Kategori
blog tulisan-wacana

Hati Ada di Mana?

Tadi pagi mendengarkan banyak bapak jalan pagi, mereka mendiskusikan bahwa beberapa hari yang lalu kita semua merayakan kemerdekaan. Dan juga beberapa hari terakhir, lini masa saya penuh bencana. Di Kalimantan langit siang gelap oleh asap, warga Palangka Raya berkata siang terasa seperti malam, anak-anak berangkat sekolah lebih siang karena udara berbahaya untuk dihirup. 🥹  

Di Flores bumi belum selesai bergetar, ribuan gempa susulan menyusul gempa besarnya, dan orang-orang masih tidur di tenda dan kebun karena belum berani pulang ke rumahnya sendiri. Di Aceh air dan tanah kembali turun dari gunung yang gundul, seperti tahun lalu, seperti berkali-kali sebelumnya.Dan saya tahu semua itu dari lini masa. Ini pengakuan, bukan pembelaan. Di balik kesibukan saya melihat layar di hp, sedih, lalu kembali melanjutkan pekerjaan. Kok ya begitu.  

Kalimat itu yang terus kembali, dan mula-mula ia saya tujukan ke luar. Yang saya lihat di “lini masa” membuat saya kecewa / marah. Bencana sebesar itu, dan responsnya setipis itu.Yang ramai justru bingkai-bingkai yang terasa dirancang supaya terlihat positif. Serasa, ada dua hal yang berbeda jauh, 👆satu yang sebatas omong-omong, dan✌️ dua yang sungguh berpihak, yang datang dengan argumen, dengan kerja, dengan keberanian menanggung akibat. Inilah dunia informasi, dunia lini masa.

Di antara keduanya, hal-hal yang substansial menunggu dikerjakan. Gambut yang terbakar karena dibuka untuk lahan. Rumah-rumah yang runtuh karena tidak pernah dirancang untuk tanah yang bergetar. Hutan di hulu yang habis sehingga hujan tidak punya tempat singgah sebelum menjadi banjir. Semua itu persoalan ruang hidup, dan persoalan ruang hidup adalah persoalan yang setiap hari kami sentuh di meja gambar. 

Di era yang klimis ini godaan memang hadir, untuk tampil, untuk dipuja-puji, untuk berdiri di sisi yang aman dari setiap perkara. 🤮 Saya percaya bangunan dan media sosial itu serupa, keduanya jembatan, keduanya seharusnya dipakai untuk mendidik, bukan memanipulasi. Inilah dunia yang melintas dalam lini masa. Serba cepat serba miskomunikasi juga antara substansi dan normatif. 🥹  

Kadang ketika jembatan dipakai untuk hanya terus memoles, saya marah dan bertanya, hatinya di mana. 🤮🤮🤮 Tapi pertanyaan itu memantul. Cermin yang sama yang saya angkat ke lini masa berbalik ke muka saya sendiri. 🥹🥹🥹 Hati saya di mana, ketika saya tahu bencana dari sela-sela kesibukan. Saya tidak lebih baik dari yang saya kritik. Bedanya hanya satu, hari ini saya berhenti sebentar untuk mengakuinya.

Timpangnya timbangan itu persepsi saya pribadi, dan saya belajar menyampaikannya dengan hati-hati. Ayah saya pernah mengajarkan, kita yang kecil punya batas. Sebaiknya jaga keluarga. Ia mengajarkannya bukan dari kebencian melainkan dari pengalaman, dari keinginan seorang ayah agar anaknya selamat. Dan bertahun-tahun saya hidup di dalam batas itu, bekerja dalam sunyi, membiarkan karya bicara sendiri. Tapi adil juga harus saya katakan, Indonesia ini memberi banyak.

Ia memberi ayah saya sekolah, ketika ia memilih belajar di Yogyakarta daripada meneruskan bulu tangkisnya, dan di antara rekan-rekan seangkatannya ada nama besar yang kisahnya layak dituliskan tersendiri, lain kali saya ceritakan. Kemerdekaan yang sama memberi saya seluruh perbendaharaan arsitektur Nusantara yang setiap hari saya pinjam, stupa yang menjadi kisi-kisi, proporsi kepala, badan, dan kaki, kain-kain yang menjadi pola.

Batas dan pemberian itu hidup berdampingan, dan mungkin justru karena keduanya nyata, timbangannya terasa menyakitkan ketika timpang. Dan satu kejujuran lagi yang harus saya tanggung. Panggung di mana pun punya kecenderungan menyorot orang yang itu-itu saja, dan di dunia kecil arsitektur ini, kalau daftar itu dibuka, nama siapa saja termasuk dan mungkin saja saya mungkin ada di dalamnya. Setiap kali sorot jatuh pada orang yang sama, ada yang berprestasi di tempat lain tidak kebagian cahayanya.

Kita hidup di dunia yang saling mengikat, yang dirayakan dan yang menunggu giliran, yang menyalakan sorot dan yang berdiri di luarnya, dan saya ada di kedua sisinya sekaligus. Maka membagi panggung bukan kemurahan hati, ia pelunasan.
Tapi batas bukan alasan untuk mati rasa. Di dalam batas selalu ada yang bisa dikerjakan. Kalau suara bukan milik kami, tangan masih milik kami. Mendidik lewat yang kami punya, gambar, tulisan, bangunan, ruang literasi yang coba kami jaga dan dukung.

Mengajarkan kepada yang muda bahwa banjir, kebakaran, dan reruntuhan gempa bukan sekadar berita, melainkan ujian atas cara kita merancang ruang hidup, dan bahwa arsitektur yang tidak memikirkan itu hanyalah dekorasi. Membantu tanpa mengumumkan, karena bantuan yang diumumkan sering berubah menjadi bingkai, dan bingkai adalah persis penyakit yang membuat saya kecewa, kecil di awal tulisan ini. Jaga keluarga, kata ayah saya. Saya menurutinya.

Hanya saja pelan-pelan saya belajar bahwa 👆keluarga bisa meluas, ✌️murid-murid yang belajar di studio, 🤘tukang-tukang yang membangun bersama kami, 👋 pembaca yang tidak pernah saya temui. Menjaga mereka pun masih di dalam batas, dan masih substansial. Kalau tulisan ini terdengar marah, ketahuilah ia ditulis karena sayang. Saking sayangnya saya pada Indonesia, kemerdekaan ini, pada mimpinya tentang keragaman, pada janji persaudaraan dan cinta kasih yang menjadi alasan ia didirikan.🫶

Orang tidak gelisah atas sesuatu yang tidak ia cintai.
Lini masa akan berganti topik dalam beberapa hari. Asap di Kalimantan tidak. Getaran di Flores tidak. Air di Aceh tidak. Yang substansial jarang terlihat di lini masa, ia bekerja di tempat sepi, dan mungkin di situlah hati seharusnya berada, bukan di bingkai, tapi di kerja yang tidak sempat difoto.

Untuk saudara-saudara di Kalimantan yang menghirup asap, di Flores yang tidurnya masih di tenda dan kebun, di Aceh yang rumahnya kembali dilewati air, doa kami menyertai. Dan untuk rekan-rekan yang hari ini sedang bekerja dalam sepi di tempat-tempat itu, para pemadam, relawan, tenaga kesehatan, dan tangan-tangan yang tidak sempat difoto, semoga diberi kekuatan, keselamatan, dan hati yang tidak lelah.

Semoga hujan segera turun di tanah yang terbakar, bumi kembali tenang di timur, dan air kembali ke jalannya di barat.

Tinggalkan komentar