Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Berbagi Sebagai Sumber Kekuatan di Tengah Kompetisi Profesi Arsitektur

Di profesi arsitektur yang kompetitif, mencari kawan untuk berdiskusi tanpa transaksi ternyata tidak mudah. Banyak orang sibuk membangun namanya sendiri. Perbincangan lebih sering soal omzet dan jumlah tim daripada soal karya atau filosofi. Tapi belakangan saya sadar, sebagian masalahnya ada pada cara saya sendiri memandang pertemanan.

Puncaknya di masa pandemi, dari luar saya terlihat produktif. Undangan terus berdatangan, kami mengadakan webinar dan workshop, karya terus lahir, nama saya muncul di banyak tempat. Saya mengolah apa yang masuk akal, banyak diskusi dengan klien dan entrepreneur sampai sekarang. Jadi profesional berarti mendapatkan banyak kesempatan kontrak, kepercayaan, dan reputasi, namun lagi-lagi di balik layar profesi, saya merasa benar-benar sendirian.

Saya hadir di mana-mana secara digital, webinar dan tulisan, namun berbagi lewat layar ternyata tidak pernah cukup. Kegelisahan itu dituangkan sampai sekarang dalam penulisan buku-buku. Masa itu tetap menjadi salah satu masa paling produktif juga sepi dalam hidup saya, di balik kesibukan sebagai arsitek profesional.

Saya arsitek, dan saya belajar membuat kreativitas mengalir justru dari hal-hal yang paling saya takuti sendiri: rasa sepi, gelap, sampai merasa putus asa. Menulis buku membantu, tapi rasa itu tidak sepenuhnya selesai. Saya bahkan sempat kebingungan, padahal saya punya pengalaman praktik yang panjang.

Di masa pandemi, dari luar saya terlihat produktif. Undangan terus berdatangan, kami mengadakan webinar dan workshop, karya terus lahir, nama saya muncul di banyak tempat. Tapi di balik layar, saya merasa benar-benar sendirian. Saya hadir di mana-mana secara digital, terhubung dengan ratusan orang lewat kamera dan tulisan, namun berbagi lewat layar ternyata tidak pernah mengobati kesepian. Meski saya sudah menulis sepuluh buku, masa itu tetap menjadi salah satu masa paling sepi dalam hidup saya.

Dari pandemi, saya belajar bahwa ada jarak yang tidak bisa dijembatani oleh koneksi internet, sehangat apa pun kata-kata yang dipertukarkan di sana. Dan dari perbincangan-perbincangan yang dangkal itu, kadang hidup terasa sulit, seolah penuh jebakan yang membuat kita merasa tidak pernah cukup. Saya tidak selalu tahu apakah perasaan itu datang karena saya sedang lelah, atau karena saya sedang mencari jalan untuk bertumbuh.

Saya bahkan sempat kebingungan, siapa yang mau ditanya soal tips dan trik praktik terutama bisnis, kontrak, dan komunikasi yang seperti rahasia yang sebenarnya itu standar minimal saja. Saya merasa terus dituntut sempurna, dan tuntutan itu terasa makin berat justru ketika tidak ada teman untuk berbagi bebannya. Kawan-kawan tempat saya dulu bertukar pikiran pun semakin sedikit, dan semakin tua. Sebagian sudah berusia delapan puluhan. Saya mulai menyadari, bahwa waktu mereka terbatas, dan suatu hari ruang-ruang percakapan yang selama ini menopang saya akan hilang satu per satu. Ada kesepian di sana yang tidak mudah saya akui di depan umum.

Lalu, di tengah semua itu, di zaman pandemi juga saya bertemu dua anak muda dari Yogyakarta. Energi mereka baik. Kami berdiskusi, bertukar pikiran, dan untuk pertama kalinya sejak lama, saya merasa mendapat kawan lagi. Saya menemukan satu hal yang paling sederhana untuk dilakukan: mulai bergerak, dan berbagi rasa sulit itu, supaya anak-anak muda yang datang setelah saya tidak harus merasakan kesepian yang sama. Bukan sekadar staf, bukan sekadar junior yang saya bimbing, melainkan kawan dalam arti yang sesungguhnya, orang-orang yang dengannya saya bisa berpikir bersama.

Dan saya melihat sesuatu pada mereka yang membuat saya terdiam. Mereka bercerita dulu suka menginap di kampus, bekerja sampai lupa pulang, mencintai belajar. Persis seperti saya dulu, bertahun-tahun lalu, di lab multimedia, lupa waktu karena begitu asyik belajar dan mencoba. Saya melihat diri saya yang muda di dalam diri mereka. Maka saya memanggil mereka adik dan kakak, karena begitulah rasanya, seperti menemukan keluarga dalam perjalanan.

Yang satu bekerja di studio saya, RAW Architecture. Yang lain di OMAH Library, perpustakaan dan ruang komunitas kami. Dua dunia yang selama ini saya pegang, kerja dan berbagi, dan mereka hadir di keduanya.

Saya bersyukur, sejak muda saya sempat mengenal arti berbagi, dan ia datang dari hal-hal kecil yang sederhana. Sewaktu kuliah, saya ikut mengajar anak-anak kecil di Bala Keselamatan bersama tiga kawan. Di kampus pun di tahun 2000-2005 saya terbiasa beberes dan mengangkat kursi sebelum acara himpunan, lalu membersihkan lagi setelahnya, sering ketika banyak orang belum datang atau sudah pulang. Tapi saya senang, karena setidaknya ada satu orang yang mau membantu, dan kalau ada lebih, puji Tuhan.

Ada nama untuk apa yang saya rasakan ini. Dalam sosiologi, konsepnya disebut “social capital”, yang dikembangkan antara lain oleh Pierre Bourdieu, James Coleman, dan Robert Putnam, meski masing-masing dari sudut yang berbeda. Gagasannya, jaringan sosial punya nilai yang nyata. Kepercayaan dan timbal balik di dalamnya membuat individu dan komunitas lebih saling percaya, lebih solider dan toleran, lebih sehat secara mental, dan lebih kuat sebagai sebuah komunitas. Berbagi, dengan kata lain, bukan hanya kebaikan moral. Ia adalah investasi pada jaringan yang menopang kita semua.

Lalu jadi kebiasaan juga, untuk bersosialisasi bertahun-tahun kemudian, ketika tinggal di London antara tahun 2007 dan 2009, saya, seorang Katolik, mulai membantu sebuah gereja Protestan, awalnya untuk membalas kebaikan pasangan muda yang menampung saya di bulan pertama saya di kota asing itu. Dalam udara yang dingin, naik kereta membutuhkan 1.5-2 jam bolak balik. Saya melihat ada kerinduan untuk mengiringi ibadah dengan piano, maka saya belajar dan menghafal lagu-lagu gereja itu dengan konsisten, untuk persembahan setiap minggu. Tapi yang paling saya kenang bukan ibadahnya, melainkan saat-saat sesudahnya: makan bersama, mengobrol, kadang bermain di taman, bahkan mengangkat kursi dan membereskan piano bersama-sama.

Dari Indonesia sampai ke London, dari zaman mahasiswa sampai sekarang saya menyadari bahwa saya masih orang yang sama. Dan saya belajar, mungkin tanpa sepenuhnya sadar saat itu, bahwa proses berbagi itu sendiri yang terus memberi makna dan membuat rasa damai dan tidak sepi. Bukan hasilnya, bukan pengakuannya, melainkan tindakan hadir untuk orang lain dan memberi apa yang kita punya, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Nilai itu tertanam jauh sebelum saya tahu akan menjadi apa. Tapi hidup berjalan, dan masalah yang lebih dalam muncul. Saya tidak muda lagi. Dan saya baru menyadari bahwa di iklim profesi arsitektur yang sangat kompetitif, mencari kawan untuk benar-benar berdiskusi tanpa transaksi ternyata tidak mudah.

Di titik itu, cara pandang saya bergeser. Selama ini saya kira jawaban atas tuntutan untuk sempurna adalah dengan menjadi lebih sempurna lagi, bekerja lebih keras, membuktikan lebih banyak. Ternyata bukan. Saya justru belajar untuk tidak sempurna. Untuk tetap belajar dan tumbuh, bukan demi membuktikan diri kepada siapa pun, melainkan demi berbagi. Pergeseran itu kecil dalam kata-kata, tapi besar dalam rasanya. Ia memindahkan beban dari pundak saya.

