Ada masa ketika kesulitan di lapangan datang bertubi-tubi, dan pertolongan muncul dari arah yang tidak saya duga: seorang anak muda seusia anak SMA. Bukan insinyur, bukan lulusan universitas. Seorang anak yang sangat pintar, yang tangannya dan kepalanya bekerja sama dengan cara yang jarang saya temui bahkan pada orang-orang yang jauh lebih tua darinya. Sebut saja namanya Seno. Suatu kali saya bertanya kepadanya, “kamu tidak sekolah?”
Jawabannya sederhana, dan sampai sekarang masih terngiang di kepala saya, yaitu “mau fokus menyekolahkan adik dulu, membantu ibu dan bapak”. Ia menukar bangku sekolahnya sendiri dengan bangku adiknya. Tidak ada nada mengeluh dalam jawabannya, tidak ada rasa menjadi korban. Hanya seorang anak yang memutuskan menanggung sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dan menjalaninya seperti hal yang wajar saja.
Orang dengan tanggung jawab seperti itu tidak boleh saya biarkan lewat begitu saja. Maka saya mengajaknya mendekat, tinggal di padepokan kami, di rumah yang memang sejak lama menjadi tempat orang belajar sambil hidup bersama. Bukan karena kasihan. Justru karena lapangan membutuhkan orang seperti dia, dan dia membutuhkan lapangan untuk tumbuh. Lalu mulailah sekolahnya yang tidak tercatat di rapor mana pun.
Ilmu operasi teknis lapangan dan detail arsitektur, diturunkan satu demi satu: 👆waterproofing, ✌️leveling, 🤘adab bekerja bersama para tukang, 👍perhitungan mekanikal pendingin udara, 👋elektrikal, plumbing air bersih dan tekanannya, 👍P-trap dan sistem buangan, ✌️sampai pembesian struktur. ✍️Kurikulum yang tidak diajarkan di bangku SMA mana pun, dan sejujurnya, tidak juga diajarkan utuh di banyak bangku kuliah. Tetapi yang saya bantu sadarkan pertama kali justru bukan teknik.
Yang pertama adalah sifat: waspada dan eling. Dua kata yang sulit diterjemahkan, tetapi orang Jawa memahaminya dengan tubuhnya, sadar, ingat, hadir penuh pada apa yang sedang dikerjakan. Juga satu hal lagi yang lebih sulit: mengetahui keterbatasan diri. Karena jalan di depannya pasti semakin sulit, dan orang yang tidak mengenal batasnya akan patah justru di saat paling dibutuhkan. Teknik bisa menyusul. Watak harus lebih dulu.
Beginilah padepokan bekerja, dan di sinilah ia berbeda dari sekolah formal. Di sekolah, ilmu datang terjadwal dan pulang di sore hari. Di padepokan, ilmu serumah dengan muridnya: dipelajari sambil hidup, diuji setiap hari, di dapur, di lapangan, di meja makan. Biasanya yang bergabung di tim kami adalah para desainer yang sudah lulus S1. Jalur anak ini berbeda. Dan ia mengajari saya sesuatu yang penting: tanggung jawab dan hati, ternyata, tidak menunggu ijazah.
Kami percaya suatu hari ia akan menjadi jenderal di padepokan ini. Bukan ramalan kosong, melainkan membaca bahan: anak yang tanggung jawabnya datang lebih dulu dari umurnya biasanya hanya butuh satu hal, yaitu seseorang yang mau menurunkan ilmu kepadanya tanpa menanyakan ijazahnya lebih dulu. Pertanyaan “kamu tidak sekolah?” itu, saya kira, keliru arah. Ia memang tidak duduk di bangku SMA.
Tetapi kalau sekolah adalah tempat orang belajar menanggung sesuatu yang lebih besar dari dirinya, anak ini sudah lama bersekolah, lebih lama dari kebanyakan kita.
Sebagian makna kesetiaan yang paling dalam justru saya pelajari dari orang-orang yang posisinya paling sulit. Bukan dari mereka yang punya segalanya, melainkan dari mereka yang bekerja dalam keterbatasan yang bagi banyak orang sulit dibayangkan. Ada yang tidak punya kamar sendiri. Ada yang makan sekali sehari.
