Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Menata Gudang Ketika Dinding Galeri yang Penuh

Tadi pagi saya ditelepon seorang kawan dekat. Ia sedang memikirkan cara meneruskan pemikiran gurunya, seorang yang semasa hidupnya banyak mendefinisikan arti jaringan. Percakapan kami mengalir lama, dan ada satu kalimatnya yang terus tinggal di kepala saya setelah telepon ditutup: guru itu makin langka, katanya, meskipun pengajar itu banyak.

Saya pikir ia benar, dan bedanya memang di situ. Pengajar menyampaikan materi; guru menuntun orang. Yang pertama bisa diperbanyak dengan pelatihan dan kurikulum, yang kedua hanya tumbuh lewat laku yang panjang, kesediaan menemani, dan keberanian menurunkan ego. Dalam bahasa yang saya pegang selama ini, guru yang sejati adalah pamong. Di India ada tradisi tua tentang ini, hubungan guru dan murid yang diikat bukan oleh kelas melainkan oleh silsilah, tempat ilmu diturunkan dari tangan ke tangan sampai menjadi perguruan. Bukankah perguruan tinggi pun, jauh di akarnya, lahir dari sistem perguruan semacam itu, sebelum ia menjadi gedung, gelar, dan administrasi?

Berbicara dengan kawan ini selalu terasa aneh dan menyenangkan sekaligus, seperti berdiskusi dengan sisi lain dari diri saya sendiri. Dan di tengah percakapan, ia mengucapkan sesuatu yang menurut saya penting untuk direnungkan siapa pun yang bekerja dengan pemikiran: perbedaan jangan disalahartikan sebagai ketidaksukaan. Kalimat sederhana, tetapi di baliknya ada peringatan yang dalam. Sebab justru dari salah paham semacam itulah benih-benih dominasi tumbuh, ketika orang mulai memperlakukan gagasannya sebagai poros keyakinan yang tidak boleh disentuh, dan menganggap setiap pandangan yang berbeda sebagai serangan. Arsitektur, kalau diperlakukan seperti itu, berhenti menjadi ilmu dan mulai menjadi kepercayaan yang dijaga para pemeluknya.

Dari percakapan itu lahir sebuah gagasan yang sedang ia matangkan, dan saya membantu sebisa saya: mungkin sebuah buku, atau serangkaian tulisan, yang mengangkat para periset dan pemerhati arsitektur di berbagai kota, orang-orang yang selama bertahun-tahun menekuni kajian tentang arsitektur modern era sebelum kemerdekaan, tentang tokoh-tokoh yang membentuk kota-kota kita di masa kolonial. Sejak titik ini saya kira lebih tepat berkata kami, sebab yang mengerjakannya memang bukan satu orang. Kajian-kajian itu sebenarnya sudah ada. Yang belum ada adalah jalannya menuju pembaca. Sebagian besar terkubur di jurnal-jurnal ilmiah yang jangkauannya sangat terbatas, dibaca segelintir orang, dikutip segelintir orang yang sama, lalu berhenti di sana.

Prinsip kami sederhana: membuka ke publik apa yang selama ini hanya menjadi perbincangan segelintir kalangan, dan mengangkat nama-nama yang secara akademis sudah lama bekerja tetapi belum sempat sampai ke khalayak. Supaya narasi pengetahuan arsitektur kita tidak berwajah tunggal.

Tetapi justru di titik ini kami saling mengingatkan, dan ini bagian percakapan yang paling saya hargai. Pola yang ingin kami lawan, lingkar tertutup tempat yang menulis selalu orang yang itu-itu saja, nama yang muncul selalu dari circle yang sama, dan pengetahuan pelan-pelan menjadi kekuasaan yang bisa dikapitalisasi, pola itu tidak menempel pada kelompok tertentu. Ia bisa tumbuh di mana saja, termasuk pada kami sendiri. Setiap lingkaran yang mulai nyaman punya potensi menjadi eksklusif sambil tetap memakai jargon kolaborasi. Maka kami harus hati-hati, dan kehati-hatian itu bukan basa-basi; ia syarat.

Bedanya yang kami coba jaga, kata kawan saya, adalah memberi ruang kepada orang lain untuk menulis, dan kami memfasilitasi. Bukan kami yang menulis semuanya, bukan nama kami yang harus muncul. Merangkul yang sudah lama berperan tetapi belum terangkat, dan terus sadar menjaga keseimbangan antara pusat dan pinggiran, supaya pengetahuan tidak hanya berputar di satu kota, satu kampus, satu lingkar pertemanan.

