Kategori
Team - Studio Culture

Farewell – Farhan Andika Pratama & Yusuf Akbar Satriatama

Sahabat Ketiga

Setiap orang yang datang ke studio ini membawa sesuatu yang berbeda. Ada yang meninggalkan jejak lewat ide-idenya, ada yang dikenang lewat cara bekerjanya, dan ada yang membuat keseharian terasa lebih hangat hanya karena kehadirannya. Beberapa bulan terakhir, kami mendapat dua sekaligus: Farhan dan Yusuf, dua mahasiswa dari Semarang yang datang bersama, dan pulang meninggalkan lebih banyak dari yang mereka duga.

Farhan adalah pencari damai. Ia jenis orang yang ingin sekitarnya bahagia, dan caranya sederhana: membantu. Di studio, kegembiraannya menular, dan ketertarikannya jatuh pada eksplorasi visual, menyusun komposisi, memperhatikan bagaimana gagasan berubah menjadi rupa. Sebelum pulang, ia meninggalkan sebuah lukisan untuk Guha. Jejaknya kini tinggal di dinding kami, dalam arti yang sebenarnya.

Yusuf punya cerita perkenalan yang akan lama kami ingat ibarat acara komedi. Suatu hari, salah satu lead kami mengira ia mandor. Bukan karena salah lihat, melainkan karena gelagatnya: ia bisa menjelaskan situasi lapangan dengan tenang, membantu siapa saja, dan membawa diri seperti orang yang sudah bertahun-tahun di antara besi dan beton. Ia memang bunglon dalam arti terbaiknya, luwes di mana pun diletakkan, tapi warnanya tetap satu: lucu, otentik, dan jujur. Dan cita-citanya bukan menjadi arsitek. Yusuf ingin menjadi pemangku kebijakan, karena ia senang berkontribusi untuk banyak orang. Apa pun mimpinya, kami akan doakan, karena perspektif seperti itulah yang berharga mengawali potensi anak-anak muda ini.

Keduanya saling melengkapi, dan keduanya bersahabat. Yang satu mencari damai lewat gambar, yang satu menghangatkan ruangan lewat cerita. Dan cerita-cerita yang mereka bagikan setiap hari pelan-pelan melakukan sesuatu yang tidak kami duga: kami ikut ditarik masuk, menjadi sahabat ketiga di antara mereka berdua.

Dari Farhan, sang pencari damai, lahir salah satu percakapan yang paling membekas. Kami sampai pada pemahaman bahwa damai hanya benar-benar dikenal oleh yang pernah mengenal konflik, bahwa ingin dicintai berarti siap pernah dibenci, dan ingin sembuh berarti pernah merasakan sakit. Hidup selalu punya pasangannya yang bertolak belakang, dan pasangan-pasangan itu tidak menunggu esok hari; ia terjadi setiap hari. Farhan merenungkannya dengan caranya sendiri, lewat doa, dan kami merenungkannya lewat pekerjaan kami.

Sementara Yusuf mengingatkan kami pada sesuatu yang kami percayai sejak lama: tidak harus menjadi arsitek untuk belajar arsitektur. Seorang mahasiswa yang pulang membawa cara membaca ruang, membaca lapangan, dan membaca orang, akan memakai semua itu untuk kotanya kelak, dan itu justru bentuk keberhasilan yang lain.

Ada satu pelajaran yang Yusuf bawa pulang dari lapangan, dan ia menuliskannya di surat perpisahannya. Suatu hari ia diajak seorang mentor menemui klien, dan di sana ia mendapat nasihat yang mengubah cara pandangnya: jangan menganggap semua klien akan memperlakukan kita sama. Di satu tempat kita bisa disambut terhormat sebagai tamu, di tempat lain kita mungkin hanya dianggap pekerja. Dan justru di situlah profesionalisme diuji, karena ia tidak boleh bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. Yusuf menangkapnya dengan tepat: memberi yang terbaik dalam kondisi apa pun.

Ia juga pulang membawa nasihat lama tentang merantau, tentang orang berilmu yang tidak berdiam di kampung halaman, dan tentang manisnya hidup yang baru terasa setelah lelah berjuang. Studio ini, tulisnya, adalah tempat asing yang kini terasa seperti rumah. Kalimat itu kami terima dengan haru, karena begitulah kami ingin tempat ini bekerja: asing di hari pertama, rumah di hari terakhir.

Di padepokan ini, kami memang menemukan definisi edukasi yang sederhana: saling mengerti mimpi tiap orang. Mimpi Farhan dan mimpi Yusuf tidak sama, dan tugas kami bukan menyeragamkannya. Tugas kami mengerti mimpi itu, lalu membekalinya dengan apa pun yang kami punya.

Hubungan antara lead dan anak magang memang akan berakhir; masa magang selalu punya tanggal pulangnya. Tetapi yang berakhir hanya strukturnya. Menjadi kawan dan sahabat tidak ada habisnya: ada ikatan yang menerus, ikatan perjuangan belajar bersama, ikatan guru dan murid, dan pada akhirnya, sejawat.

Di suratnya, Farhan menuliskan kalimat dari gurunya: sebaik-baik teman ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan. Ia menujukannya kepada kami, tetapi kami membacanya terbalik juga: merekalah yang bulan-bulan ini menunjukkan kebaikan itu kepada kami, lewat lukisan di dinding, lewat tawa di lapangan, lewat cara mereka bersahabat. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, Farhan, Yusuf. Sahabat ketiga tidak mengucapkan selamat tinggal; ia hanya menunggu cerita kalian berikutnya.

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar