Ada pertanyaan yang sering datang dari arsitek-arsitek muda, biasanya diajukan pelan-pelan seperti orang yang malu bertanya. Kariernya panjang, matangnya lama, bayarannya belakangan, lalu kapan sempat berkeluarga, dan kalau sudah berkeluarga, apa kabar keluarganya nanti. Sebagian lebih jujur lagi, dengan jam kerja seperti ini, jodohnya lewat mana.
Kami tidak punya jawaban yang rapi. Yang saya punya cuma dua kata yang hampir setiap malam keluar dari mulut saya sendiri, iya, sebentar. Dua kata yang terdengar seperti janji, padahal lebih sering penundaan, dan orang yang memanggil kita makan sudah lama tahu bahwa sebentar itu jarang benar-benar sebentar.
Di rumah kami dulu, ketika studio masih menumpang di garasi rumah orang tua, dua kata itu jawaban saya hampir setiap malam. Dari luar ruangan kecil itu terdengar panggilan makan malam, dan jawaban saya hampir selalu sama.
Kami beruntung dengan garasi itu, dan baru belakangan kami paham betapa beruntungnya. Orang tua yang rumahnya kami tumpangi diam-diam mengamati kerja studio yang intensif itu, memperhatikan makan saya, minum saya, kadar lelah saya. Ada yang menjaga, bahkan ketika saya sendiri lupa menjaga diri. Tetapi sebentar itu sering berarti satu jam. Kadang dua. Panggilan kedua datang, kadang ketiga, dan gambar-gambar di meja selalu punya alasan untuk menahan saya lebih lama.
Seorang penulis muda yang pernah bekerja bersama kami dan mengamati keseharian itu menuliskannya di blog saya sendiri, lengkap dengan sebuah pertanyaan yang sampai hari ini masih menggores setiap kali saya membacanya, apakah rumah baginya sekadar ruang untuk transit?
Saya tidak bisa langsung menjawab tidak. Dan di situlah pengakuan ini harus dimulai. Sebagai arsitek, saya jauh dari sempurna. Tetapi yang lebih berat diakui bukan itu. Sebagai ayah, sebagai suami, saya lebih jauh lagi dari sempurna. Profesi ini menyita waktu dengan cara yang tidak selalu terlihat dari luar, bukan hanya jam-jam yang panjang, melainkan kepala yang sering masih tertinggal di proyek bahkan ketika badan sudah duduk di meja makan. Ada banyak waktu yang terbuang, dan waktu yang terbuang tidak pernah kembali.
Lalu kenapa tidak berhenti. Di sinilah saya harus jujur tentang hal yang paling sulit dijelaskan, bagaimana lagi, saya sudah telanjur jatuh cinta.
Bukan pada gambarnya, bukan pada bangunannya. Saya jatuh cinta pada pergulatannya, pada cara profesi ini memaksa saya terus belajar menjadi manusia. Arsitek berdiri di posisi yang aneh, di antara. Di antara klien yang datang dengan kuasa dan kebutuhan, dan para tukang yang bekerja dengan tangan tetapi suaranya jarang didengar orang. Di antara mengajar di depan kelas dan diajari habis-habisan di lapangan. Di antara menulis tentang bangunan dan dibangun ulang oleh pekerjaannya sendiri. Melayani yang kuat sambil belajar dari yang jarang didengar, dan mencari keseimbangan di antara keduanya, setiap hari, tanpa pernah benar-benar selesai. Dan tidak pernah ada rute yang sama. Setiap proyek unik, karena kliennya berbeda, timnya berbeda, tanahnya berbeda. Sudah bertahun-tahun kami memimpin, tetapi di hari pertama setiap proyek, diam-diam kami selalu kembali menjadi murid. Mungkin itu yang membuat kami tidak bisa pergi, pekerjaan ini tidak pernah membiarkan kami merasa sudah tahu.
Ilmu dewa, kata guru kami, dan candaan itu ada harganya. Ilmu yang selebar ini menagih waktu yang panjang sekali. Di Amerika, jalan dari bangku kuliah sampai lisensi arsitek rata-rata memakan hampir 13 tahun, dan usia rata-rata arsitek baru berlisensi adalah 32 tahun. Itu baru izin praktiknya, belum kematangannya. Para empu bidang ini justru memuncak di usia ketika profesi lain sudah pensiun. Mies memulai apartemen Lake Shore Drive di usia 62, Le Corbusier menggambar kapel Ronchamp di usia 63, Louis Kahn menyelesaikan Salk di usia 64, Gehry melahirkan Bilbao di usia 68. Wright menggarap Guggenheim belasan tahun dan bangunannya baru dibuka setengah tahun setelah ia wafat di usia 91. Pei menggambar piramida Louvre di usia 71. Niemeyer bekerja sampai tutup usia di umur 104. Doshi menerima Pritzker di usia 90. Arsitektur adalah profesi yang baru mulai fasih ketika rambut sudah putih, dan tagihan waktunya dibayar dari satu tempat yang sama, rumah.
Maka lihatlah apa yang tertulis di keluarga para empu itu, sebab profesi ini menulis dirinya ke dalam keluarga, kadang sebagai luka, kadang sebagai warisan. Louis Kahn wafat sendirian di toilet stasiun kereta New York, nyaris bangkrut, dan meninggalkan tiga keluarga yang baru saling bertemu di pemakamannya. Putranya, Nathaniel, yang berusia 11 tahun saat ayahnya pergi, menghabiskan bertahun-tahun membuat film untuk mencari ayah yang nyaris tidak dikenalnya, berkeliling dari Salk sampai gedung majelis Bangladesh, bertanya kepada bangunan tentang orang yang tidak sempat ia tanyai langsung. Eero Saarinen meninggalkan rumah ketika putranya, Eric, berusia 11 tahun juga, dan setengah abad kemudian Eric yang menjadi juru kamera memfilmkan karya-karya ayahnya satu per satu, lalu menutup filmnya dengan kalimat yang pelan dan menghancurkan, saya memaafkannya untuk kejeniusannya. Dua film itu dibuat oleh dua anak yang mencari ayahnya di dalam bangunan, karena di rumah ayah itu tidak ada.
Perhatikan kosakata yang dipakai anak itu. Saya memaafkannya. Itu bahasa pengampunan, bahasa agama. Dan memang begitulah profesi ini sering diperlakukan, seperti agama, menuntut pengorbanan, menjanjikan keabadian lewat karya, lalu menyerahkan urusan pengampunan kepada keluarga yang ditinggalkan. Yang lebih mengerikan, kita ikut memujanya. Kisah Kahn diceritakan dengan kagum di sekolah-sekolah arsitektur, seolah keluarga yang berantakan adalah harga yang wajar untuk kejeniusan. Padahal arsitektur itu pekerjaan yang layak dicintai, bukan sesembahan yang layak menerima korban.
Tetapi lukanya bukan takdir, dan itu juga tertulis. Anna Maria Niemeyer, putri satu-satunya Oscar, justru bekerja di sisi ayahnya hampir seumur hidup, menggarap interior gedung-gedung Brasília lalu merancang mebel yang menemani lengkung-lengkung ayahnya, sampai ia berpulang setengah tahun sebelum sang ayah. Dua putra Pei membangun museum Suzhou bersama ayah mereka di kota leluhur keluarganya, dan menceritakan ayah yang memberi kebebasan untuk berhasil maupun gagal. Tobia Scarpa memilih jalannya sendiri di bawah bayang Carlo, menolak disebut arsitek dan menyebut dirinya desainer, tetapi merampungkan vila ayahnya yang belum selesai dan menyimpan pustaka mereka berdua di satu atap. Kenzo Tange, ketika putranya menyatakan ingin jadi arsitek di meja makan, terdiam sejenak lalu berkata, hidup cuma sekali, kerjakan yang sungguh kau cintai.
Dari deretan itu lahir satu dugaan yang lama saya pegang diam-diam, jangan-jangan kuncinya adalah penyatuan, jangan-jangan hidup ini lebih mudah dijalani kalau pasangan kita seprofesi, sama-sama mengerti kenapa lampu studio menyala sampai dini hari. Kami menguji dugaan itu, dan hasilnya tidak seindah dugaannya.
Bukti yang mendukung memang ada dan indah. Aino Marsio-Aalto lulus arsitek pada 1920, masuk ke kantor Alvar Aalto pada awal 1924, dan menikahinya pada Oktober tahun yang sama. Ia bukan asisten. Gelas Bölgeblick rancangannya memenangi medali emas di Milan pada 1936, ia memimpin Artek sebagai direktur pelaksana sejak 1941 sampai wafatnya pada awal 1949, dan interior Villa Mairea serta susunan warna Sanatorium Paimio lahir dari tangannya. Ketika Alvar bepergian, kantor itu berjalan karena ketenangan dan ketepatan waktunya. Di Inggris, Michael dan Patty Hopkins membangun rumah yang sekaligus kantor pada 1976, dengan alasan yang sangat membumi, supaya mengurus anak jadi jauh lebih mudah, dan pada 1994 mereka menerima medali emas kerajaan berdua. Afra dan Tobia Scarpa bekerja hampir sebagai satu orang, dan penghargaan mereka pun datang atas nama berdua.
Tetapi sisi gelapnya jauh lebih rapi menyembunyikan diri. Karya-karya kantor Aalto ditandatangani atas nama kantor, dan yayasan Aalto sendiri mengakui bahwa peran masing-masing perancang di dalamnya sulit dipisahkan. Kolaborasi yang mulus itulah yang justru membuat sumbangan Aino tidak bisa lagi ditelusuri. Alvar sendiri sebenarnya menyebut namanya, di majalah arsitektur Finlandia dan di gambar kerja paviliun New York yang distempel Aino dan Alvar Aalto, arsitek, tetapi pasar dan sejarah menyederhanakannya jadi satu nama. Ray Eames dipuji suaminya sendiri dengan kalimat apa pun yang bisa saya kerjakan, dia bisa mengerjakannya lebih baik, namun pameran pada 1946 tetap berjudul mebel karya Charles Eames. Marion Mahony menggambar perspektif yang memenangkan sayembara ibu kota Australia, dan menulis di memoarnya bahwa ia menjadikan dirinya budak bagi kerja kreatif suaminya. Dan yang paling telak, Robert Venturi menerima Pritzker sendirian pada 1991 meski Denise Scott Brown mitra setaranya. Dua puluh dua tahun kemudian sebuah petisi mahasiswa mengumpulkan lebih dari 17.000 tanda tangan, termasuk dari para peraih Pritzker lain dan dari Venturi sendiri yang menulis bahwa Denise adalah mitra yang setara dan menginspirasinya, dan dewan juri tetap menolak. Kalimat Scott Brown menutup perkara itu dengan anggun, mereka tidak berutang Pritzker kepada saya, mereka berutang upacara penyertaan.
Jadi dugaan itu gugur. Seprofesi tidak menjamin apa-apa. Anne Tyng adalah kolaborator Louis Kahn selama hampir tiga puluh tahun sekaligus ibu dari salah satu anaknya, dan justru ia dan putrinya termasuk keluarga yang disembunyikan. Profesi yang sama bahkan bisa memperparah, sebab ketika dua orang berdiri di ladang yang sama, satu nama gampang sekali menelan nama yang lain. Dan tidak ada satu pun penelitian yang membuktikan bahwa pasangan seprofesi lebih baik menyeimbangkan kerja dan rumah. Yang ada justru catatan panjang tentang siapa yang biasanya mengalah.

