“Untuk apa.
Saya sudah selesai. Kamu mau apa lagi sih.”Itu jawaban Pak Johan Silas, seorang “Professor” ketika saya datang ke rumahnya di Surabaya pada 2025 dan menawarkan sebuah kuliah umum bersama OMAH Library.
👆Saya mengenal namanya sejak mahasiswa, dari halaman Kampung Improvement Program di Archnet. ✌️Bertahun-tahun kemudian, setiap kali saya bertanya kepada kawan tentang figur di Surabaya, nama yang muncul selalu sama. 🤘Maka saya menghubungi beliau, dan beliau menerima saya di rumahnya.
Orang yang berkata sudah selesai itu menjelang 90 tahun dan masih mengajar. Kami mengobrol berkali-kali, dan ceritanya selalu sama. Gang kampung yang lebarnya 2 meter. Jakarta yang kehilangan kampungnya. Disertasi yang tidak ada pengujinya. Awalnya saya mengira ini pengulangan orang tua.
Belakangan saya membaca wawancara Freek Colombijn dengan beliau, terbit 2016 di jurnal Indonesia dari Cornell.
Di ujung wawancara Colombijn bertanya, beliau ini penulis, guru, arsitek, atau perencana kota. Jawabannya, “I am a singer.” Ia menjelaskan apa yang dikerjakan orang dan apa isi sebuah kota, katanya, tapi bukan ia yang membuat semua itu terjadi.
Penyanyi memang mengulang lagunya. Yang saya dengar di ruang tamu itu adalah repertoar. Maka pertanyaan saya berubah, dari kenapa ia mengulang menjadi lagu mana yang benar.
👆Gang kampung Surabaya dibuat 2 meter supaya ambulans bisa masuk. Jalan mobil cukup tiap 300 meter karena selang pemadam menjangkau 150 meter. Angka yang sama ia sebut kepada Colombijn pada 2015 dan di ITS pada 2025.
✌️Kampung Kebalen meraih Aga Khan Award pada 1986. Disertasinya di ITB memang tertahan 3 tahun karena sekolah pascasarjana tidak sanggup membentuk tim penguji. Ia akhirnya lulus lewat 6 buku yang terbit internasional. Sebagian lagi meleset.
🤘Di ITS ia bercerita tentang Rockefeller yang wafat di usia 94, padahal 97. Ia bercerita tentang pemuda keturunan India yang perusahaannya dibeli Meta, padahal pendirinya anak imigran Tiongkok dan Meta membeli 49%. Angkanya salah, moralnya utuh. Begitulah cerita lisan bekerja. Hanya saja, di kuliah yang sama ia menertawakan profesor yang banyak menulis tanpa jejak nyata.
Yang paling menarik adalah lagu yang ia koreksi sendiri.
👋Di kuliah, Surabaya terdengar bijak karena menolak jalan mobil di kampung, sementara Jakarta membangunnya lalu kehilangan kampung. Kepada Colombijn ia mengaku waktu itu mereka tidak tahu. Jalan mobil ditolak hanya supaya uang tidak terbuang untuk jalan yang tidak dibutuhkan orang.
Surabaya memang tidak punya uang, dan ia menyebut itu berkah terselubung. Program perbaikan kampung pada awalnya bahkan dibiayai lotre kota, Lotto Surya.😳
Hasil yang baik lahir dari keterbatasan, lalu diceritakan ulang sebagai prinsip.🥹
Lalu soal penyanyi yang katanya tidak membuat apa pun terjadi. Tahun 1965, sesudah G30S, sebuah jip Kodim datang ke rumahnya pagi-pagi. Tetangganya mengira ia diciduk. Yang memanggil adalah Letkol Sukotjo, komandan Kodim yang baru menjadi penjabat wali kota. Sukotjo mengaku hanya dilatih berperang dan butuh rencana untuk mengurus kota. Silas menyusun master plan itu bersama kawan dan mahasiswanya.
Sejak itu ia tidak pernah jauh dari balai kota. Ia menulis pidato Wali Kota Purnomo Kasidi dan ikut dalam perjalanannya ke luar negeri. Ketika pengusaha menyodorkan uang kepada wali kota, wali kota meneleponnya, dan uang itu menjadi pusat budaya dan rumah susun sewa. Pada 2010 kelompoknya mendorong Tri Rismaharini, bekas mahasiswanya, menjadi calon wali kota di menit terakhir. Penyanyi itu ternyata ikut menulis lagunya.
🥹Ini siasat, dan siasat ada harganya.
Warga bantaran sungai ia beri pilihan, dan ketika mereka terlambat memilih, pilihannya tinggal rumah susun atau digusur. Ketika Colombijn bertanya apakah hubungannya dengan wali kota terlalu dekat, ia hanya menjawab bahwa Surabaya baik-baik saja.
Di ITS ia keras terhadap Jakarta dan ibu kota baru. Terhadap Surabaya, tidak.
🥹Ibu kota baru itu membuatnya sedih, katanya, karena megah dan dibangun saat penduduk menyusut.
Tapi di kuliah yang sama ia membanggakan sebuah kota baru yang lain. Ia terlibat dalam konsep Kuala Kencana, kota milik Freeport di Timika yang diresmikan Soeharto pada 1995, sekitar 17.000 hektare di tengah hutan dengan semua kabel ditanam. Curitiba, yang sering disebut kota lingkungan terbaik di dunia, menurutnya tidak ada apa-apanya dibanding Kuala Kencana.
Pada 2023 Freeport menyebut para perencana ibu kota baru datang belajar ke sana. Kota yang ia banggakan dipakai sebagai contoh untuk kota yang ia sedihkan. Bedanya, menurut ukurannya sendiri, ada pada skala. Kuala Kencana kecil dan melayani sebuah pekerjaan, sedangkan ibu kota baru hendak memindahkan 1,5 juta orang. 🥹
Tapi Kuala Kencana juga kebalikan dari kampung. Kampung menurutnya adalah tempat orang tetap dikenal.🥹
Di Kuala Kencana fasilitas dipakai dengan kartu perusahaan, dan warga Timika masuk dengan menitipkan KTP di pos. Ia berkata menyediakan kawasan agar suku Kamoro membangun sendiri. Pada tahun kota itu diresmikan, tokoh Amungme dan Kamoro mendapati catatan pemerintah yang menyebut hampir 1 juta hektare tanah ulayat mereka sudah dilepas, termasuk untuk kota itu.🥹
Saya menyebut cara berpikir ini cerdik cendekia. Cerdik adalah akal membaca situasi. Cendekia adalah ilmu yang bisa diuji.
Gang 2 meter adalah keduanya sekaligus. Anekdot yang meleset dan kedekatan tanpa kritik adalah cerdik yang berjalan sendirian.
😳Ia belajar cara itu dari kampung, tapi ia bukan orang kampung. Masa kecilnya di Surabaya, katanya, ada di depan sebuah kampung. Dari depan itulah ia bekerja seumur hidup, cukup dekat untuk mendengar warga dan cukup dekat dengan kuasa untuk melindungi mereka.
Kuliah itu akhirnya terjadi di ITS pada Selasa, 26 Agustus 2025, dengan judul Masa Depan Kampung dan Kota Indonesia. Penyelenggaranya Laboratorium Perumahan dan Permukiman ITS, Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia, dan OMAH Library.
Menjelang akhir, moderator bertanya apakah seseorang harus menjadi arsitek sukses dulu, baru mengurus kampung. Ia memakai nama saya sebagai contoh arsitek sukses itu. Pak Silas tidak menjawab ya atau tidak. Ia bernyanyi.
👆Rockefeller yang kaya raya divonis hidup setahun lagi, lalu mendirikan yayasan dan hidup sampai tua. Uang bukan segala-galanya. Jawaban yang lebih pendek ada di hidupnya sendiri. Ia mulai pada usia 29, mengajar di sebuah gudang.
✌️Ia menutup kuliah dengan ukuran yang ia pakai untuk dirinya. Penghargaan terbesar baginya adalah masih dipakai, masih berguna bagi Surabaya. Orang yang berkata sudah selesai itu mengukur hidupnya dari masih atau tidaknya ia dibutuhkan.
Beliau wafat pada 8 Juni 2026, di usia 90 tahun.
Beberapa waktu sebelumnya saya bercerita tentang beliau kepada mama. Mama ternyata kenal. Oma saya orang Samarinda, kota kelahiran beliau, dan beliau masih kerabat jauh dari pihak oma. Pada 1980-an banyak saudara oma merantau ke Surabaya, begitu juga orang tua saya. Pertengahan 1980-an beliau sering datang ke toko kelontong milik adik oma di Dukuh Kupang Timur, hanya untuk mengobrol. 🥹Hidup keluarga mama sedang sulit waktu itu.🤮
Mama sudah lupa detailnya. Yang tersisa hanya bahwa orangnya sederhana dan suka mengobrol.🤘
Pada tahun-tahun itu Kebalen meraih Aga Khan dan ia menulis pidato wali kota. Di toko itu tidak ada yang mencatat.
Saya tidak sempat menyampaikan ini kepada beliau. Saya kira jawabannya akan sama.
Untuk apa.🙏🙏🙏
Sisi yang berkesan bertemu dengan pak Silas, perjumpaan kedua dan terakhir kami dengan beliau :
Satu pribadi sederhana yang langka !
(rs)