Kategori
blog tulisan-wacana

Jangkar Pengembara di Tengah Badai

Orang yang diam-diam menyangga seluruh perjalanan karier saya, dulu adalah anak yang membuat saya kesal di bangku SD.

Saya butuh bertahun-tahun untuk memahami itu. Semakin jauh saya melangkah, semakin saya “sadar” bahwa apa yang tampak seperti buah dari usaha dan pencapaian sendiri, sesungguhnya berdiri di atas banyak hal yang tak terlihat di belakang layar. Dan yang paling menopang, ternyata, bukanlah hal-hal profesional, “melainkan yang personal”.

Waktu itu saya kelas empat SD, baru pindah dari Surabaya ke Jakarta. Anak perempuan yang duduk di sebelah saya suka sekali mengisengi saya, dan saya sebal. Belakangan saya sadar, sebagian dari rasa sebal itu sebenarnya soal budaya yang berbeda. Saya datang dari Surabaya, dengan logat Jawa Timuran yang medok, dari kota yang cara hidupnya berbeda. Bahkan di kelas pun terlihat. 

Di Surabaya, mengangkat tangan untuk bertanya adalah hal biasa, jadi saya terus mengacungkan tangan, sementara anak-anak Jakarta cenderung lebih diam. Saya merasa seperti orang asing yang tidak tahu aturan mainnya. Tetapi kalau saya jujur, di balik rasa sebal itu, sejak awal sudah ada perasaan yang diam-diam saya simpan. Hanya saja, saat itu saya tidak berani. Bukan karena tidak ada rasa, melainkan karena saya merasa tidak cukup layak.

Waktu SD dan SMP, badan saya pendek, dan saya bukan anak yang percaya diri. Saya merasa berada di tepi, bukan di pusat, bukan bagian dari lingkaran yang menonjol. Maka perasaan itu saya pendam saja, karena saya tidak yakin seseorang seperti saya pantas untuk sekadar mendekat. Dan yang saya kagumi dari dia pun bukan hal yang biasa dikagumi anak seusia itu. Saya kagum pada keteraturannya.

Dialah anak yang dipercaya menjadi bendahara, yang menghitung uang kas kelas dengan cermat, dengan rambut dikepang rapi dan sikap yang fokus. Dia teratur, tertib, dan bisa diandalkan. Dan itu justru kebalikan dari diri saya, yang gelisah dan merasa serba kurang.

Lalu hidup memisahkan jalan kami untuk waktu yang sangat panjang.
Kami satu SD, bahkan satu SMA, tetapi berbeda universitas. Dia kuliah di Jakarta, saya menempuh pendidikan arsitektur di Bandung.

Kami hanya sesekali sekelas, dan waktu pun berjalan, masing-masing dengan pasangannya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, dia menjadi seorang dokter gigi, dan saya menjadi seorang arsitek. Dan menariknya, keteraturan yang saya kagumi sejak SD itu ternyata mengikutinya sampai ke profesinya. Sebagai dokter gigi, dia bekerja dengan cermat, menegakkan diagnosis dan menimbang prognosis sebelum melompat ke tindakan. Metodis, hati-hati, terukur.  

Sementara saya, sebagai arsitek, justru sering bekerja sebaliknya, membiarkan banyak hal ditemukan di lapangan, mengalir mengikuti keadaan. Dia mendiagnosis sebelum bertindak. Saya bertindak dan menemukan di tengah jalan.

Masa-masa itu, hidup saya berjalan begitu cepat. Saya seperti seorang pengembara yang kesepian, yang berpindah dari satu kota ke kota lain untuk bekerja, dari Bandung, Singapura, sampai London. 

Saya larut dalam pekerjaan, mengikuti puluhan kompetisi desain, satu tahun di satu tempat, satu tahun di tempat lain. Setiap kota berlalu seperti bingkai foto, indah tetapi cepat.

