Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Menyeberang di Atas Tisu

Kami ingin memperkenalkan satu keyakinan, bahwa bambu patut diperjuangkan di ranah publik, sekolah, balai, pasar, ruang yang dipakai orang banyak, bukan hanya di halaman belakang. Ada 2 alasan yang bisa diuji. Pertama, ia lestari, siap panen dalam 3-5 tahun, sementara kayu keras meminta puluhan tahun, dan bambu tumbuh lagi dari rumpunnya tanpa ditanam ulang. Kedua, ia jauh lebih kuat dari anggapan orang kepadanya. Sisanya biar angka dan cerita yang berbicara.

Photograph by RAW Architecture

Kalau bambu disebut dalam percakapan tentang pembangunan, ia hampir selalu duduk di kursi paling belakang. Kita membicarakan beton, baja, dan kaca sebagai wajah kemajuan, sementara bambu dianggap urusan saung dan perancah, dipakai menopang cor, lalu dibongkar dan dibuang. 

Ada kelakar yang pernah kami dengar dan sulit kami lupakan, bambu itu seperti tisu, kalau pilek, dilap, lalu dibuang ke tempat sampah. Kami tidak membantah, karena kelakar itu benar, bambu memang tidak abadi, ia lapuk, ia minta dirawat, ia minta diganti. Yang pelan-pelan kami bantah hanyalah kesimpulan diam-diam yang menumpang di belakangnya, bahwa yang bisa dibuang berarti tidak layak dipercaya.

Sebab merancang dengan bambu sama sekali tidak mudah, dan kesulitannya sering datang lebih dulu dari sisi yang tidak teknis. Begitu bambu disebut, tiga harapan langsung ikut duduk di meja. Harapan murah, harapan cepat, dan harapan yang paling jarang diucapkan terus terang, harapan bahwa hasilnya akan bergaya rakyat, pantas untuk saung dan pinggiran, tetapi tidak untuk ruang yang serius. Tiga harapan itu bekerja seperti pagar. Bambu boleh masuk, asal tahu diri dan berdiri di halaman belakang. 

Padahal tantangan sesungguhnya bukan memenuhi ketiganya, melainkan memindahkan cara orang memandang, dan pijakannya tipis. Riset bambu masih sedikit dan terpencar, dari perlakuan bahan, pengawetan, perhitungan sambungan, sampai penyelesaian permukaannya, hampir semuanya masih diraba di lapangan. Kami sering merasa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, membangun bangunannya, dan diam-diam mengumpulkan pengetahuannya.

Angkanya pun tidak main-main. Kuat tarik bambu utuh berkisar 140 sampai 370 MPa tergantung jenis dan umurnya, tumpang tindih dengan baja lunak yang lelehnya sekitar 250 MPa. Petung yang paling banyak kami pakai tercatat rata-rata di kisaran 310 MPa pada pengujian standar ISO. Tetapi keunggulan sebenarnya ada di timbangan. Massa jenis bambu hanya sekitar sepersepuluh baja, sehingga gram demi gram ia 3 sampai 6 kali lebih perkasa menahan tarik daripada logam yang paling kita percaya.

Kejujuran menuntut sisi sebaliknya juga. Kelemahan bambu bukan di tarik melainkan di belah, ia mudah pecah searah serat, sehingga titik paling rawan hampir selalu sambungannya, bukan batangnya. Angka indah tadi juga angka laboratorium, sebab tidak ada dua batang yang sama, tidak ada reng, kaso, dan gording yang seragam di dunia bambu. Presisi menjadi hal yang paling sulit dikendalikan, dan sampai hari ini ia masih sering mengalahkan kami di lapangan.

Tetapi justru di situ sesuatu yang lama runtuh dalam kepala kami. Industri melatih kita mengharapkan komponen yang identik dan tinggal pasang, dan diam-diam kita mengira itulah arti sempurna. Bambu menolak seluruh anggapan itu. Yang buyar bukan bambu yang gagal mencapai standar, yang buyar adalah ilusi bahwa sempurna berarti seragam.

Keyakinan semacam ini ternyata punya banyak pemeluk, dan mereka tersebar lebih jauh dari yang kami duga.

Di Kolombia, Simon Velez memecahkan persoalan sambungan dengan cara yang mengejutkan sederhananya, menyuntikkan adukan semen ke ruas bambu yang berongga lalu memasang baut di titik itu. Sejak itu ia menyebut bambu baja nabati, dan menyindir arsitektur zaman ini kelebihan dosis mineral. 

Kisah favorit kami terjadi menjelang Expo 2000 Hannover. Jerman belum punya kode bangunan bambu, maka ia membangun purwarupa paviliunnya dalam ukuran penuh di kota kelahirannya, Manizales, lalu membebani atapnya dengan tumpukan karung pasir untuk membuktikan daya pikulnya kepada para insinyur. Dibangun dua kali, diuji dua kali, izinnya keluar sehari sebelum pameran dibuka, dan paviliun ZERI tercatat sebagai bangunan bambu pertama yang menerima izin bangunan di Jerman. 

Setahun sebelumnya, ketika gempa meruntuhkan kawasan kopi Kolombia, rumah-rumah guadua justru banyak yang bertahan ketika tembokan runtuh, sampai pada 2010 Kolombia memasukkan bambu ke kode bangunan nasionalnya, salah satu yang pertama di dunia. Dari Jerman, Jorg Stamm pindah ke Kolombia, membangun jembatan bambu berbentang 40 meter, lalu membawa ilmunya ke Bali, dan Markus Heinsdorff mendirikan paviliun bambu 2 lantai di Expo Shanghai 2010 yang menjadi persetujuan pertama otoritas Tiongkok.

Di Bali, John Hardy mendirikan Green School pada 2008, dan putrinya Elora meninggalkan karier mode di New York untuk mendirikan IBUKU pada 2010, membangun rumah bambu 6 lantai dan gimnasium cangkang setinggi 14 meter. Kalimat Elora kami hafal, kami bertanya kepada bambu ia pandai apa, dan ia ingin menjadi apa.

Di negeri kita ada Effan Adhiwira yang berkeliling kampus mengampanyekan bambu, Yu Sing dengan mimpi rumah murahnya, dan Andry Widyowijatnoko dari ITB yang membawa sambungan bambu sampai jadi disertasi doktor di Aachen dan ikut menulis standar internasionalnya. 

Di India, Neelam Manjunath berkeras bangunan bambu tidak harus tampak murahan. Di Meksiko, Comunal dan Lucila Aguilar membangun perumahan sosial bambu yang purwarupanya sempat ditolak pendanaan negara karena aturan melarang material tradisional dipakai struktur. Dan di Jepang, Kengo Kuma memilih bambu untuk vila yang ia rancang di kaki Tembok Besar justru karena, katanya, ada pesona dalam kelemahan bahan ini. 

Jauh sebelum itu semua, Sen no Rikyu menyimpan vas bambu yang retak, dan ketika diberi tahu vasnya bocor, ia menjawab, tetesan air inilah hidupnya.

Kami di RAW Architecture masuk ke jalan ini lewat pintu yang jauh lebih kecil. Mula-mula bambu hanya penyelesaian kanopi di Davio House, lalu naik menjadi kulit kedua yang menyaring cahaya dan pandangan di Pelangi House. Perannya masih sopan, masih di tepi.

Photograph by Lu’luil Ma’nun, Aryo Phramudhito & Lindung Soemarhadi

Tetapi pintu yang sebenarnya bukan dibuka oleh teori maupun angka. Ia dibuka oleh lumpur.

Hari itu kami datang ke lapangan Alfa Omega, dan hampir seluruhnya tenggelam. Tanah yang di atas gambar tampak siap dibangun ternyata rawa-rawa. Memindahkan barang ke titik bangunan sulitnya bukan main, setiap material harus melawan lumpur lebih dulu sebelum melawan gravitasi.

Kami berjalan mencari akal, dan sampai ke sebuah gubuk penjual bambu. Kami mengobrol. Berapa lama membuat saung seperti ini, “Dua minggu,” jawabnya. “Tukangnya dari mana?”, “Sumedang.” Kami minta dipertemukan, dan ia menyanggupi, “Besok bisa.” Malamnya kami kepikiran, bagaimana kalau bambu dipakai membuat jembatan, jalan angkut menyeberangi rawa. Besoknya kami tanya, “Berapa lama?”, “Dua minggu per segmen,” jawab mereka. “Baik. Datangkan orangnya, kita mulai secepatnya.”

Dua minggu kemudian jembatan itu berdiri, tepat seperti kata-katanya. Itu yang membuat kami percaya. Bukan karena bambu itu indah, keindahannya belum sempat kami pikirkan. Kami percaya karena sebuah janji ditepati di tengah rawa. Dan begitulah bambu masuk ke proyek kami, bukan sebagai arsitektur, melainkan sebagai jalan menuju arsitektur. 

Photograph by RAW Architecture & Eric Dinardi

Sesudah itu pangkatnya terus naik, menjadi struktur atap sekolah di Alfa Omega, berdiri 3 lantai di Piyandeling, sampai nyaris mengerjakan semuanya sendirian di Guha Bambu, 3 lantai ditambah 1 lantai di bawah tanah dalam struktur yang hibrida. Ketidakseragaman itu kemudian kami jawab dengan dua cara yang berlawanan. Di Alfa Omega kami mengendalikannya, mal besi memegang presisi lengkungnya, bambu menyanyikan garisnya. 

Di Guha kami bertanya sebaliknya, bagaimana kalau bambu melakukannya nyaris sendirian, dan lahirlah komposisi gua yang penuh tabrakan bentuk yang tidak semuanya kami rencanakan, rongga melengkung muncul di tempat tak terduga, dan ruangnya justru mendapat jiwa dari sana. Kami menikmatinya bukan karena semuanya berhasil, melainkan karena ia memaksa kami menemukan cara yang tidak akan lahir dari kenyamanan.

Photograph by RAW Architecture & Eric Dinardi

Dunia sambungannya sendiri terbelah dua, jalan tua pasak dan kuncian ijuk yang keindahannya sulit ditandingi tetapi bergantung pada pengrajin yang makin langka, dan jalan baru lem serta laminasi yang lebih pasti tetapi menyerahkan sebagian jiwa kriyanya. Di antaranya ada jalan hibrida, bambu dikawinkan dengan besi supaya ada kepastian yang bisa dijanjikan kepada klien dan insinyur. 

Seorang insinyur struktur pernah mengingatkan kami, di Jakarta bambu struktural itu mahal, jenisnya sedikit, dan menemukan pengrajin pasak ijuk jauh lebih sulit daripada menemukan bambunya. Ia benar, kecuali kita cukup beruntung memiliki ekosistem pengrajin yang terjaga, dan ekosistem seperti itu tidak dimiliki banyak proyek.

Lalu kami memperhatikan satu pola yang hampir tidak pernah dibicarakan, dan pola itu bertingkat seperti anak tangga kepercayaan.

Tangga pertama, taruhan pribadi sang arsitek. Manjunath membangun bambu sebagai rumahnya sendiri dan kantornya sendiri. Velez mendirikan purwarupanya di kota kelahirannya sendiri. Elora menukar karir modenya dengan keyakinan ini, dan keluarga Hardy mempertaruhkannya pada sekolah yang mereka dirikan sendiri. 

Masuk akal kalau dipikir, jarak dari bambu ke tren terlalu jauh, belum ada yang bersedia jadi kelinci percobaan, maka taruhan pertama selalu dipasang di tempat yang paling dekat, rumah sendiri, nama sendiri. 

Kami pun tanpa sadar memulai dari tangga yang sama, sebab Guha yang nyaris seluruhnya bambu itu bukan proyek untuk siapa-siapa, ia rumah tempat kami sendiri tinggal, bekerja, dan menyimpan buku-buku kami. 

Tangga kedua, kepercayaan seorang klien. Villa bambu Kuma adalah pesanan, artinya ada pemilik yang berani menitipkan uang dan namanya pada material yang ditertawakan orang. Di Alfa Omega kami mengalaminya sendiri, sebuah yayasan mempercayakan sekolahnya, tempat anak-anak orang lain akan belajar setiap hari, pada struktur atap bambu. Kepercayaan sebesar itu tidak bisa dibalas dengan apa pun kecuali kehati-hatian.

Dan tangga ketiga, kepercayaan bersama. Gempa 1999 membuat Kolombia menuliskan bambu ke dalam kodenya. Karung pasir Velez membuat Jerman menerbitkan izinnya, paviliun Heinsdorff membuat Tiongkok melakukannya, dan sambungan yang diteliti Andry ikut menjadi standar internasional. Di tangga ini bambu berhenti menjadi keyakinan orang per orang dan mulai menjadi hukum, sesuatu yang boleh dipercaya siapa saja tanpa harus jatuh cinta lebih dulu.

Material yang dianggap tisu ini tidak diuji di tempat yang aman. Ia menaiki tangganya satu per satu, dari rumah arsiteknya, ke sekolah kliennya, sampai ke kode bangunan negaranya. 

Itulah sebabnya orang-orang yang pernah mengerjakan struktur bambu Alfa Omega tidak kami lepas begitu saja ketika proyeknya selesai. Sebagian kini bekerja di Piyandeling, merawat dan meneruskan keterampilannya sambil menunggu proyek berikutnya. Sebab keterampilan ini tidak tersimpan di gambar atau di buku, ia tersimpan di tangan, dan tangan yang lama menganggur pelan-pelan kehilangan hafalannya.

Photograph by RAW Architecture &  Eric Dinardi

Dua bangunan itu akhirnya mengajari kami bahwa menyusun dari apa yang tersedia punya dua suhu. Ada yang dingin seperti es, tenang, sabar, penuh perhitungan. Ada yang panas seperti api, lahir dari tabrakan yang tak terduga, dan patahannya justru menghidupkan. Alfa Omega adalah es kami, Guha adalah api kami. Kematangan, kami kira, bukan memilih salah satu, melainkan tahu kapan mendinginkan dan kapan membiarkan menyala.

Sekarang, setiap kali seseorang menyebut bambu material murahan, tisu sekali pakai, kami tidak lagi sibuk membantah dengan teori. Kami hanya teringat rawa itu, gubuk kecil di tepinya, dan jembatan yang berdiri tepat dua minggu kemudian. Mereka menyebutnya tisu. Kami pernah menyeberangi rawa di atasnya.

Tinggalkan komentar