September 3, 2006, Singapore

“Ketika ”berbeda dengan dimensi sebelum dan sesudah, ia ada di antara awang – awang masa kini dan masa lalu, “ketika” berbicara mengenai saat sesudah aksi diberikan, ketika, seperti pada suatu ketika,

louis kahn

Louis kahn dan Peter Zumthor lah idola bulan ini.Adalah benar apabila semuanya ada dalam keteraturan sendiri, seperti, temukanlah aturan alam semesta maka kamu akan mengerti segalanya, mengenai keindahan bentuk dan proporsi terbaik.

Sulit untuk menyelami dimensi keindahan yang ada, yang kutahu hanya ada sedikit orang dari banyak orang yang mampu bergulat dengannya dan belajar darinya, semua akan kebingungan ketika berbicara tentang ruang dan keindahan, adalah baik untuk mencoba selesaikan semuanya perlahan – lahan dan tidak tergesa – gesa. Tenggelamlah dalam iterasi desain, dan rasakan jiwanya. meskipun gestalt dari setiap proporsi itu lah yang akan menentukan dari keindahan itu, kita membutuhkan sesuatu yang lain, jiwa harus dikeluarkan, tirai harus di dibuka, lewati batasannya, kuyakin bahwa kerja keras itulah yang menyebabkan jiwa itu mulai nampak nyata. Seringsekali kutanyakan masa – masa lalu kepada jiwa2 yang masih polos, jiwa kalian dimana , apa kemauanmu, karena seringkali karya terbaik akan muncul dari sentuhan personal manusiannya. It is about your soul, bukan tentang perhitungan AB AB. Karena kita hidup bukan dari perhitungan.

Suatu waktu ketika ku dalam liburan ke Jakarta, Kusadar ketika pada satu saat kuberpapasan dengan seorang tua renta, yang kepalanya hanya bisa tertunduk lesu tidak bertenaga, terkulai lemas tidak berdaya, seperti penyakit yang akan pasti menerpa,hingga mata ini mulai terpejam, kutanyakan pada diriku, dan kutanya lagi mengapa rentang waktu itu tidak pernah bisa direnggangkan, memang pada saatnya kata ketika itu akan datang, masa itu akan tiba, dimana semuanya akan renta. Bergantung hanya pada dirinya sendiri. Waktu kembali dan kata ketika mulai muncul. Suatu waktu juga Kuterhenyak sekali ketika tangan itu mulai membaca garis – garis tanganku, ia berkata, hati – hati akan penyakitmu, seakan – akan ganjalan besar yang tidak pernah kutakutkan, aku selalu berpikiran bahwa hidup ini terlalu sayang untuk disia – siakan, berbagi, menikmati, berekspresi, ku tidak peduli kurenggangkan badan ini, kutarik sampai ke batas maksimal,

Kuterkaget – kaget, melihat wajah yang lain yang terkejut, dan berkata kapan istirahat itu pernah kau pikirkan, kau hebat sekali, dibalik pujian itu kuserasa ditampar, batas memang harus selalu direnggangkan. sekarang ku sadar bahwa, tubuh harus dihargai, mencoba bertatap diri, dan menghargai diri, mulai dari diri sendiri dulu, baru ke sesama. Yah mari kita mulai program 3 bulan kedepan, 65 kg J Mungkin kali ini kuterlalu berlebihan dalam merenggangkan batasan diri, 2 sayembara besar dan pekerjaan kantor yang semakin menantang, tubuh ini hanya 1, jika selama ini selalu kurenggangkan batasan itu, baru kali inilah sadar, bahwa kita memang punya batasan.

Seringkali kita tidak sadar akan arti ketika, ‘ketika’ itu ada di dalam dimensi waktu yang selalu mengukung langkah dan jejak tangan kita. ‘Ketika’ berbicara mengenai waktu, dimana segala sesuatu tidak akan pernah diperkirakan, detik dan menit tidak akan pernah cukup. seperti waktu jeda yang sebentar di antara kesibukan yang merintang.., waktu pun tidakkan pernah cukup. Pada akhirnya seperti kata si bayi kentang, pada waktu kita mendaki gunung, pertama kali kita akan merasakan keengganan dan keluhan dalam memulai, setelah semuanya selesai kenangan itu akan terasa begitu indah, mengerjakan sesuatu dan memikul tanggung jawab itu seperti membangun sebuah dam, setiap pekerjaan itu selesai dam akan bertambah besar, terkadang air dari beban tanggung jawab itu meluap keluar, seketika itulah terjadi letupan – letupan=p, apabila dam itu tidak mampu menampung air lagi, ia akan hancur, saat itulah kita masuk ke rumah sakit :))

kuingin memperbesar damku hingga ke batas horizon, sehingga mampu kunikmati setiap kenangan yang ada, nanti.

Louis I. Kahn Conversation with Students Princeton press publication

louis-kahn

In the realm of the incredible stands the marvel of the emergence of the column Out the wall grew the column. The wall did well for man. In its thickness and its strength, it protected him against destruction. But soon, the will to look out made man make a hole in the wall and the wall was very pained and said what are you doing to me?

I protected you I made you fell secure- and now you put a hole through me!” and man said “but I will look out, I see wonderful things and I want to look out. ‘And the wall still felt very sad. Later man didn’t just hack a hole through the wall but made a discerning opening, one trimmed with fine stone and he put a lintel over the opening and soon the wall felt pretty well The order o making wall brought about an order wall making which included the opening, then came the column which was an automatic kind of order making that which was opening and that which was not opening. A rhythm of openings was then decided by the wall itself which was the no longer wall, but a series of columns and openings. Such realizations come out of nothing in nature. They come out of a mysterious kind of sense that man has to express those wonders of the soul which demand expression

The reason for living is to express To express hate To express love To express integrity and ability.. All intangible things The mind is the soul. And the brain is the instrument from which we derive our singularity and from which we gather attitude. A story of Gogol could be a story of the mountain. The child and the serpent it could be chosen this way, nature doesn’t choose, it simply unravels its laws and everything is designed by the circumstantial interplay where man chooses art involves choice, and everything that man does, he does in art. In everything that nature makes Nature records how it was made In the rock is a record of the rock In man is a record of how he was made When we are conscious of this we have a sense of the laws of the universe. Some can reconstruct the laws of the universe from just knowing a blade of grass. Others have to learn many, many things before they can sense what is necessary to discover that order which is the universe. The inspiration to learn comes from the way we live; Through our conscious being we sense the role of nature that made us. Our institutions of learning stem from the inspiration to learn, which a sense of how we were made is. But the institutions of learning primarily have to do with expressing. Even the inspiration to live serves to learn to express. The institution of religion stems from the inspiration to question, which arises from how we were made.

I know no greater service an architect can make as a professional man than to sense that every building must serve an institution of man Whether the institution of government, Of home, of learning, Or of health, Or recreation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s