Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Sekolah Sebelum Sekolah

Orang kadang bertanya di mana saya belajar arsitektur, dan jawaban yang jujur bukanlah nama sebuah kampus. Sekolah pertama saya tidak punya papan nama, tidak punya rapor, dan tidak pernah menyebut dirinya sekolah. Ia sebuah rumah, rumah keluarga pembangun.

Di rumah itu, pembangunan bukan pelajaran. Ia udara. Kakek saya seorang pembangun yang diajar langsung oleh pengalaman. Rumah kami terbiasa bangun sebelum subuh, karena selalu ada yang berangkat ke lokasi memeriksa pekerjaan, Senin sampai Senin. Liburan sering diisi acara bersama para pengrajin dan pengawas, sampai-sampai hidup mereka menjadi hidup kami. Dan meja makan kami punya menu tetap yang tidak pernah tertulis, cerita proyek, dibicarakan seperti kabar keluarga.

Di rumah selalu ada alat ketukangan. Garasi penuh bau gemuk dan oli, baju tukang, baut dan mur, tumpukan tripleks dan gipsum. Selalu ada banyak orang berseliweran di rumah yang dulu di Tanah Abang itu, rumah yang merangkap studio. Saya tidak sedang diajari apa-apa waktu itu. Saya sedang dibiasakan.

Bertahun-tahun kemudian saya menamai cara belajar itu, belajar telanjang kaki. Tanah dulu, buku kemudian. Tubuh dulu, teori menyusul. Pengetahuan pertama saya tentang bangunan bukan definisi, melainkan suara, bau, dan orang-orang yang mengerjakannya. Ketika akhirnya saya duduk di bangku kuliah arsitektur, saya seperti diberi nama-nama untuk hal-hal yang sudah lama saya kenal tanpa nama.

Ada tiga pelajaran yang saya bawa dari rumah itu, dan ketiganya tidak pernah diucapkan sebagai pelajaran.

Yang pertama, duduk setara. Gambar dan efisiensi kerja boleh diperdebatkan sengit, tetapi ada satu aturan yang tidak pernah dilanggar, jangan menunjuk dengan kaki. Aturan sekecil itu ternyata menyimpan seluruh etika profesi ini. Orang yang menunjuk dengan kaki sedang mengumumkan bahwa lawan bicaranya lebih rendah, dan begitu itu terjadi, tidak ada lagi yang mau memberitahumu ketika gambarmu salah.

Yang kedua, tim perlu makan, jadi carilah pekerjaan. Kalimat ini kasar dan tidak romantis, tetapi ia menyelamatkan banyak studio. Idealisme tanpa pekerjaan hanya bertahan sampai tanggal gajian.

Yang ketiga, relasi nomor satu, datang dan bekerjalah pagi-pagi, dan tetaplah personal. Ibu saya penyokong utama ayah saya, dan itu bukan kalimat manis, itu keterangan struktural. Tanpa beliau, jadwal, dapur, dan kewarasan rumah itu tidak akan sanggup menopang pekerjaan seberat itu.

Tetapi pelajaran yang paling menohok baru saya pahami jauh belakangan, dan ia berupa angka.

Tukang harus mengirim uang ke kampung setiap minggu. Cakrawala waktunya tujuh hari, tidak bisa ditawar, sebab di ujung sana ada anak sekolah dan dapur yang mengepul atau tidak mengepul minggu ini juga. Kepala mandor punya cakrawala yang lebih panjang, ia harus melihat beberapa bulan ke depan, mengatur regu, memperkirakan cuaca dan bahan. Sementara arsitek dibayar per termin, kadang per proyek, dan uangnya cair berbulan-bulan setelah pekerjaan dimulai.

Perhatikan apa artinya. Kita berdiri di satu proyek yang sama, tetapi hidup di dalam kalender yang berbeda. Yang satu berhitung mingguan, yang satu berhitung bulanan, yang satu berhitung tahunan. Dan justru orang yang paling pendek cakrawalanya, yang paling tidak punya bantalan, adalah orang yang tangan dan kakinya paling banyak menanggung risiko di lapangan.

Kalau boleh disebut langit dan bumi, maka arsitek memang bekerja di langit. Gambar, gagasan, dan jangka panjang. Sementara tukang bekerja di bumi, dengan hitungan minggu ini dan besok pagi. Kesalahan terbesar profesi kita adalah mengira langit lebih tinggi derajatnya. Padahal langit hanya bisa dibangun kalau ada yang berdiri di bumi, dan orang yang berdiri di bumi itu tidak punya kemewahan menunggu.

Tumbuh di rumah pembangun membuat saya belajar jam bumi lebih dulu, sebelum saya sempat belajar jam langit. Dan mungkin karena itu saya tidak pernah bisa membayangkan diri sebagai arsitek bintang. Bukan karena rendah hati, melainkan karena saya tahu betul siapa yang menanggung kalau gambar saya keliru.

Rupanya rumah seperti ini bukan hal aneh dalam sejarah profesi.

Renzo Piano lahir di keluarga pembangun Genoa. Ayahnya, kakeknya, paman-pamannya, dan kakaknya semua pembangun. Ia bercerita tentang masa kecil di lokasi proyek sesudah perang, hari ini hanya ada pasir, bata, dan batu, besok paginya sudah ada sesuatu yang berdiri, dan itu terasa seperti keajaiban. Ketika ia memilih jadi arsitek, ayahnya justru bingung, kenapa mau jadi arsitek, kamu bisa jadi pembangun, sebab bagi ayahnya pembangun itu seperti dewa kecil, orang yang mengerjakan sesuatu, bukan cuma menggambarnya. Piano tidak pernah membantah itu sepenuhnya, dan ketika mendirikan kantornya sendiri, ia menamainya bengkel, Building Workshop, dari kata Italia bottega, tempat orang belajar sambil mengerjakan.

Mies van der Rohe tidak pernah kuliah arsitektur. Ia anak tukang batu di Aachen, membantu di bengkel pahat batu ayahnya, lalu belajar dari lapangan. Peter Zumthor menempuh magang sebagai tukang kayu di bawah ayahnya yang seorang ahli mebel, sebelum akhirnya masuk sekolah arsitektur. Tadao Ando tidak pernah punya gelar arsitektur, ia besar di kampung tukang di Osaka dan menghabiskan masa kecil mengamati bengkel kayu di seberang rumah, dari situ katanya ia mengerti keseimbangan antara bentuk dan bahan yang membentuknya. Glenn Murcutt tumbuh di rumah berpanggung beratap seng di Papua Nugini, bangunan yang ia sebut arsitektur seadanya, dibuat ayahnya sendiri.

Yang paling mirip dengan kisah kami barangkali Tsunekazu Nishioka. Ia tukang kayu kuil Horyu-ji di Jepang, dan yang membuatnya khas, kakeknya dan ayahnya sama-sama kepala tukang di kuil yang sama. Tiga generasi menjaga bangunan kayu tertua di dunia. Ia pernah berkata, karena lahir di keluarga tukang, saya sudah mewarisi pengetahuan itu, tetapi baru ketika saya membongkar bangunannya satu per satu saya menemukan bahwa seluruh Horyu-ji memang dibangun dengan cara itu, dan saya sangat terharu.

Dan setiap kebudayaan ternyata punya nama sendiri untuk rumah semacam itu. Italia menyebutnya bottega, bengkel tempat anak umur belasan tahun masuk lebih dulu menggiling pigmen dan menyapu sebelum boleh menggambar, di bengkel semacam itulah Leonardo dan Michelangelo dibentuk. Cina tidak punya profesi arsitek sampai zaman modern, yang merancang adalah kepala tukang kayu, damuzuo, dan buku pedoman bangunan negara yang terbit pada 1103 itu ditulis setelah penyusunnya mewawancarai para tukang satu per satu. India punya sthapati, kepala pembangun kuil, ilmunya diwariskan turun-temurun dalam keluarga. Jerman sampai hari ini masih punya tradisi merantau tukang muda selama tiga tahun satu hari, berjalan dari kota ke kota, dilarang mendekati kampung halamannya. Dan di zaman kita, Studio Mumbai bekerja di satu pekarangan bersama puluhan tukang, tanpa pemisahan antara arsitek dan pengrajin, semua membuat purwarupa seukuran aslinya sebelum apa pun dibangun.

Tidak satu pun dari cara-cara itu melahirkan bintang. Yang dilahirkannya kemampuan, dan kemampuan itu selalu milik bersama.

Di sini pun kita punya silsilahnya sendiri. Romo Mangunwijaya belajar teknik di Aachen, lalu pulang dan bekerja bersama warga bantaran Kali Code, dan menulis bahwa arsitektur adalah penciptaan suasana, perkawinan guna dan citra, dan bahwa harganya justru tidak terletak pada kemewahan bahan atau tinggi teknologinya. Bahan yang sederhana, tulisnya, malah lebih mampu memantulkan keindahan puisinya, karena lebih bersih dari godaan dan kepongahan.

Pembentukan juga punya selera humornya sendiri. Di bangku SD dulu ada seorang anak yang membuat saya kesal setengah mati. Puluhan tahun kemudian, justru dialah orang yang diam-diam menyangga seluruh perjalanan karier saya. Masa kecil rupanya menanam orang-orang yang perannya baru bisa dibaca puluhan tahun kemudian, dan kadang yang paling menjengkelkan di halaman sekolah adalah yang paling setia di jalan panjang.

Dan pembentukan tidak berhenti ketika masa kecil selesai, ia hanya berganti guru. Ada seorang guru dari kota yang jauh, yang jarang sekali saya temui, tetapi tidak pernah mengubah caranya memandang saya bahkan di masa-masa saya merasa bukan siapa-siapa. Kasih sayangnya tidak berbentuk pujian melainkan kritik yang membangun, dan beliau menyebut dirinya sendiri kompor. Maju terus, katanya, saya akan selalu kompori. Dari beliau saya belajar bahwa keyakinan orang lain pada diri kita juga bahan bangunan. Lalu di usia dua puluhan, sebuah kisah sederhana tentang toples mayones mengajari saya urutan prioritas hidup, dan kisah itu saya pegang sampai menjadi nama rumah tulisan saya sendiri.

Menoleh ke belakang, saya jadi mengerti satu hal, pembentukan bukanlah kurikulum. Ia lingkungan, orang, dan waktu. Kita dibentuk paling dalam justru pada masa-masa kita tidak sadar sedang dibentuk. Dan konsekuensi dari kesadaran ini menakutkan sekaligus indah. Apa pun yang kita letakkan di sekitar anak-anak, suara apa yang mereka dengar, meja seperti apa tempat mereka makan, orang-orang seperti apa yang lalu-lalang di hidup mereka, semuanya kurikulum yang tidak pernah kita umumkan. Di atas meja makan, di dalam perjumpaan, di gelaran tikar.

Barangkali itu sebabnya rumah kami hari ini sengaja dibuat ramai. Ada anak-anak magang, ada buku-buku, ada para tukang, ada hewan-hewan, ada anak-anak tetangga yang datang membaca. Kami tidak sedang menyusun kurikulum untuk siapa pun. Kami sedang menyusun lingkungan, sekolah sebelum sekolah, untuk orang-orang yang sedang tidak sadar bahwa mereka sedang dibentuk.

Di Boboto, ayah saya akhirnya bisa tersenyum dan mengacungkan jempol, dan di sebelahnya berdiri orang-orang yang sudah lama sekali bekerja bersama kami. Di situ semuanya berkumpul jadi satu, dan yang kami pelajari akhirnya bukan soal bangunan, melainkan soal menjaga jiwa orang lain. Harapan mereka, mimpi mereka, dan hidup yang mereka tanggung setiap minggu. Seperti bata-bata kampung yang murah itu, ringan, dirajut satu per satu, membungkus kayu yang sudah ada dan membekukan dirinya menjadi komposisi yang lain.

Saya sendiri tidak ingat pelajaran pertama saya tentang arsitektur. Mungkin justru itu tandanya ia berhasil. Pembentukan yang paling dalam memang tidak pernah terasa seperti pelajaran. Ia terasa seperti masa kecil.

Tinggalkan komentar