Kategori
blog tulisan-wacana

We Need You

Kemarin saya diundang ke kelas Success Academy. Salah 1 pesertanya anak saya sendiri. Jadi saya datang sebagai narasumber, tapi duduk sebagai orang tua yang deg-degan.

Ada 1 kebiasaan kecil di kelas itu yang membuat saya terdiam. Anak-anak bergiliran bertanya, dan setiap kali giliran tiba pada 1 anak, seisi ruangan menoleh dan bilang, “We support you. “ Baru setelah itu si anak bicara. Tidak ada yang ketawa. Tidak ada yang berbisik. Pertanyaan sepolos apa pun diterima dengan kalimat yang sama.

Saya pun bercerita kepada mereka, ketika saya di kelas 4. Waktu itu saya baru pindah ke Jakarta dari Surabaya, dan saya anak yang paling sering tunjuk tangan. Ada pertanyaan sedikit, tunjuk tangan. Belum paham, tunjuk tangan. Teman-teman ketawa, dan suatu hari guru saya bilang, sudah, jangan tunjuk tangan terus. 😳 Saya kaget. 🥹 Saya turunkan tangan, dan sejak hari itu saya berhenti bertanya. Saya jadi anak biasa, duduk, diam, mengerjakan tugas, pulang. Bertahun-tahun.🤮

Guru saya waktu itu mungkin capek. Orang dewasa bisa capek dan salah bicara, saya pun pernah salah bicara pada anak saya. Tapi anak kelas 4 belum tahu itu, jadi saya percaya tangan saya memang harus turun.Waktu SMP, 2 guru mengubah arah itu. 👆Yang pertama guru matematika saya. Suatu hari saya memberanikan diri bertanya. Ia tidak ketawa, ia malah memuji saya karena bertanya. Saya bertanya lagi, dan lagi. Karena bertanya terus, nilai matematika saya jadi bagus terus.

Pelan-pelan tangan saya naik lagi. ✌️Yang kedua guru tenis meja. Ia tidak mengajari pukulan keren. Ia menyuruh saya mengulang 1 pukulan yang sama setiap hari, membosankan sekali, sampai saya hampir berhenti. 2 tahun kemudian saya juara. Bukan karena pukulan keren, tapi karena pukulan membosankan yang diulang ribuan kali.👷 Waktu SMA, keluarga kami pindah ke Jakarta dan saya kesepian. Ada 1 teman yang awalnya suka menggoda saya.

Lama-lama kami belajar bareng dan pulang bareng, dan dari situ saya belajar bahwa bertanya tidak harus kepada guru. Kami saling bertanya. Kalau berdua tidak bisa menjawab, kami bertanya kepada ayahnya, yang kebetulan guru les. Bertanya jadi kebiasaan, bukan lagi keberanian.
Dari situ saya tahu rahasianya cuma 2. 👆Bertanya, dan ✌️latihan yang membosankan. Tidak ada yang ketiga.

Sampai sekarang pekerjaan saya sebagai arsitek masih sama, bertanya kepada orang yang mau punya rumah, bertanya kepada tukang, lalu menggambar, salah, dan menggambar lagi. Pertanyaan anak-anak kemarin sederhana, dan justru karena itu susah dijawab. 🥹 👆Sukses itu apa. ✌️Kenapa harus baca buku. 🤘Bagaimana membagi waktu. 👋 Bagaimana caranya konsisten. Saya punya 1 jawaban untuk semuanya. Konsisten itu bukan soal disiplin. Konsisten itu akibat dari tahu untuk apa kamu ada di sini.

“Why am I here ? “ Kalau jawabannya jelas, 👆fokus datang sendiri, dan ✌️waktu seperti membagi dirinya sendiri. 🤘Orang yang kesulitan membagi waktu biasanya bukan kekurangan jam, tapi belum tahu mana yang penting. Setelah bisa, 👋jadilah orang baik yang membantu. Kepada anak-anak saya menjelaskannya dengan hitungan paling sederhana, kasih 2 dapat 2, kasih 5 dapat 5. Mereka mengangguk, karena untuk anak kelas 4 itu masuk akal.

Yang belum perlu mereka tahu sekarang, dan akan mereka temukan sendiri nanti, adalah bahwa yang kembali hampir selalu lebih banyak dari yang diberi, dan datangnya dari arah yang tidak pernah kita hitung.🙏
Yang paling saya kagumi dari kelas itu bukan materinya, tapi Coach Indri. Ia tidak mengajar anak-anak tentang sukses. Ia membangun ruangan tempat anak berani salah di depan teman-temannya. Guru matematika saya dulu melakukan hal yang sama untuk saya, sendirian, di 1 kelas.

Coach Indri melakukannya untuk 1 ruangan sekaligus, dan menjadikannya kebiasaan bersama. Itu pekerjaan arsitektur juga, hanya tanpa bata.
Sebelum pulang, saya bertanya kepada mereka, siapa yang besok mau tunjuk tangan di kelas. Semua tangan naik. Tangan saya juga.
“We support you !”

“We Support You” 3 kata. Diucapkan seisi kelas setiap kali giliran 1 anak bertanya. Saya butuh puluhan tahun untuk mendengarnya, dan anak-anak ini mendengarnya setiap kelas. 🥹🥹🥹



 

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan Balasan