Traditional Home in Modernity – writing for Baccarat Indonesia

Tulisan ini ditampilkan di Baccarat edisi akhir tahun 2014

Screen Shot 2015-02-19 at 7.34.25 AM

Di tahun 1990 Pameran AMI [Arsitek Muda Indonesia] menandai satu titik kritis dimana desain yang rasionalis ataupun yang sering disebut – sebut sebagai gaya minimalis menjadi sejarah di dalam arsitektur Indonesia. Desain rasionalis ditandai dengan garis – garis yang geometris, penuh pertimbangan untuk menjawab kebutuhan fungsional dan estetika yang tinggi. Hal ini menandai pergeseran nilai – nilai tentang apa yang dianggap baik oleh Arsitek Muda Indonesia sebagai reaksi terhadap menjamurnya rumah bergaya mediterania, klasik, ataupun tradisional yang menjamur pada waktu itu. 14 tahun kemudian, setelah pameran AMI tersebut, rumah – rumah yang rasionalis ini menjamur dimana – mana, gaya rasionalis menjadi satu tren pasar yang sensual untuk disukai oleh masyarakat. Hal ini ditambah dengan perubahan gaya hidup orang – orang yang lebih individual juga terjadi hal ini ditandai dengan tendensi berkurangnya rumah nukleus, rumah yang terdiri dari beberapa generasi di dalamnya. Mungkin 20 tahun yang lalu kita masih biasa dengan tradisi bapak ibu, kakek nenek, cucu cucu tinggal di dalam satu rumah. Sebuah situasi dimana canda gurau, tegur sapa terjadi secara dekat di dalam satu rumah yang ditinggali bersama – sama. Untuk ini kita bisa catat adanya pergeseran gaya hidup, pergeseran budaya, pegeseran dari tradisional menjadi modern, pergeseran dari komunal menjadi individual. Tergerusnya rumah nukleus ini menjadi satu hal yang patut untuk dicatat dan tumbuhnya rumah – rumah berukuran lebih kecil menjadi pertanda akan satu perubahan yang nyata. Pertanyaannya kemudian untuk siapa ? dan untuk apa ? satu rumah itu ada.

Untuk siapa ?

Romantisme akan keluarga yang menyatukan hubungan menjadi satu dasar utama dalam membina kesuksesan. Orang yang tinggal bersama – sama, menurut penelitian di Amerika orang – orang mengalami interaksi manusia dengan manusia terbukti akan hidup lebih lama. Catatan ini ditujukan sebagai ada korelasi dari gaya hidup / budaya ke dalam satu parameter yang hakiki, seberapa lama kita hidup, ternyata semangat kebersamaan [spirit togetherness] yang menjadi satu ciri khas yang baik dalam masyarakat kita, ternyata memiliki harta yang terpenting dalam hidup setiap orang yakni, seberapa lama kita hidup atau seberapa banyak usia yang kita punya.

Tren meningkatnya nilai individualistis ini di kota – kota besar seperti Jakarta mungkin juga dipicu oleh kurangnya tempat untuk berekspresi dan berkumpul, sehingga ada dimensi seperti ini yang mempengaruhi kualitas manusia yang menghargai arsitektur yang menghargai kebersamaan. Di tengah – tengah mulai berbenahnya Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Bogor, dan kota – kota lain. Kita di hadapkan kepada pertanyaan mengenai rumah, satu kumpulan ruang tempat kita menghabiskan sebagian waktu di dalam hidup kita, nilai apakah yang akan kita pupuk didalam rumah tersebut. Tentu saja banyak rumah yang memiliki kualitas tinggi, kualitas tinggi itu menerobos kungkungan tradisional dan modern. Ia mampu tegak berdiri di tengah kungkungan permintaan jaman, sehingga lambat laun rumah tersebut dicintai oleh orang – orang yang menghuninya atau bahkan hanya sekadar mengunjunginya karena kualitas yang terdapat didalamnya.

Untuk apa ?

Buku yang ditulis oleh Bernard Rudofsky, Architecture Without Architects bisa menjadi satu rujukan dimana menjelaskan mengenai beberapa karya rumah tinggal di tungkwan Honan, Cina misal, adalah satu rumah di bawah tanah sebagai satu usaha untuk menghindari udara dingin dan terpaan badai taufan dimana temperatur bisa turun drastis, ataupun rumah – rumah petak di Hdyrabad Pakistan dengan fitur cerobong angin untuk mendinginkan udara pada ruang di dalam dimana udara panas mengalir ke atas karena kelembapan yang rendah. Terdapat satu garis yang menyatukan beberapa bangunan yang dibahas yaitu bangunan yang diciptakan adalah satu jawaban akan kebutuhan mendasar manusia. Hal ini juga terlihat dalam rumah – rumah adat di indonesia misal rumah Batak Karo, Toba dimana bangunan dibuat panggung untuk menghindari binatang buas dan menjaga kesehatan karena konstruksi yang tersedia adalah konstruksi kayu. Ataupun Keben yang ditujukan sebagai lumbung padi yang berupa rumah panggung sekaligus menunjukkan simbol kekayaan materi pemilik rumah tersebut.

Rumah – rumah tradisional Indonesia juga merupakan respon terhadap satu kebutuhan mendasar untuk hidup nyaman dengan keterbatasan material, teknik membangun yang ada pada jamannya. Di era modern ini dimana kebutuhan mendasar manusia sudah tercukupi kemudian apa lagi yang harus dijawab oleh arsitektur tropis Indonesia. Abraham Maslow dalam penjelasan mengenai teori bagaimana alam semesta mencukupi kebutuhan manusia, bahwa ternyata kebutuhan yang paling utama adalah kebutuhan untuk mengekspresikan diri. Di titik ini, esensi apa yang mau dijawab dalam desain menjadi tidak sederhana lagi, ia menjadi kompleks karena terkait dengan pemaknaan untuk apa kita hidup dimana hal ini berbeda dari satu orang dan orang yang lain. Keberagaman ini yang tercampur aduk dalam modernitas sekarang ini, dimana orang mempertanyakan batas seberapa tradisional dan seberapa modern satu desain, dua hal yang bertolak belakang. Ingin terlihat baru juga terlihat lama, ingin terlihat berat juga terlihat ringan, ingin melihat masa lalu juga melihat masa depan.

Lalu ?

Manusia memang seakan – akan bingung dengan apa yang diinginkan dengan segala keinginannya terus menerus berubah, tradisional menuju modern. Menurut saya semuanya ini dimulai dari satu usaha untuk membuat desain yang lebih baik daripada sebelumnya. Perlu kita lihat rumah Millard karya dari Frank Llyod Wright seluas 220 m2 untuk Alice Millard di tahun 1906, kira – kira hampir seratus tahun yang lalu. Rumah yang didesain untuk menonjolkan sisi ketukangan [craftmanship] dengan material beton yang dicetak menyerupai motif sehingga menjadi tema dalam perancangannya selain pengalaman ruang yang merespon sisi selatan yang terbuka terhadap matahari mengingat posisinya di daerah Amerika Utara yang ada di Lintang Utara sehingga matahari selalu datang dari arah selatan. Frank llyod Wright ingin membuktikan bahwa ia juga bisa berkreasi dengan material yang sederhana yaitu beton. Rumah ini menjadi satu penanda di Los Angeles dan menjadi satu karya yang menjadi contoh akan membuat satu hal yang belum ada di daerah tersebut sebelumnya yang memecahkan hal – hal mendasar seperti pentingnya sinar matahari, udara yang masuk di pori – pori motif beton yang ada sampai kepada hal – hal yang bersifat keindahan, dibanggakan oleh orang – orang lain, tidak hanya pemiliknya. Kalau misalnya desain Millard house sudah dibangun sejak tahun 1923, lalu kita di tahun 2014, ditanyakan dengan satu pertanyaan, bisakah kita membuat yang lebih baik lagi. Mengenai rumah tradisional di jaman modern ini, saya kemudian ingat satu kalimat dari Daniel Liebeskind, “To provide meaningful architecture is not to parody history but to articulate it.” Be Authentic, be honest with yourself dan ajakannya kemudian adalah membuat karya yang lebih baik dari masa lalu.

Screen Shot 2014-08-29 at 1.04.08 PM

Diskusi di OMAH, mengenai Architecture Without Architect.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s