Kategori
blog tulisan-wacana

Menemani Sampai Tuntas

Ada satu kebiasaan di studio kami, yaitu induksi untuk anak-anak magang. Dari tahun ke tahun pertanyaannya hampir selalu sama. 1. Banyak yang mempertanyakan realitas profesi ini, dan banyak juga yang bertanya 2. Bagaimana sebenarnya bekerja bersama, 3. Apa saja dinamikanya plus minus yang didapatkan setelah bertahun-tahun praktik, seolah ada rahasia lanjutan yang disimpan dari pertanyaan anak-anak.

Jawaban kami biasanya mengecewakan karena pendek, dan sampai sekarang kami belum yakin sudah menjawabnya dengan benar, 1. Sikap mau memperhatikan rekan di sekitar, 2. Fokus untuk mengetahui nilai dan tujuan proyeknya, dan 3. Kesabaran terus hadir sambil meningkatkan keterampilan.

Barangkali itulah cara pikir budaya studio, kesiapan yang tidak pernah selesai dipelajari. Jawaban yang sederhana biasanya punya riwayat yang panjang, dan tulisan ini tentang riwayat itu.

Waktu masih muda dan bekerja di studio, saya sering termasuk yang mematikan lampu terakhir. Lembur sampai pagi sudah biasa, dan begitu seringnya sampai saya hafal siapa petugas kebersihan yang datang jam berapa, satpam mana yang bertugas malam itu, dan sopir taksi mana yang biasa mangkal menjelang subuh. Kami sempat mengobrol panjang di udara dingin sambil menunggu.

Suatu malam senior saya berkata, “kamu pulang saja.” Saya menjawab tanpa berpikir, “nanti saja, saya tunggu kamu selesai dulu.”

Bertahun-tahun kemudian baru refleksi kepada diri sendiri, kenapa jawaban itu keluar begitu saja. Bukan karena rajin, dan bukan karena pekerjaan belum selesai. Ada sesuatu di dalam yang tidak sanggup meninggalkan orang yang masih bekerja.

Kira-kira asalnya dari masa kecil. Ibu (mom) rajin sekali mengikuti kegiatan doa bersama, dan saya sering ikut, tanpa niat apa-apa, sekadar menemani.

Di pojok ruangan itu bertanya-tanya sendiri, kok bisa ya orang-orang ini berkumpul, tidak ada yang membayar, tidak ada keperluan apa-apa. Lama-lama saya paham jawabannya bukan di acaranya, melainkan pada apa yang terjadi sesudahnya. Ada teman, ada canda, ada tawa, ada rasa dan daya hidup yang tidak muncul kalau kita sendirian.

Rasa dan daya bersama itu ternyata bekerja di tempat-tempat yang tidak saya duga. Saya pernah didatangi preman yang membawa golok.

Ceritanya panjang dan tidak enak diingat, tetapi ujungnya justru ganjil, kami akhirnya bekerja bersama, sebab ternyata kami sama-sama membutuhkan sesuatu dari yang lain. Orang yang datang dengan senjata itu berubah menjadi rekan kerja, bukan karena saya berani, melainkan karena ada kepentingan yang jujur, sebuah daya dan rasa positif yang saling membutuhkan dan diakui kedua pihak.

Dari situ kami mulai menduga satu hal yang sederhana.

Barangkali hampir semua orang bersedia bekerja bersama, asal ia merasa dianggap ada. Tetapi menemani ternyata tidak cukup dengan niat baik. Ia menuntut dua hal yang jauh lebih tidak nyaman, yaitu datang ke tempat yang sulit, dan berkata jujur pada orang yang kita sayangi. Dua-duanya dipelajari dengan cara yang tidak menyenangkan.

Yang pertama kami pelajari di perjalanan menuju tapak proyek adalah jatuh dari motor.

Waktu itu musim hujan, dan jalan masuk ke tapak sekolah Alfa Omega masih berupa tanah yang kalau basah berubah jadi bubur licin. Mobil tidak bisa lewat, jadi perjalanan terakhir selalu ditempuh dengan motor. Kami memilih motor karena lebih cepat dan menghemat waktu, dan hari itu roda depan saya kehilangan pegangannya di lumpur. Tidak ada yang dramatis, terjerembab, gambar-gambar di tas ikut kotor, dan beberapa tukang yang kebetulan lewat berhenti untuk menolong sambil menahan senyum.

Yang paling sakit bukan lecetnya. Yang paling sakit adalah malunya, dan justru dari malu itu pelajarannya datang.

Sebab sambil membersihkan celana dari lumpur, saya sadar satu hal yang seharusnya sudah lama disadari. Jalan yang baru saja menjatuhkan itu dilewati para tukang setiap hari. Dua kali sehari, pergi dan pulang, kadang sambil memanggul bahan, kadang berboncengan bertiga, dalam hujan yang sama, di lumpur yang sama.

Mereka tidak jatuh, atau jatuh dan tidak pernah menganggapnya cerita, sebab bagi mereka jalan itu bukan pengalaman, melainkan rute.

Di titik itu kami mengerti kenapa pengawasan tidak bisa diwakilkan kepada foto kiriman lapangan. Gambar kerja tidak pernah kotor. Ia rapi, datar, dan kering, dan semua garis di dalamnya patuh. Tanah tidak begitu. Tanah punya musim, punya lumpur, punya jarak yang baru terasa kalau ditempuh sendiri.

Merancang dari kejauhan itu selalu bisa, tetapi memahami dari kejauhan itu tidak pernah bisa. Ada hal-hal yang hanya bersedia menjelaskan dirinya kepada orang yang datang. Belakangan saya tahu Toyota punya nama untuk kebiasaan ini, genchi genbutsu, pergi dan lihat sendiri di tempat kejadian, sebab keputusan yang baik lahir dari berdiri di lantai kerja, bukan dari laporan.

Jadi apa yang kami kira pelajaran pribadi ternyata sudah lama tertulis di buku panduan pabrik mobil, hanya saja versi mereka tidak memakai motor.

Maka sesudah hari itu, usulan kami kepada pemilik sederhana saja dan sangat tidak puitis, tapaknya butuh jalan masuk yang layak. Yang terjadi kemudian, pemilik tidak sekadar menyetujui.

Beliau membangun jalan sepanjang satu setengah kilometer, sehingga sebelum sekolahnya berdiri, jalan itu sudah lebih dulu melayani kampung-kampung di sekitarnya. Kami hanya mengusulkan jalan karena kesulitan yang nyata. Keputusan menjadikannya pemberian, itu sepenuhnya milik beliau, dan sampai sekarang saya menganggapnya salah satu pelajaran arsitektur terbaik yang pernah kami terima dari seorang klien.

Bekas lecet di tangan sudah lama hilang. Tetapi ada bekas lain yang diharapkan tidak pernah hilang, yaitu rasa malu yang sehat itu. Malu karena sempat mengira sudah memahami tapak dari gambar. Malu karena kesulitan yang saya alami sekali, ternyata dialami orang lain setiap hari tanpa mengeluh. Malu yang mengingatkan bahwa antara meja gambar dan tanah selalu ada jarak, dan jarak itu hanya bisa ditutup dengan datang.

Sekarang setiap kali kami berkunjung ke sana, jalannya sudah keras dan ramai. Anak-anak berangkat sekolah lewat situ, pedagang lewat situ, motor-motor lewat tanpa tergelincir. Tidak ada tanda apa pun bahwa di jalan itu seorang arsitek pernah terjerembab dengan gambar-gambarnya. Dan memang tidak perlu ada. Jatuhnya cukup diingat satu orang saja, asal pelajarannya tidak ikut jatuh.

Jatuh semacam itu kecil dan sembuh dalam seminggu.

Profesi ini menyimpan kisah jatuh yang jauh lebih panjang, dan dua di antaranya sering kami ceritakan di ruang induksi.

Sigurd Lewerentz memenangi sayembara pemakaman hutan Stockholm bersama sahabatnya Gunnar Asplund pada 1915, mengerjakannya berpuluh tahun, lalu pada 1936 kota menyerahkan kapel utamanya kepada Asplund seorang. Ia tersingkir dari karyanya sendiri. Ia menepi dari arsitektur, membeli pabrik di Eskilstuna, dan belasan tahun hidup dari membuat kusen dan perlengkapan baja.

Baru di usia 70-an ia benar-benar kembali, dan gereja bata yang ia kerjakan di Klippan dari umur 77 sampai 81 kini dihitung orang sebagai salah satu karya bata terbaik abad itu. Di proyek itu ia memasang satu aturan yang keras, tidak boleh ada bata yang dipotong, seluruh selisih ukuran ditelan oleh siar adukan yang dibiarkan menebal, dan selama 3 tahun ia datang mengawasi peletakan batanya.

Orang mengingat kalimatnya, gereja seharusnya tidak tampak seperti dirancang, ia seharusnya tampak seperti terjadi. Bagi kami itu definisi lain dari menemani sampai tuntas, seorang tua yang berdiri di lapangan menemani bata demi bata menemukan tempatnya.

Yang kedua, Liu Jiakun lain lagi jalannya. Remaja di masa Revolusi Kebudayaan, dikirim ke pedesaan, lulus arsitektur lalu justru meninggalkannya bertahun-tahun untuk menulis novel.

Ia kembali sesudah melihat pameran karya teman sekelasnya pada 1993, membuka kantor pada 1999 di usia 40-an, dan ketika gempa besar mengguncang Sichuan pada 2008 ia turun sebagai relawan lalu membuat bata dari puingnya, dicampur jerami dan semen, dan menamainya bata kelahiran kembali. Alasannya ia ucapkan tanpa hiasan, sebagai warga Sichuan saya ikut merasakan sakitnya, sebagai arsitek saya harus mengerjakan sesuatu yang saya bisa. Pada 2025 ia menerima Pritzker.

Dua orang itu jatuh dengan cara yang berbeda, yang satu disingkirkan, yang satu menyingkir. Yang menyatukan mereka, keduanya pulang lewat pintu yang sama, bata yang paling biasa, ditemani sampai tuntas.

Pelajaran kedua datang dari tempat yang jauh lebih dekat, yaitu dapur kami sendiri. Di dapur kami ada dua juru masak. Yang satu lebih senior, memasak dari kebiasaan panjang, dan memegang posisinya karena sudah terbiasa. Masakannya bukan tidak enak. Tetapi terlalu terbiasa punya bahayanya sendiri, persiapan tidak lagi dipikirkan matang, dan yang dikejar pelan-pelan bergeser dari rasa menjadi cepat selesai.

Memasak untuk puluhan orang setiap hari, dua menu sekaligus, bukan pekerjaan yang ringan bagi sang senior. Yang satu lagi lebih junior. Cara kerjanya masih kasar, belum punya keteraturan.
Suatu kali sang senior melakukan kesalahan karena tidak mengikuti resep, dan ia menerima masukan yang mau tidak mau cukup lugas dari kami. Tidak menyenangkan untuk semua pihak. Tetapi masukan yang jujur memang jarang menyenangkan.

Lalu terjadilah sesuatu yang tidak kami rencanakan. Sang senior harus pulang kampung karena urusan pribadi, dan dapur dipegang si junior sendirian. Dan masakannya berubah. Enak, dan bukan kebetulan satu kali, melainkan berturut-turut, hari demi hari.

Ketika kami sekeluarga memujinya, wajahnya tersenyum dengan cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ada yang berubah dalam dirinya, dan perubahan itu bisa dirasakan sampai ke rasa makanan di piring.

Ketika sang senior kembali, standar masakan turun lagi ke tempatnya semula. Saya tidak ingin membaca cerita ini sebagai kisah tentang senior yang buruk dan junior yang baik. Yang sesungguhnya terjadi lebih dalam dari itu, di dapur kami, posisi telah pelan-pelan menggantikan standar, dan kebiasaan telah menggantikan kesadaran.

Sang senior adalah korban dari sistem yang terlalu lama tidak pernah ditinjau, yang membiarkan kenyamanan mengendap sampai terasa seperti hak. Dan si junior bukan pahlawan, tapi hanya orang yang akhirnya mendapat ruang, lalu membuktikan bahwa ruang itu selama ini memang tidak pernah benar-benar terbuka. Dan saya punya peran besar dalam problem ini juga.

Psikolog Stanford Carol Dweck menamai pola ini fixed mindset dalam bukunya Mindset tahun 2006, keyakinan diam-diam bahwa kemampuan itu kadar yang sudah tetap, sehingga yang merasa mampu berhenti belajar dan yang dicap belum mampu berhenti mencoba. Tetapi teori itu baru menjelaskan separuh cerita, sebab ia bicara tentang isi kepala orang per orang, sedangkan yang terjadi di dapur kami adalah soal tatanan.

Ketika hierarki tidak pernah dipertanyakan, yang senior berhenti diuji dan yang junior berhenti berharap. Dua-duanya kehilangan sesuatu yang penting, yang senior kehilangan cermin, yang junior kehilangan panggung. Untuk lapisan ini Edgar Schein, peneliti budaya organisasi, punya kalimat yang menusuk, budaya terbentuk dari apa yang secara konsisten diperhatikan, diukur, dan dihargai oleh pemimpinnya.

