Kategori
blog tulisan-wacana

Jangan Lupa Tidur

Profesi saya “arsitek” sering disebut profesi paling kurang tidur di dunia. Kami diam-diam bangga pada sebutan itu. Baru belakangan saya tahu, klaim itu berasal dari survei sebuah perusahaan kasur.🤮

Kelelahan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa serta penilaian yang tumpul, dan penilaian yang tumpul adalah tempat celaka bermula. Ini bukan nasihat kesehatan, ini soal cara kerja, sebab hampir semua keputusan buruk yang pernah saya ambil lahir di ujung hari-hari yang terlalu panjang.

Saya belajar ini dengan harga yang mahal!!!
Tahun pertama kuliah saya mengambil semuanya sekaligus, kuliah, bulu tangkis, tenis meja, aikido, tenis, himpunan, seolah waktu tak punya batas dan tubuh tak punya dasar. Sampai suatu hari tubuh saya menagih semuanya sekaligus.

Saya jatuh sakit, hati saya meradang, angka-angka di hasil laboratorium melonjak jauh melewati batas, dan saya menghabiskan berminggu-minggu di rumah sakit, sebagian di antaranya tak sadarkan diri. 😳

Dan itu bukan satu-satunya kali. Ada malam lain, sepulang kegiatan yang menguras tenaga, ketika kantuk menumpulkan kewaspadaan saya di jalan, dan saya nyaris tidak pulang.

Ayah saya, seorang pembangun, sudah memperingatkan jauh sebelum itu. Kata-katanya kurang lebih begini, “Kembali ke dasar. Lihat apa yang sudah kamu kerjakan, dan apa yang ada di sekitarmu. Keluargamu, temanmu, klienmu. Jaga kesehatanmu, mental dan fisik. Dan jangan lupa tidur, arsitek suka lembur.”🥹

Waktu itu saya mengangguk sebagaimana anak mengangguk pada nasihat orang tua, menghormatinya, lalu menaruhnya di laci. Nasihat itu terasa terlalu sederhana untuk dunia yang sedang saya kejar.

Profesi kami memang membesarkan kami untuk menaruhnya di laci. Arsitek dikenal sebagai manusia yang tangguh, tahan lembur, dan fokus, hampir seperti dokter dalam intensitasnya, hanya saja yang kami rawat bukan pasien melainkan seni dan bangunan.🫶

Sebutan paling-kurang-tidur itu kami pelihara sebagai tanda jasa, dan bertahun-tahun kami tidak pernah repot memeriksa sumbernya. Ketika akhirnya saya periksa, jawabannya membuat saya tersenyum kecut. Bukan lembaga riset tidur, bukan jurnal kedokteran, dan di daftar buatan penjual kasur itu pun arsitek ternyata tidak berada di puncak.

Sementara itu dokter residen, menurut tinjauan atas 30 studi, tidur dengan median 6,2 jam per malam dan pada malam jaga angkanya runtuh menjadi sekitar 2 jam semalam. Dua jam, lalu kembali memegang nyawa orang.

Klaim yang kami pakai sebagai bukti ketangguhan ternyata iklan yang salah alamat, dan kami menerimanya dengan senang hati karena ia mengelus ego kami.

Butuh waktu lama bagi saya untuk melihat bahwa kekuatan yang kami banggakan itu justru titik lemah kami, sebab orang yang bangga pada daya tahannya adalah orang yang paling lambat menyadari batasnya. Fokus yang sama yang membuat kami sanggup menatap satu detail berjam-jam adalah fokus yang membuat kami lupa menatap diri sendiri.

Yang tidak pernah masuk laci justru pemandangan di rumah sakit.

Ayah saya tidur di lantai kamar beralas matras tipis, malam demi malam, supaya bisa berada di dekat saya. Saya melihat kekhawatiran di wajahnya yang jarang menunjukkan apa-apa, dan dalam keadaan paling lemah itu saya justru merasakan sesuatu yang paling kuat, betapa ia menyayangi saya. Sejak itu saya mengerti, ketika ia berkata jangan lupa tidur, ia tidak sedang menceramahi, ia sedang menjaga.

