Kategori
blog

Happy Birthday Laurensia

 

Laurensia had her 33rd birthday on 22nd May. I had everything special for her. Last friday we in the office had great dateline that pushed us quite hard. I was glad that we can pass the critical point. After the dateline finished, we had such nice dinner, finaly done. I think I have to prepare something, flower for this saturday, nice present, or I need to relieve quality time just for her.

One publication just contacted me for writing one article about building nation. I was thinking to come up with idea for proud to be indonesian, and the question is, how can we come up with the feel of proud… we are what we belong, if we have to do something with nation. I remember I met sylvania, friend from ITB architecture, I was thinking that someday we should prepare education of architecture for free for students, that was when story of omah happened. RAW has been doing great, but OMAH is one way to share for others for free. Is it possible to make architecture accesible for all ?

or maybe or must be,

I think too much, right now I just wanna enjoy quality time with Laurensia :) I just came back from multiple design workshops, and meetings today, felt tired, Good Day. Tommorow will be better than today.

 

https://instagram.com/p/3AqLeSgrWx/?taken-by=realrich82

https://instagram.com/p/3D-yr2grSj/?taken-by=realrich82

Kategori
blog

The Strange Ressurection of Architecture Critisicm writing for Gallery

tulisan ini dipersiapkan untuk majalah galeri, Universitas Diponegoro – # 1 Reborn Architecture. video mengenai brione cemetry yang didesain carlo scarpa ditampilkan, karena karya tersebut memiliki paradoks, mengenai depth soal kebangkitan, cinta, dan kematian, yang sesuai dengan artikel ini yang membahas mengenai kebangkitan kritik arsitektur

Fraser dan Hodgins berpendapat bahwa jurnalistik pada dasarnya adalah segala bentuk yang terkait dengan pembuatan berita dan ulasan mengenai berita yang disampaikan ke publik ataupun lebih – lebih lagi ada unsur gagasan untuk kepentingan publik, tanggung jawab yaitu dalam rangka membela kebenaran dan keadilan. Namun seberapa benar, dan seberapa adil terkait dengan informasi adalah satu dan dua hal yang kompleks untuk bisa dijelaskan dimana kebenaran disini terkait dengan transparasi dan hasil analisa yang kemudian bisa dipertanggung jawabkan kepada publik yang membaca. Untuk bisa melakukan pertanggungjawaban, seorang jurnalis memerlukan sebuah sikap dan kemampuan untuk memahami, menjelaskan, menganalisa dan mengevaluasi gagasan sehingga pada titik yang tertinggi disinilah pentingnya kritik dalam arsitektur sebagai bentuk jurnalisme yang memangku kepentingan publik.[1]

Dua hari ini saya membaca buku yang ditulis oleh Martin Pawley, judulnya The Strange Death of Architecture Criticism  (kematian yang aneh dari kritik arsitektur), dengan pengantar ditulis oleh Norman Foster. Apakah ini pertanda dari kematian dalam cerita arsitektur ? Martin menjelaskan latar belakang penulisan artikel tersebut karena budaya publikasi yang kental dengan sikap berjualan seperti :  menonjolkan gambaran – gambaran cantik saja, berita – berita baik saja. Di tulisan ini memberikan argumentasi bahwa lambat laun kritik arsitektur akan mati, hilang, karena sifat dasar arsitek yang menafikan elemen – elemen pembentuk satu proyek seperti : plagiarisme, kurangnya penghargaan terhadap kerja tim, elemen – elemen pembentuk seperti uang , waktu dan pada kontraktor, hubungan antar klien, meskipun saya sendiri tidak sepenuhnya setuju karena lapisan tanggung proyek yang kompleks, dan tingkat pemahaman publik yang tidak sama, namun katakanlah ini Martin sedang mengingatkan arsitek dan publik apa yang sedang terjadi, inilah jurnal arsitektur, perlunya memberikan reaksi terhadap apa yang menjadi kondisi awal. [2]

https://instagram.com/p/2Hst56ArZA/?taken-by=realrich82

Jurnalisme dalam arsitektur perlu untuk menelisik lebih dalam dari sekedar klaim – klaim atau kulit atau  permukaan, menyibak tirak yang tertutup untuk memberikan kesimpulan yang menunjukkan kredibilitas penulisnya. Dari kacamata jurnalisme, seorang arsitek jenius, atau seseorang biasa – biasa saja menjadi sama. Kondisi dunia yang tidak sama, sarat dengan kekuasaan ini dijelaskan dalam buku yang ditulis Machiavelli, berjudul the prince (sang pangeran), mengenai hubungan antar manusia, bagaimana proses manusia meraih kekuasaan, memperbesar kekuasaan dan kemudian mempertahankan kekuasaan, atau setidaknya itu pula yang diulas oleh robert greene dalam bukunya yang berjudul The 33 Strategies Of War (33 strategi berperang) , karena budaya menegasikan, menutupi, mematikan, menjadi insting dasar manusia untuk hidup. Disinilah fakta, cerita, ataupun deskripsi produk dan proses yang jujur yang dibahas oleh jurnalisme yang  membentuk cerita yang utuh, bisa dipahami, diraih intisarinya untuk mendobrak kesombongan kekuasaan, dan kondisi stagnan menjadi penting. Cerita yang diharapkan adalah cerita kesedihan atau bisa juga kebahagiaan mengenai produk dan proses bangunan dengan segala inovasi dan penemuan – penemuan kreatif, untuk menjelaskan pertanyaan bahwa apakah arsitektur kita sekarang benar – benar menjawab permasalahan, dan memberikan gagasangagasan baru ? [3]

Jurnalisme arsitektur yang menjawab permasalahan untuk memperbaiki satu kondisi awal (domain), menjadi penting, [4] karena layaknya kehidupan, setiap sendi – sendi hasil dari kriya manusia dalam satu bangunan tercermin dalam cerita arsitektur yang dibuatnya dan perlunya evolusi sebagai dasar untuk memperbaiki kondisi awal. Dari situ lah esensi dasar jurnalisme ada, untuk membuat sebuah cerita yang bisa dibaca, dan menggugah fantasi kecil pembaca. Jurnalisme dalam Arsitektur itu pada dasarnya bisa didekati dengan  dua hal  yaitu produk, dan proses. Produk bisa diwakilkan dalam pendekatan penjelasan yang sinkronik , mengacu pada hasil, tanpa mempertimbangkan proses, membedah melalui sistem. Proses bisa diwakilkan dalam penjelasan yang diakronik, atau kronologis, mencoba untuk mengetahui lebih dalam dengan runtutan sejarah. Disinilah dua buah pendekatan linguistik dan semiotik yang dibahas oleh Ferdinand Saussure bisa digunakan, pendekatan diakronik dan sinkronik [5]

Para sejarahwan seperti P.Leslie Waterhouse dalam bukunya the story of architecture di tahun 1901, menceritakan sudut pandang arsitektur secara diakronik dari segi sejarah, dimana ia membagi sejarah ke dalam 9 titik sejarah berdasarkan ideologi, ornamen, perencanaan ruang, ataupun anteseden yang dianggap mewakili setiap fase sejarah, seperti : arsitektur mesir, arsitektur yunani, arsitektur roma dan etruscan, arsitektur nasrani, arsitektur muslim, arsitektur romanesque, arsitektur gothic, arsitektur renaissance dan terakhir arsitektur modern. [6] kemudian Setiadi Sopandi  didalam bukunya pengantar sejarah arsitektur membuat telaah diakronik dari segi sistem bangunan dengan memberikan tema konstruksi bangunan berupa : gundukan dan tumpukan, tiang dan balok, busur dan kubah, geomoteri dan teori.[7]  Saya menilai buku Setiadi Sopandi lekat dengan jembatan antara dunia praktis dan akademis dimana ia mencoba untuk mengolah informasi kedalam dimensi untuk mudah diaplikasikan dari sudut pandang sistem konstruksi. Disinilah adanya dialektika dalam penulisan sejarah arsitektur, proses jurnalistik bisa dimulai dari membuat referensi, mengumpulkan data secara diakronik atau membuat analisa secara sinkronik. Dua contoh pembahasan ide – ide dari pembahasan secara sinkronik bisa terlihat seperti yang dibuat heino engel dalam bukunya Tragsysteme (sistem struktur)  yang menjelaskan 5 buah klasifikasi (form,vector, cross section, surface, dan height), yang sangat sederhana untuk membedah seluruh struktur yang ada di dunia konstruksi, dengan mengklasifikasikan bagaimana beban tekan dan tarik, momen dan perilaku material dalam membuat bentuk sebuah bangunan. [8] Contoh lainnya bisa dilihat dari buku architecture without architect (arsitektur tanpa arsitek) yang ditulis oleh Bernard Rudofsky, mengenai arsitektur yang orisinal, asli, penuh dengan inovasi, kreatif, yang sudah ada sejak jaman primitif. [9]

Slide009
Tragsystem, illustrated by Heino Engels

Hyderabad, Sindh, southern Pakistan; not Hyderabad, Andhra Pradesh, south India. Images from Bernard Rudofsky, Architecture without Architects, New York, Museum of Modern Art, 1964: windscoops (called bad-gir by Rudofsky, müg by Wikipedia) on the roofs of buildings, which channel air into their interiors.   “In multistoried houses they reach all the way down, doubling as intramural telephones. Although the origin of this contraption is unknown, it has been in use for at least five hundred years.”
Hyderabad, Sindh, southern Pakistan; not Hyderabad, Andhra Pradesh, south India. Images from Bernard Rudofsky, Architecture without Architects, New York, Museum of Modern Art, 1964: windscoops (called bad-gir by Rudofsky, müg by Wikipedia) on the roofs of buildings, which channel air into their interiors.
“In multistoried houses they reach all the way down, doubling as intramural telephones. Although the origin of this contraption is unknown, it has been in use for at least five hundred years.”
Dari kedua pendekatan ini ada sah – sah saja untuk dipilih atau digabungkan yang bisa digunakan untuk sudut pandang dalam memulai. Namun lebih jauh lagi Jurnalisme dalam arsitektur ini diharapkan memiliki kedalaman pemikiran  yang diibaratkan membaca satu tulisan seperti mencicipi satu buah yang akan dimakan. Kita mengharapkan bisa mencicipi daging buah tersebut, menembus kulit untuk kemudian merasakan manis dan pahitnya. Proses merasakan ini bisa dirasakan melalui tingkat kedalaman informasi yang diberikan dan tingkat fantasi yang melibatkan atau memanjakan indera perasa pembaca . Sehingga ketika membaca sebuah jurnal dalam arsitektur, kita seperti mengalami satu perjalanan yang luar biasa indahnya, seperti saat kita mengalami ruang – ruang arsitektur yang begitu indahnya dalam produk dan proses. Ruang -ruang yang dibentuk oleh jurnalistik, akan membangkitkan kecintaan kita pada sastra, sehingga arsitektur yang didesain akan bisa bercerita dengan sendirinya melalui tulisan.

Apabila Martin Pawley memilih untuk menulis mengenai kematian kritik arsitektur, saya lebih berpikir optimis, bahwa inilah saat – saat kebangkitan jurnalistik dalam arsitektur dengan memahami, menjelaskan, menganalisa, dan mengkritik arsitektur Indonesia. Saya akan menunggu Martin Pawley dari kutub yang berseberangan.

https://instagram.com/p/w6BP53grZ5/?taken-by=realrich82

[1]Komunikasipraktis.com,. ‘Pengertian Jurnalistik: Daftar Definisi Jurnalistik | Komunikasi Praktis’. N.p., 2015. Web. 2 May 2015.
untuk memahami definisi dasar jurnalistik,pendapat dari fraser, menjelaskan struktur dasar jurnalistik dan pendapat dari hodgins menjelaskan pentingnya kebenaran dan keadilan dalam jurnalistik.
[2] Pawley, Martin, and David Jenkins. The Strange Death Of Architectural Criticism. London: Black Dog Pub., 2007. pp 330,331
[3] Baca juga dua buah buku yang membahas mengenai bagaimana manusa mempengaruhi manusia lain dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan. Machiavelli, Niccolò, and W. K Marriott. The Prince. [Waiheke Island]: Floating Press, 2008. Print. dan Greene, Robert. The 33 Strategies Of War. New York: Viking, 2006. Print.
[4] Lihat kuliah David Hutama di Halaman http://www.omah-library.com yang membahas tentang kreativitas dalam arsitektur. David menjelaskan orang – orang kreatif sebagai agen evolusi. Saya menilai dimensi kreativitas kedapan kepentingan publik dan pentingnya evolusi ke dalam jurnalisme dalam arsitektur.
[5] baca juga latar belakang dari ahli linguistik, semiotik, Ferdinand De Saussure Egs.edu,. ‘Ferdinand De Saussure- Swiss Linguist And Philosopher – Biography’. N.p., 2015. Web. 2 May 2015.
[6] Waterhouse, P. Leslie, and R. A Cordingley. The Story Of Architecture. London: Batsford, 1950. Print.
[7]Sopandi, Setiadi.Sejarah Arsitektur Sebuah Pengantar. Jakarta: UPH Press, 2015. Print.
[8]Engel, Heino. Tragsysteme. Ostfildern-Ruit: Gerd Hatje Publishers, 1997. Print.
[9]Rudofsky, Bernard. Architecture Without Architects. New York: Museum of Modern Art; distributed by Doubleday, Garden City, N.Y, 1964. Print.
Kategori
blog

Integration

https://instagram.com/p/2vGm5EgrUj/?taken-by=realrich82

I was touched by brion tomb by carlo scarpa, the quoestion would be could we do even better than him in terms of effort,and beauty of craftmanship. by integrating what chales waldheim thought in his book, by integration of water sensitive urban design creating water sensitive architecture (Waldheim, Charles. The Landscape Urbanism Reader. New York: Princeton Architectural Press, 2006. Print.)
 

https://instagram.com/p/vIkpxrArVA/?taken-by=realrich82

Kategori
blog

compassion

https://instagram.com/p/2qzO0eArTZ/?taken-by=realrich82

https://instagram.com/p/xVQTwvgrae/?taken-by=realrich82

https://instagram.com/p/xUVQviArQT/?taken-by=realrich82

everytime you go to yogyakarta, stay here, she showed us one room with bathroom connected to her room. She said “I can use you to give me suggestion for my home and gallery everytime (boleh juga katanya) “( we laugh over loud) . And then few people came, she said to everybody, ” I have new son and daughter now, pointing at us whom I (kartika) met in serendipity in affandi’s gallery. ” I felt that It’s not that we are so special, but she treated everyone like her son or daughter, and we were so lucky to meet her. She is just so lovely. And she said “i have told you my story, and what’s yours ? “….Such admirable person! in such age and willing to ask , listen and teach unknown people in front of her.

Kategori
blog

Practicing Urban Design

while preparing lecture for student of Trisakti, in one venue title Metamorfosa 2015, I was thinking to  share the thinking Jonathan Barnett about how to design a place in be predicting behaviour setting, or Le Corbusier about the importance of rationalism, influencing by paradigm, or even Jon Lang about compexity of public realm issues in urban design by three issues, procedures, products, and paradigms in urban design.

https://instagram.com/p/z5PQ5HArV-/?taken-by=realrich82

https://instagram.com/p/2f7JTsgrbw/?taken-by=realrich82

https://instagram.com/p/2f6ozigra6/?taken-by=realrich82

Kategori
blog

Geometry interplayed by simple form – process of thinking

https://instagram.com/p/2V8gLXArc6/?taken-by=realrich82

https://instagram.com/p/y6soeUArXi/?taken-by=realrich82

https://instagram.com/p/2HtMC9grZ3/?taken-by=realrich82

Kategori
publication

Realrich’s interview featured on Arcaka

arcaka-may-15-pg11 arcaka-may-15-pg12 arcaka-may-15-pg13 arcaka-may-15-pg14 arcaka-may-15-pg15

 

Kategori
blog

Smart Home, Smarter than you ? writing for Baccarat Indonesia

Screen Shot 2015-04-30 at 11.34.20 PM

https://instagram.com/p/yPeOt_grb2/?taken-by=realrich82

At the beginning of this month, I wrote one article for Baccarat Indonesia. The idea was to rethink the idea of smart home, is the home smarter than us the people living inside or the other way around. I remember one storey of Ben Copper in movie titled smart home. It was the story of the home who is become smarter than the owner. The owner, Ben Copper asked the house to take care of him, and the result is the house overprotected him.

“Di Tahun 1998, Ben Cooper yang saat itu berumur 13 tahun dan keluarganya mengalami kesulitan untuk mengatur hidup mereka, mengatur rumah, mengatur tugas– tugas sekolah dan mengatur pekerjaannya. Ben remaja tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri seperti anak lainnya, termasuk untuk bermain basket, satu olahraga yang disenanginya. Suatu ketika Ben dan keluarganya memenangkan sebuah rumah pintar yang dinamakan Pat, sekaligus diperkenalkan dengan penciptanya, Sara Barnes. Pat mampu menyelesaikan tugas– tugas yang dilakukan Ben untuk mengatur rumah. Tidak puas dengan program yang dimiliki Pat, Ben memprogram kembali rumah tersebut untuk “seolah-olah” menjadi seorang ibu bagi keluarganya, membuat Pat mengatur kehidupan mereka, termasuk mengatur jadwal dan membuat keputusan! Secara perlahan, Pat mengubah dirinya sendiri dan tidak mengijinkan keluarga tersebut keluar rumah. Di akhir cerita Ben berhasil meyakinkan Pat bahwa dia tidak nyata dan ia bukan manusia. Akhirnya mereka kembali terbebas, dan Pat diprogram ulang untuk kembali ke kondisi awal. Ini adalah satu cerita dari film “Smart Home” yang dirilis tahun 1999. Di era tersebut banyak film bertema kepintaran sebuah rumah, satu kecerdasan buatan, satu lingkungan yang memudahkan manusia yang kemudian manusia itu sendiri terbelenggu dalam teknologi yang diciptakannya. Saya kemudian bertanya–tanya apakah kegiatan memelihara rumah itu sedemikian sulitnya untuk bisa dilakukan sendiri dan dinikmati.”

Then I compared the story with story of Ferdi and Joice, both of them are my clients, creative people who works as graphic designer. I think they are smart people, and become smarter living in their home

“Teringat juga dalam satu saat, kira–kira dua tahun yang lalu, saya bertemu dengan Ferdi dan Joice, mereka meminta saya menjadi arsitek rumah impian mereka di atas lahan 150 meter persegi yang kemudian diberi nama Istakagrha. Pasangan ini kreatif dan keduanya berprofesi sebagai desainer grafis. Ferdi dan Joice menginginkan rumah yang natural, memandang ke alam dengan suasana vila di Bali, tempat mereka mungkin menghabiskan waktu terbaik bersama. Rumah ini memiliki ruang–ruang lapang yang berbeda dengan rumah yang ditempati sebelumnya yang terkesan sempit karena tersekat-sekat akibat pengaturan rumah yang tidak efisien.

Saya pun mendesain konsep teknologi sederhana Smart Home di mana rumah tersebut memiliki konsep teknologi penghawaan alami dengan sirkulasi udara silang dan air stacking effect yang menghadap ke arah Timur dan memberikan sisinya yang tertutup untuk menghadap ke arah Barat. Di sisi Timur terdapat taman sebesar satu pertiga tanah mereka yang seluas 50 meter persegi merangkap garasi luar. Di taman ini diberikan satu latar belakang dengan teknologi konstruksi tumpuk, bata ringan yang disusun dengan lubang sebesar 5 cm dan berselang–seling untuk menjaga privasi. Di taman ini dibingkailah sebuah ruang keluarga, tempat mereka menghabiskan waktu bersama. Di area ruang keluarga terdapat dapur bersih dengan desain yang fungsional, mudah dirawat, dan terlihat mewah namun sederhana untuk memasak dengan kompor gas karena mereka biasa menghabiskan waktu untuk masak sendiri dan makan bersama. Mereka kemudian bercerita bahwa sejak rumah ini selesai dibangun dan ditempati, mereka menghabiskan waktu lebih lama di rumah tersebut dibandingkan dengan berpergian ke mal. Mereka mulai mengundang teman–teman untuk menghabiskan waktu bersama, sehingga ada nilai kebersamaan yang dibangun. Mereka pun menjadi lebih peka bahwa sisi matahari yang menghadap Barat itu akan memberikan panas yang
terik di jam 3 sore. Teknologi yang dipakai di sini adalah teknologi yang sederhana dengan penerapan fisika bangunan untuk mengembalikan hunian yang dekat ke alam dengan seminimal mungkin menggunakan mesin untuk mengatur kehidupan manusia. Ferdi dan Joice adalah pengatur kehidupan mereka di Istakagrha.”

Then the result was

“Saya kemudian bertanya–tanya mengenai apa itu Smart Home? Apa yang sebenarnya dibangun di dalamnya? Sebuah keluarga yang berproses untuk menguasai teknologi ataukah teknologi yang lebih pintar daripada manusia yang kemudian menguasai keluarga tersebut? Dari situlah mungkin kita mendapatkan cerita–cerita yang mendalam mengenai bagaimana kita tinggal dan hidup di rumah tersebut. Cerita yang unik ketika si penghuni dimudahkan dan belajar tanpa henti di dalam runtutan teknologi di dalam rumah yang indah.”

Then I was thinking, technology could be integrated with system, structure, to recall what we think science in architecture, I think the book by Heinrio Eingels, one of my favourite about building structure system, might be useful to determine how structure address the space in wide span, tall building, or functional model. I remember last time I had lectured in University of Petra about the importance of knowing this science of making form and space, science of architecture

1] the quoted section in the article was published in Baccarat Indonesia, this month edition.

Screen Shot 2015-04-30 at 11.15.54 PM

https://instagram.com/p/yr6QE0greD/?taken-by=realrich82