Sepasang sahabat lama datang berkunjung setelah empat tahun tak bertemu, dan ada sesuatu pada mereka yang telah berubah, sebuah loncatan yang tak bisa saya namai, sampai saya teringat pada sebuah kolam renang. Ada dua cara sebuah kolam menahan airnya. Yang pertama memakai skimmer: ada bibir, ada batu, ada batas yang jelas antara air dan dunia di luarnya.
Yang kedua dibuat meluap, diisi begitu penuh sampai permukaannya rata dengan tepi, sampai batas antara air dan langit menipis dan akhirnya hilang. Dari kejauhan, kolam yang meluap kehilangan garis pemisahnya. Air dan cakrawala menjadi satu. Dan dalam empat tahun yang berlalu itu, sesuatu pada kedua sahabat saya telah berubah persis seperti itu.
Dulu mereka berdua berada di salah satu posisi tertinggi yang bisa dibayangkan.
Waktu mereka begitu mahal sehingga untuk bertemu pun orang harus membuat janji jauh-jauh hari; bahkan, kata mereka sambil tersenyum, keluarga sendiri kadang harus mengantre. Lalu mereka memilih jalan yang berbeda. Kini mereka membangun sesuatu untuk orang-orang yang paling jarang diperhitungkan, mereka yang hidup dengan keterbatasan tubuh, dan merawat beberapa sekolah di pelosok timur negeri ini.
Yang membuat saya terdiam bukan besarnya pekerjaan itu, melainkan bahwa sebagian besar mereka lakukan justru di masa yang paling sulit, ketika dunia sedang menahan napas karena wabah, ketika keuangan mereka sendiri berat, ketika orang membicarakan mereka dari sana-sini. Mereka mengusahakan guru. Mengusahakan sistem. Bahkan mengusahakan sambungan internet ke tempat yang nyaris tak tersentuh sinyal, lalu menyusun modul-modul digital sendiri karena guru terlalu sedikit.
Empat tahun, tanpa henti, untuk anak-anak yang tak pernah bisa membalas mereka apa pun.
Saya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana seseorang bisa terus memberi seperti itu tanpa menjadi kering, tanpa diam-diam menghitung. Dan jawabannya, saya kira, ada pada kolam overflow. Mereka mengisi diri mereka sampai penuh sekali, sampai batas antara “milik saya” dan “milik orang lain” menjadi begitu tipis hingga nyaris hilang. Air yang meluap bukanlah kekurangan; ia justru tanda bahwa kolamnya penuh.
Orang yang memberi sampai meluap bukan orang yang kehabisan, melainkan orang yang begitu penuh sehingga tak bisa menahannya lagi.
Tetapi saya belajar juga bahwa meluap ada harganya. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak orang datang bukan untuk bertemu dirinya, melainkan untuk mengambil sesuatu darinya. Ada kepentingan yang beririsan, ada tangan yang menjabat sambil mengukur. Di titik itu seseorang bisa menjadi sangat sendirian, justru karena ia begitu dikelilingi.
Dan saya melihat bahwa yang menjaga mereka tetap utuh di tengah kesepian itu bukanlah kekuatan, melainkan sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam, sebuah pegangan spiritual yang tak terlihat, yang membuat mereka tetap memberi meski dunia memberi mereka alasan untuk berhenti.
Dulu, bertahun-tahun lalu, saya pernah merancang sebuah sekolah untuk mereka. Prosesnya terasa seperti keajaiban, begitu cepat, seolah bangunan itu muncul mendahului waktunya sendiri.
Waktu itu saya bangga pada kecepatannya. Tetapi dalam pertemuan kemarin, salah satu dari mereka berkata sesuatu yang mengubah cara saya memandangnya. Mungkin, katanya, dulu sekolah itu terasa cepat muncul karena visinya begitu jernih.
Dan sekarang saya mengerti bahwa yang penting bukanlah cepatnya, melainkan bahwa sebuah visi yang besar pada akhirnya akan selalu diuji, bukan oleh sang pemilik visi, melainkan oleh orang-orang yang mengelilinginya: apakah mereka jernih atau keruh, apakah niat mereka utuh atau beririsan dengan kepentingan. Visi yang murni memancar cepat justru ketika ia dikelilingi tangan-tangan yang murni pula.
