Kategori
Team - Studio Culture

Berpindah Dunia di Satu Studio

Tim-tim di studio kami punya nama yang terdengar seperti mata kuliah filsafat: Sophia, Episteme, Phronesis, Techne, Analytic, Strategic, dan masih ada beberapa lagi. Orang sering tersenyum ketika pertama kali mendengarnya. Tetapi di balik nama-nama yang terdengar berat itu, yang sebenarnya kami bangun sederhana sekali: dunia-dunia kecil, masing-masing dengan bahasanya sendiri.

Ada dunia yang hidup di meja gambar, menyusun metode dan tata bahasa desain. Ada dunia yang hidup di antara buku, meneliti dan menuliskan apa yang orang lain belum sempat pikirkan. Ada dunia pengetahuan praktis, dunia para tukang, tempat sebuah gagasan diuji oleh tangan dan material sungguhan. Ada dunia yang menimbang arah dan strategi, dan ada dunia angka serta arsip yang diam-diam menjaga semua dunia lain tetap berdiri.

Dan inilah bagian yang paling kami jaga: di studio ini, orang tidak dipaku pada satu dunia. Mereka berpindah-pindah. Yang biasa menggambar sesekali menemani tukang di lapangan. Yang biasa meneliti ikut duduk di rapat proyek. Anak magang bisa merasakan beberapa dunia sekaligus dalam satu masa magangnya, mencicipi bahasa yang berbeda-beda sebelum menemukan bahasa yang paling terasa seperti miliknya.

Kenapa kami melakukannya? Karena kami percaya kreativitas jarang lahir di tengah-tengah satu dunia. Ia hampir selalu lahir di perbatasan. Orang yang pernah tinggal di dunia tukang akan menggambar dengan cara yang berbeda. Orang yang pernah tenggelam di dunia buku akan membangun dengan pertanyaan yang lebih dalam. Setiap perpindahan membuka saluran baru, dan semakin banyak saluran yang terbuka, semakin deras gagasan bisa mengalir dari satu dunia ke dunia lain. Studio ini hidup justru dari lalu lintas itu.

Berpindah-pindah bukan berarti tidak ada tempat untuk masing-masing orang. Justru sebaliknya: dengan mencoba banyak dunia, seseorang menemukan porsinya sendiri, tempat ia paling bisa memberi. Dan setelah menemukannya pun, pintu ke dunia-dunia lain tidak pernah kami tutup, supaya porsi itu tetap hidup dan tidak berubah menjadi tempurung.

Nama-nama Yunani itu boleh terdengar rumit. Tetapi yang kami rawat di baliknya sederhana: dinding antar tim sengaja kami buat rendah, supaya mudah dilompati. Karena studio yang sehat bukanlah kumpulan kotak yang rapi, melainkan rumah dengan banyak pintu yang saling terbuka, dan orang-orang yang tidak pernah berhenti saling mengunjungi.

Tinggalkan komentar