Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Ruangan yang Menunggu Cerita Kegagalan

Sore tadi, di sebuah panggung tentang kecerdasan buatan “AI” dalam praktik arsitektur, saya memperhatikan sesuatu yang sederhana tetapi terus terngiang: ruangan itu paling hidup bukan ketika seseorang bercerita tentang apa yang bisa dilakukan mesin, melainkan ketika seseorang “jujur tentang apa yang gagal ia lakukan”. Saya cb refleksi, dan menuliskannya sekarang.

Banyak yang berbicara tentang AI secara teoritis. Ide bisa datang dari mana saja, ide bisa dieksekusi oleh mesin, semuanya serba mungkin, serba cepat, serba melimpah. Beberapa bahkan menyusun materi presentasinya sendiri dengan bantuan AI, dan menceritakannya dengan antusias.
Semua itu tidak salah. Tetapi saya merasakan ada jarak antara semua kemungkinan yang gemerlap itu dengan apa yang sebenarnya bisa dibawa pulang oleh orang-orang yang duduk mendengarkan.

Lalu tibalah sebuah presentasi dari seorang pengajar yang bercerita dengan jujur tentang hal yang justru sebaliknya: tentang kegagalan. Tentang bagaimana mahasiswa dan program studinya belum siap menghadapi AI, tentang hal-hal yang tidak berjalan mulus, tentang kesulitan yang nyata di ruang kelas. Dan saya melihat ruangan itu berubah. Pertanyaan mengalir. Orang-orang mencondongkan badan. Itulah, ternyata, yang sedari tadi mereka tunggu.

Dari kejujuran semacam itu, lahirlah pertanyaan yang barangkali paling sulit sore itu: kalau begitu, mungkinkah dosen digantikan oleh AI?
Jawaban saya sederhana. Yang bisa diambil alih mesin adalah penyampaian materi, dan itu pun hanya sebagian. Tantangannya justru ganda: pendampingan sudah terbatas karena rasio dosen dan mahasiswa, dan sekarang hadir alat yang seolah-olah bisa menggantikannya. Padahal pekerjaan seorang dosen yang sesungguhnya tidak pernah sekadar menyampaikan materi

Ia menemani. Ia melihat potensi pada seseorang yang belum melihat potensinya sendiri, lalu menuntunnya dengan sabar ke sana. AI bisa mempercepat menghasilkan gambar, tetapi ia tidak bisa menggantikan seorang guru yang sabar melihat potensi seseorang. Yang paling dibutuhkan mahasiswa justru yang paling tidak bisa di-generate: ditemani oleh manusia.
Saya kira di situ ada pelajaran yang lebih besar daripada soal AI itu sendiri.

Ketika sebuah gagasan disampaikan sebagai teori yang serba mungkin, ia terdengar mengesankan tetapi sulit dipegang. Ketika seseorang berani menceritakan pergulatannya yang sebenarnya, lengkap dengan kegagalannya, barulah orang lain merasa ada sesuatu yang bisa mereka bawa pulang. Yang menyentuh bukanlah yang mengkilap, melainkan yang jujur.
Pertanyaan-pertanyaan lain sore itu pun bergeser ke dapur kami sendiri: bagaimana sebenarnya kami memakai alat ini sehari-hari?

Jawaban saya nyaris membosankan. AI membantu kami menyampaikan gagasan lebih cepat secara visual. Tetapi konsep, gambar kerja, dan hitungan biaya tetap lahir dari diskusi, ketelitian, dan angka nyata dari lapangan. Yang berhubungan dengan tanggung jawab dan biaya, tidak kami serahkan ke generate.

Hal yang sama saya rasakan sehari sebelumnya, ketika berbicara tentang membangun rumah. Pertanyaan yang paling hidup bukanlah tentang gagasan besar, melainkan hal yang sangat membumi: bagaimana mengantisipasi dinding yang retak, bagaimana merenovasi tanpa biaya besar. Masalah yang awam, yang dihadapi banyak orang diam-diam. Dan justru pertanyaan sesederhana itu yang membuat percakapan terasa berguna, karena ia lahir dari persoalan nyata, bukan dari konsep di awang-awang.

Barangkali inilah yang perlahan saya yakini setelah dua hari berdiri di depan orang banyak. Yang benar-benar dibawa pulang orang bukanlah daftar kemungkinan yang canggih, melainkan satu-dua hal nyata yang tumbuh dari pergulatan seseorang. Teori menjelaskan apa yang mungkin. Tetapi pengalaman yang jujur, termasuk kegagalannya, itulah yang benar-benar menolong.

Mesin memang bisa menghasilkan ide dari mana saja, secepat yang kita mau. Tetapi ia tidak pernah gagal, dan karena itu ia tidak punya apa-apa untuk diceritakan. Yang membuat sebuah ruangan penuh orang mencondongkan badan dan bertanya, sampai hari ini, justru bekas-bekas pergulatan pada diri seorang manusia: apa yang pernah ia coba, apa yang runtuh, dan apa yang ia pelajari dari reruntuhan itu.

Itulah satu-satunya hal yang tidak bisa di-generate, dan mungkin satu-satunya yang benar-benar layak dibagikan.

Image: https://picryl.com/media/lecture-at-loyalist-college-1975-72d00c

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar