Sebuah surat elektronik tiba dari negeri yang jauh. Isinya permintaan wawancara, dengan tujuh pertanyaan menunggu di bawahnya.
Diam-diam saya menyiapkan diri untuk pertanyaan yang biasa, tentang gaya, tentang proyek, tentang pencapaian. Kebiasaan lama, bersiap menghadapi yang berkilau. Tetapi tujuh pertanyaan itu tidak menanyakan satu pun dari itu. Mereka bertanya tentang tukang. Tentang bata dan bambu. Tentang ego. Tentang anak-anak muda yang kelelahan dan nyaris padam.
Saya membaca daftar itu pelan-pelan, dan sesuatu yang aneh terjadi. Suara yang terdengar di kepala saya bukan suara pewawancara. Suara itu suara ayah saya.
Bertahun-tahun lalu ia pernah berpesan, kata-katanya kurang lebih begini, “Kembali ke dasar. Lihat apa yang sudah kamu kerjakan, dan apa yang ada di sekitarmu. Keluargamu, temanmu, klienmu. Hati-hatilah. Jaga kesehatanmu, mental dan fisik. Dan jangan lupa tidur, arsitek suka lembur.”
Waktu itu saya mengangguk sebagaimana anak mengangguk pada nasihat orang tua, menghormatinya, lalu menaruhnya di laci. Nasihat itu terasa terlalu sederhana untuk dunia yang saya kejar.
Baru pekan ini, di depan tujuh pertanyaan dari seberang samudra, laci itu terbuka sendiri. Karena satu per satu, pertanyaan orang asing itu ternyata pertanyaan ayah saya. Mereka bertanya apa yang saya pelajari dari belasan tahun praktik, apa yang sudah kamu kerjakan. Mereka bertanya tentang material yang tumbuh dekat, apa yang ada di sekitarmu. Mereka bertanya tentang komunitas, tentang tukang, tentang orang-orang yang mempercayakan rumahnya, keluargamu, temanmu, klienmu. Dan pertanyaan penutup mereka tentang anak-anak muda yang lelah, jaga kesehatanmu, jangan lupa tidur.
Dunia bertanya dalam bahasa Inggris apa yang ayah saya ucapkan dalam bahasa rumah.
Ayah saya seorang pembangun. Saya tumbuh melihat cara ia bekerja, teliti, sabar, memeriksa hal-hal kecil yang tak dilihat orang lain, dan hampir tidak pernah membanggakan apa pun yang ia kerjakan. Ia termasuk orang yang percaya bahwa pekerjaan yang baik berbicara sendiri, sehingga pembuatnya tak perlu banyak bicara. Belakangan saya sadar, bangunan yang paling lama ia kerjakan barangkali adalah saya, dan pesan itu salah satu fondasinya, yang baru terasa kokohnya bertahun-tahun setelah dipasang.
Saya tahu betul mengapa ia begitu keras soal menjaga tubuh, karena saya pernah membayar harganya. Tahun pertama kuliah, saya mengambil terlalu banyak sekaligus, kuliah, lalu bulu tangkis, tenis meja, aikido, tenis, himpunan, seolah waktu tak punya batas dan tubuh tak punya dasar. Sampai suatu hari tubuh saya menagih semuanya sekaligus. Saya jatuh sakit, hati saya meradang, angka-angka di hasil laboratorium melonjak jauh melewati batas, dan saya menghabiskan berminggu-minggu di rumah sakit, sebagian di antaranya tak sadarkan diri. Dan itu bukan satu-satunya kali tubuh yang kelelahan hampir merenggut sesuatu dari saya. Ada malam lain, sepulang kegiatan yang menguras tenaga, ketika kantuk dan lelah menumpulkan kewaspadaan saya di jalan, dan saya nyaris tidak pulang. Kelelahan tidak pernah datang sendirian, ia membawa serta penilaian yang tumpul, dan penilaian yang tumpul adalah tempat celaka bermula. Tetapi bukan sakitnya yang paling saya ingat dari masa itu. Yang paling saya ingat adalah ayah saya, tidur di lantai kamar rumah sakit beralas matras tipis, malam demi malam, supaya bisa berada di dekat saya. Saya melihat kekhawatiran di wajahnya yang jarang menunjukkan apa-apa, dan di situ, dalam keadaan paling lemah, saya justru merasakan sesuatu yang paling kuat, betapa ia menyayangi saya. Semasa kecil, di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, saya jarang bertemu dengannya karena jarak dan pekerjaannya, saya sering merindukannya. Dan di kamar rumah sakit itu, untuk pertama kalinya, jarak itu hilang sama sekali. Sejak itu saya mengerti bahwa ketika ia menyuruh saya jangan lupa tidur, ia tidak sedang menceramahi, ia sedang menjaga.
Ada dua hal yang menghantam saya sore itu. Pertama, selama ini saya diam-diam menyangka dunia luar hanya tertarik pada yang berkilau, maka kita pun sibuk memoles kilau. Ternyata yang mereka tanyakan justru hal-hal yang paling dekat ke tanah, tangan tukang, bata, tidur. Yang menyeberangi samudra bukanlah kilau. Yang menyeberang adalah akar.
Kedua, ada satu pertanyaan yang paling lama saya pandangi, tentang ego. Ditanya soal ego oleh orang yang sama sekali tidak mengenal kita ternyata jauh lebih menusuk daripada bertanya pada diri sendiri, sebab di hadapan orang asing, tidak ada ruang untuk berpose. Pertanyaan itu memaksa saya duduk dan memeriksa diri, dan pemeriksaan semacam itu tidak bisa ditunda-tunda.
Dan saya harus menutup ini dengan jujur, dari seluruh pesan ayah saya, yang paling sederhana justru yang paling sering saya langgar sampai hari ini. Malam-malam saya masih sering terlalu panjang.
Maka malam ini, setelah jawaban-jawaban itu selesai dituliskan, izinkan saya menuruti nasihatnya yang paling tua dan paling sederhana, dan menitipkannya juga kepada Anda yang sedang membaca ini larut malam.
Jangan lupa tidur.