Lalu kami menoleh ke Timur, dan menemukan cermin yang lain. Wang Shu dan Lu Wenyu mendirikan Amateur Architecture Studio di Hangzhou pada 1997, berdua, sebagai suami istri. Ketika Pritzker 2012 jatuh, ia jatuh ke Wang Shu sendirian, padahal hampir semua karya yang disebut dalam pengumuman itu mereka bangun berdua. Wang Shu tidak menerimanya diam-diam. Di depan publik ia berkata, itu tidak benar, seharusnya hadiah itu diberikan kepada kami, bukan kepada saya. Yang membuat kisah ini berbeda dari kisah-kisah tadi adalah suara Lu Wenyu sendiri. Ia jarang bicara di depan umum, dan ketika akhirnya bicara kepada sebuah koran Spanyol, kalimatnya menutup semua perdebatan, di Cina kamu kehilangan hidupmu kalau menjadi terkenal, saya ingin punya hidup dan saya lebih suka menghabiskannya bersama anak saya. Ia menegaskan suaminya bersedia berbagi hadiah itu, ia sendiri yang tidak menginginkannya.

Kami tidak berani menyebut itu penghapusan. Itu pilihan, dan pilihan itu harus dihormati sebagaimana adanya. Penghapusan yang sesungguhnya punya bentuknya sendiri, dan Timur juga punya, Nobuko Tsuchiura, yang disebut arsitek perempuan pertama Jepang, karyanya nyaris selalu didaftarkan atas nama suaminya, sampai akhirnya ia meninggalkan arsitektur dan berpindah ke fotografi dan lukisan. Bedanya jelas, yang satu memilih menepi, yang satu ditepikan.

Dan ada satu hal lagi dari Hangzhou yang menghantam saya lebih keras daripada soal hadiah. Antara 1990 dan 1997, Wang Shu berhenti berpraktik. Tujuh tahun ia menepi dari sistem profesi, bekerja siang malam bersama tukang-tukang lokal membenahi bangunan tua, belajar tanah, kayu, dan batu dari tangan mereka. Sebagian besar hasil kerja itu kemudian dirobohkan. Katanya kemudian, kalau kamu benar-benar ingin jadi arsitek yang baik, jadilah cendekiawan lebih dulu. Yang jarang disebut orang, tujuh tahun itu bisa dijalani karena gaji Lu Wenyu di kantor perencanaan besar yang menghidupi mereka. Kematangan yang kita puji hari ini dibiayai oleh kesabaran seorang istri yang tetap bekerja. Bahkan penepian pun ternyata kerja berdua.
Nama studionya sendiri, amatir, diambil dari tradisi kaum cendekia Cina, yang melukis dan menulis bukan untuk pasar melainkan untuk hidup yang utuh. Ia pernah menjelaskan pilihannya dengan kalimat yang jujur sekali, profesional berarti sempurna dan sempurna berarti tanpa kesalahan, padahal kita tahu setiap orang membuat kesalahan dan kesalahan itu bisa menjadi hal yang sangat indah. Dan kalimat berikutnya yang paling membuat saya iri, saya ingin menjaga kemerdekaan saya, kalau saya ingin mengerjakan ini saya bisa, kalau saya ingin berhenti saya juga bisa.
Kalau dari Cina saya belajar soal kemerdekaan dan kelambatan, dari rumah sendiri saya belajar soal siapa yang menemani. Pak Eko Prawoto pergi pada September 2023, dan yang tertinggal bukan cuma bambu dan rumah-rumah yang beliau rancang, melainkan cara hidup. Bersama istrinya, Bu Rina, beliau berangkat ke Ngibikan setelah gempa 2006, tinggal dan bekerja bersama warga, membangun kembali kampung itu dengan tangan warganya sendiri. Dan pada 2014 mereka berdua memantapkan hati pindah menjadi warga desa di Kulon Progo, meninggalkan pinggiran kota yang sudah nyaman.

Profil Bu Rina jarang sekali diulas orang, padahal begitu ditelusuri, hampir semua yang kita kagumi dari Pak Eko melewati tangannya. Maket-maket itu beliau yang mengerjakan. Manajemen studio beliau yang menjaga, termasuk menemui klien dan menemui banyak sekali orang yang datang. Dan di Ngibikan, ketika para arsitek sibuk dengan bambu dan sambungan, beliau memasak untuk warga sekampung. Cara berpikirnya akhirnya terdokumentasi di buku yang kami terbitkan di perpustakaan kecil kami, Eko Prawoto, Voice of the Village, dan di sana ada satu kalimat yang menurut saya semestinya dipasang di dinding setiap sekolah arsitektur, arsitek akan selamanya membutuhkan tukang. Kalimat itu diucapkan bukan oleh teoretikus, melainkan oleh orang yang memasak untuk mereka.

Dan ketika akhirnya ditanya tentang dirinya sendiri, jawabannya cuma satu kalimat pendek, saya bangga sama Pak Eko. Di titik itu saya berhenti membaca cukup lama. Sebab jawaban itu bisa dibaca dua arah. Bisa kita baca sebagai bukti bahwa perempuan selalu diminta mengecilkan diri, dan bacaan itu tidak salah. Tetapi bisa juga kita baca sebagaimana Lu Wenyu memilih hidupnya sendiri, sebagai pilihan seseorang yang memang tidak sedang mengejar apa yang kita kira semua orang kejar. Yang jelas satu hal, kita rajin sekali mewawancarai arsiteknya dan lupa bertanya kepada orang yang mengerjakan maketnya, menjaga kantornya, dan menyalakan tungku ketika arsitek itu masih menggambar.
Apakah cinta ini menebus waktu yang hilang. Saya tidak akan berbohong dengan mengatakan ya. Kedua hal itu berdiri berdampingan di dalam hidup saya, tidak saling menghapus, cinta yang sungguh-sungguh pada pekerjaan ini, dan rasa bersalah yang juga sungguh-sungguh pada orang-orang yang panggilannya sering saya jawab dengan sebentar. Saya masih sering kalah, sebentar masih sering menjadi dua jam. Yang berubah baru satu, saya berhenti menyebutnya wajar.
Dan pelan-pelan, rumah mengajari saya berhitung dengan cara yang tidak diajarkan proyek mana pun. Belakangan kami memutuskan di rumah, dan saya memutuskan pada diri sendiri, untuk tidak mengambil terlalu banyak kursi di luar, sebab anak-anak masih bertumbuh, studio dan perpustakaan kecil kami pun masih perlu dipamong, dan pamong tidak bisa dirangkap tanpa ada yang kelaparan. Waktu ternyata seperti anggaran proyek, ia tidak bertambah karena dicintai, ia hanya bisa dialokasikan dengan jujur.
Jadi untuk pertanyaan-pertanyaan di awal tadi, soal karier, keluarga, dan jodoh, saya tetap tidak punya jawaban yang rapi. Profesi ini memang panjang dan lambat matangnya, tetapi ia bisa dicintai tanpa harus disembah, dan keluarganya bisa selamat asal perundingannya dikerjakan setiap hari, bukan sekali seumur hidup. Ini bukan tulisan tentang keseimbangan yang sudah ditemukan. Ini pengakuan dari seseorang yang masih mencarinya, yang setiap malam masih belajar mengubah dua kata lama itu menjadi dua kata yang berbeda, iya, saya datang.
Cerita garasi itu, dan empat belas tahun pergulatan sesudahnya, pernah dirangkai menjadi sebuah film oleh anak-anak muda RAW dan OMAH sendiri. Prosesnya tidak mudah, dan mungkin memang begitu seharusnya, sebab cerita yang dikerjakan banyak tangan selalu lebih jujur daripada yang dituturkan satu suara. Filmnya bisa ditonton di sini, https://youtu.be/joU_ggPLJOQ
(rs,ir,hs)





















