Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Ego, Pamong, dan Arsitektur Kota Besar – Part 2/2

Klien jarang mengeluh soal harga atau waktu di depan arsiteknya. Yang membuat mereka diam-diam kecewa sering kali adalah ego sang arsitek. Tapi inilah yang jarang kita sadari: ego itu bukan soal kepribadian yang buruk. Ia adalah gejala dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Sebuah tulisan oleh Realrich Sjarief + Hanifah Sausan N.

Di artikel sebelumnya kita sudah belajar bagaimana ego besar arsitek sering muncul sebagai gejala tekanan yang tidak terselesaikan, kompetisi yang tak sehat, ketidakpastian ekonomi, dan sistem pendidikan yang secara tak sadar memupuk dominasi daripada kolaborasi. Kondisi ini juga memicu perdebatan tentang legalitas tenaga arsitektur. Persepsi tentang kebesaran starchitect dunia juga menjadi jebakan bagi ekosistem poskolonialisme untuk mengejar sesuatu yang belum tentu sesuai dengan konteksnya. (Baca Part 1 di sini.)

Yang paling dibutuhkan profesi arsitektur sekarang, terutama di Indonesia, bukanlah lebih banyak arsitek yang ingin dikagumi. Melainkan lebih banyak yang rela hadir, yang membangun solidaritas konkret, jaringan yang jujur, pengetahuan yang dibagi, dan profesi yang lebih empatik. 

Jika kita mencari wujud paling nyata dari sikap bisa menjembatani ini dalam tradisi arsitektur Indonesia, jawabannya ada pada sosok Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau yang lebih dikenal sebagai Romo Mangun. Pastor Katolik, arsitek, sastrawan, dan pejuang kemanusiaan ini adalah bukti hidup bahwa arsitektur sejati tidak lahir dari ego, melainkan dari keberpihakan.

Romo Mangun pernah mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada, namun ia memilih meninggalkan menara gading akademik dan turun langsung ke bantaran Kali Code, Yogyakarta. Di sana, pada awal 1980-an, puluhan keluarga miskin yang bermukim secara ilegal terancam digusur oleh pemerintah kota. Banyak dari mereka sebenarnya merupakan pendatang yang mencari peruntungan di kota, tetapi minim keterampilan, sehingga makin terpinggirkan dan kehilangan daya. Penggusuran pun hanya menggeser permasalahan ke tempat lain. Romo Mangun berargumen bahwa yang dibutuhkan adalah ruang temporer tempat mereka bisa memupuk daya agar nantinya bisa mentas dengan sendirinya.

Romo Mangun tidak datang membawa rancangan megah, ia datang membawa dirinya. Ia membangun gubuk untuk tinggal bersama warga, bahkan rela mogok makan untuk menolak penggusuran. Melalui kerja kolaboratif bersama warga, rumah-rumah ditata ulang, infrastruktur dasar diperbaiki, ruang rembug komunal dibangun, sanggar belajar untuk anak-anak didirikan. Semua dengan biaya yang sesuai kemampuan ekonomi setempat. Hasilnya bukan hanya kampung yang layak huni, melainkan kampung yang bermartabat. Karya ini kemudian diganjar Aga Khan Award pada 1992.

Romo Mangun punya konsep tersendiri untuk arsitektur: ia menyebutnya “wastu citra.” Kata wastu berasal dari bahasa Sansekerta, maknanya lebih dari sekadar bangunan fisik, ia berbicara tentang hubungan manusia dengan alam semesta dan sesama. Baginya, arsitektur harus menjadi alat pemanusiaan manusia, bukan sekadar urusan estetika dan teknik.

Ia menolak desain megah yang mengesampingkan kebutuhan masyarakat, dan selalu mengutamakan bahan lokal serta melibatkan tenaga setempat dalam proses membangun. Ia tidak membangun untuk meninggalkan tanda tangannya di lanskap kota, ia membangun untuk memupuk harapan.

Warisan Romo Mangun tidak berhenti pada dirinya sendiri. Salah satu penerus paling setia yang meneruskan semangat itu adalah Eko Prawoto, arsitek Yogyakarta yang selama puluhan tahun berpraktik dengan cara yang oleh banyak orang disebut sebagai “arsitektur kebidanan”: mendengarkan sebelum bertindak, dan merancang agar karya menjadi milik penggunanya, bukan milik arsiteknya.

