Kategori
blog tulisan-wacana

Kekalahan yang Bukan Tanda Salah Jalan

Refleksi singkat, hari ini Sabtu, 22 Agustus, 2 juri lain dan saya duduk di kursi juri sebuah sayembara mahasiswa di UIN Malang, temanya hunian vertikal-horisonal, tower – podium yang melawan panas kota, dan 👋 Lima finalis, dan kelimanya bagus. Tapi yang menggembirakan saya bukan gambarnya, melainkan diskusinya yang terjadi.

Anak-anak muda itu membicarakan 👆orientasi utara selatan barat timur, ✌️menimbang jalur matahari dan angin, 🤘bergerak dari cara berpikir rasionalis ke empiris, 👋menyentuh fungsionalisme sampai metabolisme, dan 👉sebagian sanggup membawa paradigma besar itu turun sampai ke parameter yang jelas dan bisa diuji. Berpikir yang hidup, di hadapan tema yang bukan gaya-gayaan, karena panas kota itu nyata, bahkan Malang yang sejuk kini mencatat suhu yang terus naik di kawasan terbangunnya.

Melawan panas mungkin bukan tren bagi generasi mereka, ia adalah kriteria + keharusan. Duduk di kursi juri ternyata memaksa merumuskan sesuatu yang selama ini hanya dirasakan, apa sebenarnya yang dicari dari sebuah karya. Bukan hanya gambar. Karya arsitektur berdiri di atas 4 kaki sekaligus:
1.teori yang menjadi alasannya, 2.desain yang menjadi wujudnya, 3.biaya yang menjadi kenyataannya, dan 4.praktik yang menjadi buktinya di lapangan.

Yang ditimbang sepanjang hari bukan citra, bukan branding yang dikejar semalam, bukan gambar 3 dimensi yang paling memukau, melainkan bagaimana seseorang menjawab ketika ditanya, jujur atau tidak jawaban itu di dalam konstruksi berpikirnya. Di setiap karya kami diam-diam mengajukan satu pertanyaan yang sama, hatinya di mana. Di permukaan yang mengilap, atau di keputusan yang diambil dengan sadar dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dan sambil mengamati para finalis menjawab pertanyaan, melihat sesuatu yang dulu ada pada diri sendiri. Kesalahan yang paling sering terjadi di ruang presentasi bukan kurangnya kemampuan, melainkan salah waktu. Menjawab ketika seharusnya mendengarkan. Membela ketika seharusnya merenung.

Kata guru kami Pak Ryadi, @audie_rdv8899 berpikir desain memang bukan saklar yang hanya tahu menyala dan padam, ia dimmer yang diputar pelan sesuai kebutuhan ruangnya, ada saatnya mendengarkan, ada saatnya menganalisa, ada saatnya menjawab tegas, ada saatnya diam untuk berefleksi. Butuh bertahun-tahun untuk belajar memutar dimmer itu, dan sampai sekarang masih sering salah putar. 😊

Teringat bahwa kalah adalah cuaca harian profesi ini, bukan pengecualian, dan sejarah arsitektur kompetisi “sayembara” penuh penghiburan tentang itu. Dinamika yang tidak mudah, kemarau, dan jalan yang rawan. Di sayembara museum Guggenheim Helsinki 2014, 1.715 tim dari 77 negara ikut serta dan hanya 6 yang dibayar, sisanya pulang membawa pelajaran. 🥹

Jorn Utzon memenangkan beberapa sayembara di masa mudanya tanpa satu pun terbangun, sebelum di usia 38 gambarnya yang nyaris diagramatik mengalahkan 233 peserta di Sydney, dan bahkan setelah menang pun ia pergi dengan pahit di tengah jalan dan tidak pernah melihat gedungnya selesai, dunia baru sungguh berterima kasih ketika ia sudah tua.🥹

Zaha Hadid 2 dekade dijuluki arsitek kertas, kemenangannya di Cardiff dibatalkan 3 hari sebelum Natal 1995, dan 9 tahun kemudian ia menjadi perempuan pertama peraih Pritzker.🥹

Thom Mayne kalah dan kalah lagi sampai bekerja nyaris hanya di atas kertas hingga usia 50, dan ia pernah mengaku bahwa di usia 40-an ia menyimpan amarah yang tidak bisa diredam, siap berlari kencang tapi tak kunjung menemukan arenanya, 🤮 amarah yang nyaris mematahkannya sebelum Pritzker datang di usia 61, 33 tahun setelah ia mendirikan kantornya.🥹

Renzo Piano dan Richard Rogers, 2 orang muda berusia 33 dan 37 tahun, mengalahkan 681 peserta di Pompidou, dan bertahun-tahun kemudian Piano mengenang bahwa mereka berangkat sambil yakin akan kalah, dan mungkin justru itu sebabnya mereka menang. Bahkan puncak pun datang terlambat di profesi ini, Frank Gehry berusia 68 tahun ketika Bilbao dibuka, dan Balkrishna Doshi menerima Pritzker di usia 90.

Kalah di sayembara bukan tanda salah jalan. Ia iuran keanggotaan profesi ini, yang jatuh temponya memang panjang. Dan banyak jalan yang lain kompetisi hanya jalan kecil yang membuka lebar dimana persentase keberhasilan sangat kecil juga tidak mudah.

Kali ini menjuri bersama Mas Armudya Bima dan Mas Angga Perdana, dan berdiskusi dengan keduanya adalah bagian paling kaya dari hari ini, justru karena kami bisa berbeda pendapat.

Juri tidak sempurna, penilaiannya dibentuk oleh keterbatasannya masing-masing, dan yang bisa dibawanya ke ruangan hanyalah pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya hal di profesi ini yang tidak bisa dibeli oleh uang. Ia hanya bisa dibeli oleh waktu, oleh kesalahan yang ditanggung sendiri, oleh bangunan yang bocor lalu diperbaiki, oleh sayembara yang kalah lalu diikuti lagi.

Supaya anak-anak muda, para peserta itu tidak perlu membayar semahal kami untuk pelajaran yang sama. Dan mungkin itu tugas paling jujur dari kursi juri, bukan memilih pemenang, melainkan menjaga orang-orang muda di dalam proses berpikirnya, memastikan yang menang tahu kenapa ia menang, dan yang kalah tahu persis apa yang harus didalami, supaya tidak ada yang pulang hanya membawa perasaan.

Dan di ujung hari, semua itu mengembalikan saya pada kenangan saya sendiri. Kami mulai mengikuti sayembara 25 tahun yang lalu, dan perjalanan itu tidak mudah juga di studio yang sering dijalani banyak arsitek senior-muda, ada dinamika yang sudah jadi budaya.

Kami jatuh bangun bertubi-tubi, kalah berkali-kali, jauh lebih sering kalah daripada menang. Pelan-pelan saya mengerti bedanya. Profesi arsitek adalah maraton yang sangat panjang, banyak arsitek baru menelurkan karya yang benar-benar matang dan komprehensif menjelang usia 60 tahun, buah dari belajar proyek demi proyek. Sedangkan sayembara adalah “sprint, pendek dan padat.” 🥹🥹🥹

Sprint tidak menentukan siapa kita, tapi ia latihan terbaik selagi muda, karena yang penting polanya, kalah, bangkit, fokus kembali. Sikap yang hanya mau menang membuat kekalahan mematahkan semangat. Sikap yang mau belajar membuat kekalahan menjadi bahan bakar, dan justru kekalahan-kekalahan itulah yang kelak membuat menang. Kami menjalaninya terus-menerus di studio, kalah ataupun menang, sampai beberapa tahun terakhir kami absen karena waktu yang tidak lagi cukup.🤮

Dan di situ pelajaran terakhirnya, waktu tidak bisa berulang. Waktu mengajarkan keterbatasan, memaksa kita memilih percobaan mana yang layak dijalani, dan sayembara adalah ruang percobaan yang paling murah, terbuka, dan “worth it” karena kesempatan yang luas dan dampaknya bagi yang masih muda. Maraton mereka baru saja dimulai. Maraton kita dan saya masih berjalan.

Dan hari ini, untuk beberapa jam, lintasan kami bersilangan, dan kami2 ini yang lebih dulu berlari menoleh ke belakang dengan gembira, karena yang datang menyusul ternyata banyak “peserta sayembara, peserta-finalis- juara” , dan mereka berlari dengan cara berpikir yang baik.🫶

Satu catatan tambahan. Pencapaian dalam arsitektur tidak melulu soal sayembara, dan tidak melulu soal penghargaan besar. Sayembara mudah jadi pembanding karena hasilnya jelas, menang atau kalah, masuk final atau tidak. Tapi yang sebenarnya jadi napas kerja kami adalah iklim kolaborasi itu sendiri, kepercayaan dari klien, kerja bersama dengan kolaborator, proses yang jarang tercatat di mana pun. Itu yang paling lama bertahan, meski paling jarang terlihat.

(rs, ty, ir)

Image Source:
[1] https://www.flickr.com/photos/sfupamr/20909512590

Tinggalkan komentar