Sedikit refleksi, sebulan lalu saya bertemu seorang rekan kerja lama, sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Percakapan berputar ke sana kemari, dan seperti biasa sampai juga ke pertanyaan itu,
“Apa kabar leader kita?, 👉apakah beliau baik saja.” 👋 Rekan saya bercerita, dan saya mendengarkan dengan senang, ada rasa kangen yang muncul begitu saja. Baru setelah kami berpisah saya sadar, kabar itu sampai kepada saya lewat orang ketiga, dan saya sendiri tidak pernah menanyakannya langsung.🥹
Percakapan seperti itu ternyata selalu berulang setiap kali sesama alumni sebuah kantor bertemu. Isinya membandingkan, 1. dulu di sana bagaimana, 2. sekarang di sini bagaimana, dan 3. diam-diam kami semua sedang mengerjakan hal yang sama, 4. meyakinkan diri bahwa keputusan pulang itu benar. Kami akan menyebut kebebasan, waktu untuk keluarga, kedekatan dengan lapangan. Semuanya benar. Tetapi jujur saja, ada dorongan lain yang bekerja di bawahnya.
👆Para psikolog sejak Festinger 1957 menyebutnya disonansi kognitif, kegelisahan yang muncul ketika 2 pikiran saling bertabrakan, dan cara paling mudah meredakannya adalah dengan meninggikan pilihan yang sudah terlanjur kita ambil. Ada juga istilah yang lebih halus dari kajian cerita hidup Dan McAdams, bahwa manusia cenderung menyusun riwayatnya sebagai kisah penebusan, kesulitan yang berujung pertumbuhan.
Jadi ketika kami berkata sekarang lebih baik, sebagian dari kalimat itu memang laporan, dan sebagian lagi obat penenang.✌️Lalu ada dorongan kedua yang lebih tua namanya. Freud menyebutnya “kompleks Oedipus”, keinginan bawah sadar untuk mengungguli dan menggantikan sang ayah. Harold Bloom memindahkannya ke dunia karya lewat bukunya pada 1973 dengan istilah kecemasan pengaruh, bahwa penyair yang kuat hanya bisa menjadi dirinya sendiri dengan bergulat dan sengaja salah membaca pendahulunya.🤮
🤘Dan ini bukan sekadar teori sastra, penelitian mentoring dari fase-fase Kathy Kram sampai taksonomi pengalaman mentoring yang buruk menemukan pola serupa, hubungan yang mula-mula terasa sempurna lalu bergeser menjadi persaingan dan perlawanan. Membaca semua itu, lalu memeriksa dada sendiri, dan apakah menemukannya di sana?, memastikan tidak merasa sedang mengungguli siapa pun.😳
Yang dirasakan justru, orang orang itu terasa seperti kakak, bahkan seperti ayah dalam wujud yang lain. Tetapi ada satu hal lain yang saya perhatikan, dan ini yang paling lama mengganjal.
Setiap kali sesama alumni bertemu, pertanyaannya selalu muncul, “eh, apa kabar pak bos, bu bos”. Lalu percakapan berputar-putar di sekitar kabar mereka, kabar yang anehnya tidak pernah disampaikan langsung kepada orangnya. Ada rasa kangen di situ, tetapi ada juga rasa segan.🥹
Alasannya masuk akal, dari orang yang kita benci kita tidak mengharapkan apa apa, sedangkan dari orang yang kita kagumi harapan kita naik turun terus. Jadi lingkaran itu tidak selesai bukan karena hubungannya rusak. Ia tidak selesai karena kami menahan 1 kalimat yang sebenarnya ringan.🥹
Dan kalau kita melihat sejarah profesi ini, ada yang selesai dan ada yang tidak, dan bedanya jelas sekali.
👆Yang selesai, misalnya Alvaro Siza dan Eduardo Souto de Moura. Souto de Moura bekerja di kantor Siza sekitar 5 tahun, lalu Siza mengatakan kalimat yang luar biasa kepadanya, “Kamu harus keluar dari kantor ini, sebab kalau tetap di sini kamu tidak akan pernah menjadi arsitek.” Keduanya kemudian sama sama menerima Pritzker, Siza pada 1992 dan Souto de Moura pada 2011, dan yang muda mengaku bahwa pada mulanya memakai bahasa Siza terasa seperti pengkhianatan.
Yang menarik, mereka tidak berpisah jalan, pada 2005 keduanya justru merancang bersama paviliun Serpentine di London.
✌️Ada juga Balkrishna Doshi, yang bekerja di atelier Le Corbusier di Paris selama 4 tahun tanpa dibayar di 8 bulan pertamanya, hidup dari roti, zaitun, dan keju, lalu mengawasi proyek-proyek Corbusier di Ahmedabad. Ketika ia menerima Pritzker pada 2018, kalimat pertamanya bukan tentang dirinya, saya berutang penghargaan bergengsi ini kepada guru saya, Le Corbusier.
Dalam sebuah wawancara ia pernah membandingkan arsitektur dengan hidangan India yang meriah, banyak rasa yang berbeda-beda duduk di 1 piring yang sama, dan begitu pula caranya memperlakukan pengaruh gurunya, diterima, diolah, sampai menjadi masakannya sendiri. Bahkan yang sempat pecah pun bisa selesai.
🤘Frank Lloyd Wright memanggil Louis Sullivan dengan sebutan Lieber Meister, guru terkasih, tetapi ia dipecat pada 1893 karena diam diam menerima pekerjaan di luar kantor, dan keduanya tidak saling menyapa selama sekitar 17 tahun, hampir 2 dekade.
Menjelang akhir hidup Sullivan yang sakit dan bangkrut, Wright datang mendamaikan diri dan membantunya, mereka bertemu terakhir kali 3 hari sebelum Sullivan wafat pada April 1924, dan pada 1949 Wright menerbitkan sebuah buku sebagai penghormatan untuk gurunya. Tujuh belas tahun itu panjang. Tetapi ia sempat.
👋 Dan di negeri sendiri kita punya Romo Mangunwijaya dan Eko Prawoto.
Almarhum Pak Eko adalah murid Romo Mangun di tahun tahun Kali Code, permukiman tepi sungai yang kelak menerima Aga Khan Award pada 1992, dan ia menulis buku tentang tektonika arsitektur gurunya. Membaca karya karyanya sampai akhir hayat beliau pada 2023, orang bisa merasakan betapa jelas ia menimba napas dari Romo Mangun. Tidak ada yang perlu diluruskan di antara mereka berdua, tuntas.
Yang tidak selesai juga banyak, dan tidak semuanya soal guru dan murid.🤮
Le Corbusier melukis 8 mural di dinding rumah E-1027 karya Eileen Gray pada 1938 dan 1939 tanpa izin perancangnya, Gray menyebutnya perusakan, dan sampai hari ini para sejarawan masih bertengkar apakah itu penghormatan atau pelanggaran. 🤮
Jorn Utzon mengundurkan diri dari Gedung Opera Sydney pada Februari 1966 setelah pembayarannya ditahan pemerintah baru, meninggalkan Australia 2 bulan kemudian, dan tidak pernah kembali melihat bangunannya sendiri berdiri.🤮
Baru pada 1999 ia diminta kembali sebagai penasihat rancangan, dan yang menjadi mata dan telinganya di lapangan adalah putranya. Louis Kahn wafat pada 1974 di toilet stasiun kereta, praktiknya terlilit utang, dan butuh 3 hari sampai jenazahnya dikenali.🤮
Membaca semua itu, saya menarik satu kesimpulan yang sederhana. Yang membedakan hubungan yang selesai dari yang tidak bukanlah ada atau tidaknya perselisihan. Wright dan Sullivan bertengkar hebat dan tetap selesai.🥹
Yang membedakan cuma satu, apakah ada yang bersedia berbicara lebih dulu sebelum waktunya habis. Barangkali karena saya melihat hal yang membuat saya berhenti berpikir seperti itu.
Pada 2023, pameran retrospektif Norman Foster digelar di Centre Pompidou di Paris, pameran arsitektur terbesar yang pernah diberikan museum itu kepada 1 orang arsitek.🥹
Salah seorang partner Foster pernah singgah ke perpustakaan kecil kami, dan membawakan sebuah cerita yang tidak saya temukan di liputan mana pun, justru karena itu ia menempel di kepala saya. Katanya, di salah satu dindingnya terpampang nama orang orang yang pernah bekerja di kantor itu, kolaborator, pegawai, sampai anak magang, dicetak kecil kecil berjajar, jumlahnya sekitar 10.000 nama.
Sepuluh ribu nama.
Bayangkan sebuah kantor yang di puncak pengakuannya justru memakai dindingnya untuk menyebut orang lain. Dalam bahasa kita ada kata untuk sikap semacam itu, dan kata itu jauh lebih tua dari teori mana pun yang saya sebut tadi. Among, dan pelakunya pamong. Ki Hadjar Dewantara memakainya ketika mendirikan Taman Siswa pada 1922, dengan 3 kalimat yang sekarang dihafal setiap anak sekolah👆, di depan memberi teladan, ✌️di tengah membangun kehendak, 🤘di belakang memberi dorongan.🫶
Yang paling sering dilupakan justru yang ketiga. Tut wuri handayani, mendorong dari belakang, artinya guru sengaja berdiri di posisi yang tidak terlihat.
Dinding sepuluh ribu nama itu, bagi saya, adalah tut wuri handayani yang dicetak. Orang Jepang punya bentuknya sendiri, namanya noren wake, membagi tirai. Seorang murid yang sudah lama mengabdi mendapat restu membuka kedainya sendiri dengan membawa nama kedai gurunya. Itu bukan kekalahan sang guru.
Itu penghormatan tertinggi yang bisa ia terima, sebab yang membuka kedai kedua adalah bukti bahwa ilmunya berhasil dipindahkan.
Dan saya sadar bahwa saya sedang dipamong, dan sadar juga bahwa saya menerima cara berpikir ini bukan dari sekolah. Waktu kecil, ibu saya rajin mengikuti kegiatan sosial dan doa bersama, dan saya sering ikut tanpa niat apa apa, sekadar menemani.
Tetapi anak kecil yang duduk di pojok itu mengamati sesuatu, kok bisa ya orang orang ini berkumpul, tanpa dibayar, tanpa keperluan, hanya karena keyakinan yang sama. Di situ, tanpa saya tahu namanya waktu itu, saya menyaksikan cara sebuah ekosistem bekerja. Orang berkumpul, orang saling menjaga, dan tidak ada transaksi di dalamnya.
Ilmu sosial punya nama untuk ikatan semacam itu. Dua peneliti, Clark dan Mills, pada 1979 membedakan hubungan pertukaran dari hubungan komunal.
Di hubungan pertukaran, memberi itu wajar sebagai balasan atas pemberian. Di hubungan komunal, memberi itu wajar sebagai jawaban atas kebutuhan, titik. Dan temuan yang paling menarik, di hubungan komunal, orang yang buru buru membalas justru menurunkan kedekatannya, sebab membalas cepat berarti ingin lunas, dan ingin lunas berarti ingin selesai.
Sekarang kita hidup di kota besar yang serba cepat, dan di sinilah persoalannya.
Penduduk kota mengembangkan sikap yang disebut Simmel “ blase”, sikap acuh yang sebenarnya organ pelindung terhadap rangsangan yang terlalu banyak. Stanley Milgram menyebutnya kelebihan beban rangsang pada 1970, dan mencatat akibatnya, orang kota lebih jarang menolong orang asing, bukan karena lebih jahat, melainkan karena kepalanya penuh. Empati tergerus bukan oleh kejahatan, melainkan oleh kecepatan.
Maka lahirlah gejala yang paling ganjil di zaman ini, rasa sepi di tengah keramaian. Dan ini bukan perasaan sentimental. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia pada Juni 2025 menyebut 1 dari 6 orang di dunia terdampak kesepian, dan mengaitkannya dengan lebih dari 871 ribu kematian setiap tahun. Penelitian panjang Holt-Lunstad pada 2010 menemukan bahwa orang dengan hubungan sosial yang kuat punya peluang bertahan hidup 50% lebih besar.
Artinya ikatan yang tanpa transaksi itu bukan kemewahan sosial.
Ia obat. Dan itu yang saya rasakan sendiri, luka apa pun, baik luka karena keluarga, karena percakapan yang salah, karena kebetulan yang tidak kita minta, atau memang karena ekosistemnya begitu, semuanya lebih cepat sembuh di tempat orang berkumpul tanpa keperluan.🥹
Pekan ini lini masa profesi kami riuh oleh perdebatan tentang pintu, siapa boleh masuk sayembara, syarat apa yang adil, dan saya ikut menulis di dalamnya. Makin lama saya makin yakin perdebatan itu penting tetapi hanya separuh. 🥹
Aturan yang adil mengurus pintunya, dan itu perlu. Tetapi yang membuat orang bertahan di dalam rumah bukan pintunya, melainkan orang-orang yang menyambutnya setelah pintu terbuka. Sistem yang baik tanpa pamong melahirkan profesi yang tertib tapi dingin, pamong tanpa sistem melahirkan kehangatan yang hanya bisa dinikmati yang kebetulan dekat. Keduanya harus dikerjakan bersama, dan tulisan ini adalah separuh yang kedua. 🫶Lalu sebaiknya bagaimana.
Merayakan pertemuan itu baik, tetapi kita harus sadar umur. Pembuktian diri ada batasnya, dan celakanya batas itu tidak diumumkan siapa-siapa, kita sendiri yang harus tahu kapan berhenti.🫶
Ayah saya meninggalkan satu rumus yang sederhana sekali dan sampai sekarang saya pakai. Jangan kurang ajar pada yang lebih tua. Bantu yang lebih muda. Dan untuk yang sepantar, yang sedang sama sama membuka jalannya sendiri, doakan. Rumus itu ternyata punya sandarannya masing masing.
Menghormati yang tua adalah inti etika Jawa yang oleh Franz Magnis-Suseno diringkas dalam 2 kata, rukun dan hormat. Membantu yang lebih muda punya namanya di penelitian, timbal balik ke hulu, temuan bahwa orang yang pernah ditolong lebih mungkin menolong orang lain yang tidak menolongnya, sehingga kebaikan mengalir searah ke bawah, bukan berputar kembali ke pemberinya.
Dan mendoakan yang sepantar, itu jalan keluar paling anggun dari persaingan, sebab doa adalah satu-satunya bentuk perhatian yang tidak bisa dipakai untuk mengukur siapa yang lebih unggul.
Dari rumus itu ada satu turunan yang saya jaga betul, menghindari gosip dan pembicaraan yang tidak baik tentang orang. Saya harus jujur, ini bukan sikap yang didukung semua ilmu.
Robin Dunbar justru berpendapat gosip adalah perekat sosial, pengganti kutu-kutuan pada primata, cara manusia menjaga kelompoknya tetap terikat. Saya mengerti alasannya. Tetapi saya memilih risiko yang lain, sebab perekat yang dibuat dari nama buruk orang lain akan mengeras jadi tembok pada hari kita bertemu orangnya lagi.
Dan kami memang selalu bertemu lagi. Dunia ini jauh lebih kecil dari yang kita kira. Akibat dari rumus ayah saya itu ternyata bisa dihitung. Hubungannya jadi panjang.
Panjang sekali. Dan hubungan yang panjang pelan pelan berubah wujud menjadi sesuatu yang lebih hangat dari jejaring, ia menjadi keluarga, yang tersebar di mana mana, lintas disiplin, lintas usia, lintas ego. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi yang perlu diungguli. Yang ada tinggal nama baik yang harus dijaga, sebab nama itu bukan milik kita sendirian.
Maka sebelum tulisan ini selesai, ada satu hal yang tidak ingin saya tunda lagi.
Terima kasih untuk guru guru kita semua, para mentor dan pembimbing yang mendidik kita semua sampai sejauh ini, di sekolah, di kantor kantor tempat saya pernah bekerja, di lapangan, dan di meja makan rumah sendiri. 🫶🫶🫶
Sebagian dari kalian barangkali tidak pernah tahu betapa banyak yang kalian tinggalkan di kepala kami, sebab saya sendiri termasuk yang lama menahan kalimat ini. Orang Jepang punya kata untuk utang semacam ini, on, utang budi yang tidak mungkin dilunasi. 🥹🥹🥹
Dan kalau utang itu memang tidak bisa dibayar ke belakang, barangkali satu satunya cara menanggungnya adalah meneruskannya ke depan. Orang kita sudah punya namanya jauh sebelum saya memikirkan ini. Pamong. Bukan memerintah dari depan, melainkan mendorong dari belakang, tut wuri handayani.
Kembali ke dinding di Paris itu. Kalau suatu hari nanti kami punya dinding sendiri, saya tahu apa yang ingin kami tulis di sana. Bukan daftar bangunan.🙏
(rs, ty, ir)