Tetapi ada sesuatu yang berubah pelan-pelan selama tahun-tahun pengembaraan itu, dan ia bukan terutama soal karier. Ia soal cara saya memandang diri sendiri. Sedikit demi sedikit, lewat bekerja dan bertumbuh jauh dari rumah, saya mulai merasa mungkin saya cukup layak.

Bukan lebih tinggi, bukan tiba-tiba lebih hebat, hanya cukup layak untuk akhirnya berani menghampiri perasaan yang sudah bertahun-tahun saya simpan. Setelah saya lulus kuliah, saya sempat mengirim sebuah email kepadanya, sekadar menanyakan kabar. Tetapi dia baru membalasnya beberapa tahun kemudian.

Dan justru di sanalah sesuatu yang tak terduga terjadi, sebuah perjumpaan tak sengaja yang terasa seolah sudah dirancang.

Sebuah serendipity, ketika keberanian yang baru saya temukan dan kesempatan yang tepat akhirnya bertemu pada waktu yang sama. Setelah saya setahun di London, pada tahun 2009, kami akhirnya bersama.

Tetapi bersama, di masa itu, tidak berarti berdekatan. Saya di luar negeri, dan dia bekerja di sebuah desa di Bogor, tiap hari pulang pergi merasakan naik angkot ke desa, dan dengan selisih waktu berjam-jam di antara kami. Menjaga kebersamaan di jarak sejauh itu tidak pernah mudah.

Kadang saya harus bangun di tengah malam atau dini hari, hanya untuk bisa mengobrol tiga puluh atau empat puluh lima menit, sebelum kami berdua harus kembali disiplin, karena dia harus bekerja dan begitu pula saya. Dan di tengah kesepian sebagai seorang pengembara, saya ingat betul satu kebiasaan kecil yang menjadi penawar. Saat jam istirahat kantor, saya akan pergi ke Battersea Park, duduk di sana, dan meneleponnya.

Kami akan mengobrol seolah sedang makan siang bersama, meski sebenarnya terpisah oleh benua dan zona waktu. Fase itu tinggal dalam ingatan saya sampai hari ini, sebuah makan siang berdua yang dijembatani hanya oleh suara.

Dan ketika kami akhirnya benar-benar bersama, sesuatu yang aneh terjadi pada waktu. Ia melambat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mengembara, saya merasa waktu kembali kepada saya, tidak lagi berlalu begitu saja tanpa makna. Setiap momen mulai terasa berharga.

Barangkali karena dialah, sang keteraturan, yang akhirnya memberi jangkar pada hidup saya yang terus berpindah.

Dan yang paling saya ingat adalah apa yang dia berikan kepada saya, yang tidak pernah diberikan oleh kesuksesan atau puluhan kompetisi mana pun. Dia memberi saya kepercayaan pada diri saya sendiri. Ketika saya ragu pada visi saya, dia berkata, “Kamu bisa melakukannya, percayalah pada dirimu sendiri, karena aku sudah mendoakannya.”

Kalimat itu sederhana, tetapi ia menembus sesuatu yang dalam. Air mata saya jatuh.

Karena inilah yang paling menyentuh saya. Anak perempuan yang dulu tidak berani saya hampiri, karena saya merasa terlalu pendek, terlalu di tepi, tidak cukup layak, justru menjadi orang yang membuat saya percaya bahwa saya layak. Penerimaannya mengubah cara saya memandang diri saya sendiri.

Perspektif yang saya bawa sejak kecil, bahwa saya kurang, bahwa saya tidak cukup, perlahan luruh oleh cara dia menerima dan mempercayai saya. Saya kemudian menemukan bahwa ada pemikir yang pernah menjelaskan hal ini jauh lebih jernih daripada yang bisa saya rumuskan sendiri. 