Percakapan pagi itu juga menyinggung pertanyaan yang lebih besar, yang sedang hidup di kalangan para periset: mengapa produksi pengetahuan arsitektur di negeri ini terasa jalan di tempat? Salah satu jawabannya sangat membumi: akses ke arsip nyaris tidak ada. Data yang akurat adalah barang mahal, dan tanpa akses ke sumber-sumber pertama, banyak kajian terpaksa bersandar pada sumber kedua, lalu bermain di wilayah narasi besar yang abstrak, berjarak dari materinya sendiri. Ilmu yang tidak bisa menyentuh bahannya akan sibuk berbicara tentang pembicaraan. Itu lubang yang pertama, dan ia nyata.

Tetapi saya juga menahan diri untuk tidak berhenti di sana, karena ada lubang kedua yang sama dalamnya: mengglorifikasi arsip seolah ia cermin yang jernih. Arsip tidak pernah netral. Ia disusun oleh tangan, dan tangan selalu berdiri di suatu sisi. Untuk masa sebelum kemerdekaan, tangan itu sebagian besar tangan kolonial: yang difoto, digambar, dan disimpan rapi adalah apa yang dianggap penting oleh mata penjajah, gedung-gedung pemerintahan, karya arsitek Eropa, kota bagian atas. Kampung, tukang pribumi, dan cara membangun yang diwariskan turun-temurun nyaris bisu di dalam lemari-lemari itu, bukan karena tidak ada, melainkan karena tidak dianggap layak dicatat. Sejarah yang berdiri hanya di atas arsip akan diam-diam mewarisi cara pandang pengarsipnya. Maka ada dua bahaya yang harus dipegang sekaligus: melayang tanpa data, atau tenggelam dalam data yang berat sebelah. Kajian yang jujur membutuhkan keduanya, sumber pertama, dan kesadaran penuh akan bolong-bolongnya.

Karena itu kami dalam diskusi lebih suka membayangkan arsitektur Indonesia bukan sebagai galeri, melainkan sebagai gudang besar. Galeri adalah ruang yang sudah dikurasi: dindingnya penuh, kanonnya ditetapkan, dan seseorang sudah memutuskan siapa yang layak dipajang dan siapa yang tidak. Gudang berbeda. Isinya masih berserakan dalam rentang waktu yang panjang: bangunan yang masih berdiri, tukang tua yang masih bisa bercerita, ingatan lisan keluarga, jurnal kampus yang tak terbaca, album foto pribadi yang belum pernah dibuka orang luar. Arsip resmi hanyalah satu rak di dalam gudang itu. Dan menurut saya, berjuang di gudang jauh lebih strategis daripada berebut tempat di galeri. Di galeri, pertarungannya memperebutkan dinding yang sudah penuh. Di gudang, pekerjaannya menata, menamai, dan merakit dari yang tersedia, membangun rak-rak baru tanpa harus menurunkan lukisan siapa pun.

Satu hal saja yang harus terus kami ingat, masih dari kehati-hatian yang sama: penata gudang hari ini bisa menjadi kurator galeri besok. Siapa pun yang menata ikut menentukan rak mana yang dibuka lebih dulu, dan itu juga sebuah kekuasaan. Kesadaran itu harus ikut tertulis di dalam kerja ini, atau kami hanya sedang membangun galeri baru dengan nama gudang.

Seorang guru besar yang sudah puluhan tahun meneliti arsitektur masa kolonial, ketika gagasan ini disampaikan kepadanya, memberi dukungan penuh. Bagi kami itu bukan sekadar restu; itu contoh hidup dari kalimat pembuka kawan saya tadi. Guru yang sejati justru senang ketika ilmunya diteruskan oleh tangan-tangan lain, karena ia tahu ilmu bukan miliknya, melainkan titipan yang harus berjalan.

Pengajar banyak, guru langka. Barangkali tugas kita bukan meratapi kelangkaan itu, melainkan menjaga agar laku yang membuat seseorang menjadi guru, menuntun, merangkul, membuka jalan bagi yang lain, tidak ikut punah. Sebuah buku hanyalah kertas. Tetapi kalau ia bisa menjadi jalan bagi ilmu yang selama ini terkurung untuk akhirnya pulang ke publik, maka ia sedang mengerjakan pekerjaan seorang guru: meneruskan, bukan memiliki.

Image: https://picryl.com/media/patent-office-files-washington-dc-feb-29-employees-in-the-patent-office-file

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar