Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog inspiring people struggles tulisan-wacana

Great Teacher – Ryadi Adityavarman

Tidak banyak orang yang mampu membuat kita tersentuh dengan seluruh pengalaman hidupnya. Orang semacam itu seakan tidak hanya menjalani hidup untuk dirinya sendiri; ia mengamati untuk kita, menyimpan pelajaran-pelajaran dari jalannya untuk suatu saat dibagikan. Dan begitu kita bertemu satu, kita mulai penasaran bagaimana jalan hidupnya, karena empati sedalam itu biasanya lahir dari pelajaran tentang kesulitan, kadang tentang kesengsaraan. Saya beruntung mengenal satu orang seperti itu. Namanya Pak Ryadi Adityavarman, dan tulisan ini adalah catatan syukur saya tentang beliau.

Di atas kertas, riwayatnya sudah cukup untuk membuat orang hormat: puluhan tahun mengajar arsitektur di Amerika, berpindah dari universitas ke universitas di berbagai penjuru, dari negara bagian yang konservatif sampai yang paling liberal. Tetapi bukan itu yang membuat saya mengklasifikasikannya sebagai guru. Yang membuat saya belajar banyak justru hal yang tidak tertulis di riwayat mana pun: kepekaan interpersonalnya yang luar biasa. Beliau hadir di open house kami, datang ke pameran studio, mendukung di banyak hal sekaligus, dan setiap kali berbicara dengannya, saya merasa sedang didengarkan oleh seseorang yang sungguh-sungguh memperhatikan, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Empati itu ternyata bukan bawaan yang jatuh dari langit. Ia ditempa oleh jalan hidup yang tidak mudah. Beliau pernah bercerita, dan cerita ini terus saya ingat, bahwa ketika pertama kali merantau ke Amerika di awal tahun sembilan puluhan, sebagai mahasiswa asing dengan keluarga muda, pekerjaan pertamanya adalah mencuci piring di kafetaria kampus. Kawan-kawannya sesama mahasiswa menggerutu, merasa terlalu terpelajar untuk pekerjaan itu. Beliau memilih cara lain: ia jadikan cucian piring itu permainan, hari ini sepuluh piring semenit, besok dua puluh lima. Lalu ia pindah bekerja di perpustakaan, dan alih-alih sekadar membereskan buku, ia hafalkan seluruh isinya, sampai seorang profesor yang sering mencari bahan riset akhirnya bertanya siapa namanya, dan mengangkatnya menjadi asisten riset. Dari titik itulah jalan mengajarnya terbuka.

Dari kisah itu beliau menyuling satu prinsip yang kemudian ia wariskan ke murid-muridnya: untuk menjadi luar biasa, tambahkan sedikit saja yang lebih pada setiap hal biasa yang kau kerjakan. Kata luar biasa, kalau dipikir, memang hanya kata biasa yang diberi awalan. Mencuci piring, membereskan buku, menyusun resume, semuanya hal biasa, dan semuanya bisa diberi sedikit lebih. Saya kira tidak banyak filosofi pendidikan yang lebih jujur dari itu.

Cara beliau mengajar pun mencerminkan jalan hidupnya. Ia menekankan proses, bukan hasil. Kepada mahasiswa yang terobsesi nilai, ia pernah menawarkan dengan jenaka: kamu mau nilai A, saya kasih sekarang, seperti uang monopoli, mau kamu pakai apa? Ia bercerita sudah mengajar di banyak universitas dan tidak pernah sekali pun ada yang meminta transkrip nilainya, bukti kecil bahwa yang membawa orang melangkah jauh bukan angka, melainkan kemampuan yang nyata. Dan ia jujur soal dirinya: kalau dibangunkan hanya untuk uang, katanya, ia memilih tidur lagi. Yang membangunkannya adalah pekerjaan yang bermakna.

Sikap itu bukan pose. Ia pernah berkata bahwa sejak muda ia emoh dengan perangkat luar yang mentereng dan segala perisai aturan sosial yang cenderung cepat luntur; ia lebih tertarik pada isi yang sederhana tetapi langgeng. Ia berlatih tidak peduli pada gelar: wisudanya sendiri tidak ia hadiri, dan ijazahnya, katanya sambil tertawa, entah tersimpan di mana. Ketika ditawari pekerjaan, ia tidak menawar gaji. Ketika gajinya datang, ia tidak pernah melihat slipnya; semuanya ia serahkan kepada ibunya anak-anak. Dan dengan mahasiswanya pun ia hidup dengan cara yang sama, tanpa jarak atribut, seperti semboyan tiga musketri yang suka ia kutip sambil tersenyum: satu untuk semua, semua untuk satu.

Bahwa cara hidup itu sampai ke murid-muridnya, saya tahu bukan dari cerita beliau, melainkan dari surat-surat yang mereka tulis untuknya. Saya sempat membaca beberapa, dan sulit tidak ikut hanyut. Ada murid yang menulis bahwa ia belum pernah menjumpai pengajar yang hatinya sepenuh itu untuk murid-muridnya. Ada yang mengaku ikatan di kelasnya terasa seperti keluarga, dan justru itulah yang menolongnya melewati tahun-tahun akademik yang paling berat. Ada yang bercerita bahwa banyak dari mereka pernah menangis tersentuh oleh kebaikan dan welas asihnya. Bahkan satu angkatan, dalam kelakar yang hangat, berandai-andai punya versi saku dari beliau untuk dibawa ke mana-mana, supaya hari-hari mereka lebih terang. Murid-murid di seberang samudra itu ternyata merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan di sini.