Bertahun-tahun kemudian saya mulai mempelajari hal yang dulu hanya saya angguki, dan pelajaran pertamanya justru mengoreksi keyakinan saya sendiri. Dulu saya kira, kalau saya bangun dan bisa mengingat mimpi, berarti tidur saya dalam. Ternyata hampir sebaliknya. Tidur bergerak dalam siklus sekitar 90 menit, melewati tidur ringan, tidur dalam, lalu fase mimpi. Tidur dalam, yang paling memulihkan tubuh, umumnya datang di paruh awal malam, dan di fase itu kita nyaris tidak bermimpi.

Mimpi yang teringat menandakan kita terbangun dekat fase mimpi, bukan bukti kita sudah lelap.

Ilmu tidur juga cukup tegas soal takaran, orang dewasa butuh 7 sampai 9 jam, dan utang tidur tidak bisa dihapus di akhir pekan, 1 jam yang hilang butuh berhari-hari untuk benar-benar pulih.

Maka pelan-pelan saya berhenti memperlakukan tidur sebagai sisa hari dan mulai memperlakukannya seperti anggaran, direncanakan, bukan disisakan.

👆Hari yang padat saya antisipasi dengan tidur-tidur pendek di sela hari, cukup belasan menit supaya bangunnya ringan, sebab tidur siang yang terlalu panjang justru membuat sisa hari lebih berat. Dan satu hal yang terdengar terbalik tapi benar setelah dijalani, tidur lelap yang tidak panjang menyisakan lebih banyak daripada berbaring berjam-jam dengan kepala yang masih sibuk. ✌️Berbaring lama sambil cemas bukan istirahat, ia lembur dengan lampu mati.

🤘Tetapi keliru soal mimpi bukan berarti mimpi tidak berguna. Justru sebaliknya. Pada fase mimpi, noradrenalin, salah satu molekul stres, turun ke titik terendahnya sepanjang hari, sementara bagian otak yang mengurus emosi tetap menyala.

👋Sebagian peneliti menyebutnya terapi semalam, sebuah teori yang kuat meski belum tuntas, bahwa di fase itulah pengalaman yang menyakitkan diputar ulang dan dicerna dalam suasana kimia yang lebih tenang, sehingga esok hari kita bisa mengingat peristiwanya tanpa nyeri yang sama.

Ada juga yang lebih dekat ke pekerjaan kita. Sebuah percobaan yang terbit di Nature menemukan orang yang tidur menemukan aturan tersembunyi sebuah persoalan pada 60 persen kasus, sementara yang terjaga hanya 22 persen.

Percobaan lain, yang meniru kebiasaan tidur singkat Thomas Edison dan Salvador Dali, menemukan orang yang sempat menyentuh ambang tidur, zona senja antara sadar dan lelap, tiga kali lebih mungkin menemukan jawaban. Tetapi ada syarat yang tidak boleh dihilangkan, dan ini bagian yang paling jujur dari semua temuan itu. Efeknya hanya muncul pada orang yang sudah bekerja keras lebih dulu. Tidur tidak memberi jawaban dari kekosongan.

Ia menata ulang apa yang sudah kita kerjakan susah payah dalam keadaan sadar.

Yang membuat saya lama termenung, nenek moyang kita sudah lebih dulu tahu bagian terakhir itu, meski dengan bahasa yang sama sekali berbeda. Dalam tradisi Jawa, mimpi tidak dianggap acak. Primbon membedakan mimpi yang sekadar sisa pikiran sehari-hari dari mimpi yang dianggap membawa pesan, dan yang paling dihormati adalah wangsit, petunjuk yang diyakini datang kepada orang yang menjalani laku.

Dan perhatikan syaratnya, sebab di sini letak persamaannya. Wangsit tidak dijemput dengan tidur lebih lama. Ia diyakini datang setelah tirakat, setelah puasa, setelah berjaga dan menahan diri, artinya setelah kerja keras yang panjang. Sama seperti temuan laboratorium tadi, petunjuk datang kepada orang yang sudah lebih dulu bersusah payah. Di tempat lain manusia melakukan hal serupa.

