Kategori
Team - Studio Culture

Waktu Melingkar

Di antara banyak cara kami bekerja, ada satu yang paling sederhana dan paling kami andalkan: duduk melingkar dan mendengarkan. Kami menyebutnya circle time, waktu melingkar. Bukan rapat dengan meja panjang dan kepala di ujung. Melainkan lingkaran, tempat tidak ada yang duduk di depan atau di belakang, dan setiap orang, kalau dilihat dari atas, berjarak sama ke pusatnya.

Bentuk itu bukan kebetulan. Sebuah lingkaran mengatakan sesuatu yang tidak bisa dikatakan oleh susunan lain: bahwa di sini, suara semua orang bernilai sama. Kami memulainya dari yang paling akar, dari anggota tim yang paling muda, yang baru belajar, lalu meluas ke perancang senior, ke engineer, sampai ke klien. Semua duduk di lingkaran yang sama, dan semua didengar. Bukan karena semua pendapat sama benarnya, melainkan karena semua orang berhak didengar sebelum sebuah keputusan diambil.

Ini berbeda dari pendampingan personal, yang satu lawan satu, yang menyesuaikan diri pada kebutuhan tiap orang. Circle time adalah pendampingan komunal: menyamakan nilai bersama, membangun pemahaman yang dipegang beramai-ramai. Yang satu merawat individu; yang satu merawat rasa kebersamaan. Keduanya dibutuhkan, dan keduanya berbeda pekerjaannya.

Ada alasan kenapa lingkaran seperti ini harus dijaga tetap kecil. Orang yang mempelajari kelompok manusia menemukan bahwa ada batas alami: sekitar lima orang untuk lingkaran terdekat yang paling erat, sekitar lima belas untuk kelompok yang cukup dekat sehingga orang berani jujur di dalamnya. Lewat dari itu, sesuatu berubah. Dalam kelompok yang terlalu besar, tanpa seseorang yang memandu dengan cermat, yang pendiam kehilangan kesempatan bicara, dan percakapan pecah menjadi bisik-bisik di pinggir. Kedekatan, ternyata, punya ukuran. Ia tidak bisa dipaksakan pada kerumunan.

Karena itu kami memperlakukan circle time bukan sebagai forum besar, melainkan sebagai sel-sel kecil yang saling terhubung. Seperti sebuah tubuh yang tersusun dari banyak sel, sebuah studio yang sehat tersusun dari banyak lingkaran kecil, masing-masing cukup rapat untuk saling kenal, saling dukung, saling tahu kabar. Dalam lingkaran sekecil itu, orang tidak hanya berbagi pekerjaan; mereka menjadi semacam sistem pendukung satu sama lain. Dan ketika seseorang diajak masuk ke lingkaran itu, sesungguhnya ia sedang diberi tahu sesuatu tanpa kata: bahwa ia kini bagian dari keluarga.

Fokus kami dalam lingkaran ini, pada akhirnya, adalah keterampilan, tetapi keterampilan yang jenisnya sering dilupakan: keterampilan berkomunikasi. Bagaimana menyampaikan tanpa menyakiti. Bagaimana mendengar tanpa buru-buru membantah. Bagaimana bertanya supaya orang lain merasa aman menjawab. Ini keterampilan yang tidak diajarkan di sekolah desain, tetapi justru inilah yang menentukan apakah semua ilmu teknis di ruangan itu bisa dirakit menjadi sesuatu yang utuh, atau berserakan karena orang-orangnya tidak bisa saling bicara.

Dan ada satu hal yang membuat semua ini terasa lebih dari sekadar metode. Di Kampoong Guha ada jendela-jendela berbentuk lingkar. Setiap kali kami melihatnya, kami diingatkan bahwa bentuk lingkaran itu bukan sekadar hiasan; ia menyimpan niat. Niat untuk membuat irisan, untuk mempertemukan orang-orang yang tadinya asing menjadi keluarga baru. Ada kenangan-kenangan yang muncul di lingkaran-lingkaran itu, percakapan yang menjadi persahabatan, orang yang datang sebagai tamu lalu tinggal sebagai saudara, yang setiap kali mengingatnya membuat kami terenyuh.

Barangkali itulah yang paling ingin kami jaga dari circle time: bahwa ia membuat pekerjaan kami lebih profesional dan lebih personal pada saat yang sama. Profesional, karena semua suara didengar dan keputusan menjadi lebih matang. Personal, karena di dalam lingkaran itu orang tidak diperlakukan sebagai fungsi, melainkan sebagai manusia. Sebuah meja bisa membuat orang bekerja bersama. Tetapi sebuah lingkaran, kalau dijaga dengan tulus, bisa membuat mereka menjadi keluarga.

(rs,hs,ty,ir)

Tinggalkan komentar