Semangat ini terasa sangat hidup hingga hari ini. Pada proyek rekonstruksi Desa Ngibikan pasca gempa Yogyakarta 2006, alih-alih mendikte bentuk secara utuh, Pak Eko hanya mendesain struktur dasar rangka limasan. Selebihnya, mulai dari program ruang, peletakan, hingga material pelengkap, ditentukan sendiri oleh warga. Di Ngibikan, arsitektur benar-benar berwujud sebagai kerja gotong royong. Keterbatasan justru memantik kreativitas: barang bekas dan reruntuhan didaur ulang, memberikan makna baru pada material yang tadinya dianggap usang. Proses ini juga mendapat apresiasi dari Aga Khan Award pada 2008-2010 karena pendekatannya yang kolaboratif yang mengakar alih-alih bergantung pada bantuan yang bersifat top-down.

Warisan sejati Pak Eko bukanlah semata kemegahan wujud bangunan, melainkan kedalaman relasi yang ia rajut dengan manusia di sekitarnya. Bagaimana orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya merasa bahwa sosok Pak Eko masih hadir dan hidup di tengah-tengah mereka, itulah puncak dari sebuah karya arsitektur.

Dalam konteks arsitektur kontemporer global, contoh paling kuat datang dari Marina Tabassum dari Bangladesh. Ia mendirikan FACE (Foundation for Architecture and Community Equity) untuk mengembangkan hunian tangguh iklim bagi komunitas rentan.

Proyek Khudi Bari, “rumah kecil,” adalah struktur modular dari bambu dengan sambungan baja, dirancang untuk komunitas yang kehilangan tempat tinggal akibat erosi sungai. Strukturnya dapat dirakit tiga orang dengan alat sederhana sehingga mudah untuk dipindahkan. Strategi ini dinilai lebih kontekstual daripada relokasi ke wilayah lain karena akan mencabut warga dari lahan pertanian dan area penangkapan ikan yang menjadi sumber penghasilan dan cara hidup mereka.

“Everybody has a right to good architecture.” – Marina Tabassum

Karya ini bukan arsitektur untuk pameran, melainkan arsitektur yang hidup bersama penggunanya. Tabassum memenangkan Aga Khan Award dua kali: 2016 untuk Masjid Bait-ur-Rouf, dan 2025 untuk Khudi Bari, menjadikannya satu-satunya arsitek Bangladesh yang meraihnya dua kali.

Romo Mangun, Eko Prawoto, dan Tabassum berbagi satu benang merah: ketiganya bekerja bersama komunitas yang paling rentan, di wilayah yang paling tidak glamor, dengan cara yang paling tidak mementingkan nama. Ketiganya sama-sama meraih Aga Khan Award, penghargaan yang secara eksplisit mengakui arsitektur yang melayani, bukan yang mengharap validasi.

Pada akhirnya, arsitektur yang memanusiakan bisa menyentuh batas negara, persilangan identitas budaya, psikologi ruang, dampak terhadap komunitas, ketahanan iklim, dan keadilan sosial. Baik di Kali Code, Desa Ngibikan, atau tepian sungai Bangladesh, terbukti bahwa sikap mengayomi atau momong bukan hanya ideal pedagogis. Romo Mangun, Eko Prawoto, dan Tabassum sama-sama familiar dengan metode membangun modern, tetapi mereka tidak memaksakannya di ketiga tempat tersebut. Mereka justru membuat sistem yang sangat sederhana dengan cara membangun yang mudah diikuti oleh siapa pun.

Dalam khazanah budaya Jawa, momong adalah tindakan mengasuh, mendampingi, merawat dengan penuh kesabaran dan ketulusan, bukan mengarahkan dari atas, melainkan hadir dari dalam. Sedangkan, pamong adalah orangnya: ia yang momong, figur pengasuh yang tidak mendominasi melainkan melindungi, tidak menuntut kepatuhan melainkan menumbuhkan kepercayaan. Dalam tradisi Jawa, pamong bukan sekadar guru, bukan sekadar atasan, ia adalah sosok yang hadir tanpa pamrih, yang kekuatannya justru terletak pada kemampuannya untuk tidak perlu tampil sebagai yang terkuat.

Kalau di Jawa ada Empu, di Bali ada peran Undagi, Tukang Tuo di Minang, Pande di Toraja, dan Wow-Ipit di Asmat, Papua. Semuanya bukan cuma master pembangun yang dihormati, tetapi juga sosok yang turut membimbing komunitasnya dalam hal budaya, spiritualitas, dan relasi sosial.