Di ruang kerja mereka, saya melihat sesuatu yang membuat saya, tanpa saya duga, meneteskan air mata. Di sana masih terpasang foto-foto kawan-kawan lama mereka, dari masa ketika semuanya masih utuh dan penuh tawa, sebelum dunia, dengan harta, status, dan waktunya, memisahkan sebagian dari mereka. Foto-foto itu masih di sana. Tidak diturunkan, tidak disingkirkan.
Dan bagi saya itu adalah bentuk overflow yang lain: hati yang menolak memasang batu pembatas, bahkan terhadap mereka yang telah menjauh.
Saya menyadari betapa langkanya menjadi saksi hidup bagi orang-orang seperti ini, karena setiap kali bertemu mereka, saya merasakan sesuatu yang makin sulit ditemukan, yaitu ketulusan sebuah niat yang tidak sedang menukar apa pun. Tidak ada transaksi di bawah meja percakapan kami.
Dan mungkin karena itu, ketika mereka bercerita betapa sekarang mereka bisa duduk makan bersama anak sendiri, sesuatu yang dulu nyaris mustahil di tengah kesibukan mereka, saya ikut merasakan bahwa itu adalah berkat yang jauh lebih berharga daripada semua posisi tinggi yang pernah mereka pegang.
Akar mereka begitu kuat, dan justru dari akar yang murni itulah pancaran itu lahir.
Saya percaya benih yang jernih akan selalu menemukan jalannya menjadi kenyataan, bahwa yang kecil dan tulus di dalam diri seseorang pada akhirnya membentuk dunia di sekitarnya, pelan-pelan, seperti riak yang meluas. Maka saya lega. Saya tahu mereka akan baik-baik saja, karena orang yang kolamnya sedalam dan sepenuh itu tidak akan pernah benar-benar kekeringan.
Ada satu percakapan yang belum sempat saya lakukan.
Beberapa kali saya ingin bertanya langsung kepada kawan-kawan lama mereka, apa yang sesungguhnya ada di hati mereka. Tetapi setiap kali kesempatan itu datang, ia tertunda, terundur, seolah waktunya belum tiba. Dan saya belajar untuk tidak memaksanya. Ada pertukaran yang hanya bermakna bila terjadi pada saatnya, ketika tatapan mata sungguh berubah menjadi kejujuran dan suara sungguh berubah menjadi hati. Memaksakannya terlalu dini hanya akan membuatnya menjadi transaksi biasa.
Maka saya menunggu, percaya bahwa suatu hari nanti pertukaran itu akan terjadi dengan sendirinya, dan berubah menjadi kenangan yang mengakar.
Kita terbiasa hidup dengan skimmer, menjaga batas yang jelas antara apa yang kita beri dan apa yang kita simpan, antara diri kita dan orang lain. Batas itu wajar, bahkan perlu.
Tetapi ada segelintir orang yang mengisi dirinya begitu penuh sampai batas itu menipis dan akhirnya hilang, sampai apa yang mereka beri dan siapa diri mereka menjadi satu hal yang sama. Dan pada orang-orang seperti itu, garis antara diri dan dunia lenyap, seperti air yang meluap sampai menyatu dengan langit, dan yang tinggal hanyalah cakrawala.
Ada dua orang yang tidak pernah bertemu, tetapi bagi saya keduanya berjalan menuju cakrawala yang sama dari dua sisi yang berbeda. Yang satu wafat pada Januari 1948, ditembak di Delhi setelah seumur hidup berjuang tanpa senjata. Yang satu lagi, pada tahun yang sama, seorang biarawati kecil kelahiran negeri jauh, melangkah keluar dari tembok biaranya dan masuk ke gang-gang Kalkuta.
Satu cahaya padam, cahaya lain mulai menyala, seperti estafet yang tidak pernah dibicarakan tetapi terjadi.
Gandhi lahir sebagai anak India asli, dari kota pesisir Porbandar, tetapi jalannya justru memutar jauh. Sebagai pengacara muda ia berangkat ke Afrika Selatan, dan di sanalah, konon setelah dilempar keluar dari gerbong kereta karena warna kulitnya, sesuatu dalam dirinya berubah.
Ia tinggal di benua itu sekitar dua dekade, dan pulang membawa tiga ide besar yang kelak menggerakkan sebuah bangsa. Ahimsa, laku tanpa kekerasan. Satyagraha, kekuatan yang bersumber dari berpegang pada kebenaran. Dan swadeshi, pakta kemandirian, keyakinan bahwa bangsa yang ingin merdeka harus mulai dari mengurus dirinya sendiri, memintal benangnya sendiri, membuat garamnya sendiri dengan berjalan kaki ke laut.
Untuk semua itu ia keluar masuk penjara berkali-kali, dan justru dari penjara gagasannya makin menyala. Kemandirian baginya bukan pidato, melainkan laku harian yang bisa dikerjakan tangan siapa saja.
Teresa datang dari arah sebaliknya. Ia bukan orang India, ia lahir jauh di Skopje, di keluarga Albania, lalu berlayar ke India pada usia belasan untuk menjadi guru.
Bertahun-tahun ia mengajar dengan tenang, sampai suatu hari di dalam kereta menuju Darjeeling ia merasa menerima panggilan di dalam panggilan, untuk meninggalkan kenyamanan biara dan hidup di antara yang paling papa. Maka pada tahun 1948 itu ia keluar, merawat orang-orang yang sekarat di selokan, satu per satu, tanpa rencana besar selain kasih yang dikerjakan hari itu juga. Gereja bahkan sempat menyebutnya sang Beata, the Blessed, sebelum akhirnya mengangkatnya menjadi santa.
Dari kisahnya saya belajar satu hal yang sederhana, kamu bisa berasal dari mana saja, tetapi apa yang kamu lakukanlah yang membentukmu.
Dua sisi itu saling mengisi dengan cara yang menakjubkan. Gandhi membebaskan sebuah bangsa dari penjajahan, Teresa membebaskan manusia satu demi satu dari keterbuangan. Yang satu bergerak di panggung sejarah dengan jutaan pengikut, yang satu berlutut di selokan dengan dua tangan.
Keduanya manusia biasa, dan sejarah mencatat perdebatan tentang masing-masing, sebagaimana sejarah selalu jujur pada manusia. Tetapi garis yang mereka tarik nyata, dan garis itu satu, kasih yang tidak berhenti sebagai ucapan, kasih yang dikerjakan.
Dan Kalkuta sendiri menyimpan pelajaran yang sering terlewat. Di mata dunia, kota itu kadung dilekatkan hanya pada kemiskinan dan sosok Teresa.
Padahal Eric Weiner, dalam bukunya The Geography of Genius, memasukkan Kalkuta ke dalam daftar pendek tempat-tempat paling kreatif dalam sejarah dunia, sejajar dengan Athena dan Firenze, lewat zaman yang disebut Renaisans Benggala. Bab tentang kota itu ia beri judul genius is chaotic, kejeniusan itu berantakan, dan temuannya yang paling menarik justru ini, kekasaran itulah syaratnya.
Tidak ada yang bisa menempel pada permukaan yang terlalu licin, tulisnya, hidup kreatif membutuhkan sedikit kekasaran, bahkan sedikit keburukan. Kalkuta masa itu adalah kota yang berkonflik dengan dirinya sendiri, terjajah, sesak, hidupnya tumpah ke jalan, dan justru dari kesulitan itu literasinya meledak.
Buku-buku mulai dicetak bukan hanya dalam bahasa Inggris tetapi dalam aksara Benggala mereka sendiri, sekolah-sekolah berdiri, dan lingkaran-lingkaran percakapan yang disebut adda tumbuh di mana-mana, tempat orang berkumpul untuk bertanya, bukan untuk buru-buru menjawab. Para penjajah menyebarkan literasi dengan harapan mendapatkan kota juru tulis, yang mereka dapatkan malah kota penyair.
