1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Ketuhanan bekerja dalam arsitektur, dimana ia tidak menunggu di bentuk yang besar, melainkan menunggu di jagat yang mungil, di titik ketika kita hening sejenak dan peduli. Setiap kali perhatian itu benar-benar diberikan dengan tulus sepenuh jiwa, jagad yang jauh lebih besar dari bangunannya ikut hadir di sana. Yaitu sebuah keheningan yang memuncak.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Kemanusiaan bekerja dalam arsitektur tidak lahir dari kemampuan merancang, melainkan dari kesediaan mendengarkan, dari sikap tidak mendominasi orang yang akan menempati dan orang yang mengerjakannya.
Seperti pasang surut di pantai, air dan pasir bergantian mengalah tanpa ada yang menaklukkan, dan justru dari saling mengisi itulah garisnya membentuk jejak-jejak yang indah. Itulah kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia
Persatuan Indonesia dalam arsitektur, ia tidak menuntut satu bentuk yang seragam, melainkan menampung keragaman yang terbentang luas, tempat setiap peristiwa menambah satu pemahaman, dan toleransi terhadap satu bentuk melahirkan variasi yang tidak ada habisnya.
Semua itu hanya bisa dikerjakan serempak oleh banyak tangan, sebab yang sesungguhnya diperjuangkan bukan bangunannya, melainkan ikatan yang tidak tampak, yang menyatukan semangat kebaikan. Itulah Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Kerakyatan bekerja dalam arsitektur yang dimulai dari melihat cara berpikir orang banyak, termasuk lapisan pemikiran yang tidak berdaya, dan menemukan bahwa di dasarnya semua itu sudah kuat dan masuk akal, seperti keindahan kaki telanjang yang menapak tanah dimusyawarahkan, dirundingkan, diayomi, dan dibawa terus, sampai hasilnya menjadi kriya yang membentang seperti cakrawala, membumi pada tanah sambil menatap langit, tempat dua horison itu bertemu. Itulah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Keadilan sosial bekerja dalam arsitektur yang menuntut kita memosisikan diri sebagai bangsa yang bersikap adil, tidak berpihak pada yang paling mampu membayar, dan bersedia mengakarkan diri pada persaudaraan semesta, pada bumi, air, dan udara yang kita pinjam bersama. Semua itu dikerjakan demi nama baik tanah tumpah darah ini, kembali kepada satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Untuk Indonesia. Itulah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
(rs, ty, nh)
Image Source:
[1] https://tirto.id/sidang-pertama-bpupki-membahas-tentang-apa-ini-sejarahnya-gh7r