Artinya diam selama bertahun-tahun itu pun ikut membentuk budaya, dan itu bagian yang paling tidak enak untuk diakui.

Maka kami mengerjakan hal yang paling tidak nyaman, dan terus terang jauh lebih terlambat dari seharusnya, kami kumpulkan mereka semua, termasuk orang ketiga di dapur itu, dan kami ceritakan apa adanya masukan tentang kualitas masakan. Saya tahu ini mungkin membuat yang senior jengah dan yang junior takut.

Tetapi diamnya seorang pemimpin, adalah bentuk pengabaian. Ketegasan yang jujur, lebih menghormati orang daripada kesopanan yang membiarkan.

Setelah itu barulah alat-alatnya bekerja, standar operasi ditinjau ulang, dibangun di atas tiga hal yang tidak peduli pada senioritas, yaitu produk, proses, dan meritokrasi. Bukan sebagai birokrasi, melainkan sebagai cara memastikan kualitas tidak bergantung pada siapa yang kebetulan hadir hari itu.

Dan dengan pemantauan yang terbuka, sesuatu yang tidak kami duga terjadi, suasana yang tadinya diam-diam berkompetisi berubah menjadi kolaborasi. Barangkali orang memang tidak takut pada standar yang jelas. Yang ditakuti adalah penilaian yang gelap.

Belakangan kami baru tahu bahwa yang kami raba-raba di dapur kecil itu sudah lama diteliti orang, dan jawabannya sudah ada jauh sebelum kami memikirkannya.

Google meneliti 180 timnya bertahun-tahun untuk mencari resep tim yang baik, dan jawabannya bukan kepintaran anggotanya, melainkan rasa aman psikologis, istilah Amy Edmondson dari Harvard, keyakinan bersama bahwa tidak ada yang dipermalukan karena berbicara. Edmondson sendiri mengingatkan, rasa aman tanpa standar yang tinggi hanya melahirkan zona nyaman, keduanya harus dinaikkan bersama.

Toyota menggantung tali di sepanjang lini produksinya, dan siapa pun, termasuk pekerja paling muda, boleh menariknya untuk menghentikan seluruh lini begitu melihat mutu yang cacat. Pixar punya forum kritik dengan satu aturan, yang dibedah filmnya, bukan pembuatnya. Dan Facebook yang dulu bersemboyan bergerak cepat dan rusaklah sesuatu diam-diam mengganti semboyannya pada 2014, sebab pada ukuran mereka yang baru, kerusakan sudah lebih mahal daripada kecepatan.

Semua itu kalimat panjang untuk pelajaran yang kami pelajari dengan cara yang jauh lebih lambat, standar yang jelas membuat orang berani, dan hak menjaga mutu adalah milik semua orang, bukan milik yang senior.

Di balik semua itu ada satu kata yang menjadi inti padepokan kami, pamong. Pamong bukan mandor yang mengawasi dari atas, bukan pula kawan yang membiarkan demi menjaga perasaan.

Pamong adalah yang menemani sampai tuntas, sambil menjaga dua hal sekaligus yang sering dianggap bertentangan, kualitas dan hubungan. Saya masih sering gagal di keduanya. Ketegasan yang tidak memutus persaudaraan, kelembutan yang tidak menurunkan standar.

Bertahun-tahun lalu, pernah menulis bahwa orang-orang di tempat ini adalah kakak, adik, dan kawan seumur hidup. Dan, masih memegangnya sampai sekarang.

Tetapi cerita dapur ini mengajari kami melengkapinya, justru karena mereka keluarga, bukan meskipun mereka keluarga, standar harus dijaga dan kejujuran harus diucapkan. Keluarga bukan alasan untuk menurunkan mutu. Keluarga adalah alasan untuk tidak saling membiarkan.

Masakan yang baik, ternyata, resepnya sama dengan studio yang baik, bahan yang jujur, takaran yang dijaga, dan seseorang yang mau menemani sampai tuntas.

Dan kalau dipikir lagi, kalimat yang dulu keluar begitu saja di kantor itu ternyata belum selesai kami kerjakan. Kami tunggu kamu selesai dulu. Menunggu saja tidak cukup. Yang lebih sulit adalah ikut basah di jalannya, dan berani berkata jujur ketika masakannya tidak enak.

Barangkali itu sebabnya jawaban kami di ruang induksi selalu sependek itu. Perhatikan rekanmu, pahami tujuannya, dan teruslah hadir. Sisanya akan diajarkan oleh lumpur dan dapur.

Tinggalkan komentar