Mudah sekali ikut menyalahkan pendidikan arsitektur yang katanya sudah rusak. Yang jauh lebih sulit adalah berdiri di dalamnya, mengakui bahwa saya bagian dari sistem itu, dan bahwa persoalannya tidak pernah sesederhana yang terdengar di lini masa.
Belakangan ramai keluhan tentang dunia pendidikan kita. Kurikulum yang usang, dosen yang lebih sibuk mengurus administrasi daripada mendalami materi, minimnya mentoring, mahasiswa calon praktisi yang justru diajar oleh mereka yang tidak berpraktik.
Dan belakangan ditambah satu fakta yang pahit, gaji dosen yang terlalu kecil.
Banyak dari keluhan itu ada benarnya. Tetapi setelah menjalani dua dunia sekaligus, sebagai praktisi sekaligus pengajar selama bertahun-tahun, saya belajar untuk tidak buru-buru menghakimi. Karena masalahnya, saya kira, bukan bahwa para dosen malas atau tidak bermutu.
Masalahnya terletak pada struktur. Jalur akademik dan jalur praktik memang berbeda tuntutannya.
Seorang praktisi tumbuh dari mengerjakan proyek, dari menggambar, menghitung, bahkan sampai membangun. Sementara seorang akademisi tumbuh dari jalur yang lain sama sekali, dari riset, dari pembuktian, dari proposal dana yang menaikkan jenjang akademiknya. Fokus mereka adalah pedagogi dan penelitian, bukan praktik. Maka wajar bila muncul jurang antara apa yang diajarkan dan apa yang dikerjakan di lapangan.
Bukan karena dosennya buruk, melainkan karena sistem menuntut mereka berjalan ke arah yang berbeda dari dunia praktik.
Dan pendidikan arsitektur tidak pernah sesederhana memindahkan ilmu. Ada proses studio, dan banyak praktisi berharap simulasinya semirip mungkin dengan kenyataan, seolah kliennya ada, proyeknya ada, keteknikannya ada, filosofinya ada, bahkan referensi arsitek besarnya ada. Harapan yang tinggi dan wajar.
Tetapi di sisi lain, seorang dosen sering mengampu begitu banyak murid sampai kewalahan, bekerja sendirian, memikul beban administratif, mengurus sistem sampai kadang lebih menyerupai seorang administrator. Di tengah semua itu, kapan ia sempat benar-benar melihat satu mahasiswa secara utuh?
Bahkan ada satu hal yang sering disalahpahami. Seorang lulusan arsitektur memang belum bisa disebut arsitek. Tetapi itu bukan berarti ia tidak bisa merancang.
Yang belum ia miliki hanyalah izin untuk menandatangani, aspek hukum dan sertifikasi yang menuntut waktu serta jenjang tersendiri sesuai ketentuan IAI dan pemerintah. Ketidaklengkapan itu soal tahapan legal, bukan soal ketidakmampuan.
Justru dari kesadaran itulah pertanyaannya bergeser. Bukan lagi siapa yang salah, melainkan apa yang bisa kita lakukan. Kalau struktur menciptakan jurang, maka kita para praktisi punya tanggung jawab untuk ikut menjembataninya, bukan sekadar melempar batu dari seberang.
Izinkan saya bercerita tentang satu mahasiswa.
Di sebuah kelas filsafat, teori, dan keberlanjutan yang saya ampu, saya memintanya presentasi di depan kelas. Ia tampil dengan indah. Runtun, jernih, dan berani bergulat dengan hal-hal yang dilematis. Dari tulisan dan cara ia menyampaikannya, terlihat jelas bahwa anak ini benar-benar berpikir.
Saya begitu terkesan sampai saya bertanya-tanya kepada dosen lain tentang potensi besar di dalam dirinya. Tetapi jawaban yang saya terima justru mengejutkan. Di studio, mahasiswa ini bermasalah. Ia unggul dalam akademik yang rasional, tetapi lemah secara profesional, lemah dalam merancang.
Ia seperti perwujudan hidup dari jurang yang tadi saya bicarakan. Kuat di satu sisi, rapuh di sisi lain.
Beberapa waktu kemudian, saya bertemu dengannya lagi. Kali ini ia sedang gundah, kehilangan arah. Mungkin karena ia merasa gagal di studio, merasa dirinya tidak cukup. Dan saat itu saya teringat kembali pada tulisan dan presentasinya yang memukau itu. Maka saya berkata kepadanya, “Kamu itu salah satu mahasiswa yang bisa memulai dari teori. Dan itu tidak mudah.”
Saya tidak sedang menghiburnya dengan pujian kosong. Saya sedang menunjukkan sesuatu yang nyata tentang dirinya, yang mungkin tak sempat ia lihat sendiri di tengah rasa gagalnya.
Karena kelemahannya dalam merancang tidak membatalkan kekuatannya dalam berpikir. Justru ia membuktikan satu hal yang sering kita lupa, bahwa manusia itu unik. Tidak semua orang harus berpikir dengan cara yang sama, dan tidak semua kekuatan bertumbuh di tempat yang sama.
Saya lalu membawanya ke studio seorang kawan, mencoba menanyakan apakah ada kesempatan untuknya di sana. Saya ingin mempertemukannya dengan dunia praktik, tempat kekuatannya mungkin bisa tumbuh berdampingan dengan kelemahannya. Menjembatani jurang itu untuknya secara nyata, bukan sekadar lewat nasihat. Dan mahasiswa itu akhirnya diterima sebagai desainer di sana. Bukan karena saya, melainkan karena kekuatannya sendiri akhirnya menemukan tempat untuk tumbuh.
Memang, merancang dengan berangkat dari teori bukan hal yang mudah, apalagi bila kita mengejar yang ideal. Bahkan seorang arsitek terkemuka pun konon membutuhkan bertahun-tahun untuk benar-benar bisa menerjemahkan teorinya ke dalam rancangan. Tetapi ada teladan yang menunjukkan bahwa hal itu mungkin.
Romo Mangun, seorang arsitek yang juga akademisi, justru merancang dengan cara berdialog langsung dengan para tukang di lapangan, memberi instruksi lewat coretan sederhana, bahkan coretan di tanah, sambil terus mengubah dan menyempurnakan bersama mereka.
Baginya, teori dan gagasan besar tidak pernah terpisah dari percakapan yang paling membumi dengan orang-orang yang membangun. Itu contoh besarnya. Tetapi dalam skala yang lebih kecil dan sehari-hari pun, bekal berpikir teoretis tetap membantu praktik, bahkan bagi seorang arsitek biasa.
Di situlah arsitektur sebagai pedagogi menemukan artinya. Hal-hal yang tampak teoretis itu bukan kemewahan yang sia-sia, melainkan pijakan yang diam-diam menopang cara kita bekerja. Dan di sinilah saya belajar sesuatu tentang mendidik yang tidak saya temukan dalam kurikulum mana pun.
Ki Hajar Dewantara menyebut pendidik sejati sebagai pamong. Tugas seorang pamong bukanlah mencetak anak menjadi sesuatu yang bukan dirinya, melainkan menuntun kekuatan kodrat yang sudah ada di dalam dirinya, agar tumbuh sesuai kekhasannya sendiri. Menuntun, bukan mencetak. Karena kekuatan itu sudah ada di sana; tugas kita hanya mendampinginya menemukan jalan.
Dan untuk bisa menuntun, kita harus lebih dulu mau mendengar. Setiap anak, saya percaya, memancarkan dua lapisan sinyal. Ada noise, lapisan permukaan, nilai studio yang jeblok, label “lemah” yang telanjur melekat padanya. Dan ada voice, lapisan yang lebih dalam, kegemaran berpikir yang sesungguhnya adalah kekuatannya. Seorang pamong belajar mendengar voice itu, dan tidak berhenti pada noise-nya.
