magang. Di antara ucapan terima kasih untuk ilmu gambar kerja dan detail arsitektur, tertulis juga: berkenalan dengan kambing Bogor sekeluarga. Ada yang menulis akan selalu merindukan mereka.

Barangkali memang begitulah rumah yang hidup. Ia tidak hanya menampung orang-orangnya; ia melahirkan penghuninya sendiri — di atap, di sela pekerjaan, di tangan seorang mandor yang tenang. Dan yang dikenang orang dari sebuah rumah, ternyata, bukan hanya arsitekturnya.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Gregory Marvell NIcholas Wityo dan Reinhardt Ezekiel Kurniawan

Jiwa yang Berkelana dalam Waktu

Anak magang kadang datang seperti pengelana: berjalan sendiri, mencari sesuatu yang belum tentu ia bisa namai. Lalu di suatu titik, lingkaran-lingkaran kecil itu bertemu, dan orang-orang yang sebenarnya sudah lama berdekatan baru benar-benar saling menemukan. Kami sering menyaksikannya di rumah ini.

Rein pernah datang ke perpustakaan ini dua tahun sebelum ia melamar magang. Waktu itu ia mahasiswa semester dua yang tersesat di antara rak-rak, sampai harus dipandu petugas kami. Yang menempel di kepalanya justru bukan bukunya, melainkan bangunannya sendiri: bagaimana mungkin ada kantor berisi banyak orang di dalam sebuah rumah, dan bagaimana semua itu dirawat.

Dua tahun kemudian, ketika ia harus mencari tempat magang dan bingung ke mana, pertanyaan lama itu yang memanggilnya kembali. Ada tempat-tempat yang kita temukan jauh sebelum kita mencarinya, dan ternyata ia menunggu dengan sabar, lengkap dengan perspektif dan ingatannya sendiri.

Bersama Gregory, Rein menghabiskan hari-hari terakhir masa magangnya di sini. Dan inilah yang kami syukuri: keduanya justru menjadi dekat di Guha, padahal di kampus mereka sendiri mereka jarang berinteraksi. Rupanya kedekatan tidak selalu lahir dari seringnya berpapasan; ia lahir dari mengerjakan sesuatu yang sulit bersama-sama.

Rein orang yang ceplas-ceplos. Kalimatnya keluar lebih dulu daripada pertimbangannya, dan yang membuat kami sayang adalah apa yang terjadi sesudahnya: ia bingung sendiri, memikirkan apakah ia sudah membuat kesalahan, lalu ingin minta maaf terus-menerus. Ia takut melukai orang tanpa sengaja. Kejujuran seperti itu, kegelisahan yang muncul justru karena peduli, tidak bisa diajarkan kepada siapa pun. Ia juga pandai bermain piano, dan di sela-sela istirahat, suara piano itu menemani istirahat kami semua. Ada anak magang yang meninggalkan gambar. Rein meninggalkan kenangan manis tentang jari-jarinya yang menekan tuts. Ia anak seni yang berbakat, yang mengamati dengan daya hidup seorang seniman.

Gregory kebalikannya: seorang pengamat. Ia memperhatikan lebih dulu, bicara belakangan, dan karena itu ia mudah sekali bekerja sama dengan para lead. Ia menangkap ritme sebuah tim tanpa perlu diberi tahu, lalu menempatkan dirinya di tempat yang pas. Tidak heran ia menjadi salah satu anak yang paling disayang di studio ini.

Di suratnya, Gregory menulis sesuatu yang membuat kami berhenti sejenak. Katanya, selama lima semester ia terbiasa diarahkan menatap ke luar: mempelajari karya dari mana saja, kecuali dari negerinya sendiri. Rasa ingin tahunya pada yang lokal tidak pernah mendapat kesempatan tumbuh, karena begitulah pedagogi yang lazim mengarahkannya. Justru karena itulah padepokan ini menonjol baginya. Kalimat itu, bagi kami, bukan pujian. Ia peringatan tentang cara arsitektur diajarkan di negeri ini.

Ia juga jujur mengakui bahwa perpindahan dari hidup kota yang ia hirup sehari-hari ke suasana kampung di Guha terasa mengagetkan. Kami menghargai kejujuran itu. Tempat ini memang tidak dirancang untuk terasa nyaman sejak hari pertama; ia dirancang untuk terasa nyata. Dan yang nyata biasanya butuh waktu sebelum menjadi rumah.

Meskipun Gregory belum tahu apakah kelak ia akan berkarier di arsitektur, di padepokan ini seseorang tidak harus menjadi arsitek untuk pantas belajar arsitektur. Dan tidak semua yang mencintai arsitektur datang dari sekolah arsitektur. Yang terpenting adalah perspektifnya, ilmunya, dan kejujurannya. Yang ia bawa pulang, cara membaca ruang, cara bekerja bersama orang, cara memperhatikan sebelum menilai, akan terpakai di jalan apa pun yang ia pilih.

Dan barangkali itu sebabnya keduanya cocok: yang satu bicara lebih dulu lalu mengoreksi diri, yang satu mengamati lebih dulu lalu bertindak tepat. Dua cara yang berbeda untuk sampai pada hal yang sama, yaitu keinginan untuk tidak menyakiti dan tidak asal-asalan. Studio ini butuh dua-duanya, dan hidup pun begitu.

Semoga kegelisahan yang baik itu ikut pulang bersama kalian berdua: gelisah untuk terus belajar, gelisah untuk tidak menyakiti, dan gelisah untuk memperhatikan dengan lebih sungguh-sungguh. Sampai jumpa di jalan masing-masing, Rein, Gregory. Pintu ini tidak pernah benar-benar tertutup, seperti yang sudah dibuktikan Rein dua tahun lalu, dan Gregory di masa magang ini: sebuah lingkaran yang menerus, dan pelan-pelan menyatu.

Kategori
Team - Studio Culture

Meja yang Satu Lagi

Ada satu hal yang selalu membuat kami tersenyum setiap kali membaca surat-surat perpisahan anak magang di studio ini. Surat itu seharusnya berisi pelajaran arsitektur: gambar kerja, konsep, kunjungan lapangan. Dan memang berisi itu semua. Tetapi hampir di setiap surat, di sela-sela ucapan terima kasih untuk para mentor, satu nama lain terus muncul, disebut dengan sayang yang sama: Bibi. Bibi bukan arsitek. Bibi yang memasak untuk kami.

Setiap tengah hari, pekerjaan di studio ini berhenti. Meja gambar ditinggalkan, layar dibiarkan menyala sendirian, dan semua orang turun ke meja yang satu lagi: meja makan di pantry. Di sana arsitek senior, desainer muda, dan anak magang duduk menghadap masakan yang sama. Satu jam yang tidak diisi gambar sama sekali.

Sebelum makan pun sudah ramai sendiri. Ada keriuhan kecil yang terjadi hampir setiap hari: memutuskan mau pesan apa, siapa yang mencatat, jajanan sore apa yang dibeli. Kekacauan kecil yang menyenangkan, yang belakangan kami sadari justru sering dikenang anak-anak magang dalam surat mereka, sejajar dengan pelajaran mendetailkan gambar.

Dan di meja itulah sebenarnya banyak hal penting terjadi. Cerita hari itu dibagikan, keluhan dan kegembiraan sama-sama mendapat tempat, pertanyaan yang tak sempat diajukan di meja kerja tiba-tiba menemukan jalannya di sela suapan. Di meja gambar, ada senior dan junior, ada tim ini dan tim itu. Di meja makan, semua itu mencair. Orang yang makan bersama setiap hari sulit untuk tetap menjadi orang asing satu sama lain.

Kebiasaan ini bukan kami yang memulai. Ia datang dari meja makan generasi sebelum studio ini berdiri, ketika para pembangun dan keluarga duduk bersama, membicarakan proyek sambil makan, dan hidup mereka perlahan saling menjadi hidup satu sama lain. Kami hanya meneruskan meja itu.

Karena pada akhirnya beginilah kami memahaminya: yang kami kerjakan di meja gambar adalah rumah untuk orang lain. Yang kami rawat di meja makan adalah rumah untuk kami sendiri.

Kategori
Team - Studio Culture

Irfan Birthday

Ada satu kata yang hampir selalu muncul setiap kali orang-orang di studio ini menyebut nama Irfan: bisa diandalkan. Kata itu terdengar sederhana. Tetapi di sebuah studio, ia adalah salah satu pujian tertinggi yang bisa diterima seseorang.

Tanggal 16 Juni adalah harinya, hari kami merayakan perjalanan seorang teman yang tumbuh bersama Tim Strategic di studio ini.

Orang yang bisa diandalkan biasanya bukan yang paling nyaring. Irfan kami kenal sebagai sosok yang tenang dan sabar; ketika dinamika pekerjaan memanas, ia hadir dengan kepala dingin, mendengarkan, dan membantu tim menemukan jalan keluarnya. Pekerjaan di Tim Strategic menuntut ketelitian dan kemampuan melihat persoalan dari banyak sudut, dan ia menjalaninya dengan konsisten, memberi rasa tenang bagi siapa pun yang bekerja di sampingnya.

Di luar meja kerja, semangatnya sama panjangnya dengan larinya. Irfan seorang pelari, dan jarak yang jauh tidak pernah membuatnya surut. Setelah kilometer demi kilometer selesai ditempuh, ada satu ritual sederhana yang selalu ia nantikan: semangkuk soto hangat. Dan barangkali memang begitulah wataknya, seperti pelari jarak jauh, ia tahu cara menjaga napas: tidak meledak-ledak di awal, tetapi selalu sampai.

Bagi kami, bertambahnya usia bukan sekadar soal angka, melainkan soal bagaimana seseorang terus bertumbuh tanpa kehilangan nilai-nilai baik yang ia bawa. Dan itulah yang kami lihat pada Irfan, tahun demi tahun.

Selamat ulang tahun, Irfan. Semoga sehat selalu, bahagia, dan tidak pernah kehabisan semangat untuk terus belajar dan bertumbuh. Terima kasih sudah menjadi orang yang bisa kami andalkan, dan semoga “soto” kesukaannya sehabis lari berikutnya terasa paling nikmat.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Felisha Logiman

Studio menjadi tempat yang tidak hanya menyimpan hasil dari sebuah proses, tetapi juga menjadi saksi perjalanan orang-orang yang tumbuh di dalamnya. Ada banyak cerita yang hadir dalam bentuk yang berbeda-beda, namun semuanya meninggalkan pelajaran dan makna yang berharga. Salah satu cerita itu hadir melalui perjalanan @fe.li.sha.l, mahasiswa Interior Binus University @interior.binus selama barada di studio.

Di awal masa internship, Feli cenderung banyak memperhatikan, dan mencoba memahami lingkungan di sekitarnya sebelum benar-benar terlibat lebih jauh. Seiring berjalannya waktu, ia mulai membuka diri, berbagi cerita, bercanda bersama teman-teman studio, membangun kedekatan, hingga akhirnya mampu melebur dalam keseharian studio. Feli menunjukkan bagaimana proses adaptasi dapat tumbuh alami ketika seseorang memberi dirinya kesempatan untuk berkembang.

Di balik sikapnya yang tenang, Feli memiliki kemampuan belajar dan cara berpikir kritis. Ia mampu menangkap arahan, beradaptasi dengan ritme kerja yang cepat, sekaligus nyaman ketika dihadapkan pada proses membutuhkan pemikiran mendalam dan analitis. Ia memahami kebutuhan pekerjaan dengan cepat serta tidak ragu mengajukan pertanyaan ketika ada hal yang ingin dipahaminya lebih dalam.

Hal lain selalu terasa dari kehadiran Feli adalah inisiatif dan kepeduliannya terhadap tim. Tidak hanya menyelesaikan tugas yang diberikan, tetapi juga sering menawarkan bantuan dan memperhatikan kebutuhan di sekitarnya. Sebuah sikap yang menunjukkan kesediaannya untuk terlibat dan berkontribusi lebih jauh.

Selama perjalanan di studio ini, Feli perlahan menemukan ritmenya sendiri. Ia terus mendorong dirinya untuk memahami sesuatu dengan lebih baik dan berkembang dalam setiap kesempatan.

Terima kasih, Feli, untuk setiap proses, rasa ingin tahu, inisiatif, serta energi yang telah kamu bawa selama berada di studio ini. Semoga semua pengalaman, pelajaran, dan pertemuan selama perjalanan ini menjadi bekal berharga untuk langkah berikutnya.

Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya, Feli. Semoga semangat belajarmu, dan kepedulianmu terhadap orang-orang di sekitarmu selalu menjadi bagian dari setiap proses yang akan kamu jalani ke depan.

Kategori
Team - Studio Culture

Melisa Birthday

9 Juni lalu menjadi salah satu momen spesial yang berarti di tengah keseharian studio. Di antara berbagai proses dan ritme pekerjaan yang terus berjalan, kami meluangkan waktu sejenak untuk merayakan perjalanan seorang teman yang tumbuh bersama Tim Strategic di Studio RAW Architecture, ia adalah Melisa.

Melisa di studio sering dipanggil “princess”. Hal itu tidak lepas dari kebiasaannya yang selalu tersenyum, ramah kepada semua orang, serta kepekaan dan responsnya yang cepat terhadap orang di sekitarnya. Kehadirannya sering kali membuat suasana terasa lebih ringan, bahkan di tengah hari-hari yang padat. Namun di balik itu, kami melihat bahwa yang paling menonjol darinya bukan sekadar julukan itu, melainkan keteguhan dan keberaniannya dalam menghadapi berbagai proses.

Debu lapangan, panas terik matahari, perjalanan survei yang panjang, hingga berbagai kondisi yang tidak selalu nyaman bukanlah hal yang membuatnya mundur. Melisa menjalani semua itu dengan kesungguhan dan keberanian yang sering kali membuat kami kagum. Di balik pembawaannya yang ceria, ada semangat yang terus mendorongnya untuk menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan baik.

Dalam berbagai project yang dijalani, Melisa memiliki kemampuan yang kuat dalam mengantisipasi dan memecahkan masalah. Ia mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang perlu dipersiapkan sejak awal, menjaga proses tetap berjalan dengan terarah, dan membantu tim menghadapi berbagai tantangan dengan lebih siap.

Di luar pekerjaan, Melisa membawa energi yang khas ke dalam keseharian studio. Sifatnya yang tegas namun tetap hangat, ditambah keceriaan yang selalu ia hadirkan, sering kali membuat suasana menjadi lebih hidup. Akhir-akhir ini, lagu-lagu dari PENSI (Pentas Swara Indonesia) bahkan seolah menjadi soundtrack yang menemani hari-harinya dan menambah warna dalam keseharian kami bersama.

Kami bersyukur bisa berjalan bersama Melisa dan melihatnya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, dan tetap membawa energi baik ke lingkungan kecil kami.

Selamat ulang tahun, Melisa. Semoga langkahmu ke depan selalu dipenuhi keberanian, kesehatan dalam setiap proses, dan kebahagiaan di setiap perjalananmu.

Kategori
Team - Studio Culture

Aulia Birthday

Beberapa hari yang lalu, menjadi momen kecil namun berarti di studio kami. Di tengah ritme kerja yang padat, kami berhenti sejenak untuk merayakan perjalanan seorang teman yang tumbuh bersama Tim Phronesis di Studio RAW Architecture, ia adalah Aulia Henessy.

Aul kami kenal sebagai sosok yang pekerja keras, memiliki dedikasi tinggi dalam setiap pekerjaannya. Kecil-kecil cabe rawit mungkin menjadi ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkannya. ia mampu bekerja secara maksimal dan tetap bertanggung jawab dalam berbagai situasi, bahkan ketika harus bekerja sampai batas kemampuannya.

Di studio, Aul tanpa disadari tumbuh menjadi panutan, termasuk bagi adik-adik intern. Cara ia bekerja, berinteraksi, dan menghadapi tantangan menunjukkan bahwa profesionalisme tidak hanya dibangun dari kemampuan, tetapi juga dari empati dan ketulusan dalam memperlakukan orang lain.

Aul memiliki kepedulian dan pendekatan yang sangat manusiawi terhadap orang-orang di sekitarnya, Ia mampu membaur dengan para tukang tanpa menciptakan jarak, dan mengobrol dengan akrab. Gestur sederhana itu membuat suasana kerja terasa lebih hangat dan saling menghargai. Dari cara ia memperlakukan orang-orang di sekelilingnya, terlihat bagaimana ia menghargai setiap peran dan keberadaan dalam lingkungan kerjanya membuat banyak orang merasa dilihat dan dihargai.

Aul juga dikenal sebagai pribadi yang sangat perhatian. Ia mampu melihat kebutuhan tim secara menyeluruh tanpa mengabaikan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Ia peka membaca situasi, menangkap kebutuhan, bahkan mengetahui apa yang perlu dilakukan sebelum diminta. Kami menyebutnya memiliki “detektif skill”.

Kami bersyukur dapat merayakan perjalanan Aul tahun ini dan melihat bagaimana ia terus bertumbuh menjadi pribadi yang kuat, rendah hati, dan membawa energi baik bagi lingkungan kecil kami.

Selamat ulang tahun, Aul. Semoga setiap langkahmu dipenuhi keberanian untuk terus bertumbuh, kesehatan untuk menjalani setiap proses, dan kebahagiaan yang kembali kepadamu sebagaimana kebaikan yang telah kamu bagikan kepada banyak orang.

Kategori
Team - Studio Culture

Wellcoming Marvel, Syahid, dan Fina Intership – Hans, Steven, Jaja, Najwa dan Rafa

Di studio, kami selalu dipertemukan dengan berbagai macam orang yang datang silih berganti. Dengan dinamika yang terus berkembang, setiap perjumpaan menghadirkan cerita, latar belakang, dan perjalanan yang berbeda-beda.

Baru-baru ini, kami menyambut para jiwa baru yang menjadi bagian dari keluarga RAW DOT OMAH. @marvellafelicia_ dari @architecture.ugm dan @syahidalshadiq dari @arsitek_unilak yang bergabung dengan Tim Sophia di RAW, @ikfinaaula_ dari @hmjisaiwalisongoyang bergabung dengan Tim Penulisan di OMAH, serta @hans_p_wijaya dari President University, @stevenmandalaa, @dzakyahwd, @najwaa.p, dan @mrafa.adty_ dari Universitas Sriwijaya yang menjalani proses belajar sebagai intern di studio kami. Setiap kehadiran membawa semangat dan cara pandang beragam yang akan menjadi bagian dari dinamika serta keseharian studio.

Kami berharap awal perjalanan ini menjadi ruang untuk saling mengenal, bertukar pengetahuan, dan tumbuh bersama. Sering kali, pembelajaran justru hadir melalui kebersamaan, percakapan, dan berbagai pengalaman yang ditemui dalam keseharian studio. Semoga langkah-langkah yang dimulai hari ini dapat menjadi bagian dari perjalanan yang bermakna, sekaligus memperkaya proses belajar yang kita jalani bersama.

Selamat datang di keluarga RAW DOT OMAH ^^


Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Manas Yatin Gawade

RAW Architecture’s studio was once again filled with brief encounters that left a warm impression, moments shaped by learning, everyday dynamics, and the energy that grows through each individual.

Manas came from India as part of his university internship program, but he chose to take a different path. While many of his peers pursued internships within their own country, he decided to come to Indonesia in search of new experiences and ways of learning. It was not only about the studio or architecture, but also about encountering a different environment, culture, and way of life. This journey became his first experience traveling abroad, a significant step that required the courage to move beyond his comfort zone.

Manas came into the studio as someone deeply critical and full of questions. He never simply went through the process passively, but continuously tried to understand the reasoning behind everything, why something was done in a certain way, how the logic worked, and what purpose a process was meant to serve. His curiosity made every discussion feel alive and rich with exchanges of perspective.

Throughout his time here, Manas showed strong initiative. He maintained a solid standard of work, particularly through his consistent and detail oriented technical abilities. His interest in conceptual design and analytical thinking made his learning process thoughtful, in depth, and exploratory.

Even after moving between several teams, he adapted quickly and remained flexible in responding to different working rhythms. Manas also blended naturally with the people in the studio, building connections, learning to understand a new environment, and even learning Bahasa Indonesia as a way to feel more connected with those around him. He adapted well to differences in culture and language while continuing to actively contribute to the everyday life of the studio.

Until we meet again on another journey, Manas. Thank you for bringing perspectives, questions, and energy that made the studio feel more alive. May everything you experienced and learned here continue to grow and accompany you wherever your next steps may lead.


Kategori
Team - Studio Culture

Timothy Birthday

Di tengah dinamika studio yang terus bergerak, selalu ada pribadi-pribadi yang kehadirannya perlahan membawa warna baru dalam keseharian kami.

24 April menjadi hari yang spesial di studio kami, hari di mana kami merayakan perjalanan seorang teman yang tumbuh bersama tim Sophia di studio RAW Architecture, ia adalah Timothy.

Perjalanan Timothy bersama RAW membawa banyak energi baru di dalam lingkungan kerja kami. Sejak awal bergabung, Timothy dikenal sebagai pribadi yang mudah beradaptasi dan mampu membangun hubungan baik dengan banyak orang. Kehadirannya membuat proses untuk menyatu dengan tim berjalan secara natural, hingga perlahan menjadi bagian penting dalam keseharian kami di studio.

Karakter Timothy yang adaptif membuat dirinya semakin dipercaya dalam berbagai proses dan tanggung jawab. Perjalanannya pun berkembang cukup jauh, mulai dari masa internship hingga kini mampu menangani project dengan tingkat kompleksitas dan tanggung jawab yang lebih besar. Dalam proses tersebut, Timothy juga menunjukkan kemampuan kolaborasi antar divisi yang sangat baik, membantu banyak pekerjaan berjalan lebih terhubung dan terarah.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan leadership Timothy juga semakin terlihat. Tidak hanya memiliki kemampuan komunikasi dan kerja sama yang baik, Timothy juga menunjukkan kemampuan analitik serta penguasaan software yang kuat. Hal ini membuatnya mampu menyusun strategi dan menyelesaikan berbagai project dengan pendekatan yang efektif dan matang.

Di balik semua proses itu, Timothy tetap menjadi pribadi yang membawa energi positif bagi lingkungan sekitarnya. Kehadirannya tidak hanya membantu tim dalam pekerjaan, tetapi juga menghadirkan semangat dan suasana yang lebih hidup dalam keseharian di studio.

Kami bersyukur dapat merayakan ulang tahun Timothy tahun ini, kami turut bangga melihat perjalanan, proses belajar, dan pertumbuhan Timothy hingga menjadi pribadi yang semakin dapat diandalkan dari waktu ke waktu.

Selamat ulang tahun, Timmy.
Semoga tahun ini dipenuhi banyak pengalaman baru, proses yang semakin menguatkan, langkah-langkah baik yang terus membawamu bertumbuh dan kebaikan yang selalu menyertaimu.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Clara Moulin, Alize Koclega, Lou-Anne Techeney

Some time ago, the studio had the opportunity to welcome three individuals who arrived with fresh energy, immense curiosity, and an endless eagerness to learn.

Clara Mouli from L’École Nationale Supérieure d’Architecture de La Réunion, Lou Anne Techeney and Alize Koclega from Toulouse School of Architecture joined us not only as interns, but also as friends who grew together through the same process. Their connection felt natural from the very beginning, supporting, and understanding one another while bringing an energy that quickly made the studio feel warm and alive.

From the start, they adapted remarkably well. From learning the rhythm of the studio, understanding new ways of working, to navigating the language and the small everyday habits around them, everything was embraced with enthusiasm and genuine curiosity. It did not take long for them to connect with everyone in the studio and become part of its daily dynamics.

What stood out the most was their openness toward new experiences. With a strong spirit of exploration, they continuously sought to understand things beyond what they had previously known, sharing stories, exchanging perspectives, and gradually dissolving the boundaries between “outsiders” and “insiders.” Through this, the learning process became more alive, meaningful, and deeply human.

Watching them grow, adapt, and build meaningful connections in such a short time became a joyful experience for all of us in the studio. Their presence brought warmth, liveliness, and a constant sense of curiosity into the space.

Thank you for every story, laughter, and spirit you brought into this space. We hope that all the experiences, lessons, and relationships formed during your time here will continue to become part of your journey ahead.

Until we meet again on another journey, your energy will always remain a part of this studio.

📸 & 🎥 by :
1 @chairunnisabels & @tyoadngrh
2,3 @chairunnisabels
4,5 @tyoadngrh


Kategori
Team - Studio Culture

Edho Birthday

17 Maret menjadi salah satu hari yang spesial di studio kami—hari ketika kami merayakan perjalanan Edho bersama RAW.

Jika melihat perjalanan waktunya di RAW, tahun ini menjadi tahun ke-3 Edho tumbuh bersama kami. Ada hal yang membuatnya terasa berbeda—di setiap libur semester, Edho memilih untuk kembali ke RAW sebagai intern. Edho selalu memilih kembali ke studio untuk belajar, berproses, dan melanjutkan perjalanan yang sudah ia mulai. Sebuah konsistensi yang sederhana, namun menunjukkan keseriusan dan komitmennya dalam belajar.

