Kategori
blog tulisan-wacana

Arsitektur Komunitas: Dari Mana Uangnya

Refleksi singkat sharing di PPArs UKDW

Organisasi kemanusiaan arsitektur paling terkenal di dunia mengumpulkan sekitar 50 juta dolar sepanjang hidupnya. Ia tutup pada Januari 2015, dan ketika pailitnya diajukan beberapa bulan kemudian, sisa kasnya 200 ribu dolar. Bukan karena kehabisan niat, tapi karena hitungannya tidak jujur pada dirinya sendiri. Ada dana operasional yang tidak diperhitungkan dalam donasinya.

Pekan lalu di Yogyakarta, di sebuah kelas profesi “online” arsitektur di UKDW, saya teringat lagi pada peristiwa itu. Ini sedikit refleksi atas kesempatan memberikan kuliah di PPArs UKDW, Program Pendidikan Profesi Arsitek Universitas Kristen Duta Wacana. Program profesi ini kini jalur yang harus dilalui setiap calon arsitek sebelum berpraktik, dan diam diam ia juga ruang lain yang sama pentingnya, tempat calon arsitek menambah jaringan, bertemu para praktisi, dan mencuri dengar bagaimana profesi ini sesungguhnya dijalani.

Yang menarik dari kelas kemarin adalah temanya, arsitektur komunitas, dan tema itu terasa pantas lahir di Yogyakarta. Kota ini tanah yang menyimpan jejak Romo Mangun di tepi Kali Code, jejak Pak Eko Prawoto di desa desa, studio studio yang berbasis komunitas, dan para pengajar kampus yang turun langsung di proyek kebencanaan. Di kota ini, arsitektur yang menghadap ke komunitas bukan wacana, ia tradisi yang hidup.

Tapi sepanjang diskusi ada 1 pertanyaan yang terus kembali, bagaimana keberlanjutannya. Apakah praktik yang fokus ke komunitas berbeda dengan praktik yang hidup dari proyek komersial. Apakah tipe praktik di kota besar sama dengan di kota kecil. Setiap dimensi ternyata berbeda, dan justru pola pola detail yang berbeda itulah yang layak dipelajari, bukan diseragamkan.

Dari diskusi itu 1 temuan mengendap di saya, praktik pro bono ternyata bisa dirancang pendanaannya, bukan hanya diikhlaskan. Ongkos perencanaan bisa disatukan ke dalam ongkos pembangunan, mirip skema di mana desain mengambil porsi dari keseluruhan biaya, dan ada pula skema di mana imbalan perencanaan dipotong separuh sebagai bentuk keberpihakan. Tinggal dipilih, keberlanjutan macam apa yang dituju. Kebaikan pun butuh model ekonominya, bukan untuk mengotorinya, melainkan untuk memanjangkan umurnya.

Dan dunia sudah menguji kalimat itu dengan cara yang paling mahal. Architecture for Humanity lahir 1999, tumbuh menjadi puluhan cabang di banyak negara, dan sepanjang hidupnya mengumpulkan sekitar 50 juta dolar donasi. Ia tutup pada Januari 2015, dan ketika pailitnya diajukan, sisa kasnya sekitar 200 ribu dolar saja. Kegagalannya bukan kekurangan niat, melainkan kekurangan mesin, dana yang terikat untuk proyek terpakai menutup ongkos operasional, defisitnya membengkak sekitar 100 ribu dolar tiap bulan, dan pertumbuhan berlari lebih cepat dari tata kelolanya.

Kesimpulannya getir, visi besar tanpa orang hitungan. Kebaikan yang paling terkenal pun runtuh ketika hitungannya tidak jujur. Sementara yang bertahan puluhan tahun ternyata punya 1 kesamaan, sumber uangnya jelas, berulang, dan tidak menunggu belas kasihan.

Rural Studio yang didirikan Samuel Mockbee di Alabama pada 1993 hidup dari pembagian yang jernih, universitas menanggung seluruh ongkos operasional dan donasi menanggung ongkos konstruksi, sehingga setiap rupiah pemberi masuk ke bangunan, dan lebih dari 220 proyek berdiri dalam 30 tahun, termasuk rumah 20 ribu dolar yang bisa dibangun tukang setempat.

Shigeru Ban menyubsidi silang, museum dan vila mewah yang ia rancang membiayai shelter kertasnya untuk pengungsi dari Rwanda sampai gempa demi gempa, kliennya yang kaya ia sebut donatur kerja kemanusiaannya, dan ia menolak membedakan mutu keduanya, yang untuk pengungsi pun harus indah dan nyaman.

Francis Kere memulai dari sekolah pertama di desanya di Burkina Faso, dananya ia kumpulkan sekitar 2 tahun dari kawan kawannya di Berlin sewaktu masih mahasiswa, sampai meminta teman sekamarnya mengurangi rokok dan menyumbangkan uangnya, biaya pembangunan sekolah itu sekitar 30 ribu euro, lalu ia menopang yayasannya dengan praktik komersial di Eropa, dan jalan itu berujung Pritzker 2022.

Yasmeen Lari di Pakistan melangkah lebih jauh, menuju nol donor, melatih warga menjadi tukang dan pelatih keliling yang dibayar desa berikutnya, dengan tungku seharga sekitar 8 dolar dan rumah bambu tahan banjir seharga seratusan dolar, puluhan ribu sudah berdiri. Paolo Soleri membiayai Arcosanti selama setengah abad dari penjualan lonceng angin perunggu, dan dengan jujur harus dicatat, model uangnya bertahan 50 tahun tapi visinya baru 5 persen selesai.

MASS Design Group memilih bentuk nirlaba profesional, dua pertiga pendapatannya fee desain dan sepertiganya filantropi, membangun rumah sakit Butaro di Rwanda dengan melatih ribuan warga setempat, dan bahkan model sebaik itu pun masih bergulat dengan defisit di tahun tahun terakhirnya.

Sedangkan di Tiongkok saya mengenal seorang profesor di Tsinghua Song Yehao (SUP Atelier) yang membantu desa desa terdampak bencana lewat laboratorium arsitekturnya, dibiayai dana pemerintah, dan saya pernah diajak melihat kerjanya, di sana negara yang memikul ongkos kebaikannya, seperti Aga Khan di skala lain memikulnya lewat laba puluhan perusahaan yang seluruhnya diinvestasikan kembali ke kerja pembangunan.

Beragam model itu menunjukkan 1 hal, tidak ada 1 jawaban, yang ada hanya 1 pertanyaan yang sama, dari mana uangnya, dan setiap praktik yang berumur panjang menjawabnya dengan terang. Ada yang menyatu dengan kampus, ada yang disubsidi silang oleh kemewahan, ada yang menjadi ekonomi warga itu sendiri, ada yang dipikul negara atau wakaf, dan ada yang mati karena tidak memilih model apa pun.

Di sinilah Indonesia justru punya posisi yang jarang disadari. Negeri dengan begitu banyak persoalan, kebencanaan yang berulang, kebutuhan rumah yang tak habis habis, adalah laboratorium alami bagi arsitektur yang berdampak. Praktik komunitas kita bukan pinggiran dari arsitektur dunia, ia bisa menjadi riset kelas dunia untuk solusi persoalan sosial, asalkan polanya divalidasi, dicatat, dan dibagikan, bukan hanya dikerjakan lalu menguap. Pertanyaannya bukan model mana yang paling benar, melainkan model mana yang paling cocok untuk tanah kita.

Maka dugaan saya sederhana, dan ini yang saya bawa pulang dari Yogyakarta. Di begitu banyak praktik di Indonesia dan di dunia, selalu ada 2 kutub, sebutlah tipe A yang hidup dari proyek komersial dan tipe B yang menghadap ke komunitas. Sejarah menunjukkan keduanya tidak pernah saling mendominasi, dan mungkin memang tidak perlu untuk itu, Shigeru Ban membuktikan keduanya bisa hidup dalam 1 orang, saling membiayai dan saling memberi makna.

Yang satu menghidupi, yang satu memberi arah, dan praktik yang paling sehat barangkali adalah yang belajar berdiri bergantian di keduanya, dengan hitungan yang jujur di masing masing kaki. Kami sendiri masih terus belajar menyeimbangkannya, dan pelajaran dari Yogyakarta kemarin menambah 1 keyakinan, pluralisme praktik bukan kelemahan profesi ini, ia justru kekayaannya.

Tinggalkan komentar