Beberapa waktu lalu saya mengunjungi sebuah pameran arsitektur. Temanya tentang para arsitek terkenal. Di dalam ruangan itu berdiri deretan maket dengan teks-teks kecil di sampingnya. Tidak ada arahan, tidak ada penjelasan lebih jauh, tidak ada jembatan bagi siapa pun yang datang dari luar dunia kami. Saya berdiri di sana cukup lama dan pelan-pelan menyadari sesuatu yang janggal: pameran adalah tindakan paling publik dari arsitektur, tetapi yang satu ini hanya bisa dibaca oleh orang yang sudah berada di dalam lingkaran. Pengunjung biasa lewat begitu saja.
Maka pertanyaannya sederhana: pameran ini sebenarnya untuk siapa?
Saya menduga jawabannya tidak menyenangkan. Ia bukan untuk publik. Ia ritual sebuah gilda yang dipentaskan di ruang publik, sebuah anak tangga. Dan tangga itu, meski tidak pernah digambar di mana pun, kita semua tahu bentuknya: presentasi, lalu diskusi, lalu pameran, lalu penghargaan, lalu baju serba hitam, lalu proyek-proyek berbiaya besar, dan di puncaknya, hadiah yang dibisikkan sebagai Nobel-nya arsitektur. Sebuah dongeng tentang satu-satunya jalan menjadi arsitek yang berarti.
Saya mengenali tangga itu bukan dari kejauhan. Saya pernah menaiki versi kecilnya, dan pernah menikmati rasa berada beberapa anak tangga di atas orang lain. Dan kini, setiap kali saya berdiri memimpin workshop di depan anak-anak muda yang hampir tidak mungkin berkata tidak kepada saya, saya tahu saya sedang memegang kekuasaan yang sama, yang harus terus-menerus saya curigai. Dan satu pengakuan lagi: saya menuliskan ini dengan sisa kemarahan yang harus saya akui. Kemarahan biasanya tanda ada yang belum selesai saya pelajari.
Karena beginilah tangga itu bekerja. Ada sebuah kisah yang sampai ke saya dua kali, dari dua kawan yang berbeda, dan keduanya menceritakannya dengan cara yang hampir sama. Di sebuah kota, deretan arsitek ternama memimpin sebuah workshop membangun paviliun. Desainnya, menurut cerita itu, terkesan dipaksakan dan sulit diwujudkan, biayanya melambung jauh, dan yang menanggung kerepotannya adalah anak-anak muda di lapisan paling bawah, sebagian mahasiswa yang telanjur berada di dalamnya. Saya tidak hadir di sana, dan saya tidak tahu seluruh duduk perkaranya. Tetapi satu hal menarik perhatian saya: tidak ada yang menceritakan kisah ini dengan suara keras. Ia beredar dari mulut ke mulut, setengah berbisik. Dan mungkin tidak ada yang memaksa siapa pun di sana. Yang bekerja lebih halus dari paksaan: di hadapan deretan nama besar, berkata tidak menjadi sesuatu yang tak terpikirkan. Itulah tanda tangga itu nyata di kepala kita, orang takut menyebut masalahnya keras-keras, karena takut terpeleset dari anak tangganya sendiri.
Tangga ini bukan penemuan kita, dan ia jauh lebih tua dari kita. Ia punya tanggal lahir yang bisa ditunjuk. Tahun 1932, seorang pemuda bernama Philip Johnson, yang memulai kariernya bukan sebagai arsitek melainkan kurator, menggelar pameran arsitektur modern di MoMA, New York. Bersama sejarawan Henry-Russell Hitchcock, ia mengambil gerakan modern Eropa, yang lahir dari pergulatan sosial tentang perumahan dan kehidupan orang banyak, lalu menyulingnya menjadi sesuatu yang bisa dipajang: maket, foto, gaya. Mereka menamainya International Style. Misi sosialnya tertinggal di Eropa; yang menyeberangi Atlantik adalah tampilannya. Sejak hari itu arsitektur punya mesin baru: kurasi yang menentukan siapa yang penting.
Dan mesin itu bekerja rapi selama puluhan tahun. Tahun 1979, ketika dunia arsitektur akhirnya punya “Nobel”-nya sendiri, Pritzker Prize, penerima pertamanya adalah Philip Johnson. Mesin itu memahkotai pembuatnya sendiri. Lalu tahun 1988, di usia delapan puluh satu, Johnson kembali ke MoMA dan menggelar satu pameran lagi, kali ini memajang tujuh arsitek yang belum lama dikenal, yang kemudian menjadi nama-nama paling berkilau di akhir abad itu. Satu pameran, satu generasi bintang. Bahkan salah satu karya yang paling melambungkan nama lewat pameran itu tidak pernah dibangun. Di sirkuit ini, sebuah karya tidak perlu berdiri untuk mengangkat seseorang; ia cukup dipajang.