Ada yang, di sebuah kota kecil dengan sedikit peluang, harus berjuang keras hanya untuk bertahan. Dan justru dari orang-orang seperti itulah saya melihat kesetiaan pada pekerjaan yang tidak dibuat-buat, kesetiaan yang lahir bukan dari kemewahan memilih, melainkan dari keharusan.
Kesetiaan semacam itu bukan hal asing di rumah kami sendiri. Kampoong Guha dibangun bersama tukang-tukang yang sebagiannya sudah bekerja dengan kakek saya sejak tahun delapan puluhan, jauh sebelum saya lahir.
Di setiap sudut tempat ini ada jejak tangan yang mengenal keluarga saya lintas generasi. Kesetiaan seperti itu tidak bisa dibeli dengan kontrak; ia hanya bisa dibalas dengan kesetiaan yang sama.
Karena itu, ketika kami di padepokan berkata bahwa kami menghargai ketukangan, yang kami maksud bukan sekadar menghargai keterampilannya. Keterampilan memang layak dikagumi, tetapi di baliknya ada sesuatu yang lebih berat: alasan mengapa seseorang mau bekerja sekeras itu.
Sering kali jawabannya adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk makan, untuk menghidupi keluarga, untuk bertahan. Menghargai ketukangan tanpa melihat kenyataan ekonomi di baliknya sama saja dengan mengagumi bunga sambil menutup mata pada tanah dan akar yang menahannya. Dunia arsitektur sering merayakan kerja tangan, tetapi biasanya dari sisi yang elite.
Carlo Scarpa, misalnya, seorang arsitek yang karyanya begitu dielukan dunia, membangun keindahan justru dari kerja tangan yang telaten, dari kolaborasi erat dengan para perajin dan pembangunnya.
Cerita-cerita di balik karyanya, tentang bagaimana sebuah sambungan dipikirkan, bagaimana tangan seorang perajin mewujudkan gagasannya, menjadi bagian tak terpisahkan dari karya itu, dan membuatnya seperti tidak pernah selesai diceritakan.
Ia membingkai kerja tangan sebagai sesuatu yang mulia, dan dunia mengangguk setuju.
Tetapi ada kerja tangan lain, yang sama telatennya, yang tidak pernah mendapat bingkai seindah itu. Kerja tangan tukang di negeri kita, yang lahir bukan dari pilihan estetis melainkan dari desakan hidup. Keduanya sebenarnya satu hal yang sama: kerja tangan yang tidak bisa dipisahkan dari relasi antarmanusia, dari cerita antara yang merancang, yang membangun, dan yang akan menghuni. Bedanya hanya satu, dan bukan bedanya kualitas: siapa yang diberi panggung, dan siapa yang penderitaannya dibiarkan tak terlihat.
Warisan kita sendiri sebenarnya penuh dengan cerita kerja tangan semacam itu. Struktur limasan, misalnya, yang di banyak tempat menjadi jawaban atas tanah yang rawan gempa, adalah hasil kolaborasi panjang yang penuh perjuangan.
Ketika sebuah dusun harus dibangun kembali setelah gempa, sistem kuda-kuda sederhana yang mudah dikerjakan tukang menjadi penyelamat, bukan karena ia canggih, melainkan karena ia masuk akal: mudah dipahami, bisa dibongkar pasang, efisien, dan bisa dikerjakan bersama-sama oleh tangan-tangan setempat. Di situ, arsitektur menjadi masuk akal bukan hanya karena bentuknya, melainkan karena ia lahir dari kebanggaan dan dari kebutuhan ekonomi orang-orang yang mengerjakannya.
Ada satu teladan dari tanah kita sendiri yang menunjukkan bahwa keberpihakan ini bisa melampaui rasa iba, dan menjadi keputusan perancangan. Romo Mangun menulis halaman persembahan bukunya Wastu Citra untuk menghormati para tukang dan pekerja lapangan, yang ia sebut telah menjadi mahaguru arsitektur yang ulung baginya. Itu bukan basa-basi.