Di tahun ini, perayaannya terasa berbeda. Ini menjadi tahun pertama Edho sebagai seorang designer di Studio RAW. Sebuah langkah yang menandai perubahan besar dari perjalanannya—dari intern hingga kini dipercaya untuk mengambil peran lebih, termasuk membimbing adik-adik intershipnya menjadi bukti dari proses yang ia jalani dengan konsisten.

Edho dikenal dengan karakternya yang tenang dan pendiam. Karakter ini melekat kuat, namun justru dari situlah muncul keunikan yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa dekat. Ada rasa penasaran, ada momen-momen kecil yang sering kali mengundang senyum, dan tak jarang kehadirannya membawa warna tersendiri lewat responnya yang sederhana namun berbeda.

Dalam pekerjaan, Edho menunjukkan ketekunan yang konsisten. Ia memiliki kecepatan dan resiliensi yang membuatnya dipercaya dalam berbagai proses. Di saat yang sama, ia juga terus berproses untuk membuka diri—belajar berkomunikasi, memahami peran, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh.

Perayaan ini mungkin sederhana, namun rasa syukur kami tidak pernah sederhana. Syukur atas perjalanan seseorang yang terus kembali untuk belajar, bertumbuh sedikit demi sedikit, dan memberi dampak baik dalam lingkungan kecil kami.

Selamat ulang tahun, Edho.
Semoga di usia yang ke-23 ini, Semoga langkahmu ke depan terus bertumbuh, semakin percaya diri dalam prosesmu, dan membawa banyak kebaikan—untuk dirimu dan lingkungan di sekitarmu. Semoga tahun ini membawa banyak kesempatan dan perjalanan baru yang bermakna..

Kategori
Team - Studio Culture

Zyadi Birthday

11 Februari lalu menjadi salah satu hari yang istimewa di studio kami. Hari itu, kami merayakan perjalanan seorang teman yang bertumbuh bersama Tim Phronesis di Studio RAW Architecture ia adalah Zyadi.

Di balik setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang bagaimana seseorang bertumbuh. Bagi rekan-rekannya, Zyadi dikenal sebagai sosok yang tenang dan humble. Pekerjaan yang berkaitan dengan integrasi gambar, koordinasi teknis, hingga detail-detail yang sering luput dari perhatian, seolah sudah terpetakan rapi di kepalanya. Tak heran jika julukan “Zyadi MEP” lahir begitu saja dari orang-orang terdekatnya.

Yang membuat Zyadi begitu berharga bukan hanya kemampuannya menjawab pertanyaan teknis, tetapi juga kesediaannya untuk selalu membantu. Ada ketenangan dalam caranya bekerja, ada kesabaran dalam setiap penjelasan. Zyadi adalah sosok yang bisa diandalkan.

Bahkan sempat ada celetukan dari teman-teman setimnya:
“PLN saja bingung, tidak pernah isi token tapi menyala terus performanya.” Candaan yang lahir dari kekaguman karena konsistensi dan energinya memang selalu terasa.

Di sela waktu istirahat, ada sisi lain dari Zyadi yang tak kalah konsisten: ia adalah striker andalan di game FIFA. Dan tentu saja, identitas lain yang tak pernah absen,fans Barca garis keras, apa pun musimnya.

Ada satu pesan kecil dari kami semua untuk Zyadi: kurangi nyemil kerupuk ya hahaha

Di usia yang bertambah ini, semoga setiap langkahmu selalu dipenuhi kebahagiaan, keselamatan, dan keberkahan untuk dirimu dan keluarga. Semoga semangatmu terus menyinari setiap perjalanan ke depan.

Selamat ulang tahun, Zyadi.

Kategori
Team - Studio Culture

Nielson Birthday

21 Januari lalu menjadi salah satu hari yang istimewa di studio kami. Hari di mana kami merayakan perjalanan seorang teman yang tumbuh bersama Tim Techne Normative di Studio RAW Architecture ia adalah Nielson.

Di balik setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang bagaimana seseorang bertumbuh. Nielson datang dengan ketenangan dan kemisteriusannya, dengan gaya serba hitam yang sudah seperti identitas. Namun di balik tampilannya yang kalem, ada sosok yang selalu bisa diandalkan. Detail dalam desain, kuat di teknis, seorang yang full package dan bekerja dalam diam, tanpa perlu banyak bicara. Ia tajam dalam berpikir, dan sekali bersuara, mampu membuat semua orang fokus.

Perayaannya sederhana, lilin kecil, tawa yang pecah di tengah sore yang hangat. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada rasa syukur. Tentang manusia yang saling belajar, saling bertumbuh, dan pelan-pelan membawa pengaruh baik bagi lingkungan kecil yang kami bangun bersama.

Disore hari itu, tercipta sebuah pantun yang memecahkan tawa, ada satu versi Nielson yang muncul dari teman-teman satu timnya:
Masak bakwan pakai tepung terigu,
Makannya bareng di atas plat beton.
Arsitek idaman, jago komputer nomor satu.
Happy birthday yang ke-25, Nielson.

Di usia ke-25 ini, semoga langkahmu semakin mantap, pikiranmu semakin dalam, dan setiap proses yang kamu jalani membawamu pada versi diri yang terus bertumbuh. Semoga kebahagiaan menyertai setiap perjalanan, untuk dirimu, dan untuk banyak orang yang akan ia temui ke depannya.

Kategori
Team - Studio Culture

Back to Genesis- Studio Garasi (Sylvanus)

Cuplikan film pendek ini merekam percakapan bersama kak @silvanusprima, berlatar di masa Studio Garasi RAW Architecture (2011–2015), sebuah periode pembentukan sikap, jiwa kebersamaan padepokan, dan cara berpikir yang menjadi fondasi RAW hingga hari ini.

Video ini kami terbitkan bersamaan dengan peluncuran buku The DNA of RAW DOT OMAH, yang merangkum perjalanan panjang 14 tahun melalui 13 prototipe proyek-proyek rumah tinggal, sistem studio yang tumbuh, dan berbagai pembacaan multiperspektif atas DNA praktik di RAW DOT OMAH.

Melalui perspektif kak Silvanus, kita diajak melihat RAW DOT OMAH sebagai lebih dari sekadar studio: ada rasa komunitas dalam pertapaan, ikatan batin yang terbentuk dari proses, dan tujuan praktik yang perlahan mengerucut, membangun arsitektur sekaligus mewariskan pengetahuan desain ke generasi berikutnya.

Film pendek Studio Garasi juga dapat dilihat selengkapnya di:
https://youtu.be/joU_ggPLJOQ?si=ortFZvoRmKb74Tvs

Kredit Film – Studio Garasi
Produksi: @realricharchitectureworkshop
Script Writer: @luil_mn
DOP: @farhannash
Videographer: @farhannash @satriaapermana @luil_mn @hanifahsausann @nirmaayn @aryophramudhito
Soundman: @farhannash @meinnamelani
Music Scoring: Robi Ardiansyah – Framelens Audio Visual
Video Editor: @farhannash @meinnamelani

Kategori
Team - Studio Culture

Studio Culture – Muhammad Irfan Al Mujaddidi

Kak Irfan @almujaddidi adalah salah satu leader di RAW Architecture. Ia lulus dari @its_arch.official dan kini menjadi bagian penting dari Tim Strategic.

Tim Strategic berperan sebagai pusat koordinasi seluruh proyek berjalan: mendeteksi critical point di lapangan, menyusun priority list untuk divisi, sehingga ia seringkali banyak bersinggungan dengan Tim Techne yang memproduksi gambar kerja dan Tim Phronesis yang banyak melakukan koordinasi di lapangan. Dalam perannya di Tim Strategic, Kak Irfan juga berperan memastikan alur informasi berjalan lancar antara apa yang dikerjakan di studio dan kondisi di lapangan.

Saat awal bergabung ke studio RAW di 3 tahun lalu, ia berada di tim Techne yang mengawal pembangunan dan sempat beberapa kali terlibat mendukung tim konseptual. Ia pun belajar bagaimana keteknisan desain diuji melalui detailing serta pemahaman ketukangan dan realisasi desain di lapangan.

Selanjutnya, ia pindah ke tim Episteme dan merasakan dinamika proyek dari diskusi klien hingga integrasi vendor yang intensif dengan kecepatan tinggi. Setahun setelahnya, ia juga sempat dipercaya untuk bergabung di Tim Phronesis. Kini di Tim Strategic, ia bekerja dalam lingkup yang serupa bagaimana mengelola prioritas lintas proyek dengan lompatan yang lebih dinamis.

Bersama RAW DOT OMAH, Kak Irfan menyaksikan studio kami yang terus bertumbuh, ia merasakan adanya pembagian tim yang semakin jelas dan membantu efisiensi dalam pekerjaan. Di studio ini, ia juga banyak bertemu teman-teman yang tidak pelit berbagi pengetahuan dan merasakan hangatnya kebersamaan seperti keluarga.

Pengalaman ini mengingatkan kami pada pemikiran Andres Lepik dalam Small Scale, Big Change (2010) yang kami jadikan referensi di buku Menjadi Arsitek (OMAH Library, 2019):

“… architectural innovation today is often driven by social engagement and the ability to adapt small interventions for big impact, requiring practitioners to work collaboratively across disciplines.”

Arsitektur lahir dari adaptasi cepat, mendengarkan berbagai suara, dan kolaborasi lintas peran, praktik dinamis, kolektif, siap menghadapi tantangan.

Video Editor: @jocelynemilia
Produced by: @guhatheguild

Kategori
Team - Studio Culture

Acha Birthday

22 Desember lalu menjadi hari yang spesial di studio RAW, hari untuk merayakan Acha, salah satu sosok yang kehadirannya memberi warna dalam keseharian kami di Guha.

Hampir dua tahun bersama kami, Acha tumbuh menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritme di studio. Ada keceriaan yang hadir lewat hal-hal sederhana: gerak-geriknya yang spontan, bahkan saat ia hanya duduk diam di depan layar. Tanpa banyak usaha, ia sering kali menjadi mood booster bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam keseharian bekerja, Acha dikenal dengan caranya sendiri. Ketika kami memutar lagu, ia dengan lugunya bernyanyi lebih cepat dari lirik, salah satu hal kecil yang sering membuat kami tertawa, hingga ritual sore hari yang nyaris tak pernah terlewat, kebiasaannya membeli jajanan di depan Guha. Semua itu sudah menjadi bagian kecil dari cerita kami bersama Acha.

Di luar itu, Acha juga dikenal dengan kecintaannya pada kopi dan film. Akhir pekan sering dihabiskan berkeliling kafe atau menonton film di bioskop, lengkap dengan cerita dan ulasan yang dibagikannya di sosial medianya. Minat-minat ini ia jalani dengan antusias, dan tanpa sadar ikut membuka ruang percakapan dan tawa dalam hari-hari kami bersama Acha di studio.

Di balik semua itu, Acha adalah pribadi yang dapat diandalkan. Ia fleksibel, sigap, dan selalu hadir dengan semangat dalam mengerjakan berbagai tugas. Kehadirannya tidak hanya membantu proses berjalan lebih ringan, tetapi juga membuat lingkungan kerja terasa lebih hangat dan menyenangkan.

Perayaan ini mungkin sederhana, namun rasa syukur kami tulus. Syukur atas seseorang yang tumbuh bersama kami, membawa keceriaan, dan memberi energi baik dalam lingkungan kecil kami.

Selamat ulang tahun, Acha.
Semoga tahun-tahun ke depan dipenuhi tawa, cerita-cerita baik, dan proses yang terus bertumbuh bersamamu.

Kategori
Team - Studio Culture

Studio Culture – Joana Agustin

Kak @joanaagustin atau yang akrab disapa Kak Mei adalah salah satu leader di studio kami. Ia lulus dari @ukmc.palembang dan kini menjadi bagian dari Tim Strategic.

Tim Strategic berperan mempertemukan banyak hal sekaligus: proyek, klien, pertimbangan desain, hingga berbagai critical point yang menuntut pembacaan cermat. Kerja tim ini melibatkan banyak orang, kepentingan, dan lapisan keputusan. Oleh karenanya, Kak Mei terbiasa membaca situasi, menjaga komunikasi, dan memahami bahwa arsitektur tidak hanya soal gambar, tetapi juga relasi dan kepercayaan dalam menangani berbagai kasus studi.

Saat pertama bergabung, Kak Mei sempat di tim konseptual selama 6-7 bulan. Di fase ini, ia belajar bagaimana metode desain diuji dan dipertanyakan—bagaimana desain lahir dari diskusi strategi bioklimatik serta upaya memahami konteks secara utuh.