Yang juga membuat saya kagum adalah bagaimana beliau mengajarkan empati bukan sebagai slogan, melainkan sebagai metode kerja. Ketika mahasiswanya merancang toko gaun pengantin, beliau mengajak mereka membayangkan calon pengantin yang sedang tegang, sampai ke soal ruang untuk berpatut diri. Ketika merancang ruang layanan sosial, beliau mengajak membayangkan perempuan yang datang dalam keadaan terluka, lalu bertanya: dengan pencahayaan seterang itu, dengan ruang tunggu seramai itu, apa yang ia rasakan selama satu jam menunggu? Bagi beliau, kepekaan pada manusia bukan pelengkap desain; ia titik berangkatnya.

Dan beliau murah hati dengan gagasan. Dalam percakapan-percakapan kami, ide-idenya berdatangan seperti oleh-oleh. Ia bercerita tentang pameran arsitektur di Meksiko yang mempertemukan konsultan raksasa berteknologi canggih dengan praktisi lokal kecil yang bekerja dengan metode tradisional, dan keduanya dipajang setara, saling melengkapi justru karena kontrasnya. Ia melempar gagasan tentang keberanian arsitek menjelajah ke luar ranah desain, ke ekonomi, sosial, politik, hukum, karena baginya keadilan sosial kini bagian tak terpisahkan dari keberlanjutan yang utuh: planet, manusia, dan penghidupan. Ia bahkan mengusulkan sebuah kerangka untuk kami yang ia sebut sambil tertawa sebagai nasi rames: praxis, poiesis, theoria, tindakan, penciptaan, pemikiran, dilengkapi etika. Filsafat Yunani disajikan seperti piring nasi campur, dan justru karena itu ia mudah dicerna.

Ada satu gagasannya yang membuat saya tersipu dan tidak bisa saya tuliskan tanpa rasa segan. Beliau pernah menyandingkan tiga model kerja sosial dalam arsitektur untuk sebuah rencana studi banding: studio pedesaan di Alabama yang dua dekade lalu mempelopori arsitektur bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kerja Romo Mangun di Kali Code, dan perpustakaan kecil kami. Saya merasa belum pantas berada di kalimat yang sama dengan dua nama itu. Tetapi saya mengerti maksud beliau, dan justru di situ letak kebesarannya sebagai guru: ia sedang menunjukkan sebuah garis silsilah, bahwa arsitektur yang melayani punya tradisi panjang di berbagai benua, dan ia ingin kami merasa menjadi bagian dari tradisi itu supaya kami menjaganya. Seorang guru yang baik memang begitu: ia tidak memuji untuk membesarkan kepala, ia memuji untuk membesarkan tanggung jawab.

Beliau pernah menggambarkan dirinya sebagai ikan air tawar yang harus berenang di laut yang dingin bersama ikan-ikan hiu besar. Puluhan tahun di negeri orang, ia belajar aturan mainnya, menguasainya, bahkan dihormati di dalamnya, tetapi ia tidak pernah membiarkan lautnya mengganti air tawarnya. Menerima ajakan menari, katanya, tanpa kehilangan jati diri. Kalimat itu, bagi saya, adalah pelajaran pasca-kolonial yang paling padat yang pernah saya dengar, jauh lebih hidup dari banyak teori: belajarlah dari mana saja, berenanglah di laut mana pun, tetapi jangan tukarkan airmu.

Tidak banyak orang yang membuat kita tersentuh dengan seluruh pengalaman hidupnya, dan saya harus jujur: beliau menyentuh saya sedalam itu. Ada kalanya, mendengar kisah-kisahnya, mata saya basah tanpa saya rencanakan. Dan sesuatu yang menyentuh sedalam itu rasanya tidak pantas disimpan sendirian. Maka saya menulis ini dengan satu harapan yang sederhana: semoga beliau tidak berhenti menjadi guru saya, melainkan tumbuh menjadi guru kami, guru banyak orang, di studio, di perpustakaan kecil kami, dan di mana pun gagasannya sampai. Langkah pertamanya sesungguhnya sudah terjadi: ia duduk di antara kami saat open house, memperhatikan dengan sungguh-sungguh, lalu pulang meninggalkan gagasan yang membuat kami bermimpi lebih berani sekaligus berpijak lebih rendah. Beliau suka berkata bahwa arsitek adalah para pemimpi. Barangkali memang begitu tugas seorang guru: menjaga agar mimpi kami tetap menyala, sambil diam-diam memastikan kaki kami tetap menyentuh tanah.

Setiap tulisan dan kehadirannya membuat kami bersyukur menjadi bagian dari desain yang hidup, yang menyeluruh sekaligus meluruh dengan kehidupan di mana pun kami berada. Bersama beliau, kami belajar hadir pada sebuah kasunyatan: keheningan yang memuncak, meskipun di sekitar kami dunia sedang sibuk dan ribut. Dan kasunyatan itu bukan keheningan yang kosong. Ia keheningan yang tersentuh oleh alam dan oleh rasa, oleh jiwa yang bergolak di kedalaman, oleh kekuatan kasih yang dahsyat, yang membuat kami hanya bisa menunduk dan mengakui: Tuhan Maha Besar. Maka untuk beliau, guru yang mengamati untuk kami, dan untuk semua guru kami di mana pun berada, catatan ini kami tutup dengan satu doa yang tenang: semoga Tuhan menjaga jiwa guru-guru kami, sebagaimana mereka selama ini menjaga jiwa kami. Yang Maha Kuasa sungguh besar. Rahayu, rahayu, rahayu.

Tinggalkan komentar