Muridnya, Eko Prawoto, pernah bercerita bahwa detail-detail rumit dalam karya Romo Mangun dibuat bukan semata pertimbangan estetika, melainkan agar pekerjaan menyerap waktu lebih lama, supaya para tukang bekerja lebih lama di tempat itu, dan berarti mendapat penghidupan lebih lama. Biaya untuk tukang bisa jadi melebihi biaya belanja material, dan itu disengaja.
Di tangan Romo Mangun, keindahan dan keberpihakan bukan dua hal yang harus dipilih salah satunya; detail yang rumit itu sekaligus doa dan lapangan kerja.
Dunia sendiri sudah lama bergeser. Kekriyaan yang dulu menjadi pusat kini hidup berdampingan dengan desain sebagai industri, pergeseran yang salah satunya digawangi IKEA: perabot yang dirancang untuk diproduksi massal, dikemas pipih, dan dirakit siapa saja.
Lewat desain, satu perusahaan mengubah konstelasi banyak hal sekaligus, cara pabrik bekerja, cara kota menampung barang, bahkan cara sebuah negara dikenal dunia. Suka atau tidak, itu menunjukkan betapa besar daya sebuah keputusan desain ketika ia menjadi sistem.
Dari pergeseran itu ada dua hal yang saya pelajari untuk dunia ketukangan kita. Pertama, mengenal ketukangan hari ini berarti juga mengenal alatnya, karena tangan dan alat sudah tidak bisa dipisahkan.
Kedua, dan ini yang paling penting: begitu banyak kegagalan ketukangan yang saya saksikan ternyata kuncinya bukan pada kurangnya kesungguhan tukang, melainkan pada sistem di sekelilingnya. Pelatihan yang tidak pernah diberikan. Pengawasan yang datang hanya untuk menyalahkan. Pembagian tugas dan tanggung jawab yang kabur, sehingga semua orang bekerja tetapi tidak ada yang menjaga. Dan ekonomi yang timpang, yang membuat sebagian pihak menanggung risiko paling besar dengan bagian paling kecil.
Industri besar sudah lama tahu: mutu tidak lahir dari menuntut orang bekerja lebih keras, melainkan dari sistem yang melatih, mengawasi dengan adil, membagi tanggung jawab dengan jelas, dan membayar dengan pantas. Ketukangan kita berhak atas sistem yang sama.
Tetapi saya tidak ingin memuliakan penderitaannya, karena itu akan menjadi kekejaman yang halus. Dunia ketukangan, kalau jujur, adalah dunia yang lekat dengan penderitaan, dan penderitaan tidak pernah indah bagi yang menjalaninya.
Maka yang selalu saya pikirkan bukan bagaimana merayakan susahnya, melainkan sebuah harapan sederhana: semoga klien yang menikmati hasil kerja itu bisa mengerti penderitaan di baliknya, dan berbaik hati kepada mereka yang mengerjakannya.
Sebab di balik kesungguhan hati seorang tukang bekerja, ada tangan yang kadang butuh toleransi, butuh kelonggaran, karena tubuh punya batas dan di rumah ada keluarga yang perlu diberi makan.
Seorang tukang yang meminta waktu, atau yang hasilnya tidak sesempurna gambar, tidak selalu sedang lalai; kadang ia sedang menanggung sesuatu yang tidak terlihat dari meja rapat.
Maka inilah yang ingin saya ingat, dan ingin kami tanamkan di padepokan. Sebuah bangunan yang indah selalu berdiri di atas lebih banyak hal daripada yang terlihat. Di balik ego seorang arsitek, ada keringat tukang. Dan di antara keduanya, ada toleransi seorang klien yang bersedia mengerti. Ketiganya harus ada.
Menghilangkan salah satunya, terutama melupakan yang di tengah, yang paling sering tak terlihat, berarti membangun sesuatu yang mungkin indah di mata, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: rasa hormat pada tangan-tangan yang sesungguhnya menegakkannya.