Momong tidak menuntut pengakuan; ia bekerja dalam kesunyian, merawat pertumbuhan orang lain sebagai tujuan utamanya. Seorang pamong tidak membatasi durasi bimbingannya pada kurikulum; ia berjalan seiring dengan seberapa dalam kepercayaan yang tumbuh antara keduanya. Hubungan yang sehat antara pamong dan yang dipamong melahirkan kemandirian, bukan ketergantungan, melahirkan keberanian, bukan rasa takut.

Studi poskolonial mengingatkan kita untuk tidak buru-buru menerima cara pandang Barat sebagai satu-satunya kebenaran. Apa yang psikologi Barat diagnosis sebagai patologi ”penyakit” individu, narsisme, kebutuhan dikagumi, ketidakmampuan menerima kritik, sebenarnya bisa dibaca oleh tradisi kita sebagai sesuatu yang berbeda: bukan penyakit pribadi, melainkan kegagalan menjadi pamong. Ketika psikologi Barat melihat ego sebagai gangguan dalam diri yang harus didiagnosis, tradisi Jawa menawarkan cara lain: melihatnya sebagai relasi yang putus. Keduanya menunjuk gejala yang sama, tapi dari dua arah. Dan menurut saya, cara pandang kedua justru lebih menyembuhkan, karena ia tidak berhenti pada label, melainkan menunjuk jalan keluar: kembali menjadi pembimbing, bukan penguasa.

Di tengah tekanan ekonomi yang nyata, kurs yang naik, biaya yang terus membengkak, kompetisi yang semakin keras, godaan untuk menjadi egois memang besar. Ego terasa seperti strategi bertahan. Tapi para pamong itu menunjukkan yang sebaliknya: bahwa yang membuat kita bertahan bukan ego, melainkan relasi.

Di jantung catatan Eropa, Spanyol, Casa Batlló (1903-1906) karya Antoni Gaudí adalah bukti bahwa arsitektur terbesar lahir dari kolaborasi. Meski ia sendiri juga seorang arsitek berlisensi, Gaudí lebih memilih memadukan pendekatan informal. Gambar proposal diproduksi, tetapi tidak untuk mengakukan. Ia membuka ruang untuk pengembangan langsung di proyek, terutama dengan tukang kayu, keramikus, dan pandai besi yang bekerja erat bersama. Setiap komponen memperkuat bahasa arsitektur secara keseluruhan. Ini kepercayaan penuh terhadap proses dan para pembuat, bukan arogansi.

Standar prosedur, gambar, konstruksi, dan sertifikasi pada dasarnya membantu keprofesian arsitek berkembang dan menghadirkan kualitas tertentu kepada klien dan user. Namun, bukan berarti itu menegasi metode-metode lain yang hidup di tengah masyarakat. Ada banyak jalan untuk berkontribusi di arsitektur. Di sinilah peran pamong dibutuhkan untuk merawat keberagaman suara, walaupun kecil dan jarang didengar.

Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan profesi ini sekarang. Bukan lebih banyak arsitek yang ingin dikagumi, melainkan lebih banyak pamong yang rela berada di belakang layar demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Karena pada akhirnya, arsitektur yang benar-benar hidup bukanlah yang meninggalkan tanda tangan arsiteknya di lanskap kota, melainkan yang meninggalkan kehidupan yang lebih bermartabat bagi manusia yang menghuninya.

Menjadi arsitek yang hebat bukan berarti kita harus menjadi yang terbesar agar layak dicintai, atau harus berdiri sendiri di puncak agar diakui. Pamong mengajarkan kebalikannya yang membebaskan: bahwa kita justru menjadi paling utuh ketika berhenti menuntut untuk dikagumi, dan mulai hadir untuk orang lain. Bahwa makna tertinggi sebuah karya, dan barangkali sebuah hidup, bukan terletak pada seberapa tinggi nama kita dikenang, melainkan pada seberapa dalam kita pernah hadir bagi sesama.

Arsitektur hanyalah salah satu cara untuk mengatakannya. Namun, kebenarannya berlaku untuk kita semua: yang kita bangun untuk orang lain, pada akhirnya, adalah yang membangun diri kita sendiri.

Tinggalkan komentar