Yang Membawa Kami ke Tempat yang Belum Terbayangkan
Alya termasuk orang yang ikut membangun studio ini, dari awal sampai titik terakhir masa magangnya. Ada divisi yang, setelah ia lewat, tidak lagi sama seperti sebelumnya. Itu bukan pujian yang kami obral; itu kenyataan yang kami saksikan sendiri.
Kami percaya pengetahuan itu berputar. Setiap hari kami membukanya sedikit, lalu mengangkatnya sedikit lebih tinggi, lalu menyerahkannya untuk diteruskan. Alya datang sudah membawa sesuatu, ukuran tersendiri yang tidak banyak dimiliki orang seusianya. Perjuangannya di sini bukan lagi membangun ukuran itu, melainkan menyerap semua yang bisa diserap, dan membiarkan dirinya dikenal oleh kawan-kawan seperjuangannya. Itu salah satu hal yang kami syukuri.
Rasa ingin tahunya agak mencengangkan. Ia tertarik pada hal yang, pada masa itu, belum banyak dipikirkan orang di studio: bagaimana teknologi bertemu arsitektur, bagaimana sebuah persoalan bisa dibaca dengan cara yang lebih analitik. Bersama seorang kawan seangkatannya, ia menjadi cikal bakal cara berpikir yang kelak tumbuh menjadi divisi tersendiri. Bayangkan dua orang muda, di antara para senior yang sudah sangat matang, justru membuka sebuah ranah yang belum ada yang menggarapnya. Yang mereka bicarakan bukan sekadar pekerjaan sehari-hari, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam tentang pengetahuan itu sendiri.
Dari benih itulah sebuah divisi baru akhirnya lahir, dan cara berpikir yang mereka rintis pelan-pelan mendukung kerja-kerja lain, saling menopang, saling menghidupi. Kami menjadi saksi bahwa seorang anak muda bisa menyumbangkan perubahan yang bertahan jauh setelah ia pergi. Tetapi memang tidak ada yang benar-benar tidak selesai; setiap orang perlu melangkah maju, dengan pengetahuan yang baru dan tempat yang baru.
Ada sisi lain dari Alya yang membuat kami menyayanginya. Ia cair, mudah berbaur, senang berbagi rujukan buku dengan siapa saja. Ia rajin. Di sela-sela istirahat, ia bermain piano, dan suaranya menemani kami semua. Dan ia fotografer yang berbakat: ia suka memotret kawan-kawannya di Guha, dan hasilnya selalu berhasil menangkap sesuatu yang sulit ditangkap, karakter seseorang, suasana sebuah ruang, jiwa sebuah material. Kami menyukai foto-foto itu, karena di dalamnya terlihat bahwa ia tidak sekadar merekam, ia memperhatikan.
Momen seperti ini selalu membuat kami senang sekaligus, sejujurnya, sedih. Tidak bisa kami pura-pura bahwa perpisahan harus selalu ceria. Yang paling akan kami rindukan adalah saat-saat kami berbincang dalam tentang arsitektur, karena di saat-saat itulah kami melihat wajahnya yang sesungguhnya, dan ukuran yang ia bawa. Tidak banyak orang yang bisa berada di kedalaman itu.
Dan di sinilah kami belajar sesuatu tentang persahabatan, yang kadang memang dilematis. Kalau kita menyayangi seseorang, kita harus siap kehilangannya. Justru karena sayang, kita merelakannya pergi menempuh jalannya sendiri. Itu berat, dan kami tidak berpura-pura ringan.
Maka pesan kami sederhana. Pergilah, dorong batasmu sejauh mungkin. Ukuran yang kau bawa itu jangan pernah kau hilangkan, dan jangan pernah percaya bahwa kau akan disamakan begitu saja dengan orang lain. Ke mana pun persahabatan membawamu, ingatlah momen-momen ini. Persahabatan akan tetap tumbuh, bahkan makin besar; tetapi pengetahuan akan tinggal, dan itu yang perlu kau jaga. Fokuslah pada pengetahuanmu, dan sisanya akan mengikuti.
Di mana pun kita nanti berada, kita akan terbang ke tempat masing-masing. Tetapi kembalilah sesekali, apa pun yang terjadi. Kami mensyukuri setiap momen yang kita punya, dari saat kita bertemu sampai saat kita berpisah. Kami mendoakanmu dengan tulus, Alya, dan kami akan mengingat semua ini, untukmu.