Dari rahim yang sama lahir sekolah seni yang justru menoleh kembali pada idiom rupa mereka sendiri, lahir Tagore yang mendirikan sekolah di bawah pepohonan di Santiniketan dan menjadi peraih Nobel sastra pertama dari luar Eropa, lahir generasi yang mulai menuliskan sejarahnya dengan tangannya sendiri. Weiner menyimpulkan bahwa kejeniusan tidak pernah tumbuh sendirian, ia menular di dalam lingkaran.
Saya kira kasih pun bekerja dengan hukum yang sama, dan kesulitan, bila disambut oleh lingkaran yang tepat, bukanlah kutukan melainkan pupuk.
Di sinilah semuanya menjadi dekat dengan keseharian kita. Banyak orang datang kepada kita dalam keadaan kalut dan bingung, dan itu sendiri sudah persoalan. Persoalan apa pun bisa mengeras menjadi trauma bila yang ditemuinya adalah wajah yang apatis. Tetapi persoalan yang sama bisa menjadi titik tumbuh bila yang ditemuinya adalah empati.
Dan empati itu menular, ia membentuk lingkaran kontribusi, orang yang pernah ditolong belajar menolong, yang pernah didengarkan belajar mendengarkan, dan dari lingkaran-lingkaran kecil itulah peradaban yang baik dirajut.
Ki Ageng Suryomentaram, pangeran Jawa yang melepas gelarnya sendiri, mengajarkan hal yang senada, bahwa puncak dari semua laku adalah menjadi manusia yang mulia, manusia yang mengerti bahwa rasa manusia itu pada dasarnya sama, sehingga tidak ada alasan untuk menutup mata pada rasa orang lain.
Semangat inilah yang ingin saya beri nama, supaya ia bisa dikenali dan dirawat. Saya menyebutnya cakrawala yang terberkati, blessed horizon, sebuah garis pandang kasih.
Cakrawala adalah garis yang tidak pernah kita capai, berjalan seribu langkah pun ia tetap di kejauhan, tetapi justru karena itu ia berguna, ia memberi arah. Kasih bekerja seperti itu. Ia tidak pernah selesai, tidak pernah bisa dicentang sebagai tuntas, tetapi selama ia ada di garis pandang kita, langkah kita tidak tersesat.
Gandhi dan Teresa tidak pernah bertemu, tetapi keduanya menatap cakrawala yang sama, yang satu dari jalan kemandirian sebuah bangsa, yang satu dari jalan belas kasih pada satu tubuh yang sekarat.
Saya menuliskan ini bukan dari menara teori, melainkan dari catatan-catatan kecil saya sendiri.
Bertahun-tahun saya menyimpan surat-surat dan refleksi pribadi, termasuk kisah-kisah pergulatan yang tidak selalu enak dibaca, dan di sisi lain tersimpan pula refleksi dari proyek-proyek yang kami kerjakan bersama. Kalau keduanya dibaca berurutan, ada satu pola yang jujur saja baru belakangan saya sadari, proyek-proyek itu tidak hanya membentuk kami menjadi profesional, ia membentuk kami menjadi pendengar, dan pelan-pelan menjadi kawan yang baik bagi orang-orang yang kami layani.
Dan hampir semua yang baik di sana tidak lahir dari kami sendiri. Ia dimulai dari inspirasi yang datang dari klien yang percaya, dari tim yang setia, dari keluarga, dari ayah dan ibu yang mengikat semuanya dengan ikatan kasih yang tidak pernah mereka umumkan. Cakrawala yang terberkati itu, bagi saya, pertama kali terlihat dari rumah.
Dan cakrawala itu tidak berada di India.
Ia berada di garis pandang siapa saja yang memilihnya, di meja makan ketika kita mendengarkan orang rumah dengan sungguh-sungguh, di bengkel ketika kita memperlakukan tukang sebagai manusia utuh, di ruang kerja ketika orang yang kalut menemukan wajah yang tidak apatis. Kita tidak perlu membebaskan bangsa atau mengangkat tubuh dari selokan untuk ikut menariknya. Cukup memastikan bahwa hari ini, siapa pun yang menemui kita, pulang dengan sedikit lebih ringan daripada saat ia datang.
Dari situ lingkarannya mulai berputar, dan cakrawala yang terberkati itu, pelan-pelan, menjadi milik bersama.