Di kuil penyembuhan Yunani kuno, orang sakit dibersihkan, berpuasa, lalu tidur di ruang khusus dengan harapan menerima petunjuk pengobatan lewat mimpi. Di Eropa sebelum lampu listrik, orang tidur dalam dua babak, dan pada jeda terjaga di tengah malam mereka berdoa, merenung, dan menimbang mimpi yang baru saja mereka alami.

Saya sempat ingin menyimpulkan bahwa manusia dulu lebih dekat dengan tidurnya. Ternyata tidak juga.

Ketika peneliti mengukur langsung tiga masyarakat yang masih hidup tanpa listrik, di Tanzania, Namibia, dan Bolivia, durasi tidur mereka ternyata hanya 5,7 sampai 7,1 jam, tidak lebih panjang dari kita. Jadi yang berbeda bukan lamanya tidur, melainkan perhatiannya. Mereka memberi tempat bagi mimpi, membicarakannya, menimbangnya, menjadikannya bahan pertimbangan.

Kita bangun dan langsung meraih telepon.

Lalu kalau bukan profesi, siapa sebenarnya pencuri tidur itu.🐥

Sebuah analisis atas catatan waktu lebih dari 124 ribu orang menemukan jawabannya dengan telak, pencuri tidur terbesar adalah jam kerja, disusul waktu tempuh perjalanan. 👆Orang yang tidur 6 jam atau kurang ternyata bekerja sekitar 1,5 jam lebih lama setiap hari kerja. ✌️Dan pola itu paling telanjang terlihat di kota. Warga Jakarta menghabiskan rata-rata 400 jam setahun hanya untuk pergi pulang kerja.

🤘Singapura yang jauh lebih tertib justru salah satu negara paling kurang tidur di dunia, tidak sampai separuh warganya mencapai 7 jam. Di Indonesia, sekitar separuh dari kita tidur kurang dari 7 jam, dan 1 dari 4 orang tidur 5 jam atau kurang.

👋Sempat saya ingin percaya romantisme sebaliknya, bahwa di desa atau di negeri seperti Bhutan yang mengukur kebahagiaan nasional, orang pasti tidur nyenyak dan bahagia tanpa perlu kaya. Data tidak seromantis itu.

Dengan alat ukurnya sendiri, indeks kebahagiaan Bhutan menemukan belum sampai separuh warganya tergolong bahagia, dan di Indonesia insomnia pada orang tua justru lebih tinggi di desa. Yang didukung bukti jauh lebih sederhana dan lebih menusuk, telaah atas ratusan penelitian menemukan semakin materialistis seseorang, semakin rendah kesejahteraannya. Bukan tempatnya yang menentukan, melainkan apa yang dikejar di tempat itu.

Kurang tidur kita bukan takdir profesi, ia hasil dari pola, jam kerja yang memanjang, jarak yang menjauh, dan hal-hal yang kita kejar. Dan berbeda dari takdir, pola bisa diubah.

Mengubahnya pun tidak dimulai di kasur, melainkan jauh sebelum kasur. Kepala yang sibuk di malam hari hampir selalu berisi masalah yang dibiarkan tumbuh sepanjang hari, percakapan yang ditunda, keputusan yang digantung, urusan yang dibiarkan merayap mendekati krisis.

Masalah sebaiknya diselesaikan sebelum ia menjadi krisis, dan untuk itu tidak ada jalan pintas, hanya antisipasi, perencanaan, dan komunikasi, sebab kita makhluk sosial dan hampir semua kecemasan malam hari melibatkan orang lain yang belum kita ajak bicara. Tidur yang tenang tidak dibeli di malam hari. Ia dicicil sejak pagi.

Dan kalau ditelusuri lebih jauh lagi, kemampuan mencicil itu pun tidak turun dari langit. Ia dibentuk oleh pendidikan yang paling dasar, jauh sebelum gelar dan sertifikat.🤮

Saya percaya pendidikan dasar seseorang berdiri di empat penjuru.

