Kategori
blog

Bertemu Zarathustra

“Jordan Patterson membahas cerita mengenai lobster di dalam buku 12 Rules of Life, ia menjelaskan cerita lobster untuk menjelaskan tentang hirarki sosial yang ada di dalam kehidupan sehari – hari. Patterson menjelaskan tentang bagaimana lobster yang menang akan menegakkan kepalanya, dan yang kalah inferior akan membungkuk. Mendadak saya pun tersadar, saya pun beringsut bangun, membetulkan tempat duduk saya, memang budi pekerti itu bekerja ke segala arah, dari hati, pikiran, sampai hal – hal sederhana dan detil sampai ke posisi duduk.”

“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich). Saya sendiri banyak belajar dari sekolah Miraclerich, jadwal sekolahnya berpusat pada pelajaran budi pekerti, ilmu pengetahuan alam, dan pelajaran bahasa Mandarin.

“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich)

Laurensia berkata satu saat “keluarga dibentuk seperti badan manusia, ayah adalah tulang yang bekerja keras untuk kebutuhan dasar, ibu adalah jantung yang ada di tengah keluarga” itulah relasi antara kedua peran yang saling melengkapi pikiran badan dan hati di dalam keluarga, disitulah adalah pelajaran budi pekerti.

Saya ingat Suryamentaram sampai harus meninggalkan gelar kebangsawanannya untuk mengetahui sejauh mana ia bisa menjernihkan suara hatinya. Hal tersebut bisa diibaratkan seperti Zarathustra. Dalam tulisan-tulisan awalnya, Friedrich Nietzsche (1844-1900) bereksperimen dengan posisi filosofis, mengujinya terhadap ilmu pengetahuan dan sejarah pemikiran, melawan budaya, pemikir, dan momentum zaman. Selain itu, ia mengadopsi persona atau topeng untuk menyajikan ide-ide kontroversial dalam konteks eksperimental dan sebagai cara baru untuk berfilsafat. Karakter dramatis Zarathustra dan pertapa dalam Thus Spoke Zarathustra.

“When Zarathustra was thirty years old, he left his home and the lake of his home, and went into the mountains. There he enjoyed his spirit and his solitude, and for ten years did not weary of it. But at last his heart changed, and rising one morning with the rosy dawn, he went before the sun and spoke to it.”

Zarathustra perlu menyendiri di perjalanannya menuju gunung. Setiap orang perlu menggali apa itu gunungnya, apa yang aku mau tuju, dan bagaimana cara saya mendaki gunung saya. Itulah proses menggapai impian melalui meramu tujuan. Gunung itu ibaratnya adalah sebuah tujuan. Setiap orang di dalam menyendiri akan bertemu Zarathustra, berdialog dan kemudian menjadi dirinya untuk mempertanyakan siapa aku di dalam kesendiriannya.

Satu murid, ia mengirimkan saya Whatsapp Message, dulu saya bertemu dia di dalam kelas satu kelas.

Selamat malam Pak Rich… maaf mengganggu pak.. Saya boleh menanyakan saran ga pak, soal karir hidup pak.. Selama kelas pak Rich, saya sangat menikmati luasnya eksperimentasi yang bisa dilakukan pada setiap tugas. Tiba-tiba bisa menulis tugas soal bahan material arsitektur yang kita minati atau bayangkan, atau bahkan bisa memperagakan demonstrasi di depan kelas. Hal-hal yang berhubungan dengan eksperimentasi hampir setiap hari selalu membuat saya semakin curious dan ingin mencoba untuk merealisasikannya. Bisa saja tiba-tiba kepikiran ingin melakukan suatu proyek yang berhubungan dengan videogrammetry, atau bisa saja proyek film yang menggunakan the other 4 senses… dan bahkan bisa tertarik untuk berpikir output apa yang dapat dihasilkan dari musik dan arsitektur, apakah yang akan terjadi jika musik menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, atau animasi menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, multi-disciplinary and architecture, & etc…

