Ada kuil-kuil yang menuntut kita mendaki. Di Fushimi Inari, di Kyoto, ribuan gerbang merah menuntun orang naik melewati lereng gunung, satu gerbang demi satu gerbang, tangga demi tangga, sampai ke puncak. Yang menarik, ketika akhirnya sampai di atas, sering tidak ada apa-apa di sana yang megah. Hanya pepohonan, keheningan, dan langit. Orang-orang yang pernah ke sana banyak yang berkata hal yang sama: yang berharga ternyata bukan puncaknya, melainkan perjalanan menuju ke sana. Pendakian itu sendirilah tujuannya.
Kami sering merasa Guha punya sesuatu seperti itu. Bukan karena kami merancangnya menyerupai kuil, melainkan karena ia, dengan caranya sendiri, menjadi tempat yang harus dijelajahi, bukan sekadar dimasuki. Sirkulasinya berputar-putar. Tangganya banyak. Pintunya banyak. Untuk sampai dari satu titik ke titik lain, kadang seseorang harus naik, berbelok, turun, memutar, melewati jalan yang tidak langsung. Jaraknya sebenarnya tidak jauh. Tetapi pengalamannya tidak biasa.


Sebagian dari ini, harus kami akui dengan jujur, lahir dari keterbatasan. Instalasi bangunan, saluran air, dan berbagai kebutuhan teknis tidak selalu bisa diletakkan di tempat yang paling nyaman, apalagi dengan kebutuhan ruang yang terus bertumbuh. Maka jalur pun menyesuaikan diri, berkelok mengikuti apa yang mungkin, bukan apa yang ideal. Tetapi keterbatasan itu, seperti sering terjadi, ternyata membawa hadiahnya sendiri: ia menantang daya adaptasi orang-orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya.


Ini paling terasa, dan paling lucu, pada urusan yang paling mendasar: buang air. Anak-anak muda yang tinggal di Guha harus berputar, turun dengan hati-hati, melewati jalan yang berkelok hanya untuk sampai ke kamar mandi. Ada satu tamu kami yang, saking bingungnya dengan perjalanan berliku ini, sampai bercanda bahwa impian terbesarnya adalah bisa buang air langsung tanpa harus berputar sejauh itu, kalau perlu di kandang ayam sekalian, biar dekat. Kami menertawakannya bersama-sama, karena memang begitulah rasanya: sebuah perjalanan kecil yang, di saat genting, terasa jauh sekali.


Tetapi di balik lelucon itu ada sesuatu yang kami hargai. Berjalan berputar setiap hari, bahkan untuk hal sesederhana itu, diam-diam melatih orang untuk terbiasa dengan yang tidak langsung, yang tidak serba instan, yang menuntut sedikit kesabaran dan kesadaran akan ruang di sekitarnya. Di dunia yang serba ingin cepat dan langsung, ada nilai kecil yang terselip dalam keharusan berputar: ia membuat orang hadir pada perjalanannya, bukan hanya pada tujuannya.




Soal banyaknya pintu, ada cerita lain lagi. Kami membuat banyak akses supaya tempat ini mudah dimasuki dari berbagai arah, terbuka, tidak berkesan tertutup. Tetapi ada konsekuensi yang tidak kami rencanakan dan sering dijadikan banyolan: banyaknya pintu ternyata membuat seorang pencuri, seandainya ia berhasil masuk, justru kebingungan mencari jalan keluar. Gampang masuk, susah keluar. Sebuah labirin yang ramah bagi yang berkawan, tetapi membingungkan bagi yang berniat buruk. Kami tidak merancangnya untuk itu, tetapi ruang memang sering punya akibat yang melampaui niat perancangnya.



Dan kalau boleh menyeberang lebih jauh, ke tanah kita sendiri, kami teringat Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Kami pernah ke sana, menaiki undakannya, dan membaca apa yang terpahat di sana. Yang tinggal di kepala kami adalah sebuah ajaran sederhana tentang kebaikan: bahwa kebaikan agama dan kebaikan budi pekerti pada dasarnya satu, bahwa iman yang sejati bukan diukur dari ritualnya semata, melainkan dari tingkah dan laku sehari-hari. Agama dan budi, di situ, bukan dua hal yang terpisah; keduanya saling menjelaskan.
Kami tidak berani mengaku paham sepenuhnya, tetapi ada sesuatu di sana yang terasa bersambung dengan pendakian di kuil mana pun: bahwa naik ke atas, entah ke puncak gunung entah ke puncak laku, pada akhirnya bermuara pada semacam ketiadaan. Padamnya hiruk-pikuk. Barangkali itulah yang dimaksud dengan nirwana, bukan tempat yang megah di puncak, melainkan keheningan yang tersisa setelah semua keramaian mereda. Dan barangkali sebuah bangunan, seperti sebuah laku, tugasnya bukan membawa kita pada kemegahan, melainkan menuntun kita, pelan-pelan lewat putaran dan tangganya, menuju ketenangan itu.


Pada akhirnya, Guha memang bukan bangunan yang dirancang untuk efisiensi lalu lintas. Ia bukan tempat yang membawa orang dari titik A ke titik B secepat mungkin. Ia lebih mirip sebuah perjalanan kecil yang berputar, dengan tangga, pintu, dan kelokannya sendiri, tempat yang paling berharga sering kali bukan tujuan yang dituju, melainkan jalan berliku menuju ke sana. Seperti kuil di lereng gunung itu, yang mengajarkan bahwa mendaki, dengan segala putaran dan tangganya, kadang lebih bermakna daripada apa yang menunggu di puncak.