Kategori
Team - Studio Culture

Meja Mengikuti Kerja

Kalau seseorang berkeliling di Guha dan memperhatikan meja-meja tempat orang bekerja, ia akan menemukan sesuatu yang aneh: tidak ada satu susunan yang seragam. Tiap tim menata mejanya dengan cara yang berbeda. Yang satu memanjang, orang-orang duduk saling berhadapan. Yang lain justru saling membelakangi, dengan ruang rapat di tengah. Ada yang bekerja seperti di ruang tamu, berkumpul di sekitar sofa. Ada pula yang punya ruang rapat dengan layar untuk memantau perkembangan pekerjaan. Semua di tempat yang sama, tetapi ditata dengan logika yang berlainan.

Ini bukan kekacauan. Ini justru prinsip. Kami percaya susunan meja tidak seharusnya ditentukan dari atas dengan satu aturan seragam, melainkan tumbuh dari cara tiap tim bekerja, dan itu sangat dipengaruhi oleh siapa pemimpinnya dan apa yang sedang dikerjakan. Setiap team lead punya ritmenya sendiri, dan meja pun menyesuaikan diri pada ritme itu, bukan sebaliknya. Kami membiarkan setiap tim bereksperimen dengan susunan apa pun yang paling cocok dengan konteksnya.

Kalau ditelusuri, ada logika di balik perbedaan ini, dan menariknya, orang yang mempelajari tata ruang kerja menemukan hal yang serupa. Susunan saling berhadapan mendorong percakapan yang sering dan cepat, cocok untuk pekerjaan yang menuntut koordinasi terus-menerus. Tetapi susunan yang sama itu justru mengganggu ketika seseorang butuh menyendiri dengan pikirannya, karena setiap tatapan menjadi interupsi. Sebaliknya, susunan saling membelakangi menciptakan semacam bayangan yang melindungi, mengurangi gangguan, memberi ruang untuk fokus yang dalam. Tidak ada yang lebih unggul secara mutlak; masing-masing menjawab kebutuhan yang berbeda.

Dari sini kami punya dugaan yang terus kami uji. Pekerjaan yang sifatnya produksi, yang menuntut banyak pertukaran cepat dan pengecekan terus-menerus, tampaknya lebih cocok dengan susunan saling berhadapan, di mana informasi bisa mengalir tanpa hambatan. Sementara pekerjaan yang sifatnya kreatif, yang butuh saling mendengarkan dan menimbang bersama, cenderung menuntut susunan yang mengumpul ke tengah, melingkar, tempat seorang pemimpin tim tidak duduk di ujung memberi perintah, melainkan di antara timnya, mendengarkan. Bentuk ruang, dengan kata lain, ikut menentukan jenis percakapan yang mungkin terjadi di dalamnya.

Ada satu detail kecil yang kami tambahkan di beberapa meja, dan gunanya lebih dalam daripada tampaknya. Di depan meja, kami pasang partisi rendah, sekitar tiga puluh sentimeter di atas permukaan meja, sering kali dengan beberapa stop kontak menempel di sana. Sekilas ia hanya sekat kecil. Tetapi bagi kami, ia mengerjakan sesuatu yang penting secara psikologis: ia memberi perasaan batas.

Partisi serendah itu tidak menutup pandangan dan tidak memutus seseorang dari timnya, ruangan tetap terasa terbuka. Yang ia lakukan hanya menandai, dengan halus, di mana ruang seseorang berakhir dan ruang orang lain dimulai. Sekat kecil itu memberi rasa privasi dan rasa memiliki tempat, tanpa harus membangun dinding. Orang yang mempelajari ruang kerja menemukan hal yang sama: sekat rendah yang menegaskan ruang pribadi memberi orang rasa kendali atas lingkungannya, sambil tetap menjaga keterbukaan visual. Dan rasa kendali sekecil itu, ternyata, mengurangi kelelahan dan membantu orang fokus.

Stop kontak yang menempel di partisi itu pun bukan sekadar kepraktisan, meski memang praktis. Dengan colokan yang berada tepat di depan, setinggi meja, orang bisa menyambungkan laptopnya tanpa harus membungkuk ke bawah kolong mencari sumber listrik. Semuanya bisa dikerjakan dari posisi duduk yang wajar. Ini hal kecil, tetapi hal-hal kecil seperti inilah yang, dijumlahkan sepanjang hari dan sepanjang tahun, menentukan apakah sebuah meja melelahkan atau melegakan bagi tubuh yang menghuninya.

Yang ingin kami tekankan bukan susunan mana yang benar, melainkan sesuatu yang lebih mendasar. Sebelum kita bisa mendesain sebuah meja, atau sebuah ruang kerja, kita harus lebih dulu mengerti bagaimana orang akan bekerja di sana. Meja bukan titik awal; ia jawaban atas pertanyaan yang lebih dulu: pekerjaan seperti apa yang akan berlangsung di sini, dan percakapan seperti apa yang perlu didukung? Merancang meja tanpa memahami kerjanya sama seperti merancang rumah tanpa mengenal keluarganya. Bentuknya mungkin rapi, tetapi ia tidak akan pas.

Inilah lensa yang kami anggap fundamental, dan yang sering dilewati. Banyak orang memulai dari perabot: meja apa yang bagus, kursi apa yang nyaman, tata letak apa yang terlihat rapi. Kami memilih memulai dari yang sebaliknya, dari cara kerja, dari relasi, dari ritme sebuah tim, lalu membiarkan meja mengikuti. Karena sebuah meja yang disusun mengikuti cara orang bekerja akan mendukung pekerjaan itu diam-diam, tanpa disadari. Sementara meja yang dipaksakan justru akan melawan orang-orang yang duduk di sekelilingnya, setiap hari, dengan cara yang sulit mereka tunjuk tapi terus mereka rasakan.

Maka meja-meja yang berbeda-beda di Guha itu bukan tanda ketiadaan sistem. Ia justru sistem yang paling menghormati kenyataan: bahwa tidak ada satu cara bekerja yang berlaku untuk semua orang, dan karena itu, tidak ada satu susunan meja yang benar untuk semua tim. Yang benar hanyalah meja yang jujur mengikuti kerja yang sesungguhnya, dan orang-orang yang mengerjakannya.

Tinggalkan komentar