Filsuf Axel Honneth menulis bahwa pengakuan dari orang lain adalah fondasi dari cara kita mengenali diri sendiri, dan bahwa di antara segala bentuk pengakuan, cintalah yang paling mendasar, yang datang paling awal, yang menyiapkan seseorang untuk percaya pada dirinya sendiri sebelum bentuk pengakuan apa pun yang lain. Kepercayaan diri, katanya, tidak lahir dari dalam ruang hampa. Ia lahir dari diterima, dari dicintai, dari dianggap berharga oleh seseorang.

Membaca itu, saya seperti menemukan nama bagi apa yang sudah lebih dulu saya alami. Sebab bukan pencapaian yang membuat saya akhirnya merasa layak. Melainkan seseorang yang berkata, dengan tulus, bahwa dia telah mendoakan saya.
Itulah, saya kira, bentuk penerimaan yang paling murni. Diterima bukan karena kita sempurna, melainkan justru dengan segala keraguan dan ketidaklayakan yang kita rasakan tentang diri sendiri.

Tetapi cinta yang sesungguhnya tidak berhenti di momen indah itu. Ia justru baru diuji sesudahnya. Karena hidup, seperti yang kami alami, tidak selalu lembut. Ada masa-masa paling gelap yang kami lewati bersama. Ada kehilangan yang memilukan, ketika calon buah hati yang kami nantikan harus pergi sebelum sempat kami peluk, dan itu terjadi lebih dari sekali. Di saat-saat itu, yang menahan kami agar tidak runtuh sepenuhnya adalah satu keyakinan yang kami pegang erat, bahwa perpisahan ini tidak untuk selamanya, bahwa suatu hari akan ada pertemuan kembali. 

Ada ketakutan pula yang mencekam sebagai orang tua, di saat-saat kesehatan anak kami diuji, dan kami hanya bisa berpegangan satu sama lain. Ada pula tekanan bertubi ketika studio sangat membutuhkan kehadiran saya, di tengah begitu banyak dinamika yang menguras tenaga dan batin. Di tengah duka yang paling dalam itu, saya belajar untuk tidak menutup diri.

Alih-alih tenggelam dalam kehilangan, saya memilih mengarahkan hati keluar, membuat sebuah janji dalam diri saya untuk mengabdikan lebih banyak dari hidup saya bagi orang lain. Bukan sebagai tawar-menawar, melainkan sebagai cara untuk memberi makna pada luka, untuk mengubah kehilangan menjadi sesuatu yang memberi, bukan yang mematikan. Dan waktu berjalan. Sebagai rahmat yang tak pernah berhenti saya syukuri, kemudian hadirlah anak pertama dan anak kedua kami.

Dan saya harus jujur mengakui sesuatu yang tidak membanggakan. Di masa-masa terberat itu, saya tidak selalu menjadi versi terbaik dari diri saya. Ada kalanya tekanan membuat saya mengucapkan hal-hal dengan nada yang keras, yang kemudian saya sesali. Ada saat-saat saya harus meminta maaf. Dan dia, dengan kesabaran yang tidak selalu saya mengerti, menerima saya kembali. Bukan karena saya pantas, melainkan karena begitulah cara dia mencintai.

Di situlah saya belajar bahwa penerimaan bukan jalan satu arah. Dia menerima saya di titik-titik terendah saya, sama seperti dia mempercayai saya di titik-titik saya ragu. Dan saya belajar menerima dia, bukan sebagai orang yang sempurna, melainkan sebagai orang yang berjalan di samping saya melewati setiap badai, tanpa melepaskan tangan saya.

Hari ini, kami memiliki dua anak laki-laki, dan begitu banyak kenangan yang kami rajut bersama. Keisengan yang dulu membuat saya kesal di bangku SD itu tidak hilang. Ia hanya berubah wujud, kini terpancar dalam obrolan-obrolan ringan kami, dalam cara kami bercanda dengan anak-anak. Yang justru sering tidak kami punya adalah waktu, karena hidup begitu penuh. Dan barangkali karena itulah, waktu yang sedikit pun menjadi begitu berharga.

