Di lantai paling bawah rumah ini tinggal adik kami. Namanya OMAH, sebuah perpustakaan. Kami menyebutnya adik bukan untuk lucu-lucuan: ia memang lahir belakangan dari studio ini, tumbuh menumpang di ruang-ruang kami, dan seperti semua adik, ia dibesarkan ramai-ramai.
Rak-rak bukunya kami desain dengan satu keputusan yang mungkin terdengar aneh untuk sebuah perpustakaan: supaya orang duduk bersila di lantai. Tidak ada meja baca tinggi yang membuat orang duduk tegak berjarak.
Dulu, di zaman studio garasi, semua diskusi memang terjadi sambil bersila di lantai, santai, dekat, dan kebiasaan itu terasa terlalu berharga untuk ditinggalkan hanya karena ruangannya kini lebih baik. Maka lantainya dibiarkan menjadi tempat duduk, dan rak-raknya justru yang naik, bertumpuk ke atas seperti sebuah stupa besar. Di ruangan ini yang ditinggikan bukan pembacanya, melainkan buku-bukunya; kami duduk di bawah, menengadah pada apa yang ingin kami pelajari.
Ketika tiba waktunya memindahkan buku-buku ke ruangan itu, tidak ada panitia khusus. Satu studio turun tangan bersama-sama, arsitek dan admin dan anak magang, mengangkat ribuan buku dari tangan ke tangan. Bukan karena diwajibkan, melainkan karena begitulah cara memperlakukan adik sendiri: kalau ia pindah kamar, semua kakaknya ikut angkat barang.
Lalu terjadilah bagian cerita yang tidak kami tulis. Seorang pengunjung yang senang datang melihat-lihat perpustakaan ini suatu hari memperhatikan bagian bawah ruangan yang masih kosong. Ia bertanya, kok masih kosong, lalu menawarkan sesuatu yang tidak kami duga: bagaimana kalau disumbangkan kursi-kursi kecil yang lucu, untuk anak-anak yang ikut orang tuanya ke sini.
Kami terdiam sebentar. Jakarta ini kota yang cepat; orang-orangnya berpacu, waktu dihitung, dan sudut kosong sebuah perpustakaan kecil di lantai bawah rumah bukanlah urusan siapa-siapa. Tetapi ternyata masih ada orang yang memperhatikan sudut kosong itu, memikirkannya, dan menawarkan diri untuk mengisinya, bukan dengan sumbangan besar yang bergemuruh, melainkan dengan kebaikan seukuran kursi anak-anak.
Dari beliau kami belajar bahwa di kota secepat apa pun, masih ada orang yang berjalan cukup pelan untuk melihat.
Jadi kalau suatu hari kalian berkunjung ke lantai bawah rumah ini, duduk bersila di depan rak yang menjulang seperti stupa, ketahuilah bahwa ruangan ini dibesarkan oleh banyak tangan. Tangan yang mendesain raknya, tangan-tangan satu studio yang memindahkan bukunya, dan tangan seorang tamu yang baru lewat, lalu memutuskan ikut menyayanginya. Adik kami ini memang beruntung: ia tidak hanya punya satu keluarga.