Dari semua kebingungan ini, saya sudah mencoba untuk me-riset jurusan yang memungkinkan, dan salah satunya itu adalah experimental media… namun saya masih belum yakin apakah itu akan fulfill keminatan saya pada jangka panjang.. Sementara ini, saya mungkin berpikir untuk mengambil gap year setelah kuliah selama 1 – 2 tahun untuk mengeksplor ketertarikan saya dulu.. Walaupun mungkin belum terlalu jelas, karena randomness dari setiap proyek bisa cukup besar…

Namun, kalau menurut pak Rich, mungkin apakah saya lanjutkan saja dulu semua eksplorasi dan proyek2 ini, dan endingnya lihat nanti saja.. Atau mungkin saya perlu mengambil patokan suatu jurusan dulu, baru untuk berbagai macam ide lainnya akan saya lakukan secara otodidak? Maaf pak kalau saya jadi menanyakan secara tiba-tiba seperti ini…

Perjalanan mendaki gunung memang perlu kegalauan dan kebingungan, kabut kadang pekat, kadang tipis, bisa jadi ada harimau muncul di perjalananmu dan harus kau tundukkan. Bisa jadi juga kamu perlu mencari air di dalam perjalananmu supaya dirimu tidak kehausan. Alam mencari gunung ini adalah ranah filsafati, sebuah proses pencarian diri. Menariknya ia menjadi perjalanan tidak berujung, semakin lama semakin luas, membawa di dunia langit beberapa tingkat ke atas.

saya menginterpretasikan seperti anak – anak ini,berusaha menggali sendiri untuk mengetahui apa arah kehidupan ini di masa yang akan datang.

Di satu sisi, euforia perjalanan diri ini, terkadang membutuhkan kompas. Apakah benar yang saya pikirkan ? Bagaimana menurut kawan saya ? Apakah saya punya progress di dalam kehidupan ini ? pertanyaan – pertanyaan tersebut membutuhkan orang lain untuk bisa memberikan interpretasi. Perjalanan mendaki gunung membutuhkan persiapan, kaki yang kuat, hati yang lapang, dan kemauan yang kuat. Kaki yang kuat diibaratkan adalah pengetahuan tacit mengenai bagaimana berpraktik sebagai arsitek, bagaimana memproduksi desain, gambar, melakukan supervisi proyek, dan melayani klien. Kemauan yang kuat adalah ketekunan dan kerja keras yang menjadi bensin atau makanan penggerak tubuh kita. Hati yang lapang adalah ketulusan budi pekerti.

Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.

Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.

Ia menjelaskan bahwa murid – murid diajarkan untuk welas asih, memiliki budi pekerti yang baik, seperti menjadi sebuah bunga yang harum untuk orang lain. Pelajaran – pelajaran sederhana bagaimana menjadi tenang dengan meditasi, minum teh, makan dengan sopan, menyapa orang, merangkai bunga, ataupun sesederhananya menyapa dengan “I love you Mommy.”

” anak – anak di umur 4 tahun, mereka mulai aktif untuk meniru, dan salah satu hal yang bisa dilakukan untuk belajar adalah bermain peran.”

Terdengar sayup – sayup Laurensia berkata ke Miracle ketika menemaninya belajar satu hari,

“ayo duduk yang tegak jangan seperti udang.”

Jordan Patterson membahas cerita mengenai lobster di dalam buku 12 Rules of Life, ia menjelaskan cerita lobster untuk menjelaskan tentang hirarki sosial yang ada di dalam kehidupan sehari – hari. Patterson menjelaskan tentang bagaimana lobster yang menang akan menegakkan kepalanya, dan yang kalah inferior akan membungkuk. Mendadak saya pun tersadar, saya pun beringsut bangun, membetulkan tempat duduk saya, memang budi pekerti itu bekerja ke segala arah, dari hati, pikiran, sampai hal – hal sederhana dan detil sampai ke posisi duduk. Mengingat ini, saya kembali ingat ketika Laurensia menepuk satu saat, “Jangan membungkuk Yang.

“O iya”

“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.”

“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.” family photo taken by Jeffri Hardianto (pepen) House of Photographers

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s