Dan hari ini mesin itu punya cabang di mana-mana. Ada kesan yang makin sulit diabaikan: arsitek berbondong-bondong berpameran ke luar negeri, bukan untuk dilihat publik di sana, melainkan untuk dilihat sesama arsitek, dan untuk membawa pulang satu baris riwayat yang berkilau. Di baliknya, selalu ada pihak yang menjual ruang pamernya. Tangga itu kini bukan sekadar dongeng; ia lapak. Anak tangganya diperjualbelikan.
Seorang pemikir Prancis, Guy Debord, sudah menamai gejala ini setengah abad lalu. Dalam masyarakat tontonan, katanya, segala yang dulu dihayati langsung menjauh menjadi representasi, dan kapital yang menumpuk pada akhirnya berubah wujud menjadi citra. Fokus hidup bergeser dari menjadi, ke memiliki, lalu ke tampak. Dibaca dari sana, semuanya menjadi terang: sebuah karya arsitektur tidak lagi perlu berdiri dan dihuni untuk bernilai; ia cukup tampak. Dan nilai yang sudah menjadi citra bisa diperjualbelikan tanpa pernah menyentuh tanah.
Saya tidak sedang mengatakan orang-orang di puncak tangga itu tidak berbakat. Sebagian dari mereka sungguh besar, dan berhasil di usia enam puluh setelah tiga puluh tahun bekerja bukanlah dosa; bisa jadi itu buah ketekunan yang layak dihormati. Yang saya persoalkan bukan orangnya, melainkan dongengnya: cerita bahwa hanya ada satu tangga, dan bahwa hidup arsitek yang tidak mendakinya adalah hidup yang kurang berarti. Cerita itu, digemakan media tanpa henti, membuat dunia yang begini besar terasa milik segelintir nama.
Padahal lihatlah arsitek kebanyakan. Mereka yang setiap hari berjibaku dengan klien yang cerewet dan anggaran yang pas-pasan, yang pulang kepada keluarga, yang membimbing murid dan menggaji staf, yang bangunannya tidak pernah masuk vitrin mana pun. Karya mereka justru terbaca sempurna, bukan oleh kurator, melainkan oleh manusia yang tinggal di dalamnya: rumah yang meneduhkan, ruang yang memuliakan penghuninya. Di sinilah paradoks pameran itu menjadi telanjang: ia membuat karya yang tak terbaca publik menjadi terlihat, dan membuat karya yang paling terbaca, karena dihuni, menjadi tak terlihat.
Dan jangan salah paham: pameran bukanlah musuh. Pameran yang sejati adalah kegiatan intelektual milik publik, dengan tema yang bisa dimasuki siapa saja, dengan kekuatan kuratorial dan riset yang dipakai bukan untuk memajang nama, melainkan untuk membela yang tak bersuara. Pameran seperti itu langka, dan justru karena langka, ia berharga. Yang patut dicurigai adalah tiruannya: etalase yang meminjam baju intelektual.
Kemuliaan seorang arsitek tidak dibagikan lewat penghargaan, dan tidak menetes dari anak tangga di atasnya. Ia ada di tempat yang tidak difoto: pada janji yang ditepati kepada klien, pada tukang yang dibayar layak, pada murid yang dituntun menemukan jalannya sendiri.
Dunia ini terlalu besar untuk dimiliki segelintir nama. Dan tangga yang tidak terlihat itu hanya berdiri selama kita memercayainya. Begitu kita berhenti mendongak, ia berhenti ada.
Note : Vitrin adalah lemari atau kotak pajang berdinding kaca, tempat benda dipamerkan supaya bisa dilihat tapi tidak bisa disentuh. Kata ini masuk ke bahasa Indonesia lewat Belanda, vitrine, dan akarnya dari Prancis, vitre, yang berarti kaca.Di museum, ia kotak kaca berisi artefak. Di toko, ia etalase. Di rumah lama, ia lemari kaca tempat piring bagus dan piala disimpan, dipandangi bertahun-tahun tanpa pernah dipakai. vitrin adalah metafora untuk untuk pameran arsitektur, benda diletakkan di balik kaca, dilindungi dari sentuhan, dilihat dari jarak yang sopan, dan pengunjung diposisikan sebagai penonton, bukan pemakai. Persis kebalikan dari arsitektur yang hanya hidup ketika dimasuki, diinjak, diributkan.