Kategori
Team - Reflection Letter

Rizaldy Pahlevi – Universitas Brawijaya

Malang, 30 Agustus 2026

Reflection Letters

Rizaldy Pahlevi, Universitas Brawijaya

Internship periode Januari – Juli 2026

Hi everyone! Senang rasanya kalian sampai di halaman ini. My name is Rizaldy Pahlevi, just call me Aldy. I’m currently studying Architecture at Brawijaya University. Selama kurang lebih tiga tahun berada di disiplin ilmu ini, aku masih sering banget ada di fase bingung dan setengah acuh sama jurusan yang bahkan dari awal nggak pernah benar-benar aku inginkan, LOL. Selalu ada satu kalimat yang berputar di kepalaku:

“Gue bingung banget harus jadi apa nantinya, yang pasti nggak bakal jadi arsitek.” 

Selama kuliah, aku ketemu banyak banget orang dengan pola pikir, karakter, dan spirit yang berbeda-beda. Dari dulu aku selalu percaya kalau setiap orang itu unik dan punya peran masing-masing di dunia ini. That’s probably why I’m always curious about people, what shapes them, how they think, and why everyone can see the same thing so differently. Tapi ketika masuk ke dunia arsitektur, aku justru sering mencari celah untuk berkembang tanpa benar-benar menikmati prosesnya. Instead of pushing myself, I’d sometimes step back and choose my own way.

Sampai akhirnya di semester 6, aku punya kesempatan untuk internship. Dari sekitar 150 mahasiswa, cuma dua orang yang memilih program yang bukan praktek arsitektur. And guess what? One of them was me HAHAHA. Sampai suatu hari, salah satu kakak tingkat gave me a  reality check. Katanya:

“….Kamu tuh cuma memilih jalan yang menurutmu lebih mudah dan paling benar. Sebenarnya kamu bukan sedang mencari arah. Kamu cuman bersembunyi. Bersembunyi dari proses, dari kegagalan, dan dari ketidaknyamanan yang justru dibutuhkan untuk bertumbuh.” 

I kept thinking about it for weeks until one day I was like,“yaudahlah, coba aja dulu.” Mulai dari situ aku coba cari firma yang kira-kira cocok sama hal yang pengen aku pelajari. Long story short, I ended up at RAW.

Being part of RAW felt like a mix of everything. Senang, takut, nervous, excited, semuanya campur jadi satu. I was scared I wasn’t good enough, didn’t belong, or was never meant to be an Architect. But somehow, it all faded on my first day. RAW ternyata lebih terasa seperti rumah daripada kantor. Di sini aku menemukan banyak pengetahuan, pengalaman, dan ketulusan dari orang-orang di dalamnya. Everyone had their own personality and way of thinking, but somehow it all blended together. 

Para designer dengan sabar ngajarin hal-hal yang sebelumnya nggak aku mengerti, bahkan di tengah kesibukan mereka, semuanya dilakukan supaya kami sebagai intern bisa terus belajar. Dari situ aku belajar bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Enam bulan masa internship terasa sangat cepat dengan adanya teman-teman intern, you guys made every day at RAW so much more fun, kita selalu makan siang dan malam bareng, cerita banyak hal, dan bersantai di OMAH kaca. Simple things that I know I’ll miss. 

EpisTEAM was definitely a fun one. Sky dan Guha extension jadi saksi karaoke Laufey dan Olivia Dean full album bareng Kak Chai, Kak Acha, Kak Novi, Mas Bang, Kak Yusrul, Kak Ken, Kak Timothy, dan Kak Nielson. Terima kasih untuk semua ilmu-ilmu teknisnya, terutama Mas Bang dan Kak Yusrul yang selalu sigap kalau ditanya hal-hal teknis. Dan Kak Chai, makasih udah selalu ada, baik di dalam maupun di luar kantor. You  really made everything feel lighter. 

Aku senang banget bisa belajar di Sophia team dengan comedy 24/7-nya. Tiap hari, tiap jam, bahkan tengah malam masih aja bisa ketawa kalau udah ketemu Kak Ezra. Makasih buat Kak Adit yang paling lama membersamai selama aku di Sophia. Kak Vella dan Kak Shadiq yang rasanya kayak teman sebaya dan selalu punya bahan obrolan. I’m definitely gonna miss the random “yuk beli nasi goreng Selera”, Kak Edho yang diam-diam ikut ketawa di tengah kerjaan yang numpuk juga jadi salah satu hal yang lucu. Kak Alya dengan jazz playlist-nya yang selalu berhasil bikin suasana lebih calm ketika kepala mulai panas karena kerjaan, dan Kak Ryan yang selalu seru diajak ngobrol soal makanan dan dunia FnB.

Bambu pernah jadi salah satu tempat ternyaman ketika OMAH dan Analytic team berdampingan. Selalu ada aja yang bikin ketawa dari Kak Tyo dan Kak Siska. Aku juga sangat senang bisa banyak belajar dari dua penulis hebat di OMAH Library, Kak Ufi dan Kak Arlyn yang banyak ngajarin tentang sisi lain dari praktik Arsitektur. 

Di luar itu, ada banyak kesempatan lainnya yang akhirnya jadi cerita sendiri. Bisa ikut Kak Mel dan Ci Mei site visit, dua wanita super RAW dengan energi yang nggak ada habis-habisnya. Bisa bareng Kak Putra dan Kak Ikhsan yang nggak pernah capek ngurusin project sekolah dan klinik. Bisa bolak balik Tangerang-Blok M bareng Kak Joshi dan Kak Rizka. Breaktime selalu ada ajakan jajan milk tea sama Kak Savira. Sesekali mampir ke Benteng buat baca buku dan ngobrol bareng Kak Joselin dan Kak Putri. Walaupun nggak sempat kerja langsung bareng semuanya, aku senang banget setiap kali ada kesempatan buat ngobrol bareng kalian. 

RAW gave me more than I ever expected. It was about people, the process, and learning how to stay. All of that also came from Kak Rich, who always shared thoughts and perspectives that really stayed with me. Aku datang ke sini dengan pikiran bahwa aku sedang mencari jalan lain, padahal mungkin selama ini aku cuma sedang menghindari prosesnya. I realized that, sometimes, it’s okay not to have everything figured out. You just have to try, make mistakes, learn, and keep going. 

So, thank you, RAW. For the knowledge, patience, chaos, laughter, and all the little moments in between. I’m leaving with so many stories, memories, and lessons from this place. I still don’t know where I’m going next, but at least now, I’m not afraid of figuring it out. And I think that’s enough. 

Thank you for everything. I hope our paths cross again someday.

Warm regards, 

Aldy

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar