Pagi tadi saya diundang ke kelas si bungsu. Umurnya 6 tahun. Gurunya meminta saya bercerita tentang arsitektur, 15 menit, untuk 20 anak yang duduk di lantai.
Saya tidak mulai dengan gedung. Saya mulai dengan kertas. Satu lembar, 1 krayon, 3 menit. Gambar rumah impianmu. Tidak ada yang bertanya boleh atau tidak. Semua langsung menunduk.
Beberapa orang mulai dengan figur dan simbol tapi ada yang bisa sampai elemen dan kategorisasi.
Setelah itu baru saya tunjukkan sebuah coretan. Garis-garis cepat, miring, bertumpuk, seperti orang mencari sesuatu di kertas. Saya tanya, ini gambar apa. Seorang anak menjawab, coret-coretan. Benar. Lalu saya buka foto museum di Bilbao, dan saya bilang, coretan itu jadi gedung ini. Yang mencoret namanya Frank Gehry, kakek-kakek yang pekerjaannya menggambar rumah.
Yang terjadi sesudahnya tidak saya rencanakan. Hampir semua tangan terangkat. Bukan untuk bertanya, tapi untuk menunjukkan gambar masing-masing. Aku juga bisa. Punyaku juga begini. Mereka tidak kagum pada Gehry. Mereka merasa sejajar dengannya.
Dalam perjalanan pulang saya mencoba memahami kenapa. Kalau urutannya saya balik, foto Bilbao dulu, baru menggambar, saya yakin reaksinya berbeda. Mereka akan mencoba meniru, lalu kecewa karena tidak mirip. Yang membuat mereka berani adalah coretan mereka sudah ada di atas meja sebelum coretan Gehry muncul di layar. Tangan sudah bekerja lebih dulu. Mata hanya mengenali.
Ini pelajaran lama di studio kami, tapi saya baru melihatnya sejelas itu pada anak 6 tahun. Orang sering bilang imajinasi anak tanpa batas. Saya kira justru sebaliknya. Yang membuat mereka berani pagi tadi adalah batasnya. 1 kertas, 1 warna, 3 menit. Tidak ada waktu untuk ragu, tidak ada pilihan untuk menunda. Batas itu yang memaksa tangan bergerak, dan tangan yang sudah bergerak tidak takut pada gedung sebesar apa pun.
Kemarin di Trilogi saya bicara tentang batas sebagai generator di depan mahasiswa. Pagi ini anak-anak kelas 1 SD membuktikannya tanpa teori, dengan krayon.
Gambar mereka dikumpulkan gurunya. Ada rumah bulat, ada rumah dengan pohon menembus atap, ada yang hanya 2 garis dan 1 pintu. Semuanya bisa jadi gedung. Yang kurang hanya tukang, dan umur.
Mereka terkejut waktu sekolahnya masuk slide, gedung baru tunas muda yang inspirasinya berasal dari kapal pesiar ataupun gedung noah yang berasal dari bahtera, juga taman kanak – kanak Tunas muda yang inspirasinya dari gua.
(rs)