Kategori
lecture

Aurora – Itera Lampung

Terima kasih Himpunan Mahasiswa Arsitektur Swarnapada ITERA sudah mengundang untuk berbicara mengenai kejujuran di dalam arsitektur. Yang menarik adalah acara ini saatnya untuk menampilkan substansi yang otentik dengan dasar setiap arsitek perlu untuk berbuat radikal di dalam praktiknya. Lalu apa arti radikal di dalam praktik yang sebenarnya sifatnya situasional, bentang proyek terlihat dinamis di dalam hubungannya terhadap brief klien, perubahan metode – metode dan hasrat arsitek untuk melakukan inovasi.

Di dalam kuliah ini, saya akan mencoba membagi – bagi apa itu arti dari kejujuran, dan apa saja dampak positif yang timbul di dalam karya yang terdesain, hubungan antara dengan klien, tim, dan apresiasi dari publik terhadap karya arsitektur yang ditimbulkan.

Setiap momentum berbagi adalah sebuah saat untuk merefleksikan diri dengan kritis, berbagi adalah saat- saat membagi semangat kepada adik – adik kita, yang semoga bisa meneruskan tongkat estafet menjadi arsitek yang baik, juga jujur.

Himpunan Mahasiswa Arsitektur Swarnapada ITERA kembali hadir melanjutkan rangkaian acara Aurora 2.0, Webinar akan dilaksanakan dengan tema “Kejujuran dalam Arsitektur”.
Webinar kali ini kita mengundang praktisi arsitektur yang akan membahas topik menarik, bersama:
•Realrich Sjarif (RAW architecture)
•Andy Rahman (andyrahmanarchitect)
•I Ketut Dirgantara (DDAP architect)

Kami juga mengundang akademisi arsitektur dari ITERA yaitu Pak Rendy Perdana Khidmat yang akan mengisi seminar bertema “Kehidupan Berarsitektur: Studi di Luar Negeri”

📌Mark the date!📌
Webinar dilaksanakan pada:
22-25 September 2020

[BIAYA]
Early Bird 20k
Reguler 35k
segera daftar pada link berikut:
bit.ly/seminarAURORA

Informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
WA: 0821 8048 4671 (era) | 0812 7825 3110 (nabila)
Line: 1234efforta | nabilanurulp02
IG: @aurora.itera
e-mail: aurora.itera@gmail.com, Himarswarnapada, Aurora3.0, Webinararsitekur

Kategori
lecture

THE PROCESS OF BECOMING AN ARCHITECT

Thank u @himarsunikom, I will share how to have fun, get inspiration, talking about passion, starting firm, facing failures, and servicing clients, then nurturing next generation of avant garde architects wholeheartly
.
“THE PROCESS OF BECOMING AN ARCHITECT”
.
Haloo teman teman semua,
Sebagai penggiat arsitektur muda, kiranya kita harus dapat menelaah dan mengetahui seluk beluk dunia Arsitektur sedari awal hingga menjadi arsitek. Oleh sebab itu, maka HIMARS UNIKOM mewadahinya melalui sebuah webinar berdasarkan hal tersebut.
.
Free entry & limited slot.
.
Untuk pendaftaran webinar, dapat melalui link https://forms.gle/nnXXb7eJufB5f3CUA. (link tertera di bio @himarsunikom)
.
Free E-certificate
.
Untuk info lebih lanjut silakan hubungi :
Indra Hidayatullah = 081615482776
Muhammad Al Fariz = 082124618743
Via WhatsApp (Text only)
.himarsunikom, weproud, webinararsitektur, architecture, arsitekturjawabarat, salamkami

Kategori
lecture

Arsitek di Dalam Lingkungan Binaan

Pada 31 Agustus 2020, Arsitektur Pradita University mengadakan kuliah tamu bersama arsitek profesional Realrich Sjarief, IAI.

Beliau merupakan founder dari RAW (Realrich Architecture Workshop). Beliau lulusan dari Architecture Design Institut Teknologi Bandung (ITB) dan untuk gelar masternya di University of New South Wales (UNSW) dengan Urban Design and Development.

#praditauniversity#epiviosipradita#arsitekturpradita

Kategori
blog

Jalan yang Sepi

Minggu depan, kuliah S3 dimulai. Ada 3 mata kuliah yang saya ambil, pertama adalah mata kuliah wajib metodologi penelitian yang diampu oleh Professor Iwan Sudrajat, dan kolokium yang diampu oleh Professor Sugeng Triyadi, dan Dr. Ir. Himasari Hanan. Yang kedua adalah filsafat ilmu pengetahuan yang diampu Professor Bambang Sugiharto.

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil, Puisi dari Robert Frost.

Yang menarik adalah kenapa saya mengambil studi S3 ini, apakah ada waktunya ? lalu apa yang dicari ? Saya ingat satu kawan taruhlah namanya Abramovic menanyakan, atau bukan menanyakan tapi memberikan pernyataan yang cukup aneh mungkin terkesan punya presumsi tertentu,

“elo niat banget sih – semua mau – kantor mau / bikin buku mau / anak banyak mau / sekolah terus mau hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼”

mungkin pernyataan pertama “kantor mau” itu muncul dari observasi kawan saya ini bahwa saya sudah membuat studio Realrich Architecture Workshop (dikenal dengan nama RAW Architecture), dimana studio tersebut adalah tempat saya dan anak – anak saya bereksperimen. Kami berusaha untuk terus bereksplorasi, bertanya, dan mencoba mencari tahu mengenai kemungkinan – kemungkinan eksplorasi. Menurut saya yang menarik adalah membongkar kondisi kata “mau” sebagai predikat dan objectnya “kantor”.

Pernyataan kedua “bikin buku mau”, lebih kepada observasi kawan saya ini akan saya dan kawan – kawan sudah membuat beberapa buku di Omah Library, tempat dimana kami membuka wacana – wacana yang diskursif. Dimana buku – buku tersebut adalah hasil dari proses dialog – dialog yang ada, satu arah, dua arah, ataupun tiga arah, arah – arah tersebut ada di dalam perspektif orang yang lain yang dibangun dengan repetisi yang saling membangun.

Pernyataan ketiga “anak banyak mau”, berkaitan dengan kelahiran Heaven anak kami yang kedua (lihat artikel “Heavenrich Selamat Datang Surga”), setelah beberapa kali mencoba dan tidak kunjung berhasil. Disini mungkin perlu dilihat perjuangan Laurensia di dalam menahan suntikan demi suntikan, ataupun, proses – proses kehilangan buah hati kami yang membawa rasa syukur akhirnya Heaven lahir dan menjadi kesayangan kakaknya juga.

Pernyataan keempat “sekolah terus mau”, muncul dari observasi terhadap kemauan untuk bersekolah (saya coba balikkan kalimatnya). Hal ini dikaitkan dengan mungkin usaha mahasiswa untuk mendapatkan gelar S “3 (atau saya simpelnya berbicara kadang es tung tung)” dimana hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur sebagai pengajar. Proses tersebut adalah proses menemukan diri, dengan membongkar tatanan dengan sistematis, dan menyusun ulang dengan sistematis. Bu Himasari berkata pada sebuah saat tatap muka, “S3 itu bukan proses problem solving, tapi proses menemukan ilmu baru dengan pembacaan obyek yang diteliti.”

Saya merefleksikan darimana saya mendapatkan kondisi pemikiran untuk mau bersekolah kembali untuk meneguhkan kemauan diri supaya bisa berjalan sampai selesai (titik). Mungkin saya mencari sebuah oase perhentian, tempat untuk berpikir, berhenti sejenak, dan tempat untuk menilai, mendiskusikan, menambal, dan mengikis jelaga dari apa yang sudah dipikirkan, lakukan, rasakan. Mungkin manusia itu sebenarnya hanya menjadi jembatan yang berkelindan di antara dirinya dan orang lain, lalu kalau ditanya maunya apa, “kita berbagi kondisi – kondisi yang sama, dan juga berbeda, namun dari kesamaan tersebut kita bisa berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Kawan saya yang lain di satu saat Johannes Adiyanto mengirimkan pesan,

“beberapa teman yg ty sy ttg s3, selalu sy tanya, mo ngapain s3? cr pamor, ato cari apa? klo sekedar sibuk dan demi karir dosen… siap2….siap2 sakit semua badan, krn yg dikejar gak terlihat mas,perlu dari dalam sendiri, lha jenengan skrg dalamnya adalah suwung dan pasrah, ini modal, tp perlu ‘api’, ya itu tadi… pertaruhkan semuanya….” – Johannes Adiyanto

Teringat dahulu di dalam perjalanan karir di negeri Kuda Besi (kawan saya, yang lama tidak saya jumpai Marissa Aviana menyebut), dimana keputusan diambil dengan pertaruhan. Dan saya pikir, banyak orang juga mempertaruhkan banyak keputusan – keputusan dalam hidup masing – masing, dan kondisi – kondisi yang memicu pertaruhan tersebut membuat kita sedang berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Ini adalah tulisan saya sebelumnya tentang berbagi jalan, yang saya lampirkan juga puisi dari Robert Frost sebagai tempat refleksi :

SETIAP MINGGU WANITA TERBAIKKU SELALU BERANGKAT KE KLINIKNYA, TERMASUK HARI SABTU PAGI.

“Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa…”

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil.

“Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,

Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya

Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama

Dan memandang ke salah satu jalan sejauh aku bisa

Ke mana arahnya mengarah di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang jalan yang lain, sama bagusnya,

Dan mungkin malah lebih bagus,

Karena jalan itu segar dan mengundang

Meskipun tapak yang telah melewatinya

Juga telah merundukkan rerumputannya

Dan pagi itu keduanya sama – sama membentang

Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik.

Oh kusimpan jalan pertama untuk kali lain!

Meski tahu semua jalan berkaitan

Aku ragu akan pernah kembali

Aku akan menuturkannya sambil mendesah

Suatu saat berabad – abad mendatang;

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku,…

Aku menempuh jalan yang jarang dilalui,

Dan itu mengubah Segalanya.”Robert Frost [1916]

Dan seketika saya, tersadar, ternyata masih ada pernyataan terakhir dari kawan saya satu lagi itu yang mungkin memiliki presumsi, menyisakan Pernyataan kelima “hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼” yang saya anggap sikap sebagai kawan dan dukungan untuk perjalanan yang akan dimulai, dengan gestur terkekeh – kekeh.

dan memang hal itu mengubah segalanya, menjadi begitu menyenangkan :) .

lalu,

“Dang Dut Time !” mumpung sepi ngga ada yang liat, hi hi. Ayo jalan, ga usah dipikirin kaya ngga ada kerjaan aja.

Es lilin adalah makanan penyegar berupa es dengan batang kayu sebagai alat untuk dipegang.Hal ini seperti permisalan seperti es (S) 1, es (S) 2, es (S) 3. sebuah bentuk yang baku seperti lilin yang dicetak siap untuk disajikan. Ia bisa mencair, yang dinikmati bersama sesuai selera. bisa jadi semakin ditambah S nya akan semakin membeku mulut kita, atau apabila dinikmati perlahan – lahan, rasa beku tersebut akan melumer dan nikmat dimulut lengkap dengan jus jeruk, durian, nangka, stroberi, kopyor, atau yang lainnya sesuai selera) yang diberi batang kayu lalu dibekukan.
Kategori
blog

Tat Twam Asi | Dia adalah Aku, dan Aku adalah Dia.


“Dalam tradisi lisan, Arsitek melibatkan semua entitas yg [di]hadir[kan]. Arsitek sbg koordinator atas semua entitas yg hadir.
Pdhl masing2 entitas punya tingkat pemahaman yg beda2 satu sama lain dalam menafsir (cerita) arsitektur yg sama. Bagaimana menghadirkan keutuhan & kesatuan arsitektur, shg arsitektur bs diibaratkan sebagai orkestrasi yg terpadu antar masing2 entitas … memainkan improvisasinya masing2.” – Pudji P Wismantara

Kalimat di atas di atas dilontakan dari Pak Pudji P Wismantara mengenai cerita di dalam sesi presentasi mengenai Cerita Nusantara yang dibawakan oleh Anas Hidayat.

Dari diskusi yang terjadi sebenarnya yang dibahas adalah adalah soal dialog di dalam melihat berbagai pandangan, Arsitektur seperti karya sastra, bukan menulis karya ilmiah, menulis hal – hal yang konotatif ataupun denotatif, menulis simbol – simbol yang harus diisi, dan menjadi proses berkarya yang hidup. Hal inilah yang kemarin dibicarakan oleh Johannes Adiyanto soal dialog, ia mengelaborasi ini kedalam bentuk Trialog.

Cerita Pak Eddy Bahtiar tentang prosesnya di dalam The Guild, Guha, dan Mekarwangi

Pak Edy Bahtiar yang saya kenal adalah seseorang yang telah banyak membantu saya sejak pembangunan rumah Istakagrha, Mekarwangi, sampai ke proyek The Guild – Guha. Video ini adalah arsip untuk proses ketukangan yang sedang dijalankan di dalam studio di rentang tahun 2016 – 2017 – 2018 (tengah). Sekarang proses ini masih berjalan.

Data ini sebenarnya bertujuan untuk mendengarkan suara langsung dari dimensi tukang. Ada persepsi – persepsi yang khas dengan persepsi langsung dari Edy. Di dalam proses pembangunan, seluruh hasil memerlukan pertimbangan matang, terukur, dan pertimbangan dari insinyur struktur, MEP, dan saya sendiri untuk sebuah eksperimen arsitektur. Sebagai arsip data – data ini dibutuhkan oleh kawan saya Johannes Adiyanto yang menyusun sebuah konstelasi yang dinamakan Alfa menuju Omega, sebuah Trialogi Praksis.

Ini babak – babak yang ada di dalam video :

00.10 – Sebelum pak Eddy bergabung

07.30 – Cerita membuat 3 bentuk piramida – tumpang sari

12.20 – Tantangan demi tantangan

19.30 – Clue Catenary (membentuk pintu lengkung)

24.30 – Proses hampir selesai – 99 % proses bersama – sama 3

3.50 – Sebuah kemungkinan

Kita kembali ke diskusi Cerita Nusantara, saya ingat, Mas Nurudin pun menyambut dengan pernyataan tentang dialog di diskusi tersebut

“Arsitek mungkin bisa diibaratkan memberikan cerita awal. Barulah dari cerita awal tersebut masukan2 muncul terkait cerita itu. Tanpa cerita itu mungkin tidak ada dialog dan masukan. Seperti ngobrol di angkringan itu. Arsitek bisa menjadi “pemantik” obrolan. Arsitektur tidak mendominasi tapi justru membuka obrolan. cair sifatnya
kalau digital saya bayangkan mirip wikipedia. cair. terbuka. semua boleh ikut edit. Hanya saja mungkin yang perlu dipikirkan bagaimana menjaga akurasi informasi di era digital yang sangat masif arus informasinya (?)” – Nurudin

Kehidupan di dalam proyek cukup kompleks, dengan setiap orang memiliki posisi masing – masing, posisi arsitek, tukang, klien, kritikus, tukang, tetangga, dan begitu banyak posisi – posisi yang lain.

Aku adalah dia dia adalah aku, Prof. Oka Sarasvati membahas ini di dalam dialog di dalam bentuk tattwamasi. Tat twam asi berarti “itu adalah kau”. “Kau” di sini mengacu pada substrat yang tak lepas dari setiap individu. Hal tersebut bukanlah tubuh, pikiran, pancaindra, atau sesuatu yang dapat teramati. Hal tersebut adalah sesuatu yang paling dasar, jauh dari segala sifat keakuan. Dalam pengertian ini, “kau” berarti atman. Entitas yang dimaksud dengan kata “itu”, menurut Weda, adalah Brahman, realitas yang melampaui segala sesuatu yang terbatas. Intinya Tat twam asi adalah dia adalah aku, dan aku adalah dia.

Titik utamanya adalah adalah bagaimana membangun dialog yang saling merajut, seperti air yang mengalir.

Kemudian saya terkejut, ketika merasakan air mandi di satu hari di Mekarwangi-Piyandeling.

“dinginnnn”

Kategori
blog

RAW Architecture is Longlisted Emerging Architect in Dezeen 2020

Kami mendapatkan email dari Aisling Cowley dari Dezeen, tentang kabar baik untuk studio RAW Architecture. Jadi studio kami mendapatkan nominasi (long listed) berarti daftar panjang untuk arsitek yang “emerging”. yang berarti, baru muncul ( Emerging bisa berarti : becoming apparent or prominent.”established and emerging artists”).

Saya meminta anak – anak untuk menuliskan kesan – pesan di Studio. Ini pesan saya ke anak – anak sebagai harapan dan refleksi proses perjalanan kami, dan saya tuliskan disini dengan harapan untuk membangun kultur studio saling berdialog.

“Hi (guys)…tolong kasih pesan dan kesan ya, semoga bisa jadi harapan yang baik untuk proses yang terjadi.”

Ini satu dialog saya dengan Johannes Adiyanto,

“Realrich Sjarief : bagaimana bisa trialog, kalau dialog saja tidak pernah dilakukan
Jo Adiyanto: hahahaha…. bagaimana bercinta…. berkenalan saja antipati…..”

Paguyuban Spirit – I had learned that architecture is sacred, and is all about collaboration process. Our team consists of dedicated craftsmen, young designer, many of them are brothers, sisters, friends for life. None of these was of more use to me than the call for long lasting relationship. If any Outlier wished to be successful in his place, we helped them to rise, which all who were within hearing answered yes to the bright future of all of my fellow family. Then the nature will call of reciprocal rules, that every kind people deserve to be succesful, effort should be noted, and thanked for. It will be appreciated. That is the beautiful side of monumental architecture, that is creating memories for all of the people’s in.

Alifian adalah kepala studio RAW Architecture, dan ada beberapa orang yang juga memberikan kesan pesan tentang studio.

Alifian Kharisma – “kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang. ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda. kesan yang kedua yaitu: setiap orang di studio ini punya kepribadian masing2 yg unik. punya skill skill yg tidak terduga, jago bola, musik, jago joget, jago kerajinan tangan, dll. orang orang datang dan pergi. mereka punya kesan masing2 bahkan untuk orang yg cuma punya waktu 1 hari di studio. 😆. dari sini saya bersyukur kenal macam macam orang.”

Fadiah – “26 September 2020 nanti tepat 4 tahun saya bergabung dengan RAW Architecture. Bukan waktu yang sebentar tapi juga masih sangat dini dalam berkarir di dunia arsitektur. Untuk saya pribadi, proses pendewasaan dan perubahan pola pikir saya banyak terjadi dalam masa-masa tersebut. Saya beruntung dipertemukan oleh teman-teman dengan karakter unik yang akhirnya banyak membuka pikiran saya. Dunia arsitektur sangat luas cakupannya. Dulu saya kira dengan saya tidak mahir dalam mendesain … saya tidak bisa melanjutkan karir saya di bidang arsitektur. Tapi setelah saya masuk …, saya menemukan kenyamanan dalam pola kerjanya. Menggambar detail, mencari solusi untuk lapangan, diskusi dengan principal sampai mandor, mengenal material, dll. Memperhatikan proses dalam mewujudkan bentuk dari gambar ke bentuk nyata di lapangan memberi kepuasan sendiri untuk saya, …”

Vivi Yani Santosa – “Bagi saya RAW itu studio yang besar dan hebat, bangga bisa termasuk di dalamnya. Besar karena bisa memberi impact kebanyak orang (tukang2, kami yang ada di studio, dan Kak Rich n fam) buat sama2 belajar dan memberikan apa yang terbaik dalam diri ke orang luar (klien, keluarga, org sekitar spt Bang Yus, ataupun org lain yang baca artikel dari RAW atau OMAH). Hebat karena ada proses give and take, bisa berusaha membuka lapangan pekerjaan buat banyak tukang, termasuk membuat koneksi ke kontraktor … jg sesuatu yg hebat karena jadi sama-sama belajar dan membuka diri ke orang lain untuk saling percaya. Pastinya RAW jauh dari sempurna tapi saya merasa ada proses berjalan ke arah yang lebih baik lagi dan itu baik :) Disini saya jg merasa bisa belajar untuk lebih berani mencoba banyak hal, menyuarakan ide / potensi diri, mendapat feedback, belajar untuk memiliki komunikasi yang baik (ke tukang, ke teman, ke kak Rich), dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab lebih (karena apa yang dikerjakan pasti menyangkut ke orang berikutnya ataupun ke pekerjaan lapangan). Belajar juga kalau ada hal yang lebih fatal daripada kesalahan yaitu tidak mencoba atau malu bertanya…RAW harus terus maju tanpa memusingkan perkataan orang lain tapi mendengarkan saran yang membangun, jangan terlalu tergesa2 dalam semua hal, tp terus maju ke arah yang lebih baik…”

Thomas Andrean Santoso – “Hal yang paling berkesan selama di RAW adalah ruang untuk belajar. RAW adalah ruang untuk belajar mulai dari teknikal hingga hal mendasar yg bersifat attitude dan semangat.
Attitude dan semangat tersebut mulai dari semangat belajar, semangat kesejawatan, dan semua halnya untuk membuat karya yang semaksimal baik dan benar. Idealis memang, tapi itu yang saya rasa perlukan untuk bisa dikembangkan. Pesan untuk RAW dan OMAH untuk tetap semangat berbagi dengan insan arsitektur di Indonesia.”

Timbul Arianto- “Selama bekerja di RAW saya menemukan banyak sekali hal baru yang belum pernah sama sekali djalani, banyak insight baru, baik dari segi design maupun implementasi. RAW memberikan ruang dan memberikan kesempatan untuk seorang Freshgaduate seperti saya untuk dapat berkembang dan menemukan jati diri, mengenali diri. Bekerja di RAW melatih seorang individu untuk berfikir taktis mampu memilah-milah, mengenali, dan menyelesaikan masalah (problem) karna untuk mengenali masalah saja dibutuhkan knowledge yang cukup. Ekosistem yang terbentuk sekarang di RAW mengharuskan untuk setiap individu memiliki inisiatif dan berkapasitas besar, untuk saya sendiri hal ini cukup menarik dan menantang, melihat betapa dinamisnya jenis pekerjaan dan metode penyelesaiannya sehingga memunculkan berbagai excitement tertentu terlepas dari berbagai obstacle yang dihadapi. Saya sendiri menilai ini sangat baik jika boleh saya refleksikan terhadap diri saya untuk dapat berkembang dan memperoleh skill yang mumpuni, seperti belajar di sekolah favorit yang terus terpacu oleh diri sendiri yang terus berkontemplasi, berimajinasi dan berfantasi… saya sendiri yakin bahwa RAW banyak sekali berkontribusi terhadap pembentukan individu-individu yang sudah pernah dan sedang terlibat ikut serta dalam proses berkaryanya. segala yang baik akan terus dijalankan, dikembangkan, dan dilestarikan oleh setiap orang, …”

Riswanda Setyo Addino – “Hal yang menarik ketika ditempatkan pada kondisi lapangan yang dikatakan oleh orang Indonesia ‘tidak akan sama dengan teori’. Namun disini saya menemukan bahwa pendapat itu seharusnya mulai ditambahi ‘namun dengan teori yang fundamental kita bisa menata pikiran untuk menyelesaikan sebuah kasus secara rapi dan meminimalisir efek samping.’. Karena pada dasarnya yang menciptakan apa yang disebut sebagai ‘teori’ adalah praktisi juga namun dengan konteks yang berbeda. Namun konteks tersebut jika dirinci memiliki variable yang bisa jadi memiliki beberapa kesamaan dengan konteks yang kita hadapi. Sehingga ‘teori’ yang kita implementasikan nantinya hibridasi dari dua konteks, sehingga kita bisa mengatakannya sebagai ‘teori’ baru ke orang lain. Sehingga ‘teori’ tersebut sah-sah saja untuk digugat dan diuji dan pasti berbeda dengan situasi lainnya. Bisa jadi dari waktu, musim, insiden, kualitas manusia, tingkat referensi, dan tentunya teknologi…”

Agustin (Meimei) – “Beberapa hal yang didapat dari studio, yaitu saya belajar bagaimana untuk membuat keputusan, berkomunikasi dan berkoordinasi bersama tim, subkon, supplier, dan lainnya. Jujur lebih banyak pengalaman yang didapatkan di studio dibanding dengan di kampus. Untuk sistem yang sekarang dimana saya duduk di dekat kak Rich, awalnya membuat saya gugup. Tapi setelah mengalami, banyak hal yang malah membuat ekspektasi saya mental. Duduk di dekat kak Rich membuat masalah yang ada langsung terpecahkan. Memudahkan berdiskusi mengenai desain ataupun teknis. Saya juga dapat banyak pelajaran baru.”

Riko Yohanes – “RAW merupakan studio arsitektur yang progressif. Sebuah studio yang terus berkembang. Karenanya disini selalu terdapat ilmu-ilmu baru, sebuah tempat yang cocok untuk belajar menjadi seorang arsitek. Disini saya belajar tentang kemandirian dalam cara berpikir. Tentang bagaimana cara untuk tidak selalu disuapi dalam hal berpikir. Saya dituntut untuk memahami lebih dalam setiap permasalahan dan bagaimana men-solusikan setiap permasalahan secara mandiri yang kemudian di diskusikan bersama-sama dengan team. Sebuah kemandirian yang harus dimiliki setiap arsitek apabila inging menjalani petualangannya sendiri (memiliki biro sendiri).Selain itu saya belajar bagaimana membentuk mental saya sebagai arsitek. Bagaimana saya, seorang lulusan freshgraduate harus menginstruksi para pekerja di lapangan yang lebih tua puluhan tahun, dan seolah-olah menggurui mereka, sebuah hal yang aneh tetapi tetap harus dilaksanakan demi keberlangsungan proyek. Kemudian, dalam permasalahan di lapangan, saya dituntut untuk belajar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang urgent sekalipun, dan bersikap profesional untuk menjaga sikologi klien, sehingga disini mental saya terus diasah dan menjadikan saya lebih dewasa sebagai seorang arsitek…”

Arlene – “Kegiatan2 seperti makan siang dan makan malam bersama benar2 membangun kerja sama tim yg baik. Lalu yang paling berkesan adalah acara omah bittersweet krn menencourage orang2 untuk lebih lagi berjuang dan bertahan di industri arsitektur…”

Khafid – “Pelajaran berkesan yang saya dapatkan di kantor yaitu Berhubung saya masuk di divisi MK dan sering banyak kelapangan jadi saya lumayan cukup tahu bangaimana proses awal pekerjaan struktur pondasi, kolom, balok hingga selesai. setelah itu selesai selanjutnya, lanjut masuk mulai pekerjaan finishing disinilah saya harap saya mendapatkan hal baru yang sebelumnya saya belum pernah dengan tetap mengikutinya sehingga pengetahuan saya bukan hanya tentang struktur saja akan tetapi proses dari awal hingga endingnya atau sampai finishing selesai complete.”

Muhammad Alim Hanafi – “Pertama-tama saya bersyukur bisa dapat kesempatan belajar dan berkontribusi di RAW. Saya sangat merasakan bagaimana di RAW tidak hanya dituntut untuk bekerja saja, tapi juga untuk berkembang pada setiap individunya. Ekosistem pembelajarannya cukup terasa, seperti seolah pada tiap individu tim design dan build tertuntut untuk belajar dan ‘mengajar’ sesama…”

Dan saya juga meminta tim Omah Library untuk mengisi harapan tersebut sebagai bagian dari keluarga besar.

Amelia Mega – “Selama sekitar 8 bulan berada di OMAH Library, saya mempelajari dan melakukan banyak hal yang baru. Dari menulis manuskrip, wawancara, membuat acara, promosi, serta materi kuliah. Hal-hal tersebut kemudian mempertemukan saya kepada pengetahuan-pengetahuan baru (paling tidak bagi saya), dan mengetahui berbagai perbincangan tentang arsitektur yang kini sedang terjadi. Kesadaran ini kemudian turut membentuk persepsi-persepsi personal saya terhadap arsitektur, arsitek, dan ilmu yang melingkupinya. Saya merasa senang dan berterima kasih dapat melalui proses tersebut, karena kurang-lebih seperti itu yang saya bayangkan akan didapatkan saat mendaftar di OMAH…”

Dimas Dwi Mukti Purwanto – “Selama belajar dan bekerja di Omah Library memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya pribadi karena tempat ini benar – benar mampu membentuk pola pikir baru yang lebih baik bagi saya. Terlebih terkait tentang bagaimana cara bekerja secara profesional dengan mengetahui dengan benar beban pekerjaan yang harus diprioritaskan. Selain itu saya juga menambah skill menulis dan menemukan skill baru yaitu tentang bagaiman meriset hingga sedikit mampu melihat konteks yang kemudian dapat menentukan bagaimana tindakan yang relevan melalui kegiatan menulis…”

arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano.

arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano. Karya Levi Gunardi dimainkan oleh Euginia S. Sandjaja “Little Gamelan”

“Cara kerja Model Praxis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi refleksi dan refleksi atas aksi.Titik tugas arsitek adalah bekerja secara eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu kepada penerus kita, dunia yang indah bagi yang muda. arsitek.”

Praktik ini beroperasi berdasarkan konsep kontemplasi rahayu, yang diterjemahkan menjadi ‘harmoni. Ini berarti keadaan bebas dari prasangka dan ego, yang digunakan untuk memperoleh (secara paradoks) totalitas. Tiga prinsip dari konsep ini adalah: Memayu (membawa keindahan dan kedamaian ke dunia seseorang), Manunggal (percaya pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri), dan Mudheng (memiliki kesadaran akan peran seseorang di alam semesta). Dalam menjawab pertanyaan kontemporer (saat ini) untuk melanjutkan semangat eksplorasi.

Semoga harapan – harapan yang baik dari anak – anak studio bisa terus dipertahankan, dan diwujudkan. Hal – hal yang patut untuk ditingkatkan bisa diperbaiki, Rahayu perlu dipraktekkan untuk menjadi jembatan yang baik.

Lalu Miracle datang berteriak

“paaaa lava is coming,

lets go together, hiding, let’s play.”

Kategori
blog

Batas Langit itu Dimana ?

Satu waktu saya bertemu dengan Pak Daniel dan Bu Lany untuk mendengarkan rencana mereka membangun satu galeri baru di Kemang. Pak Daniel pun mengundang saya untuk bertemu di Modena Experience Center di Kuningan. Saya kenal pak Daniel dari klien kami Pak Danny dan Pak Edhie. Dan, ternyata Bu Lany juga kenal dengan Pak Budiman, salah satu arsitek yang saya kagumi karena dedikasinya yang tulus dan mengingatkan satu saat di presentasinya di Omah. Hal itu saya masih ingat sampai sekarang,

Saya bertanya ke Pak Budiman, “Pak apa rahasianya, … untuk tidak pernah takut ?”

Ia menjawab “Realrich hidup itu cuma sekali, jalanilah kenapa takut ? … ” dan Pak Budiman mengingatkan.

“jangan lupa sembahyang…”

kehidupan yang cuma sekali, ini bisa diibaratkan anak kecil yang sedang menari – nari di antara bintang, Lagu komposisi dari Levi gunardi ini menggambarkan, jiwa anak – anak di dalam persona yang berkelindan di antara harapan – harapan. Begitupun arsitektur ada di dalam alam tegangan keinginan banyak pihak, klien, tim yang tidak kecil.

Dari perbincangan Pak Daniel , terlihat ada bangunan lama yang sudah ada di lokasi. Saya berpikir bahwa perlu untuk melihat apa yang sudah ada dan kemudian menggunakannya dengan cermat untuk melakukan penghematan. Saya membuat janji untuk berkunjung melihat lapangan jam 11 di hari Jumat, kebetulan hari itu hari libur, jadi saya kesana sendirian. Kami berdiskusi di lapangan. Setelah mengecek lokasi yang bebas dari banjir, melihat ketinggian bangunan, kemungkinan layout ruang, saya mengusulkan untuk mengecek struktur bangunan. Prosedur pertama adalah pengecekan material apa yang bisa dipertahankan, posisi kolom yang menjadi batasan, dan kualitas struktur yang bisa dilihat secara visual. Saya mengirimkan pesan ke beliau,

“Hallo pagi Pak Daniel,Pak Daniel masih ada data existing yang saya masih belum dapetin data eksisting kuda – kuda atap, saya memerlukan data tersebut untuk bisa membuat konsep dengan pertimbangan yang lebih terukur. Apa saya bisa melakukan pengecekan lokasi kembali untuk melihat kondisi kuda – kuda atap ? Kalau tidak bisa hari ini tidak apa – apa, mungkin juga saya perlu buka langit-langitnya untuk cek keadaan kuda – kuda.”

Di awal meeting saya meminta kawan saya, Anwar Susanto untuk melihat bagaimana struktur bangunannya. Dari situ teridentifikasi beberapa bagian yang patut untuk dibongkar ataupun di tambal / diperkuat.

Satu minggu kemudian kami bertemu kembali dan saya memberikan sketsa beserta analisa ruang dan sirkulasi. Ceritanya adalah bagaimana mengembalikan memori akan kemang yang intim, bersahaja dengan mengakomodasi fungsi galeri yang baru , menggunakan pencahayaan alami.

Maket yang diadakan untuk diskusi mengenai layout ruang, dan kemungkinan penggunaan desain atap yang baru. yang penting disini adalah hubungan massa bangunan lama dengan bangunan baru dibelakang.

Saya ingat meminta tim untuk melakukan beberapa percobaan untuk merubah atap dari yang paling eksperimental dengan membuka pertimbangan sudut utara selatan, dan menggunakan bentuk – bentuk platonis dan kurvilinear. Pembuatan maket dimaksudkan untuk mendapatkan komposisi yang berbeda – beda dengan mempertimbangkan komposisi, sudut matahari, program ruang di bawahnya, dan metafora bentuk (literal ataupun esensial).

Ini adalah bentuk lingkaran, yang pada akhrinya kita kerucutkan untuk menyaring sinar matahari yang masuk ke ruang pamer.
Bentuk ini adalah metafora dari bentuk topi dengan skylight dengan tujuan mengurangi sinar matahari langsung.
sampai ke penggunaan bentuk perisan dengan intervensi skylight. Dan struktur bangunanpun disederhanakan dengan mengangkat atap sehingga cahaya matahari masuk dengan tidak langsung ke ruang pamer.

Di dalam membenahi layout ruang, konsep desain disusun dengan logika bangunan core disisi belakang berbentuk tubular dan memiliki ramp di belakang, meskipun pada akhirnya berubah fungsi menjadi ruang serba guna karena dinilai mereka membutuhkan fleksibilitas ruang yang tertutup.

Bagian fasade merupakan secondary skin yang menutupi seluruh tampak depan bangunan eksisting. Dinding secondary skin ini terdiri dari susunan modul bata berlubang yang berdiri di atas struktur baja CNP dengan pondasi sendiri dan struktur tambahan yang menopang ke atap dak bangunan eksisting. Bahasa material bata ini diadopsi dari beberapa proyek sebelumnya yaitu sekolah alfa omega dengan tektonika dengan susunan solid-void yang diadopsi juga dari proyek istakagrha dan rumah Henry.Secara fungsional secondary skin ini menyaring cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan serta memberikan privasi.

Eksplorasi kulit bangunan pun dilakukan dari sudut pandang ekonomis, artistik, dan kemungkinan – kemungkinan inovasi yang baru.

Ada kemungkinan – kemungkinan perbincangan sejauh mana, Galeri bisa berkelanjutan dari sudut pandang ekonomi dengan melakukan perbandingan studi, ataupun fungsi ruang yang fleksibel yang terkait dengan Galeri dari Modena yang melibatkan interior desain. Dan kemudian riset sejarah pun dilakukan untuk mengetahui sejauh mana galeri ini relevan terhadap kehidupan Kemang.

Setelah itu , tender pun dilakukan untuk memilih kontraktor. Dan puji Tuhan proses konstruksi sudah dimulai. Inilah hasilnya, dan perjalanan pun masih panjang. Tunggu ya cerita selanjutnya. Ini foto bersama tim, minus pak Daniel dan bu Lany, semoga suatu saat kita bisa berfoto bersama untuk mengenang proses desain, dan bangunan yang didesain dan dibangun bersama – sama dengan kolaboratif.

Dari yang paling kiri adalah Alifian, Nathan, Bambang, saya sendiri, Eko Nuryanto, tim Kencana Sewu, Rizal.

Sebenarnya proyek ini memiliki rentang waktu yang panjang, lebih panjang dari kontraknya sendiri. Di dalam prosesnya, untuk tipe proyek seperti ini komposisi tim disesuaikan dengan kebutuhan proyek, dan momentum yang baik untuk arsitek-arsitek muda untuk belajar, setiap proyek adalah sebuah kesempatan untuk belajar, seperti dokter yang berhadapan dengan pasien baru, dan kasus baru.

Kemarin saya meminta anak – anak saya untuk menulis satu atau dua kesan, untuk mendapatkan kenangan bersama.

Alifian Kharisma Syahziar (Kepala Studio Desain) menulis “kesan saya untuk proyek kemang sejauh ini: pengalaman yg baru dengan realitas proyek yang seperti nya lebih komplit dr yang pernah sy jalani di studio dari segi stages. mulai site analysis, skematik, DD, tender drawing, for con drawing, perijinan, meeting mingguan, MoM. saya bisa bertemu banyak stakeholder seperti proyek manajer, qs, kontraktor, konsultan2 lain. …. menurut sy portfolio bagus untuk kita sebagai studio dan individu mengingat proses nya yg komplit dan proyek nya adalah proyek bangunan publik,….proyek semacam ini adalah kesempatan yg baik bagi siapapun untuk bisa merealisasikan apa yg direncanakan dengan banyak pelajaran. proses desain yang cukup dalam, interaksi dgn orang luar lingkup raw, mensinkronkan pikiran, professionalitas, menguji kesabaran. 😁”

Dini Aghnia (Designer in charge) menulis ” … proyek ini memberikan pengalaman dan pembelajaran yg banyak sekali terutama dari aspek koordinasi dgn pihak luar krn berkesempatan untuk turun langsung bertemu stakeholder2 dan menjalani proses meeting rutin. … terlibat di dalam proyek ini adalah pengalaman yg menyenangkan walau harus bersabar cukup panjang untuk menikmati hasilnya, seperti membesarkan bayi sedikit demi sedikit. Selama perjalanan di RAW sampai saat ini selalu membuahkan kesan tersendiri untuk saya pribadi ketika didelegasikan untuk meeting/mengawas ke lapangan … selalu menjadi satu satunya perempuan di lapangan dan yg paling muda di antara semua stakeholder lain 😅 ini menjadi tantangan tersendiri juga karena harus bisa bersosialisasi dengan bapak2, tukang2, bahkan saya sampai menjadi akrab dengan security di plaza indonesia dan menara global krn sering ke lapangan saat itu… Thank you atas kesempatan berceritanya semoga bisa memberi insight baru dan membawa manfaat kedepannya 🙏 u “

Cerita di dalam rapat – rapat selalu berkesan, mulai dari bertemu Pak Daniel pertama kali, dan juga Bu Lany beliau bertanya, bahwa apakah saya mengajar ? karena cara presentasi dan cara melihat permasalahan berbeda dari arsitek yang sering beliau temui. Sebenarnya melihat showroom beliau dan interior ataupun arsitekturnya saya sungguh tersanjung studio kami diberi kesempatan untuk mengerjakan desain Artspace ini. Satu waktu saya rapat dengan Pak Daniel, saat itu kami membawa maket – maket studi yang ada di penjelasan sebelum. Dan terus terang saya sudah kehabisan tenaga hari itu karena tidak tidur semalaman. Ketika baru saja rapat ditutup dan selesai setelah kita rapat beberapa jam. Bu Lany masuk dan beliau minta diceritakan hasil desainnya, kemudian saya mengulang kembali presentasi dan mencatat perubahan – perubahan, untuk mengkalibrasi keinginan beliau yang dituangkan ke dalam kebutuhan ruang. Meeting berlanjut kembali kira – kira 1.5 jam setelahnya. Lidah saya sebenarnya kelu, dan keringat dingin mulai menetes, saya pun gemetar karena energi saya sudah mulai habis. Saya mengerti bekerja memang membutuhkan ketekunan dan kesungguhan, memang hal ini yang membuat berkesan, sebuah proses untuk melakukan yang terbaik.

Saya teringat satu saat Bu Lany bercerita, saya mau pakai kitchen designer yang ini bukan yang itu. Saya tanya “kenapa bu ? “

Untuk saya pertanyaan ini penting karena saya bisa mengetahui cara pandang klien di dalam menilai desainer atau pun arsiteknya.

Ia pun bercerita bahwa ada sebuah proses yang panjang untuk menata ruang, mencocokkan pernik – pernik, berdialog dengan orang – orang misal siapa yang akan mengoperasikan bangunan, ini senua adalah detil – detil yang kompleks. Ia sering berkata “Ini bagus tapi belum maksimal.” Ia memiliki standar yang cukup mencengangkan di dalam penataan pernik – pernik. Bu Lany bilang,

proses ini panjang dan saya tidak mudah memilih orang, saya akan berjalan bersama orang yang bisa punya nafas panjang bukan pendek,…”

Dalam hati saya berpikir, “lalu apa ya”

Ia menambahkan “so, the sky is the limit, seperti kami memilih kamu Realrich.”

Saya kembali ke judul tulisan ini. “Jadi batas langit itu dimana ? ” pertanyaan itu yang menjadi judul tulisan diatas, mungkin hal itu dimulai dengan membentuk hubungan relasi yang sehat, dan itu dimulai dari kepercayaan dan apresiasi yang baik. Dari situ saya menutup laptop, bersyukur mengenai proses di studio yang panjang dan berkesan.

Seketika saya melihat Whatsapp terus berbunyi. Wanitaku tercintaku, Laurensia memanggil,

“Sudah makan belum yang ?”

Terlihat diatas sketsa bangunan yang didiskusikan pada awal desain, dan gambar dibawah adalah tampak bangunan yang ditutupi kulit bangunan yang menggunakan tektonika bata sebagai penutup. Visualisasi oleh : Enomu Visual
Diatas ini adalah desain setelah menyesuaikan terhadap desain baru pedestrian jalan di Kemang yang lebih terbuka. Visualisasi oleh : Enomu Visual
Eksplorasi kulit bangunan pun dilakukan dari sudut pandang ekonomis, artistik, dan kemungkinan – kemungkinan inovasi yang baru.
Ini hasil setelah penggodokan terhadap, optimalisasi konstruksi, optimalisasi fleksibilitas ruang yang diperlukan, biaya, dimana atap diangkat seringan mungkin dari ruang galeri. Hal ini juga mempertimbangkan kondisi termal di dalam ruangan.
Pak Daniel menunjuk yudha sebagai Interior, kami berdiskusi bahwa space galeri perlu untuk bisa fleksibel sebagai ekstensi showroom dari Modena atau membuka kemungkinan terhadap fungsi – fungsi lain.

Terima kasih Alifian Kharisma dan Dini Aghnia Lukman yang masih Work from Home untuk kerja kerasnya yang masih mau menemani di proses – proses panjang dari rubah, rubah dan rubah, dan juga ke beberapa orang yang terlibat sebelumnya. Bambang Ardi, Eko Nuryanto, Kencana Sewu, Tanto , Rizal, Gunawan, Yudhanarta, Yudha, Nathan. Juga Pak Daniel dan Bu Lany.

Visualisasi 3d tampak depan: Enomu Visual

Kategori
blog

Rahasia Kehidupan ?

Di dalam acara Nusantara kemarin, saya teringat saya melemparkan anekdot ke Eka mengenai,

“Ka itu Spirit 45 sebaiknya dibubarkan saja. Karena memang berbasis kepada acara tertentu, perjalanan ke Paris.”

Saya sendiri sudah tidak memiliki kepentingan disitu. Mungkin yang tersisa adalah pengembangan ide mengenai Le Corbusier bahwa kami pernah berziarah bersama. Apabila ada ide tentang pengembangan buku dan sebagainya, saya melihatnya sebagai ajang romantisme bahwa sejujurnya saya dahulu ingin supaya kami bertiga (Eka Swadiansa dan Andy Rahman) tetap berdialog dan tidak saling meninggalkan, dimana ini adalah ranah personal, bukan bisnis dan juga bukan misi tertentu.

Mempelajari sesuatu yang baru, seperti berada menelusuri tempat – tempat yang rahasia. Seperti metafora taman, “Secret Garden” yang indah, proses menelusurinya yang berkesan, setelah proses itu dilakukan, lalu sudah saatnya kita kenang lalu kita menelusuri taman – taman rahasia yang lain.

Sebagai sebuah grup, secara personal dulu Eka mengirimkan email ke saya untuk membentuk Spirit 45. Yang menarik bagi saya adalah ajakan untuk berkunjung ke karya Le Corbusier selain menyiapkan turunan dari Arsitektur Vernakular, dimana saya percaya bahwa apa yang digagas akan mampu memberikan wacana untuk kontemplasi kami di studio.

Arsitektur Vernakular adalah arsitektur dengan pendekatan perancangan yang biasa, menggunakan bahan yang dipakai sehari – hari, bentuk massa yang sederhana, kulit bangunan menggunakan kekriyaan lokal, penggunaan layout yang platonis, dan juga sistem MEP, pemanfaatan energi dan air yang mudah didapatkan, tidak mahal. Ibaratnya lekat dengan kehidupan sehari – hari, kehidupan tanpa solek. Turunan ini sifatnya memang problematis, karena perlu menggali bagaimana sistem produk bekerja di dalam perancangan yang biasa.

Sarah Edwards menulis “Arsitektur vernakular, bentuk paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan manusia, tampaknya dilupakan dalam arsitektur modern. …merangkul tradisi regionalisme dan bangunan budaya, mengingat bahwa pemikiran ini … terbukti hemat energi dan sepenuhnya berkelanjutan. Di era urbanisasi dan kemajuan teknologi yang pesat ini, masih banyak yang dapat dipelajari dari pengetahuan tradisional tentang konstruksi vernakular. Metode berteknologi rendah untuk membuat perumahan yang secara sempurna disesuaikan dengan lokasinya adalah brilian, karena ini adalah prinsip yang lebih sering diabaikan oleh arsitek yang ada.” lihat link

Disinilah ada irisan antara kami, karena memang ada irisan terhadap apa yang dipercayai, bahwa arsitektur seharusnya bisa diturunkan dengan pendekatan – pendekatan spesifik tertentu.

Meta-Vernacular adalah teori arsitektur turunan yang dibahas di buku putih Spirit 45, sebuah terminologi yang digagas oleh Swadiansa untuk irisan kami, saya hanya berperan kecil di dalam buku itu, ia menyapa dan kami masih berkawan baik sampai sekarang. Di ranah profesionalitas bisa saja kami tidak sependapat namun tidak akan bertengkar secara personal. Ia pun masih berproses, dan saya mendukungnya secara personal. Ia melanjutkan kemudian dengan merajut Spirit 47. Teori seperti yang dibahas oleh Undi Gunawan adalah sebuah cara memandang, Meta Vernacular adalah turunan lebih lanjut daripada ranah vernakular sebagai aksi reaksi dari postmodernism. Saya sangat mendukung Eka di dalam menurunkan hal – hal ini, karena seseorang yang mengembangkan teori sangatlah jarang di Indonesia.

Setelah trip kami ke karya Corbusier di satu saat di kereta kembali ke Paris saya mengusulkan untuk membuat buku 0 dimana itu adalah buku awal mula, dan di hotel saya menelpon Anas Hidayat dari Perancis untuk memintanya menjadi penulis buku Andy Rahman karena saat itu saya sedang menulis beberapa buku dengan Anas Hidayat, dan saya pikir ia akan mudah berkerjasama dengan Andy selain ada kemungkinan kepentingan bisnis yang bisa baik untuk kedua belah pihak. Buku Nata Bata selesai, saya menantikan buku Static City dari Eka. Namun waktu dan jalan hidup berkata berbeda. Karena saya kehabisan waktu menunggu dan Eka memiliki momentum untuk mengembangkan hal yang lain.

Saya memiliki ide untuk menerbitkan beberapa hasil riset kami berupa buku – buku saya tulis beserta kawan – kawan di Omah Library, juga Anas Hidayat, dan Johannes Adiyanto hanya karena saya merasa dekat, dan ada teman seperjalanan, tidak kurang dan tidak lebih, alasannya pun cukup personal. Setahun setelahnya, saya merefleksikan kembali, banyak yang sudah dilakukan, dan didiskusikan. Bahwa ada yang tidak sejalan itu normal ataupun semuanya yang sejalan itu pun juga wajar – wajar saja, dan hubungan personal akan baik – baik saja di antara kami.

Kemudian apa yang saya takutkan bahwa Spirit 45 sebagai alat untuk agenda-agenda personal tertentu (bisnis, ketenaran, dan ambisi pribadi tertentu termasuk saya sendiri), dan saya memang pernah dan sudah jadi bagian disitu. Suka atau tidak suka disclaimer diperlukan untuk menjaga hubungan antarpersonal yang lain.

Sementara bola sudah bergulir,

jadi bagaimana ?

“Eh jangan mas, di-peti es kan saja, sampai satu saat cair kembali, atau beku selamanya.”

Satu saat kawan saya bergumam. Bisa ya ? karena sekali bergulir tidak bisa kembali itulah namanya Snowball Effect, ataupun hal tersebut sering dibahas di dalam terminologi perubahan iklim (climate change).

lalu apa. Minggir ae lah ya, ke ladang membajak sawah, berproduksi dan berhenti dan kemudian berteriak – teriak “kerja – kerja – kerja.”

Sejenak saya sadar dan bangun, bahwa belenggu kultural tercipta kembali, setiap orang punya peperangannya sendiri dan kontemplasinya sendiri, dan itu sah – sah saja. Belenggu kultural akan muncul apabila apa yang kita proyeksikan menjadi kenyataan dan hasilnya pun kita tidak akan bisa tebak arahnya kemana. Ada yang menggelinding ke ranah bisnis, ada juga ke ranah misi tertentu, ada juga ke ranah yang personal. Bola saljunya pecah ke segala arah.

Sejenak saya ingat cerita Phytagoras dimana ia harus memilih antara permainan publik, politik, permainan ketenaran dan kuasa untuk menang atau paling mudahnya, hegemoni. Seperti yang dikutip dari Simon Singh


“Kehidupan… mungkin bisa diperbandingkan dengan sebuah permainan di dalam keramaian. Beberapa orang tertarik dengan seberapa ia bisa memperoleh keuntungan, sementara yang lain tertarik oleh harapan dan ambisi akan ketenaran dan kemenangan. Tapi di antara mereka, ada beberapa yang datang hanya mengamati dan memahami semua yang terjadi di kerumunan dan lalu lalang disini.”

“Sama juga dengan kehidupan. Beberapa orang terpengaruh akan cinta akan harta dimana yang lain buta akan kekuasaan, dan keinginan untuk mendominasi. tetapi tipe manusia yang terbaik memberikan dirinya untuk menemukan arti dan tujuan kehidupan. Ia akan mencari untuk mengungkap rahasia kehidupan. Orang ini yang saya sebut, filsuf, meskipun tidak ada orang yang sepenuhnya bijaksana, ia bisa mencintai kebijaksanaan akan sebuah kunci untuk memahami rahasia alam.”

Tiba – tiba ada suara hangat kembali menyapa. Kali ini disertai dengan sentuhan halus.

“Kerja Kerja Kerja, Bangun!”

Lalu saya bangun dari mimpi, muka Miracle tepat di depan saya, Heavenpun menangis dan sepertinya semua baik – baik saja, tidak terlihat bola salju yang besar itu, mungkin saya sedang berhalusinasi.

Kategori
blog

Eh baru tahu ya, makanya Jangan asyik sendiri.

Baru beberapa minggu terakhir saya disibukkan dengan banyak pertanyaan tentang tradisi dan kekinian, kali ini tentang Arsitektur Nusantara. Ada satu mahasiswa lagi aneh – aneh saja nanya ke saya. Dari cara ia bertanya saya sudah bisa merasakan kadar kesontoloyoannya.

.
“Pak saya ngga suka sama arsitektur nusantara soalnya kok katro gitu sih pak ngga modern.”

.
Jawab saya “Lho kamu ngga boleh gitu dong masa prejudice gitu sih, memang kenapa sama arsitektur nusantara orang itu bukan bangunan desain kamu ya, silahkan saja kan kalau orang mau mendesain sebebas dia, masa kamu mau jadi polisi. “
.
Tapi kemudian saya pikir mungkin mahasiswa ini ada benarnya, lalu saya tanya lagi sama dia.
.
“Memangnya kenapa kok kamu ngga suka sama Arsitektur Nusantara ?kamu ngga suka sama arsiteknya atau karyanya. Dia menjawab ya pak, soalnya ya saya ngga melihat ada yang baru, pendekatan – pendekatannya sudah kuno kan Romo Mangun pernah membahas ini pak waktu membahas tentang AMI (maksud dia adalah Arsitek Muda Indonesia). Kan karyanya Romo juga melakukan pendekatan yang sama.”

.
Kemudian saya mengingat – ngingat, kalimat yang dituliskan almarhum Ahmad Djuhara di dalam buku AMI 2. ” Dalam salah satu acara Forum AMI…mendiang Romo Mangun menyatakan hal yang menyentak teman – teman : “Karyanya bagus, tapi kuno!” Menurutnya tidak ada temuan, terobosan, konsep baru tentang arsitektur, elemen arsitektur, program dan dalm semua skala, dari furnitur (kursi, misalnya…) sampai kota (yang menjadi mainan Le Corbusier atau Otto Wagner.” Saya mengingat satu kata yang merupakan komposisi musik yang dituliskan oleh Levi Gunardi. Dahayu dalam bahasa Sansekerta, artinya Cantik. Seperti arti nama Dahayu, ibu dan wanita memiliki peranan penting yang mengayomi. Setiap bertemu orang baru, mahasiswa didik, sisi mengayomi akan dibutuhkan untuk membantu mereka menembus batas. Untuk diayomi kita perlu mengayomi, untuk diiyakan kita perlu mengiyakan, hal ini sifatnya resiprokal.

Dahayu dalam bahasa Sansekerta, artinya Cantik. Seperti arti nama Dahayu, ibu dan wanita memiliki peranan penting yang mengayomi. Setiap bertemu orang baru, mahasiswa didik, sisi mengayomi akan dibutuhkan untuk membantu mereka menembus batas. Untuk diayomi kita perlu mengayomi, untuk diiyakan kita perlu mengiyakan, hal ini sifatnya resiprokal.

.
Kemudian, saya tersadar. “Sontoloyo” ternyata anak ini canggih juga, lalu saya tanya lagi

“jadi mau kamu apa ?”
.
Ya saya itu tertarik bukan hanya soal bentuk pak, atau nama saja, tapi bagaimana satu bangunan itu didesain secara pintar oleh arsiteknya bukan hanya mengulang – ulang jargon – jargon yang menjemukan sembari ia mengulang apa kata Romo Mangun dengan mengganti kata AMI dengan Arsitektur Nusantara.
.
Lalu gimana saya tanya ?
.
Lha iya pak kalau gitu nanti kalau saya dapat klien, saya akan buat karya saya sendiri.
.
Nah gitu dong, tunjukkan pada dunia jalan yang berbeda. Kata saya ke anak ini
.
Ia lalu berseloroh, tunggu pak saya belum selesai, dan akan saya namakan arsitektur saya Arsitektur Indonesia.
.
“Kenapa” saya tanya ke dia,
.
Iya pak Nusantara itu identik dengan kolonialisme.
.
Waduh, nak kamu baca apa aja sih.
.
Dia menjawab Wikipedia pak,

Ia lalu berseloroh, tunggu pak saya belum selesai, dan akan saya namakan arsitektur saya Arsitektur Indonesia. “Kenapa” saya tanya ke dia, Iya pak Nusantara itu identik dengan kolonialisme. Waduh, nak kamu baca apa aja sih. Dia menjawab Wikipedia pak.

Saya kemudian tersenyum, sontoloyo tenan. Pelan – pelan saya balik ke meja saya membuka referensi buku – buku untuk saya bagikan ke anak ini, salah-satunya adalah novel Romo Mangun mengenai burung – burung Manyar, kekuatan berproses bercinta di dalam arsitektur dan untuk tetap menjadi sontoloyo. Teruskan dik untuk meredefinisi Arsitekturmu ! Hal ini membuat saya tertarik untuk melihat diskursus identitas di dalam Arsitektur Nusantara … ups atau .. Indonesia.

Saya ingat di dalam acara di Omah Library, Abidin Kusno mereposisikan 5 buah posisi untuk Nusantara.

Saya ingat di dalam acara di Omah Library, Abidin Kusno mereposisikan 5 buah posisi untuk Nusantara. Abidin menempatkan posisi Josef Prijotomo di dalam kuadran ke-5 sebuah resistensi untuk kesetaraan. Kritisisme yang diperbincangkan di dalam diskusi terlihat bagaimana keresahan kawan – kawan terhadap arsitektur nusantara ini yang membuahkan posisi ke 6, yaitu penggunaan istilah Nusantara sebagai sebuah komoditas.

Abidin menempatkan posisi Josef Prijotomo di dalam kuadran ke-5 sebuah resistensi untuk kesetaraan. Kritisisme yang diperbincangkan di dalam diskusi terlihat bagaimana keresahan kawan – kawan terhadap arsitektur nusantara ini yang membuahkan posisi ke 6, yaitu penggunaan istilah Nusantara sebagai sebuah komoditas.

Eka, Roro, Alva, Cahyo dan rekan – rekan lain menggarisbawahi posisi selanjutnya ke 7 dan 8 untuk memberikan posisi bahwa nusantara bisa membuka wacana dekolonialisasi. Namun hal ini sungguhlah perlu studi yang tidak sebentar mengenai penemuan – penemuan lanjutan para intelektual, dimana ini merupakan kerja bersama.

Ada saya inget beberapa kalimat dari Roro Damar di dalam perbincangan.

” Pak Abidin, saya ada pertanyaan :

  1. Nusantara salah satunya menjadi popular karena ada doktrinasi dari pemerintah dalam dunia pendidikan, sehingga masyarakat secara blindly percaya Nusantara adalah jaman ‘keemasan’ Indonesia di masa lalu, despite the problematic history. Saat ini
    Nusantara dan Arsitektur Nusantara sudah dimaknai secara ‘dogmatic’ oleh pendukungnya, seakan jadi satu2nya ‘the most authentic’ identitas dr Indonesia. Bagaimana pak Abidin
    menanggapi ini?
  2. Nusantara sangat Javasentis, bahkan saat ini Arsitektur Nusantara ditolak oleh beberapa elemen masyarakat di perifer Indonesia karena mereka tidak pernah merasa ‘dijajah’ Majapahit. Bukankah Nusantara dan Arsitektur Nusantara ini bentuk penindasan budaya juga jika memaksa mereka ‘bersatu’ di bawah ide ini? Dan fakta bahwa Majapahit berarti adalah imperialist, apakah etis negara yang telah dijajah 3,5 abad kemudian merefer pada glorious history kerajaan imperialist?
  3. Arsitektur Nusantara yang saat ini ramai digaungkan oleh arsitek Indonesia seakan hanya representasi middle class, dengan ide idealnya menggunakan material lokal, ornament daerah, dll. Sementara masyarakat marginal terpaksa menggunakan material
    fabrikasi krn itulah yang terjangkau oleh mereka, karena himpitan ekonomi. Dengan rumah yang tidak ‘Nusantarais’ seakan membuat orang2 marjinal ini bukan termasuk orang
    Nusantara. Bagaimana harusnya menempatkan ide Arsitektur Nusantara diantara kompleksitas dan himpitan geo-politik, sosial dan ekonomi saat ini? Mungkinkah kita membuat garis mana yg merupakan identitas bangsa, dan mana yg bukan? Terima kasih pak.”

Pertanyaan ini dijawab Abidin Kusno dengan jelas bahwa intinya kita mengalami sebuah problematika dan perjalanan untuk mencari kesejatian itu sendiri juga problematis dan tidak produktif. Ia menyarankan bahwa perlu dilihat bahwa apa yang telah dihasilkan melalui klaim “arsitektur nusantara”? Abidin memprediksi kemungkinan karena genealogi kata “nusantara” itu adalah dari para political elite, maka ia cenderung “elitis” atau
“propagandais.”

Untuk menurunkan sebuah istilah menjadi sebuah dasar teori, perlu perdebatan dan perbincangan, untuk melihat apa makna dan arti sesungguhnya sebuah wacana. Dari diskusi di atas kita bisa belajar bahwa perdebatan diperlukan tanpa ad hominem (personal) dan pretensi – pretensi yang tidak diperlukan.

Di balik layar saya mencari – cari pak Josef Prijotomo, ia tidak hadir di acara tersebut. Padahal saya khusus menginginkan dialog ini terdengar oleh pak Josef, dimana apresiasi diberikan untuk sebuah perjuangan, resistensi demi kesetaraan.

Saya jadi teringat ketika saya mengirimkan tulisan Madeg Pandhito ke pak Josef Prijotomo. Ia menjawab,

“Terima kasih. Saya tidak pantas bila diberi label “madeg pandhito” sebab saya bukan pandhito, saya hanya soso(k) yg ekstrimnya boleh disebut pINandhito, yakni sosok yang mesti berperan bagaikan pandhito (=pinandhito) saat harus membawa murid saya ke ladang kebijaksanaan (wisdom, sophia)”

saya membalas, “nah terima kasih pak sudah membawa ke ladang tersebut :)…kita semua mesti memainkan peran tersebut kan pak.”

Saya jadi berpikir ulang memang sang pINandhito sudah tidak perlu hadir lagi, karena tidak ada peran untuknya, baginya ia akan muncul begitu muncul peran. Seni peran memang membutuhkan sebuah pertunjukkan. Untuk mendalami wacana dibutuhkan kacamata di luar panggung(lingkaran) itu sendiri.

Saya tertarik justru akan cerita dibelakang panggung, tulisan perspektif 4 titik.

“Alhasil disini kita bisa belajar mengenai semangat di dalam backstage ini, elemen yang terpenting namun sering dilupakan, panggung seringkali menyilaukan dengan hingar bingarnya, merah kuningnya, namun terkadang, semangat backstage ini sendiri adalah jiwa dari panggung tersebut, semua ini sama seperti dunia kerja, maupun apapun yang ada di hidup kita, back stage itu hati, jiwa dan proses, dapur dari pikiran kita …panggung itu hanya pemanis dan pupur kiasan, yang terkadang menipu. di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan ini.”

Hal ini membuat saya melihat – lihat grafik tentang sejauh mana isu – isu yang dibahas ini relevan terhadap masyarakat melalui data – data. Di hari minggu kemarin saya berdiskusi dengan Mohammad Cahyo Novianto, mengenai sejauh mana Googletrend bisa memetakan beberapa isu terkait hal yang sederhana yaitu “kata kunci”. Ini setidaknya bisa menelisik tentang sejauh isu – isu arsitektural menjadi relevan dengan masyarakat dengan grafik – grafik yang sederhana. Dimana kalau dilihat di dalam beberapa diagram yang di gambarkan dibawah ini, bahwa isu arsitektur sudah jauh berkurang dibanding tahun 2004 – semakin menurun.

Diagram 1. Dimana kalau dilihat di dalam beberapa diagram yang di gambarkan dibawah ini, bahwa kata kunci “arsitektur” sudah jauh berkurang dibanding tahun 2004 – semakin menurun
Diagram 2. Demikian juga apalagi dengan kata kunci “Arsitektur Nusantara” yang juga menurun.
Diagram 3. Namun apabila diperbandingkan terminologi arsitektur dengan lingkungan, bisnis, ekonomi, dan sebagainya. Terminologi tersebut lebih penting daripada isu – isu elit, atau eksklusif “arsitektur”, hal ini membuktikan bahwa isu arsitektur masih berjarak dengan masyarakat.
Diagram 4. Kata kunci “Arsitektur” tersebut dibandingkan dengan kata kunci “Indonesia”

Apabila dilihat sepanjang masa, apa yang paling populer. kita bisa melihat bahwa facebook memberikan juaranya, disusun oleh Instagram yang lebih besar daripada isu negara, misal China, America, ataupun Indonesia. Selamat datang jaman digital.

Diagram 5. Apabila dilihat sepanjang masa, apa yang paling populer. kita bisa melihat bahwa facebook memberikan juaranya, disusun oleh Instagram yang lebih besar daripada isu negara, misal China, America, ataupun Indonesia.

Dibalik seluruh acara webinar yang diadakan di Omah Library, saya jadi berpikir, sejauh mana wacana yang diberikan di perpustakaan menjadi relevan dengan kawan – kawan arsitek.

Tiba – tiba ada suara hangat menyapa,

“Eh baru tahu ya, makanya Jangan asyik sendiri.”

Kategori
blog

Mengenal Arsitektur Indonesia

Suatu hari di saya bertemu dengan satu kawan saya, ia senior saya yang berumur beberapa tahun diatas saya. Saya belajar menulis, dan mendesain dari dia. Satu saat ia menelpon saya, nadanya gusar seakan – akan seperti baru kejambret di pasar atau seperti rumahnya baru saja kemalingan.

“Bro lu ada waktu gue mau cerita”

Kemudian berceritalah ia mengenai kejadian – kejadian disekitar dia melihat media dan perasaannya. Ia punya perhatian bahwa etalase arsitektur Indonesia hanya milik segelintir orang tertentu, orang yang dominan, orang yang itu – itu saja. Parahnya media juga menselebrasikan hal tersebut. Ia memberikan contoh mengenai beberapa pameran sebagai referensinya bahwa hanya segelintir orang yang dominan yang dimasukkan terkait dengan hegemoni kekuasaan. Yang menariknya justru narasinya berbicara kebalikannya.

“Namun terlepas dari semua itu, kami hanya berharap ada yang dapat kita semua sama-sama pelajari dari penyelenggaraan pameran “Segar” ini. Jika tidak mengenai teknis penyelenggaraannya, dan jika tidak mengenai karya-karya yang ada di dalamnya, paling tidak kita bisa sama-sama belajar mengenai kekerabatan, kesejawatan dan kehangatan yang terjalin dalam tiga hari penyelenggaraannya.” (lihat link diatas Segelintir Wajah Arsitek Indonesia–Pameran “SEGAR” – )

Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup… Kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, …

Mungkin kawan saya ini berpikir bahwa atas nama Arsitektur Indonesia, kenapa yang ikut hanya seputar arsitek yang itu – itu saja, apa yang digunakan atas nama Indonesia. Perasaannya itu malah berkebalikan dengan narasi pamerannya, kok malah begitu sih.

Saya bertanya ke kawan saya ini untuk memancing dari mana asalnya muncul kekesalan ini.

“Bro bukannya wajar hal ini terjadi, kan sah – sah saja satu orang lebih terkenal dari orang lain, kalau memang lu mempermasalahkan ketenaran ?”
.
Ia menjawab, “Bro ini bukan urusan cari duit atau rejeki aja atau urusan cari pamor aja, atau urusan keberuntungan segelintir orang saja. Ini urusan kebanggaan kita bersama. Lu setuju ngga kalau ini urusan Arsitektur Indonesia urusan kita bersama ?” Urusan duit ini dibahas di dalam tulisan Madeg Pandhito.

Di dalam hati saya berkata ke diri saya sendiri, orang ini boleh juga, setidaknya ada dedikasi dirinya untuk orang lain, tulus juga. Lalu saya bertanya ke dia

“lalu lu maunya apa, gimana caranya ?” Saya suka kalau dia sudah menggebu – gebu seperti ini.
.
“Begini bro sejak jaman dulu Indonesia terkenal dengan politik Identitas bro, ini yang perlu kita kritisi.”

“Gue punya caranya bro yang sederhana tapi mengena”
.
“Apa bro ?”
.
“Pertama semua harus tahu bahwa arsitektur itu ngga cuma soal arsitektur bro, ilmu ini punya hubungan dengan disiplin yang lain, ngga autis, ada lingkungan, ada sosial budaya, ada ekonomi, ada juga isu ideologi. Lalu ada beberapa tahapan untuk memajukan isu ini lebih dalam dan luas, kita bisa mengambil contoh di CIAM atau, di Jepang dengan gerakan Metabolist.”

Lalu ? Saya bertanya lagi penasaran dengan isi otaknya. Saya bertanya lagi dengan beberapa lalu, dan akhirnya ia menimpali.
.
“Ya dengan mengerti hal tersebut arsitektur bukan cuma milik kalangan tertentu bro, arsitektur Indonesia itu punya semua orang. Dan kita perlu punya platform yang memiliki nilai itu. Lu tau kan senior gue itu sukanya main politik identitas?”

lha ? lalu saya bilang, lah ujungnya ini tentang personal dong, hubungan elu sama senior lu bro, mana ada urusan sama Arsitektur Indonesia ?
.
ngga usah ngurusin orang lain lah bro kita urusin diri kita sendiri aja lu tau nanti lu juga punya murid,
.
dan ada pepatah bilang kan bro

“Murid jatuh tidak jauh dari gurunya ?”
.
Kawan saya ini menjawab “Asem lu,
setidaknya gue kan mau merubah keadaan bro.”
.
Kemudian saya pun menyambung “Nah karena itu gue bersyukur lu jadi temen gue bro”

Ini adalah diskusi – diskusi sederhana mengenai politik identitas. Saya percaya bahwa hal – hal yang besar dirajut dari semangat – semangat kecil untuk menembus empati yang lebih dari sekedar mencari identitas, yaitu semangat persaudaraan. Dan perasaan bahwa diri saya atau kita bukan siapa – siapa. Apresiasi kita bisa lantunkan ke kawan saya satu ini yang sungguh gelisah akan sebuah perubahan. Perubahan itu perlu ditetapkan dulu di hati. Lalu baru kita cari jalan tengahnya.

Mari yuk..

lalu di Whatsapp grupnya, muncullah satu poster tentang pameran di Rio dan teman saya bergumam, “jancuk”.

dan saya pun membalas, “yess, jadi ada bahasan lagi, jadi saya tunggu responmu kawan. ” cerita ini akan bersambung dan akan ada skenario – skenario lanjutan mengenai Arsitektur Indonesia.

Catatan :

1. Pameran Segar dibahas di https://sugarandcream.co/segelintir-wajah-arsitek-indonesia-pameran-segar/

2. Identitas dibahas oleh Professor Kemas Ridwan Kurniawan di dalam https://www.researchgate.net/publication/322660754_DINAMIKA_ARSITEKTUR_INDONESIA_DAN_REPRESENTASI_’POLITIK_IDENTITAS’_PASCA_REFORMASI

Kategori
blog projects publication

Guha is in the 50 best-houses of 2020 so far

Thank you for Archdaily we’re in the article by Victor Delaqua

Here is the link of the article

We’ve recently passed the halfway point of 2020, and to date, we’ve published hundreds of residential projects featuring distinct ways of living on ArchDaily. In a year marked by the worst health crisis that humanity has experienced in the last century, the Covid-19 pandemic, the house has gained new meanings and values, reiterating that no matter how diverse its program, a home’s purpose is to shelter its inhabitants.

Context, topography, scale, materials, budget and user desires are a range of aspects (and challenges) that define the most varied architectural solutions. It is no surprise that residential works are the most popular project category on ArchDaily. In the list below you’ll find the residences that gained the most interest, featuring the 50 most popular projects across the whole ArchDaily network during the first half of 2020.