Kategori
blog tulisan-wacana

Menang Tanpa Perlu Melawan

Mengapa air, yang begitu lembut, pada akhirnya selalu menang atas batu yang begitu keras? Jawabannya, bertahun-tahun lalu saya pergi ke Finlandia, dan masih mengingat betul apa yang dilihat di sana.

Saya sempat berkesempatan sebelum pandemi mengunjungi karya-karya Alvar Aalto, termasuk studionya. Di sana melihat riset material, proses pembuatan lampu, sampai bagaimana ia merancang furniturnya sendiri. Dari bahan murah dan sederhana.

Arsipnya tersusun rapi, seolah setiap gagasan punya tempatnya. Yang membuat saya terpukau bukan hanya bangunannya, melainkan bahwa ia mendesain sampai ke gagang pintu, lampu, dan keramik. Bangunannya seperti sekali goresan, satu gestur besar, tetapi di dalamnya berisi ratusan detail yang tersusun dengan sabar.

Tetapi yang paling membekas justru bukan kesempurnaannya, melainkan dari mana ia berasal.
Aalto bukan orang dari daerah “sentral”, Helsinki ia dari pinggiran.

Ia lahir di sebuah desa kecil, lalu tumbuh di Jyväskylä, kota provinsi yang jauh dari ibu kota, penuh rumah-rumah biasa. Ayahnya berbahasa Finlandia, ibunya berbahasa Swedia, sebuah perpaduan yang membentuk semacam sikap “pinggiran”, sikap bertahan hidup.

Dan dari pinggiran itulah ia justru membuktikan bahwa sebuah mahakarya arsitektur bisa lahir jauh dari pusat, ketika ia menyelesaikan Sanatorium Paimio. Jalannya tidak pernah mulus.

Setelah Paimio, ia mencoba menaklukkan Helsinki, tetapi ibu kota adalah benteng para arsitek penjaga lama, dan mendapatkan pekerjaan di sana tidaklah mudah. Sepanjang kariernya, ia dibayangi kesulitan keuangan yang nyaris tak pernah berhenti. Salah satu proyeknya, perpustakaan Viipuri, karena persoalan pembiayaan dan perubahan lokasi, berlangsung selama delapan tahun sebelum akhirnya berdiri. Delapan tahun untuk satu bangunan.

Dan ketika berdiri di kota Seinäjoki, saya melihat sesuatu yang tinggal di ingatan sampai hari ini. Waktu itu saya berjalan di sebuah gereja di tengah kota, yang berbentuk seperti gua dengan altar dari marmer dan langit-langit yang tinggi, ada anak-anak kecil yang berserakan, berlarian, tampak tak beraturan. Lalu seorang guru mengangkat tangannya. Dan dalam sekejap, anak-anak yang tadinya berserakan itu berkumpul, tertata, dan dari mulut mereka muncul, mendengar salah satu paduan suara terindah.

Setelah itu pergi ke sebuah tempat pizza, masih pagi. Dan baru sadar bahwa anak-anak yang melayani di sana sudah pulang sekolah, dan mereka menghabiskan waktu menjadi tukang pizza di dapur, membakar adonan. Teringat tentang Finlandia dan kurikulumnya, di mana guru terlibat dalam kehidupan anak, sebuah prinsip yang mengingatkan saya pada among, pada menuntun. Udara yang dingin tidak membuat anak-anak terkurung di dalam rumah.

Ruang publik dan pedestrian di sana begitu terhubung, bahkan gereja pun fungsional, bisa disekat-sekat meski langit-langitnya menjulang. Semua yang saya lihat di Finlandia itu, tanpa saya sadari saat itu, sebenarnya berbicara tentang satu hal. Tentang kehidupan yang mengalir, yang tidak dipaksa, di mana belajar, bekerja, berkarya, dan bermain menyatu seperti air yang menemukan jalannya.

Hidup ini memang seperti air.

Air lahir di gunung, dan sejak awal ia sudah tahu ke mana ia menuju, yakni ke laut jua. Di sepanjang jalannya, ia bertemu batu. Batu-batu itu adalah masalah kita, rintangan, kekecewaan, kesulitan, kegagalan. Aalto bertemu batu penolakan dan kesulitan keuangan. Eko Prawoto bertemu batu kekecewaan pada dunia yang tidak sesuai idealnya.

Kita semua, dengan cara masing-masing, bertemu batu. Tetapi air tidak menghancurkan batu dengan kekerasan. Air mengalir mengitarinya, dan bila perlu, perlahan menembusnya, bukan dalam sehari, melainkan dalam waktu yang panjang dan sabar. Air tidak pernah menang dengan melawan. Ia menang dengan mengalah, dengan mengikuti kontur, dengan setia pada arahnya menuju muara. Dan justru karena ia mengalah, ia tidak pernah berhenti, dan pada akhirnya ia selalu sampai.

Lucunya perjalanan ke Finlandia itu diinisiasi dari pertemuan dengan seorang teman yang baru dikenal dan bertemu di bandara beberapa tahun tidak sengaja. Kami duduk di lounge bersebelahan dan saling bertegur sapa, dan berteman baik sampai sekarang, ia mengirimkan buku favorit, bagus sekali tentang Winter Landscape, karya Matti A. Pitkanen.

(rs, hs, ty, ir)

Image Source:
[1] https://www.flickr.com/photos/mypubliclands/36651389005/in/photostream/

Tinggalkan komentar