Yang pertama 👆sejarah, belajar dari pengalaman dan kasus, sebab masalah manusia berulang dengan kostum yang berbeda, dan orang yang mengenal polanya jadi waspada tanpa menjadi penakut. Yang kedua ✌️kemanusiaan, perlakukan orang lain dengan hormat, karena begitulah kita akan diperlakukan, dan karena hampir tidak ada persoalan yang selesai sendirian.

Yang ketiga 🤘ekonomi, dalam arti yang paling tua, kemampuan menghitung sumber daya yang nyata, uang, waktu, tenaga, tahu batasnya, gemar menabungnya, dan tidak membiarkan diri kehabisan di tengah jalan. Dan yang keempat 👋diri sendiri, memiliki identitas dan kepercayaan diri, menaruh ekspektasi hidup yang rendah, dan berbahagia dengan hal-hal yang tidak bisa dibeli, berolahraga, musik, seni, membaca, menyukai sesuatu dengan sungguh-sungguh sehingga hidup punya titik fokus.

Menulis, bagi saya, termasuk yang terakhir itu, sebab refleksi diri pada dasarnya adalah soal punya cermin, dan tulisan adalah cermin yang tidak bisa dibohongi.

Pekan ini laci itu terbuka lagi, dengan cara yang tidak saya duga. Sebuah surat elektronik tiba dari negeri yang jauh, permintaan wawancara dengan tujuh pertanyaan menunggu di bawahnya. Diam-diam saya bersiap untuk pertanyaan yang biasa, tentang gaya, tentang proyek, tentang pencapaian.

Tetapi tujuh pertanyaan itu tidak menanyakan satu pun dari itu. Mereka bertanya apa yang saya pelajari dari belasan tahun praktik, itu sejarah. Mereka bertanya tentang tukang, komunitas, dan orang-orang yang mempercayakan rumahnya, itu kemanusiaan. Mereka bertanya tentang material yang tumbuh dekat dan bertahan dengan sumber daya yang ada, itu ekonomi. Mereka bertanya tentang ego, itu cermin untuk diri.

Dan pertanyaan penutup mereka tentang anak-anak muda yang kelelahan dan nyaris padam, itu pesan yang paling tua. Satu per satu, pertanyaan orang asing itu ternyata pertanyaan ayah saya. Dunia bertanya dalam bahasa Inggris apa yang ayah saya ucapkan dalam bahasa rumah.

Ayah saya bekerja dengan teliti, sabar, memeriksa hal-hal kecil yang tak dilihat orang lain, dan hampir tidak pernah membanggakan apa pun yang ia kerjakan.

Belakangan saya sadar, bangunan yang paling lama ia kerjakan barangkali adalah saya, dan pesan-pesan itu fondasinya, yang baru terasa kokohnya bertahun-tahun setelah dipasang. Yang menyeberangi samudra ternyata bukan kilau.

Yang menyeberang adalah akar. Empat tahun sudah ayah saya berpulang. Anehnya, pengaruhnya tidak ikut pergi, ia justru membesar.

Seperti pasang surut laut, semakin surut airnya, semakin luas dasar yang terlihat, dan semakin jauh beliau beranjak, semakin kuat saya merasakan kehadirannya, di cara saya bekerja, di cara saya memeriksa hal-hal kecil, di suara yang muncul setiap kali saya membaca pertanyaan orang asing dari negeri yang jauh.

Tulisan ini catatan kasih saya untuk beliau. Really miss him deeply 🥹

Dan saya harus menutup ini dengan jujur, dari seluruh fondasi itu, yang paling sederhana justru yang paling sering saya langgar sampai hari ini. Malam-malam saya masih sering terlalu panjang. Maka malam ini, setelah jawaban-jawaban itu selesai dituliskan, izinkan saya menuruti nasihat beliau yang paling tua, dan menitipkannya juga kepada yang sedang membaca ini larut malam.

Jangan lupa tidur.

(rs, hs, ir)

Image Source:
[1] https://www.flickr.com/photos/pink-neko/2545041444/

Tinggalkan komentar