Lalu, Kak Mei pindah ke tim manajemen lapangan, berhadapan langsung dengan realitas pembangunan yang rigid dan terus dijalani hingga sekarang. Di lapangan, ia banyak bersentuhan dengan proses quality control, perhitungan, serta koordinasi lintas aktor—dari tukang, vendor, klien, hingga tim internal. Menurutnya, kehati-hatian dan fokus menjadi kunci utama untuk mendeteksi hal-hal yang belum sesuai, menghindari mispersepsi, dan menjaga kesempurnaan.

Selama 8 tahun bersama RAW DOT OMAH, Kak Mei menyaksikan studio ini bertumbuh. Dari situ ia merasakan bagaimana praktik arsitektur dijalani secara kolektif—bertemu dengan berbagai generasi, saling menopang, dan terus belajar.

Pengalaman ini mengingatkan kami pada pemikiran Paul Segal yang kemudian dielaborasi lebih jauh di buku How to Think Like an Architect (OMAH Library, 2019):

“(Architectural practice) requires broad understanding of technical issues, leadership, team-building, and managing entities over time to achieve objectives, demanding adaptive coordination beyond solo expertise.”

Di sini arsitektur lahir dari kemampuan berpikir & bertindak, juga kemampuan menjadi pembelajar, bersikap adaptif untuk menggali arsitektur yang plural.

Video Editor: @jocelynemilia@arlynkeizia@7withsisca
Produced by: @guhatheguild
Footage: Sarang Nest House Video by @farhannash

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Lusi, Octavius, Rizal, Hasna, dan Shylla

Pada periode internship kali ini, kami kedatangan banyak sekali adik-adik kami dengan semangat belajar yang membara. Meskipun mereka semua memiliki latar belakang kampus dan asal daerah yang berbeda-beda, selama belajar di studio, energi mereka saling terikat dan bertukar satu sama lain. Hal ini sangat bisa kami rasakan, mulai dari bagaimana adik-adik kami ini berdiskusi serius hingga bersenda gurau.

Di periode internship kali ini, ada @lusirsta dari UIN Walisongo Semarang yang memiliki rasa keingintahuan tinggi dan kemauan belajar yang kuat, @octaviussetiawan dari Calvin Institute of Technology yang kritis dalam berpikir dan belajar dengan sangat cepat, @rizal_xiao dari Universitas Katolik Parahyangan yang memperhatikan sampai ke detail kecil saat belajar dan bisa diandalkan, hingga dari Universitas Diponegoro @hasnaayudya dan @shyllash yang menyerap pembelajaran di studio dengan sangat banyak dan cepat.

Terima kasih untuk adik-adik kami yang sudah memancarkan energinya masing-masing di studio kami. Harapan kami kalian bisa menjadi penerang untuk sekitar kalian lebih luas lagi. Semoga sukses selalu dan apa yang sudah dipelajari bersama bisa terus berguna untuk perjalanan kalian ke depannya. Energi kalian akan selalu ada di tengah-tengah kami.

📸 & 🎥 oleh:
1, 6, 7, 8: @tyoadngrh
1, 3, 8, 10: @reviynatk
2, 9, 11: @andriiyansyahmr
4, 5: @lusirsta
11: @rizal_xiao

Kategori
Team - Studio Culture

Aditya Birthday

Pada 9 Desember lalu, kami merayakan ulang tahun @adityakosman. Di tengah dinamika proses bekerja di studio, ada pribadi-pribadi yang kehadirannya memberi kedalaman, bukan hanya pada pekerjaan, tetapi juga pada cara berpikir dan refleksi. Adit adalah salah satu pribadi yang seperti itu.

Sejak awal, Adit dikenal memiliki kecintaan yang besar pada arsitektur. Ketertarikannya merambat pada bacaan tentang tokoh, bangunan, sejarah, dan teori—digali dengan kesabaran dan rasa ingin tahu yang serius. Ia kritis, tidak mudah menerima sesuatu secara mentah-mentah, dan selalu terdorong untuk memahami lebih jauh.

Adit merupakan lulusan California College of the Arts (CCA). Ia pertama kali datang ke studio kami sebagai intern. Selama masa itu, ia mempelajari banyak hal yang beragam: mulai dari konseptual design, design development, project management, hingga penulisan. Kemauan dan keseriusannya membuat proses belajarnya berjalan cepat; ia menyerap, mencatat, dan mengolah setiap pengalaman dengan sungguh-sungguh.

Kini, Adit hadir sebagai rekan yang dapat diandalkan sekaligus teman diskusi yang tajam. Di luar pekerjaan, ia juga pribadi yang menyenangkan untuk diajak berbincang—tentang olahraga, film, dan hal-hal ringan dalam keseharian.

Perayaan ini mungkin sederhana, tetapi rasa syukur kami tidak pernah sederhana. Syukur atas perjalanan seseorang yang terus bertumbuh, menjaga kedalaman berpikirnya, dan menghadirkan energi baik di lingkungan kecil kami. Semoga langkahmu ke depan dipenuhi kebahagiaan, proses-proses baik yang terus bertumbuh, dan segala impianmu dapat tercapai.

Sejak 2010 di Studio Garasi, kami percaya bahwa arsitektur, proses bekerja, dan belajar selalu berangkat dari hal yang paling dasar, yaitu manusia. Merayakan ulang tahun bukan sekadar menandai usia, tetapi kembali ke titik awal—sebuah momen yang pasti dialami setiap orang. Di sanalah kami mengingat bahwa di balik peran dan jabatan, selalu ada manusia yang bertumbuh. Tradisi ini kami jaga sejak masa studio garasi: merayakan satu sama lain, mendengarkan cerita, dan menjaga semangat kebersamaan yang merupakan DNA kami, RAW DOT OMAH.

Selamat Ulang Tahun Adit!

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Ambre + Noemie

We first crossed paths with @noemieschh
and @amber_gth_ during a presentation by our principal, @rawarchiteture_best, in La Réunion.

What was shared that day was personal. Yet what lingered was the way they listened. Their attentiveness carried a quiet enthusiasm, as if they were recognizing something deeply resonant, something that intersected with their own questions and longings.

That realization became clearer when we saw them in Baduy. They asked many questions about the mystery of sufficiency, about a way of living that does not rush. It felt as though Baduy offered a life they had been imagining: grounded, deliberate, and whole, standing calmly against the constant acceleration of technology.

We sensed the same feeling when they were in Piyandeling.
They smiled. They were present. They were genuinely happy.

Noémie tends to move through rational structures, while Amber navigates the world more empirically, guided by intuition and feeling. Together, they represent a generation in motion, always thinking, sensing, and searching. The time we shared with them was deeply valuable. Their curiosity invited us to look again at Indonesia: at Nusantara, at simplicity, at modesty, at materials and craftsmanship we often take for granted.

They were most alive in the field, observing mock-ups, touching steel and wood shaped by hand, witnessing making as a process rather than merely a result. Through their excitement, we were reminded that what feels ordinary to us still holds care, meaning, and quiet beauty.

They come from far away, separated by thousands of kilometers, between Jakarta and La Réunion, between Indonesia and Africa. Yet we felt close. Connected not by geography, but by an inner energy: a shared spirit that keeps moving, keeps questioning, and keeps seeking.

This is how we will remember Noémie and Ambre, as part of a kinship across the equator, and as fellow travelers in a journey shaped by curiosity, humility, and care.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Haykal

Beberapa waktu lalu, kami merayakan graduasi salah satu rekan kami, @ha.ykal. Haykal adalah salah satu rekan kami di studio yang punya banyak bacaan yang disukai. Ia adalah alah satu dari sedikit orang yang membawa bacaan ke dalam percakapan sehari-hari. Salah satunya tentang Manfredo Tafuri akan kritik kontekstual yang berlapis, telaah struktural, melihat konteks bukan sebagai latar, melainkan sebagai medan perjuangan; yang dibaca bukan sekadar bentuk, tetapi virtue dan aktornya.

Haykal adalah salah satu anak didik dari UII, yang tumbuh sebagai salah satu mahasiswa terbaik di sana. Dengan bekal referensi yang kuat, kami rasa ia adalah orang yang sangat menjanjikan untuk menjadi salah satu pemikir ulung di arsitektur Indonesia ke depan.

Seorang pemikir memang membutuhkan waktu untuk mencapai kematangannya. Pemikiran itu seperti abstraksi yang dalam, ia tidak instan, tapi mengendap pelan, dalam, dan membutuhkan waktu panjang. Haykal adalah seorang yang punya variasi cara berpikir yang lengkap.

Di studio, kami sangat senang bertemu dengan keberagaman karakter yang ada. Dari seorang pemikir yang punya bacaan yang kuat, Haykal mewarnai praktik yang diskursif, kritis, dan diskusi yang selalu berjalan.

Kini kami melepas perjalanan Haykal di studio kami. Kami mendoakan dengan sungguh-sungguh agar Haykal terus bertumbuh dengan bacaan yang semakin luas, referensi yang tak terbatas, dan langkah yang membawanya ke titik di mana ia bisa merasa utuh dan bahagia dengan jalannya sendiri. Kami sangat bangga, karena orang seperti Haykal sangat langka.

Sampai jumpa lagi ya, doa kami menyertai @ha.ykal

Kategori
Team - Studio Culture

RAW DOT OMAH Team

Di RAW DOT OMAH, kami memiliki berbagai divisi, dan komunitas yang saling terangkai. Yang menarik adalah kami tidak melihat arsitektur sebagai semacam kotak kaca, tetapi justru menjalani esensinya, dan kemudian bertumbuh secara perlahan. Sampai akhirnya ada sebuah benih yang berkembang menjadi sebuah pohon: dengan akar-akarnya, dahan-dahannya, ranting-rantingnya, dan begitu banyak organisme di baliknya.

Tim pertama adalah tim strategic. Strategic ini dilematik karena di dalamnya ada proyek, klien, dan begitu banyak critical point yang menanti. Sebuah bangunan tidak dikerjakan oleh satu orang saja; ada banyak orang yang terlibat. Oleh karena itu, kerja tim menjadi hal yang utama dalam menghadapi critical point dan berbagai prioritas yang ada di tim strategic.

Di dalamnya sering kali juga terkait dengan hubungan interpersonal yang ketat. Kemampuan membaca psikologi menjadi salah satu kunci, memiliki empati menjadi kunci berikutnya, hingga sampai pada simpati.

Selain tim strategic, ada tim Sophia, tim Episteme, tim Techne, tim Phronesis, tim Finance, tim Branding, tim Penulisan, tim Analitik, serta laboratorium teknologi yang bekerja pada ranah workshop. Kami mencoba melakukan begitu banyak telaah dan detailing agar di lapangan dapat menghasilkan karya yang optimal.

Antoniades pernah mengatakan bahwa ada 9 channels of creativity: dari buku, mentorship, tempat, referensi, klien, tim, permenungan, refleksi, hingga melihat sesuatu yang baru dari teori, dogma, dan ideologi. Kami menyebutnya sebagai fragments. Fragments ini seperti sebuah kolase yang membentuk keutuhan, terus bergerak itulah mengapa kami menyebutnya sebagai creative fragments.

@melisaakma@almujaddidi@andriiyansyahmrm@joanaagustin@gabymarcelina@putrakhairus@mu.zyd
@muhammadyusrul@joshinoel chairunnisabels
@namanyaemailku@adityakosman@tyoadngrh@rrianditaa@k.ezraa@ridwan.kp@rizkasra@reviynatk@irvitaingrid@auliahnssy@san.lbs@ahcaayran@noviola_esther@carmelinagabriellah Nielson @veeryanaa@zikrirahardian@timothytuahatu@kennpranoto@edhobaronmack@rawarchitecture_best
Photo by @rrianditaa (tim lapangan by @reviynatk)
Video Editor: @jocelynemilia@7withsisca

Kategori
Team - Studio Culture

Tyo Birthday

23 November menjadi salah satu hari yang spesial di studio kami—hari di mana kami merayakan perjalanan salah satu teman yang sudah berjalan cukup panjang bersama studio ini: ia adalah Tyo @tyoadngrh

Dari awal masuk pada Agustus 2021, ketika struktur tim masih belum seperti sekarang, Tyo sudah menunjukkan satu hal yang jarang dimiliki orang: keberanian untuk mencoba. Ia memulai perjalanannya bersama Kak Riyan di divisi Conceptual Design, lalu berpindah dari satu divisi ke divisi lainnya—bukan karena ragu, tapi karena ingin belajar seluas-luasnya.

