Kategori
blog tulisan-wacana

Harga Sebuah Napas

Setiap tahun saya punya kebiasaan kecil yang agak ganjil, mengecek angka harapan hidup orang Indonesia yang diumumkan BPS. Bertahun tahun saya mengira angkanya turun, sebab begitulah rasanya hidup di kota ini. Ternyata saya keliru, dan kekeliruan itu justru pintu masuk esai ini. Angkanya naik terus, 74,47 tahun pada 2025, bertambah 1,1 tahun di 5 tahun.

Ada perbedaan antara kota besar – kecil. Jakarta-Yogyakarta, rentang panjang umur jadi satu hal yang tidak bisa dibeli mudah bahkan oleh uang.

Yang membuat saya berhenti bukan penurunannya, melainkan 2 hal yang tersembunyi di balik kenaikannya. Pertama, Jakarta, provinsi terkaya dengan rumah sakit terbaik di negeri ini, hanya 73,87 tahun, di bawah Yogyakarta, Jawa Tengah, bahkan Jawa Barat.

Kedua, para peneliti University of Chicago menghitung warga Jakarta Raya sebenarnya bisa hidup 2,7 tahun lebih lama lagi kalau udaranya sesuai ambang WHO.

Jadi harapan hidup kita memang naik, hanya saja ia naik lebih lambat dari yang seharusnya, dan selisihnya kita hirup setiap hari.

Saya tidak ingat kapan tepatnya napas mulai terasa. Napas mestinya hal yang tidak perlu dipikirkan, seperti detak jantung. Tetapi di suatu malam beberapa tahun lalu, ketika si bungsu batuk kering berulang di kamar sebelah dan saya terjaga mendengarkannya, napas tiba-tiba menjadi sesuatu yang bisa dihitung, ditakar, dan dicemaskan.

Sejak malam itu penyaring udara di rumah kami bertambah 1 demi 1. Mula-mula 1 di kamar anak, lalu 1 di kamar kami, lalu ruang tengah, lalu studio.

Sekarang setiap malam rumah ini berdengung pelan seperti kapal, dan lampu indikatornya menjadi cara baru membaca cuaca. Hijau berarti boleh membuka jendela. Kuning berarti tunggu. Merah berarti tutup semuanya dan biarkan mesin bekerja.

Saya arsitek yang seumur hidup percaya pada jendela yang terbuka, dan saya kini punya rumah yang tahu kapan harus menutup diri.

Villa Meruya, tempat kami tinggal, duduk di tepi barat Jakarta, di garis yang bersentuhan dengan Tangerang. Letak ini punya arti. Pada musim hujan angin bertiup dari barat, dari kawasan industri Banten dan cerobong cerobong PLTU di pesisirnya, lewat di atas atap kami sebelum masuk ke Jakarta.

Tangerang Selatan, tetangga kami, pada data 2024 dinobatkan sebagai kota paling berpolusi di seluruh Asia Tenggara, dengan rata-rata PM2.5 tahunan 61 mikrogram per meter kubik, 12 kali ambang yang dianggap aman oleh WHO. Jakarta sendiri 41,7 pada tahun yang sama, sekitar 8 kali ambang itu. Kami tinggal di antara 2 angka itu.

Saya berangkat menulis ini dengan 1 dugaan yang sudah lama saya percaya, udara memburuk sejak 2024 karena PLTU baru di Banten.

Dugaan itu gugur di meja data, dan seperti dugaan-dugaan saya yang lain, gugurnya justru mengajarkan sesuatu. Rata-rata tahunan Jakarta tidak naik sejak 2024. Ia memuncak pada 2023, tahun El Nino dan kemarau yang panjang, lalu turun ke 41,7 pada 2024 dan 34,1 pada 2025. PLTU Jawa 9 dan 10 di Suralaya, 2.000 megawatt yang saya curigai itu, baru beroperasi komersial pada Mei 2025, jadi ia tidak mungkin meracuni 2024.

Dan studi inventarisasi emisi Jakarta menunjuk pelaku utama yang lebih dekat dari cerobong mana pun, kendaraan bermotor, 67 persen dari seluruh PM2.5 kota ini. Mobil di garasi saya punya andil lebih besar dari cerobong yang saya salahkan dari jauh.

Tetapi gugurnya dugaan itu tidak membuat udaranya aman, dan di sinilah jujurnya harus dua arah. Turun ke 34 masih berarti 7 kali ambang WHO.

Rata-rata tahunan menyembunyikan hari-hari Agustus ketika Jakarta menjadi kota paling berpolusi di dunia selama beberapa jam. Dan 2.000 megawatt batu bara baru itu tetap ada, berdiri di arah datangnya angin, untuk 30 tahun ke depan.

Peneliti CREA menghitung PLTU dalam radius 100 kilometer dari Jakarta bertanggung jawab atas sekitar 2.500 kematian dini setiap tahun di kota ini. Angka itu tidak turun dengan ditambahnya cerobong.

Saya lalu membandingkan rumah kami dengan kota-kota lain, dan hasilnya membongkar 1 dugaan lagi, bahwa polusi soal besar kecilnya kota. Dalam laporan IQAir untuk tahun 2025, urutan kota paling berpolusi di Indonesia dibuka oleh Serpong, lalu Bandung, Tangerang Selatan, Jakarta, Tangerang, Pekanbaru, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, dan Palangkaraya. Perhatikan urutannya.

Bandung, kota yang lebih kecil dari Jakarta dan lebih sejuk, duduk di atas Jakarta, karena ia cekungan yang dikelilingi gunung. Para peneliti kualitas udara menggambarkannya seperti mangkuk, pada pagi dan malam lapisan udara dingin menjadi tutup mangkuk itu sehingga polutan mengendap di dasarnya, dan tutupnya baru terbuka menjelang siang, itu sebabnya Lembang di bibir mangkuk selalu lebih bersih dari Dayeuhkolot di dasarnya.

Surabaya, kota terbesar kedua, justru di bawah Yogyakarta yang jauh lebih kecil, karena Surabaya pesisir dan anginnya membilas, sementara Yogyakarta dataran yang makin padat kendaraan. Semarang dan Denpasar tidak masuk 10 besar sama sekali.

Denpasar bahkan sejak lama tercatat sebagai kota besar dengan udara paling bersih di negeri ini, sekitar 19 mikrogram pada data 2019, bukan karena Bali pulau dewata, melainkan karena angin laut, tidak adanya PLTU di jalur anginnya, dan industri yang ringan.

Yang mengubah nasib paru-paru kita ternyata bukan ukuran kotanya, melainkan 3 hal, bentuk tanahnya, arah anginnya, dan apa yang dibakar di hulu angin itu. Meruya kalah di ketiganya. Datar, di hilir angin barat, dengan Banten yang membakar batu bara di hulunya.

Kami punya pembanding yang sangat pribadi untuk rumus itu, sebab kami sering ada di daerah yang lain ada di Lembang, di bibir mangkuk Bandung yang tadi.

Tim Nafas menemukan Kayuambon di Lembang, di dataran tinggi, secara konsisten berudara lebih baik di setiap musim daripada Padalarang dan Margahayu di dasar cekungan, sebab pada pagi hari angin turun dari pegunungan utara dan menyapu PM2.5 ke selatan, ke dasar mangkuk. Setiap kali kami pindah dari Meruya ke Lembang, tubuh merasa lebih ringan di hari pertama, dan selama ini saya percaya tubuh. Sore ini saya memeriksa angkanya, dan tubuh ternyata bisa tertipu oleh sejuk.

Pada 2 September pukul 4 sore, PM2.5 Lembang terbaca 43 mikrogram, 8,7 kali ambang WHO, di puncak musim kemarau ketika tutup mangkuk itu menahan asap lebih lama. Pada jam yang sama Jakarta juga sekitar 43, Tangerang Selatan di sebelah Meruya sekitar 51, dan Bandung di dasar mangkuk sekitar 55, nomor 6 terburuk di Indonesia sore itu.

Lembang, dengan sejuk 24 derajatnya, ternyata menghirup udara yang sama dengan Jakarta dan hanya sedikit lebih baik dari Tangerang.

Yang lebih mengejutkan, angka itu hanya taksiran satelit, sebab Lembang tidak punya 1 pun stasiun pemantau di darat. Kami menghirup udara yang tidak pernah diukur siapa pun. Maka saya belajar untuk tidak terlalu bangga pada udara Lembang, karena 2 alasan. Pertama, ia lebih baik di rata- rata musim, bukan bersih, dan di hari kemarau ia bisa sekotor Jakarta. Kedua, dan ini yang lebih mengganggu, udara Lembang ringan sebagian karena polutannya dibawa angin turun ke Bandung.

Udara bersih di hulu sering kali adalah udara kotor yang sedang dalam perjalanan ke hilir, dan Lembang yang menikmatinya sama dengan Meruya yang menanggungnya dari Banten. Rumus 3 hal itu tidak berpihak, ia hanya memindahkan. Ada 1 pembakaran lagi yang jauh lebih dekat, kadang hanya sepelemparan batu dari jendela, dan saya punya dugaan ketiga tentangnya.

Malam-malam di pinggiran Jakarta dan Tangerang beraroma sampah yang dibakar, dan saya menduga sebabnya sederhana, warga kesulitan membayar iuran kebersihan lalu membakar sampahnya sendiri. Dugaan ini sebagian terbukti, sebagian tidak, dan bagian yang tidak terbukti justru lebih menampar. Angkanya dulu. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 57 persen rumah tangga di negeri ini membakar sampahnya, itu cara penanganan sampah yang paling umum, 2 kali lipat dari yang diangkut petugas.

Studi Vital Strategies dan ITB menaksir pembakaran terbuka menyumbang 9 sampai 11 persen PM2.5 di Jakarta Barat dan Timur, dan pemantauan ITB di Jakarta Barat sepanjang 2025 menempatkannya sebagai penyumbang ketiga setelah kendaraan dan industri. Yang dibakar di halaman itu plastik, dan plastik yang dibakar pada suhu rendah melepaskan dioksin, racun yang oleh WHO digolongkan karsinogen, jadi per kilogramnya asap halaman tetangga lebih beracun dari asap cerobong mana pun. Lalu soal iurannya.

Retribusi sampah rumah tangga di Kota Tangerang berkisar 2.000 sampai 15.000 rupiah sebulan, lebih murah dari 1 bungkus rokok, dan riset Waste4Change di Jabodetabek menemukan alasan warga membakar ternyata berlapis, gang yang tidak dijangkau gerobak sampah, tempat pembuangan yang jauh atau penuh, tidak tahu bahwa itu dilarang, dan baru setelah itu enggan membayar iuran. Bahkan di perumahan klaster dengan iuran mahal, orang tetap membakar.

Di Tangerang Selatan hanya sekitar 55 persen sampah yang terangkut, dan ketika tempat pembuangan akhirnya meluap pada akhir 2025, halaman halaman kembali berasap. Jadi bukan terutama soal tidak mampu membayar. Ini soal tidak terlayani, tidak tahu, dan tidak ditegakkan. Peraturan daerah Jakarta melarangnya sejak 2013 dengan denda 500.000 rupiah, dan 10 tahun kemudian dinas lingkungan sendiri mengakui hanya Kepulauan Seribu yang bebas dari asap sampah.

Aturan yang tidak dijalankan umurnya berapa pun sama saja, dan kalimat itu saya pinjam dari esai saya sendiri tentang profesi ini.

Yang paling mengganggu dari semua angka adalah yang paling “pelan”. Peneliti University of Chicago menghitung warga Jakarta Raya kehilangan lebih dari 2,7 tahun harapan hidup karena udara yang mereka hirup setiap hari, dibandingkan kalau udaranya sesuai ambang WHO. Dua tahun tujuh bulan, diambil bukan sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, setiap tarikan napas.

Studi Vital Strategies bersama Dinas Lingkungan Hidup Jakarta menaksir lebih dari 10.000 kematian setiap tahun dan biaya kesehatan 2,2 persen dari seluruh ekonomi kota. Pada 2023 Dinas Kesehatan mencatat sekitar 100.000 kasus infeksi saluran pernapasan sebulan. Di balik statistik itu ada jantung yang menua lebih cepat, paru yang mengeras, anak yang lahir lebih ringan dari seharusnya, dan menurut sejumlah penelitian terbaru, ingatan yang memudar lebih dini.

Semuanya tidak terasa hari ini, dan itulah bahayanya.

Peter Attia, dokter yang menulis Outlive, membedakan 2 hal yang sering kita campur, lifespan dan healthspan, berapa lama kita hidup dan berapa lama kita hidup dalam keadaan sehat. Ia menyebut 4 penunggang kuda yang mengakhiri hampir semua hidup manusia modern, penyakit jantung, kanker, penyakit saraf seperti demensia, dan gangguan metabolik.

Bacalah lagi daftar penyakit yang ditautkan para peneliti pada PM2.5, jantung, stroke, kanker paru, demensia. Udara kotor bukan penyakit kelima, ia bahan bakar bagi keempatnya. Dan dari Attia saya mengambil 1 cara berhitung yang mengubah urutan prioritas saya. Kesehatan bukan 1 pos di antara pos pos hidup, ia pengali di depan semuanya. Karya, studio, buku, anak anak yang tumbuh, semua bernilai sebesar apa pun, tetapi begitu kesehatan runtuh semuanya dikalikan 0.

Itu sebabnya soal udara tidak boleh berada di urutan setelah proyek dan tenggat. Ia yang menentukan apakah proyek dan tenggat itu masih ada artinya.

Warga sudah pernah melawan. Pada 2021 gugatan 32 warga negara dimenangkan di pengadilan, presiden dan para menteri dinyatakan lalai, dan putusan itu dikuatkan di tingkat banding pada 2022. Lima tahun kemudian baku mutu udara tahunan kita masih 15 mikrogram, 3 kali ambang WHO.

Rencana pensiun dini PLTU percontohan di Cirebon dibatalkan pada Desember 2025, dan Suralaya tidak pernah masuk daftar kandidat. Kemenangan di pengadilan ternyata tidak otomatis menjadi kemenangan di paru paru.

Padahal udara bisa dibersihkan, dan buktinya ada di kota yang dulu jauh lebih kotor dari Jakarta. Pada 2013 rata-rata PM2.5 Beijing 89,5 mikrogram, lebih dari 2 kali Jakarta hari ini, dan orang menyebutnya airpocalypse.

Tahun berikutnya perdana menteri Tiongkok mengumumkan perang terhadap polusi di depan Kongres Rakyat, dan yang terjadi 10 tahun kemudian dicatat sebagai keajaiban oleh para peneliti. Beijing turun ke 30,5 pada 2024 dan 27 pada 2025, hampir 70 persen lebih bersih, hari dengan polusi berat merosot dari 58 hari setahun menjadi 1 hari.

Secara nasional PM2.5 Tiongkok turun 41 persen dalam 1 dekade, dan menurut peneliti University of Chicago rata-rata warganya kini berumur 2 tahun lebih panjang karenanya, bahkan seluruh penurunan polusi dunia sejak 2013 disebut sepenuhnya berkat Tiongkok. Caranya tidak ajaib.

Jutaan rumah tangga yang memanaskan rumah dengan batu bara dipindahkan ke gas dan listrik, PLTU dan pabrik di sekitar ibu kota ditutup atau dipindahkan, standar kendaraan diperketat, dan Beijing menjalankan program yang namanya saja sudah menjelaskan pola pikirnya, prakarsa 1 mikrogram, mengejar penurunan dari debu konstruksi dan jalan 1 mikrogram demi 1 mikrogram. Semua itu dimulai ketika Tiongkok belum sekaya sekarang, dan pemicunya bukan teknologi, melainkan data.

Kedutaan Amerika di Beijing memublikasikan angka pemantauannya setiap jam, warga membandingkannya dengan angka resmi, dan pemerintah tidak lagi bisa berpura pura.

Singapura menempuh jalan yang berbeda dengan hasil yang sama. Udaranya bukan hasil pembersihan besar-besaran, melainkan hasil tidak pernah membiarkannya kotor.

Sejak 1975 mobil yang masuk pusat kota dibayar, sejak 1998 dibayar secara elektronik, dan jumlah mobilnya dibatasi lewat sertifikat kepemilikan yang harganya bisa melampaui harga mobilnya sendiri. Listriknya dari gas, bukan batu bara. Pabrik ditempatkan di kawasan industri dengan jarak penyangga dari permukiman sejak tahap perencanaan tata ruang, bukan setelah warga mengeluh. Standar Euro 6 berlaku sejak 2017.

Hasilnya rata-rata PM2.5 tahunan Singapura berkisar di belasan mikrogram, separuh Jakarta atau kurang, dan satu satunya musuh yang tidak bisa mereka kendalikan justru asap kebakaran lahan yang datang dari negeri kita pada 2015 dan 2019.

Finlandia berdiri di ujung paling jauh dari kita, dan justru karena itu menarik. Udaranya termasuk yang paling bersih di dunia, rata-rata PM2.5 nasionalnya memenuhi ambang WHO, 5 mikrogram, angka yang di Jakarta terdengar seperti dongeng.

Yang jarang diceritakan, Helsinki sampai belum lama ini dipanaskan dengan batu bara, pada 2022 batu bara masih 64 persen dari pemanas kotanya. Dewan kota memutuskan menutup PLTU Hanasaari pada Desember 2015, dan pembangkit itu benar benar padam pada 1 April 2023, hampir 2 tahun lebih cepat dari rencana. Parlemen mengesahkan larangan batu bara pada 2019 untuk berlaku 2029, dan PLTU terakhir Helsinki, Salmisaari, padam pada 1 April 2025, 4 tahun sebelum tenggat hukumnya.

Gantinya angin yang kini memasok seperempat listrik negeri itu, pompa panas terbesar di dunia, dan ketel listrik terbesar di Eropa. Sepuluh tahun dari keputusan dewan kota sampai cerobong terakhir padam, tanpa ganti arah di tengah jalan, dan keputusan itu lahir dari desakan kampanye warga yang dulu dianggap mustahil.

Yang paling saya ingat, program udara bersih Finlandia untuk 2030 ternyata masih punya 3 musuh, dan yang pertama bukan pabrik atau mobil, melainkan asap kayu dari tungku dan sauna di halaman rumah. Negeri paling bersih di dunia pun musuh terakhirnya api kecil di halaman tetangga, sama seperti kita, hanya saja mereka sudah sampai di musuh terakhir sementara kita masih di musuh pertama.

Tiga kota, 3 cara, 1 kesamaan yang tidak nyaman.

Ketiganya berhenti berdebat soal apakah polusi itu nyata, karena datanya terbuka dan tidak bisa dibantah, lalu ketiganya berani menyentuh 2 hal yang paling dilindungi di negeri kita, mobil pribadi dan batu bara. Yang membedakan Jakarta dari Beijing, Singapura, dan Helsinki pada akhirnya bukan uang dan bukan teknologi, penyaring udara di kamar anak saya buatan pabrik yang sama dengan yang dijual di sana.

Yang membedakan adalah pola pikir, apakah udara dianggap nasib atau dianggap hasil keputusan, dan apakah keputusan itu dijaga selama 10 tahun oleh 3 wali kota yang berbeda.
Ada luka lain yang lebih pribadi. Seumur hidup saya percaya pada pohon. Saya menanam, meneduhkan, membuka bangunan pada angin, dan menulis panjang lebar tentang naungan yang hidup.

Lalu data berkata, untuk urusan PM2.5, sabuk pepohonan hanya menurunkan sekitar 8 sampai 13 persen di tepi jalan, dan kadang malah menahan polutan di lorong jalan yang rapat, sementara mesin kecil berisik di kamar anak saya menurunkan PM2.5 dalam ruang 45 sampai 60 persen. Pahit rasanya mengakui bahwa untuk 1 urusan ini, mesin mengalahkan pohon. Saya tetap menanam, sebab pohon mengerjakan hal lain, mendinginkan, menahan air, memberi jeda. Tetapi saya berhenti menyebutnya penyaring udara.

Lalu apa yang bisa dikerjakan. Jawabannya berlapis, dan penyaring udara hanya lapisan yang paling dalam. Lapisan pertama tubuh dan kamar, mesin HEPA yang ukurannya cukup untuk ruangannya dan filternya diganti tepat waktu, sebab filter yang jenuh lebih buruk dari tidak ada, masker N95 di hari merah, dan yang paling murah dari semuanya, 1 sensor PM2.5 di rumah, karena Lembang mengajari saya bahwa tanpa alat ukur kita menghirup udara yang tidak pernah diukur siapa pun.

Lapisan kedua bangunan, dan di sinilah pekerjaan rumah saya sebagai arsitek. Arsitektur tropis yang membuka diri pada angin sedang berhadapan dengan angin yang membawa racun, maka rumah tropis kini butuh 2 mode, terbuka pada hari hijau dan rapat pada hari merah, dengan jendela yang bisa benar benar tertutup, ventilasi mekanis yang tersaring, dan sekurang kurangnya 1 kamar anak sebagai zona bersih.

Saya belum punya bentuk yang tuntas untuk itu, hanya jendela yang lebih sering tertutup dari yang saya rancang. Lapisan ketiga lingkungan, yang paling dekat dan paling terlupakan, asap halaman tetangga. Memastikan gerobak sampah masuk ke gang, bank sampah di tingkat RT, dan melapor pembakaran ke nomor 112. Satu RT yang berhenti membakar menurunkan PM2.5 malam hari lebih terasa dari 10 penyaring udara.

Lapisan keempat kota, mobil di garasi kita sendiri, putusan pengadilan 2021 yang harus terus ditagih, dan stasiun pemantau untuk Lembang dan Meruya, sebab Beijing bermula dari angka yang tidak bisa disembunyikan.

Malam ini rumah berdengung lagi. Lampu di kamar si bungsu hijau, di ruang tengah kuning. Saya duduk mendengarkan napasnya yang kini teratur.

Keempat lapisan itu pada akhirnya bermuara pada 1 hal, berhenti menyebut udara ini nasib,

Sebab Beijing, Singapura, dan Helsinki sudah membuktikan udara adalah keputusan. Dan tetap menanam pohon, bukan karena ia menyaring udara, melainkan karena ia mengajari kesabaran juga ketegasan dan data pada kota yang sedang kehabisan napas.

Napas yang dulu tidak pernah saya perhatikan itu kini saya dengarkan setiap malam.

Mungkin memang begitu cara sebuah kota, paradigma, dan sejarah mengajarkan harganya, sedikit demi sedikit, sampai kita menyadari kita sedang membeli udara tanpa polusi kembali. Termasuk harga mahal dari kesehatan, nafas di udara yang bersih.

(rs, hs, ty, ir)

Image Source:
[1] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pollution_Dakar.jpg

Tinggalkan komentar