Maka semua ini saya coba bongkar pasang dalam satu tempat: Kampoong Guha. Ini bangunan di mana studio, perpustakaan, dan yang terpenting asrama bagi para desainer muda, adik-adik saya, serta rumah saya sendiri, menjadi satu. Sebuah tempat di mana sampai anak saya bersama kakak-kakaknya, yang muda, yang di tengah, dan yang tua, masing-masing membawa sesuatu untuk yang lain. Dan bangunannya sendiri, pada akhirnya, yang paling banyak mengajari saya.

Kampoong Guha tidak dirancang sempurna sekali jadi. Ia tumbuh perlahan, lebih dari sepuluh tahun, sedikit demi sedikit, berubah dan beradaptasi seiring kebutuhan yang berubah. Ia dibangun bersama tukang-tukang yang sebagiannya sudah bekerja dengan kakek saya sejak tahun 1980-an, jauh sebelum saya lahir, jadi di setiap sudutnya ada jejak tangan yang mengenal keluarga saya lintas generasi.

Photography: Aryo Phramudhito (one of my faves)

Keanehan ini menjelma menjadi semacam labirin dengan ratusan pintu dan jendela, ruang-ruang yang saling terhubung dengan cara yang tidak selalu bisa diduga. Ia dibangun dari bambu yang murah dan kerajinan tangan banyak material, kadang bukan dari material mahal, karena bagi kami arsitektur tidak perlu mahal untuk menjadi indah. Setiap ketidaksempurnaannya adalah jejak dari proses, dari tangan manusia, dari waktu. Dan setiap kali melihatnya, saya merasa bahagia, dan tidak pernah sendiri.

Prinsipnya adalah semangat belajar yang tidak pernah selesai. Tidak pernah sempurna. Dan justru di situ letak keindahannya. Bangunan itu adalah perwujudan dari apa yang saya pelajari: bahwa hidup yang utuh bukanlah hidup yang sempurna, melainkan hidup yang terus tumbuh dan terus terbuka. OMAH Library, komunitas yang hidup di dalamnya, ternyata menjadi ruang penyembuhan saya. Bukan tempat untuk lari dari tuntutan profesi, melainkan tempat untuk mengisi ulang agar kuat menghadapinya.

Saya baru sadar juga cara pandang ini namanya “Generativity”, adalah konsep dari psikolog Erik Erikson. Generativity adalah kepedulian untuk membimbing dan menumbuhkan generasi berikutnya, keinginan untuk memberi, menanam, dan meninggalkan sesuatu yang akan hidup melampaui diri sendiri. Erikson menempatkannya sebagai tugas utama di paruh kehidupan dewasa, biasanya usia paruh baya, ketika seseorang bergeser dari fokus pada pencapaian diri menuju kepedulian untuk mewariskan, mendidik, dan memberi makna kepada yang lebih muda. Untuk melewati mid-life crisis.

Lawannya adalah stagnasi, yaitu rasa mandek, terpaku pada diri sendiri, merasa hidup tidak menghasilkan apa-apa yang bermakna bagi orang lain. Erikson berargumen bahwa kebahagiaan mendalam di paruh kedua kehidupan datang justru dari generativity, dari memberi dan menumbuhkan, bukan dari terus mengejar untuk diri sendiri. Karena pada akhirnya, yang nyata selalu lebih dari yang terlihat di layar. Dan tidak ada yang perlu dibangun sendirian.

Saya belajar bahwa berbagi bukan pengganti kekuatan. Berbagi adalah sumber kekuatan. Justru dengan memberi, dengan hadir untuk orang lain, dengan membuka pintu bagi yang muda, saya menemukan kembali tenaga yang sempat hilang di masa-masa sepi itu.

Kalau kamu sedang merasa sepi, atau lelah dituntut sempurna di dunia yang serba transaksional, mungkin yang kamu butuhkan bukanlah menjadi lebih sempurna. Banyak saatnya penyadaran itu dimulai dari orang sekitarmu, terdekatmu, keluarga, dan pola pikirmu sendiri. Mungkin yang kamu butuhkan adalah sebuah ruang untuk hadir, untuk berbagi, untuk sekadar ada bersama orang lain tanpa pamrih.

Tinggalkan komentar