Kategori
blog

Selamat Jalan Sahabat, Gregorius Agung Setyonugroho

Di akhir minggu ini saya berefleksi tentang 2 kepergian yang jatuh di tanggal yang sama. Tiga tahun setelah Pak Eko Prawoto berpulang, kabar datang bahwa Mas Greg meninggal di tanggal yang sama, ketika sedang bertugas di Nusa Tenggara Timur.

Setiap mengingatnya saya merasa beliau di ujung sana dan saya di ujung sini, dipisahkan oleh jarak dan didekatkan oleh kenangan yang hanya 1 kali, tetapi cukup untuk seumur hidup.

Saya mengenal Mas Greg dari lingkaran keluarga besar Yayasan Eko Agus Prawoto, irisan-irisan dari tempat saya juga mengenal Romo Mangun, Pak Ardi Pardiman, Pak Ika dan banyak arsitek serta akademisi Yogyakarta yang bekerja dengan cara yang sama. Begitu ada bencana, mereka datang. Begitu ada kampung yang membutuhkan, mereka mengabdi. Di lingkaran itu pengabdian bukan kehebatan yang diumumkan, melainkan bahasa yang lumrah, seperti bertegur sapa di pagi hari.

Kami bertemu ketika menyusun video tentang Pak Eko bersama Bu Rina, Pak Krisna, Mbak Tyas, Satria, Tyo, dan Kenn. Mas Greg banyak bercerita, dan kami tertawa sampai terpingkal pingkal. Candanya canda tahun 1980 dan 1990-an, canda Warkop, yang meletus tanpa aba-aba di sela pembicaraan yang serius.

Dan pembicaraan seriusnya sungguh serius, tentang pentingnya ekosistem arsitektur di luar praktik arsitek itu sendiri, yang melibatkan penduduk, kerajinan, dan kemampuan berkolaborasi. Ada banyak keterikatan yang tidak tampak di dalam dirinya, antara kelakar dan kesungguhan, antara tertawa dan bekerja. Beliau orang yang sungguh sungguh mau terlibat, dan jenaka.

Dari cerita hidupnya saya belajar hal yang sama dengan yang dititipkan Pak Eko di rumah Kedondong dulu, setia pada ketukangan, melibatkan orang, dan tetap sederhana. Bedanya, Mas Greg mengajarkannya sambil membuat kami tertawa. Kalimat Mas Cahyo kembali terdengar di telinga saya, kita punya banyak pengajar tetapi menjadi guru itu soal lain, dan kita sungguh banyak kehilangan guru-guru kita. Sahabat yang pergi sudah banyak. Saya masih butuh waktu untuk memahami apa yang digariskan Tuhan Yang Maha Kuasa, pengabdian yang dijemput 1 per 1, jiwa demi jiwa, kembali kepada-Nya. Yang tertinggal memori. Air mata tidak pernah cukup, ia mengalir deras di balik sungai lalu ke laut jua.

Saya terus berdoa untuk keluarga yang ditinggalkan Mas Greg, untuk kawan kawan di Yogyakarta dan di NTT yang kehilangan rekan kerja di tengah tugas, agar selalu dilindungi dengan kuasa baik oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan saya berdoa supaya kejenakaannya, kemanusiaannya, dan canda gurau kejujurannya lahir kembali dalam jiwa-jiwa yang pernah diajaknya tertawa.

Dalam 1 pertemuan itu saya merasa dianggap sebagai manusia. Orang Jawa punya kata untuk itu, di-wongke, diorangkan. Terima kasih, Mas Greg. Jujur saya belum rela masih banyak yang bisa dikerjakan dan ditertawakan bersama, dalam kerinduan manusia biasa. Selamat jalan sahabat. (rs)

Tinggalkan komentar