Februari 2022 ia bergabung di Project Management; di tahun berikutnya, Februari 2023, ia masuk ke Design Development —menghitung RAB, menggambar polyline, hingga menyelesaikan detail sanitary. September 2023 ia bergabung dengan tim Episteme, Tahun 2024 ia sempat part-time dan kemudian masuk ke OMAH Library untuk penulisan dan branding. Sampai akhirnya di 2025, Tyo menjadi bagian dari tim Analytic, Visual, dan Design Communication—tempat ia terus tumbuh hingga hari ini.

Perjalanan yang panjang itu membentuk karakter yang semakin matang: Tyo eksploratif, cepat belajar, dan tidak pernah takut mencoba hal baru. Ia membawa energi ceria, mudah terbuka dengan teman baru, dan selalu peduli pada anak-anak intern—menyambut mereka, mengajarkan hal kecil dengan sabar, membuat mereka merasa aman di lingkungan baru.

Ia mungkin satu-satunya orang yang pernah mencicipi hampir semua divisi, dan justru dari situlah tampak ketekunan dan rasa ingin tahunya. Tyo bergerak dengan ringan, tapi kontribusinya terasa; hadir dengan santai, tapi membawa suasana yang hangat.

Lewat perayaan sederhana ini, kami bersyukur untuk pejalanan Tyo, untuk prosesnya, keberaniannya, dan untuk semua warna yang ia bagikan kepada semua orang yang ada di studio RAW.

Semoga di usia yang baru ini, Tyo semakin mantap melangkah, semakin luas eksplorasinya, dan semakin banyak kebaikan yang menyertai setiap prosesnya.

Happy birthday, Tyo!
Semoga tahun-tahun kedepan membawa cerita-cerita baru yang baik untukmu.

Kategori
Team - Studio Culture

Zikri Birthday

Di antara dinamika ruang kerja yang terus bergerak, ada pribadi-pribadi yang memberikan pengaruh yang berarti. Mereka hadir, belajar, berproses, dan pada akhirnya meninggalkan jejak baik di lingkungan kecil kami.

20 November menjadi hari yang berarti di studio kami, kami merayakan perjalanan teman kami, Zikri @zikrirahardian yang bertumbuh bersama tim Sophia di studio kami.

Sejak pertama kali bergabung sebagai intern, Zikri menunjukkan karakter yang mudah disukai, ia adalah pribadi yang sopan dan punya kepekaan untuk membantu orang lain bahkan tanpa diminta. Ada ketulusan dalam caranya hadir di tengah tim.

Seiring waktu kami melihat sisi lain dari dirinya. Zikri adalah pribadi yang fleksibel, cepat menyesuaikan diri, dan mampu membaca kebutuhan tim dengan sangat baik. Sikap adaptif itu membuatnya menjadi seseorang yang bisa dipercaya untuk menyelesaikan banyak hal.

Ritme kerjanya cepat ketika standar tugas sudah jelas, dan meski kadang kecepatan itu membuat beberapa detail kecil terlewat, kontribusinya tetap sangat membantu tim di studio. Ia membantu tim bergerak lebih cepat, menjaga ritme kerja dan menguatkan proses kami setiap minggu.

Dalam setiap tantangan project, Zikri menunjukkan sikap yang tenang. Ia sabar, tidak mudah goyah, Tentu saja, tingkahnya yang tidak terduga sering membuat orang-orang di studio tertawa kecil, memberi warna dan energi positif di sela kesibukan kami.

Perayaan kali ini memang sederhana, tetapi rasa syukur kami tidak pernah berhenti. Syukur atas seseorang yang tumbuh sedikit demi sedikit, yang belajar setiap harinya, dan yang memberi dampak baik pada lingkungan kami.

Once again, Happy birthday, Zikri!
Semoga di usia yang ke-26 ini, Zikri semakin matang dalam melangkah, semakin bijak dalam bertindak, dan semakin banyak kebahagiaan yang hadir di hidupnya, dan untuk orang-orang yang ia temui di perjalanan hidupnya.

📸 oleh : @andriiyansyahmr

Kategori
Team - Studio Culture

Shafira Birthday

Setiap pertemuan selalu memberikan makna berharga bagi kami, teman-teman yang baru kami temui di guha, juga teman-teman yang sudah berjalan bersama kami. Semoga dengan merayakan hari yang membahagiakan ini dapat meneruskan aliran energi baik.

16 November 2025 menjadi salah satu hari yang istimewa, hari ketika kami merayakan perjalanan seorang teman yang tumbuh bersama tim Desain Sophia di Studio RAW Architecture, ia adalah Shafira @veeryanaa

Saat pertama kali bergabung, Shafira mungkin terlihat pendiam di lingkungan baru. Namun seiring berjalannya waktu, di balik ketenangannya, ada karakter yang mandiri dan memiliki resiliensi yang kuat. Ia belajar menghadapi banyak tantangan, dan setiap proses memperlihatkan betapa seriusnya ia ingin bertumbuh.

Setiap proyek yang dijalani Shafira tidak pernah mudah. Ada dinamika, revisi, dan berbagai tuntutan. Namun Shafira selalu kembali dengan konsistensi—menyelesaikan tugas dengan hati-hati, teliti, dan penuh tanggung jawab.

Kritis dan penuh rasa ingin tahu, Shafira menjadi salah satu suara yang kami percaya dalam menghadapi tantangan desain keseharian. Ia membawa perspektif baru, ide-ide segar, dan pendapat jujur yang membuat tim semakin kaya warna. Kehadirannya bukan hanya menambah tangan yang bekerja, tetapi juga menghadirkan keberanian baru dalam melihat masalah dan merumuskan solusi.

Perayaan ulang tahunnya mungkin sederhana, tetapi rasa syukur yang kami rasakan tidak pernah sederhana. Syukur atas perjalanan seseorang yang tumbuh sedikit demi sedikit, yang belajar memahami dirinya sendiri, dan yang membawa pengaruh baik bagi lingkungan kecil kami.

Semoga di usia yang ke-25 ini, Shafira semakin dewasa dalam melihat dunia, semakin bijak dalam melangkah, dan dipenuhi banyak kebahagiaan—untuk dirinya, dan untuk banyak orang yang akan ia temui ke depannya.

Happy birthday, Shafira!
Semoga tahun ini menjadi tahun yang penuh cerita, pertumbuhan, dan kebaikan yang menyertaimu setiap hari.

📸 oleh: @andriiyansyahmr@edhobaronmack

Kategori
Team - Studio Culture

Happy Birthday Chai, Pak E, Nurul, Alya, dan Kamil

Studio kami merayakan hari ulang tahun lima orang spesial. Mereka adalah @chairunnisabels, Pak Effendi, @septia.ti@rrianditaa, dan @ridwan.kp. Dalam ucapan selamat ini, terselip doa untuk mereka semua agar selalu diberi kesuksesan, kesehatan, dan kebahagiaan.

Chai adalah pribadi yang tenang, namun di balik ketenangannya tersimpan semangat belajar dan ketulusan untuk memahami orang lain. Ia punya cara sederhana tapi bermakna dalam membuat orang di sekitarnya merasa nyaman. Dari Chai, kami belajar bahwa kesungguhan tak selalu hadir dalam kata-kata besar, tapi justru dalam tindakan kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati.

Pak Effendi, atau akrab disapa Pak E, adalah sosok yang terasa seperti Bapak di dalam tim kami, karena wibawa dan ketulusannya yang alami. Meski begitu, tak ada jarak di antara kami. Kami bisa bercanda dan tertawa bersama tanpa sekat usia, karena beliau selalu hadir dengan hati dan semangat yang hangat.

Nurul dikenal sebagai sosok yang peduli dan rendah hati. Ia selalu menyapa dengan senyum hangat, tak pernah pelit berbagi ilmu, dan selalu siap membantu ketika ada kesulitan. Ia mampu menjadi pemimpin yang memastikan pekerjaan selesai tepat waktu, sekaligus teman yang mau mendengar dan memberi nasihat dengan tulus. Di tengah keseriusan bekerja, terkadang ia pun kerap mencairkan suasana lewat tawa dan cerita lucunya.

Alya adalah sosok yang kami kenal mahir dalam bermain piano dan fotografi. Ia juga adalah seorang yang penuh fokus dan ketelitian. Di saat yang lain beristirahat, ia masih setia merevisi gambar, mengulik lighting foto, atau sekedar membaca hal random tentang jamur kesukaannya. Di balik kesibukannya, Alya punya sisi lembut yang menenangkan. Kadang ruangan bambu berubah jadi mini konser karena permainan pianonya, kadang jadi tempat ngobrol seru soal musik orkestra, dan berbagai kisah unik lainnya yang hadir bersama dirinya.

Terakhir, ada Kamil, rekan kerja, teman, sekaligus chef andalan yang tak pernah gagal bikin suasana ramai di kantor. Namun di balik itu semua, ia adalah sosok yang hangat, kreatif, dan penuh inisiatif.

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Chai, Pak E, Nurul, Alya, dan Kamil!💛

Kategori
Team - Studio Culture

Kenn Birthday

Tanggal 18 Oktober lalu, menjadi momen kecil yang berarti di studio kami. Di tengah ritme kerja yang padat, kami berhenti sejenak untuk merayakan perjalanan seorang teman yang tumbuh bersama kami. Ia adalah @kennpranoto, anggota tim desain Sophia di Studio RAW.

Setiap perjalanan selalu menyimpan cerita tentang bagaimana manusia tumbuh. Setiap harinya, kami bisa melihat setiap gestur kecil, bagaimana Kenn mendengar, serta kesungguhannya mengerjakan hal-hal detail, yang lahir dari hati yang ingin belajar dan memberi.

Ia tumbuh bersama waktu, tantangan, harapan, dan juga bersama teman-teman yang percaya padanya. Kehadirannya di tim Sophia bukan hanya menambah satu tangan yang membantu, tetapi juga menghadirkan kesejukan bagi seluruh tim.

Perayaannya sederhana, diiringi tawa, lilin, dan kue kecil di tengah sore yang hangat. Tapi di balik kesederhanaan itu ada rasa syukur yang besar atas perjalanan manusia yang saling belajar, saling bertumbuh, dan saling menjaga.

Kami berdoa agar setiap langkah Kenn selalu dipenuhi kegigihan untuk terus belajar, kebijaksanaan untuk memahami, dan ketulusan untuk memberi. Semoga di setiap tahun yang datang, Tuhan selalu menjagamu dalam terang yang lembut, dalam hati yang jujur, dan dalam kasih yang tak terhingga.

Selamat ulang tahun ke-22, Kenn.
Semoga tahun ini dan seterusnya menjadi tahun yang luar biasa!

Kategori
Team - Studio Culture

Ezra Birthday

Beberapa hari yang lalu, terjadi momen hangat yang mengisi studio kami. Hari di mana @k.ezraa salah satu anggota tim Techne merayakan ulang tahunnya. Di hari itu, kami berhenti sejenak, tertawa bersama, dan bersyukur atas kehadiran Ezra yang kurang lebih dua tahun ini tumbuh bersama kami di @guhatheguild

Bagi kami, Ezra adalah contoh kecil bagaimana bekerja dan tawa bisa berjalan beriringan, presisi dan cekatan dalam bekerja namun tetap berbagi humor dalam satu napas yang sama. Dalam setiap gambar yang ia buat, terlihat kesungguhan yang tidak bising dan selalu ada niat baiknya untuk membuat suasana di studio terasa hidup.

Di hari ulang tahunnya, Ezra datang dengan niat baiknya berbagi kebab untuk kami semua, tentu tidak ketinggalan juga pose mewing-nya yang legendaris yang menjadi gaya khasnya yang tak dibuat-buat. Di balik wajah iseng dan gurauan yang sering muncul, ada ketekunan dan ketulusan yang terus tumbuh bersama dengan dirinya.

Terima kasih Ezra, untuk setiap tawa dan energi positif yang kamu sebar bagi kami semua. Semoga tahun ini dan seterusnya langkahmu selalu dikelilingi cahaya yang menuntun, desain yang semakin keren, dan tentu tetap membawa tawa yang menjaga semangat semua orang di sekitarmu.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun Ezra!

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Karisya, Syahid

Beberapa waktu lalu kami baru saja melepas adik-adik kami yang telah menyelesaikan masa magangnya di studio kami. Kedua adik kami ini memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama seorang pengamat. Kemampuan ini membuat mereka menjadi orang yang tidak hanya kritis dan berwawasan luas, tetapi juga peduli terhadap sekitarnya.

