Kategori
blog tulisan-wacana

Pendidikan Sebagai Jalan, Bukan Jalur Balap

Pagi tadi, pukul 8 lewat, sebuah reel pendek berhenti di layar saya. Tahun 1984 seorang psikolog pendidikan bernama Benjamin Bloom menemukan sesuatu yang mengganggu dunia sekolah sampai hari ini. Anak biasa yang ditemani 1 guru privat, diajar sampai benar benar paham sebelum pindah materi, bisa mengungguli 98 persen teman sekelasnya. Sejak itu temuan ini dikenal sebagai masalah “2 sigma”. 

Anak yang ditemani 1 orang dewasa yang sabar melaju jauh lebih cepat dari anak yang duduk di kelas berisi 30. Yang mengganggu bukan temuannya, melainkan siapa yang bisa mendapatkannya. Selama puluhan tahun, satu satunya keluarga yang bisa memberi anaknya keuntungan “2 sigma” itu adalah keluarga yang mampu mendapatkan, mengakomodasi tutor.

Bukan karena anaknya lebih pintar, melainkan karena mereka punya orang dewasa yang mau menjelaskan ulang untuk ketiga kalinya tanpa mendesah. Video itu lalu bercerita tentang Salman Khan, analis keuangan yang merekam video matematika untuk sepupunya yang kesulitan di sekolah. Sepupunya menontonnya berulang ulang tanpa malu, dan dari situ lahir “Khan Academy.”

Kini dalam bukunya Brave New Words ia berkata kecerdasan buatan akhirnya bisa mengerjakan bagian yang dulu mahal itu, menemani 1 anak belajar tanpa lelah, tanpa bosan, tanpa membuatnya merasa bodoh. Tetapi ada 1 bagian yang membuat Khan sendiri berhenti sebentar. Mesin bisa menjelaskan rumus berkali kali, tetapi mesin tidak bisa melihat mata seorang anak yang hampir menyerah, lalu memutuskan untuk tetap percaya padanya. Bagian itu, katanya, selamanya tugas manusia. 

Saya menutup layar dan memandang Jakarta dari jendela.

Di kota ini 2 sigma sudah lama diperjualbelikan, jauh sebelum ada kecerdasan buatan. Ada uang pangkal yang harganya setara mobil, ada bimbingan belajar yang kelasnya sama padat dengan sekolah, ada guru privat yang datang ke rumah pukul 7 malam ketika anaknya sudah lelah dan orang tuanya baru pulang. Semua itu dibeli oleh keluarga yang bisa, dan yang tidak bisa menerima nasibnya di angka yang bukan 98. 

Ada anak yang memang membutuhkannya, ada yang di ruang les justru menemukan teman dan guru yang tidak ia dapat di sekolah, dan itu sisi sosial yang tidak bisa diberikan mesin mana pun.

Yang membedakan les yang menolong dari les yang menekan hanya 1, yakni siapa yang memutuskan. Les yang dipilih anak karena ia ingin mengerti adalah lift, les yang didorong orang tua karena ia takut tertinggal adalah beban yang diberi nama tangga.

Yang lebih melelahkan, sistemnya sendiri terus berganti. 

Kurikulum berubah, istilahnya berubah, cara menilai berubah, dan setiap kali berubah orang tua berlari mengejar sambil membawa anak di punggungnya, sampai lama lama tidak ada lagi yang sempat bertanya untuk apa sebenarnya semua ini. Pendidikan berubah dari jalan menjadi jalur, dari cara memahami dunia menjadi cara tidak tertinggal.

Kalau ingin tahu ke mana jalur itu berakhir, lihat Korea Selatan, negeri yang sudah berlari paling jauh di lintasan yang sama. 

Dari kawan kawan yang tinggal di sana saya mendengar cerita yang berulang, anak anak pulang dari hagwon, sebutan mereka untuk tempat les, pukul 9 atau 10 malam, batas yang bahkan harus dipasang pemerintah kota Seoul lewat peraturan, lalu mengerjakan PR, lalu main gawai sebentar sebagai satu satunya waktu milik sendiri, lalu tidur lewat tengah malam. Datanya lebih keras dari ceritanya. 

Belanja les seluruh keluarga Korea mencapai rekor 29,2 triliun won pada 2024, sekitar 20 miliar dolar, naik 60 persen dalam 10 tahun. Pada 2025 angka totalnya turun untuk pertama kalinya dalam 5 tahun, tetapi bukan karena orang tua mengendur, melainkan karena anaknya berkurang 120.000 dalam 1 tahun, dan belanja per anak yang ikut les justru mencetak rekor baru, 604.000 won sebulan, hampir 800.000 won untuk anak SMA. 

Keluarga berpenghasilan di atas 8 juta won mengeluarkan 3 kali lipat dari keluarga di bawah 3 juta, dan 85 persen anak keluarga kaya ikut les berbanding 53 persen anak keluarga yang tidak. Para ahli di sana bahkan menyebut beban ini sebagai salah 1 sebab Korea memiliki angka kelahiran terendah di dunia, orang tua tidak berani punya anak kedua karena tahu harga 2 sigma yang harus dibayar. Dan di sinilah ironinya, 2 sigma adalah ukuran yang relatif. Ia berarti mengungguli 98 persen anak lain. 

Begitu semua orang membelinya, kurvanya bergeser, dan 98 persen tetap 98 persen. Seluruh negeri membayar mahal untuk berdiri di tempat yang sama, hanya dengan anak yang lebih kurang tidur.

Ada 1 orang yang pernah menolak berlari itu, dan kebetulan ia arsitek. Romo Mangun, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, di paruh akhir hidupnya meninggalkan sebagian besar meja gambarnya untuk mengurus sekolah dasar bagi anak anak keluarga miskin di Kalasan, Yogyakarta. Ia tidak menunggu kurikulum dari atas.

Ia menyusun sendiri cara belajarnya, eksploratif, integral, komunikatif, anak diajak bertanya lebih dulu sebelum diajari menjawab, kelas dibuka ke sawah dan sungai, guru dilatih menjadi teman bertanya, bukan penjaga soal. Ia percaya sekolah bukan pabrik dan anak bukan bahan baku. Kalau dipikir hari ini, yang ia kerjakan sebenarnya 2 sigma juga, tetapi dengan manusia, untuk anak yang tidak akan pernah mampu membayarnya, 30 tahun sebelum mesin menjanjikan hal yang sama. 

Yang ia bangun bukan gedung, melainkan orang dewasa yang mau duduk di samping anak sampai paham.

Saya bukan Romo Mangun, dan malam malam saya jauh dari heroik. Saya ayah dari 2 anak di sebuah kota, setelah refleksi pagi tadi saya mengerti apa yang tidak bisa saya beli dan tidak bisa saya wakilkan. Bukan penjelasan rumusnya, mesin bisa.

Bukan lembar latihannya, itu sekolah punya. 

Yang tidak bisa diwakilkan hanyalah duduk di samping si sulung ketika ia mulai menyerah pada soal yang sama untuk ketiga kalinya, dan si bungsu ketika ia yakin dirinya bodoh, lalu tetap percaya pada keduanya di menit ketika mereka sendiri tidak.

“Dua sigma” mungkin akan terus dijual, dan sebentar lagi diotomatisasi. Tetapi bagian yang oleh Khan sendiri diakui tetap milik manusia itu ternyata gratis dan mahal sekaligus. 

Gratis karena tidak ada tagihannya, mahal karena harganya waktu, dan waktu adalah satu satunya hal yang oleh kota ini paling sulit dikembalikan.

Romo Mangun sudah mencobanya di Kalasan. Giliran kita masing masing merefleksikannya di rumah sendiri.

(rs, ty, ir)

Image Source:
[1] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Teacher_and_student_lancing_michigan_1960.jpg

Tinggalkan komentar