Kategori
blog tulisan-wacana

Sebelum Mencari Pelatih

Beberapa waktu lalu saya menelepon seorang kawan. Niat saya sederhana, minta rekomendasi personal trainer. Umur bertambah, badan mulai terasa berbeda, dan saya pikir jawabannya adalah olahraga yang lebih serius. Tetapi kawan saya ini, yang sedang tekun mendalami buku Peter Attia tentang umur panjang, justru menjawab dari sisi yang tidak saya duga. Ia tidak memberi nama pelatih. Ia memberi urutan berpikir.

Buku itu, katanya, membedakan dua hal yang sering kita campur, lifespan, berapa lama kita hidup, dan healthspan, berapa lama kita hidup dalam keadaan sehat dan berdaya. Yang kedua ini yang sering terlupakan. Orang bisa panjang umur tetapi menghabiskan belasan tahun terakhirnya sakit-sakitan. Dan untuk menjaga healthspan, katanya, langkah pertamanya bukan angkat beban. Langkah pertamanya mengenal tubuh sendiri.

Maka sebelum bicara olahraga, ia menyarankan saya memeriksa dulu apa yang sedang terjadi di dalam, pemeriksaan kesehatan menyeluruh, melihat kondisi jantung dan darah, termasuk bertanya ke dokter soal resistensi insulin. Ia juga menyebut penanda-penanda yang baru saya dengar, seperti ApoB untuk gambaran kardiovaskular yang lebih tajam, yang di beberapa negara sudah dipakai melengkapi pemeriksaan kolesterol biasa, dan HbA1c untuk membaca gula darah dalam rentang panjang. Saya baru pernah memeriksa yang kedua, yang pertama masih menjadi pekerjaan rumah. Yang mengejutkan, pemeriksaan semacam ini ternyata tidak semahal yang saya bayangkan.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang menempel di kepala saya, stamina itu, pada akhirnya, banyak ditentukan hormon. Ia menyebut dua yang penting untuk diperhatikan, insulin dan kortisol, dan bercerita bagaimana kortisol yang terus tinggi bisa berkaitan dengan banyak hal, dari perlemakan hati sampai stres yang tidak dikelola. Badan yang terasa cepat lelah, tidur yang tidak nyenyak, sering kali bukan soal kurang semangat, melainkan soal sistem di dalam yang sedang tidak seimbang.

Ia juga bercerita tentang kawannya yang bertahun-tahun bolak-balik ke dokter dan minum obat, tetapi merasa masalahnya tidak pernah benar-benar selesai. Bukan karena dokternya keliru, melainkan karena obat yang diminum tanpa memahami akar persoalannya hanya meredakan, tidak menuntaskan. Pelajarannya bukan menjauhi obat, melainkan ini, kita perlu ikut mengerti apa persoalan tubuh kita sendiri, supaya percakapan dengan dokter menjadi percakapan dua orang yang sama-sama memahami, bukan sekadar menerima resep.

Dari percakapan itu saya pulang dengan satu keyakinan yang makin tebal, kesehatan adalah faktor pengali dari segalanya. Berapa pun uang yang kita punya, berapa pun proyek yang kita kerjakan, semuanya dikalikan dengan kondisi badan. Kalau badannya nol, hasilnya nol. Ia merumuskannya dalam tiga hal yang paling layak dijaga, badan yang sehat, otak yang sehat, dan hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekitar kita. Tiga-tiganya tidak bisa dibeli belakangan.

Praktiknya, katanya, kembali ke tiga hal yang membosankan justru karena benar, mengatur makan, mengatur tidur, mengatur olahraga, dan menjaga ketiganya konsisten, bukan heboh sebulan lalu hilang. Ia sendiri berhenti makan malam selepas jam enam, supaya pencernaannya ikut beristirahat ketika ia beristirahat. Ia bahkan berpandangan tubuh kita sebenarnya tidak dirancang untuk makan tiga kali sehari, pandangan yang masih saya kunyah pelan-pelan, tetapi yang jelas ia menjalaninya dan merasakan bedanya.

Dan soal tidur, ini yang paling mengena untuk orang seperti saya. Tidur barangkali pekerjaan rumah paling berat bagi arsitek, kami terlatih begadang dan diam-diam bangga karenanya. Padahal tidur yang dalam tidak bisa dipaksa datang, ia dipengaruhi banyak hal, dari pikiran yang belum selesai sampai pencernaan yang masih bekerja. Kortisol yang naik di malam hari membuat tidur tetap dangkal meski matanya terpejam. Mengatur tidur, ternyata, bukan soal jam berapa berbaring, melainkan soal bagaimana seharian penuh diperlakukan.

Rencana saya sekarang sederhana dan tidak heroik, periksa dulu, kenali dulu, lalu jalankan tiga hal itu dengan konsisten, dan kalau memang ada yang perlu dibantu obat, obat dipakai sebagai penolong sementara atas arahan dokter, dengan cita-cita jangka panjang membangun tubuh yang sehat sampai kebutuhan akan bantuan itu berkurang dengan sendirinya. Bukan anti-obat, melainkan tidak ingin selamanya bergantung tanpa pernah menyelesaikan akarnya.

Saya menuliskan ini bukan sebagai nasihat kesehatan, saya bukan dokter, dan tubuh setiap orang berbeda-beda, dan untuk urusan ini, dokter tetap teman bicara yang utama. Saya menuliskannya karena percakapan telepon itu mengubah urutan berpikir saya. Saya menelepon untuk mencari pelatih, dan pulang dengan pelajaran yang lebih mendasar, sebelum melatih tubuh, kenali dulu ia. Sebab tubuh ini, seperti sebuah bangunan, tidak bisa diperbaiki hanya dari tampaknya. Ia harus dipahami dulu strukturnya, barulah setiap perbaikan jatuh di tempat yang benar.

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar