Sedikit refleksi akan kunjungan tidak terduga, 2 bulan yang lalu sebuah pesan WhatsApp masuk, dan nama pengirimnya membuat saya terdiam sejenak. Muir Livingstone. Mantan mentor, pemimpin tim tempat saya dulu bekerja, kini partner yang mengepalai Foster and Partners di Australia. Ia sedang ke Jakarta, dan ia datang ke studio Guha bersama seorang kawannya dan Iqbal, adik kelas di ITB, 2 tahun di bawah saya. Dari kunjungan itulah tulisan ini lahir.
Setiap arsitek punya mentor yang tidak tercatat di ijazah, dan Muir salah satu mentor. Bertemu dengannya bukan di ruang kuliah, melainkan di meja kerja, semasa muda dan bekerja di timnya di London, mengerjakan proyek-proyek yang jauh lebih besar dari pengalaman waktu itu.
Ada satu hari Sabtu yang tidak pernah dilupakan. Hari itu, masuk kerja, menggambar berdasarkan instruksi, dan mencoba berinterpretasi sendiri atas gambar Muir, menebak apa yang dianggap benar.
Hasilnya kurang presisi. Dan di titik itulah, belajar sesuatu yang lebih penting dari koreksi itu sendiri, yaitu cara ia mengoreksi. Ia tidak menunjuk garis-garis saya yang salah satu per satu. Ia menjelaskan kembali dari atas, lewat konsep parti, gagasan induk yang duduk di atas organisasi ruang, satu ide besar yang menjadi hakim bagi semua keputusan kecil di bawahnya. Hari itu mengerti bahwa presisi bukan urusan garis.
Garis yang meleset hanyalah gejala, penyakitnya adalah tidak memahami gagasan induknya. Orang yang paham partinya bisa memperbaiki seribu garis sendirian, orang yang hanya dikoreksi garisnya akan salah lagi besok dengan cara yang baru. 👆 Itulah anak tangga pertama yang Muir berikan,gagasan induk.
Bertahun-tahun kemudian saya menelusuri kata yang ia ajarkan hari itu, dan ternyata kata itu sendiri punya silsilah guru, berpindah dari meja ke meja selama 2 abad sebelum sampai ke meja tempat saya menggambar. Kata itu lahir di Paris, di Ecole des Beaux-Arts, sekolah seni dan arsitektur paling berpengaruh di Eropa pada masanya, dari frasa parti pris, keputusan yang diambil. Dan di sana keputusan itu diambil secara harfiah.
Mahasiswa dikurung di bilik selama 12 jam, membuat sketsa gagasan yang disebut esquisse, menyerahkannya kepada penjaga, dan sejak itu tidak boleh menyimpang jauh darinya. 👆Gagasan induk dikunci lebih dulu, baru dikembangkan berbulan-bulan. ✌️Pasangannya adalah poche, kebiasaan menghitamkan massa dinding pada denah supaya ruang-ruang servis tenggelam ke latar dan ruang utama tampil sebagai figur. Orang menyingkatnya begini, parti menyusun bangunan, poche mengekspresikannya.
Bahkan lembur tenggat kita pun mewarisi kosakata mereka, charrette adalah gerobak yang berkeliling atelier mengumpulkan gambar, dan mahasiswa yang terlambat mengejarnya sambil menyelesaikan sapuan terakhir. Sekolah arsitektur Beaux-Arts dibubarkan pada 1968, tapi kosakatanya sudah lama menyeberang lautan.
Di Inggris, cara mengajar Paris itu diserap paling dalam oleh sekolah arsitektur Universitas Liverpool, dan pengaruhnya begitu kuat sampai ketika sayembara nasional balai kota Stepney di London digelar pada 1915, seorang kritikus menghitung 80 persen karya pesertanya bergaya Liverpool, klasisisme yang dirasionalkan, berskala besar, dan hemat ornamen. Satu sekolah, lewat satu cara berpikir, mewarnai desain seluruh negeri.
👆Kata parti terus hidup di dunia Anglo sebagai gagasan induk, dan di biro-biro raksasa ia menemukan fungsi barunya, ketika satu proyek dikerjakan ratusan tangan, gagasan induk adalah satu-satunya cara seluruh tim berbicara tentang hal yang sama. Di meja seperti itulah Muir mengajarkannya kepada saya, bukan sebagai istilah kuno, melainkan sebagai alat kerja yang hidup.
Cara Muir menyampaikan semua itu juga sebuah pelajaran. Ia lembut, dan ia mengajak mengobrol, bukan mengadili.
Dari percakapan-percakapan itu satu ajarannya menetap di saya sampai hari ini, kita orang yang berbeda, dan justru karena berbeda, kita perlu kritis dan analitis dalam memahami maksud dan argumen satu sama lain. Perbedaan bukan alasan untuk saling menebak, ia justru alasan untuk saling bertanya lebih teliti. Ini anak tangga kedua, cara mengoreksi yang memanusiakan.
Dan silsilah tidak pernah satu garis lurus.
Menurut penuturan Muir sendiri, ia belajar dari Richard Murphy, arsitek Edinburgh yang menghabiskan puluhan tahun meneliti Carlo Scarpa, arsitek Venesia yang termasyhur karena kehalusan detailnya. Sejak 1986 Murphy mengukur ulang Castelvecchio, kastil tua di Verona yang diubah Scarpa menjadi museum, dan membukukannya 2 kali. Garis Scarpa adalah garis yang berbeda dari garis parti.
Ia garis kerajinan, detail, sambungan material, patung penunggang kuda tua yang diletakkan Scarpa di atas dudukan beton yang menjorok ke udara, kesabaran mengurus bagaimana dua bahan bertemu. Yang satu mengajarkan gagasan induk, yang satu mengajarkan kesetiaan pada detail, dan keduanya bertemu bukan di buku sejarah, melainkan di dalam satu orang, lalu diteruskan.
Tangganya memang tidak berhenti di hari Sabtu itu.
Muir pula yang bercerita tentang pameran Foster di Centre Pompidou, Paris, yang menampilkan 10 ribu nama orang-orang yang pernah bekerja di biro itu dan kini tersebar di seluruh dunia. Ia pula yang menyebut, nama kita semua yang masih alumni ada di antaranya. 🤘Dari cerita itu datang anak tangga ketiga, arsitektur adalah soal tim dan kredit, biro sebesar itu mencatat setiap nama yang pernah melewatinya. Dan nama-nama itu hidup.
Orang-orang yang dulu bekerja di bawah Muir bersama saya kini menjadi kawan-kawan lama yang tersebar, ada yang mengepalai studio biro itu di Thailand, ada yang di Beijing, ada yang di Abu Dhabi, dan banyak lagi berkarya di biro-biro lain di berbagai penjuru. bangga pada mereka, kawan-kawan yang di mana pun berada masih berjuang, masih berpraktik, masih menyalakan gairah yang sama seperti di meja London dulu.
Sebuah proyek menjadi unik bukan karena satu tangan, melainkan karena timnya, direksinya, dan tapaknya, susunan orang dan tanah yang tidak akan pernah terulang sama persis 2 kali. Lalu anak tangga keempat datang di wilayah yang lebih teknis.
👋 Teori bioklimatik apa pun yang dipakai, merasakan dampak kenyamanan akan jauh lebih presisi bila psikologi dan data disatukan dalam satu metode desain, karena kenyamanan diukur oleh tubuh yang merasakan sekaligus angka yang mencatat, dan keduanya baru jujur kalau berjalan bersama.
🥹 dan refleksi terhadap lintas ilmu dan paradigma keilmuan, Jauh sebelum saya lahir, para pemikir republik ini pernah berdebat tentang perjalanan seperti yang saya tempuh.
Dalam Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, Sutan Takdir Alisjahbana menulis bahwa kita perlu belajar dari Barat untuk mengejar ketertinggalan, sementara Sanusi Pane menjawab bahwa individualisme, materialisme, dan intelektualisme Barat perlu dipadukan dengan ilmu Timur yang kolektif, spiritual, dan berilmu perasaan, haluan yang sempurna, tulisnya, ialah menyatukan Faust dengan Arjuna. Hampir seabad kemudian, tanpa menyadarinya, saya menjalani kedua nasihat itu sekaligus.
Perjalanan pergi ke Barat, ke London yang dingin, belajar sifat analitik, parameter, dan argumen dari figur seperti Muir, lalu pulang untuk memadukannya dengan yang tumbuh di tanah sendiri. Dan kalau dipikir lagi, anak tangga keempat dari Muir, psikologi dan data dalam satu metode, adalah rumusan yang sama, meminjam bahasa Sanusi Pane, Faust dan Arjuna duduk di satu meja gambar.
(rs, ty, ir)
Image Source:
[1] https://www.fosterandpartners.com/people/all/muir-livingstone