Karena itulah, saya kira, yang paling penting dalam mendidik bukanlah sekadar transfer teknik atau kemiripan simulasi studio dengan dunia nyata. Itu penting, tetapi itu batas minimalnya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seorang murid diemong dengan hati oleh pengajarnya, dituntun menembus batas dirinya sendiri, dengan atau tanpa gelar. Sebab pada akhirnya, seorang murid mungkin lupa pada materi yang kita ajarkan.
Tetapi ia tidak akan pernah lupa pada kenangan bersama seseorang yang pernah benar-benar melihatnya, seseorang yang menjadi teladan dalam hidupnya.
Maka jawaban atas keluhan tentang pendidikan kita, saya kira, tidak sepenuhnya terletak pada kurikulum yang lebih baik atau gaji yang lebih layak, betapapun keduanya penting. Ada sesuatu yang lebih dalam, yang tidak bisa digantikan oleh sistem sesempurna apa pun, yaitu seorang manusia yang mau benar-benar melihat manusia lain.
Jembatan atas jurang antara pendidikan dan praktik pada akhirnya tidak dibangun oleh sistem, melainkan oleh guru-guru yang mau menuntun muridnya satu per satu, sesuai kodrat masing-masing.
Dan ada satu hal lagi yang perlu kita jujuri. Serendah apa pun kualitasnya, sebuah lembaga formal yang masih bisa diandalkan tetap lebih baik daripada belajar sendiri tanpa arah. Bukan berarti lembaga tidak boleh dikritik, ia justru perlu terus dibenahi.
Tetapi mengkritik sebuah lembaga tidak sama dengan menyimpulkan bahwa semua pengajarnya bodoh. Itu logika pars pro toto, menganggap sebagian sebagai keseluruhan. Teladan seperti Romo Mangun pun menunjukkan bahwa kritik yang paling tajam justru bisa diarahkan pada sistem, tanpa sekali pun perlu mengerdilkan martabat manusianya.
Dan mungkin di situlah cara terbaik memandang pendidikan, bukan sebagai sesuatu yang sudah jadi lalu tinggal dinilai, melainkan sebagai sebuah medium perbaikan yang terus berlangsung. Perbaikan bersama antara pengajar, murid, dan bahkan mereka yang mengamati dengan peduli dari luar sistem. Kita semua duduk di meja yang sama.
Bertahun-tahun setelah menjalani semua ini, saya menemukan seorang filsuf pendidikan, Nel Noddings, yang menamai dengan jernih apa yang selama ini hanya saya rasakan.
Menariknya, ia sendiri belasan tahun menjadi guru sebelum menjadi akademisi, sehingga ia menulis dari pengalaman, bukan dari menara gading. Inti gagasannya sederhana namun mendasar, bahwa relasi antara guru dan murid pada hakikatnya bukanlah transaksi pertukaran ilmu, melainkan sebuah relasi kepedulian. Ia berbicara tentang keterlibatan penuh, kesediaan seorang guru untuk sungguh-sungguh hadir dan menerima muridnya apa adanya.
Dan ada satu gagasannya yang paling menyentuh saya, tentang bagaimana seorang guru rela menepikan kepentingannya sendiri untuk sejenak melihat dunia dari sudut pandang muridnya, memahami kesulitan dan kenyataannya dari dalam. Membaca itu, saya sadar bahwa yang saya coba lakukan pada mahasiswa itu bukanlah sebuah metode yang canggih. Ia hanyalah bentuk paling sederhana dari peduli.
Itu memang tidak mudah, dan tidak bisa diukur dengan cepat. Pohon yang teduh tidak tumbuh dalam satu musim.
Tetapi barangkali di situlah tugas kita yang sesungguhnya. Bukan sibuk mengeluhkan hutan yang gagal tumbuh, melainkan dengan sabar menanam satu per satu, bahkan untuk generasi yang belum kita kenal.