Kategori
Team - Studio Culture

Yang Tidak Bisa Kita Perintah

Di Guha ada pohon-pohon, dan ada hewan. Marmut, kelinci, kambing. Mereka bukan sekadar penghuni tambahan, lama-lama kami sadar mereka bagian dari cara tempat ini menjaga kewarasan orang-orang di dalamnya. Ada sesuatu yang menenangkan dari memegang, atau sekadar berada di dekat, makhluk yang hidup. Banyak orang bilang itu pelepas stres, dan memang begitu terasanya. Tetapi kalau ditelusuri lebih dalam, ada alasan yang lebih menarik daripada sekadar “hewan itu lucu”.

Kami bekerja di studio yang penuh tekanan. Merancang adalah pekerjaan yang menuntut kontrol terus-menerus, mengendalikan garis, mengendalikan detail, mengendalikan banyak kemungkinan sekaligus lalu mengerucutkannya menjadi satu keputusan. Ilmu yang luas ditekan menjadi pilihan yang sempit, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Tekanan seperti ini, kalau dibiarkan tanpa penyeimbang, bisa berujung pada dua hal yang sama-sama tidak sehat. Ego bisa menggelembung, memuncak, sampai seseorang lupa batas dan mulai mengira dirinya pusat dari segalanya. Atau, sebaliknya, orang butuh saluran untuk melepaskan tekanan itu, supaya ia bisa kembali mengenali satu kata sederhana yang sering hilang dalam kerja kreatif: cukup.

Di sinilah hewan-hewan itu bekerja dengan cara yang tidak kami duga. Karena hal paling menyembuhkan dari mereka justru adalah bahwa mereka tidak bisa kita perintah. Seekor kelinci tidak peduli pada gelar atau prestasi kita. Seekor kambing tidak akan datang hanya karena kita menyuruhnya. Kita bisa memanggil namanya, tetapi datang atau tidaknya ia adalah keputusannya, bukan keputusan kita. Dan justru di situ letak penyembuhannya, berhadapan dengan sesuatu yang hidup, yang punya kehendaknya sendiri, yang berada sepenuhnya di luar kendali kita.

Menariknya, kedekatan dengan makhluk seperti ini tumbuh justru ketika mereka bebas memilih. Ketika seekor hewan mendatangi kita padahal ia bisa saja menjauh, kehadirannya berarti sesuatu, tepat karena ia tidak dipaksa. Kita tidak sedang membeli kasih sayangnya, kita sedang menerimanya, kalau ia berkenan memberi. Bagi orang yang sehariannya dihabiskan mengendalikan segala hal, pengalaman menerima tanpa bisa memaksa adalah semacam obat. Ia mengembalikan kita pada ukuran yang benar tentang seberapa besar sebenarnya kendali kita atas dunia.

Ada juga dimensi yang lebih ragawi. Ketika kita menyentuh seekor hewan, merasakan kulitnya, bulunya, panas tubuhnya, ada sensasi yang menghubungkan kita kembali pada yang nyata, keluar dari kepala yang penuh gambar dan angka. Bayangkan menyentuh kulit seekor hewan besar, yang tersisa hanya satu pertanyaan yang sangat mendasar dan sangat jujur, apakah ia akan melukai kita atau tidak. Pertanyaan sesederhana itu menyeret kita kembali ke tubuh, ke saat ini, ke hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan pikiran saja. Itu pengalaman yang sangat personal, dan barangkali karena itulah ia menyembuhkan.

Kami menduga ada semacam cermin di sini. Hewan-hewan di sekitar kita sering terasa seperti bayangan diri pemiliknya, yang gelisah punya hewan yang seolah ikut gelisah, yang tenang punya hewan yang seolah ikut tenang. Merawat mereka, pada tingkat tertentu, adalah merawat bagian dari diri kita sendiri yang tidak selalu bisa kita ajak bicara langsung. Menyayangi sesuatu yang hidup di luar diri kita ternyata cara untuk berdamai dengan sesuatu di dalam diri kita.

Dan semua ini, bagi kami, tersambung pada sesuatu yang lebih besar. Ada frasa yang kami pegang tentang menjaga bumi, air, udara, dan segala isinya. Frasa itu bukan slogan, ia sebuah tindakan yang menuntut kita terus-menerus mengompromikan banyak hal, banyak kepentingan, banyak makhluk, banyak ilmu, dalam satu keputusan. Merawat hewan-hewan kecil di studio adalah versi paling sederhana dari laku itu, latihan harian untuk mengingat bahwa kita berbagi dunia dengan yang lain, yang punya kehendaknya sendiri, dan yang tidak ada di sana untuk melayani kita.

Barangkali itu sebabnya kami membiarkan makhluk-makhluk hidup ini menjadi bagian dari tempat kerja kami. Bukan untuk hiasan, bukan pula sekadar pelepas penat. Melainkan karena mereka mengingatkan kami, setiap hari, pada hal yang paling mudah dilupakan oleh orang yang pekerjaannya mengendalikan banyak hal: bahwa tidak semua yang berharga bisa, atau boleh, kita kendalikan. Sebagian hanya bisa kita rawat, kita hormati, dan kita syukuri ketika ia memilih untuk mendekat.

(rs, hs, ty, ir)

Tinggalkan komentar