@__skyraia yang diberkati dengan pribadi yang supel, tidak sungkan menyapa dan berbagi cerita dengan teman-teman lainnya sembari mengamati dinamika studio, hingga @syahidalshadiq yang memiliki semangat tinggi dalam berarsitektur, memperhatikan detail-detail dan secara kritis belajar dan seringkali bertanya.

Terima kasih Karisya dan Syahid sudah menjadi warna baru di studio kami. Harapan kami kalian bisa memancarkan warna kalian lebih luas lagi. Semoga sukses selalu dan apa yang sudah dipelajari bersama bisa terus berguna untuk perjalanan kalian ke depannya. Semangat kalian akan selalu ada di tengah-tengah kami.

📸 & 🎥 oleh:

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 10: @tyoadngrh

8: @rrianditaa

9: @chairunnisabels

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Gabby, Adli, Riki, Luna, Mai, Tristan

Akhir bulan Agustus lalu menjadi akhir perjalanan belajar adik-adik kami berikut ini di program magang studio kami. Ada @carmelinagabriellah, @lunaakirn, @olgamaisha, dan @gervahoy dari Institut Teknologi Bandung, @adli.shiedieq dari Institut Teknologi Sumatera, dan @rikiriynto_ dari Universitas Pembangunan Jaya. Menariknya, setiap adik-adik kami ini memiliki dan memancarkan energinya masing-masing selama berada di studio.

Gabby dengan kemampuan berpikir kritis dan tulus dalam membagikan pengetahuannya ke teman magang yang lain, Luna yang cair dan mampu mengikuti perkembangan pembelajaran, Mai yang menjadi virus kebahagiaan dan penuh kasih, Tristan yang cepat belajar dan tanggap dalam menyelesaikan pekerjaan, Adli yang mau terus belajar dan konsisten dengan yang dilakukan, hingga Riki dengan kemauan yang kuat dan rendah hati.

Terima kasih Gabby, Luna, Mai, Tristan, Adli, dan Riki atas energi yang sudah kalian bagikan ke antara kami di studio. Kami berharap kalian bisa memancarkan diri kalian ini ke orang lain lebih luas lagi. Semoga sukses selalu di perkuliahan dan apa yang sudah dipelajari di studio bisa terus berguna untuk perjalanan kalian ke depannya. Semangat kalian akan selalu ada di tengah-tengah kami.

📸 & 🎥 oleh:
1, 2, 3, 4, 5: @tyoadngrh
6: @carmelinagabriellah
7: @rikiriynto_
8: @reviynatk
9: @dimasdwiicahyo @rikiriynto_
10: @chairunnisabels @reviynatk @muhammadyusrul
11: @lunaakirn
12: @olgamaisha

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Rama, Davina, Caca, Adri, dan Anevay

Beberapa waktu lalu, kami kembali melepas teman-teman magang yang sudah menyelesaikan masa belajarnya di studio. Meski masa belajar mereka di studio yang singkat, adik-adik kami ini juga memiliki semangat yang tak kalah besarnya dengan adik-adik di periode sebelumnya. Kami bisa merasakan kesungguhan dan kontribusi penuh yang mereka pancarkan ke tim kami di studio.

Setiap adik-adik kami kali ini memiliki keunikan dan energi mereka masing-masing. Dari Universitas Sriwijaya, ada @rmdprtm_43 yang memiliki kemauan belajar yang tinggi, @davinashaff yang memiliki rasa keingintahuan yang besar, dan @al.khns yang detail dan teliti dalam melakukan pekerjaannya. Kemudian ada juga @jaladr dari Universitas Langlangbuana yang sangat kritis dan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik. Hingga @_yavena dari University of Sydney dengan perspektif yang memberikan warna baru di studio kami.

Terima kasih Rama, Davina, Caca, Adri, dan Anevay karena sudah menjadi angin segar di dalam tim kami di studio. Kami menantikan pertemuan kembali dengan pribadi kalian yang lebih bersinar, sukses selalu dengan perkuliahan, dan semoga apa yang sudah dipelajari di studio bisa terus berguna untuk perjalanan kalian ke depannya. Energi kalian akan selalu membekas di tengah-tengah kami.

Terima kasih Rama, Davina, Caca, Adri, dan Anevay yang sudah menjadi angin segar di tengah tim kami di studio.
Meski kehadiran kalian terbilang singkat, semangat yang kalian bawa, baik dari cara belajar, bekerja, hingga energi positif yang ditularkan setiap harinya, benar-benar memberi warna baru bagi kami. Semoga apa yang kalian pelajari di studio bisa terus berguna, dan tumbuh bersama langkah kalian ke depan. Sukses selalu dengan perkuliahannya, dan sampai bertemu lagi dengan versi diri kalian yang makin bersinar ✨

📸 & 🎥 oleh:
1, 2, 3, 7: @tyoadngrh
6: @jaladr
8: @davinashaff

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Yoshinta, Zakka & Haidar

Beberapa waktu lalu, kami kembali melepas adik-adik yang magang di studio kami. Mereka adalah @yoshintaas_, @zakkazx, dan @haidartmm, tiga nama yang hadir dari tiga kampus berbeda, tapi memberi satu semangat yang sama: ketulusan untuk belajar dan keberanian untuk tumbuh.

Yoshinta, dari UPN “Veteran” Jawa Timur, datang dengan ketenangannya. Awalnya ia tampak malu-malu, namun perlahan keberaniannya muncul, menjadi pribadi yang penuh inisiatif. Ia adalah pribadi menunjukkan konsistensi dalam bekerja, rapi dalam detail, dan tangguh dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, shingga menjadikannya sosok yang sangat bisa diandalkan oleh kakak-kakak di studio.

Sementara itu, Zakka dan Haidar datang dari kota yang sama, Semarang. Zakka dari Universitas Negeri Semarang dan Haidar berasal dari UIN Walisongo Semarang. Keduanya memiliki kehangatan dan sikap kerendahan hati yang serupa, dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk melebur bersama teman-teman di studio. Selama masa magang di Guha the Guild, mereka menunjukkan semangat yang kuat dan selalu sigap dalam membantu tim. Mereka juga adalah 2 orang yang paling banyak menyelami semua bagian tim dari konstelasi kami di RAW, DOT, OMAH.

Terima kasih Yoshinta, Zakka, dan Haidar untuk warna baru, semangat, dan energi positif yang sudah kalian bawa ke tengah-tengah kami. Kami menantikan pertemuan kembali dengan pribadi kalian yang lebih bersinar. Sukses selalu dan semoga proses di studio menjadi bekal yang bermanfaat dalam langkah kalian berikutnya, baik di kampus maupun di kehidupan.

Sampai bertemu lagi!

📸 & 🎥 oleh:
1, 3, 4: @andriiyansyahmr
2, 6, 7, 8: @tyoadngrh
9, 10: @reviynatk

guhatheguild #farewell #studioculture #internshiprawdotomah #internship

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Meizzhan

Ini adik saya namanya Meizhan, dan beberapa bulan, minggu, dan hari-hari terakhir adalah hari yang spesial dan bagaimana saya harus berterima kasih atas seluruh semangatnya di studio. Ia adalah salah satu mahasiswa terbaik UII, yang diperkenalkan oleh kakak saya, salah satu pengajar arsitektur terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini @reviantosantosa. Keduanya orang terbaik dalam generasi yang berbeda

Dan, Tuhan punya rencana yang indah dengan pembelajarannya untuk Meizhan, sesuatu yang dinantikannya sejak lama, belajar di Italia. Kondisi Italia, 75 tahun mirip dengan Indonesia memiliki amalgamasi yang plural sebelum dibekukan oleh jaman. Negeri itu juga negeri para pemikir yang begitu menginspirasi kami, dari Carlo Scarpa, Aldo Rossi, Renzo Piano, sampai Manfredo Tafuri, dan begitu banyak ahli yang mengajak berpikir melalui lapisan-lapisan sejarah, relik, kritik dan teori yang substantif. Itulah energi para pemikir yang datang dan pergi, seiring dengan pertemuan begitu pula munculnya perpisahan, matahari yang terbit akan menyongsong senjanya, dan akan terbitnya matahari-matahari baru.
.
Saya masih ingat bagaimana Meizzhan adalah sosok selfless, dalam setiap tugas kecil, ia selesaikan dengan membaca konteks, dan perlahan-lahan memikul tanggung jawab lebih luas dengan pesat, adaptif, dan presisi dalam strateginya. Sampai saatnya ia menjadi salah satu leader di studio yang memposisikan anggota tim di atas kepentingan dirinya. Dia meninggalkan sikap underdog, merunduk untuk menerobos batas. Batasan itu ditembus karena hati kecil perantau dari Lombok ini memiliki jiwa pemberani yang haus tantangan, dengan ketahanan dan konsentrasi yang tinggi.
.
Dia jadi penyeimbang sempurna untuk kawan-kawannya kadang menjadi api dan air yang saling melengkapi. Diskusi kami punya dinamika yang membuat diskusi desain menjadi warna warni dalam waktu-waktu panjang.
.
Bahkan di saat-saat terakhirnya masih memikirkan orang lain, mengurus ini-itu seperti bukan hari terakhir. Mungkin semua akan setuju, seolah dia akan selalu ada di sini, sibuk kerja sampai detik terakhir. Meizzhan, membawa energi yang terhubung, membentuk lingkaran baru dalam perjalanan hidupnya.
.
Tuhan mohon bukakan jalan adik kami ini, karuniakan ia dengan semangat, guru baru, kawan baru yang membuat dirinya menembus batas lagi. Dari kami semua di studio, Meizzhan, terima kasih atas segala semangat, tawa, dan penembusan batas dirimu sendiri yang tak ternilai. Slide 1 diambil dengan baju tidur, khas kami di studio, slide 2 diambil bersama kompatriot jendral Riyan, slide 3 diambil dengan tim sophia, dari tim lama juga ada tim baru ada Shafira, Inggrid, Timothy, Edo, Ken, dan slide 4 diambil beserta keluarga besar studio.
.
Kami percaya Tuhan punya rencana besar untukmu, Meizhan untuk semua yang kau sayangi, kau jaga, kau lindungi. Kami mendoakan langkahmu selalu diberkati, masa depanmu berbuah manis, dan setiap usahamu menari dalam lindungan tangan Tuhan yang Maha Kuasa.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Uung

Uung @yunitauung kami memanggilnya, adalah kesayangan kami semua. Hari ini adalah hari spesial, dan bagaimana saya berterima kasih atas seluruh semangatnya di studio. Ia salah satu mahasiswa terbaik Binus, dan ia belajar di studio dengan pesat. Tidak banyak yang bisa memposisikan diri dengan baik, menjadi jembatan yang baik antara tim studio, engineering, juga klien.

Manusia punya rencana, Tuhan tentukan, dirinya yang memiliki kapabilitas yang komplit, memiliki tugas lain, tugas yang lebih penting dari arsitektur bangunan. Saya percaya dalam waktu ke depan Tuhan punya rencanaNya, yang besar untuk dirinya, untuk semua yang disayangnya. Setiap gelak tawa adalah derai air mata begitu menghitung hari bahwa momen yang sudah terjadi tidak akan terulang lagi.

Saya masih ingat saat – saat di rapat pertama, Uung masuk dengan ceria, bisa menyelesaikan tugas – tugas kecil yang berujung kadang mewakili saya ke rapat – rapat. Saya merasa banyak sekali terbantu dan mengucapkan terima kasih banyak untuk kontribusi di RAW DOT Omah,

Dibalik itu ada juga perpisahan dari @yoshintaas_ yang sudah menimba ilmu selama magang, beserta one of lead best @putrakhairus + @k.ezraa juga ada anggota baru salah dua mahasiswa terbaik dari Perancis, La Reunion, Gonthier dan Noemie, selamat datang dunia, menjemput waktu datang dan pergi, energi terhubung membentuk lingkaran yang baru dalam syukur saat ini. Slide 1 dan 2 di atas diambil oleh one of the best sister, leader di RAW, @melisaakma ,

Kami semua di studio RAW, DOT Omah mendoakan mereka.Tuhan yang Maha Kuasa, berkati mereka, juga seluruh tim yang ada dalam lindungan kami, keluarga yang mereka kasihi, dan masa depan yang mereka rangkul, seluruh daya upaya, tidak sia – sia dan akan berbuah manis dalam tangan yang menari dan berdoa.

Photo by @melisaakma dan @andriiyansyahmr

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Unggul & Akmal

Hari ini hari yang penting ^^ With 2 of the best intern in RAW, you will be missed. Dari bulan Januari dan Februari tidak terasa ya, kita akan kangen sama @unggul_prasetyoo dari UNNES
@akmalaminullah_ dari UNS.

Waktu berlalu, ombak datang silih berganti, mereka harapan arsitektur kita ke depan :), apapun yang sudah diajarkan di studio semoga berguna, dikembangkan lebih baik lagi supaya bisa jadi versi terbaik diri masing – masing yang lebih baik lagi. Setiap saat bertemu tidak ada yang hanya kebetulan, semua yang terjadi pertemuan adalah rencana masterplanNya, mempertemukan mereka dengan kami semua adalah sebuah berkat tidak ternilai. Hai penjaga waktu jagalah anak – anak muda terbaik kami ini, berkatilah mereka dengan kebahagiaan, progress, pembelajaran, kerendahan hatian, dan masa depan yang cemerlang. See you soon dengan kami semua yaa.

Kami semua, kakak2 di RAW DOT OMAH bangga kepadamu, semangatt terus belajar dan menembus batas ya.

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Intern Gustav

Di tanggal 31 Januari 2025 kemarin kami juga melepas adik kami, Gustaviano, yang sudah bersama kami selama satu tahun dari Universitas Bina Nusantara. Selama setahun ia sudah belajar dari berbagai divisi yang ada di guha. Ia berproses dan berkembang, menyentuh hati kami dengan kegigihan dan tekatnya. Dalam setiap pertemuan, kita pasti menjumpai perpisahan, dan kini masa internshipnya sudah selesai. Sampai jumpa di waktu terbaik ya, pribadi yang tangguh dan tulus, kami mendoakan masa depan terbaik yang gemilang @gustavianovict

Terima kasih untuk seluruh semangat dan energi positif yang sudah dibawakan ke kami. Kami mendoakan yang terbaik untuk selalu sukses dimanapun berada, melanjutkan perkuliahan kembali dengan lancar. Harapannya semua yang sudah di pelajari di studio bisa bermanfaat untuk ke depannya.

Photo and Video by
1: @luil_mn
2: @almujaddidi
3, 4, 5: @jocelynemilia
6: @tyoadngrh
7: @rrianditaa
8: @gustavianovict

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Intern (Julia, Maria, Radita, Nabila, Carina)

Kemarin, 31 Januari 2025, kami melepas 5 adik-adik internship kami, yang datang dari berbagai universitas di Indonesia. Mereka berproses dan menyentuh hati kami, dan kini, mereka sudah menyelesaikan masa internshipnya. Dalam setiap pertemuan, kita pasti akan menjumpai perpisahan menyentuh. Sampai jumpa dalam bentuk terbaik ya, pribadi yang tangguh, cerah, tulus sudah selayaknya memiliki akan masa depan yang gemilang, @juliaptrip dari Desain Interior @gunadarma.info@maria.tsaa dari @architecturebinus, dan @raditaaaulia@belleisnotyellow, dan @carina.h_ dari Arsitektur @univ.brawijaya. Doa kami untuk kesuksesan kalian.

Terima kasih untuk warna baru, semangat, dan energi positif yang sudah kalian bawa ke tengah – tengah kamj. Kami selalu berharap kalian, adik-adik kami bisa sukses di manapun kalian berada, melanjutkan perkuliahan kembali dengan lancar, dan harapannya apa yang sudah dipelajari di studio bisa berguna buat kalian ke depannya. Kalian akan selalu hadir di tengah – tengah kami.

Photo and Video by
1: @luil_mn
2, 3, 7: @tyoadngrh
4, 5, 6: @jocelynemilia
8 : @rawarchitecture_best
9: @rrianditaa
10: @rizkasra@carina.h_

Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Intern Faisol

Hari-hari di studio kami dipenuhi dengan orang-orang yang tulus belajar arsitektur dan memiliki kecintaan mendalam terhadap arsitektur. Di Guha, ditempat yang terlihat sunyi ini, pikiran kami selalu riuh dipenuhi dengan beragam aktivitas yang saling terhubung dimana pun kami berada, termasuk untuk Bang Faisol dari @arsitektur.ums yang menghabiskan hari terakhirnya kemarin bersama kami. Selamat menempuh dunia kampus kembali setelah belajar di Guha ya @fslyzd_. Kami doakan dirimu bisa tetap menjadi dirimu yang terbaik ❤️

Kategori
Team - Studio Culture

Internship Voices

Internship| Reflection Letter

Internship Reflection Letter

Restless spirits that has been trained, and bringing sweet memories

Letter from Internship Students

Muhammad Yusuf Akbar Satriatama – Universitas Negeri Semarang

Dear RAW Architecture Family, Halo! Perkenalkan, saya Muhammad Yusuf Akbar Satriatama, mahasiswa semester 6 Program Studi Teknik Arsitektur, Universitas Negeri Semarang. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar RAW Architecture yang telah menerima saya untuk belajar dan berproses bersama selama kurang lebih lima bulan terakhir. Pengalaman magang di studio ini sangat berkesan dan telah menjadi bagian penting yang tak akan terlupakan dalam lini masa perjalanan hidup saya. Bagi saya, RAW Architecture adalah ruang belajar yang luar biasa. Di tempat ini, semua orang adalah guru. Mereka tidak hanya mengajarkan saya tentang bagaimana merancang sebuah bangunan, tetapi juga…

Farhan Andika Pratama – Universitas Negeri Semarang

Dear RAW Architecture Family, Halo! Perkenalkan, saya Farhan Andika Pratama, seorang mahasiswa semester 6 yang berkuliah di program studi arsitektur, Universitas Negeri Semarang.  Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga RAW Architecture yang telah menerima saya untuk belajar selama beberapa bulan terakhir. Magang di Jakarta sendiri sudah menjadi pengalaman yang sangat spesial bagi saya, tetapi bisa menjalani proses itu bersama RAW membuat pengalaman tersebut menjadi jauh lebih bermakna. Karena ini adalah pengalaman magang pertama saya, mungkin saya belum bisa membandingkan dengan tempat lain. Namun bagi saya, RAW adalah tempat belajar terbaik yang pernah saya temui. Bukan karena semua…

Reinhardt Ezekiel Kurniawan – Universitas Tarumanagara

Hi, I’m Reinhardt Ezekiel Kurniawan. I’m currently 21 years old when I write this letter, sitting in my 3rd year of architecture at Tarumanagara University. I never really had an interest or set my life towards architecture before, but somehow ended up in architecture because of the aptitude and interest test that showed me. I was constantly anxious that I had chosen the wrong path and that it would be a waste of time. Turns out, studying architecture is different from what I expected. I ended up enjoying the challenges and the process alongside my friends. It was during the…

Gregory Marvell Nicholas Wityo – Universitas Tarumanagara

Hi, I’m Gregory Marvell, currently nearing the end of my 6th semester in architecture.  Before this major took over my life, I had next to no direction in my life. All I had to hold on to was the enjoyment I had from drawing, and I chose architecture haphazardly without much thought. But throughout the years I found fulfillment through studying architecture, through every step of the process, from the technical side to the theories and ideologies. I finally found something I enjoyed studying for the first time, and a career that seemed worth striving for. One thing led to…

Felisha Logiman – Universitas Bina Nusantara (Interior)

Hi everyone, my name is Felisha, and I am an Interior Design student from Binus University. From the beginning, RAW was one of my top choices for an internship because of its unique approach to design, one that places people and their environment at the center of every project. The first time I visited one of RAW Architecture’s works, Guha The Guild, I felt an instant connection. The project not only impressed me, it resonated deeply with the values I personally admire. Instead of hiding imperfections, the design reveals them, treating rawness as a quality rather than a flaw. The…

Manas Yatin Gawade – BMS College of Architecture, Design & Planning

Beyond the BlueprintA Journey into the Soul of Architecture To my RAW Architecture Family, As I complete my final week at RAW, I find myself reflecting on a journey that feels far more significant than the end of an internship. When I first walked into the studio, I came seeking professional experience. I leave with something much deeper, a shift in how I see architecture, and my place within it. Architecture as a Universal Language At RAW, I began to understand that architecture is not just about drawings, details, or efficiency. It is a language, one that communicates through material…

Lou-Anne Techeney – Toulouse School of Architecture

Bonjour, my name is Lou-Anne Técheney and I am currently in my fourth year at the National School of Architecture of Toulouse. During February and March 2026, I had the opportunity to complete an internship at RAW Architecture in Jakarta, Indonesia. Before arriving at RAW, I had already discovered some of the studio’s projects as well as the ecosystem developed around architecture, fabrication, and research. Yet, I believe today that this place cannot truly be understood before being experienced. Entering this environment meant discovering a way of practicing architecture where design, craftsmanship, climate, research, and human relationships coexist in a…

Clara Moulin – L’Ecole Nationale D’Architecture De La Reunion

Hello,   My name is Clara Moulin, and I am currently on a gap year between my fourth and fifth years at  the National School of Architecture of Reunion Island. This gap year, initially envisioned as an  opportunity to enrich my professional and personal experiences, was profoundly marked by the  two-month internship I was fortunate enough to complete at RAW Architecture in Jakarta  between February and March. I discovered the firm through Kak Realrich Sjarief’s presentation at  the Reunion Island Tropical Architecture Biennial. His talk particularly resonated with me and  sparked a great curiosity about RAW’s vision of architecture. After discussing…

Putri Faiqah Alyafie – Universitas Hasanuddin

Hai!!! Perkenalkan, saya Putri Faiqah Alyafie dari Universitas Hasanuddin. Saya berasal dari Makassar, dan selama 4 bulan menjalani internship di RAW, saya mendapat pengalaman baru yang menjadi salah satu langkah besar dalam hidup saya. Selain menjadi kesempatan untuk belajar langsung di dunia profesional arsitektur, pengalaman ini juga menjadi pertama kalinya saya merantau jauh dan keluar dari zona nyaman untuk berkembang di lingkungan baru. Saya memilih RAW karena sejak awal banyak terinspirasi dari karya-karya arsitekturnya. Sebagai fresh graduate, saya merasa masih perlu banyak belajar tentang dunia profesional arsitektur, sehingga kesempatan magang di RAW menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemampuan profesional arsitektur…

Ahlal Jannata Firdausi – Universitas Gunadarma

2025 was the year when everything shifted, re-routed, and re-directed. It was like life hit the “shuffle” button, and suddenly I found myself on a track I didn’t even know existed. Yet between the confusion and constant adjusting I began to realize, it was along that path I was uncovering rare and precious pieces of puzzle I had been searching for over the past few years—pieces I might have never found otherwise. Prelude Exactly a week after my birthday, I came to one of Omah Library’s workshops with no agenda, no expectations — just a genuine desire to be around…

Felicia Helena Yohan – Institut Teknologi Bandung

Hello, I am Helen, an architecture graduate from Institute of Technology Bandung. I have been an intern at RAW Architecture from November 2025 until March 2026 and I am grateful for the 5-month experience. Here I have gained so much knowledge about the architecture industry, got hands-on experience on the field, deepen my skills in Sketchup, Autocad, and Photoshop, inspired by Kak Rich’s ways of designing, and not to mention, had fun throughout the program with other interns and my senior designers. I am proud and thankful for being a a part of the many fascinating and ambitious projects. I…

Imdi Hakeem Dinovhandaru – Universitas Gadjah Mada

Greetings! My name is Imdi Hakeem Dinovhandaru. I am currently a third-year architecture student at Universitas Gadjah Mada and I’m 20 years old at the time of writing this letter. I chose architecture because I have always been a curious person about art and buildings, and end up kind of living it.  After 2 years of studying, It was finally the time to apply for an internship. It was very hard to find a suitable architecture firm to apply to. Then, a flash of memory entered my mind.  It was April 12th, 2025, when I first visited a place during…

Haidar Hafizh Aulia – Universitas Gadjah Mada

Berada dalam zona nyaman memanglah menyenangkan. Selama 21 tahun hidup di Yogyakarta, saya tumbuh dan belajar di kawasan di mana sebuah citra artis lahir, tempat seniman seniman hebat dengan pemikiran dan goresan tangan yang ciamik menorehkan jejaknya. Dari ruang ruang itulah saya mengenal makna proses, hingga akhirnya saya menemukan sebuah biro arsitek yang mengangkat tektonika desa sebagai cara pandang dan identitas berkarya. Bagaimana material dimainkan menarik pandangan dan hati, memanggil untuk belajar lebih dalam dan melangkah lebih jauh. Perkenalkan nama saya Hafizh. Saat ini saya berada di semester ke 6 sarjana arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Menggantungkan pengalaman pertama saya…

Cua Zasta Sampoerna – Universitas Gadjah Mada

Salam kenal semuanya, Perkenalkan saya Cua Zasta, dari Universitas Gadjah Mada. Menjelang akhir tahun 2025 menuju awal 2026, saya diberikan kesempatan untuk belajar secara langsung bersama tim RAW Architecture. Sejak awal, nama RAW bukanlah nama yang asing bagi saya. Namun seiring berjalannya waktu, rasa kagum itu tumbuh dengan sendirinya. Saya belajar banyak, dimulai dari memahami sistem alur kerja, melihat bagaimana kerangka berpikir dibangun dengan jernih dan terstruktur, hingga menyaksikan bagaimana gagasan dieksekusi dengan penuh tanggung jawab dalam setiap proses desain di RAW. Di waktu internship yang singkat ini, saya merasakan energi dari kakak-kakak mentor saya. Etos kerja yang tinggi dan…

Rinanda Gantari – Universitas Diponegoro

Hello, my name is Rinanda Gantari, though most people call me Gantari. I am currently in my fifth semester at Diponegoro University. Through this reflection letter, I would like to share my thoughts on my two-month internship. It has been a phase in my life that truly shaped me and taught me many things I had never seen or understood before. I have been interested in architecture since I was in elementary school. For me, architecture is not only about the beauty of a building, but also about a kind of beauty that can be felt through the philosophy behind…

Fezka Bariq Alfatih – Universitas Diponegoro

Halo! Perkenalkan nama saya Fezka Bariq Alfatih. Saya adalah mahasiswa semester 6 di jurusan Arsitektur, Universitas Diponegoro. Pada kesempatan kali ini saya melaksanakan internship selama 2 Bulan di RAW, kesempatan ini merupakan pengalaman pertama saya terjun ke dunia profesional. Sebelum memasuki semester 5, saya mencari biro arsitek untuk program magang saya dan berakhir pada keputusan ingin magang di RAW. Keputusan ini diambil karena ketertarikan saya pada bangunan-bangunan yang di desain oleh RAW. Saya sangat bersyukur dan senang dapat diterima disini setelah melakukan proses seleksi yang tergolong panjang.  Setelah masuk RAW, saya cukup kaget dengan dunia profesional sehingga butuh beberapa hari…

Friendly Leonard Panjaitan – Universitas Diponegoro

Hello! My name is Friendly Leonard Panjaitan, an architecture enthusiast currently in my 6th semester of studying architecture at Diponegoro University. I was born and raised in Bekasi for 20 years. In the architecture program at Diponegoro University, we are required to complete an internship in the 5th semester. During the process of finding an internship, I experienced quite a lot of pressure. Out of around 30 architecture firms that I applied to, only 3 responded to my application. And from those, one of them was RAW Studio—and thankfully, I was given the opportunity to join the internship program at…

Alvita Aqilah – Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Hi, I’m Vita, a recent architecture graduate from Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), and this is a short reflection on my three-month internship journey at Realrich Architecture Workshop. I decided to take this internship as a step to gain more experience in the architectural field and to better prepare myself for what lies ahead. At the time, I thought I would mainly learn about how projects are done, drawings, renderings, and all the technical aspects that come with it. But along the way, I realized it was much more than that. During my time here, I didn’t just learn about…

Muhammad Faizal Shidqi – Universitas Diponegoro

Setelah lulus dari kuliah, kita semua pasti akan menghadapi ribuan pertanyaan: “what’s next?”,”Do you still wanna be an real ‘architect’?”,”How to make it possible then?”. Itu semua melayang di dalam kepalaku dan tak pernah berhenti. Ketika hal itu terjadi, aku perlu rehat sejenak dan mulai mencari titik awal itu untuk bermula. Yang ada di benakku waktu itu hanyalah satu hal: aku perlu belajar kembali dari awal. Aku harus memahami bagaimana bekerja secara profesional, sekaligus mulai merencanakan langkah besar untuk masa depanku, karena ilmu yang aku dapatkan selama kuliah terasa belum cukup untuk memenuhi ekspektasiku untuk menjadi seorang arsitek dengan value…

Raniya – Universitas Mercu Buana

Hai! Nama aku Raniya, atau bisa juga Raniya al–Aulagie. Saat ini aku berada di semester tujuh Jurusan Desain Interior di Universitas Mercu Buana. Ketertarikan aku terhadap dunia desain interior berawal dari hal yang sederhana, yaitu kegemaranku bermain The Sims dan berbagai gim dekorasi rumah. Dari aktivitas tersebut, aku mulai menyadari ketertarikan pada pengolahan ruang, penataan interior, dan bagaimana sebuah ruang dapat memberikan kenyamanan serta karakter tertentu. Ketertarikan inilah yang kemudian mendorong aku untuk memilih Desain Interior sebagai bidang studi. Di pertengahan masa SMA, aku sempat mempertimbangkan untuk mencoba masuk ke ranah arsitektur. Namun, pada saat itu aku masih merasa ragu…

Aisyah Nailah Humaira – Universitas Brawijaya

Halo semuanya, perkenalkan nama saya Aisyah Nailah Humaira, mahasiswi semester 7 arsitektur Universitas Brawijaya. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kak Rich dan Kak Yudith karena telah memberikan saya kesempatan untuk dapat mengikuti intership di RAW Architecture. Saat ingin mendaftarkan, ada beberapa kekhawatiran yang saya rasakan. Apakah saya bisa jika harus magang dan berkuliah diwaktu yang bersamaan? apalagi saat ini saya sudah masuk ke semester 7 dimana harus mengerjakan seminar dan bimbingan secara online. Tapi, setelah dipikir-pikir lebih baik menyesal karena mencoba daripada tidak sama sekali. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba dan berharap bisa menjalankan keduanya dengan baik. Ternyata…

Alma Asyofi – Universitas Brawijaya

Hello everyone, my name is Alma from Brawijaya University, interning at RAW in my 7th semester. Initially, I took this internship not because I was fully confident in the field of architecture, but more as a way to survive in a major that often made me doubt myself and my abilities. The year 2025 was the hardest year of my life. I lost my grandmother, the person who raised me, shaped my perspective on life, and was my biggest reason to keep going. Her passing left me feeling lost, unmotivated, and even lacking the spirit to continue my studies. During…

Muhammad Nur Hasan Firdaus – Universitas Bina Nusantara

Halo teman-teman restless spirits! Nama saya Hasan, saya mahasiswa BINUS University jurusan Arsitektur. Alhamdulillah saya telah menyelesaikan internship saya selama 6 bulan di RAW Architecture sejak Agustus 2025 lalu. Saya bersyukur sekali kepada Sang Pencipta karena telah diberikan bimbingan dan ditakdirkan untuk mendapatkan pengalaman internship di RAW Architecture. Menurut saya, RAW Architecture memiliki program internship yang terbaik, karena saya mempelajari segala aspek dalam fase proyek arsitektur, mulai dari masuknya proyek baru dari klien, sampai pengembangan konsep, perancangan konsep struktur dan MEP, perencanaan detail interior dan eksterior, hingga pengecekan design melalui simulasi thermal, simulasi CFD, dan pemeriksaan realita design dengan kunjungan…

Novellia Shafa Nur Saputri – Universitas Diponegoro

Hallo! Namaku Novellia Shafa Nur Saputri, orang-orang biasa memanggilku Novel dan umurku 21 th baru-baru ini. Sebagai seorang pelajar arsitektur, saat ini aku berada di semester tujuh dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro. Di tahun terakhirku sebagai mahasiswi, aku memutuskan untuk keluar dari zona nyamanku dengan memilih mengeksplor dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dalam hal ini aku mencobanya dengan magang di RAW Architecture untuk belajar dan eksplor lebih lanjut di dunia arsitektur. Aku bersyukur sekali dengan kesempatan ini.   Pada saat mendesain, aku selalu tertarik dan ingin tahu sudut pandang arsitektur lebih lanjut, terutama dalam hal konsep, analisis, dan…

Muhammad Farid Zia Pridjie – Universitas Bina Nusantara

Perkenalkan, nama saya Muhammad Farid Zia Pridjie, mahasiswa Arsitektur Universitas Bina Nusantara yang saat ini sedang menjalani tahun keempat perkuliahan. Selama empat bulan terakhir, saya telah menjalani program internship di RAW Architecture, sebuah pengalaman yang sangat saya syukuri dalam perjalanan hidup saya. Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ka Rich dan Ka Yudith yang telah memberikan saya kesempatan berharga untuk belajar lebih dalam mengenai dunia arsitektur profesional. Perasaan saya saat mengakhiri masa internship ini terasa campur aduk, penuh canda, tawa, kebahagiaan, dan juga kesedihan karena harus berpisah dengan keluarga yang selama ini saya anggap sebagai rumah kedua.…

Edelweiss Aydindra Sabariman – Universitas Bina Nusantara

Halo teman-teman semuanya,perkenalkan namaku Edelweiss Aydindra Sabariman, biasa dipanggil Edel. Aku adalah mahasiswa jurusan Arsitektur yang sedang menempuh pendidikan di Binus University. Saat pemilihan jurusan, I knew exactly that I wanted to study architecture. But I had zero expectations, I didn’t even know how to start. Di sinilah kebingungan itu terjadi. My days were filled with confusion. I went through six semesters with a very big question mark on my face. Sampai ada di titik aku bertanya ke diri sendiri, “Bagaimana sih cara mendesain dan make it happen?” Spoiler alert: I did not find my answer until the 7th semester,…

Nasywaa Najlaa Abiyyah – Universitas Bina Nusantara

Halo semua! kenalinn namaku Nasywaa Najlaa Abiyyah, Wawaa panggilan akrabnya. Mahasiswa semester 7 di BINUS University, yang sangat beruntung karena berkesempatan mengungkapkan perasaan Wawaa selama 5 bulan belajar di RAW Architecture. “What’s meant for you will always find its way to you” Perumpamaan itu sepertinya bisa menggambarkan bagaimana Wawaa bisa mengenal RAW. Nggak sengaja ikut Arch-firm visit dari kampus tapi cuma bisa daftar satu firma karena kuota penuh, lalu timbul rasa penasaran dan mau tau lebih banyaak. Pada saat experiencing GUHA, nggak berhenti merasa “WAAHHH KOK BISA GINI YAA??” di setiap ruang yang wawaa lewati. Saat tiba waktu sharing session…

Nafis Roziq Bagaskara – Universitas Muhammadiyah Surakarta

Hi everyone, glad to have crossed paths with you all, saya Nafis Roziq Bagaskara. Hampir enam bulan ini bukan sekadar tentang durasi, tapi tentang sebuah perjalanan internal yang saya sebut sebagai trilogi pertumbuhan. Semuanya berawal dari sebuah fase yang I’d like to call as being Slow. Di awal, saya sempat merasa kehilangan arah, berusaha menyerap DNA studio yang begitu dalam, memahami betapa beratnya makna di balik setiap garis yang ditarik, dan belajar menavigasi kompleksitas arsitektur yang selama ini hanya saya lihat di permukaan. Perlahan namun pasti, ritme itu mulai menemukan bentuknya and eventually I found my Flow. Saya mulai menemukan…

Jonathan Juan Carlos Mulia – Universitas Pelita Harapan

Hallo,Nama saya Jonatan (Jo / Jomul). Saya menjalani internship di RAW Architecture selama tiga bulan. Awalnya saya hanya berencana menjalani internship selama dua bulan, namun seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa proses belajar saya di sini belum selesai. Bukan hanya tentang menggambar atau menghasilkan desain, tetapi tentang memahami proses berpikir, ritme kerja, dan bagaimana sebuah ide berkembang melalui diskusi, revisi, serta pengalaman langsung di lapangan. Hari-hari awal di RAW menjadi fase adaptasi yang cukup besar bagi saya. Saya belajar menghadapi jam kerja yang tidak selalu terikat waktu, revisi yang datang, serta momen di mana saya harus mencari tahu sendiri harus…

Dimas Dwi Cahyo – Institut Seni Indonesia Surakarta

Halo semua, perkenalkan namaku Dimas Dwi Cahyo, biasa dipanggil Dimas. Aku mahasiswa Desain Interior ISI Surakarta semester 7. Jujur, buatku tidak mudah untuk bisa ikut andil magang di RAW Architecture, studio yang basis utamanya arsitektur. Awal masuk cukup kaget karena harus menyesuaikan diri dengan dinamika studio yang lumayan berbeda dari dunia interior, arsitektur dan interior itu menurutku 2 prinsip ilmu yang saling berkesinambungan tapi harus ekstra buat memahami keduanya, untuk bisa memahami arsitektur sebagai desainer interior harus paham mengenai prinsip-prinsip dasar arsitektur. Selama magang di sini, hal utama yang ingin aku capai adalah memahami prinsip dasar arsitektur dan bagaimana arsitek…