Kalau saya renungkan, mungkin justru dua sikap yang saling berlawanan inilah, keteraturannya dan pengembaraan saya, yang ketika disatukan membuat begitu banyak hal baik terjadi. Dia memberi jangkar, saya memberi layar. Dia mendiagnosis, saya menjelajah. Kami bukan dua orang yang sama, melainkan dua kutub yang saling melengkapi. Dan yang paling menempa cinta ini, pada akhirnya, bukanlah momen-momen bahagianya, melainkan masalah-masalah yang kami hadapi bersama.

Setiap kehilangan, setiap ketakutan, setiap tekanan yang kami pikul berdua, sedikit demi sedikit mengubah dua orang yang dulu asing menjadi satu. Karena itulah rahasianya. Orang asing tidak berubah menjadi belahan jiwa dalam satu pertemuan romantis. Ia berubah lewat waktu, lewat kesabaran, dan terutama lewat menjalani badai bersama-sama, tidak lari darinya, melainkan menghadapinya berdua sambil berpegangan tangan.

Anak SD berambut kepang yang menghitung uang kas kelas itu, yang dulu saya kagumi diam-diam, yang saya pendam karena merasa tidak cukup layak, ternyata adalah orang yang akan menghentikan waktu saya yang berlari terlalu cepat, yang akan mempercayai saya ketika saya ragu, yang akan memaafkan saya ketika saya gagal, dan yang akan berjalan bersama saya melewati setiap batu di sepanjang jalan. Dan mungkin inilah pelajaran yang bisa dibawa siapa pun dari kisah sederhana ini.

Bahwa kelayakan untuk dicintai tidak pernah soal cukup tinggi, cukup pintar, atau cukup berhasil. Ia soal ada satu orang yang memilih menerima kita apa adanya, dan penerimaan itulah yang perlahan mengajari kita untuk akhirnya berani menerima diri kita sendiri.

Saya jadi teringat sebuah kisah dari novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Seorang anak gembala menempuh perjalanan yang begitu jauh, melintasi padang pasir sampai ke ujung dunia, untuk mencari harta karun yang ia impikan.

Dan pada akhirnya, ia menemukan bahwa harta itu terkubur justru di dekat tempat ia berangkat, di rumahnya sendiri. Perjalanan jauh itu tidak sia-sia, karena tanpa menempuhnya ia tak akan pernah tahu. Tetapi hartanya, sejak awal, ada di rumah.
Ada satu kalimat Coelho yang terkenal, bahwa ketika kita sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta bersekongkol membantu kita mewujudkannya.

Barangkali begitulah cara sebuah email yang lama tak berbalas akhirnya berbalas pada waktu yang tepat. Dan barangkali itu pula kisah saya. Saya mengembara jauh, dari kota ke kota, mengejar sesuatu di ujung dunia. Padahal harta yang paling berharga, cinta dan penerimaan, ternyata ada pada seseorang yang sudah saya kenal sejak bangku SD, jauh sebelum saya berangkat. Ia sudah dekat sejak awal. Saya hanya perlu menempuh perjalanan sejauh itu untuk akhirnya bisa melihatnya, dan merasa cukup layak untuk pulang kepadanya.

Maka ketika hari ini orang bertanya tentang perjalanan karier saya, saya belajar untuk tidak lagi menjawabnya sebagai kisah tentang usaha saya sendiri. Karena di belakang setiap hal yang tampak seperti pencapaian, ada dia, yang menyangga dalam diam.

Barangkali di situlah ego menemukan sisinya yang paling indah, bukan ketika ia berkata “ini semua saya capai sendiri”, melainkan ketika ia dengan rendah hati mengakui, “saya tidak akan sampai di sini tanpa dia”.

Dari orang asing, menjadi belahan jiwa. Dan saya bersyukur, setiap hari, atas perjalanan panjang yang membawa kami ke sini.

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar